Bagas memijit keningnya yang mulai berdenyut pusing.
Sudah sejak tiga jam yang lalu ia berusaha menghubungi Audriana, namun ponsel gadis itu selalu tidak aktif. Dan kini ia sangat khawatir, cemas juga... menyesal. Sangat menyesal. Ya Tuhan. Apa yang ada di dalam pikirannya ketika memutuskan untuk menukar keperawanan kekasihnya sendiri dengan promosi jabatan menjadi Manajer? Dia benar-benar sudah gila! Silau akan jabatan yang sudah diidam-idamkan sejak lama membuat Bagas gelap mata dan memutuskan hal yang tidak akan pernah bisa diterima oleh hati nurani. Sambil mendesah keras, Bagas berdiri dari kursi kerjanya dan memutuskan berjalan menuju bagian pantry untuk menyeduh secangkir teh hangat. "Hai, Bagas. Mau ke pantry?" Seorang wanita dengan make up tebal dan rok mini ketat menyapanya sambil tersenyum manis. Namanya Lisa, salah satu staf keuangan sama seperti Bagas. "Oh. Hai, Lisa. Ini mau ke pantry bikin teh," sahut Bagas sambil lalu. Pikirannya masih fokus kepada Audriana yang telah menghilang terlalu lama bersama Jaxton Quinn. Tiba-tiba ia merasakan sentuhan lembut di lengannya, dan Bagas pun menoleh dan menatap bingung kepada Lisa yang tiba-tiba saja sudah memeluk satu lengannya dengan manja. Kedua buah dada montok dan padat wanita itu terasa menyenggol lengan kekarnya, membuat Bagas kaget dan salah tingkah. Dengan rikuh, perlahan ia pun melepaskan tangannya dari Lisa. "Kebetulan aku juga mau menghangatkan makan siang di microwave. Boleh bareng?" Lisa kembali memamerkan senyumnya yang manis kepada Bagas. "Ya, tentu saja boleh," sahut Bagas ringan, yang langsung membuat Lisa berbunga-bunga. Pantry kantor ini memiliki fasilitas yang cukup lengkap. Selain mesin kopi instan, tersedia juga microwave dan dispenser air dingin dan hangat. Juga disediakan piring-piring serta gelas yang bisa digunakan para karyawan yang membawa bekal dari rumah. Kursi-kursi empuk ditata mengelilingi meja bundar berukuran sedang. Bagas duduk di salah satu kursi setelah untuk menyesap teh hangat yang baru saja ia seduh sendiri, sambil terus terpaku pada layar ponsel yang ia pegang. Resah terus mendera pikirannya karena hingga waktu makan siang, Audriana masih belum ada kabar beritanya. Gadis itu memasuki ruang CEO sejak pukul tujuh pagi, dengan diantarkan oleh Bagas sendiri. Dan sejak itu pula, Audriana tidak terlihat lagi. Apa Mr. Jaxton memperlakukan kekasihnya itu dengan kasar? Apa Audriana... sudah memberikan kepewaranannya kepada CEO itu?? Bagas menelan salivanya yang mendadak terasa pahit. Serbuan rasa bersalah pun kembali bertubi-tubi menyerangnya rasa kemanusiaannya. "Maafkan aku, Audriana..." tanpa sadar ia pun mengguman sambil melamun. "Hah?" Bagas tersadar dari lamunannya saat sepiring steak tiba-tiba tersaji di depannya. "Ini untuk kamu. Sekarang kan waktunya makan siang, tapi aku lihat kok cuma ada teh di meja kamu," cetus Lisa yang tersenyum geli dan menempati kursi di sampingnya. "Oh, thanks Lisa. Tapi ini kan bekal makan siang kamu?" Tanya Bagas. "Aku bawa dua kok. Ehm... kebetulan, aku memang sudah lama ingin mengajak kamu makan siang. Tapi selama ini aku lihat kamu jarang banget keluar di jam istirahat. Dan sekalinya keluar, pasti dijemput sama cewek," tukas Lisa panjang lebar. "Pacar kamu ya?" Bagas mengangguk, lalu kembali melirik layar ponselnya yang telah gelap. "Iya, dia pacar aku," sahutnya lesu. 'Pacar yang telah aku jerumuskan ke dalam lembah nista hanya demi promosi sialan itu', pikir Bagas pahit. "Ooh, pantesan kalian mesra banget. Aku sampai iri, lho," balas Lisa dengan senyum yang tak pernah lepas terkulum di bibir berperona merah menyala miliknya. Bagas hanya memberikan senyum sopan kepada Lisa yang ia rasa semakin aneh, karena tiba-tiba saja tangan berjemari lentik itu sudah mengusap-usap lengannya yang terbalut kemeja hitam. "Lisa, sorry. Ini nggak enak kalau sampai dilihat pekerja lain." Bagas pun kemudian menarik tangan Lisa dari lengannya. "Jadi kalau nggak ada yang lihat, boleh dong?" Ucap Lisa sambil mengerling genit. Tangannya itu pun kini dengan nakal bergerilya di bawah meja, mengelus-elus paha Bagas dari balik balik celana panjang chinos-nya. Bagas merasakan darahnya berdesir hebat karena jemari lentik Lisa yang sengaja menyenggol bagian sensitifnya. Bagaimana pun Bagas adalah lelaki muda yang berorientasi normal, rayuan agresif seperti yang dilakukan Lisa membuat hasratnya seketika melambung tinggi dan ingin sekali meladeni wanita itu--jika saja dia belum memiliki Audriana. "Kayaknya aku harus kembali ke meja," cetusnya dingin sembari menyingkirkan tangan Lisa dari pahanya, dan bergegas berdiri. "Duluan, Lis," ucapnya sambil bergegas keluar dari pantry dengan terburu-buru. Sementara itu, Lisa hanya tertawa kecil mendapati penolakan Bagas yang terlihat lucu sekali di matanya. "Sudah lama aku naksir sama kamu, Bagaskara," gumannya sembari tersenyum dan memandangi lekat punggung lelaki itu. 'Dan sikap kamu yang dingin itu membuat aku semakin gemas. Tak sabar untuk merasakan bermain di ranjang bersama kamu', batin Lisa dalam hati dengan menggigit bibirnya membayangkan momen erotis bersama Bagaskara. *** Audriana dikawal oleh dua orang bodyguard berbadan besar ketika keluar dari kamarnya menuju ruang makan yang sangat mewah. Ada banyak kursi-kursi yang berjejer berukiran rumit berwarna putih-emas, serta meja panjang yang terbuat dari granit. Chandelier kristal berkilau berwarna kuning redup terlihat menggantung di langit-langit yang tinggi, menebarkan suasana yang terasa hangat. Namun hal itu sama sekali tidak berlaku bagi Audriana. Semua kemegahan di kediaman mewah Jaxton Quinn sama sekali tidak membuatnya tertarik, kecuali mungkin jika seluruh properti ini hangus terbakar dalam kobaran api. "Kalian boleh pergi," ucap Jaxton kepada dua orang bodyguard yang mengawal Audriana. Setelah memberikan hormat kepada Tuannya, kedua lelaki bertubuh besar itu pun akhirnya keluar dari ruang makan dan tak lupa menutup pintu ganda sebagai akses masuk, seakan ingin memberikan privasi kepada Jaxton dan wanitanya. Audriana berdiri di samping Jaxton yang telah lebih dulu duduk menunggunya di meja makan. Lelaki itu hanya mengenakan bath robe hitam berbahan beludru yang sedikit tersingkap di bagian dada, memperlihatkan kulit liat penuh otot bidang di sana. Netra hijau zamrud lelaki itu terlihat bersinar-sinar memandangi Audriana yang mengenakan gaun tidur tipis berwarna putih, yang menampakkan bahu mulus kuning langsat serta paha jenjang yang cantik. "Warna putih sangat cocok untukmu," ucap Jaxton menyimpulkan ketika ia memandangi Audriana dari atas ke bawah dengan pandangan menilai. Kilatan gelora ikut terpantul jelas dalam sorot matanya yang tak lepas menatap gadis bersurai legam sepinggang itu. "Kemarilah, kelinci kecilku," panggil Jaxton sembari mengulurkan tangan kirinya kepada Audriana. Satu sudut bibir pink pucat Jaxton melekuk naik ke atas, ketika melihat bagaimana kelinci kecilnya itu terlihat patuh pada perintahnya. Meski dengan wajah yang terlihat enggan, Audriana mengayunkan kakinya mendekati Jaxton untuk berdiri dengan jarak selangkah dari kursi dimana lelaki itu berada. Ia sadar kalau tidak ada gunanya melawan. Gadis itu sedang memainkan peran berpura-pura menjadi penurut, sambil mencari celah untuk melarikan diri dari penjara megah ini. "Aaaahkkk!!" Audriana memekik kaget ketika Jaxton tiba-tiba menarik keras pergelangan tangannya hingga membuat tubuh mungil gadis itu terjatuh tepat di atas pangkuan lelaki itu. Jaxton pun memerangkapnya hingga tak berkutik dan tak bisa bergerak. "Tuan Jaxton, tolong lepaskan saya!" geramnya kesal. "Temani aku makan siang, kelinci kecil," guman Jaxton yang kini telah menyusupkan hidungnya yang mancung ke dalam helai-helai lembut rambut Audriana yang menguarkan aroma apel. "Ayo kita makan bersama. Aku yang akan menyuapimu." Jaxton menyesap ceruk leher Audriana yang membuatnya gemas, sebelum satu tangannya melepas tubuh menawan itu untuk meraih garpu. "Jangan pernah berani beranjak dari pangkuanku, kelinci kecil. Atau aku akan menidurimu di atas meja makan ini sekarang juga," ancamnya dalam suara geraman rendah yang membuat bulu kuduk Audriana meremang. Audriana pun memutuskan untuk kembali menjadi penurut, ketika Jaxton menyuapkan sepotong kecil steak yang ditusuk garpu ke depan bibirnya. Ia memakan semua yang disodorkan Jaxton tanpa protes sama sekali, hingga akhirnya sepiring steak beserta semangkuk salad telah habis tak bersisa. Raut penuh kepuasan terlukis di wajah blasteran Jaxton yang rupawan, bahkan seulas senyum pun ikut tersemat di bibirnya kala melihat Audriana yang menghabiskan semua makanan yang ia beri. "Kau benar-benar telah membuatku senang hari ini," ungkap Jaxton ketika Audriana telah menghabiskan segelas air putih. "Katakan apa pun permintaanmu, kelinci kecil. Aku akan mengabulkannya. Asalkan bukan permintaan untuk pergi dari rumah ini, semuanya akan kuberikan." Audriana pun tercenung mendengarnya. Apakah si Jaxton-brengsek-Quinn ini mengira dia adalah wanita simpanan yang memberikan kepuasan di ranjang sebagai bayaran untuk kehidupan mewah?! "Aku bukan wanita seperti itu," sahut Audriana datar. Jaxton terkekeh kecil mendengar nada arogansi yang terdengar dari ucapan Audriana. Sembari memain-mainkan rambut panjang gadis itu, Jaxton pun berucap, "mungkin kau dulu bukan wanita seperti itu, Audriana Camelia. Tapi sekarang kau sudah menjadi wanita penghangat ranjangku." Lalu dengan tiba-tiba, Jaxton mengangkat tubuh mungil berlekuk indah itu ke atas meja makan. "Makan siangmu sudah selesai, kelinci kecil. Dan sekarang giliranku untuk menyantap dirimu." Suara-suara piring serta alat makan yang jatuh dan pecah berhamburan di atas lantai begitu memekakkan telinga, namun Jaxton tetap tak peduli. Ia menyingkirkan semua yang tergeletak di atas meja makan, lalu merebahkan tubuh Audriana di sana. "Kau akan menjadi makan siang terlezat yang pernah kucicipi, baby," bisiknya sebelum merobek kasar gaun putih Audriana dan mengulum rakus dua bulatan sempurna dengan puncak merah mudanya yang menggairahkan itu. ***Audriana menjerit dan meronta-ronta ketika bibir Jaxton merangkum puncak pink dadanya dan menyesap dengan kuat. Sakit. Perih. Karena bagian itu masih belum sembuh dari lecet yang juga disebabkan oleh Jaxton ketika lelaki itu pertama kali menjamahnya. Baju tipis bertali kecil yang ia kenakan kini telah robek terbelah dua, akibat serangan brutal Jaxton yang tidak sabaran untuk bisa menikmati Audriana. Gadis itu sama sekali tidak mengenakan apa pun di balik gaun berwarna putih sebatas paha itu, karena semua baju serta pakaian dalam miliknya telah menghilang entah kemana sejak makhluk buas jahanam yang bernama Jaxton Quinn menelanjanginya. Sementara Windi--pelayan yang tadi membantu Audriana untuk mandi--hanya memberikan sepotong baju sialan ini untuk dikenakan. Kedua tangan Audriana menjambak kuat rambut coklat lebat Jaxton dan menariknya sekuat tenaga agar bibir lelaki itu dapat terlepas dari dada Audriana, namun sayangnya Jaxton sama sekali tidak bergeming. "Aaaahh!" Audriana sem
Seumur hidupnya hingga berusia 24 tahun, Audriana tidak pernah sama sekali terlibat dalam masalah besar. Ia lebih suka hidup yang damai dan nyaman, serta sealalu menjauhkan diri dari pertikaian dan orang-orang yang toxic.Namun entah apa dosanya di masa lalu, hingga kini Audriana telah terjebak di dalam cengkeraman seorang raja iblis dari neraka yang bernama Jaxton Quinn.Yang sejak dua jam yang lalu tak hentinya mengobrak-abrik tubuhnya dengan liar, hingga kesadaran Audriana pun kini sudah mulai berada di ambang batas karena lelah dan menahan sakit. Ruang makan megah ini adalah saksi bagaimana Jaxton tak henti-hentinya terus memompa dirinya ke dalam tubuh Audriana.Setiap hujaman kuat dari tubuh kokoh Jaxton yang dipenuhi otot itu pun ikut membawa rasa nyeri baru yang dahsyat bagi Audriana."Hentikan... tolong... jangan lakukan itu..."Rintihan lirih Audriana itu bukannya membuat Jaxton menghentikan aksi bejatnya, melainkan semakin membuatnya bersemangat untuk memacu tubuh sensual A
Hari pun sudah menjelang malam.Keheningan meliputi hampir di seluruh lantai gedung yang sebagian besar pegawainya telah beranjak pulang menuju ke rumah mereka masing-masing, hanya menyisakan beberapa yang masih lembur di ruang kerja mereka.Namun berbanding terbalik dengan apa yang terjadi di lantai 37, lantai dimana ruang CEO berada. Suara-suara pukulan dan erangan kesakitan terdengar lirih dari balik pintu ruang milik Jaxton Quinn."Berhenti."Perintah dengan nada dingin itu seketika membuat dua orang lelaki berbadan besar berhenti memukuli seorang lelaki dengan wajah serta tubuh yang babak belur."Apa sekarang kau masih ingin bertanya dimana Nona Audriana?"Bagas menatap nyalang kepada Geovan dengan matanya yang bengkak akibat hantaman pengawal berbadan besar."Brengsek kau, Geovan! Audriana adalah kekasihku! Apa hakmu melarangku untuk menjemputnya?!" Geram Bagas dengan sisa-sisa tenaganya.Tawa mengejek Geovan pun terdengar. "KEKASIHMU?? Dasar bodoh! Mr. Jaxton akan membunuhmu s
Nasib seseorang tidak ada yang tahu, ungkapan ini mungkin sangat tepat untuk menggambarkan bagaimana jalan hidup Audriana saat ini.Kemarin dirinya begitu penuh tekad, ambisi dan harapan, ketika mendatangi gedung perkantoran 37 lantai yang merupakan Gedung Quinn Entertainment.Audriana menaruh begitu banyak asa pada interview hari itu, mengira jalannya untuk bekerja dan menghasilkan uang dimudahkan dengan potong jalur karena koneksi dari Bagas, pacarnya yang juga bekerja sebagai staf keuangan di sana.Namun semua bayangan indah itu pun serta-merta sirna, ketika kakinya melangkah masuk ke dalam ruangan Jaxton Quinn, sang CEO bejat yang telah menjebaknya hingga kini ia pun terperangkap dalam dunia gelap tanpa cahaya ini.Tanpa merasa curiga, Audriana meminum teh hangat yang disuguhkan di hadapannya yang ternyata telah diteteskan obat tidur. Lalu ia pun tak mengetahui apa yang terjadi setelahnya.Saat tersadar dirinya telah berada di atas ranjang tanpa busana apa pun, bersama Jaxton Qui
Audriana merasakan tubuhnya seakan melayang. Aroma tajam rempah-rempah bercampur kayu-kayuan yang maskulin, yang sejak kemarin terasa familier ini terus menyapa hidungnya. Tubuhnya yang berayun-ayun bagai berada dalam buaian tak juga membuat kedua matanya yang terpejam itu bergerak membuka. Ia terlalu lelah. Melayani nafsu bejat Jaxton Quinn yang seakan tak ada akhirnya itu, membuat Audriana pada akhirnya bahkan tak mampu menggerakkan kedua pahanya yang gemetar untuk berdiri. Hingga akhirnya makhluk bejat yang telah menggunakan tubuhnya sebagai pelampias nafsu itu pun menggendongnya turun dari dalam mobil sejak di parkiran VIP, menaiki lift khusus CEO untuk menuju ke lantai 37. Setelah berkali-kali menggagahi Audriana di dalam mobil yang melaju di jalan tol hingga puas, akhirnya Jaxton pun memerintahkan supirnya untuk bergerak menuju Gedung Quinn Entertainment. Waktu telah menunjukkan pukul 9 pagi ketika mereka tiba di gedung itu, telah melewati satu setengah jam dari jam
"Uuhh..." Audriana melengkungkan tubuhnya yang telah polos hanya terbalut keringat. Kedua tangannya yang dibelenggu borgol yang menyatu dengan kepala ranjang, terus bergerak-gerak tak terkendali hingga menimbulkan gesekan luka lecet di pergelangannya. "Aaakkh....!!" Jeritan Audriana yang terdengar sangat merdu di telinga Jaxton itu membuat sudut bibir pink pucatnya tersenyum. Netra hijau cemerlangnya memandangi gadis yang sedang menggelinjang seperti kepanasan di atas ranjang. Sebuah vibrator dengan setelan getaran paling tinggi menancap di dalam lubang sempit Audriana, bergetar dengan suara dengungnya yang erotis. Tentu saja ini semua merupakan ulah bejat Jaxton. Audriana tak berdaya untuk melepas alat bantu seks sialan itu dari bagian bawah tubuhnya, karena kedua tangan dan kakinya terborgol di ranjang merah menyala yang berada di dalam sebuah ruang rahasia. Sudah tiga puluh menit Jaxton hanya diam tegak berdiri di samping ranjang, melihat wanitanya yang cantik itu menggeli
Sinar matahari yang menembus dari sela-sela daun yang berayun ringan ditiup angin, membuat gadis yang terlelap itu akhirnya membuka kedua matanya. Silau sekali. Audriana mengernyit dan menadahkan tangannya di kepala, berusaha menghalau cahaya kemilau keemasan yang sejenak membuat pandangannya mengabur. Namun beberapa detik kemudian, manik bening beriris hitam itu pun seketika membelalak sempurna. "Dimana ini?" gumannya, ketika maniknya menatap sejauh pandang dan hanya menemukan pantai dengan pasirnya yang seputih mutiara serta air laut yang biru jernih. Jejeran nyiur yang terlihat kontras namun berdiri tegak di pinggir pantai, membuat suasana teduh meskipun matahari sedang bersinar terik. Suara deburan ombak yang bergulung dan pecah di atas pasir seakan mampu memberikan kedamaian serta ketenangan bagi siapa pun yang mendengarnya. Sejenak Audriana begitu takjub dengan lukisan alam yang membuatnya terpukau. Sudah lama sekali ia tidak berlibur ke pantai, namun baru sekali ini ia
Dengan satu tangan yang berada di belakang kepala Audriana, Jaxton memagut bibir manis itu dengan penuh gairah. Lidahnya yang basah dan hangat terus mengembara, menyapu seluruh isi mulut Audriana tanpa melewatkan setitik pun. Sementara satu tangannya yang lain tak berhenti bergerilya di pusat inti gairah Audriana yang lembut. Awalnya hanya untuk mengusap-usap secara perlahan, namun kemudian jari telunjuknya dengan nakal menyusuri lipatan labia Audriana dengan gerakan naik-turun yang seduktif, menghantarkan gelenyar-gelenyar aneh serta sensasi yang membuat gadis itu merinding. Lagi-lagi Jaxton membuat Audriana kehabisan pasokan oksigen yang dibutuhkan oleh paru-parunya. Ganasnya kecupan lelaki itu membuat Audriana megap-megap kehabisan napas. "Ummpp... mmpph!!" Audriana berusaha melepaskan bibirnya dari terkaman Jaxton yang sebuas hewan liar, namun lelaki itu selalu saja tak memperdulikan dirinya yang sudah hampir pingsan. Kunang-kunang mulai beterbangan di kepalanya yang mu
"Maaf, jadi kamu yang menyetir." Geovan berucap seraya menyandarkan tubuhnya dengan lemas di kursi penumpang. Kedua matanya terpejam rapat, napasnya masih pendek-pendek dan keringat dingin membanjiri di sekujur tubuhnya, membuat kemeja hitam yang ia kenakan terasa lengket di kulitnya. Kania yang sedang fokus menyetir pun menoleh ke arah suaminya seraya tersenyum maklum. "Nggak apa-apa. Kamu kan lagi sakit," sahutnya. "Udah, tidur aja dulu. Kepala kamu masih pusing kan? Nanti kalau sudah sampai rumah, aku bangunin deh." Geovan hanya mengangguk pelan, dengan mata yang masih menutup. Bukan hanya kepalanya saja yang pusing, tapi perutnya pun terasa mual seperti diaduk-aduk. Eugh. 'Tadi aku makan apa sih??' keluhnya dalam hati. Rasanya tak ada yang aneh, karena Geovan baru mengisi perutnya dengan sarapan tadi pagi, sebelum ia buru-buru berangkat lebih dulu ke kampus Kania untuk memberikan kejutan pada istrinya. Dan siang ini ia juga belum makan apa pun, karena Audriana yang ma
"Baby! Kamu pendarahan!" Suara Jaxton yang terdengar penuh getaran kecemasan pun adalah yang terdengar selanjutnya, tak pelak membuat semua orang menatap ke arah suami istri itu dengan penuh rasa ingin tahu. Tak menunggu lama, lelaki bule bernetra zamrud itu pun segera membopong istrinya. "Tunggu! Aku ikuut!!" Kania berteriak dan menarik tangan suaminya untuk mengekori Jaxton yang terus berlari membawa Audriana di dalam dekapannya. "Minggir!" Desis Jaxton geram ketika beberapa orang mengabadikan momen itu ke dalam ponsel mereka sehingga menghalangi jalan keluar. "Jaxton, tunggu. Pakai helikopterku saja," ucap Geovan tiba-tiba sambil menunjuk ke arah rooftop gedung. Kania pun mendelik ke arah suaminya. Dia saja tadi berangkat ke venue acara dengan bermacet-macetan di jalanan kota Jakarta, sementara suaminya dengan santainya naik helikopter?! Menyebalkan. Jaxton mengangguk, seraya mengutuk dirinya sendiri kenapa tidak berpikiran untuk menggunakan helikopter juga. Akan jauh le
Halo, teman-teman. Author di sini cuma mau menginfokan, bahwa buku ini sebenarnya sudah tamat ya. Namun, aku mau menambahkan beberapa Extra Part di buku ini juga, dan untuk mulai terbit kapan masih belum tahu ya, hehe. Karena aku masih fokus menulis buku baru, The Sexy Stranger (udah baca belum? Btw, untuk kisah Geandra dan Jordan, bukunya sudah ada dan sudah tamat, namun ada di aplikasi lain yang tidak bisa aku bawa ke sini, karena di sana kontrak eksklusif, maaf yaa 🙏🤗 kalau masih mau tanya2, boleh langsung aja DM aku di blackauroranovels ya. Oh iya, judul buku Gea-Jordan adalah : Enemy In Love. Baiklah, terima kasih sudah membaca buku Let Me Go, Mr. CEO, makasih untuk ulasan dan gems-nya juga. Love kalian semua. -Black Aurora-
***LIMA BULAN KEMUDIAN*** Saat ini Kania sedang berada di podium di atas panggung, berdiri dengan penuh percaya diri di depan ribuan peserta wisuda. Sebagai mahasiswi dengan nilai IPK tertinggi, dirinya diminta untuk mewakili Fakultas Psikologi untuk memberikan pidato perpisahan. Manik beningnya menatap ke seluruh penjuru dan memberikan kalimat-kalimat motivasi, sebelum akhirnya ia pun menyudahi pidatonya yang diiringi oleh tepukan riuh dari para peserta wisuda serta keluarga yang mendampingi. "Kamu keren banget!" Seru Audriana dengan wajah yang berseri-seri sembari memeluk Kania hangat. Wanita yang kini kehamilannya telah memasuki tri semester akhir itu pun kemudian kembali duduk bersama Kania di kursi, bersama Jaxton yang berada di sampingnya. Kedatangan suami istri selebriti ini sempat membuat heboh pada awalnya. Bahkan pihak unversitas yang tidak tahu bahwa salah satu mahasiswinya telah mengundang seorang CEO agensi artis beserta istrinya, yang tak kalah tenar dari artisnya
Kania terkagum-kagum mengamati bagaimana Geovan dengan aura CEO-nya yang bersinar itu memberikan setiap perintah kepada anak buahnya. Dan gadis itu pun takjub saat mengetahui bahwa persiapan pernikahan 'dadakan' mereka telah siap hanya dalam empat jam! Geovan benar-benar mengerahkan segala sumber dayanya sebagai CEO untuk mewujudkan apa yang ia inginkan dalam waktu yang terbilang sangat singkat, sebuah perayaan yang digelar di rumah milik keluarga Aditya. "Maaf karena cuma bisa memberi pernikahan yang sederhana, Sayang. Aku hanya ingin kita sah sebagai suami istri. Untuk perayaan yang lebih maksimalnya akan diselenggarakan bulan depan. Is that okay?" Suara maskulin Geovan dan belaian lembutnya di puncak kepala Kania membuat gadis itu pun sontak meleleh. Gimana nggak makin jatuh cinta coba? Dan yang dibilang 'sederhana' bagi si sultan blasteran Korea itu saja sudah menghabiskan dana hampir 5 milyar! Meskipun diadakan di rumah, namun tetap saja semuanya begitu mewah. Taman lu
"Sakit ya?" tanya suara maskulin yang mengalun lembut itu. Kania menggigit bibirnya kuat-kuat untuk menahan nyeri luar biasa di bagian bawah tubuhnya. Cairan bening yang tumpah di wajahnya sebagai bukti, betapa dirinya berusaha menahan semua kesakitan itu, dan yang juga membuat Geovan tidak tega. "Mau kuhentikan?" Bisik lelaki itu sambil mengecup kedua kelopak mata Kania yang basah. "Tidak, lanjutkan saja. Semua rasa sakit ini adalah hakmu," sahut Kania lembut. Meski sakitnya seperti ada yang memotong tubuhnya menjadi dua dengan pisau, tapi Kania lega karena kini dirinya yang utuh, telah dipersembahkan untuk satu-satunya lelaki yang ia inginkan dan berhak mendapatkannya. Geovan mengecup lembut bibir sewarna jingga itu dengan penuh perasaan cinta, yang serasa tumpah ruah hanya untuk Kania.Meskipun Kania menangis kesakitan, but it feels magical. Penyatuan cinta mereka terasa indah bagi Geovan yang sudah sejak lama mendambanya. Kania yang manis, Kania yang lucu, Kania yang selalu
Jaxton hanya bisa membuang napas kesal, ketika melihat dua orang yang telah mengganggu hari santai bersama istrinya. Netra zamrud itu menyorot dingin kepada Geovan dan Kania yang malah asik mengunyah camilan ringan, yang sengaja dihidangkan Audriana untuk para tamunya. "Gimana? Enak nggak?" Tanya Audriana yang kali ini memanggang souffle hangat dan lembut yang sangat nikmat untuk dinikmati sebagai hidangan pencuci mulut, karena baik Kania maupun Geovan menolak untuk hidangan berat dengan dalih sudah sarapan. "Inyi enyak bunget," sahut Kania dengan mulut penuh, sambil mengacungkan dua ibu jarinya ke arah Audriana yang tersenyum puas. Kania benar-benar kagum akan kemampuan memasak temannya itu yang semakin hari semakin mengalahkan seorang chef. Sejak dulu memang Kania tahu kalau Audriana menyukai masak-memasak. Apalagi menurut cerita calon ibu itu, sekarang ia berteman baik dengan chef Berlian, salah satu chef kenamaan yang namanya sangat terkenal di Indonesia. Geovan tidak berko
Sejak tadi Kania mencari-cari keberadaan Geovan. Lelaki itu tiba-tiba tak terlihat lagi sejak menemui dokter bersama Ae Ra dan juga ikut ditemani Kania. Kondisi Sagara sudah jauh lebih baik sekarang, berkat penangangan cepat tim dokter terbaik dan karena Geovan yang juga buru-buru membawanya ke rumah sakit. Bahkan sekarang Papanya Geovan itu sudah sadar dan bisa merespon orang-orang di sekitarnya dengan baik. Perkembangan Sagara yang cukup signifikan hanya dalam beberapa jam setelah serangan itu sesungguhnya adalah kabar yang sangat baik. Namun Kania bisa melihat kegelisahan yang tergambar jelas di sorot monolid Geovan, yang sengaja ia tutupi dengan senyum di depan Ae Ra. Kania tersenyum gembira, ketika melihat sosok tampan yang sedang duduk sendirian di bangku kayu yang terletak di halaman rumah sakit. Halaman itu cukup luas dan indah dihiasi beraneka ragam bunga berwarna-warni serta walking track dan beberapa alat olah raga ringan. Dengan sengaja, gadis itu berjalan per
"Kania pernah menjadi pacarku sewaktu di SMA, Ma." Dan Kania pun hanya bisa meringis. Bukan karena perkataan Arka barusan, tapi karena tatapan kagum lelaki itu yang tak lepas dari dirinya. Sontak Kania pun melirik ke arah Ae Ra yang berada tak jauh darinya. Gawat. Kania sampai gemetar, melihat kilatan berbahaya di manik monolid calon mertuanya itu, yang tertuju kepada Arka! "Senangnya bisa bertemu lagi denganmu setelah sekian tahun," ucap Arka lagi, yang membuat Kania kembali menatapnya. "Kamu tambah cantik, Kania," cetusnya seraya tersenyum memandangi wajah manis di depannya. "Makasih, Arka. Kamu terlalu memuji," sahut Kania pelan dengan hati berdebar, karena takut melihat Ae Ra yang semakin kesal dengan interaksi mereka. Haduh, bisa-bisa dirinya yang cantik manis seperti gula lemon kecap frutang sirup ABC ini dipecat jadi mantu! "Sayang sekali kamu nggak ikut reuni SMA tahun kemarin. Oh iya, kamu sudah tahu belum kalau minggu ini sekolah kita mau mengadakan reuni lagi? Giman