Share

2. Seterusnya

Penulis: Black Aurora
last update Terakhir Diperbarui: 2025-01-14 11:49:50

Audriana terbangun dalam kondisi yang gelap gulita.

Untuk sesaat ia merasa disorientasi tempat dan waktu, mengira kalau saat ini sedang berada di dalam kamar kosnya.

Namun rasa letih tak biasa di seluruh tubuhnya dan nyeri luar biasa di area selangkangannya, membuat pikiran Audriana kembali kepada realita hidup yang sungguh menyedihkan.

Gadis itu mencengkram erat selimut hangat yang menutupi tubuh polosnya, lalu perlahan menoleh ke samping dimana sesosok tubuh kokoh yang jauh lebih besar darinya sedang terbaring pulas dengan napas yang mengalun teratur dalam dengkuran halus.

Serta-merta Audriana pun menggigit bibirnya keras-keras, demi mencegah agar cairan bening tanpa warna itu tidak kembali berjatuhan membasahi wajahnya yang pucat karena kelelahan.

Ia tidak boleh lemah!

Nasi memang sudah menjadi bubur, kesucian yang ia jaga baik-baik selama ini ternyata telah hilang dirampas di usianya yang ke 24 tahun.

Tapi  Audriana tidak akan membiarkan bajingan Jaxton Quinn ini berbuat seenaknya lagi.

Terngiang kembali ucapan lelaki iblis yang arogan itu, yang mengatakan bahwa Audriana adalah miliknya, sebelum lelaki itu lagi-lagi menidurinya dengan brutal hingga ia pun tak sadarkan diri karena kelelahan dan sakit yang tak tertahankan.

Bahkan ingatan terakhir yang Audriana ingat adalah tubuh besar penuh otot itu yang masih terus bergerak menghujamnya dengan sangat keras, serta bibir lelaki itu yang menghisap pinkish nipple-nya kuat-kuat.

Seluruh tubuhnya, senti demi senti, telah disentuh dengan sangat kasar oleh Jaxton. Audriana merasa sangat kotor.

Jaxton bahkan juga menjambak kuat rambut panjang sepinggang Audriana ketika serbuan arus kenikmatan menerjangnya dengan dahsyat, membuat cairan kental hangat kembali menyembur dan membasahi milik Audriana entah untuk yang keberapa kalinya.

Audriana merasa diperlakukan lebih rendah dari seorang pelacur!

Cih! Sampai mati pun, ia tidak akan pernah sudi menjadi milik siapa pun, apalagi milik si jahanam Jaxton Quinn!

Dengan mata nyalang menatap ke sekitarnya, Audriana mencari-cari sesuatu yang bisa ia gunakan untuk menusuk jantung lelaki yang telah memperkosanya itu.

Ia bahkan sungguh tak peduli jika sesudahnya dipenjara seumur hidup, asalkan Jaxton Quinn tak lagi ada di dunia ini!

Namun karena hanya kegelapan yang menyelimuti seluruh ruangan, membuat pandangan Audriana terganggu.

Dan ketika ia hendak bergerak turun dari ranjang, rasa nyeri luar biasa kembali menyerbu dirinya.

Audriana bahkan kesulitan untuk menggerakkan badan!

'Jaxton sialan! Iblis! Dia benar-benar telah menyiksa tubuhku hingga untuk turun dari ranjang pun rasanya sangat sulit,' rutuknya dalam hati.

Kekesalannya telah begitu memuncak, hingga gadis itu akhirnya memutuskan untuk mencekik leher lelaki yang terlihat masih pulas itu. Audriana pun berusaha untuk bergerak tanpa menimbulkan suara.

Sambil meringis menahan sakit, perlahan gadis itu berusaha memindahkan bobot tubuhnya hingga duduk di samping Jaxton.

Bahkan nyeri yang menusuk tajam pada bagian bawahnya pun diabaikan, demi membalaskan rasa dendam Audriana kepada manusia laknat yang tidur tanpa merasa berdosa sama sekali itu.

Ia menatap dingin pada wajah orang yang telah merusak hidupnya, lalu tanpa ragu menjulurkan kedua tangannya ke leher lelaki itu.

Matilah kau, Jaxton-brengsek-Quinn!!

"Aaahhkk!!" Audriana berteriak keras sesaat ketika tubuhnya malah terbanting kembali ke atas kasur, alih-alih duduk di samping Jaxton.

"Rupanya kelinci kecilku ini memiliki nyali juga," tukas Jaxton. Seuntai seringai dingin menghiasi wajahnya yang tampan namun terlihat menakutkan bagi Audriana.

"Mau membunuhku, kelinci kecil?"

"Tidaaak!!!" Audriana hanya bisa menjerit ketika Jaxton merangkum bibirnya di atas dada bulat sempurna dan menghisapnya kuat-kuat.

Sakit sekali.

Tiba-tiba saja Jaxton mengangkat kepalanya dan menatap tajam Audriana yang masih meringis kesakitan.

Netra hijau zamrud lelaki itu berkilau-kilau antusias melihat gadis cantik bak boneka yang kembali gemetar ketakutan di bawahnya.

Jaxton meraih dagu lancip Audriana dan mencengkramnya erat.

"Jangan bertingkah lagi, Manis. Kau tidak ingin kedua kaki dan tanganmu kubelenggu dengan rantai, kan?"

Audriana memicingkan matanya. "Kenapa tidak kau bunuh saja aku sekalian?" Desisnya.

Jaxton menaikkan satu alis lebatnya yang berwarna coklat. "Bunuh? Untuk apa? Aku masih menginginkan tubuhmu ini, Baby. Apa gunanya jika kau mati, hm?"

"Kalau begitu jangan salahkan jika aku yang akan terus berusaha membunuhmu!" Sembur Audriana dengan suara bergetar sambil menepis jemari Jaxton yang masih bertengger di dagunya.

Tubuhnya kembali menggigil. Mungkin rasa sakit, takut, marah dan cemas yang bercampur menjadi satu membuat tubuhnya bereaksi kacau.

Tawa dingin dan serak itu sukses membuat keberanian Audriana yang sempat muncul pun kembali menciut.

Bagaimana mungkin hanya sebuah tawa bisa membuat bulu kuduknya merinding? Meskipun menurutnya, jenis tawa Jaxton itu memang tak bisa dikategorikan tawa manusia normal.

Jika saja ini dunia dongeng, mungkin Jaxton adalah sejenis iblis berkedok manusia yang akan menghisap jiwamu hingga habis tak bersisa. Lalu membuang onggokan tubuhmu yang tak berharga itu kepada anjing-anjing neraka.

"Silahkan saja jika kau mau mencoba membunuhku," suara maskulin itu membuat lamunan melantur Audriana pun seketika buyar.

Gadis itu terkesiap kaget ketika bibir merah muda pucat milik Jaxton kini telah berada dekat di telinganya, dengan napas hangat yang berhembus menerpa kulit pipinya.

"Dan jangan salahkan juga jika aku menidurimu dengan lebih kasar setelahnya," balas Jaxton sambil menggigit telinga Audriana.

***

Kedua kelopak dengan bulu mata lebat dan lentik itu pun perlahan terbuka.

Pertama kali yang ia lihat adalah sesosok wanita muda berseragam maid, mungkin usianya tak jauh dari dirinya, sedang tersenyum dan menundukkan kepala hormat kepadanya.

"Selamat sore, Nona. Perkenalkan nama saya Windi," ucapnya lembut. "Saya yang akan membantu Nona membersihkan diri."

Mata bening beriris hitam itu pun mengerjap beberapa kali, berusaha mencerna semua ucapan wanita muda itu yang sepertinya sulit ia pahami.

"Membantu?" Ulang Audriana bingung.

Tentu saja ia bingung. Kenapa hanya untuk membersihkan diri saja ia perlu dibantu?

Wanita itu menganggukkan kepalanya yang bersanggul kecil di atas tengkuk. "Tuan Jaxton yang meminta saya untuk membantu Nona," sahutnya lagi.

Ah ya. Jaxton-si brengsek-Quinn.

Audriana menggeleng. "Aku tidak perlu bantuanmu. Aku bisa melakukannya sendiri."

Sebenarnya yang ingin ia lakukan saat ini adalah segera pulang, tapi rasanya Audriana tak betah juga dengan badannya yang lengket dan dipenuhi cairan sperma.

Aaah, mengingatnya kembali membuat Audriana meradang. Benar juga, sepertinya ia harus membersihkan tubuhnya dari sisa-sisa cairan menjijikkan itu terlebih dahulu sebelum pulang.

Namun bagaimana mungkin Audriana membiarkan orang lain melihat tubuh polosnya yang dipenuhi kiss mark dan bekas gigitan dari lelaki jahanam itu? Ia akan sangat malu.

Wajah pelayan itu pun tiba-tiba berubah pias. "Tolonglah, Nona. Tuan Jaxton akan sangat murka jika saya tidak mematuhinya," pintanya dengan wajah memelas.

Meskipun enggan, namun pada akhirnya Audriana tidak tega juga menolak permintaan pelayan itu setelah melihat matanya yang mulai berkaca-kaca.

Dasar Jaxton sialan! Iblis tukang perintah! Semoga saja dia tersedak dan mati ketika makan!

Berjuta umpatan dialamatkan Audriana sambil menahan rasa malunya, saat pelayan itu membuka selimut dan membantunya berjalan menuju kamar mandi.

Sengatan panas yang ia rasakan di bagian bawah tubuhnya membuat Audriana meringis dan menggigit bibirnya.

"Maaf, apa saya membuat Nona kesakitan?" Tanya pelayan muda itu cemas.

Audriana menggeleng. "Bukan kamu yang menyakitiku. Tapi Tuanmu."

Pelayan muda itu diam saja, namun ia terus membawa Audriana menuju kamar mandi yang terletak di ujung kamar yang sangat luas ini.

Aaaah!! Kenapa kamar si brengsek ini besar sekali sih??

Audriana merasa merana karena harus berjalan tertatih-tatih sembari menahan sakit di selangkangannya.

Ia pun mendesah lega ketika akhirnya sampai juga ke dalam kamar mandi yang tak kalah luas dan mewah, lalu berendam di dalam air hangat beraroma mawar yang membuatnya rileks.

"Siapa namamu?" Tanya Audriana pada pelayan muda yang sedang memijat kepalanya lembut.

"Nama saya Windi, Nona."

"Panggil saja aku Audriana, Windi. Sepertinya kita seumuran."

Windi menggeleng, meskipun Audriana tidak dapat melihatnya karena posisinya yang duduk di belakang bath tub sambil memijat rambut Audriana, setelah mengolesinya dengan shampo yang harum.

"Maaf, Nona. Saya tidak diperkenankan memanggil nama kepada Nona," terang Windi. "Tuan Jaxton sudah mewanti-wanti kami semua untuk hormat dan melayani Nona Audriana."

Audriana pun sontak mendengus pelan ketika Windi menyebut nama lelaki biadab itu. Hah, merusak suasana saja!

"Tidak perlu seformal itu. Toh aku juga akan segera pergi dari sini," tukas Audriana ringan.

"Pergi?" Ulang Windi bingung. "Memangnya Nona mau kemana?"

"Tentu saja pulang ke rumahku!" Cetus gadis itu tegas. Walaupun sebenarnya bukan rumah juga sih, tapi kamar kos lebih tepatnya.

Dan segera setelah dia pulang, Audriana akan melaporkan perbuatan Jaxton yang telah melecehkannya kepada Polisi!

Tapi sebelumnya ia harus mencari dimana lelaki itu menyimpan tas beserta ponselnya, karena sejak Audriana dibawa secara paksa ke dalam kediaman Jaxton, ia tak bisa menemukan semua benda-benda miliknya lagi.

"Maaf Nona. Tapi sepertinya Anda tidak bisa pulang ke tempat itu lagi. Tuan Jaxton telah mengatakan kepada seluruh penghuni rumah bahwa Nona Audriana akan tinggal di sini, untuk seterusnya."

***

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terkait

  • Let Me Go, Mr. CEO!   3. Miliknya

    Jaxton mematikan sambungan conference meeting setelah ia menutup pertemuan dengan para staf Quinn Entertainment.Saat waktu baru menunjukkan pukul dua belas siang, dimana seharusnya dia masih bekerja di Gedung Quinn Entertainment.Namun ketika pagi tadi seorang gadis dengan wajah secantik boneka dan tubuh yang memukau memasuki ruangannya untuk melakukan interview sebagai Sekretaris Eksekutif, ia pun tak mampu lagi menahan hasratnya.Audriana Camelia.Seulas senyum tipis terukir di bibir pink pucat itu kala mengingat bagaimana sensualnya tubuh perawan yang dimiliki gadis itu.Semuanya masih begitu alami, begitu murni dan mulus kencang serta memikat.Kulit kuning langsat Audriana yang beraroma apel membuat Jaxton tergila-gila, hingga tanpa sadar ia telah menciptakan belasan jejak kemerahan serta gigitan gemas di beberapa tempat di tubuh Audriana."Ah, shit!!!"Jaxton mengutuk reaksi tubuhnya yang langsung panas dan mengeras maksimal ketika otaknya telah dipenuhi bayangan sensual tubuh s

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-14
  • Let Me Go, Mr. CEO!   4. Pengkhianat

    Bagas memijit keningnya yang mulai berdenyut pusing.Sudah sejak tiga jam yang lalu ia berusaha menghubungi Audriana, namun ponsel gadis itu selalu tidak aktif. Dan kini ia sangat khawatir, cemas juga... menyesal. Sangat menyesal.Ya Tuhan. Apa yang ada di dalam pikirannya ketika memutuskan untuk menukar keperawanan kekasihnya sendiri dengan promosi jabatan menjadi Manajer?Dia benar-benar sudah gila!Silau akan jabatan yang sudah diidam-idamkan sejak lama membuat Bagas gelap mata dan memutuskan hal yang tidak akan pernah bisa diterima oleh hati nurani.Sambil mendesah keras, Bagas berdiri dari kursi kerjanya dan memutuskan berjalan menuju bagian pantry untuk menyeduh secangkir teh hangat."Hai, Bagas. Mau ke pantry?" Seorang wanita dengan make up tebal dan rok mini ketat menyapanya sambil tersenyum manis. Namanya Lisa, salah satu staf keuangan sama seperti Bagas."Oh. Hai, Lisa. Ini mau ke pantry bikin teh," sahut Bagas sambil lalu. Pikirannya masih fokus kepada Audriana yang telah

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-14
  • Let Me Go, Mr. CEO!   5. Hasrat

    Audriana menjerit dan meronta-ronta ketika bibir Jaxton merangkum puncak pink dadanya dan menyesap dengan kuat. Sakit. Perih. Karena bagian itu masih belum sembuh dari lecet yang juga disebabkan oleh Jaxton ketika lelaki itu pertama kali menjamahnya. Baju tipis bertali kecil yang ia kenakan kini telah robek terbelah dua, akibat serangan brutal Jaxton yang tidak sabaran untuk bisa menikmati Audriana. Gadis itu sama sekali tidak mengenakan apa pun di balik gaun berwarna putih sebatas paha itu, karena semua baju serta pakaian dalam miliknya telah menghilang entah kemana sejak makhluk buas jahanam yang bernama Jaxton Quinn menelanjanginya. Sementara Windi--pelayan yang tadi membantu Audriana untuk mandi--hanya memberikan sepotong baju sialan ini untuk dikenakan. Kedua tangan Audriana menjambak kuat rambut coklat lebat Jaxton dan menariknya sekuat tenaga agar bibir lelaki itu dapat terlepas dari dada Audriana, namun sayangnya Jaxton sama sekali tidak bergeming. "Aaaahh!" Audriana sem

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-31
  • Let Me Go, Mr. CEO!   6. Hilang

    Seumur hidupnya hingga berusia 24 tahun, Audriana tidak pernah sama sekali terlibat dalam masalah besar. Ia lebih suka hidup yang damai dan nyaman, serta sealalu menjauhkan diri dari pertikaian dan orang-orang yang toxic.Namun entah apa dosanya di masa lalu, hingga kini Audriana telah terjebak di dalam cengkeraman seorang raja iblis dari neraka yang bernama Jaxton Quinn.Yang sejak dua jam yang lalu tak hentinya mengobrak-abrik tubuhnya dengan liar, hingga kesadaran Audriana pun kini sudah mulai berada di ambang batas karena lelah dan menahan sakit. Ruang makan megah ini adalah saksi bagaimana Jaxton tak henti-hentinya terus memompa dirinya ke dalam tubuh Audriana.Setiap hujaman kuat dari tubuh kokoh Jaxton yang dipenuhi otot itu pun ikut membawa rasa nyeri baru yang dahsyat bagi Audriana."Hentikan... tolong... jangan lakukan itu..."Rintihan lirih Audriana itu bukannya membuat Jaxton menghentikan aksi bejatnya, melainkan semakin membuatnya bersemangat untuk memacu tubuh sensual A

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-31
  • Let Me Go, Mr. CEO!   7. Mempertemukan

    Hari pun sudah menjelang malam.Keheningan meliputi hampir di seluruh lantai gedung yang sebagian besar pegawainya telah beranjak pulang menuju ke rumah mereka masing-masing, hanya menyisakan beberapa yang masih lembur di ruang kerja mereka.Namun berbanding terbalik dengan apa yang terjadi di lantai 37, lantai dimana ruang CEO berada. Suara-suara pukulan dan erangan kesakitan terdengar lirih dari balik pintu ruang milik Jaxton Quinn."Berhenti."Perintah dengan nada dingin itu seketika membuat dua orang lelaki berbadan besar berhenti memukuli seorang lelaki dengan wajah serta tubuh yang babak belur."Apa sekarang kau masih ingin bertanya dimana Nona Audriana?"Bagas menatap nyalang kepada Geovan dengan matanya yang bengkak akibat hantaman pengawal berbadan besar."Brengsek kau, Geovan! Audriana adalah kekasihku! Apa hakmu melarangku untuk menjemputnya?!" Geram Bagas dengan sisa-sisa tenaganya.Tawa mengejek Geovan pun terdengar. "KEKASIHMU?? Dasar bodoh! Mr. Jaxton akan membunuhmu s

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-31
  • Let Me Go, Mr. CEO!   8. Menyerah

    Nasib seseorang tidak ada yang tahu, ungkapan ini mungkin sangat tepat untuk menggambarkan bagaimana jalan hidup Audriana saat ini.Kemarin dirinya begitu penuh tekad, ambisi dan harapan, ketika mendatangi gedung perkantoran 37 lantai yang merupakan Gedung Quinn Entertainment.Audriana menaruh begitu banyak asa pada interview hari itu, mengira jalannya untuk bekerja dan menghasilkan uang dimudahkan dengan potong jalur karena koneksi dari Bagas, pacarnya yang juga bekerja sebagai staf keuangan di sana.Namun semua bayangan indah itu pun serta-merta sirna, ketika kakinya melangkah masuk ke dalam ruangan Jaxton Quinn, sang CEO bejat yang telah menjebaknya hingga kini ia pun terperangkap dalam dunia gelap tanpa cahaya ini.Tanpa merasa curiga, Audriana meminum teh hangat yang disuguhkan di hadapannya yang ternyata telah diteteskan obat tidur. Lalu ia pun tak mengetahui apa yang terjadi setelahnya.Saat tersadar dirinya telah berada di atas ranjang tanpa busana apa pun, bersama Jaxton Qui

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-31
  • Let Me Go, Mr. CEO!   9. Penyesalan

    Audriana merasakan tubuhnya seakan melayang. Aroma tajam rempah-rempah bercampur kayu-kayuan yang maskulin, yang sejak kemarin terasa familier ini terus menyapa hidungnya. Tubuhnya yang berayun-ayun bagai berada dalam buaian tak juga membuat kedua matanya yang terpejam itu bergerak membuka. Ia terlalu lelah. Melayani nafsu bejat Jaxton Quinn yang seakan tak ada akhirnya itu, membuat Audriana pada akhirnya bahkan tak mampu menggerakkan kedua pahanya yang gemetar untuk berdiri. Hingga akhirnya makhluk bejat yang telah menggunakan tubuhnya sebagai pelampias nafsu itu pun menggendongnya turun dari dalam mobil sejak di parkiran VIP, menaiki lift khusus CEO untuk menuju ke lantai 37. Setelah berkali-kali menggagahi Audriana di dalam mobil yang melaju di jalan tol hingga puas, akhirnya Jaxton pun memerintahkan supirnya untuk bergerak menuju Gedung Quinn Entertainment. Waktu telah menunjukkan pukul 9 pagi ketika mereka tiba di gedung itu, telah melewati satu setengah jam dari jam

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-01
  • Let Me Go, Mr. CEO!   10. Sekutu

    "Uuhh..." Audriana melengkungkan tubuhnya yang telah polos hanya terbalut keringat. Kedua tangannya yang dibelenggu borgol yang menyatu dengan kepala ranjang, terus bergerak-gerak tak terkendali hingga menimbulkan gesekan luka lecet di pergelangannya. "Aaakkh....!!" Jeritan Audriana yang terdengar sangat merdu di telinga Jaxton itu membuat sudut bibir pink pucatnya tersenyum. Netra hijau cemerlangnya memandangi gadis yang sedang menggelinjang seperti kepanasan di atas ranjang. Sebuah vibrator dengan setelan getaran paling tinggi menancap di dalam lubang sempit Audriana, bergetar dengan suara dengungnya yang erotis. Tentu saja ini semua merupakan ulah bejat Jaxton. Audriana tak berdaya untuk melepas alat bantu seks sialan itu dari bagian bawah tubuhnya, karena kedua tangan dan kakinya terborgol di ranjang merah menyala yang berada di dalam sebuah ruang rahasia. Sudah tiga puluh menit Jaxton hanya diam tegak berdiri di samping ranjang, melihat wanitanya yang cantik itu menggeli

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-01

Bab terbaru

  • Let Me Go, Mr. CEO!   Extra Part 1

    "Maaf, jadi kamu yang menyetir." Geovan berucap seraya menyandarkan tubuhnya dengan lemas di kursi penumpang. Kedua matanya terpejam rapat, napasnya masih pendek-pendek dan keringat dingin membanjiri di sekujur tubuhnya, membuat kemeja hitam yang ia kenakan terasa lengket di kulitnya. Kania yang sedang fokus menyetir pun menoleh ke arah suaminya seraya tersenyum maklum. "Nggak apa-apa. Kamu kan lagi sakit," sahutnya. "Udah, tidur aja dulu. Kepala kamu masih pusing kan? Nanti kalau sudah sampai rumah, aku bangunin deh." Geovan hanya mengangguk pelan, dengan mata yang masih menutup. Bukan hanya kepalanya saja yang pusing, tapi perutnya pun terasa mual seperti diaduk-aduk. Eugh. 'Tadi aku makan apa sih??' keluhnya dalam hati. Rasanya tak ada yang aneh, karena Geovan baru mengisi perutnya dengan sarapan tadi pagi, sebelum ia buru-buru berangkat lebih dulu ke kampus Kania untuk memberikan kejutan pada istrinya. Dan siang ini ia juga belum makan apa pun, karena Audriana yang ma

  • Let Me Go, Mr. CEO!   90. The Ending

    "Baby! Kamu pendarahan!" Suara Jaxton yang terdengar penuh getaran kecemasan pun adalah yang terdengar selanjutnya, tak pelak membuat semua orang menatap ke arah suami istri itu dengan penuh rasa ingin tahu. Tak menunggu lama, lelaki bule bernetra zamrud itu pun segera membopong istrinya. "Tunggu! Aku ikuut!!" Kania berteriak dan menarik tangan suaminya untuk mengekori Jaxton yang terus berlari membawa Audriana di dalam dekapannya. "Minggir!" Desis Jaxton geram ketika beberapa orang mengabadikan momen itu ke dalam ponsel mereka sehingga menghalangi jalan keluar. "Jaxton, tunggu. Pakai helikopterku saja," ucap Geovan tiba-tiba sambil menunjuk ke arah rooftop gedung. Kania pun mendelik ke arah suaminya. Dia saja tadi berangkat ke venue acara dengan bermacet-macetan di jalanan kota Jakarta, sementara suaminya dengan santainya naik helikopter?! Menyebalkan. Jaxton mengangguk, seraya mengutuk dirinya sendiri kenapa tidak berpikiran untuk menggunakan helikopter juga. Akan jauh le

  • Let Me Go, Mr. CEO!   Note (gratis)

    Halo, teman-teman. Author di sini cuma mau menginfokan, bahwa buku ini sebenarnya sudah tamat ya. Namun, aku mau menambahkan beberapa Extra Part di buku ini juga, dan untuk mulai terbit kapan masih belum tahu ya, hehe. Karena aku masih fokus menulis buku baru, The Sexy Stranger (udah baca belum? Btw, untuk kisah Geandra dan Jordan, bukunya sudah ada dan sudah tamat, namun ada di aplikasi lain yang tidak bisa aku bawa ke sini, karena di sana kontrak eksklusif, maaf yaa 🙏🤗 kalau masih mau tanya2, boleh langsung aja DM aku di blackauroranovels ya. Oh iya, judul buku Gea-Jordan adalah : Enemy In Love. Baiklah, terima kasih sudah membaca buku Let Me Go, Mr. CEO, makasih untuk ulasan dan gems-nya juga. Love kalian semua. -Black Aurora-

  • Let Me Go, Mr. CEO!   89. Yang Tak Terduga

    ***LIMA BULAN KEMUDIAN*** Saat ini Kania sedang berada di podium di atas panggung, berdiri dengan penuh percaya diri di depan ribuan peserta wisuda. Sebagai mahasiswi dengan nilai IPK tertinggi, dirinya diminta untuk mewakili Fakultas Psikologi untuk memberikan pidato perpisahan. Manik beningnya menatap ke seluruh penjuru dan memberikan kalimat-kalimat motivasi, sebelum akhirnya ia pun menyudahi pidatonya yang diiringi oleh tepukan riuh dari para peserta wisuda serta keluarga yang mendampingi. "Kamu keren banget!" Seru Audriana dengan wajah yang berseri-seri sembari memeluk Kania hangat. Wanita yang kini kehamilannya telah memasuki tri semester akhir itu pun kemudian kembali duduk bersama Kania di kursi, bersama Jaxton yang berada di sampingnya. Kedatangan suami istri selebriti ini sempat membuat heboh pada awalnya. Bahkan pihak unversitas yang tidak tahu bahwa salah satu mahasiswinya telah mengundang seorang CEO agensi artis beserta istrinya, yang tak kalah tenar dari artisnya

  • Let Me Go, Mr. CEO!   88. Menikah

    Kania terkagum-kagum mengamati bagaimana Geovan dengan aura CEO-nya yang bersinar itu memberikan setiap perintah kepada anak buahnya. Dan gadis itu pun takjub saat mengetahui bahwa persiapan pernikahan 'dadakan' mereka telah siap hanya dalam empat jam! Geovan benar-benar mengerahkan segala sumber dayanya sebagai CEO untuk mewujudkan apa yang ia inginkan dalam waktu yang terbilang sangat singkat, sebuah perayaan yang digelar di rumah milik keluarga Aditya. "Maaf karena cuma bisa memberi pernikahan yang sederhana, Sayang. Aku hanya ingin kita sah sebagai suami istri. Untuk perayaan yang lebih maksimalnya akan diselenggarakan bulan depan. Is that okay?" Suara maskulin Geovan dan belaian lembutnya di puncak kepala Kania membuat gadis itu pun sontak meleleh. Gimana nggak makin jatuh cinta coba? Dan yang dibilang 'sederhana' bagi si sultan blasteran Korea itu saja sudah menghabiskan dana hampir 5 milyar! Meskipun diadakan di rumah, namun tetap saja semuanya begitu mewah. Taman lu

  • Let Me Go, Mr. CEO!   87. Lelah Selalu Mengalah

    "Sakit ya?" tanya suara maskulin yang mengalun lembut itu. Kania menggigit bibirnya kuat-kuat untuk menahan nyeri luar biasa di bagian bawah tubuhnya. Cairan bening yang tumpah di wajahnya sebagai bukti, betapa dirinya berusaha menahan semua kesakitan itu, dan yang juga membuat Geovan tidak tega. "Mau kuhentikan?" Bisik lelaki itu sambil mengecup kedua kelopak mata Kania yang basah. "Tidak, lanjutkan saja. Semua rasa sakit ini adalah hakmu," sahut Kania lembut. Meski sakitnya seperti ada yang memotong tubuhnya menjadi dua dengan pisau, tapi Kania lega karena kini dirinya yang utuh, telah dipersembahkan untuk satu-satunya lelaki yang ia inginkan dan berhak mendapatkannya. Geovan mengecup lembut bibir sewarna jingga itu dengan penuh perasaan cinta, yang serasa tumpah ruah hanya untuk Kania.Meskipun Kania menangis kesakitan, but it feels magical. Penyatuan cinta mereka terasa indah bagi Geovan yang sudah sejak lama mendambanya. Kania yang manis, Kania yang lucu, Kania yang selalu

  • Let Me Go, Mr. CEO!   86. Let's Do It

    Jaxton hanya bisa membuang napas kesal, ketika melihat dua orang yang telah mengganggu hari santai bersama istrinya. Netra zamrud itu menyorot dingin kepada Geovan dan Kania yang malah asik mengunyah camilan ringan, yang sengaja dihidangkan Audriana untuk para tamunya. "Gimana? Enak nggak?" Tanya Audriana yang kali ini memanggang souffle hangat dan lembut yang sangat nikmat untuk dinikmati sebagai hidangan pencuci mulut, karena baik Kania maupun Geovan menolak untuk hidangan berat dengan dalih sudah sarapan. "Inyi enyak bunget," sahut Kania dengan mulut penuh, sambil mengacungkan dua ibu jarinya ke arah Audriana yang tersenyum puas. Kania benar-benar kagum akan kemampuan memasak temannya itu yang semakin hari semakin mengalahkan seorang chef. Sejak dulu memang Kania tahu kalau Audriana menyukai masak-memasak. Apalagi menurut cerita calon ibu itu, sekarang ia berteman baik dengan chef Berlian, salah satu chef kenamaan yang namanya sangat terkenal di Indonesia. Geovan tidak berko

  • Let Me Go, Mr. CEO!   85. Dilema Geovan

    Sejak tadi Kania mencari-cari keberadaan Geovan. Lelaki itu tiba-tiba tak terlihat lagi sejak menemui dokter bersama Ae Ra dan juga ikut ditemani Kania. Kondisi Sagara sudah jauh lebih baik sekarang, berkat penangangan cepat tim dokter terbaik dan karena Geovan yang juga buru-buru membawanya ke rumah sakit. Bahkan sekarang Papanya Geovan itu sudah sadar dan bisa merespon orang-orang di sekitarnya dengan baik. Perkembangan Sagara yang cukup signifikan hanya dalam beberapa jam setelah serangan itu sesungguhnya adalah kabar yang sangat baik. Namun Kania bisa melihat kegelisahan yang tergambar jelas di sorot monolid Geovan, yang sengaja ia tutupi dengan senyum di depan Ae Ra. Kania tersenyum gembira, ketika melihat sosok tampan yang sedang duduk sendirian di bangku kayu yang terletak di halaman rumah sakit. Halaman itu cukup luas dan indah dihiasi beraneka ragam bunga berwarna-warni serta walking track dan beberapa alat olah raga ringan. Dengan sengaja, gadis itu berjalan per

  • Let Me Go, Mr. CEO!   84. Kabar Buruk

    "Kania pernah menjadi pacarku sewaktu di SMA, Ma." Dan Kania pun hanya bisa meringis. Bukan karena perkataan Arka barusan, tapi karena tatapan kagum lelaki itu yang tak lepas dari dirinya. Sontak Kania pun melirik ke arah Ae Ra yang berada tak jauh darinya. Gawat. Kania sampai gemetar, melihat kilatan berbahaya di manik monolid calon mertuanya itu, yang tertuju kepada Arka! "Senangnya bisa bertemu lagi denganmu setelah sekian tahun," ucap Arka lagi, yang membuat Kania kembali menatapnya. "Kamu tambah cantik, Kania," cetusnya seraya tersenyum memandangi wajah manis di depannya. "Makasih, Arka. Kamu terlalu memuji," sahut Kania pelan dengan hati berdebar, karena takut melihat Ae Ra yang semakin kesal dengan interaksi mereka. Haduh, bisa-bisa dirinya yang cantik manis seperti gula lemon kecap frutang sirup ABC ini dipecat jadi mantu! "Sayang sekali kamu nggak ikut reuni SMA tahun kemarin. Oh iya, kamu sudah tahu belum kalau minggu ini sekolah kita mau mengadakan reuni lagi? Giman

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status