Share

#6. Sandiwara

Penulis: azzurayna
last update Terakhir Diperbarui: 2024-08-18 23:28:19

“Namun, kenapa pakaian putriku begitu lusuh? Bukannya kamu menyukai baju mewah? Ataukah lemarimu kekurangan pakaian?”

Serena tidak terkejut mendengar pertanyaan Guina, seakan sudah memprediksinya. Wajah cantiknya tetap terlihat santai dan anggun. Ia tidak akan takut lagi, atau merasa gugup.

“Tidak, Ibu. Pakaian pribadi saya sudah lebih dari cukup,” sahut Serena dengan lembut. “Terima kasih atas perhatian Ibu.”

Perkataan Guina terdengar perhatian bagi orang luar. Hanya Serena yang tahu bahwa, Ibunya secara halus sedang protes mengenai pakaiannya yang sederhana sebagai Moonstone.

Itu seolah membuat Moonstone tampak kekurangan untuk memfasilitasi anak-anak mereka.

“Lalu kenapa putriku tercinta tidak memakai gaun yang cantik?” Guina terdengar sedih. Namun, Serena tahu, itu hanya sandiwara yang ditunjukkan ibunya untuk para tamu, “Padahal Ibu sudah susah payah menyiapkan pesta ini untukmu. Malam ini adalah milikmu,” Guina berpura-pura sedih.

Serena mengulum senyuman tipisnya. Karena ibunya ingin bermain, maka dia bersedia mengikutinya dengan senang hati.

Lagi pula, dia memang berniat melakukan perubahan besar-besaran malam ini.

“Ibu, saya pikir itu tidak terlalu baik,” kata Serena kemudian, wajah cantiknya tampak murung. “Saya baru saja terkena musibah berbahaya. Kali ini saya selamat berkat karunia Tuhan, jadi saya ingin tampil sederhana untuk malam ini. Bukankah Ibu bilang pesta ini untuk merayakan keselamatan saya?”

Serena bisa melihat ekspresi Guina berubah kaku selama sesaat. Gadis itu menangkap kemarahan yang tertahan di mata ibunya.

Namun, Serena sendiri tahu kalau Guina tidak akan berbuat macam-macam lantaran ada banyak mata tertuju ke arah mereka.

“Ibu? Kenapa Ibu diam? Apakah saya sudah melakukan sesuatu yang salah?”

Guina tersenyum tipis, agak dipaksakan. Perempuan paruh baya itu menahan amarah. Mengingat ada banyak mata tertuju ke arah mereka, Guina tersenyum paksa, “Tentu saja tidak. Putriku ternyata berwawasan luas, aku benar-benar terkejut.”

Serena menunduk. “Ini kesalahan saya karena sering membuat Ibu khawatir. Selama ini, saya terus membuat kekacauan yang membuat Ibu pusing,” ucapnya. Serena berhenti sejenak, perasaan bersalah terpampang di wajah cantiknya saat ia kembali menatap Guina. “Saya ingin meminta maaf kepada Ibu atas kelakuan saya selama ini. Begitu pula kepada para tamu terhormat kita yang dulunya pernah menjadi korban kejahatan saya.”

“ ... Saya dengan tulus meminta maaf secara resmi kepada semua orang. Di sini, saya meminta maaf sebagai seorang Serena, bukan sebagai Moonstone.” Gadis itu menundukkan kepalanya sedikit, lalu kembali duduk tegak. “Reputasi Moonstone hancur karena Serena. Jadi, saya secara pribadi meminta maaf kepada semua orang dengan hati yang tulus.”

Suasana lantas berubah hening. Orang-orang terdiam mendengar permintaan maaf mengejutkan seorang Serena.

Beberapa orang berpikir langit akan runtuh. Serena berhasil membuat perubahan besar di depan semua orang.

Para tamu saling berbisik, “Apa kau juga mendengarnya tadi? Gadis itu sungguh berkata meminta maaf?”

“Aku juga mendengarnya. Serena Moonstone baru saja menundukkan kepalanya di depan semua orang dan meminta maaf!”

“Hei, mengapa kalian mudah tertipu? Entah siasat buruk apalagi yang akan direncanakan otak busuknya nanti.” Salah seorang tamu lain yang punya kebencian tinggi menimpali kesal. “Sekali busuk dan murahan, selamanya akan tetap seperti itu!”

Para tamu akhirnya terpecah menjadi dua kubu berlawanan.

Serena merasakan remasan di bahu, sontak mendongak. Ada senyuman manis menghiasi wajah cantiknya saat melihat siapa sosok yang tengah memegang bahunya.

“Ibu?” panggilnya ramah.

Guina menatapnya aneh.

Tampak berbeda dari Serena yang bersikap tenang. Guina harus mengakui bahwa kali ini, gadis itulah pemenangnya. Serena menerima keramahan semua orang yang memuji kebaikan hatinya dengan wajah palsu mereka. Lebih baik seperti ini, daripada tidak sama sekali.

Walau belum semuanya terpengaruhi oleh permintaan maafnya. Setidaknya dia mendapatkan beberapa. Serena bahkan mulai menerima teman setelah memilah-milah, sedangkan Guina sudah pergi ke pojok menemui Jeremy.

Guina menarik lengan suaminya tanpa aba-aba. Berjalan pergi, menjauhi para tamu. Guina segera bertanya cemas, “Kau melihat tingkah putrimu barusan, 'kan?”

“Ya. Lalu?”

“Haruskah kita memikirkan kembali tentang pernikahannya bersama Tuan Tua Gerk?”

Jeremy mendengus dingin, memutar gelas sampanye di tangannya sambil berpikir.

Sesaat kemudian pria paruh baya itu berkata dengan acuh tak acuh, “Kalau dia sedikit cerdas, memang kenapa? Toh nantinya memang dia akan menikah juga. Daripada dengan orang lain, lebih baik dia menikah dengan Tuan Tua Gerk yang lebih membawa keuntungan.”

Di sisi lain, Serena sibuk berbincang dengan orang-orang.

Dia perlu menarik sejumlah sekutu lebih awal. Beruntungnya, Serena sekarang lebih pandai berbicara. Sehingga tidak sulit untuk mencari teman baru. Semuanya baik-baik saja sampai seseorang datang membelah keramaian.

“Nona Serena.”

Pemuda itu tinggi dan lurus, dengan sepasang bahu lebar kokoh. Pria tersebut adalah Zachery Waverly, target pria kedua yang harus dia luluhkan.

Serena tidak tahu kenapa Zachery tiba-tiba mendekatinya. Karena seharusnya, mereka tidak memiliki ikatan apa pun dan Zac masih seorang pria penggila senjata.

Alasan apa yang membuat Zac mendekatinya?

Serena berpikir itu karena perubahan yang dia buat sebelumnya. Dia tersenyum cerah menyambut Zachery, sedangkan orang lain justru berusaha menjaga jarak. Mengingat setiap kali Zachery muncul, selalu diikuti masalah, orang-orang berpikir lebih baik menghindari konflik.

Di negara mereka, siapa yang tidak tahu kelainan hobi penerus Waverly itu?

Serena mempertahankan senyumannya yang ramah. Sesampainya Zachery di depannya, Serena hendak berkata sopan, “Tuan Muda, anda—” kalimatnya terpotong di tengah jalan.

Zachery berbisik lembut, tapi nada suaranya dingin dan kejam. Surai cokelatnya yang berkilauan, jatuh hingga hampir menyentuh sudut mata Serena. Menimbulkan sensasi geli yang aneh.

“Mengapa kamu tidak mati setelah diracuni? Bahkan masih jatuh dari anak tangga. Manusia biasa seharusnya mati, tapi kau tidak,” wajahnya semakin dekat. “Siapa kau?”

Jantung Serena berdebar tak karuan sejak mereka berdekatan. Dan sekarang, jantungnya mencelos setelah mendengar perkataan Zachery. Itu dia ...?

Orang yang meracuninya adalah Zac? Padahal Serena menduga bahwa Lionel adalah dalangnya! Tapi kenapa harus Zac?! Mereka bahkan belum pernah berinteraksi di kehidupan ini!

Bab terkait

  • Kesempatan Kedua : Dimanja Tiga Penguasa   #7. Pria Gila yang Ditakuti

    “Tuan muda?” Suara kecil Serena bergetar. Tubuhnya terasa dingin kala teringat pengalaman berlari membelah hutan sendirian, dengan nyawa terancam. “Saya tidak tahu kenapa tuan muda berkata demikian, jika anda memiliki dendam terhadap saya, tolong jelaskan.” Serena berusaha menjaga ketenangan diri. Melawan reaksi alami tubuhnya. “Wah ...” Wajah tampan Zachery agak miring ke kiri. Senyuman indahnya terlihat mengerikan bagi gadis di kursi roda itu. “Setahuku, Serena Moonstone bukan manusia rasional. Dia sering marah-marah karena tak berotak.” Suara pria tersebut begitu rendah. Ada intimidasi penuh serta kebencian tak kasat mata. “Tapi, setelah aku lihat lebih dekat, tampaknya berbeda.” Alih-alih marah setelah diejek, Serena tetap diam. Sedangkan orang-orang bergeser ke tepian, seolah enggan terlibat dengan pria itu. Siapa yang tidak kenal namanya? Bahkan anak-anak pun akan takut ketika mendengar nama Zac karena hobinya yang aneh. Untuk sesaat, kondisi aula bagian tengah cukup

    Terakhir Diperbarui : 2024-08-19
  • Kesempatan Kedua : Dimanja Tiga Penguasa   #8. Berhadapan dengan Musuh

    “Jika aku menculikmu sekarang, mungkin hanya Roderick yang khawatir.” Kalimat Zachery menandakan bahwa pria itu tidak mau dibodohi dengan permainan murahan. Kesabaran Zac yang tipis bisa meledak kapan saja. Pada akhirnya, Serena pun memilih berhenti mempermainkan pria tersebut. “Anda sungguh tidak sabar,” ujar gadis itu. “Kalau begitu, saya akan mengutarakan dulu padamu apa yang saya inginkan.” Gadis itu kemudian mengulurkan lengan kirinya yang ramping pada Zac. “Ayo bekerja sama. Bebaskan saya dari perjodohan itu.” Serena berucap. “Lalu, saya akan membantu mendapatkan apa yang Anda inginkan. Dalam waktu enam bulan.” Zac tampak meremehkan gadis itu. “Seakan-akan kau tahu apa yang sebenarnya kuinginkan,” cemoohnya. “Saya bisa tahu kelompok rahasia Anda. Apakah Anda benar-benar yakin saya tidak tahu ambisi Anda, Tuan Waverly?” Keduanya saling bersitatap, seakan berusaha mengorek informasi dari tatapan satu sama lain. “Kau menawarkan kerja sama, bahkan setelah tahu aku berus

    Terakhir Diperbarui : 2024-08-26
  • Kesempatan Kedua : Dimanja Tiga Penguasa   #9. Penolakan Roderick

    Penolakan besar tampak jelas dari wajah tampan Roderick. Pria itu mengerutkan kening cukup dalam. Adiknya itu memang baru saja membuktikan padanya bahwa ia bisa mengurus para pengkhianat sendiri tanpa membuat keributan. Seakan mengatakan pada Roderick bahwa Serena sudah berubah, sekaligus memiliki tekad untuk tumbuh. Akan tetapi, permintaannya barusan terlalu absurd. “Apa kau sedang menggali lubang kematianmu sendiri, hm?” tanya pria itu. “Kau tidak tahu seberapa buruk tabiat Zachery?” Serena sudah menduga reaksi sang kakak. Roderick pasti akan menolak pengajuannya tersebut. Namun, dia tetap harus bertunangan dengan Zachery. Bagaimana pun caranya, dia harus menghindari pernikahan dengan Tuan Tua Gerk! “Kak, aku sudah melakukan kesepakatan khusus dengannya,” ujar Serena, berusaha membujuk dengan lembut. “Kakak mengatakan kalau akan mengurus Ibu dan Ayah, tapi aku sendiri sadar kalau itu akan menyulitkan Kakak.” Gadis itu kemudian menambahkan, “Jangan khawatir. Kami memiliki a

    Terakhir Diperbarui : 2024-08-26
  • Kesempatan Kedua : Dimanja Tiga Penguasa   #10. Perasaan sang Kakak

    “Katakan padaku, apa maksud Zachery mengirimkan surat menjijikkan ini?” Serena tampak bingung. Ia bahkan belum pulih dari keterkejutannya akibat kemunculan kakaknya yang “sibuk” seminggu belakangan ini. “Kak–” “Bukankah aku sudah mengatakan padamu dengan jelas terakhir kali?” Suara Roderick yang serak dan dalam memotong ucapan Serena. Alis tebalnya mengerut, tampak marah. “Jangan Zac. Kenapa kau tidak menurut?” Serena menghela napas. “Kak, hanya Zac yang mampu,” ucapnya kemudian. “Lagi pula, aku dan dia bukannya terlibat hubungan romantis sungguhan. Ini hanya kesepakatan saja.” Serena mendongak, menatap Roderick sekali lagi. Pria ini ... tidak bisa dibujuk sama sekali. Meski kakaknya terlihat sangat rasional, sifat keras kepalanya benar-benar sulit dihadapi. Roderick meyakini dengan kuat apa yang ia percayai. Belum lagi tempramennya yang sensitif seperti seekor kucing. Serena tidak ingat kalau Roderick ternyata seprotektif ini. Perubahannya menarik, tapi juga sedikit menyulitk

    Terakhir Diperbarui : 2024-08-26
  • Kesempatan Kedua : Dimanja Tiga Penguasa   #11. Keinginan Serena

    Suara Roderick terdengar panik, sekalipun gerak tubuhnya tampak kikuk. Pria itu jelas-jelas tampak peduli. “Berhenti menangis. Maafkan aku.” Perlahan, Roderick mengusap air mata di pipi Serena. Namun, hal itu justru membuat tangisan Serena makin kencang. Di kehidupan pertamanya, Serena meninggal sendirian. Kosong, sepi, dan menyakitkan, setelah melewati pelecehan, perbudakan, hingga menjadi kelinci percobaan. Bahkan oleh Roderick sendiri. Memang benar, bahwa semuanya karena salahnya. Ia yang berdosa. Tapi, bukankah dia juga manusia biasa? Serena di kehidupan sebelumnya melakukan semua itu karena ia menginginkan kasih sayang–di saat yang sama, terjebak permainan Cecillia, yang sempurna dan memiliki perhatian semua orang. Seandainya saja, dia tumbuh di keluarga aslinya, Seraphine, yang penuh kasih sayang. Mungkinkah dia bisa tumbuh menjadi gadis biasa yang dicintai keluarganya? “Serena, aku,” Roderick menatap iba pada Serena yang masih menangis. Adik perempuannya ini memiliki tu

    Terakhir Diperbarui : 2024-09-02
  • Kesempatan Kedua : Dimanja Tiga Penguasa   #12. Pertemuan dengan Zac

    “Bagaimana bisa begitu? Istrimu akan cemburu.” “Aku tidak ingin menikah,” sahut Roderick tanpa pikir panjang. Pria tersebut mengulurkan tangannya, membelai rambut halus Serena. “Di luaran sana, para pria juga tidak akan tahan menghadapi sikapmu yang keras kepala, kekanakan, dan sembrono.” “... Hanya aku yang bisa memahamimu. Kita bisa hidup bersama setelah aku menjadi kepala keluarga.” Serena kebingungan, apa maksudnya? Roderick tidak benar-benar ingin mengikatnya di sisinya hingga mati, 'kan? *** “Nona? Anda baik-baik saja?” Iris bertanya khawatir dari belakang kursi roda. Serena terbangun dari linglung. “Oh? Aku tidak apa-apa. Ayah dan Ibu apakah sudah berangkat?” “Seharusnya sudah, Nona. Baru saja saya melihat rombongan pelayan pergi ke arah pintu utama mansion.” “Lalu kakakku?” “Beliau masih bekerja di kantor. Karena tuan dan nyonya pergi, pekerjaan akan dilimpahkan pada tuan muda. Jadi beliau berangkat pagi buta, kemungkinan baru pulang saat malam tiba.” Serena an

    Terakhir Diperbarui : 2024-09-02
  • Kesempatan Kedua : Dimanja Tiga Penguasa   #13. Tekad Kuat

    “Ingin membunuhku?” Serena bertanya dengan nada percaya diri. Kesombongan terpampang jelas pada paras cantiknya. Kendati demikian, hanya dia dan Tuhan yang tahu bahwa hatinya cemas saat ini.Zachery semakin terusik atas sikap biasa Serena. Mengapa perempuan itu tidak menangis? Dan mengapa Serena tidak terlihat ketakutan meski nyawanya terancam? Sebab, Serena telah melewati satu kematian serta banyak penderitaan. Dan gadis itu memahami satu hal, menangis atau merengek, tidak akan membuahkan apapun. Hanya dengan bertindak, tenang, dan cerdas. Dia bisa mendapatkan apa yang dia impikan. Lantas gadis Moonstone tersebut menyentuh ujung pistol Zachery. Perlahan membawanya turun. “Tuan muda, bukankah aku sudah bilang di pesta malam itu? Aku bersedia berdiri di sisimu, asalkan kau bersedia menjadi tunangan palsuku.” “Kau tahu? Mulut manusia adalah benda paling busuk di dunia.” Serena juga tahu. Karena di kehidupan pertamanya, dia pun tertipu oleh hasutan teman baiknya, Lili. Yang ternyat

    Terakhir Diperbarui : 2024-09-02
  • Kesempatan Kedua : Dimanja Tiga Penguasa   #14. Strategi Serena

    Serena berjalan menelusuri lantai tertinggi. Melalui bantuan kartu hitam milik Roderick, dia mendapatkan tempat duduk pelanggan istimewa. Alhasil, gadis itu kini duduk nyaman di kursi mewah sendirian. Pemandu lelang, mulai berbicara memperkenalkan benda-benda aneh yang ternyata diminati banyak orang. Serena tersedak air liurnya. Terbelalak kaget saat sebuah lukisan jelek berisi orang telanjang, terjual dengan harga ratusan ribu euro.“Untuk apa dia membeli benda jelek seperti itu? Membuang-buang uang.” Protesnya. Uang sakunya selama sebulan, sama dengan harga lukisan jelek tersebut.Serena menikmati sesi lelang dengan sabar. Cukup lama untuk menuju babak terakhir. Dan akhirnya, sesuatu yang dia tunggu akhirnya muncul. Seorang budak perempuan. Benda yang dimaksud Serena ialah gadis tersebut. Berasal dari wilayah timur yang terkenal dengan herbal. Anak ini berkaitan dengan budak di penjara nomor 500. Tadi, dia berkata pada Zachery bahwa anak itu mungkin bisa menyembuhkan racun di t

    Terakhir Diperbarui : 2024-09-02

Bab terbaru

  • Kesempatan Kedua : Dimanja Tiga Penguasa   #30. Membuat Zac Percaya

    Serena menarik nafas penat, “Pikirkanlah lagi. Seandainya hanya pertemanan biasa, mengapa Tuan Gerk tidak memiliki perempuannya sendiri saat usianya sudah cukup di masa lalu?” Zachery terdiam. Kehilangan kata-kata untuk menjawab. Melihat bahwa celah baru saja terbuka. Serena semakin mempersempit kesempatan pria itu untuk menyangkal. “Ibumu sangat cantik, pria manapun tidak akan bisa menolak senyumannya. Aku berpikir, kemungkinan besar pamanmu terpikat. Saling mengembangkan perasaan satu sama lain dan berjanji akan menikah. Tepat setelah ibumu dibebaskan begitu melahirkan. Tetapi, naas, ayahmu ingkar janji. Dan masih menahan ibumu.”“ ... Lalu, ibumu berakhir membencimu karena kamu sangat mirip seperti ayahmu, sekaligus penyebab ibumu semakin tidak bisa melarikan diri. Karena itulah, pamanmu yang merawatmu sebab berpikir ada darah ibumu ditubuhmu. Ini akan masuk akal apabila dikaitkan dengan perubahan tiba-tiba sifat pamanmu setelah ibumu meninggal. Alasannya pasti karena pamanmu mer

  • Kesempatan Kedua : Dimanja Tiga Penguasa   #29. Penyelidikan Serena

    “Bisakah aku melihat potret ibumu?” Sepasang alis tebal Zachery terangkat ke atas. Terlihat bingung karena permintaan tiba-tiba yang tak terduga sama sekali. Meskipun begitu, Zachery tidak keberatan kemudian merogoh saku celananya. Meraih benda pipih hitam lalu menunjukkan satu foto seorang perempuan muda sedang tersenyum. “Ini Ibukku. Ada apa?” “Aku ingin melihatnya saja. Ada sesuatu yang menggangguku dan ini berkaitan dengan mendiang ibumu.” Sosok perempuan dibalik layar ponsel tersebut sangat cantik. Memiliki kesan lembut dan baik hati. Senyumannya sangat polos, seperti cahaya putih yang bersih di antara dunia yang kotor. ‘Ah ... sekarang aku tahu mengapa Tuan Waverly terpikat. Ibunya terlalu cantik dan bersih.’ Walau fotonya diambil melalui kamera sederhana, sedikit buram. Tetapi kecantikannya tidak tertutupi sama sekali. Melalui foto itu, Serena berhasil menemukan sebuah jawaban. Tentang alasan kenapa Zachery di kehidupan pertama, sangat mudah terpikat oleh Cecillia. Al

  • Kesempatan Kedua : Dimanja Tiga Penguasa   #28. Tuan Tua Gerk Datang

    Dua hari sesudahnya, mansion Moonstone kedatangan tamu penting tak terduga. Yakni Tuan Gerk, paman dari Zachery Waverly. Serena tidak menyangka pria tersebut akan datang dengan sendirinya. Pasti karena rencana pernikahan tiba-tiba dibatalkan.Iris berkata cemas dari tepi ranjang, “Nona, saya takut sesuatu terjadi kepada anda. Tuan Gerk ... beliau terlihat menakutkan!”“Benarkah? Seperti apa dia? Sudah tua?” Serangnya dengan pertanyaan bertubi-tubi. Di kehidupan pertama, dia belum pernah melihat Tuan Gerk di dunia sosial. “Pria itu tidak pernah menunjukkan wajahnya.” Di tepi ranjang lain, Eve mencolek bahu Serena. Membuat gadis bersurai tinta itu terpaksa menoleh, “Apa?”«Beliau mirip dengan tuan muda Zac. Belum terlalu tua, beliau sangat tampan.»Iris diam-diam ikut mencuri pandang tulisan Eve. Berkata menimpali, “Benar ... rumor menyebutnya pria tua gendut dan jelek. Tapi beliau berbeda, usianya mungkin empat puluh tahunan.” Serena terkejut mendengar informasi mengejutkan tersebut.

  • Kesempatan Kedua : Dimanja Tiga Penguasa   #27. Bersama Roderick

    Serena mengetuk pintu kamar Roderick. Memanggil setengah berseru, “Kakak!” “Masuklah.” Perempuan itu lantas membuka pintu setelah diberi izin. Langsung melenggang masuk. Pupil cerahnya memindai kamar minimalis Roderick. Seluruh barang tertata rapi dan simetris. Ini pertama kalinya Serena masuk, dia dibuat takjub. “Ada apa kemari malam-malam?” Roderick menutup laptopnya, berhenti bekerja. Lalu menaruhnya ke atas meja. “Duduklah.” Serena mengangguk. Berjalan kecil ke sisi Roderick, kemudian duduk di sana. Dia mengulurkan selembar kertas berisi catatan bahan yang diperlukan oleh Eve. “Kakak, aku ingin meminta tolong untuk mencarikan bahan-bahan ini.” “Ini dari Eve?” tanya Roderick skeptis. Tidak menyangka pelayan bisu yang dibawa adiknya ternyata berbakat. “Aku akan meminta Varrel mengurusnya besok,” ujarnya sembari melepas kacamata. “Ada satu lagi. Apakah kita jadi berlibur bersama besok minggu?” Gadis itu cemberut, bersandar pada punggung sofa. “Ibu bahkan memarahiku karena melo

  • Kesempatan Kedua : Dimanja Tiga Penguasa   #26. Bertahan

    Eve menunjukkan buku tulisnya. «Saya bisa. Namun saya perlu mencatat bahannya dulu. Malam nanti sudah selesai.»Serena tertawa riang, pergi memeluk Eve dengan senang. “Oke! Aku akan menunggunya.” Terkesiap karena dipeluk secara mendadak, Eve hampir jatuh ke samping. Gadis 16 tahunan itu terlihat sedang dilanda krisis rumit. Ekspresi wajahnya tampak tidak nyaman dan bingung. Serena tidak terlalu memperhatikan perubahan lain dari Eve. Terlanjur berjalan pergi lebih awal. Meskipun dia berhasil. Eve belum bisa dipercaya sepenuhnya. Oleh sebab itu, dia perlu mencari ahli herbal lainnya. Untuk memeriksa hasil racikan Eve nanti. “Seharusnya dia tidak berani berbuat macam-macam setelah tahu pelayannya bersama Zac,” gumam Serena, kaki jenjangnya masih berjalan seraya melompat kecil memasuki mansion. “Huft, masalah lain sudah diselesaikan! Sekarang saatnya menyempurnakan rencana bisnisku!” “Serena!” Sang empu berhenti sesaat kemudian. Punggungnya refleks berdiri tegak. Dia berbalik, men

  • Kesempatan Kedua : Dimanja Tiga Penguasa   #25. Kerjasama Eve

    «Nona mencari saya? Ada sesuatu yang bisa saya bantu?» Tulisan tangan baru saja Eve tunjukkan kepada Serena. Mengingat Eve masih bisu, dia menggunakan tulisan untuk berkomunikasi. Serena membacanya sebentar, lalu berkata ramah, “Benar sekali.” Ia berhenti, kemudian mendorong secangkir teh. “Duduklah dulu, minum teh ini. Katakan padaku apakah enak atau tidak? Aku meraciknya sendiri.” Eve melirik was-was terhadap Serena. Sebelum akhirnya bersedia duduk bersama majikannya. Lantas meminum teh, setelahnya menulis pujian untuk rasanya. Serena mengamati gerakan halus Eve. Untuk ukuran seorang budak, gerakannya halus dan rapi. Tidak seperti orang biasa. Beberapa hal bisa dipalsukan. Namun, bawaan alami gerak tubuh cukup sulit direkayasa. Sehingga Serena bisa menebak status Eve secara kasar. ‘Kemungkinan besar, dia pernah menjadi nona muda dari wilayah timur.’ Pikir Serena. Gadis itu tidak terburu-buru menangkap Eve. Melainkan dengan sengaja melambat. Cara ini bisa membuat lawan t

  • Kesempatan Kedua : Dimanja Tiga Penguasa   #24. Rencana Kehamilan Palsu

    “Putriku, kondisimu baik-baik saja?” Guina bertanya perhatian usai membuka pintu kamar. Ditangannya terdapat nampan makanan, “Ibu membawakanmu camilan ringan.” Iris menahan diri dari keterkejutan, sedangkan Eve berjalan mundur menjauh. Membiarkan Guina lebih leluasa. Keduanya pergi dari ruangan setelah diberi aba-aba. “Ibu? Seharusnya anda beristirahat.” Serena bangun dari posisi tidur. Ia tidak menyangka, seorang Guina membawa nampan makanan. Dan itu untuknya. Sore tadi, Zac mengejutkan seluruh mansion begitu beritanya tersebar. Kepala pelayan paling terkejut. Sebab Serena saat keluar, biasanya izin hanya untuk bermain-main. Terpaksa, Serena berbohong. Berkata bahwa setiap dia izin pamit ke kantor Roderick. Sebetulnya dia bukannya ingin menemani kakaknya, melainkan bertemu Zac yang diam-diam datang juga ke sana untuk menghabiskan waktu tanpa menyebabkan rumor. Roderick pun turut memberikan kesaksian palsu bersama Varrel. Lalu Jeremy terlibat percakapan pribadi bersama Z

  • Kesempatan Kedua : Dimanja Tiga Penguasa   #23. Sandiwara

    “Ternyata ada tamu terhomat sore ini.”Serena terhenti dari keinginan menjawab tawaran Zachery. Ia menoleh ke belakang, menemukan Guina bersama Jeremy datang menghampiri. ‘Waktunya dimulai.’ Sebelum Guina berhasil berjalan lebih dekat, Serena segera saja menarik lengan Zac. Lalu berkata sumringah, “Mahkota bunganya sangat cantik, terima kasih kakak Zac!” Zachery menyipitkan matanya. Berpikir, perubahan Serena harus diacungi jempol. Karena perempuan itu sudah berakting, dia pun tidak akan sungkan lagi. Dengan menarik kursi roda Serena lebih dekat. Keduanya hanya berjarak tipis, hampir memberikan ilusi dua orang berciuman. Dikejauhan, Guina sontak berhenti berjalan. Seluruh saraf ototnya terasa kaku. Begitu pula dengan Jeremy. Pasangan paruh baya tersebut terkejut.Meski kepala pelayan sudah memberikan informasi, tetapi melihatnya secara langsung tetaplah berbeda. Senyuman Guina mulai retak, apalagi saat menerima pandangan tak terbaca dari Zachery. “Suamiku, masalah sekarang sudah k

  • Kesempatan Kedua : Dimanja Tiga Penguasa   #22 Dua Pria

    Tiba-tiba kakak angkat Serena itu mencengkeram erat kemeja putih Zac dan menariknya agar menyingkir, sementara lengan tangannya yang kokoh kemudian melingkar di pinggang Serena, menarik gadis itu tanpa kesulitan.“Jauhkan tangan kotormu dari adikku,” desis Roderick. Iris merahnya tampak mengancam.Baru saat itu, Zachery mengangkat kedua tangannya, menyerah. Bibir tebalnya menipis, menjadi senyuman ramah. “Kenapa harus marah-marah, Rick? Bukankah aku pasangan yang cocok untuk adikmu?” “Dalam mimpimu!” sembur Roderick penuh permusuhan. Pria itu memeluk Serena dengan protektif. “Keluar sekarang!” “Baiklah, baiklah.” Zachery mengaku kalah. Ia beranjak pergi meninggalkan kamar, bersama Varrel. Keduanya berakhir menunggu di sofa ruang tamu. Sementara itu, di dalam kamar, Serena diturunkan ke atas ranjang. Gadis itu masih diam, tidak berani bicara. Ia membiarkan Roderick menetralkan emosinya terlebih dahulu. Baru setelah raut wajah sang kakak terlihat lebih bagus, Serena berucap, “Kaka

DMCA.com Protection Status