Lima tahun tidak mendapatkan batin tidak membuat Amara menyerah, dia tetap bersabar dengan perlakuan suaminya. Di berharap suatu saat nanti Abian-suaminya mau menerimanya. Amara mendapatkan tekanan dari keluarganya dan dia harus menjalani pemeriksaan untuk mengetahui kesuburannya. Dari pemeriksaan itu akhirnya terbongkarlah bahwa Amara tidak mendapatkan nafkah batin dari suaminya. Bagaimana kehidupan Amara setelah rahasia itu terbongkar?
View More“Pokoknya Mama kasih waktu satu tahun lagi, kalau dalam waktu satu tahu kamu tidak juga hamil, kamu harus ikhlas kalau Abi harus menikah lagi.” Wanita bersanggul rendah itu menatap wanita muda yang menunduk di hadapannya.
“Mara akan usaha lagi, Ma,” jawab Wanita itu. Dia segera menyeka air matanya yang tadi menggenang dan akhirnya lolos juga.
Entah berapa obat-obatan yang sudah dia telan dan segala macam makanan sehat penambah kesuburan. Dia hanya menjalani apa yang dititahkan keluarga itu tanpa bisa menolak atau mengatakan keadaan yang sebenarnya.
“Besok Mama antar, kita ganti dokter.”
Wanita bernama Amara itu menganguk patuh kemudian dia menoleh saat mendengar langkah kaki mendekat. Lelaki yang sedang dia tunggu akhirnya datang. Amara ingin suaminya ikut menjawab segala macam pertanyaan mertuanya. Bukan dirinya saja yang seharusnya ditekan, tapi Abian yang seharusnya bertanggung jawab atas keadaannya yang tak kunjung hamil.
“Mara mau periksa sama Mas Abi, Ma,” kata Amara setelah lelaki itu mendekat.
Tampak kernyitan di kening lelaki itu. “Periksa apa?” tanyanya. Lelaki itu mengempaskan diri sofa berseberangan dengan sofa yang diduduki Amara.
“Kosongkan jadwalmu, besok kalian harus periksa ke dokter.” Sang ibu menatap ke arah anak lelakinya.
“Aku nggak bisa, Ma. Biar Mara saja yang jalani pengobatan. Lagian aku yakin kalau aku sehat.”Lelaki bercambang itu berkilah. Selalu seperti itu dan selalu saja mendapatkan pemakluman.
Amara tahu kenapa lelaki itu tidak mau ikut periksa juga. Dia paham apa yang dipikirkan suaminya, tapi Amara masih mencoba untuk tetap bertahan seperti janjinya pada kedua orang tuanya. Harapan kedua orang tuanya begitu besar pada pernikahannya.
“Ibu akan beri waktu satu tahun, setelah satu tahun kalau tidak ada perubahan, kamu boleh menikah lagi,” ujar wanita paruh baya itu kemudian dia beranjak meninggalkan anak menantunya di sana.
Ada senyum yang terbit di bibir lelaki itu kemudian dia ikut beranjak dari sana.
“Kamu ikuti saja apa yang diperintahkan Mama, jangan bicara apa pun tentang pernikahan kita,” ujar lelaki itu pada istrinya.
Apa pun yang dikatakan Abian, Amara hanya bisa mengiyakan, tidak ada bantahan meski akhirnya dia sendiri yang disalahkan. Dirinya dianggap tidak subur oleh mertuanya. Entah berapa banyak lagi stok kesabaran yang dia simpan untuk menjalani pernikahannya.
Bukan karena dia lemah, tapi dia begitu menghormati hubungan baik antara orang tua dan mertuanya. Amara tidak mau hubungannya dengan Abian akan mengecewakan para orang tua itu, meski dia tahu ibu mertuanya tidak terlalu suka padanya.
.
Amara mengikuti suaminya ke kamar. Dia tidak pernah melalaikan kewajibannya melayani kebutuhan suaminya meski sering kali pengabaian yang didapat. Dia hanya menyakini, sikap tulusnya akan berbuah manis, itu pasti, entah kapan. Amara masih berusaha berpikir positif.
Abian melepas jas yang dia kenakan kemudian mengulurkan pada Amara. Lelaki itu lantas duduk dan Amara langsung bersimpuh di depan Abian, membuka sepatu dan kalos kaki suaminya kemudian meletakkan di rak sepatu.
Wanita yang selalu mengenakan jilbabnya meski di dalam kamar itu menuju kamar mandi untuk menyiapkan air dalam bak mandi. Biasanya Abian suka berendam setelah pulang dari kantor.
Lelaki itu masuk ke kamar mandi setelah melepas pakaiannya dengan menyisakan celana pendek saja. Amara segera berbalik meninggalkan kamar mandi itu.
Amara membersihkan ruang lain di kamar itu. Menyalakan lampu menutup jendela kemudian membersihkan ranjang agar pemilik merasa nyaman menidurinya. Dia juga mengambilkan baju ganti untuk Abian. Itu adalah rutinitasnya setap hari selama lima tahun menjadi seorang istri.
“Aku akan katakan pada Mama untuk tidak mengajakmu ke dokter.” Suara itu membuat Amara yang sedang membersihkan kamar itu menoleh.
“Apa karena Mas Abi tidak mau Mama terus memaksa kita untuk usaha punya anak?” tanya Amara dengan senyum samar di bibirnya.
“Mama tidak akan meragukanku, aku hanya merasa kasihan padamu karena harus menelan obat-obatan tiap hari.” Lelaki itu mengibaskan rambutnya yang basah kemudian mengambil pakaian yang disiapkan Amara.
“Seharusnya kita coba sekali saja, Mas.” Amara langsung menutup mulutnya yang dengan lancang mengatakan itu. Dia terlalu berani menuntut. Bukankah dia sudah sering kali mendapat peringatan bahwa Abian tidak akan menyentuhnya?
Lelaki itu menarik sudut bibirnya kemudian mendekat menepis jarak antara mereka.
Sungguh, saat itu tubuh Amara membatu. Dia tidak bisa bergerak menjauh. Debaran jantungnya menggila dan wajahnya memerah saat hembusan hangat menyambangi wajahnya.
Abian semakin mendekat membuat bulu kuduk Amara meremang.
“Jangan terlalu berharap, aku sudah janji tidak akan menyentuhmu,” ujar lelaki itu tepat di telinga Amara.
Sejenak Amara kesusahan menelan ludah. Debaran di dadanya lebih dari menggila kemudian dalam beberapa detik melemah berganti rasa sesak. Wajahnya masih memerah dan saat dirinya bisa menguasai diri, Amara segera ke luar dari ruangan itu. Ruang rahasia yang digunakan Abian untuk tidur. Tidak ada yang mengetahui ruangan itu kecuali dia dan Abian saja.
Amara memejamkan matanya, air matanya ke luar begitu saja seolah mewakili ungkapan rasa kecewanya. Dia tidak diharapkan oleh suaminya selama lima tahun lamanya.
Apakah dia seburuk itu?
***
“Nanti Mara tidak perlu ke dokter.” Abian menginformasi pada ibunya.
Suara denting sendok berhenti dan semua mata tertuju pada Abian. Ruang makan itu seketika hening setiap kali bahasan tentang anak Abian terlontar.
“Apa maksudmu?” Maria menatap tajam pada putra sulungnya, diletakkannya dengan kasar sendok dan garpu.
“Kami tidak perlu buru-buru,” jawab Abian kemudian melirik Amara yang ikut menatap ke arahnya. Dia memberikan senyuman pada Amara.
“Mama sudah memberi kalian waktu lima tahun.” Wanita itu menatap Amara dengan wajah memerah. “Pasti kamu yang mempengaruhi Abi ‘kan?”
Amara menggeleng. Dia sendiri tidak tahu kenapa dan apa rencana Abian saat ini. Apa mungkin ….
“Kenapa hanya masalah anak saja kalian harus merusak selera makanku!” Lelaki yang usianya lebih muda dari Abian mendengus kemudian mengambil segelas air meminumnya hingga tandas.
“Mama itu ingin segera punya cucu. Kalau kamu segera menikah dan segera beri Mama cucu, Mama tidak akan mendesak Mara dan Abi segera punya anak.”
“Jodoh dan keturunan itu hak mutlak Allah, kenapa Mama bersikap seolah menyalahkan apa yang telah Allah takdirkan, kenapa Mama membuat pernikahan mereka jadi seperti neraka. Memangnya wanita menikah itu hanya untuk disuruh hamil? Memangnya kalau wanita mandul tidak layak dinikahi?” Entah ada masalah apa dengan pemuda itu, dia bahkan terlihat tidak senang sejak obrolan tentang anak dibahas di meja makan.
“Satria. Yang sopan kalau bicara sama Mama,” tegur sang ayah. Lelaki itu mengakhiri makannya, dia beranjak lalu berjalan mendekati menantunya. “Jangan pikirkan apa yang diucapkan Mama, kami tidak menuntut apa pun dari kamu.” Lelaki itu mengusap kepala Amara yang berbungkus jilbab.
Hati Amara menghangat, setidaknya ada orang yang berpihak padanya. Sejak dulu hanya lelaki itu yang bersikap baik padanya dan selalu dipihaknya. Dia adalah Atmaja--ayah mertuanya.
“Tidak bisa begini, Pa. Mama akan carikan Abi istri kedua kalau Mara tidak segera hamil.”
Merasa tidak mendapat perlindungan dari keluarga, Felicia akhirnya memutuskan meninggalkan tempat tinggal orang tuanya. Apa yang bisa dia harapkan dari orang tuanya, sedang selama ini dia tidak pernah mendapatkan ketenangan di sana. Felicia memang pernah melakukan hubungan bebas, itu karena dia lepas dari pengawasan orang tua, orang tua tidak memberi contoh yang baik. Felicia sadar, dengan kebebasan yang dia jalani selama ini ternyata tidak membuatnya tenang, dia harusnya mengambil pelajaran setelah kejadian demi kejadian menyakitkan yang dia alami.“Tuhan itu maha pengampun, perbaiki kehidupanmu. Jika kamu manusia beragama, maka kembalikan kehidupanmu pada jalur yang benar.” Nasehat itu yang akhirnya membuat Felicia tinggal di sebuah kota kecil jauh dari kebisingan. Seorang wanita pekerja kebun memberinya tempat tinggal setelah dia sampai dan kebingungan akan tinggal di sana.Wanita paruh baya memakai jilbab panjang itu menyambutnya sangat baik, tapi rumah kecil itu hanya mempunyai s
“Pa, kenapa Satria masuk, sebegitu bencinya kah anak kita padaku?”Maria menatap sedih jejak putranya yang sesaat tadi justru meninggalkan mereka tanpa menyalami bahkan mempersilahkan masuk pun tidak. Hati ibu mana yang tidak terluka melihat perlakuan anaknya seperti itu. Ego sudah diturunkan, sesal sudah dirasa. Namun, apa yang di dapat? Apa anak itu ingin membalas perbuatannya. Sungguh, jika itu benar Maria akan bersimpuh di hadapan putranya itu untuk meminta maaf.Kesalahannya memang terlalu fatal, bukan hanya pada Satria saja tetapi juga pada Amara—wanita yang seharusnya dia jaga karena dia sudah berjanji di depan pusara dua orang yang paling berjasa di hidupnya itu, dua orang yang telah mengorbankan diri agar suaminya tetap hidup sampai sekarang, dia berjanji akan menjadi orang yang selalu melindungi Amara. Namun, apa yang dia lakukan pada anak itu, dia malah menjauhkan anak itu dari keluarganya.Maria mulai menggali hatinya, bagaimana dia bisa berlaku kejam hanya karena ingin m
Setahun sudah berlalu, anak-anaknya jarang datang, lebih lagi satria, sudah setahun anak bungsunya itu tidak berkunjung. Buah-buahan di keranjang yang selalu dikirim Satria melalui kurir sebagai obat rindu. Maria merindukan anak-anaknya, dia telah menuai apa yang telah dilakukan pada anak-anaknya.Abian selalu saja sibuk, tiap kali dia menelepon agar anaknya itu datang, selalu saja beralasan sibuk. Ya, Maria yang meminta Abian untuk memperbaiki kualitas hidup agar kehidupannya lebih baik. Abian memang semakin sukses, dia juga sudah merambah usaha di berbagai bidang termasuk bidang otomotif dan usahanya yang baru beberapa bulan dirintis sudah sangat besar mengalahkan usaha Satria.Maria mempehatikan semua kegiatan kedua anaknya. Abian lebih kompetitif dan semakin gila kerja hingga setahun lebih pernikahan belum juga dikaruniai anak. Sedang Satria tidak terlalu bersemangat dengan usahanya, Satria bahkan lebih banyak menghabiskan waktu di rumah bersama istri dan anak-anaknya. Perkebunan
“Satria, kamu kenapa?” Amara langsung menghampiri lelaki berkemeja biru navi itu. Wajah yang tadi cerah berubah suram, tangannya mengepal dan rahangnya mengeras.“Pergi ke rumah mama batal,” ujar lelaki itu.Amara menarik tangan suaminya membawa presensi lelaki itu untuk duduk di sofa dekat jendela. Dia tahu kalau Satria tidak sedang baik-baik saja, lelaki itu masih belum bisa mengendalikan emosinya. Yang Amara tahu emosi seseorang akan berkurang saat duduk, kalau belum juga reda maka berbaring, itu kenapa dia mengajak Satria duduk. Satria menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa. Embusan napas berat ke luar dari mulutnya lalu tangan besarnya meraup wajah kasar.“Kamu masih ingat beberapa kali kita gagal ke rumah Mama?” Lelaki itu menarik sudut bibirnya. “Mama memang tidak mau kita ke sana. Semua yang terjadi pada kita, musibah kecil yang kita lalui saat akan ke rumah mama hingga kita mengurungkan niat ke sana itu ulah mama. Mama yang merencanakan semuanya agar kita tidak ke sana.”
“Aku yakin Mama yang merencanakan semua ini.”“Diam kamu Abi.”Abian menggeleng melihat kelakuan ibunya yang sudah tidak bisa dia cerna dengan akal sehat. Entah kepercayaan apa yang tertanam dalam pikiran ibunya dari dulu hingga kini tetap berpikir primitive.“Makanya Mama itu belajar sama ustaz, bukan sama guru spiritual. Guru spiritual itu sama dengan dukun. Mama tahu seberapa besar dosa orang yang mendatangi dukun?”“Sudah, jangan ceramah. Salat saja bolong-bolong malah ceramahin Mama. Sana belajar agama dulu sebelum ceramah.”Abian lantas meninggalkan ibunya, dia tidak mau peduli lagi karena capek jika berdebat dengan ibunya. Sejak dulu saat dia memprotes kenapa ibunya selalu membedakannya dengan adiknya, selalu saja jawabannya bahwa Satria adalah anak pembawa sial yang harus disingkirkan.Apa mungkin ini yang dimaksud ibunya? Bukankah beberapa waktu yang lalu ibunya sudah menerima Satria?Semakin dipikir membuat Abian pusin sendiri. Biarlah itu menjadi masalah ibu dan adiknya, ya
“Kamu tahu ‘kan kalau sejak dulu Mama tidak terlalu peduli padaku?” “Bukan tidak peduli, Sayang. Orang tua itu punya cara berbeda mengungkapkan rasa sayangnya pada anak-anaknya. Mungkin bagi Mama kamu cukup mandiri hingga Mama tidak terlalu mengkhawatirkanmu dan terbukti ‘kan kamu bisa mandiri tanpa bantuan mereka.”Amara mengusap bahu suaminya lalu duduk di sebelah lelaki itu.“Itu salah satu alasan. Ada alasan lain yang membuat Mama tidak terlalu mempedulikanku. Mama yang bilang setelah kita periksa waktu itu dan aku mulai berpikir bahwa ini adalah karma yang keluargaku lakukan di masa lalu.” Lelaki itu menggusah napasnya kemudian menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa.“Karma?” Amara mengerutkan keningnya lantas meraih tangan suaminya. “Dalam agama kita tidak ada yang namanya karma. Apa kamu pernah lihat orang jahat hidupnya senang terus? Itu karena balasan dari perbuatan manusia itu nanti saat manusia telah mati. Di dunia itu hanyalah ujian.”“Tapi, Ra. Kesalahan keluarga kami sa
Felicia kali ini merasa menang, entah kenapa dia merasa berkali-kali mendapat dukungan semesta andai apa yang dia lakukan mendapatkan balasan, nyatanya dia masih tetap beruntung dan Abian yang telah dia bodohi kembali masuk perangkap dan dia yang beruntung.“Fel, thanks ya, kamu sudah membantuku. Tanpa kamu aku tidak bisa membalas mereka.”“Kamu ‘kan tahu kemampuanku, makanya jangan remehkan aku.” Felicia mengerucutkan bibirnya, tangannya bersendekap.“Iya, iya. Aku tidak akan meragukan kemampuanmu. Aku akan turuti apa pun yang kamu mau. Aku puas benget melihat Ferdian sudah jadi mayat.”Felicia hanya memberi tahu keberadaan Ferdian, tapi dia mendapatkan bonus kabar kalau Ferdian sudah membusuk di tempat persembunyiannya. Dia masih ingat dulu sering dijadikan alat oleh Ferdian untuk menjebak Abian, seingatnya tiga kali dia melakukan itu dan dalam hati kecilnya dia tidak tega melihat Abian menderita karena ulahnya.Bagaimana pun juga dia punya hati. Dia pernah mencintai Abian dan tidak
"Pasti ada masalah di sana, Ferdi pasti belum ke luar dari sana." Satria berjalan mondar-mandir setelah mengetahui tidak ada penerbangan atas nama Ferdian. Mereka memperkirakan Ferdian pasti akan ke Singapura setelah ketahuan, mereka tahu ke mana Ferdian akan bersembunyi."Coba Papa tanyakan Om Antony," kata Abian.Sejak penggrebekan Ferdian di salah satu rumah persembunyian Ferdian, mereka menunggu dengan cemas lelaki itu. Bagiamana pun juga mereka tidak mau Ferdian dalam bahaya, setidaknya jika dipenjara itu lebih aman.Kabar di lapangan Ferdian kabur dan setelah ditelusuri tidak ada jejak penerbangan atas nama Ferdian dan mobil Ferdian masih berada di sana."Ommu tidak tahu kabar Ferdi, mereka juga mencari," kata Atmaja menginformasi. "Pa, apa mungkin Ferdi terjebak di dalam rumah?" Satria mulai mencurigai karena yang dia tahu dari informasi anak buahnya, ada ruangan khusus bawah tanah yang menghubungkan ke arah dekat dermaga. Kemungkinan Ferdian berlayar juga bisa dipertimbangkan
"Abi, tolong bantu aku." Sebenarnya Felicia malu meminta bantuan pada Abian, dia malu karena telah beberapa kali menyakiti lelaki itu. Mengkhianati dan juga mempermainkan lelaki itu. Entah kemana urat malunya dia tanggalkan, dia hanya tidak bisa melakukannya sendiri. Dia masih berharap Abian mau menolongnya, setidaknya meski lelaki itu kemungkinan besar akan menghardiknya, tidak mengapa, Abian tidak akan tega membiarkannya, apalagi saat ini Felicia dalam keadaan terpuruk, ada beberapa luka memar di tangannya. "Memangnya apa yang dilakukan Nathan?" tanya lelaki itu.Felicia menunduk, dia mencoba menutupi lengannya yang terbuka, ada bekas cakaran di sana, entah bagaimana Nathan melakukannya."Ini semua karena Ferdian, dia yang membuat mood Nathan jadi buruk," jawab Felicia. Lelaki itu tersenyum sinis menatap felicia, kakinya disilangkan dan kedua tangannya bersendekap. Sungguh, lelaki itu tampak puas melihat penderitaan Felicia.Meski Felicia sudah memprediksi apa yang akan dilakukan
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Comments