Dido tertegun sejenak, lalu berteriak dengan marah, "Dasar bajingan!""Sebelumnya, kamu sudah menghancurkan mobil balapku bernilai miliaran dan memukul wajahku di Showroom Mobil Neptus, sekarang kamu malah nggak mengingatku lagi?!""Maaf, aku hanya merasa wajahmu sedikit familier. Aku benar-benar nggak ingat lagi."Ardika menggelengkan kepalanya dan berkata dengan acuh tak acuh, "Mobil yang kuhancurkan malam itu sangat banyak, wajah orang yang kutampar malam itu juga cukup banyak. Aku hanya ingat aku sudah menampar wajah Jelita, Grorius, serta beberapa orang lainnya. Ah, apa namamu, ya ....""Pfffttt!"Saking emosinya, Dido sampai muntah darah.Dia menunjuk Ardika dengan tajam dan berkata dengan dingin, "Eh, Ardika, dengar baik-baik!""Nama depanku Dido, nama belakangku Sangace, nama lengkapku Dido Sangace!""Ayahku bernama Zian, Wakil Kepala Departemen Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Denpapan!""Hari ini aku akan menampar wajahmu hingga rusak! Setelah hari ini berlalu, namaku a
"Ardika! Dasar lancang!"Tiano yang terlebih dahulu tersadar kembali, langsung menunjuk Ardika sambil berteriak dengan marah.Keluarga Rewind Kota Gamiga adalah salah satu dari empat keluarga besar Kota Gamiga, memiliki kekuasaan dan pengaruh yang luar biasa.Dia bahkan sangat ingin menjalin hubungan dengan mereka.Kalau ucapan Ardika ini sampai di telinga Wirhan, bukankah rencananya akan kacau balau?Orang-orang lainnya juga sudah tersadar kembali. Mengingat ucapan Ardika barusan, mereka benar-benar kesal setengah mati.Berani-beraninya Ardika si bajingan itu mengatai mereka orang rendahan!Bagaimana mungkin seorang menantu benalu yang bertugas menuangkan air dan mencuci kaki ibu mertua sepertinya layak dibandingkan dengan mereka?Tiano memelotot dengan marah dan berkata, "Berani-beraninya kamu menjelek-jelekkan Keluarga Rewind Kota Gamiga! Ardika, kamu sudah makin keterlaluan! Kalau hari ini aku nggak memberimu pelajaran, kelak kamu pasti akan menghancurkan Kota Banyuli!""Orang lain
Zian, Wakil Kepala Departemen Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Denpapan.Di seluruh dunia politik Provinsi Denpapan, jabatannya saat ini hanya dapat dikategorikan dalam tingkat menengah.Namun, tanpa perlu dipertanyakan lagi, dia memegang kekuasaan yang sangat besar.Selain itu, seseorang sepertinya yang sudah bisa menempati jabatan seperti ini, tidak lagi hanya mewakili diri sendiri.Di antara relasi yang dimilikinya, pasti ada sebuah perusahaan yang besar.Di bawah dorongan untuk meraih keuntungan bersama, sumber daya yang bisa digerakkannya pastilah sangat luar biasa menakutkan.Terutama di saat orang sepertinya sudah tidak mempertimbangkan apa pun lagi selain berniat untuk menghancurkan pihak lawannya.Tentu saja dia bisa membawa malapetaka yang besar bagi Grup Bintang Darma, Grup Hatari, serta perusahaan-perusahaan lainnya yang berhubungan dengan Ardika!Karena itulah, saat ini Zian tampak sangat arogan dan percaya diri.Zian tahu jelas seorang menantu benalu yang berani mel
"Ardika, kamu hanyalah seorang menantu benalu. Keluarga istrimu juga hanya keluarga kelas dua.""Walau kalian bisa menjadi orang kaya dadakan dengan mengandalkan keberuntungan dan memiliki sedikit aset yang cukup bagus, pengaruh kalian hanya terbatas pada Kota Banyuli saja. Selain itu, pendukung kalian juga hanya merupakan seorang wali kota baru.""Sejarah selama ribuan tahun telah membuktikan segalanya. Tanpa adanya perlindungan dari kekuatan besar, nggak peduli seberapa kaya seseorang, juga hanya akan menjadi mangsa orang lain.""Aku ingin merebut asetmu, ditambah lagi dengan adanya Keluarga Rewind Kota Gamiga sebagai pendukungku, siapa yang berani berkomentar?"Saat ini, Zian benar-benar sangat arogan.Setiap kalimat yang keluar dari mulutnya, sangat mengintimidasi.Di Provinsi Denpapan, dia bukan tidak takut pada siapa pun.Namun, orang tersebut tentu saja bukan Ardika yang sedang berdiri di hadapannya saat ini, juga bukan wali kota muda yang menjadi pendukung Ardika.Jadi, Zian la
Begitu tersadar kembali, Tiano langsung menegur Ardika dengan marah, "Ardika, apa yang sedang kamu lakukan? Cepat lepaskan Tuan Muda Ardius! Apa kamu ingin membawa musibah bagimu dirimu sendiri dan keluargamu?!""Dasar tua bangka! Enyah saja sana!"Tanpa mengangkat kepalanya, Ardika melontarkan beberapa patah kata itu pada Tiano. Saking kesalnya, pembuluh-pembuluh darah di kening Tiano sampai menonjol.Zian juga kesal setengah mati mendengar kata-kata makian yang ditujukan oleh Ardika padanya sebelumnya.Tanpa banyak bicara lagi, dia langsung mengeluarkan ponselnya dan berkata dengan tajam, "Ardika, cepat lepaskan Tuan Muda Ardius! Kalau nggak, dengan satu panggilan telepon dariku, aku akan membuatmu merasakan apa yang dinamakan dengan putus asa!""Oh? Apa yang dinamakan dengan putus asa, ya?"Ardika melirik pria itu. Sambil menginjak Ardius, dia juga mengeluarkan ponselnya dan berkata, "Bagaimana kalau aku juga memberimu kesempatan untuk merasakannya?""Kamu? Memangnya kamu bisa apa?"
Saat ini, akhirnya Zian sudah menyadari maksud kalimat Ardika tadi. Tadi, Ardika mengatakan akan memberinya kesempatan untuk merasakan apa yang dinamakan putus asa. Ya, sekarang dia sudah mengerti.Namun, dia tidak bisa menerima kenyataan ini.Mengapa Ardika bisa langsung menghubungi Helios?Apa identitas pria itu sebenarnya?Menyaksikan pemandangan itu, semua orang makin terkejut dan penasaran.Sebenarnya siapa orang di ujung panggilan telepon tersebut?Bisa-bisanya orang itu membuat seorang Wakil Departemen Perindustrian dan Perdagangan sebuah provinsi menjadi pucat pasi seperti ini!Tanpa memberi Zian kesempatan untuk berbicara, Helios berkata dengan acuh tak acuh, "Serahkan ponselnya pada Tuan Ardika.""Tuan ... Tuan Ardika, Tuan diminta untuk mendengar telepon!"Zian menyodorkan ponsel tersebut pada Ardika dengan tangan gemetaran. Melihat Ardika mengerutkan kening, dia buru-buru mengeluarkan sebuah sapu tangan dari saku pakaiannya, lalu mengelap ponsel tersebut hingga bersih sebel
Chelsea yang dari tadi hanya berperan layaknya penonton dengan berdiri di belakang Ardika, saat ini sorot mata terkejut juga tampak jelas di matanya.Hanya dengan satu panggilan telepon saja, Ardika sudah bisa menghancurkan Zian dan merebut aset milik Keluarga Sangace.Jangankan Huris, bahkan Keluarga Sudibya juga tidak mampu melakukan hal seperti itu!Tanpa memedulikan sorot mata orang-orang yang tertuju padanya, Zian mengangkat kepalanya dan berkata dengan bibir bergetar, "Aku ... aku mohon ... ampuni aku Tuan Ardika!""Oh? Sekarang kamu sudah tahu memohon padaku?"Ardika mengerutkan keningnya dan berkata, "Berlututlah dengan tegak."Secara naluriah, Zian berlutut dengan tegak. Ardika mengangkat lengannya, tetapi begitu melihat wajah pria di hadapannya itu berminyak dan berkeringatan, dia mengerutkan keningnya, mengurungkan niatnya.Kemudian, Ardika melemparkan selembar tisu pada pria tersebut.Zian mengerti maksud Ardika. Dia segera mengambil tisu itu, lalu di bawah tatapan terkejut
Sekujur tubuh Ardius langsung menegang. Dia segera membuka matanya. Kemudian, di bawah tatapan terkejut semua orang, dia berteriak dengan terisak, "Kak ... Kak Ardika, tolong beri aku satu kesempatan lagi. Aku sudah bersalah. Aku bersedia menjadi anjingmu ...."Tanpa menunggunya selesai berbicara, Ardika sudah melayangkan tendangan ke arahnya."Ahhh!"Dengan iringan suara teriakan menyedihkan, Ardius berguling-guling di tanah dengan kesakitan."Masuklah, tangani urusan sisanya."Ardika mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Levin. Kemudian, dia melemparkan tisu yang digunakannya untuk menyeka tangannya ke tubuh Ardius dengan sembarang, lalu berbalik dan melangkah pergi.Semua orang menyaksikan punggungnya dalam diam.Hingga sosok bayangannya sudah sepenuhnya menghilang di balik lift, mereka baru menghela napas lega.Di Vila Cakrawala.Begitu Ardika pulang, dia melihat dua orang wanita cantik sudah berdiri di sana.Pemandangan itu sangat indah bagaikan sebuah lukisan.Secara naluriah,