Share

Berani main api

Penulis: Miss Kay
last update Terakhir Diperbarui: 2024-10-23 15:52:27

Suara cuitan burung di luar balkon terdengar riuh cahaya yang menembus ke dalam kamar cukup membuat Vale mengerjapkan matanya yang baru bangun dari mimpinya.

Tak jauh darinya ada sosok pria yang sedang memandangnya tanpa berkedip. Kedua mata mereka saling berpandangan dan Vale lah yang pertama memutus pandangan tersebut.

"Mandilah ikut bersamaku ke kantor."

"Untuk apa bukannya sekarang kau yang akan menjadi bosnya."

"Kau akan mengetahuinya setelah tiba di sana. Bersiap-siaplah aku menunggumu di bawah kita sarapan bersama."

Setelah melihat Alan pergi dari kamar, Vale bergegas mandi dengan cepat karena dia juga penasaran dengan ucapan pria itu.

Di atas ranjang ada stelan pakaian kantor untuknya. Blouse berwarna biru dan rok span berwarna hitam. Terlihat sangat sopan karena itu yang diinginkan Alan. Setelah mengecek beberapa riasan di wajahnya Vale keluar dan turun menghampiri Alan yang sejak tadi sudah menunggunya.

Tapi baru beberapa langkah kakinya tertahan tanpa mau digerakkan matanya terbelalak melihat Alan yang sedang asyik mencumbu seorang wanita muda dipangkuannya.

Alan yang sejak tadi mendengar suara langkah kaki Vale hanya cuek dan tetap melakukan hal menjijikan di depan Vale. Tanpa berkata-kata Vale dengan tubuh gemetar menahan kesal berusaha tenang duduk di kursi makan tanpa menghiraukan mereka.

"Sayang kau tunggu di apartemen nanti aku menyusul."

"Janji ya aku akan menunggumu nanti malam. Aku akan memberikan service yang memuaskan," bisik wanita itu terdengar mendayu-dayu membuat perut Vale terasa mual.

"Ya pergilah, ayo ku antar ke luar," titah Alan sambil menepuk bokong sintal wanita muda itu yang cara berpakaiannya seperti orang kekurangan bahan.

"Well, Nona Vale silahkan nikmati sarapanmu setelah ini kita akan ke kantor. Ayo sayang aku antar ke depan."

"Ok honey," ucap wanita muda itu tanpa menghiraukan tatapan tak suka Vale.

Vale tak menyentuh sedikitpun makanan yang terlihat lezat yang disajikan di hadapannya. Perutnya tiba-tiba kenyang karena ulah Alan yang sudah keterlaluan. Pria itu selalu mempermainkannya sejak dulu.

"Kenapa kau tidak penah berubah, aku yang bodoh terlalu lama meratapi kesedihanku sedangkan kau hanya sibuk dengan para wanitamu itu miris sekali nasibku," ucapnya sendu sambil menatap nanar dua manusia yang masih asyik bermesraan di luar tanpa terganggu dengan kehadirannya.

Alan merasa kacau karena tadi pagi dia sudah menerima laporan dari Abizar tentang kekasihnya. Wanita itu diam-diam, memelihara seorang model pria di Itali.

Kebetulan sekali ada Jeni yang datang kerumahnya seorang wanita muda yang haus kenikmatan darinya. Jeni menyerahkan dirinya di saat Dia masih perawan. Dia memerlukan biaya rumah sakit untuk Ibunya. Tapi dengan syarat wanita itu hanya boleh ditiduri Alan. Karena pria itu selalu ingin bersih tanpa ada penyakit apapun di masa mendatang.

Setelah mengantarkan Jeni masuk ke dalam mobil Alan kembali masuk ke dalam rumah melihat Vale yang tak menyentuh makanannya. Wanita itu hanya meminum jus jeruk yang terlihat sudah setengah diminumnya.

Tak mau membuat mood wanita itu semakin parah Alan mengajaknya masuk ke mobil. Di dalam perjalanan Alan sibuk memeriksa iphadnya sedangkan Vale sibuk membalas pesan dari Gerald teman dekatnya dengan wajah berseri-seri. Alan yang kesal langsung merampas ponsel Vale kemudian memasukan ponsel itu ke saku celananya.

"Apa yang kau lakukan! Jangan lancang kembalikan ponselku!"

"Tidak... Jangan harap kamu bisa mendapatkan kembali ponselmu selama bersamaku!"

"Aku tidak memintanya kau saja yang memaksaku bersamamu."

"Apa hubunganmu dengan pria itu?"

"Ck... Jangan campuri urusanku yang jelas hubungan kami sangat spesial. Dia itu teman dekatku selama di London kami selalu bersama dan..."

"Berhenti! Keluar kalian!" teriak Alan kepada sopir dan asistennya sengaja memotong ucapan Vale.

Setelah menepikan mobil tanpa menunggu lama-lama asisten dan sopirnya keluar dari dalam mobil.

Alan melonggarkan dasi yang sejak tadi agak mencekik lehernya. Dia membuka jas dan kancing kemeja tangannya dan menggulungnya sampai ke siku. Suasana di dalam mobil seketika mencekam bagi Vale melihat Alan yang tak biasanya dengan wajah yang terlihat menakutkan.

Alan mencodongkan wajahnya begitu dekat dengan wajah Vale yang sudah mentok di dekat jendela kaca pintu mobil. Dengan sekali tarikan wanita itu sudah berada di atas pangkuan Alan.

"Kau mau apa jangan macam-macam Alan," peringat Vale dengan wajah cemasnya.

Alan mengendusi ceruk leher Vale dengan hidungnya. Pria itu begitu menikmati wangi tubuh Vale. Tangannya membuka kancing depan blouse Vale.

"Jangan banyak bergerak kalau tak ingin aku melakukan lebih dari ini. Diamlah!" titahnya. Bukan hanya mencumbu leher putih Vale tapi Alan memainkan bagian atas Vale sampai membengkak. Wanita itu hanya meringis menahan lenguhan dari bibirnya. Dia sungguh risih melihat pria itu berlama-lama menikmati bagian atas tubuhnya.

Sudah puas menikmati making outnya Alan merapihkan kembali pakaian Vale dan dirinya. Pria itu meminta sopir dan asistennya masuk melanjutkan perjalannya ke kantor.

Sepanjang jalan menuju kantor tangannya terus memainkan rambut Vale yang dipaksa bersandar di dada bidangnya. Sambil mengecup kepala Vale dengan lembut Alan berkata. "Kalian, antarkan Nyonya kalian kembali ke rumah pastikan keselamatan wanitaku terjaga."

"Apa katamu? Kenapa menyuruhku kembali ke rumah?"

"Kenapa hem... tak ingin jauh dariku?"

"Jangan membual aku sedang serius tadi kamu bilang aku harus ikut ke kantor."

"Ya memang, tapi nanti saja ke kantornya kebetulan aku ada meeting dengan perusahaan film. Sangat urgent lain kali saja kau ikut ke kantor, hem."

"Up to you, Tuan Alan. Sekarang kembalikan ponselku," pinta Vale sambil tangannya terbuka tutup.

Alan mengecup punggung tangan Vale lalu berkata. "No! Hukumanmu belum selesai tunggu sampai aku pulang ke rumah. Dan kaupun harus menyambutku dengan baik, bagaimana Nona Vale?"

"Kata-katamu terdengar mengancam tuan Alan. Tentu aku tidak akan pernah menurutimu."

"Jangan percaya diri dulu Nona Vale. Aku tidak seingin itu menidurimu. Tapi kau harus sadar diri dengan pertolonganku yang sudah mengakuisisi perusahaanmu agar tidak jatuh ketangan orang lain. Jangan anggap aku perhitungan tapi anggaplah aku sedang beramal," seloroh Alan yang terkekeh geli melihat Vale yang kesal dibuatnya.

Vale yang kesal langsung membuang wajahnya ke samping memandang jalanan Ibu kota yang sangat padat dengan mobil. Pikirannya kian berkecamuk di otaknya memikirkan bagaimana caranya keluar dari genggaman mantan suaminya.

***

Sementara itu di negara lain Violet yang sedang asyik bercinta di depan perapian dengan liar. Pria muda berusia dua puluh tahunan seorang model baru di Italia diam-diam menjalin kasih dengan Violet.

Suara benturan kedua paha menggema di dalam apartemen mewah pria itu tepatnya di depan perapian yang sengaja dinyalakan membuat suasana semakin panas. Sudah berkali-kali Violet merasakan klimaks dari pria muda tampan selingkuhannya.

Awal pertemuannya dengan Boy di Itali membuat wanita itu berpaling dari Alan. Pria muda yang sangat tampan dengan tubuh profesionalnya sebagai model papan atas yang digandrungi para gadis remaja dan wanita dewasa sepertinya. Kini sedang bertukar peluh menikmati kenikmatan surgawi bersamanya.

"Put it in deeper baby, you're crazy making me fly... Owh shit! Deeper darling you are so strong!"

Bab terkait

  • MENGGODA MANTAN ISTRI   Saran dari teman

    Berkali-kali Alan menghubungi Violet setelah bertemu dengan kolega bisnisnya meeting bersama membicarakan projek iklan untuk brand miliknya. Alan menginginkan Violet untuk kembali ke Indonesia secepat mungkin. Dia sudah membayar penalti perusahaan lain yang terlibat kontrak dengan kekasihnya itu. "Come on Dude, kau hanya membuang-buang waktumu saja. Kekasihmu itu sedang tidak ingin diganggu," sarkas Abizar yang sedang berkunjung ke kantornya karena ada informasi penting yang harus dia berikan kepada temannya itu. "Shut up! Kenapa belum pergi dari ruanganku. Kau itu bukan penganggurankan?" sahut Alan menyipitkan matanya ke arah Abizar. "Yah sejak memutuskan keluar dari perusahanmu dan bekerja dengan Tuan Darwin, aku lebih santai. Tapi tetap saja selalu direpotkan kamu," sarkas Abizar. "Jelas saja kerjamu santai yang kamu jaga itu wanita yang tidak menyulitkan dibanding diriku. Be careful Abizar, jangan permainkan Adik iparnya Darwin. Sepertinya dia sangat mencintaimu. Perlu kau

    Terakhir Diperbarui : 2024-10-26
  • MENGGODA MANTAN ISTRI   Tidak bisa pergi darinya

    Aksi kejar-kejaran Vale dan anak buah Alan seperti di film. Driver online yang membawanya ke bandara tak kalah keren seperti pembalap international. Sampai di bandara Vale memberikan uang 30 juta kepada driver itu yang kaget di bayar mahal tanpa henti driver itu memuji Vale dan banyak mengucapkan terima kasih. Tapi sebelum uang itu masuk ke dalam jaketnya seseorang datang mengambilnya dan menahan tangannya kebelakang. Vale yang buru-buru tidak memperhatikan lagi nasib driver itu. Setelah itu dia berjalan cepat untuk memesan tiket ke dalam. Rambut yang acak-acakan jangan lupakan alas kaki berupa sandal tidur hello kitty yang dia pakai. Membuat salah satu pria tampan yang berdiri tak jauh dari petugas check in counter menatap datar sambil menyilangkan tangan di dada menatapnya tanpa berkedip. Vale yang tak sadar melewati pria itu tanpa menaruh curiga kalau sebenarnya keadaan bandara begitu sepi hanya ada dia dan pegawai ticket dan dua pria yang berdiri tak jauh di belakangnya da

    Terakhir Diperbarui : 2024-10-26
  • MENGGODA MANTAN ISTRI   Bertemu saingan

    Britania Raya - London wilayah metropolitan berlokasi disepanjang sungai Thames. Pemukiman utama yang di dirikan oleh romawi pada abad ke-1. Disinilah selama tiga tahun Vale menenangkan hati dan pikiran setelah diceraikan Alan. Thames Residences Hyde Park, apartemen mewah tempat di mana Vale tinggal selama di London. Sebagai ibu kota Inggris, kota ini selalu menawarkan kehidupan yang sibuk dan penuh gairah, tempat di mana keinginan dan kenyataan sering bertabrakan dengan cara yang tidak terduga. Di tengah segala hiruk-pikuk ini, Vale telah menemukan kedamaian yang ia cari selama bertahun-tahun. Di dalam kamar apartemen milik Vale, Alan memandangi wajah Vale yang sedang duduk di sofa dengan mulut tertutup rapat tanpa mau menjawab pertanyaannya sejak keluar dari jet pribadi miliknya. "Kau masih tak mau jawab juga." "Untuk apa? Aku mendapatkan itu semua darinya secara cuma-cuma. I think... Dia berhak dapat perhatian dariku," jawab Vale akhirnya setelah bungkam selama 30 menit yang

    Terakhir Diperbarui : 2024-11-28
  • MENGGODA MANTAN ISTRI   Menyentuh wanitanya kembali

    Alan melumat bibir Vale dan menahan tengkuk Vale yang terus saja memberontak. Vale berusaha keras untuk mendorong Alan, namun tak bergeser sedikitpun. Tangan berurat dan kekar Alan begitu lihai saat menyentuh tubuh Vale. "Ah, jangan, Alan," desis Vale ketika ciuman itu terlepas. Namun, Alan tidak berhenti. Dia mengangkat tubuh Vale lalu melemparnya ke atas kasur. Vale yang panik mencoba untuk bangkit, namun Alan dengan santainya membuka satu persatu pakaiannya. "Apa yang ingin kau lakukan, Alan? Jangan seperti ini," desis Vale dengan raut wajah yang penuh ketakutan. Alan hanya tersenyum mesum dan mengabaikan ucapan Vale. "Jangan seperti ini, dasar mesum," umpat Vale dengan geram melihat Alan yang tak mendengar protesnya. Alan menatap Vale dengan sorot mata yang penuh nafsu. Dia meraih tubuh Vale dengan kasar, membuat Vale semakin kalut dan ketakutan. Vale terus mencoba melawan, namun usahanya sia-sia tenaga Alan begitu kuat. "Kau tidak bisa melarikan diri dari aku,

    Terakhir Diperbarui : 2024-11-28
  • MENGGODA MANTAN ISTRI   Kembali memilikinya

    "Bolehkan aku bertanya sekali lagi padamu, Alan?" tanya Vale sambil menatap mata Alan dengan tatapan penuh ketegasan. Alan mengangguk pelan. "Ya, tentu saja, apa yang ingin kau tanyakan, Vale?" "Kau benar-benar ingin aku kembali kesisimu?" tanya Vale dengan suara bimbang. Alan menganggukkan kepalanya. "Dan kau tidak menginginkanku dekat dengan Gerald, bukan?" tanya Vale lagi, mencoba memastikan. "Nope!" Vale menarik nafas dalam-dalam. "Kau yakin tak menyesali keputusanmu mengajakku rujuk kembali?" Alan menatap wanita didepannya dengan dalam. "Tidak, aku tidak menyesali keputusan itu." Vale manggut-manggut lalu bibirnya tersenyum miring kemudian berkata. "Kalau begitu, aku mau kembali denganmu. Tapi aku tidak ingin dipoligami, Alan. Aku ingin menjadi istri sahmu satu-satunya. Are you ready?" Alan tersenyum tipis mendengar ucapan Vale. "Ok, I'm ready!." "Tolong bawa berkas itu," ucap Alan pada salah satu pengawal yang berdiri di dekatnya. Pengawal itu segera

    Terakhir Diperbarui : 2024-11-29
  • MENGGODA MANTAN ISTRI   Bab 11

    "Ahk..." Desah Vale saat Alan menambah kecepatan gerakannya di bawah sana sambil menggoda dengan sentuhan di tubuhnya membuat akal sehatnya hilang begitu saja. Vale merasakan sensasi yang luar biasa saat tubuhnya berpadu dengan Alan, dan tanpa sadar dia terhanyut oleh permainan cinta Alan. "Kau hanya milikku, Vale, selamanya," ucap Alan tanpa menghentikan gerakannya yang semakin cepat. Alan terus meningkatkan ritme gerakannya, menggoda Vale dengan lembut namun penuh gairah. Vale merasa seperti tenggelam dalam kenikmatan yang tak terhingga, tanpa bisa berpikir jernih lagi. "Tidak, Alan, hentikan," teriak Vale ketika bagian sensitifnya di bawah sana merasakan gelombang hebat yang membuatnya tak berdaya. Namun, belum hilang dari rasa yang memabukkan, Alan telah mengangkat tubuhnya ke atas tanpa melepaskan penyatuan mereka. "Enjoy it baby... Oh damn you're tight!" ucap Alan merasa seperti terbang di langit. Alan terus bergerak sambil menahan pinggul Vale, saling menyatu dalam ci

    Terakhir Diperbarui : 2024-11-30
  • MENGGODA MANTAN ISTRI   Bab 12

    Boy dibawa ke ruang interogasi di markas Abizar dengan tangan dan kakinya dirantai. Ruang interogasi itu dipenuhi dengan berbagai senjata berbahaya seperti samurai, pisau lipat, dan benda-benda lain yang membuatnya merasa ketakutan. "Apakah kau yang memasukkan obat laknat itu ke dalam minuman Mr. Alan?" tanya Yash sambil menatap tajam kepada Boy. "Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan," jawabnya pelan. Tapi setelah tahu maksud pria itu dia tertawa. "Dasar binatang mau saja menurutinya," gumam Boy lagi dengan senyuman mengejeknya kepada Yash. Yash tersenyum sinis. "Kami memang anjing setia kepada tuannya, tapi kami tidak akan menggigit tuan kami sendiri," balasnya dengan tajam. Boy merasa kesal mendengar jawaban Yash. "Kau ini!" kesalnya, tapi kemudian ia tertawa dengan keras. Laura, yang sedang memperhatikannya lewat monitor dari ruangannya, merasa geram melihat tingkah Boy. Laura segera menyusul Yash keruang interogasi. Tatapannya saling bertemu dengan Boy. Dan tanpa b

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-02
  • MENGGODA MANTAN ISTRI   Bab 13

    Abizar memasuki ruangan dengan langkah yang tenang dan dingin. Dia melihat Boy yang tergeletak di lantai, tubuhnya lemah dan berlumuran darah dengan rantai yang masih mengikatnya. "Kau masih belum mau mengakui?" tanya Abizar dengan suara yang datar. Boy mengangkat kepalanya dan melihat Abizar dengan mata yang berisi kebencian. "Aku tidak akan pernah mengakui," jawab Boy dengan suara yang lemah tapi penuh dengan keberanian. Abizar tersenyum dan berjalan mendekati Boy. "Kau pikir kau bisa menahan rahasia itu selamanya?" tanya Abizar dengan suara yang menantang. Boy tidak menjawab, tapi Abizar bisa melihat ketakutan di dalam matanya. "Kita lihat saja," kata Abizar dengan suara yang dingin sebelum memerintahkan anak buahnya untuk melanjutkan penyiksaan terhadap Boy. Anak buah Abizar kemudian melanjutkan penyiksaan terhadap Boy. Mereka memukul dan menendangnya hingga Boy tidak bisa bergerak lagi. "Berhenti!" teriak Abizar tiba-tiba. "Aku ingin dia masih bisa berbicara."

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-02

Bab terbaru

  • MENGGODA MANTAN ISTRI   Ban 151

    Alan memerintahkan baby sister datang ke hotel untuk menjaga Anya. Sedangkan dia ingin bermesraan bersama Valeria. "Aku bukannya senang merayakan wasiatmu, tapi aku speechless kenapa Ayah Satia tidak jujur dan malah berhutang banyak denganku. Apa dia hanya pura-pura saja? Pantas saja dia meninggalkan perusahaan, pergi ke Rusia bersama wanita mudanya, hanya untuk mengujiku," ucap Alan yang kini sedang menciumi tubuh Vale dengan mesra. Valeria tertawa kecil. "Jadi, semua ini adalah ujian? Ujian yang sangat mahal!" Alan mencium leher Valeria. "Ya, ujian untuk melihat apakah kita cukup kuat untuk menghadapi semua ini bersama-sama. Dan sejauh ini, ki

  • MENGGODA MANTAN ISTRI   Bab 150

    "Terima kasih sudah menjadi suamiku kembali. Meskipun kau membuatku sedikit khawatir tadi malam." Alan tertawa kecil. "Maaf, sayang. Aku terlalu bersemangat." Valeria mencubit lengan Alan pelan. "Lain kali, jangan terlalu bersemangat. Tapi... aku senang." Alan memeluk Valeria. "Baiklah, sayang. Aku berjanji akan lebih lembut... kecuali jika kau menginginkan sebaliknya. Malam yang luar biasa. Aku senang kita bisa menghabiskan waktu bersama seperti ini. "Aku juga. Rasanya seperti kita kembali muda lagi." "Kita akan selalu muda di hati, sayang. Selamanya."

  • MENGGODA MANTAN ISTRI   Bab 149

    Reinhard dan Elsa, dua anak Alan Chester Clark yang gendut dan lucu, berlarian di sekitar taman pesta pernikahan Abizar, membuat para tamu undangan tertawa. Mereka berguling-guling di atas rumput, mengejar kupu-kupu, dan saling kejar-kejaran. 'Lihatlah mereka! Seperti dua anak kelinci yang berlarian!" ucap para tamu. "Mereka sangat menggemaskan! Aku jadi ingin punya anak juga." Di sisi lain taman, Valeria, dan Violet, duduk di sebuah bangku tamu undangan, menikmati suasana pesta sambil mengobrol. Anya duduk di pangkuan Valeria, tersenyum terus tanpa henti. "Anya, kamu kenapa senyum terus? Ada yang lucu ya?" Violet tertawa. "Dia memang selalu ceria. Lihat giginya, baru tumbuh beberapa

  • MENGGODA MANTAN ISTRI   Bab 148

    "Jadi, anakku sudah mulai mengikuti jejak ayahnya, ya?" ucap Alan sambil tertawa. Valeria mendelik. "Jangan tertawa! Ini serius! Aku khawatir dia akan terlalu banyak pacar nanti." Alan masih tertawa. "Tenanglah. Aku yakin dia akan baik-baik saja. Setidaknya dia punya bakat alami. Mungkin suatu hari nanti dia akan menulis buku tentang pengalaman pacarannya, judulnya." "Petualangan Cinta Seorang Playboy Cilik". Valeria memukul pelan lengan Alan. "Jangan mengada-ada! Ini serius!" Alan tertawa. "Baiklah, baiklah. Aku berjanji akan membicarakan ini dengan Reinhard. Tapi jangan berharap aku akan melarangnya pacaran. Aku sendiri kan juga pernah mengalami masa-masa itu. Tapi aku akan memastikan dia tahu batasannya. Aku tidak ingin dia terluka."

  • MENGGODA MANTAN ISTRI   Bab 147

    Sore hari menjelang, mentari mulai terbenam, menorehkan warna jingga dan ungu di langit. Alan dan Valeria masih berbaring di ranjang, saling berpelukan. Suasana kamar masih dipenuhi aroma intim dan sisa-sisa gairah. Valeria tersenyum. "Aku merasa sangat senang. Seperti kembali ke masa pacaran kita dulu." "Aku juga. Rasanya seperti waktu berhenti, hanya ada kita berdua." "Anak-anak akan kembali dalam seminggu. Kita harus memanfaatkan waktu ini sebaik mungkin." "Tentu. Bagaimana kalau kita memasak makan malam bersama? Sesuatu yang romantis, hanya untuk kita berdua." "Ide bagus! Bagaimana kalau kita membuat pasta? Dengan saus truffle dan anggur merah?" Alan tersenyum. "Kau selalu tahu

  • MENGGODA MANTAN ISTRI   Bab 146

    Jan 23.00 malam baru pulang dari kantor. Ia masuk ke kamar , melihat Valeria, matanya melebar. Ia berjalan mendekat dengan langkah pasti. Kamar gelap hanya diterangi cahaya remang dari lampu tidur di meja samping ranjang. Alan berbisik, sedikit serak. "Wow..." menatap Valeria yang tertidur pulas dengan lingerie sutra berwarna merah marun. "Pekerjaan yang melelahkan di kantor, langsung sirna begitu melihatmu..." Alan mendekati Valeria dan menyentuh pipinya dengan lembut, jari-jarinya merasakan kelembutan kulit Valeria. "Lingerie itu... sangat menggoda." Ia menarik napas dalam-dalam, aroma parfum Valeria memenuhi indranya. "Kau selalu tahu bagaimana membuatku tenang dan... tergoda sekaligus." Ia menunduk, mencium lembut leher Valeria. "Kau luar biasa, Valeria." Alan kemudian berbaring di samping Valeria, memeluknya dengan erat. Ia merasakan detak jantung Valeria yang t

  • MENGGODA MANTAN ISTRI   Bab 145

    "Kau menginap di sini atau pulang, Boy?" "Aku langsung pulang saja, Kak. Kan ada jet pribadi Kakak." Boy tersenyum. Alan tersenyum. "Ya sudah. Aku ke ruang kerja dulu." Alan menyerahkan Anya ke Valeria. "Anya, sayang, ikut Mommy ya." Valeria menerima Anya. "Tentu, Sayang." "Reinhard dan Elsa ke mana, Kak?" "Mereka tadi, setelah berenang, katanya mau bermain di taman bersama teman-temannya. Sepertinya mereka sudah pulang juga. melihat ke arah pintu. "Ah, lihat! Mereka sudah pulang." Reinhard dan Elsa masuk, membawa beberapa mainan kecil. "Mom! Papa!" teriak Reinhard. "Paman Boy!" seru Els

  • MENGGODA MANTAN ISTRI   Bab 144

    Valeria segera mempersiapkan diri untuk menyusui Anya. Alan meletakkan Anya di pangkuan Valeria, dan Anya langsung menempelkan mulutnya ke dada Valeria, menghisap dengan lahapnya. Valeria menatap Anya yang sedang menyusu. "Nah, sudah tenang sekarang, ya, Sayang. Minum yang banyak biar kuat." Alan duduk di samping Valeria. "Dia memang cepat sekali laparnya." "Iya juga ya. Besok aku harus lebih sering memberinya ASI. Jangan sampai dia kelaparan lagi." Valeria menatap Anya dengan penuh kasih sayang. "Mommy sayang Anya." Alan memeluk Valeria dari belakang. "Aku juga sayang kalian semua. Keluarga kecilku yang sempurna." Anya selesai menyusu dan tertidur pulas di pangkuan Valeria. Suasana menjadi tenang dan damai. Valeria berbisik kepada Alan. "Dia sudah tidur. Tidurnya sangat nyenyak." "Kita juga perlu istirahat sebentar, Sayang. Hari ini cukup melelahkan." Valeria dan

  • MENGGODA MANTAN ISTRI   Bab 143

    Alan dan Valeria tetap berpelukan, tenang dan damai. Keheningan di antara mereka dipenuhi dengan cinta yang dalam dan pengertian yang mendalam. Alan berbisik pelan. "Ingatkah kau... saat kita pertama kali bertemu?" Valeria tersenyum lembut muncul di wajahnya. "Tentu saja. Di kafe kecil itu, dengan hujan yang turun deras di luar." Kenangan itu muncul kembali di benak mereka, membawa mereka kembali ke masa-masa awal hubungan mereka. Mereka mengingat perasaan gugup, debaran jantung, dan percikan cinta pertama yang mekar di antara mereka. "Saat itu... aku tahu. Aku tahu kau adalah orang yang tepat untukku." "Aku juga, Sayang. Aku merasakannya sejak pandangan pertama." Mereka saling bertukar tatapan, tatapan yang penuh cinta, kepercayaan, dan pen

Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status