Akhirnya Irene ingat, kalau dia memiliki satu kelebihan yang sangat langka di antara manusia lainnya.“… karena aku kan berbeda. Kalian tahu sendiri, kan, kalau aku ini spesial?”Gita dan Zee saling melempar tatap. Mereka mengangguk, mempercayai apa yang baru saja dikatakan Irene.“Oke, kamu memang spesial. Kamu lahir di tanggal yang unik, nggak tiap tahun ada,” timpal Zee sambil menepuk pundak temannya.Irene pun langsung mengangguk. Akhirnya dia bisa menggunakan alasan ini. Untuk kali pertama, Irene bersyukur kalau dirinya lahir di tanggal spesial, yang hanya ada empat tahun sekali. Padahal dulu dia sempat mengeluh, karena ketika harus melakukan syukuran atas kelahirannya. Dia harus nebeng di tanggal lain.“Terus siapa orangnya. Apa kita kenal?” Kini giliran Gita yang bertanya.Irene menghela napas, dan memasak mimik kecewa. “Untuk itu aku nggak bisa ngomong. Soalnya privacy dan
Juna sedang merapikan barang-barangnya, dia baru saja menyelesaikan kelas terakhir di jam empat sore. Namun, karena ada pekerjaan lain, Juna pun baru hendak pulang satu jam setengah kemudian. Ponselnya sedari tadi berbunyi, memberi tahu bahwa ada beberapa pesan masuk untuknya. Sembari berjalan meninggalkan ruangannya, Juna memeriksa pesan-pesan itu“Huh.” Juna mendesah, tatkala dia membaca pesan dari sang ibu, Jessica. Rasanya agak malas untuk membalas dan membahas pertanyaan yang berujung sebuah permintaan dari sang ibu. Baru saja Juna hendak menyimpan ponsel pada saku celananya, benda pintar itu tiba-tiba berdering. Kini bukan sebuah pesan yang masuk, melainkan sebuah panggilan.“Halo, Ma,” sapa Juna, sambil mendorong pintu ruang kerjanya. “Kamu sudah selesai kerja, kan, Sayang?” tanya Jessica. Walau umur Juna sudah kepala tiga—bahkan lebih, tapi bagi sang ibu, dia tetaplah anak-anak. “Sudah. Aku baru membaca pesannya,” jawab Juna. Dia sudah tahu kalau tujuan sang ibu meneleponny
“Maksud kamu? Emangnya dia nggak boleh deketin aku? Kenapa?”Jantung Juna berpacu dengan cepat, saat mendengar pertanyaan dari Irene barusan. Sedetik kemudian, dia pun ikut mempertanyakan pertanyaan tersebut pada dirinya sendiri.‘Kenapa aku bisa sekesal itu saat melihat Irene bersama dengan Ray si bocah ingusan itu?’ batinnya. Benar. Juna baru sadar, kalau dirinya memang sedang merasakan kesal. Awalnya dia selalu denial dengan perasaannya ini. Namun, kali ini dia tidak bisa menyangkal apa pun lagi. Melihat Irene dan Ray saling melempar senyuman. Bahkan mengetahui bahwa mereka seakrab itu, sampai dengan santainya mereka memanggil nama mereka masing-masing. Sukses membuat dada Juna merasa tak nyaman. “Juna, awas lampu merah!” seru Irene. Seketika Juna pun terkesiap. Dengan spontan kakinya itu menginjak pedal rem. Saking dadakannya, mereka berdua harus sedikit terpental.“So-Sorry,” ucap Juna. Dia mencoba memastikan ke depan mobilnya. Jarak yang nyaris sekali, terlambat satu detik,
Sepanjang jalan, Irene merasa tidak nyaman. Dia terus memalingkan wajahnya dari Juna. Pikirannya berkelana, membayangkan bagaimana respon keluarga Juna ketika pria itu memperkenalkan Irene sebagai tunangannya.“Sebentar lagi kita sampai,” ucap Juna. Mereka kini sudah berada di Jakarta, lebih tepatnya di daerah Thamrin.Irene menarik napas dalam dan mengembuskannya dengan kasar. Kemudian dia menoleh ke arah Juna. “Jun, aku nggak siap,” kata Irene. “Kenapa? Bukannya tugas ini lebih mudah dari pada melayani aku?” timpal Juna. Irene mencoba menelan ludahnya dengan sudah payah. “Bukan begitu. Tapi … berpura-pura menjadi tunanganmu itu rasanya tidak mudah.”Selama kurang lebih tiga jam perjalanan. Irene memikirkan dampak yang ia terima jika menerima tugas tambahan itu. Terkadang Irene saja suka merasa khawatir ketahuan tentang hubungannya dengan Juna, yang sebagai client dan pemberi jasa. Apalagi sekarang, di mana Juna terang-terangan memberi tahu orang lain kalau Irene adalah tunangan-pa
“Dokter Juan?”Lelaki itu menarik kedua sudut bibirnya, bahkan matanya terlihat berbinar. “Ternyata benar, kamu Irene. Wah, kamu sudah besar, ya,” kata Juan.“Iya, Dok.” Irene mengangguk. Mendadak perasaannya tidak enak. Pria di samping Irene langsung mengerutkan alisnya. Kenapa Juan—sang kakak—bisa mengenal Irene dan begitu pun sebaliknya?Saat Juan hendak mengajukan pertanyaan lagi pada Irene. Sang master of ceremony, langsung menaiki panggung. “Selamat malam, hadirin sekalian. Mohon maaf atas sedikit keterlambatannya. Untuk mengefektifkan waktu, mari kita mulai acaranya.”Acara pun mulai, dan dibuka dengan sambutan dari pemilik Atmadjadarma Group, siapa lagi kalau bukan Jodi. Pria yang hari ini genap berumur delapan puluh tahun itu masih terlihat sehat. Irene merasa terkesima dengan pidato dari Jodi. Pasalnya pria itu bukan berasal dari keluarga kaya raya. Namun, atas kegigihan, keuletan dan keikhlasannya. Dirinya bisa sukses dan memimpin yayasan dengan baik. Berawal dari hanya
“Halo, Mama Jessica dan semuanya. Kalian apa kabar?” Seorang perempuan memecah perhatian mereka. Tanpa sadar Jessica menaikkan kedua alisnya. Ketika mengetahui siapa orang yang baru saja menyapanya. “Oh, Amara. Kabar saya baik,” ucap Jessica.Setelah perempuan itu bercerai lima tahun lalu dengan anaknya. Amara sudah tidak pernah datang ke acara keluarga seperti ini. Entah apa yang merubah pikiran perempuan itu sekarang. Sampai akhirnya dia mau datang ke acara ulang tahun kakek Juna. “Mas Julian dan Mbak Shania?” Amara beralih menatap dua pasangan tersebut. “Baik,” jawab Juan irit. Kemudian pandangan Amara ia lemparkan pada Juna. Sudut bibirnya terangkat sebelah. Tipis memang, tapi Juna bisa melihatnya. “Kamu, Jun?”“Baik.” Pria itu pun segera menjawab dan enggan untuk balik melempar pertanyaaan. Amara diam sejenak, melirik mereka secara bergantian. Namun, apa yang diharapkannya tak terjadi. Dia pun menghela napas kasar. “Syukurlah kalau baik. Saya ke sini hanya ingin menyapa s
Tebak, siapa orang yang sedang duduk di depan Irene sekarang? Dengan perasaan canggung, Irene akhirnya mengiyakan ajakan orang tersebut untuk berbicara empat mata. Untungnya Mia mengizinkan Irene untuk izin keluar di jam kerjanya. Orang yang sedang duduk di hadapan Irene ini adalah seorang perempuan. Rambutnya panjang bergelombang, tubuhnya ramping. Untuk visual, jangan ditanya, dia sangat cantik sekali. Irene bukanlah tandingannya. “Maaf, ada perlu apa, Mbak Amara menemui saya?” tanya Irene dengan sopan, sekaligus ia memecahkan keheningan di antara mereka berdua. Benar, perempuan yang sedang bersama dengan Irene adalah mantan istri Juna. Irene begitu terkejut, ketika mendapati Amara jauh-jauh dari Jakarta datang ke Bandung untuk menemuinya. Dan dalam detik itu juga, Irene merasa bulu kuduknya berdiri. Ini pertanda bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Amara tak langsung menjawab. Dirinya sibuk memindai Irene yang sedang duduk di hadapannya, sembari menyeruput kopi miliknya. “Kamu
“Untuk perkuliahan hari ini cukup sekian. Saya harap kelompok selanjutnya bisa lebih baik dan matang dalam mempresentasikan materi di depan kelas. Terima kasih.”Juna baru saja menutup perkuliahan mahasiswa semester lima. Ia kemudian melangkah keluar kelas, sembari menenteng sebuah map. Sedari tadi, ponselnya terus bergetar di balik saku celana. Khawatir panggilan penting, dia pun segera merogoh dan mengambil ponsel pintar tersebut. Namun, saat ponselnya sudah ia pegang, untuk beberapa saat Juna terdiam. Matanya menyipit, ketika melihat nama yang tertera pada layar ponselnya itu. “Amara?” gumam Juna.Tak ingin ada yang menguping pembicaraannya. Ia pun segera beranjak menuju tempat yang sepi. “Halo,” sapa Juna pada lawan bicaranya yang ada di seberang sana. Untuk pertama kalinya, setelah mereka berdua dinyatakan bercerai oleh pengadilan. Wanita itu kembali menghubungi Juna. “Halo, Juna. Kamu benar bertunangan atau hanya sandiwara belaka?”Tanpa basa-basi, tiba-tiba saja Amara bert