Share

Bab 65

Author: Mami ice bear
last update Last Updated: 2024-08-23 00:12:12

“Lho, ternyata si Yogi gi-la?”

“Oalah… pantesan gak pernah keliatan, ternyata oh ternyata ….”

Bisik-bisik tetangga Yogi tentu terdengar sampai ke telinga Yessi. Memang jarak antara mereka hanya dua meter saja. Hingga ucapan tetangga Yogi itu masih bisa memungkinkan putri sulung Jubaedah tersebut mendengar semua yang dikatakan. Sebab, mereka sebenarnya bukan berbisik, melainkan hanya sedikit menurunkan nada suara.

“Diam kalian! Siapa yang kalian sebut gi-la, hah?!” bentak Yessi diiringi tatapan tajam dan mematikan.

Mereka sontak menyunggingkan senyum remeh pada wanita berpakaian se-xy tersebut. Namun, hal yang sama tak ditampilkan oleh Rani, menantu simbok pemilik warung di ujung jalan.

“Halah! Gak usah coba mengelak deh, Yess! Kita denger kok apa yang dikatakan Ibu tua itu. Kalo Yogi itu gi-la!” bela salah satu dari mereka yang memang tak merasa bersalah. Terlebih, sosok tersebut tampak sedikit menekan nada bicaranya, kala menyebutkan kata ‘gi-la’ itu.

“Pppffttt ….”

Bukan menangga
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Rurit Haqqu
wah...minta rujuk ntar...
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

  • Maaf, Aku Memilih Mundur   Bab 66

    “Baiklah, nanti Ibu kirimkan. Kalian baik-baik disana, ya ….”“Permisi, Mbak. Apa saya bisa … lho Mbak? Kamu-”Devi menoleh, kala mendengar sebuah suara yang berasal dari sisi kanannya. Dengan telepon genggam yang masih menempel di telinga. Ibu dua anak itu memutar badan, menghadap pada sosok wanita berhijab di sampingnya. Namun saat menoleh, sosok tersebut sepertinya mengenal Devi, akan tetapi …“Kamu ….”Devi memutar otak. Mencoba mengingat sesuatu. Sebab, sosok wanita cantik dengan hijab hitam itu tampak familiar baginya. Hingga suara dari sosok di hadapannya kembali terdengar. “Mbak Devi, kan?”Dengan alis bertaut, Devi menganggukkan kepalanya perlahan. Tangan kanannya yang masih memegang sebungkus roti, kemudian terulur, meletakkan roti tersebut pada tempatnya. Sedangkan tangan kiri yang masih memegang ponsel, dengan sigap memasukan ponsel itu di saku celananya. Devi tampak ragu, terlihat jelas dari sorot matanya yang tampak teduh dengan raut wajah penuh tanda tanya. Namun, den

    Last Updated : 2024-08-26
  • Maaf, Aku Memilih Mundur   Bab 67

    “Aku bawa kabar terpanas dan teraktual buat kamu!”“Ck! Udah kaya host acara gosip aja nih Bu Bos!” seloroh Devi diiringi suara cekikikan. Hal itu sukses membuat wanita yang dipanggil ‘Bu Bos’ tersebut merungut dengan bibir yang dimajukan seperti bebek. “Ish! Kamu itu bener-bener! Sendirinya juga bos. Tapi ngatain orang lain!”Devi hanya tersenyum geli kala mendengar rutukan yang keluar dari bibir berpoles lipstik berwarna nude tersebut. “Ini adalah definisi bos yang bekerja pada bosnya. Ha ha ha ….”Tawa renyah mantan istri Yogi itu mampu membius siapapun yang mendengar. Termasuk Rani yang kini masih duduk anteng sambil memperhatikan interaksi dua wanita cantik di hadapannya. “Halah! Kamunya aja, udah jadi bos tapi masih gak mau resign,” ucap wanita berambut panjang pendek yang ternyata adalah Siska, sahabat karib Devi sejak zaman kuliah.Devi melayangkan senyum manis, kala mendengar cibiran yang dilayangkan sang sahabat. Dengan enteng, wanita berambut panjang itu pun kembali menim

    Last Updated : 2024-08-26
  • Maaf, Aku Memilih Mundur   Bab 68

    “Jangan asal ngomong kamu, Sis! Pamali!” “Pamali udah ma-ti adanya bumali! Noh yang rumahnya di gang sebelah!” sarkas Siska, menjawab ucapan sang sahabat. Degh! Jantung Devi terasa berhenti seketika. Kalimat yang dilontarkan oleh sahabatnya, Siska. Terngiang jelas di telinga. Mencoba menampik dan tak percaya akan hal itu, tapi ia sendiri tahu persis. Jika Siska tak mungkin asal bicara. ‘Mungkin yang gi-la kamu, bukan Yogi. Apa maksudnya?’ batin Devi bertanya-tanya. “Tanyakan pada dia! Bukankah Rani ini satu RT sama keluarga mantan suamimu. Dia pasti tau sesuatu.” Kini Siska menoleh ke arah wanita berhijab yang masih diam tak bersuara. ‘Benar juga, bukankah-’ Devi tak banyak bicara, sebab batin dan pikirannya sibuk sendiri. Namun, gerakan kepalanya mengikuti ke arah dimana fokus Siska masih tertuju. “Ran?” Hanya satu kata itulah yang bisa Devi ucapkan. Sedangkan yang menjadi pusat perhatian dua sahabat tersebut, kini perlahan mendongak kemudian menatap manik mat

    Last Updated : 2024-08-29
  • Maaf, Aku Memilih Mundur   Bab 69

    “Apa salahku?”“Hah? Kocak bener punya sohib begini. Astaga,” keluh Siska yang tak habis dengan sahabatnya itu. Bertahun-tahun mengenal Devi, seharusnya ia sudah tak heran bukan dengan tabiat wanita di hadapannya itu. Tapi entah mengapa, wanita bermata sipit tersebut masih saja merasa gemas. Melihat Devi dengan pemikiran bo-dohnya itu. “Kamu lupa dengan kalimat ‘jangan balas kejahatan dengan kejahatan’ iya?” Suara Devi kembali terdengar. Menjawab ucapan yang baru saja dilontarkan oleh Siska. “Bukan aku lupa atau gak inget. Tapi lebih tepatnya, aku gak mau pakai kalimat itu sebagai tolak ukur kehidupanku. Gi-la aja, orang yang udah jelas jelas dzalim sama kita sampai puluhan purnama. Terus mau ditolong gitu aja hanya berlandaskan kalimat munafik begitu! Gak ye!” tolak Siska mentah-mentah. Siska adalah tipe wanita berprinsip, sama seperti Devi. Hanya saja, Devi masih menggunakan hatinya. Sedangkan Siska lebih menggunakan logikanya. “Kamu sendiri inget gak sama kalimat ‘jika hukum s

    Last Updated : 2024-08-30
  • Maaf, Aku Memilih Mundur   Bab 70

    “Terserah apa maumu! Urusin aja noh keluarga toxic yang bikin kamu cinta ma-ti sampai tergila gila!”“Sis … Siska. Tunggu!”Devi mempercepat langkah, mengejar Siska yang pergi dan keluar dari tokonya membawa sejuta rasa kesal pada dirinya. Brak! Pintu mobil Siska tertutup keras, tepat sebelum pemiliknya sempat masuk ke dalam mobil bercat putih tersebut. “Apa lagi sih, Deviii?”Siska yang memang masih merasa kesal semakin merasa gemas akan polah tingkah sang sahabat. Bagaimana tidak, sudahlah bebal dan sulit diberi nasehat. Tapi kini, wanita itu justru menghalangi jalannya, kala ingin pergi membawa rasa kesal yang membuncah dalam hati. “Aku ‘kan udah bilang tunggu. Denger gak sih?!” sungut Devi dengan nafas terengah. Akibat dari gerak cepatnya demi bisa mengejar sang sahabat. “Aku tuh mau tanya sesuatu sama kamu.”“Ck! Nanya apa lagi sih?! Buruan! 10 detik dari sekarang!” ucap Siska jengah. Ia sudah benar-benar merasa lelah menghadapi Devi yang selalu memakai hati. Meski berulang ka

    Last Updated : 2024-08-31
  • Maaf, Aku Memilih Mundur   Bab 71

    “Dimana sih, kata Siska disini. Bener ‘kan ini tempatnya?”Seorang wanita cantik tampak menggerakkan tubuhnya, berputar ke segala arah. Tak hanya itu, kepala wanita itu pun terlihat celingak celinguk ke kanan dan kiri. Memindai segala tempat dan sisi yang bisa dijangkau oleh netranya. Namun, hingga lebih dari satu jam berlalu. Wanita itu masih juga belum menemukan apa yang ia cari. Terik matahari kian membakar tubuhnya. Membuat bulir keringat mulai mengalir dan membasahi wajah serta bajunya. “Awas aja si Siska. Kalo sampe ketauan dia lagi ngerjain aku!” rutuk Devi yang mulai kesal dan kelelahan. “Liat aja, apa yang bakal aku lakuin ke si sipit itu!”Akhirnya, ibu dua anak tersebut memilih untuk beristirahat sejenak. Kemudian mengayunkan kaki, menyambangi sebuah warung kopi yang berjejer di pinggir jalan. Meski ada lima buah warung kopi sekaligus, tapi mereka sama sekali tak menjadikan itu sebagai sebuah beban. Sebab mereka yakin jika rezeki sudah tertakar dan tak akan tertukar. “Iy

    Last Updated : 2024-09-02
  • Maaf, Aku Memilih Mundur   Bab 72

    “Ada hak apa kau mengatakan hal itu?”“Atas dasar apa kau melayangkan tuduhan menjijikan seperti itu?”“Taukah kau, siapa yang kau sebut wanita licik itu?”Deretan kalimat menohok dilontarkan oleh sosok yang kini berdiri tepat di belakang tubuh Yessi. Tanpa mengenal rasa takut, Yessi segera berbalik. Ia bukanlah wanita yang mudah diintimidasi. Dengan pongah dan tatapan mata meremehkan, Yessi menyisir sosok wanita bermata sipit itu, dari ujung kaki hingga ujung kepala. “Siapa kau? Dan apa hubunganmu dengannya?”“Aku tak mengenalmu. Jadi ada baiknya bagimu, untuk tak usah ikut campur urusanku dengan wanita itu,” desis Yessi dengan nada ancaman. ‘Melihat dari penampilannya, sepertinya dia bukanlah orang sembarang,’ batin Yessi yang masih terus memperhatikan sosok di hadapannya. Tak kalah dengan Yessi, wanita bermata sipit yang tak lain adalah Siska, sahabat Devi, kini menatap tajam pada mantan kakak ipar sahabatnya. Ia memang tak mengenal persis siapa Yessi, namun ia bisa menebak sifa

    Last Updated : 2024-09-04
  • Maaf, Aku Memilih Mundur   Bab 73

    “Kenapa menatapku begitu?”“Kau bertanya apa maksudku? Bukankah harusnya aku yang bertanya seperti itu padamu?”Siska menatap Yessi dengan tatapan yang sulit diartikan. Sebab wanita itu malah melayangkan pertanyaan padanya. “Apa maksudmu mengundang mereka duduk disini?” Yessi kembali mengulangi dan memperjelas maksudnya. “Apa kau ingin mencoba mempermalukan aku?”“Ha ha ha ha ha, lucu sekali mantan kakak iparmu ini, Dev. Benar benar lucu!” Bukan menjawab Siska malah justru tertawa hingga terpingkal pingkal. “Sebenarnya, apa yang ibumu berikan saat kau bayi. Sampai ketika dewasa begini, kau begitu sangat genius.”Semua orang yang berada di warung kopi tersebut tampak saling berbisik. Kala mendengar ucapan Siska yang seolah tengah bermaksud menyanjung Yessi, padahal hal itu sebenarnya dilakukan untuk membuat Yessi malu. Mendengar bisik bisik dan tatapan miring pada dirinya, sontak membuat Yessi berang dan semakin merasa kepanasan. Jika saja bisa dilihat, asap sudah mulai menguar, kelu

    Last Updated : 2024-09-05

Latest chapter

  • Maaf, Aku Memilih Mundur   Bab 97

    “Jadi, Tante Yessi sakit apa?”Roni, bocah delapan tahun itu, akhirnya tak mampu lagi menahan rasa ingin tahunya. Sejak tadi, ia mendengar percakapan yang tak sepenuhnya ia pahami, namun bocah polos tersebut menangkap ada sesuatu yang besar sedang dibahas oleh orang-orang dewasa di ruangan itu.“Ibu... Tante Yessi sakit?” Roni mengulang pertanyaannya, kali ini menatap ibunya, Devi, dengan mata bulat penuh rasa ingin tahu.Devi menelan ludah, rasanya kering, seperti ada duri menyangkut di tenggorokannya. Sejujurnya, ia sendiri belum melihat Yessi sejak terakhir kali mereka menemukan wanita itu dalam kondisi memprihatinkan di rumah sakit. Sejak itu, ia lebih memilih menjaga jarak, takut jika keterlibatan emosionalnya kembali menguak luka lama.“Roni, mau nggak nengokin ibuku?” Suara Rossi memotong keheningan, membuat semua perhatian tertuju padanya. Wajah gadis itu terlihat lebih segar, meski tubuhnya masih kurus, membawa sisa-sisa dari beban b

  • Maaf, Aku Memilih Mundur   Bab 96

    "Kenapa kamu takut? Nenek nggak gigit, kok!"Selorohan Jubaedah terdengar canggung di telinga kedua anak Devi. Kata-kata yang seharusnya ringan justru menciptakan suasana yang makin tegang. Ruang tamu kafe yang mereka tempati mendadak sunyi, seolah udara terasa lebih berat.Rayyan meringis, melirik adiknya, Roni, yang mulai beringsut mundur, ekspresi wajahnya menyiratkan rasa cemas yang berusaha ia sembunyikan. Yogi, yang duduk di samping Jubaedah, ikut merasa kikuk. Tatapannya bergantian tertuju pada Jubaedah dan kedua anak laki-lakinya, mencoba mencari celah untuk mencairkan suasana.“Roni, santai aja, Ayah sama Nenek nggak jahat, kok,” Yogi mencoba tersenyum, berusaha meyakinkan.Roni hanya mengerjap, tetap diam, ekspresinya sulit diterjemahkan. Bayang-bayang masa lalu seakan menekan hatinya, menahan mulutnya untuk sekedar menyapa. Dibenaknya masih terlintas kenangan pahit—perkataan kasar, tatapan dingin, dan perlakuan tidak adil yang pernah di

  • Maaf, Aku Memilih Mundur   Bab 95

    “Tapi, Bu…” Roni mengeluh pelan, wajahnya tampak enggan. Kedua matanya menghindari tatapan ibunya, Devi, yang baru saja menyampaikan pesan dari ayah mereka. Devi mendesah panjang, memandang kedua putranya yang masih duduk di hadapannya dengan ekspresi serba salah. Beberapa hari yang lalu, mantan suaminya, Yogi, meminta waktu untuk bertemu dengan anak-anak mereka, yakni Roni dan Rayyan. Namun, ia tahu bahwa membujuk anak-anak, khususnya Roni, bukanlah perkara mudah. “Nak, bagaimanapun juga, dia tetap ayah kandung kalian,” ucap Devi berusaha lembut, meski nada suaranya mulai terasa putus asa. Ada perasaan bersalah yang selalu muncul setiap kali dia mengangkat topik ini. Hatinya teriris melihat bagaimana Roni, putra bungsunya, menunjukkan ekspresi menolak yang begitu kuat. Rayyan, putra sulungnya yang kini berusia sebelas tahun, menghela nafas panjang dan mengangguk pelan. Dia mengerti perasaan ibunya dan tampak lebih tenang darip

  • Maaf, Aku Memilih Mundur   Bab 94

    "Entah kenapa aku malah curiga sama keluarga mantan suamimu itu, Dev..."Suara Siska yang tegas memecah keheningan di ruangan toko bakery yang baru saja dibuka. Devi, yang sejak tadi terlihat melamun, tersentak mendengar kalimat itu. Ia menarik nafas panjang, mencoba mengendalikan pikirannya yang seolah melayang-layang entah ke mana. Sudah beberapa hari sejak pertemuannya dengan Yogi, mantan suaminya, namun kata-katanya masih terngiang di kepala. Seperti duri yang tertinggal di luka lama, pertemuan itu membuka kembali ingatan tentang masa lalu yang tak ingin ia ingat.Devi menatap jalanan dari balik kaca toko bakery-nya, memandang kosong pada lalu lalang orang yang tak dikenalnya. Ia tampak letih, seolah banyak beban yang ia pendam sendiri. Pembukaan cabang baru toko roti miliknya dan tanggung jawab mengurus dua anak seorang diri. Hari ini adalah hari besar bagi Devi, namun bayangan masalah keluarga mantan suaminya seolah membayangi setiap langkahnya.

  • Maaf, Aku Memilih Mundur   Bab 93

    Suasana yang masih tenang di toko roti milik Devi seketika berubah menjadi penuh kecanggungan. Ruangan itu terasa lebih sesak meskipun hanya ada beberapa pengunjung yang tampak sibuk memilih kue di sudut ruangan. Devi sedang membantu Siska, sahabatnya, menyusun kue ke dalam etalase. Seolah Siska adalah pemilik toko tersebut, padahal justru sebaliknya. Mereka berbagi percakapan ringan tentang jenis kue yang baru tiba pagi itu.“Aku lebih baik membicarakan roti yang wangi ini, daripada membicarakan orang-orang yang masih ada hubungannya dengan keluarga mantan suamimu itu,” ucap Siska ditengah perbincangan. Namun, ketenangan itu mendadak pudar ketika pintu toko bakery berderit pelan, diikuti oleh langkah kaki seseorang yang masuk ke dalam. Devi berhenti bergerak, menatap sosok yang tidak asing itu. Berdiri di depan pintu dengan ekspresi ragu namun mantap, dia adalah Yogi, mantan suaminya. Untuk sesaat, Devi tertegun, seperti sedang berusaha memastikan apakah dirinya

  • Maaf, Aku Memilih Mundur   Bab 92

    “Bu Lilis, tolong, saya butuh penjelasan!” Devi menatap Lilis dengan pandangan memohon, sementara jemarinya tetap menggenggam lengan wanita itu erat.Lilis mengalihkan pandangan, wajahnya tampak resah. “Aku… aku sudah katakan, bukan. Kukatakan sekali lagi, Lisa meninggal karena overdosis!”“Jika hanya karena alasan kematian Lisa. Itu bukan alasan cukup untuk lari seperti pecundang, Bu!” Devi membalas, nada suaranya mulai meninggi. “Kalau memang Ibu tidak bersalah, kenapa harus takut? Apa ada hal lain yang Ibu sembunyikan?”“Devi, tolong jangan paksa aku…” Lilis mencoba menarik diri, tapi tangan Devi lebih kuat.“Tidak, Bu Lilis! Ibu tidak boleh lari dari semua ini. Lisa meninggal dengan kondisi yang… aneh. Semua orang membicarakan dia, dan jangan sampai mereka justru menuduh Ibu kalau Ibu lari seperti ini. Jika Ibu benar-benar peduli pada mendiang Lisa, jelaskan semuanya!” Devi menatap tajam, mencoba menahan rasa frustasi.Lilis

  • Maaf, Aku Memilih Mundur   Bab 91

    Devi tertegun, matanya membulat tak percaya ketika mendengar penuturan wanita paruh baya yang bertugas memandikan jenazah Lisa.“A-apa? Kenapa bisa sampai separah itu?” tanyanya dengan suara bergetar, mencoba mencerna kenyataan tragis yang disampaikan kepadanya.Wanita paruh baya di depannya, yang mengenakan kerudung lusuh, hanya bisa menggeleng pelan. “Saya juga kurang paham, Mbak Devi. Tapi, saat kami memandikan almarhumah… ya, memang kondisinya sudah begitu.” Suaranya bergetar, seakan-akan kata-kata itu membuatnya ngeri mengingat kembali apa yang ia lihat.Devi menutup mulutnya dengan tangan gemetar, seolah-olah ingin menahan rasa mual yang tiba-tiba menghantam dadanya. Matanya berair, dan ia mencoba membayangkan kondisi Lisa di akhir hidupnya. Bagaimana mungkin mantan adik madunya mengalami akhir yang begitu menyedihkan?“Sa-saya… saya tak bisa berkata-kata…” ucapnya lirih, suaranya nyaris tak terdengar.Di sisi Devi, Bu RT yang ikut mendengar penuturan tersebut terlihat terkejut.

  • Maaf, Aku Memilih Mundur   Bab 90

    “Li-lisa?”Handoko tergagap, tubuhnya kaku. Berita yang baru saja dikatakan oleh Devi membuat dirinya tak bisa berfikir jernih. Hingga beberapa saat kemudian… “Kapan, Devi? Dan.. darimana kamu tau kabar itu?” ucap Handoko lagi. “Mas Handoko… beneran gak tau kabar terakhir Lisa?”Suara Devi lirih namun tegas, menusuk di antara deru langkah mereka di koridor rumah sakit.“Aku bahkan tak tau apa-apa, Devi.”Jawaban Handoko terdengar datar, hampir tak terdengar, namun ia menatap Devi dengan tatapan tajam. “Aku memang meninggalkan dia tadi pagi, tapi.. Saat itu dia masih…”“Soal itu…”Devi berhenti sejenak, menarik napas, seolah-olah menunggu kata-katanya diserap penuh oleh Handoko. “Dia baru saja ditemukan tidak bernyawa, sekitar satu jam lalu.”Handoko membeku. Sorot matanya berubah, seolah kata-kata Devi baru saja menghantamnya dengan kenyataan yang selama ini ia hindari. “Kamu serius?”Devi mengangguk pelan. “Aku

  • Maaf, Aku Memilih Mundur   Bab 89

    “Kapan kejadiannya?” tanya Devi dengan nada khawatir. “Baru tadi sore, Mbak. Kemungkinan kami akan mengurusnya besok…” ucap seseorang dari seberang sana. Devi menganggukkan kepala, meski lawan bicaranya tak akan melihat apa yang ia lakukan. Sebuah ponsel masih menempel di telinga kanan Devi. Mantan istri dari Yogi tersebut tampak serius mendengarkan apa yang diucapkan oleh sosok nan jauh disana. “Kami bingung harus mengabari siapa dan kemana. Jadi, aku memutuskan mengabari Mbak Devi. Meski aku tau, mereka nggak ada sangkut pautnya dengan Mbak…”“Ya sudah tak apa,” ucap Devi, merespon lawan bicaranya. Namun, manik mata wanita itu tampak melirik sekilas ke arah mantan kakak iparnya. “Aku tak bisa menjanjikan apapun, tapi aku akan mengusahakannya. Aku tau apa yang bisa kulakukan.”“Makasih ya, sudah mengabariku,” imbuh Devi yang kemudian langsung dijawab oleh sosok di seberang sana. Berikutnya, wanita berambut panjang itu segera

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status