Audrey bergeser mendekati meja makan itu, sementara Jach mundur menjaga jarak, tidak meninggalkan kamar untuk memastikan jika gadis yang dikiranya Aurelie Harper itu telah makan dengan baik. Diambilnya alat makan itu dengan tangan gemetar, sambil menekan perutnya yang sakit, Audrey mulai mengambil sesendok kaldu sup, merasakan rasa yang menyengat seperti semalam. Asin yang disengaja dan membuat perih bibirnya. Audrey mengambil sesendok bubur kentang, menelannya dengan kesulitan, melewati tenggorokannya yang kering. Suap demi suap makanan itu berusaha Audrey masukan ke dalam mulutnya dengan hati yang membatin, untuk pertama kalinya dalam hidup, dia tidak bersyukur dengan makanan yang didapatnya. Audrey tertunduk menyembunyikan air matanya yang mulai berjatuhan, menyadari bahwa ternyata didunia ini tidak ada yang setulus ayahnya. Tidak ada tempat yang lebih nyaman dari rumah gubuknya, dan ternyata hanya Arman tempat teraman dalam hidupnya. Ternyata, Audrey tidak salah mengambil ke
“Apa kalian tidak merasakan ada sesuatu yang Aneh sejak kemarin sore? Aku sama sekali tidak mendengar teriakan histeris nona Aurelie, tidak ada barang-barang pecah yang perlu dibereskan!” ucap Dorothy menyeruakan kebingungannya atas prilaku tidak biasa Aurelie Harper. “Mungkin saja, dia sedang berakting demi fasilitias mewahnya dikembalikan,” sahut Megan. Para pelayan akhirnya bergosip, mempertanyakan perubahan mendadak sifat Aurelie Harper yang tidak biasa. Menggosipkan tentang masa dengan hubungan pertunangan Aurelie dan Raiden yang kini telah dijegal oleh Dante Arnaud. Jach yang berada di satu ruangan sama tengah mengambil air minum, tidak menunjukan ketertarikan untuk terlibat percakapan, meski begitu telinganya yang tajam tidak berhenti mendengarkan hal-hal buruk tentang Aurelie Harper yang tidak berhenti dibicarakan. Saat pertama kali bertemu Aurelie Harper, jujur saja Jach sempat tertegun karena kecantikannya, tenggelam di sepasang matanya yang polos seperti anak kecil yang
“Jangan menyentuhnya, aku tidak mengizinkan perempuan kotor sepertimu menodai tempat kerjaku,” perintah Dante. Audrey tersenyum menelan perih menusuk dada, tangannya yang kebas kembali terkepal dan dia sembunyikan dibalik punggung. “Aku ingin berbicara.” “Katakan,” perintah Dante tidak mau membuang waktu. “Apa bisa, seminggu sekali, kau memberiku waktu tiga jam kebebasan disetiap hari senin,” pinta Audrey memberanikan diri. “Apa katamu?” Dante mendengus dengan senyuman sinisnya. “Aku tahu, kau itu perempuan yang tidak tahu malu, tapi setidaknya gunakan juga otakmu untuk sedikit berpikir. Terkurung disini adalah bagian dari kemurahan hatiku, harusnya sekarang kau sudah mati membusuk di penjara. Dengan tidak tahu dirinya sekarang kau meminta sedikit kebebasan.” Tangan Audrey terkepal kian kuat dibelakang punggungnya, gadis itu berusaha untuk tetap berdiri tegak tidak menurunkan wajahnya untuk tetap membalas tatapan tajam Dante. Tidak peduli meski dimaki dan di cap tidak tahu malu,
Deg! Jantung Audrey berhenti untuk sesaat, tubuhnya menegang kaku membekukan seluruh tubuhnya. ‘Apa Dante telah menyadari penyamarannya?’ Audrey menarik napasnya dengan kesulitan, tidak dapat menghindar dari kepanikan yang meningkat, takut akan kembali terjadi sesuatu yang buruk pada dirinya jika Dante benar-benar mengetahui penyamarannya yang telah berpura-pura menjadi Aurelie Harper. Apa yang harus Audrey lakukan sekarang? Apa yang harus dia ucapkan untuk mengelak? Seiring dengan langkah Dante yang mendekat, kaki Audrey bergerak mundur dengan gemetar berusaha menjangkau pintu. Audrey harus segera meninggalkan ruangan itu sebelum terjadi sesuatu! “Aurelie Harper tidak mungkin kehilangan jati dirinya sekalipun dia hilang ingatan,” ucap Dante kian mendekat, memperhatikan ketakutan Audrey yang tidak berkutik dihadapannya. “Aurelie Harper tidak mungkin kehilangan nyalinya hanya dengan sebuah pertanyaan sederhana,” ucap Dante lagi semakin yakin bahwa memang ada sesuatu yang terjadi.
Dante mengusap keningnya yang berdenyut, pria itu tidak bisa berhenti memikirkan apa yang telah terjadi di ruangan kerjanya beberapa saat lalu. Bukan karena Aurelie Harper yang telah bersujud di kakinya, namun karena satu sentuhan kecil tangan Aurelie yang terus telah membangkitkan desiran aneh di nadi Dante, sampai membuat Dante tidak dapat menyingkirkan sensasi jejak sentuhannya. “Ada apa denganku?” bisik Dante menggeram frustasi. Lagi dan lagi, akal sehat Dante telah dikacaukan oleh orang yang sama, yaitu Aurelie Harper. Sejak Aurelie Harper kembali ditemukan dan dibawa Salma, dia telah berubah 180°. Perubahan sifat Aurelie yang tidak biasa ini membuat Dante semakin tidak nyaman. Tidak masuk akal dan begitu mustahil, perempuan gila seperti Aurelie Harper bisa berubah hanya dalam waktu singkat dengan alasan hilang ingatan. Mengubah karakter asli manusia itu seperti mendapatkan wahyu Tuhan, harus melalui proses panjang dan melibatkan banyak orang disekitarnya. Lebih gilanya la
Setengah jam telah berlalu, dengan setia Jach tetap berdiri menunggu Audrey di belakang pohon. Sore ini begitu indah terbalut kehangatan musim semi dan hamparan penuh warna dari bunga-bunga yang mekar. Kicauan burung yang harusnya terdengar, kini telah digantikan suara tangis Audrey. Jach telah menulikan pendengarannya dan membutakan pandangannya sepanjang berdiri menunggu. Jach tidak ingin terlibat apapun dari sesuatu yang bukan bagian dari pekerjaannya. Namun, pendirian Jach hancurkan dengan hanya dalam satu detik, tepat ketika Jach memberanikan diri untuk melihat kebelakang dan melihat keberadaan Audrey. Melihat ketidak berdayaan Audrey yang menangis sendirian di ayunan, ada rasa sakit dan kesepian yang bercerita kepada Jach tanpa kata. Jach tidak dapat menahan kakinya untuk mendekat, terlibat dalam bingkai urusannya dan memberikan sebuah sapu tangan untuk menghapus air matanya yang telah membasahi pipi. Perlahan, wajah Audrey terangkat. Sepasang mata zambrud itu terlihat b
Di tengah malam yang sunyi, Audrey sibuk dengan kesediriannya di ruang pakaian Aurelie Harper. Gadis itu tengah menggeledah setiap tas, dompet dan setiap sudut-sudut tempat untuk mencari uang yang sangat dia butuhkan untuk nanti dia gunakan di satu jam kebebasannya. Meski Jach bersedia memberinya pinjaman, Audrey butuh membeli sesuatu yang lain. Saat pergi meninggalkan kota Lapolez, Audrey tidak diizinkan membawa uang sepeserpun, dan ketika dia sampai ke apartement, ada seseorang yang langsung meminta kartu identitas dan menggeledah tasnya untuk memastikan bahwa Audrey tidak membawa identitas lain dan uang dalam bentuk apapun. Karena itu, kini Audrey tidak memiliki apapun untuk digunakan. Meski demikian, Audrey harus berpikir keras mencari celah agar bisa bangkit meski keadaan menekannya untuk tidak bisa melakukan apapun. Audrey sudah bertekad bahwa dia tidak ingin pulang hanya membawa badan dan kehormatan yang telah rusak. Dia harus pulang dengan perubahan yang lebih baik, apap
Arman duduk dikursi roda, menikmati udara pagi untuk pertama kalinya setelah di rawat di rumah sakit. Keadaannya berangsur membaik dan dalam waktu dekat dia akan segera melakukan kemoterapi. Perasaan Arman campur aduk menjelang kemoterapi. Usianya sudah tidak muda lagi dan kanker semakin ganas menggerogoti tubuhnya, sehingga kemungkinan keberhasilan bersih dari kanker tidaklah begitu besar. Sudah Arman dengar seperti apa efek kemoterapi, tidak hanya akan menyebabkan beberapa kesakitan, dia juga membutuhkan pendampingan karena kini dia tinggal sendirian di gubuknya. Enam hari sudah Arman ditinggal Audrey.. Kepergian Audrey menyadarkan Arman bahwa dia begitu kesepian tanpa putrinya, dia merindukan Audrey, dan dia sangat mengkhawatirkan putrinya. Arman menyesal telah menyia-nyiakan waktu berharganya saat bersama Audrey. Arman menyesal, tidak pernah sekalipun mengatakan bahwa dia menyayangi Audrey dan Arman menyesal, tidak sempat meminta maaf kepada Audrey atas kegagalannya yang ti
“Susunya sudah hampir dingin, Tuan pasti akan sangat marah jika dia belum meminumnya. Kau antarkan sarapan paginya ke atas,” perintah Irina melihat sarapan Aurelie Harper masih belum tersentuh sedikitpun.“Kenapa tidak ibu saja yang mengantarnya? Aku takut datang ke kamarnya,” bantah Megan.“Dimana Dorothy?”“Dia sedang membersihkan ruangan kerja Tuan Dante.” Sebelum ibunya kembali memerintah, Megan memutuskan pergi meninggalkan ruangan makan agar terhindar dari tugasnya.Irina mendengus kesal, dengan terpaksa dia mengambil sarapan pagi Aurelie Harper bersama susu kehamilan yang harus dipastikan diminum olehnya. Irina telah mendapatkan peringatan keras dari Dante sebelumnya, jika dia membuat masalah lagi, Irina tidak dapat bekerja lagi dibawah naungan keluarga Arnaud.Dengan kaki terpincang-pincang Irina mendorong troli makanan, membawanya pergi ke lantai dua.Tidak adanya Victor di depan pintu semakin membuat Irina kesal karena dia harus masuk ke dalam kamar.Tanpa menunjukan sopan
Jalanan setapak tempat biasa Audrey lewati digenangi oleh sisa-sisa air hujan, tetesan embun membasahi rumput-rumput liar yang tumbuh. Terlihat ada seekor burung merpati putih lompat-lompat di jalanan tengah membasahi paruhnya dengan sisa air hujan, mengibaskan sayapnya.Audrey berdiri ditengah kesunyian, perlahan wajahnya terangkat, melihat daun-daun di pepohonan tidak menunjukan riaknya seperti biasa.Semuanya sangat hening dan dingin, dunia seakan tengah berhenti hanya untuk menyambut kedatangan Audrey.Dari kejauhan dapat dia lihat gubuknya, rumah ternyaman dalam hidupnya, tempat yang telah Audrey tinggalkan, dan kini Audrey telah kembali pulang.Audrey tidak membawa apapun, dia hanya membawa kerinduan yang begitu besar untuk ayahnya yang telah lama dia tinggalkan.Audrey berjalan dikesunyian, merasakan kehampaan yang begitu kuat didalam dada seiring dengan langkahnya yang membawa pergi ke teras rumah. Pintu lapuk yang tertutup rapat itu mengeluarkan suara derakan kasar kala dibu
Menyaksikan ketakutan Aurelie Harper yang sampai mengalami gemetar hebat membuat Dante tidak nyaman seakan dia telah melakukan suatu kesalahan yang tidak disadari.Tangan Aurelie yang tersimpan dibawah meja sampai mengepal hebat dan kembali berdarah menunjukan suatu ketakutan yang tidak main-main tengah menimpanya.Dante tahu, Aurelie Harper begitu dekat dan bergantung pada Salma dalam berbagai hal, namun melihat reaksinya yang tidak biasa saat mendengar nama ibunya disebutkan, kali ini Dante berpikir bahwa mempertemukan mereka berdua bukanlah keputusan yang benar. “Kau tidak perlu menemui ibumu jika tidak mau,” ucap Dante spontan sampai membuatnya terkejut oleh ucapannya sendiri.Audrey tersedak oleh napasnya yang kasar, wajahnya yang pucat perlahan terangkat menatap Dante, mencari-cari apa ada dusta dimata pria itu. Audrey sangat takut bertemu Salma, ibunya pasti akan menuntut perhitungan atas apa yang terjadi pada Daud. Audrey sadar, Salma tidak memiliki sedikitpun kasih sayan
Tubuh Jach menegak, sedikitpun tidak menunjukan ketakutan apalagi terintimidasi oleh tekanan yang dilakukan Moses padanya. Jach telah memberi peringatan agar Moses tidak ikut campur, namun sepertinya peringatannya telah diangap angin berlalu.Jika Moses memang ingin berurusan dengannya, maka Jach juga akan melakukan sesuatu padanya.Melihat keterdiaman Jach yang tidak merespon, Moses semakin mendekat. “Siapa yang menyuruhmu Jach? Sepertinya aku harus memberitahu tuan Dante bahwa ada penyusup di rumah ini.”Jach menyeringai, mengejek ancaman Moses. “Silahkan saja, memangnya kau bisa membuktikannya melalui apa?” tanya Jach menantang.Rahang Moses mengetat, merasa terhina oleh pandangan meremehkan Jach seolah ancamannya tidak berarti apa-apa. “Jangan anggap aku bodoh. Hanya yakuza dan kelompok mafia yang memiliki tato itu. Siapapun yang melihat tubuhmu, mereka akan tahu kau telah terlibat banyak hal, dan mustahil orang sepertimu hanya seorang bodyguard.”Alis Jach sedikit berkedut, teli
Tangan Daud yang tepasang infusan bergerak kaku meremas permukaan ranjang tempatnya tidur.Pria paruh baya itu mengerang kesakitan begitu terbangun untuk pertama kalinya setelah dipukul Jach di dalam mobil.Dokter segera datang memeriksa keadaannya, sementara Salma berdiri cemas menyaksikannya dibalik puntu, tidak berani untuk menunjukan diri.Andai saja Carmen bersedia menunggu Daud siuman, mungkin Salma tidak akan secemas ini karena anak itu satu-satunya orang yang bisa membuat Daud melunak. Sayangnya, setelah kunjungan singkatnya, Carmen tidak lagi menunjukan diri.Carmen tidak peduli dengan keadaan ayahnya.Daud tampaknya sadar jika telah terjadi suatu perubahan besar pada tubuhnya kala dia sadar tidak mengenakan celana, dan ketika dokter memberitahukan apa kondisinya saat ini, Daud berteriak histeris menangis seperti orang gila. Daud mengamuk tidak terima jika kini telah memiliki kekuranagan yang sangat fatal dan tidak akan pernah bisa diperbaiki.Daud tidak terima kehidupannya
“Aku jatuh cinta padamu, Nona Audrey,” jawab Jach dengan lantang tanpa keraguan, penuh rasa percaya diri dan sorot mata yang bangga, mengisyaratkan bahwa apa yang saat ini sedang terjadi didalam hatinya, bukan sebuah kesalahan yang patut untuk disembunyikan.Napas Audrey tertahan didada, tubuhnya membeku kaku mendengar pangkuan cinta yang tidak pernah sedikitpun dia duga akan terucap dari mulut Jach.Gemersik ranting-ranting pohon terdengar kala terbelai angin lewat, mengisi keheningan yang kini sedang menjebak Audrey dan Jach.Audrey bergelut dengan pikirannya sendiri. Ini bukan untuk pertama kalinya Audrey mendengar seorang lelaki mengutarakan cinta padanya, namun ini untuk pertama kalinya Audrey kebingungan sampai tidak bisa berbicara sepatah katapun karena satu alasan.Setelah dewasa, Audrey semakin terjerumus dalam kemiskinan dan seorang ayah pemabuk berat yang jatuh sakit. Siang malam dia bekerja untuk bisa membayar biaya berobat Arman, namun orang-ornag menuduhnya pergi menjua
Salma menggigit kukunya menyalurkan kecemasan, tidak berhenti menatap lekat Daud yang terbaring diranjang telah selesai melakukan proses operasi. Salma benar-benar tidak tahu harus berbuat apa saat nanti Daud kembali sadar dan bertanya tentang keadaannya.Dokter mengatakan jika Daud bisa beraktifitas normal seperti biasa, kecuali dengan urusan seksnya karena miliknya sudah tidak berfungsi lagi selain untuk buang air.Terlepas dari keserakahannya yang tergia-gila pada harta Daud. Salma tidak menutupi kenyataan bahwa dia mencintai suaminya, rasanya sangat berat untuk Salma bila harus melihat suaminya terpuruk karena kondisinya yang sekarang.Pintu yang terbuka dibelakang Salma mengalihkan perhatian, dilihatnya Carmen yang baru datang meski telah diberi kabar sejak beberapa jam yang lalu.Carmen mendekat dengan wajah yang begitu tenang, sedikitpun tidak menunjukan kepedulian apalagi kesedihan melihat ayahnya terbaring tidak sadarkan diri di ranjang rumah sakit. Carmen telah mendengar s
Salma akhirnya datang ke rumah sakit untuk memeriksa keadaan Daud yang terluka. mendengar Daud ditikam, Salma tidak dapat menggambarkan seperti kini keadaan suami dan akan sehebat apa marahnya Daud jika nanti mereka bertemu. Sial betul Salma, seumur-umur Aurelie tidak pernah sekalipun berani menentang Daud karena Aurelie tahu, Salma akan menjadi sasaran Daud bila dia menentang. Harusnya Audrey juga bersikap seperti kakaknya. Tahu diri dan tahu malu, terlebih Salma telah berjasa menyelamatkan nyawa Arman yang masih terjebak dalam penyakitan dan miskin. Harusnya Audrey berpikir ulang, apa yang akan terjadi sebelum dia menyakiti Daud. Gadis itu benar-benar telah membuat Salma sangat kesal. Salma tidak akan memaafkan Audrey jika terjadi sesuatu pada suaminya! Dengan tergesa Salma berlari melewati banyak ruangan, mencari keberadaan Daud yang ada di ruangan khusus. Ketika Salma sampai di ruangan Daud, secara kebetulan seorang dokter perempuan keluar dari ruangannya. “Dokter, pasien ya
Chapter 63Pertanyaan Aurelie tidak dapat Dante jawab, ketegangan yang terjadi di dalam kamar itu akhirnya berakhir dengan Dante pergi meninggalkan kamar tanpa penyelesaian apapun. Namun, Dante pergi membawa kebimbangan yang mengganggu pikirannya.Amarah membara hilang dalam sekejap, berganti menjadi rasa penasaran yang memunculkan banyak pertanyaan di kepala. Sepanjang hari Dante menghabiskan waktunya di dalam ruangan kerja untuk minum tanpa melakukan apapun, melamunkan sesuatu yang terus menerus mempengaruhi pikiannya.Aurelie Harper memiliki personal branding yang jahat dan berbahaya. Dengan mata kepalanya sendiri, Dante sering melihat gadis itu berprilaku tercela!Anehnya, selama lima tahun mengenal Aurelie, tidak pernah sekalipun Aurelie terlibat masalah dengannya. Setiap kali mereka bertemu, Aurelie selalu tenang dan cenderung lebih banyak diam, sibuk dengan dirinya sendiri dan tidak mempedulikan apapun yang ada sekitarnya.Semakin Dante pikirkan kebenaran itu, kini Dante mula