"Sampai kapan kamu akan mengencani seorang lelaki yang nggak nyata?" ucap Anna.
Mendengar sahabatnya bicara, Azura memilih untuk tidak menjawab. Azura tahu kalau pembahasan ini hanya akan memicu perdebatan panjang. Meski begitu, Anna tetap belum puas membicarakan lelaki yang hanya datang di dalam mimpi. "Setampan apa dia?" tanya Anna. "Sampai-sampai kamu hilang ketertarikan dengan lelaki yang selama ini ada di sekitarmu." Azura tertawa selama beberapa detik. "Jauh lebih tampan dari semua lelaki yang pernah kita lihat." "Dan kamu jatuh cinta hanya karena dia tampan?" "Bukan cuma itu," sanggah Azura. "Dia manis, dia sangat mengerti aku, dan ... he's so fucking hot." "Tapi dia nggak nyata, Ra." "Well, buatku dia terasa nyata." "Oh, c'mon, Ra. Kita berdua sama-sama tahu kalau dia nggak ada di dunia ini." Azura yang semula sudah menutup dokumen kerjanya, kini memilih untuk membukanya lagi. Tak lupa, dia juga berpura-pura sibuk dengan sederet tulisan. Azura sudah bosan mendengar ceramah dari Anna tentang hal yang itu itu saja. "Wake up, gurl! Kita hidup di dunia nyata, bukan di dunia mimpi." Anna menarik paksa lembaran kertas dari tangan Azura. Azura hanya bisa tersenyum dengan wajah menerawang ke langit-langit ruangan. "Dia bisa kulihat, bisa kusentuh, bisa kupeluk, jadi kurang nyata apa lagi?" "Kamu nggak bisa bertemu dengannya." "Bisa," pungkas Azura. "Bahkan hampir setiap malam aku bertemu dengannya." "Tapi kamu nggak akan bisa benar-benar 'bertemu' dengannya," ucap Anna seraya menekankan kata 'bertemu'. "Bisa, An." "Nggak bisa, Ra." "Bisa," tegas Azura lagi. "Bahkan, hanya cukup dengan menutup mata." Anna mendesahkan napas panjang. "Kamu semakin nggak waras." Mimpi tentang lelaki itu sudah Azura alami sejak usianya 19 tahun. Azura tidak benar-benar tahu siapa nama lelaki itu. Namun, Azura memanggilnya dengan sebutan 'Mars'. Mungkin semua orang akan menganggap hal ini sebagai suatu kemustahilan. Namun, nyatanya, Azura memang mendapatkan mimpi yang serupa selama bertahun-tahun. Adegannya tidak selalu sama, tapi orang yang menjadi karakter utama akan selalu sama. Bahkan, karena terlalu sering memimpikan lelaki itu, Azura sampai jatuh cinta kepadanya, kepada lelaki yang bahkan tidak ada di dunia nyata. Mungkin ini gila, tapi Azura sempat menganggap Mars sebagai kekasihnya. Dia tampan, hangat, dan mampu memenuhi syarat sebagai tipe lelaki idaman. Kalau boleh dibilang, sosok Mars benar-benar mendekati kata sempurna. Sekali lagi, semua ini memang hanya mimpi. Namun, jujur saja Azura begitu menikmati setiap episodenya. Bahkan, entah mengapa Azura seperti memiliki ikatan tersendiri dengan Mars yang sebenarnya tidak pernah ada. Dia bukan kekasih khayalan, tapi sebutlah dia sebagai kekasih ... impian? Atau boleh juga disebut sebagai kekasih dambaan. Sebab, diam-diam Azura selalu mendambakan untuk memiliki pasangan seperti Mars. "Udah, sekarang mending kamu pikirkan apa yang mau kita tulis di rubrik baru kita. Gara-gara kamu bahas Skotlandia, Pak Pemred jadi nyuruh kita buat artikel tentang Skotlandia. Kita mau nulis apa coba?" ucap Anna panjang lebar. "Tinggal tulis aja tentang tempat-tempat yang menarik di sana," jawab Azura. "Tapi kita tahu apa soal Skotlandia?" tanya Anna. "Kamu juga salah, Ra. Ngaku-ngaku pernah pergi kesana." "Memang pernah." Anna menoleh cepat. "Kapan?" "Hampir setiap malam," jawab Azura enteng. Kedua mata Anna sontak berputar. Meski tidak menjelaskan, Anna sudah tahu kalau hal yang Azura maksud adalah tentang mimpi-mimpinya dengan Mars. Azura memang tidak jarang mengalami mimpi dengan latar negara konstituen Britania Raya itu. "Semalam, aku diajak jalan-jalan menyusuri pantai di Portobello," terang Azura. "Ok, lalu?" "It's so unreal. Kamu harus tahu betapa indah deretan bangunan seperti istana yang berjejer di tepian pantai." "Itu memang unreal," balas Anna. "Itu real. Tempat itu memang ada, An." "Iya, memang ada. Tapi cerita kalau kamu ada di sana itu sebenarnya nggak real." Azura terkekeh. "Tapi sensasinya seperti real." Anna hanya menggeleng. Sudah terlalu sering dia mendengarkan cerita tentang, Mars, Edinburgh, dan beberapa tempat lain di Skotlandia. Meski sebenarnya kisah yang Azura ceritakan itu indah, tapi Anna tak mau terlalu menanggapi. Takut, jika saja nanti Azura menjadi semakin gila. "Beberapa waktu lalu, Mars juga mengajakku ke sebuah rumah tua," lanjut Azura. "Lalu kalian bercinta?" tebak Anna. Azura tidak bisa tidak tertawa. "Sayangnya nggak." "What?" Kedua mata Anna membelalak. "Jadi kamu berharap bisa bercinta dengannya? He doesn't exist!" "Tapi —" "Stop! Aku nggak mau debat," pungkas Anna. "Ok, tapi aku tetep mau cerita." Anna menatap lurus ke arah Azura, sebagai tanda kalau dia keberatan untuk mendengarkan kisah cinta yang sejatinya tidak benar-benar terjadi. "Jangan khawatir, cerita aku kali ini ada faedahnya," ucap Azura seraya menampakkan deret giginya. "Kalau cuma cerita tentang kalian yang selalu berjalan-jalan sambil pegangan tangan, mending aku baca novel. Seenggaknya novel lebih realistis daripada mimpi kamu." "Nope! Ini bisa jadi bahan artikel. Jadi, kita nggak perlu mikir ide, kita cuma tinggal riset aja. At least, bukankah mimpi aku sedikit membantu pekerjaan kita?" Anna menghela napas panjang. "Ok, apa?" "Mars membawa aku melihat beberapa rumah tua di sekitar Royal Mile." "Royal Mile?" Anna mulai tertarik saat Azura menyebut satu tempat itu. "Yap! Can you imagine? Kita bisa menjelajahi dunia Harry Potter versi nyata." Anna lantas menjelajahi browser di ponsel miliknya. Perlahan, dia menilik satu persatu gambar mengenai Royal Mile. Jujur saja, tempat ini memang menarik untuk diulas. "Ok, aku akui, kali ini Mars memang ada gunanya," ucap Anna kemudian. Dengan antusias, Azura menceritakan tentang satu persatu tempat yang pernah dia datangi bersama Mars. Sebenarnya, Anna tidak terlalu suka mendengar kisah lelaki itu. Namun, dia harus menyimak, karena apa yang keluar dari mulut Azura memang berkaitan dengan artikel yang akan mereka terbitkan. "Angin di sana lumayan kenceng. And you know what? Mars membantu menyibak rambutku, dia mengusap pipi aku yang dingin, lalu dia juga —" "Ra." Anna memotong pembicaraan Azura. "Bisa kita fokus ke tempatnya aja? Kita nggak mungkin naruh nama Mars di artikel kita." Deret gigi Azura kembali tampak. "Okay." "Lalu tempat apa lagi yang menarik? Aku akan coba riset lagi." "Bagaimana kalau jembatan di atas Sungai Forth?" Anna lantas mencari nama tempat yang Azura sebut. Well, ini memanglah bagus. Sebuah jembatan yang sangat besar membentang di atas sungai yang juga luas. Tak hanya bentuknya yang unik, landscape di balik jembatan itu juga cukup memukau. "Dan kamu tahu? Kita berciuman di atas jembatan itu," ucap Azura dengan tatapan menerawang ke atas. "Ok, next!" tegas Anna. "Tempat apa lagi?" Mendengar Anna kembali menyela, kedua bibir Azura lantas memberengut. Tak rela rasanya saat momen yang paling penting justru dilewatkan begitu saja. Meski tidak nyata, Azura ingin Anna mendengar cerita mimpi ini secara utuh. "Please, dengar dulu. Ini lagi adegan klimaks, An," ucap Azura. Anna menarik napas, mencoba memanjangkan rasa sabar. "Ok, kalian berciuman. Lalu?" "Lalu kita melihat matahari terbenam dari atas jembatan. Warna langit berubah jingga, dan memantul di atas permukaan sungai. Setelah itu, he hugs me tightly." Mata Azura tampak berbinar. Dia seperti sedang menceritakan lelaki yang sangat dia cintai. "Dan kamu tahu apa yang terjadi setelah itu?" tanya Azura. "Apa?" "Aku terbangun dari tidur." Anna sontak tertawa. "Itu artinya, semesta ingin kamu sadar kalau semua itu memang hanya mimpi." "Kalau dipikir-pikir, cukup miris juga ya kisah hidupku. Semua cuma mimpi." "Memang. Baru sadar?" Azura melipat bibirnya sebelum menjawab, "Tapi mimpi ini terlalu indah. Sepertinya aku nggak keberatan kalaupun ini hanyalah mimpi." "You choose! Sekarang bisa kita lanjut ke tempat menarik selanjutnya?" tanya Anna. "Yap!" balas Azura. "Sebenarnya ini mainstream, tapi Princes Street Gardens nggak bisa kalau nggak kita tulis. Itu salah satu tempat favorit aku dan Mars." Bercerita tentang lelaki satu itu tidak akan ada habisnya. Setiap hari, Azura selalu menemukan kisah baru. Meski hanya mimpi, tapi tempat-tempat yang Azura kunjungi di dalam mimpi benar-benar persis layaknya gambaran nyata. Azura belum pernah mengarungi negara lain. Namun, bersama Mars, Azura merasa seperti diajak keliling dunia. Itulah mengapa Azura selalu bersemangat saat malam telah tiba. Sebab, tidur adalah aktivitas yang justru membuat Azura merasa lebih hidup. "Kita berangkat sekarang sekalian aja, yuk," ucap Anna setelah usai jam kerja. "Kemana?" "Kamu lupa Ryan mengundang kita makan malam?" Mendengar satu nama itu, Azura seketika melengos. "Skip! Aku ngga ikut." "C'mon. Aku rasa dia tertarik sama kamu." "Justru itu," timpal Azura. "Aku nggak mau." "Why? Dia udah terkenal tampan sejak kita masih kuliah." "Nope! Aku punya yang lebih tampan," balas Azura. "Jangan bilang kalau itu adalah Mars." Azura sontak tertawa. Dia bangkit, lalu buru-buru menghindar dari Anna. Azura benar-benar tidak ingin memenuhi undangan makan malam. "Kamu nggak bisa terus menolak Ryan, Ra," bujuk Anna. "Kenapa nggak? Aku udah punya janji lain." "Janji apa?" "Bertemu dengan lelaki lain." Azura menaikkan kedua alisnya. "So, pergilah. Bilang sama Ryan kalau aku ada acara makan malam dengan ... my love?" "Kamu mau kemana?" "Mau kemana lagi? Tentu saja tidur," jawab Azura. Anna yang lantas berteriak kesal, hanya Azura balas dengan tawa kencang. Setelah berhasil kabur ke mobilnya, Azura segera menutup pintunya rapat-rapat. Tanpa menunggu lebih lama, Azura lantas menancap gas untuk pulang, lalu tidur di ranjangnya yang nyaman. Bukankah sudah saatnya bertemu dengan Mars? *** Berisik, basah, dan langit berubah menjadi gelap. Itulah alasan mengapa Azura membenci hujan. Namun, kebencian Azura kepada hujan perlahan sirna semenjak Azura menemukan seorang lelaki yang tepat untuk menggenggam tangannya yang nyaris selalu kedinginan. "Apa kamu selalu lupa membawa payung?" tanya Mars. Azura menoleh dengan kepala sedikit mendongak. Persis seperti mimpi yang sudah-sudah, Azura menemukan dirinya terjebak di tengah hujan, lalu Mars akan selalu datang. Mars nyaris tidak pernah tersenyum, tapi tangannya akan tetap memberikan dekapan hangat. "Dingin?" tanya Mars. Azura mengangguk, lalu mulai bersembunyi di balik tubuh lelaki yang kini menawarkan peluk. "Ayo pulang," ucap Mars kemudian. Bangunan tinggi serupa kastil berjejer di hampir seluruh sudut kota. Tak seperti hujan biasa, hujan di Edinburgh justru terasa romantis. Terlebih, saat Azura bisa melihat landscape yang indah, lengkap dengan sosok lelaki yang tidak kalah indah. Rintik hujan masih saja turun meski dinginnya sudah menciptakan banyak titik embun. Meski begitu, baru Azura tahu kalau hujan ternyata tidaklah sedingin itu. Nyatanya, Azura justru merasa hangat saat tangan Mars terpaut erat pada jemarinya. Sambil berjalan di bawah payung, Azura pun merasa kalau hujan tidak selalu mencerminkan kesedihan. Sebab, sejak awal melihat wajah Mars, yang Azura rasa hanyalah kebahagiaan. Kalau boleh jujur, ini adalah hujan paling indah selama perjalanan hidup Azura. "Mandilah dulu. Aku akan membuatkan minuman hangat," ucap Mars. Entah bagaimana ceritanya, tapi setting tempat tiba-tiba saja berubah. Kini, Azura merasa sedang berada di sebuah rumah. Tidak terlalu besar, tapi terasa sangat nyaman. Dua buah jendela menampakkan pemandangan kota dengan bangunan berwarna cokelat yang bentuknya hampir sama. Setiap bangunan seperti sengaja disusun secara simetris. Mungkin inilah salah satu hal yang membuat Edinburgh selalu tampak memukau. "Aku suka bau tubuhmu." Suara Mars kembali terdengar. Tidak terlalu jelas bagaimana alur kisah di antara mereka berdua. Tiba-tiba saja, Azura seperti sudah melompat menuju adegan lain. Saat ini, dia merasa sedang duduk di atas sofa menggunakan selimut yang dipintal dari wol. Ada sebuah perapian yang menyala di ujung ruang. Teh hangat sudah tersaji di atas meja, lengkap dengan shortbread yang sudah hampir habis. Azura tidak terlalu suka biskuit, tapi shortbread adalah pengecualian. "Apa yang sedang kamu baca?" tanya Mars. Sebuah majalah yang Azura pegang, lantas dia taruh di pangkuan. "Konser Harry Styles akan berlangsung di liburan musim panas ini." "Apa Harry Styles lebih menarik daripada aku?" Azura tertawa, lalu pura-pura mengangguk. "Tentu." Mars mendesah kesal, tapi kemudian tangannya menyelinap di sela tubuh Azura. Kepala yang direbahkan di atas paha Azura semakin merapat ke arah perut. Tak lupa, lelaki itu juga memberikan kecup pada salah satu sisi tubuh Azura yang masih tertutup. Helaan napas hangat Mars sangat terasa. Pun dengan pelukan yang tidak kunjung terlepas meski lelaki itu sudah terlelap. Azura tak mungkin bisa merasa bosan dengan semua ini. Namun, sialnya, kebersamaan ini tidak berlangsung selamanya. Tepat saat Azura membalas dekapan Mars, tubuhnya tiba-tiba seperti terasa terlempar. "Mars," lirih Azura. Kedua mata Azura seketika terbuka. Dalam hening, dia harus merasa kecewa karena sosok yang sedang dia peluk ternyata hanya berupa gulungan selimut. "Dammit," ucap Azura. Aroma tubuh Mars seperti masih tercium. Tangannya yang hangat juga terasa seperti nyata. Sungguh sial, langit-langit kamar yang kini Azura pandang lantas menyadarkan kalau segala tentang Mars hanyalah mimpi. "Bisakah semua ini menjadi nyata? Bisakah kamu benar-benar ada?" ucap Azura seraya menutup kembali kedua matanya. Demi Tuhan, Azura ingin terus hidup di dalam mimpi.Selama bertahun-tahun, Azura selalu bermimpi tentang hal yang membahagiakan. Sialnya, beberapa hari terakhir, yang terjadi justru sebaliknya. Azura kini menjadi sangat terganggu dengan mimpi yang ceritanya selalu menegangkan.Tiap kali terbangun, dahinya sudah dipenuhi dengan peluh. Napasnya memburu dengan tubuh yang seolah remuk. Bukannya mengembalikan tenaga, saat bangun tidur Azura justru merasa jauh lebih lemas."An, aku ada cerita penting," ucap Azura saat dia baru tiba di kantornya."Ada masalah dengan Pak Pemred?" Anna balik bertanya ketika melihat wajah Azura tampak lusuh."Bukan itu.""Terus?""Tentang Mars."Semula, kisah mengenai lelaki itu tidak pernah tidak menyenangkan. Segala sesuatu tentang Mars tidak pernah mengecewakan. Namun, tepat setelah Azura berulang tahun ke dua puluh enam, mimpinya tentang Mars berangsur menjadi mimpi buruk."Dia meninggalkanmu?" tanya Anna.Azura menggeleng. "Dia nggak pernah meninggalkan aku.""Lalu?""Aku nggak tau bagaimana menjelaskannya.
Pagi yang indah tidak menjamin kalau hari akan berakhir dengan indah juga. Buktinya, Azura yang pagi tadi masih bisa tertawa dengan Mulan, Beni, dan Anna, kini justru harus menangis sejadi-jadinya. Hidup Azura seolah benar-benar berbalik dalam satu kedipan mata."Yang kuat ya," ucap salah seorang dokter jaga.Azura hanya diam. Kedua bibirnya tidaklah bungkam. Namun, mulutnya tidak mengeluarkan suara apapun selain isak tangis yang memilukan.Malam ini menjadi kali pertama Beni dan Mulan tidak menepati janji. Sosok ayah yang juga merupakan cinta pertama Azura tidak datang membawakan macaroon kesukaannya. Ibunya juga ingkar saat berucap kalau mereka akan pulang larut malam. Nyatanya, hingga dini hari, mereka sama sekali belum kembali.Mmmm ralat, mereka TIDAK akan pernah kembali.Entah sudah berapa lama Azura larut dalam tangis. Dia sempat tak sadarkan diri, lalu bangun, menangis lagi, dan kembali pingsan lagi. Begitu seterusnya hingga malam berganti pagi.Saat cahaya matahari mulai masu
Semua orang pasti akan sibuk menyesap kesedihan saat menatap jenazah kedua orang tuanya dikebumikan. Namun, hal itu tidak berlaku bagi Azura. Wanita muda itu justru tak punya banyak kesempatan untuk berduka.Gaun hitam yang cukup longgar berhasil menutupi tubuh Azura yang sedang gemetar. Kacamata berwarna gelap juga mampu menyamarkan sorot mata yang penuh dengan rasa gentar. Azura sadar, dirinya sedang dalam bahaya besar."Azura, turut berduka, ya. Kamu harus sabar, harus kuat, harus ikhlas."Puluhan orang berbaju hitam bergantian memberikan ucapan belasungkawa. Namun, Azura sama sekali tidak menanggapi. Dia terus berjongkok dengan telapak tangan bergerak meremas tanah dari dua pusara yang masih basah.Masih ada jutaan kesedihan saat melihat nama orang tuanya pada papan di atas makam. Meski begitu, jiwa Azura masih harus diterpa oleh rasa ketakutan. Sebab, keluarga yang seharusnya menjadi pelindung dan sumber penghiburan, kini justru menjadi ancaman terbesar bagi hidup Azura."Bagaima
Mimpi yang berubah menjadi kenyataan tampak seperti bualan. Namun, Azura seperti benar-benar melihat Mars sesaat sebelum dia pingsan. Wajah lelaki itu sangat amat persis. Rasanya tidak mungkin kalau Azura hanya sekadar berhalusinasi."Mars." Sebelum sepenuhnya sadar, Azura sempat membisikkan nama itu beberapa kali.Perlahan, kelopak matanya mulai terbuka. Ada nyeri yang tajam di bagian kepala saat Azura mencoba menggerakkan badan. Alhasil, Azura hanya sedikit menoleh ke sebelah kanan.Pandangannya masih kabur. Namun, dia bisa merasakan kalau dirinya berada di tempat yang aman, rumah seseorang.Tubuh yang lemas masih berbaring pada sofa abu-abu dengan selimut berwarna senada. Setelah beberapa kali berkedip pelan, bayangan buram di hadapan Azura mulai terbentuk dengan jelas. Seorang lelaki tengah berdiri di dekat jendela sambil memandangnya dengan tatapan serius."Ah, kamu udah bangun." Suara lelaki itu terdengar lembut. Dia berbalik, lalu kembali mendekat sambil membawakan segelas air.
Azura menatap bingung saat Gavin berjongkok di hadapannya. Lelaki itu menunduk sambil membawa satu kantong es yang sudah dibalut dengan kain. Merasa tak nyaman dengan posisi seperti ini, Azura lantas bergerak sedikit mundur."Kamu mau apa?" tanya Azura.Gavin tersenyum tipis, seolah sudah langsung paham kalau Azura sedang sangat canggung. "Kakimu sedikit bengkak. Kamu sepertinya terkilir. Kalau nggak dikompres, bengkaknya bisa tambah parah."Mendengar penjelasan Gavin, Azura justru membisu dan membatu. Ada sedikit geliat aneh di hati saat mendapati perhatian kecil dari lelaki itu. Lagi-lagi, Gavin tampak semakin mirip seperti sosok Mars yang ada dalam mimpi."Kamu mau mengompresnya sendiri?" tanya Gavin.Tangan kanan Gavin sudah terangkat seraya menyodorkan gulungan kain. Namun, Azura masih mematung. Dalam diam, manik cokelatnya terus saja tertuju pada mata abu-abu terang yang sedikit bercampur dengan corak biru.'Mars,' batin Azura.Sungguh, Azura merasa seperti hidup dalam mimpi. Be
'Jika kamu bersikeras ingin hidup, maka kupastikan hidupmu tidak akan tenang. Dan jika kamu menginginkan ketenangan, aku bersedia membantu mewujudkannya dengan cara mengembalikan kamu kepada Tuhan.'Kalimat itu terngiang jelas saat Azura menatap tiap sudut kamar di hadapannya. Semakin lama berada di sini, Azura semakin ingat dengan sederet peristiwa yang dia alami di dalam mimpi. Tempat ini benar-benar sama persis."Are you ok?" tanya Gavin.Azura menoleh ke samping, lalu menganggukkan kepala."Duduklah dulu. Wajahmu pucat," ucap Gavin.Meski tidak menatap diri lewat cermin, tapi Azura merasa kalau dirinya memang tidak baik-baik saja. Terbukti dari munculnya beberapa titik keringat dingin pada dahi. Bahkan, Azura juga merasa kalau tarikan napasnya berubah semakin sesak."Aku merasa mereka sedang mencariku. Dan entah mengapa, aku merasa kalau mereka sangat dekat dengan rumah ini," ucap Azura."Jangan khawatir. Nggak akan ada yang bisa masuk ke rumah ini tanpa membuat janji dulu dengank
"Kamu bisa tinggal di sini sembari kita mencari jalan keluar untuk masalah ini," ucap Gavin.Azura menggeleng cepat. Dia tidak mungkin semudah itu menerima tawaran untuk tinggal di bawah satu atap."Setidaknya untuk malam ini," lanjut Gavin. "Besok pagi aku akan menemanimu mencari tempat tinggal sementara.""Sebenarnya aku bisa sendiri, dan —""Aku sudah bilang kalau aku akan menemanimu," pungkas Gavin.Azura terpaku. Semakin lama berbicara dengan Gavin, lelaki itu semakin mirip dengan Mars. Bahkan, bagaimana aksen bicaranya saat menggunakan Bahasa Indonesia juga sama persis."Sekarang kamu mau istirahat dulu?" tanya Gavin. "Kamu bisa menggunakan kamarku kalau kamu nggak mau tidur di kamar yang tadi."Azura menggeleng. "Aku di sini saja.""Ok, I hear you."Di sela pembicaraan mereka, ponsel Gavin lantas berdering. Buru-buru lelaki itu menekan tombol hijau, lalu mendekatkan ponsel pada telinga kanan. Meski tidak tahu sedang membicarakan tentang apa, tapi Azura bisa menebak kalau Gavin
Azura terduduk lesu di atas lantai. Jiwanya seolah terbelah menjadi dua kubu. Satu sisi sedang membujuk diri untuk tetap percaya pada Gavin, sementara sisi yang lain tengah sibuk merutuk.'Bodoh!'Benaknya berteriak dengan berisik. Seluruh isi kepala berebut ingin memaki. Bagaimana bisa Azura sempat semudah itu percaya kepada Gavin yang sejatinya bukan siapa-siapa?Seharusnya Azura tahu kalau di dunia ini tidak ada yang bisa dipercaya selain dirinya sendiri. Keluarga yang merupakan orang terdekat saja bisa dengan tega membunuh orang tuanya. Apalagi Gavin yang baru saja Azura kenal beberapa jam yang lalu.'Shit!' Azura mengumpat dalam hati.Rasa panik dan ketakutan mulai merayap. Azura merasa sesak. Dadanya seperti dihimpit beban berat.'Nggak mungkin kalau ini cuma kebetulan,' pikirnya.Dia mulai menduga, mungkin Gavin dan Riki bekerja sama. Mungkin semua ini adalah jebakan yang sudah direncanakan sejak awal. Mungkin Gavin adalah alat untuk mempermudah Riki melancarkan rencananya.'Ak
Azura tak ingat kapan terakhir kali dirinya merasa begitu lelah. Bukan sekadar kelelahan fisik, tapi sesuatu yang lebih dalam. Seperti tersesat di tempat yang seharusnya familiar, mencari seseorang yang seharusnya mudah ditemukan, tapi semakin dikejar, semakin jauh bayangannya.Tentu ada seberkas rasa ingin menyerah. Hari-hari yang selama ini Azura lewati bukanlah masa yang mudah. Untungnya, Azura masih menemukan satu nama yang mungkin bisa membantunya bangun dari kubangan lumpur.Laura datang. Langkahnya mantap dan cepat. Mantel panjangnya berkibar tertiup angin, menampakkan tubuh yang tampak lebih berisi. Di sebelahnya, David berjalan lebih pelan sambil mendorong stroller bayi."Azura." Suara Laura pelan, nyaris tenggelam dalam kebisuan.Sejenak, mereka hanya berdiri berhadapan. Dua orang yang dulu saling terikat dalam simpul yang rumit, kini kembali bertemu dalam keadaan yang sama sekali berbeda."Kamu baik-baik saja?" tanya Laura. Dia sadar kalau itu adalah pertanyaan bodoh yang t
"Azura? Itu kamu, 'kan?"Tidak ada sapaan terburu-buru. Nada suara Laura memang terdengar terkejut. Mungkin dia tidak menyangka kalau Azura tiba-tiba menghubunginya. Namun, kalimat kedua darinya sudah meluncur dengan lebih tenang."Ra? Are you there?""Iya, ini aku," timpal Azura. "Hai, Laura."Azura menutup mata sejenak, meresapi kenyataan bahwa akhirnya mereka berbicara lagi setelah sekian lama tidak ada kontak. Ada perasaan aneh di dadanya. Bukan hanya canggung, tapi juga sedikit rindu.Laura pernah menjadi cahaya di tengah kegelapan yang hampir menelan Azura. Sebagai seorang pengacara, Laura tidak hanya menyelamatkan hidupnya dalam arti hukum, tapi juga dalam makna yang lebih dalam. Wanita itu pernah berhasil membebaskan Azura dari jerat yang hampir membunuh dirinya. Azura mengingat hari itu dengan jelas, bagaimana Laura berdiri di depan, berani melawan badai yang nyaris meruntuhkan.Hubungan mereka pun tidak sesederhana itu. Selain interaksi profesional antara klien dan pengacara
Azura masih diam pada pijak yang sama.Ada sesuatu.Bahu dan tengkuknya menegang. Bukan karena lelah, tapi lebih seperti ada sesuatu yang menariknya. Kepalanya seolah dipaksa untuk tetap menoleh ke lantai dua.Sejak beberapa detik yang lalu, ruangan itu sudah gelap. Cahaya dari luar hanya menyisakan kilasan samar di balik kaca besar. Semua kosong. Tak ada siapa pun.Namun, … tunggu dulu. Masih ada seseorang di atas sana.Azura menajamkan pandangan, tapi gelap di sana terlalu pekat. Sosok lelaki itu terbungkus dalam siluet yang buram. Namun, meski samar, Azura tetap bisa mengenalinya. Cara lelaki itu berdiri, garis bahunya yang kokoh, kemiringan kepalanya, dan satu tangannya yang diselipkan ke dalam saku, semua terasa begitu akrab."Gavin?" Azura berbisik pada dirinya sendiri.Udara yang semula bisa Azura hirup dengan bebas, kini berubah jadi beban yang menghimpit. Sebelum dia bisa mencari kepastian, sebelum otaknya mampu memproses lebih jauh, sosok itu lantas bergerak. Tak sampai tiga
Lobi kantor terlihat luas dengan pencahayaan hangat, kontras dengan area luar yang dingin dan cenderung abu-abu. Lantainya mengkilap, memantulkan bayangan tubuh Azura yang tampak kecil dan semakin kerdil. Udara di ruangan itu sejuk, tapi bukannya menenangkan, malah terasa asing dan tak bersahabat.Suara sepatu hak tinggi yang berdetak pelan di lantai marmer, suara ponsel yang bergetar, dan dentingan keyboard dari meja resepsionis membentuk simfoni kesibukan yang tidak berkesudahan. Tidak ada yang memedulikan Azura. Tidak ada yang memperhatikannya. Azura benar-benar hanyalah seorang pendatang tanpa identitas.Tenggorokannya terasa kering, kakinya sedikit gemetar, tapi tekad memaksa Azura untuk tetap tegak. Jemarinya mencengkeram tas, seolah mencari pegangan di tengah lautan ketidakpastian. Napasnya berat, tapi dia menolaknya menjadi tanda kelemahan. Dia sudah terlalu jauh untuk berbalik. Entah apa yang menantinya di depan, satu-satunya pilihan adalah melangkah."Permisi, saya mencari G
Warna langit begitu pekat, tanpa bintang, pun tanpa bulan. Hanya sayap pesawat yang sesekali berkilat terkena cahaya dari dalam kabin. Azura duduk diam, mencoba berpikir. Sialnya, dia seolah tidak diizinkan untuk memutar otak.Pesawat terus berguncang. Bahkan, lebih kencang dari sebelumnya. Azura menutup rapat kedua mata karena baru pertama kali mengalami turbulensi semengerikan ini. Napasnya tertahan di tenggorokan. Getaran itu merayap dari sandaran kursi hingga ke tulang belakang. Setiap gerak seolah sedang mengingatkan bahwa Azura sedang melayang di udara, menggantung di antara negara yang dia tinggalkan dan negara yang belum tentu menyambutnya.'Gila! Apa aku benar-benar sedang melakukan ini?' batin Azura dalan hati.Azura tidak tahu apakah kepergiannya ini merupakan keberanian atau kebodohan. Tidak ada yang bisa memastikan apakah Gavin masih di sana, apakah dia baik-baik saja, atau apakah dia benar-benar menginginkan Azura datang.Layar ponsel menampakkan itinerary yang dulu Gav
Langit tampak kelabu, tapi hati Azura jauh lebih suram dari warna di luar jendela. Dia duduk di tepi ranjang, meremas selimut dengan tangan gemetar. Dadanya terasa sesak, seakan ada sesuatu yang mendesak, menekannya untuk bertindak. Namun, harus ke mana? Azura bahkan tidak tahu akan memulai dari mana.Gavin masih menghilang. Sudah berapa lama? Azura tidak lagi bisa menghitung. Pesan-pesan yang dia kirim tetap tanpa balasan. Panggilan teleponnya selalu berujung pada nada sambung yang menyebalkan.Azura mencoba mencari tahu tentang Edinburgh, kota yang bahkan belum pernah dia injak. Namun, nihil. Dia tidak mengenal siapa pun di sana. Tidak ada satu pun nama atau alamat yang bisa membantunya menemukan Gavin."How did it come to this?" monolog Azura Matanya memanas, tapi dia berusaha menahan diri. Ini bukan saatnya untuk menangis. Dia harus melakukan sesuatu, apa pun itu.Memesan tiket ke Edinburgh tanpa tujuan jelas, lalu mencari Gavin tanpa petunjuk sama sekali, mungkin itu akan terden
Azura berdiri di tengah lorong panjang yang suram. Dinding batu tua yang berlumut dan lembap mengapitnya. Cahaya remang menyorot ke arah jalanan licin. Bau tanah basah bercampur dengan bau sesuatu yang lebih tajam. Azura mengernyit sambil merapatkan jemari pada hidung. Ini seperti bau karat yang menyengat. Perutnya kemudian mendadak mual saat menyadari kalau yang dia cium adalah darah.Ingin menjerit, tapi suaranya tertahan. Azura tidak bisa berbicara, persis seperti seseorang yang sedang mengalami ketindihan. Alhasil, sambil menahan sesak, Azura hanya bisa mengamati sekitar.Matanya yang nanar berkedip beberapa kali demi menajamkan pandangan. Azura yakin belum pernah menginjak tempat ini. Dilihat dari bentuk bangunannya, ini bukanlah Yogyakarta, pun bukan Indonesia.Area sekitar yang semula buram, kini mulai tampak lebih jelas. Semakin lama mengamati, akhirnya Azura bisa mengenali tempat ini.Edinburgh.Sayangnya, ini bukan Edinburgh yang terang dengan kastil megah dan festival yang
Gavin telah pergi. Benar-benar pergi. Dan ini bukan mimpi.Pagi tadi, di bandara, Azura masih bisa merasakan genggaman tangan Gavin. Namun, kini, dia hanya bisa menggenggam udara. Rindu ini terlalu dini. Kesepian ini terlalu tajam untuk dirasakan.Hening menjadi lebih menusuk dari biasanya. Tidak ada suara langkah kaki Gavin, tidak ada pula suara khasnya yang selalu memanggil dengan berbagai sebutan sayang. Azura hanya bisa mendengar kekosongan yang bergaung di pikirannya sendiri.'Aku akan mengabari kamu setiap hari, Sayang.' Itu kata terakhir dari Gavin yang Azura jadikan sebagai penguat.Sejak Gavin pergi, waktu berjalan lebih lambat. Azura sudah mencoba menyibukkan diri. Mulai dari menulis, membaca buku, menonton film, dan bekerja hingga dini hari. Namun, pikirannya selalu kembali pada satu nama, Gavin.Mereka tentu selalu saling bertukar kabar. Meski hanya hal sederhana seperti keluhan Gavin mengenai Edinburgh yang terasa jauh lebih dingin, tapi hal itu sudah sedikit membuat Azur
Suara announcer menggema di langit-langit bandara. Derap langkah tergesa berpadu dengan percakapan yang menyesakkan. Gavin terus menggenggam tangan Azura erat, seolah enggan melepaskan."Sayang." Suara Gavin lebih pelan dari biasanya, hampir tertelan dalam hiruk-pikuk sekitar. Tatapannya penuh dengan sesuatu yang tidak terucapkan. Jika ditelisik lebih dalam, sorot mata itu menggambarkan sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar perpisahan singkat.Azura menelan ludah, mencoba mengabaikan benak yang penat. "Kamu yakin nggak bisa menundanya?" tanya Azura, meski sudah tahu jawaban yang akan diterima.Gavin menggeleng, menyesap napas dalam. "Aku ingin tetap di sini, Azura. Kamu tahu itu," gumamnya. "Tapi ini sesuatu yang nggak bisa aku tunda. Pekerjaan ini sangat mendesak."Azura mengangguk kecil. Dia tahu Gavin tidak akan pergi jika tidak ada alasan yang benar-benar penting. Namun, tetap saja ada sesuatu yang mengganjal. Azura masih memiliki sederet pertanyaan yang menggantung tanpa jaw