Saat semua orang beranjak menuju ruang makan, Rakhan menahan langkah Mentari, meminta wanita itu untuk tetap tinggal sejenak. Ada sesuatu yang mengganjal dalam pikirannya, sesuatu yang selama ini ditahannya karena ego yang tertanam begitu dalam sejak lama. Namun kini, di tengah keheningan yang mengisi ruang di antara mereka, Rakhan merasa sudah waktunya untuk membuka belenggu itu, mengalirkan perasaannya yang selama ini tertahan.
Rakhan menggenggam tangan Mentari, kali ini dengan kelembutan yang belum pernah ditunjukkannya sebelumnya. Ia menatap wajah istrinya dengan seksama, mencari ketenangan yang perlahan mulai terlihat di sana. Senyum lembut Mentari tak dapat disembunyikan, meski ada sejumput kekhawatiran yang masih bersembunyi di sudut matanya.
“Mulai malam ini, aku akan menemanimu tidur,” ujar Rakhan dengan hati-hati, suaranya nyaris seperti b
Kadang, untuk menjalani hidup sesuai keinginan diperlukan perjuangan besar dan kerja sama dari pasangan. Meskipun satu per satu masalah yang mendera Rakhan dan Mentari bisa dilewati, tetapi masih ada karang terjal yang mencoba menghalau laju bahtera rumah tangga mereka. Bersantai dari setiap pemikiran sulit tentang kenyataan dan rumitnya sebuah hubungan, malam itu Rakhan berusaha untuk merealisasikan salah satu bagian penting kerja samanya dengan Mentari, mempererat ikatan perasaannya dengan sang istri.“Kau tahu, Sayang. Ternyata kau sangat berani kemarin. Aku bangga kepadamu.” Rakhan melingkarkan tangannya ke pinggang Mentari dari belakang, lalu mengecup lembut pipi wanita itu. Ia kemudian sedikit menempelkan pipinya ke samping pipi Mentari dan melihat wajah polos istrinya melalui cermin rias yang menggantung di dinding di hadapan mereka.Ai
Sengatan rasa sakit menembus hingga ke jantung Mentari saat melihat Rakhan berpelukan dengan Annika. Serangan keterkejutan membuat wanita itu membeku selama beberapa waktu hingga Rakhan akhirnya menyadari bahwa sang istri tengah melihatnya dari celah pintu yang terbuka lebar.“Tari ....” Rakhan segera melepas pelukannya dari Annika. Namun, ia terlambat untuk bisa mengejar Mentari.Mentari berlari menuju lift dan tak menghiraukan panggilan Ani yang berusaha menahannya, begitupun dengan panggilan Rakhan sesaat kemudian. Pintu lift sudah tertutup rapat dan bergerak turun ketika Rakhan tiba di depan alat transportasi vertikal itu. Tiba di lobi, Mentari bergegas keluar. Meskipun tidak dengan berlari, tetapi langkah cepat wanita sempat menarik perhatian beberapa staf termasuk Sam yang menunggunya di sana. Sam beranjak dari zona santainya segera sete
Barry mengembus napas. Otot-otot di wajahnya mengencang hingga air mukanya tampak tegang, begitupun dengan rahangnya yang mengeras. Emosi kuat terbentuk dan diekspresikan dalam suaranya yang dalam dan tertahan.“Kau bicara apa? Aku tidak akan mengemis minta diakui sebagai ayah kepada Mentari. Aku cukup tahu diri untuk tidak memintanya. Kau salah mencari istrimu di sini.”Rakhan mengangkat sebelah ujung bibirnya tersenyum sinis. “Beberapa karyawanku menjadi saksi penculikan Mentari. Mereka pun melihat mobilmu, bahkan ada yang hafal dengan nomor polisi mobilmu, Pak Tua.”“Mentari diculik? Penculiknya memakai mobilku?” Irama keterkejutan meluncur dari bibir Barry.“Kau jangan menolak lupa, Barry Haryanto. Kejadiannya baru satu jam yang lalu ....” Rakhan melirik arlojinya,
Erlangga mengangguk-angguk. “Bisa jadi. Kita bicarakan masalah ini bersama Ayah. Aku tunggu kau di bawah.”“Oke. aku akan segera turun.”Rakhan benar-benar bekerja keras untuk menemukan Mentari. Selain menunggu kabar dari Anton, sejak pagi Rakhan dan Erlangga berkeliling kota berusaha menemukan mobil dengan ciri-ciri yang disebutkan Sam. Namun, mereka belum menemukan mobil tersebut sampai hari menjelang gelap. Diselimuti rasa marah, kecewa, dan juga cemas yang luar biasa, ide untuk mendatangi rumah Barry sekali lagi sempat terlintas di kepala Rakhan.Teeeet! Rakhan membunyikan klakson panjang ketika tiba-tiba mobil yang dikendarainya hampir menabrak pejalan kaki yang sedang berjalan di atas
“Kau boleh mengatakan apa saja tentangnya, Arya. Aku tetap berpikir dia lebih baik darimu meskipun dia tidak menjadikanku satu-satunya wanita dalam hidupnya.” Mentari menunjukkan reaksi yang bertolak belakang dari harapan Arya.Bisikan amarah mulai menggoda Arya untuk mempertegas tekadnya. Arya melayangkan tatapan tajamnya pada Mentari. “Dasar bodoh!”“Aku memang bodoh memilihnya, tapi aku akan menjadi lebih bodoh jika mau terus bersamamu,” bantah Mentari, “kau orang paling munafik yang pernah kukenal, Arya. Kau menerima tawaran papaku, tapi kau juga tidak menolak kuajak lari. Kau hanya menjadikanku alat untuk meraup keuntungan.”“Itu tidak benar, Tari.”“Tidak benar?” Mentari tersenyum mencemooh sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Dua milyar bukan uang yang sedikit. Kau menerima uang itu dari papaku dengan tangan terbuka. Kau memanfaatku.”“Aku mencintaimu, Tari. Aku melakukannya agar kita punya bekal saat kita kabur.”“Aku tidak melihatnya begitu. Kenyataannya, sekarang kau telah m
“Oke.” Rakhan mengangguk. Ia lalu menatap Arya lagi dengan mata sedikit menyipit dan alis yang berkerut. “Yang pertama, kau akan dikenai pasal pemalsuan plat kendaraan bermotor. Kedua, pasal penculikan yang disertai kekerasan. Ketiga, pasal penggelapan. Keempat, pasal perbuatan tidak menyenangkan. Kau siap dengan tuntutan pasal berlapis itu?”Arya tersenyum mencemooh. “Kenapa aku harus tidak siap?”Sekarang giliran Rakhan yang melempar senyuman. “Aku senang kau siap dengan semua itu. Papaku dan orang-orangnya di rutan pasti senang kedatangan tamu istimewa sepertimu.”Wajah Arya mendadak muram. Ia terlalu bersemangat mengatakan siap, tetapi ia lupa ia akan berhadapan dengan siapa seandainya ia tidak merelakan egonya. Di dalam penjara sana, Lucian bagai si raja hutan yang punya kawanan. Sedangkan dirinya, hanya sendirian. Arya belum siap mati sia-sia di dalam sana. Ia tahu reputasi Lucian. Lucian hanya sedikit mengalah karena Mentari. Kini, Lucian tidak punya alasan lagi untuk tidak men
Mentari menutup album foto kenangan bersampul cokelat yang sudah tampak usang. Duduk di hadapannya, Lucian tengah sibuk bercengkerama dengan laptop. Entah apa yang sedang dikerjakan pria baya itu, tapi Lucian terlihat sangat serius. Tidak berniat mengganggu, tetapi rasa penasaran yang menggerogoti dirinya membuatnya melontarkan tanya.“Bagaimana Papa bisa mengenal Papa Barry dan Ayah Handoko?”Gerakan jari-jari Lucian yang menekan tombol-tombol keyboard berhenti seketika. Ia mengembus napas dan sesaat kemudian menutup layar laptopnya. Lucian memandangi Mentari selama beberapa detik.“Cerita itu kelam dan gelap. Kau tidak harus mengetahui semua cerita masa lalu, Tari. Cukup kau tahu kalau papa kandungm
Gemuruh emosi mendadak memenuhi dada dan membuatnya sesak napas. Berusaha tetap tenang, Mentari melontarkan tanya tanpa emosi berlebihan, “Kau masih berhubungan dengannya?”“Ada pekerjaan yang mengharuskan aku tetap terhubung dengannya.” Rakhan menjelaskan dengan hati-hati.Sementara itu, ponsel Rakhan terus berdering membuat telinga Mentari tidak nyaman. Mentari mengembus napas. Wanita itu tidak bisa menyembunyikan kekesalannya hingga ia hanya diam.“Tari ....”Mentari mengembus napas. Mencoba untuk bersikap dewasa memang tidak mudah tapi perlu dicoba. “Angkat saja.”“Kau yakin?”“Iya.”