Home / Romansa / Jebakan Cinta Sang Idola / Chapter 1 : Mencoba Bangkit Setelah Terpuruk

Share

Jebakan Cinta Sang Idola
Jebakan Cinta Sang Idola
Author: Mommy_Ay

Chapter 1 : Mencoba Bangkit Setelah Terpuruk

Author: Mommy_Ay
last update Last Updated: 2025-02-03 09:08:49

"Kami tidak bisa mempertahankan kamu lagi, Hazel."

Kata-kata itu menghantam Hazel seperti petir di siang bolong.

"Apa maksud Anda?" suaranya serak, tapi ia berusaha tetap tegar.

Mr. Graham menghela napas, menyandarkan tubuhnya ke kursi.

"Zhe Entertainment tidak bisa lagi menoleransi tindakan tidak profesional yang kamu lakukan."

Hazel mengerutkan kening, kebingungan.

"Tidak profesional?" ulangnya. "Apa memangnya yang aku lakukan?"

Ruangan terasa semakin sempit. Tatapan beberapa orang yang hadir dalam pertemuan itu terasa menusuk, namun tidak ada satu pun yang berani menatap matanya secara langsung. Mereka hanya menunduk, seakan tidak ingin terlibat.

"Banyak keluhan yang masuk terkait cara kerja kamu. Beberapa artis mengaku kamu menyulitkan proses produksi, bahkan tidak memberikan dukungan yang mereka butuhkan," lanjut Mr. Graham.

Hazel terbelalak.

"Itu tidak masuk akal! Aku bekerja lebih keras dari siapa pun di sini!"

"Kami sudah mempertimbangkan semuanya dengan matang. Keputusan ini final, Hazel."

Tangan Hazel mengepal di sisi tubuhnya. Ada sesuatu yang janggal. Semua tuduhan itu tidak berdasar. Tidak ada masalah dalam pekerjaannya, tidak ada konflik besar yang ia ciptakan. Tapi kenapa—

Pintu ruangan tiba-tiba terbuka.

Seseorang masuk dengan langkah santai, senyum tipis tersungging di bibirnya.

Kevin.

Hazel membeku. Dadanya sesak melihat pria itu berdiri di ambang pintu dengan ekspresi puas.

"Oh, apakah aku terlambat?" ucap Kevin dengan nada dibuat-buat.

Hazel menatapnya dengan tajam, rahangnya mengeras.

"Ini ulahmu, kan?"

Kevin tertawa kecil, melangkah lebih dekat.

"Jangan menatapku seperti itu, Hazel. Aku hanya memberikan sedikit ‘bantuan’ agar semuanya berjalan lebih lancar."

"Kau melakukannya karena aku menolakmu?" suara Hazel rendah, nyaris bergetar menahan emosi.

Sebagai manajer artis yang sukses dan ambisius di Zhe Entertaiment. Hazel memiliki prinsip teguh untuk menjaga profesionalitas dan selalu menolak ajakan hubungan intim dengan artis yang dikelolanya. Namun ia tidak pernah menyangka, penolakan itu justru berakibat fatal.

Kevin mencondongkan tubuhnya sedikit, suaranya rendah dan tajam.

"Aku hanya memastikan kau belajar satu hal penting, Hazel. Dunia ini bukan tempat bagi orang yang sok suci sepertimu."

Hazel mengepalkan tangannya semakin erat.

"Aku bersumpah, Kevin. Aku akan membalas ini."

Kevin hanya tertawa sinis, seolah ancaman Hazel tidak lebih dari angin lalu. Ia mendekat, membiarkan aroma parfumnya yang mahal memenuhi ruang di antara mereka.

"Kau sudah jatuh, Hazel. Kau hanya belum menyadarinya."

Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Kevin melirik sekilas sebelum kembali tersenyum tipis.

"Sepertinya ini waktu yang tepat untuk memberi tahu sesuatu."

Hazel tidak suka firasat buruk yang mulai menjalar di dadanya.

"Apa maksudmu?"

Dengan santai, Kevin membalikkan layar ponselnya ke arah Hazel. Di sana, terpampang sebuah berita eksklusif:

"Kevin Nathaniel Resmi Bergabung dengan Naila Grace Management!"

Jantung Hazel seolah berhenti berdetak.

Naila Grace.

Nama yang paling tidak ingin ia lihat.

Bukan sekadar pesaing biasa, Naila adalah rival terberat Hazel di industri ini. Licik, ambisius, dan tidak pernah bermain bersih.

Hazel mendongak, menatap Kevin penuh kebencian.

"Apa hanya karena dia wanita yang mudah kau ajak tidur?"

Kevin tertawa, sama sekali tidak tersinggung.

"Oh, Hazel. Kau masih sama seperti dulu. Terlalu emosional."

Hazel melangkah maju, nyaris mencengkeram kerah jasnya.

"Jawab aku, Kevin!"

Kevin menurunkan suaranya hingga hanya Hazel yang bisa mendengar.

"Kau benar. Dia jauh lebih... menyenangkan dibandingkan kau. Kau seharusnya belajar untuk lebih fleksibel."

Hazel merasakan darahnya mendidih. Ia memilih untuk keluar dari ruangan yang menyesakkan itu. Langkahnya beriringan dengan degup jantung yang bergebu.

***

Hari-hari berlalu, tetapi Hazel menolak untuk terpuruk. Ia berusaha bangkit dan mencari pekerjaan baru di industri hiburan. Namun, hal itu tidak semudah yang ia bayangkan. Reputasi buruk yang diciptakan Kevin dan Naila menyebar dengan cepat, membuat banyak orang mulai meragukan profesionalismenya.

“Maaf, Hazel. Tapi kami tidak bisa menerimamu.”

Hazel menatap pria di hadapannya dengan rahang mengatup rapat. Ini adalah kali ketiga ia mendengar kata-kata serupa dalam satu bulan terakhir.

“Bolehkah aku tahu alasannya?” suaranya terdengar lebih tenang dari yang ia rasakan.

Pria itu—seorang eksekutif dari salah satu agensi hiburan ternama—menghela napas, jelas tidak nyaman.

“Kami hanya… tidak ingin mengambil risiko. Reputasimu sekarang cukup… rumit.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Related chapters

  • Jebakan Cinta Sang Idola   Chapter 2 : Pertemuan yang Menyakitkan

    Hazel mengepalkan tangannya di atas pahanya. Ia tahu ini bukan tentang kinerjanya. Bukan tentang kemampuannya. Ini tentang apa yang telah dilakukan Kevin dan Naila untuk menghancurkannya.“Aku bisa bekerja lebih keras. Aku bisa membuktikan—”“Bukan itu masalahnya, Hazel.”Pria itu menatapnya dengan sorot simpati, tetapi bagi Hazel, simpati itu tidak ada gunanya.“Kami hanya tidak ingin berurusan dengan seseorang yang… punya rekam jejak buruk.”Rekam jejak buruk?Hazel menggigit bibirnya. Ia tahu persis dari mana asal ‘rekam jejak’ yang dimaksud. Kevin dan Naila telah bekerja dengan sangat baik dalam menyebarkan narasi yang salah tentang dirinya.Ia menghela napas dan berdiri.“Baiklah. Terima kasih sudah meluangkan waktu.”Ia tidak menunggu jawaban sebelum berbalik dan melangkah keluar dari ruangan itu.Di luar, Hazel berdiri di tepi jalan, memejamkan mata sejenak, mencoba menenangkan dirinya. Skyreach City sibuk seperti biasa, tetapi bagi Hazel, kota ini tiba-tiba terasa lebih sempit

    Last Updated : 2025-02-03
  • Jebakan Cinta Sang Idola   Chapter 3 : Pria yang Menyebalkan

    Nada suaranya terdengar santai, tapi Hazel bisa menangkap sesuatu di baliknya—sindiran halus yang membuat tengkuknya meremang. Ia menguatkan dirinya, menegakkan bahu, dan membalas tatapan pria itu tanpa gentar.“Ya, sudah lama, Nicholas.”Nicholas melangkah masuk, gerakannya santai tetapi penuh kontrol. Seolah-olah ia adalah raja di tempat ini—dan mungkin memang benar. Ia duduk di kursi di seberang Hazel, menyilangkan kakinya, lalu menoleh ke arah Arthur.“Jadi, ini manajer baru yang kau pilih untukku?”Arthur mengangguk tanpa ragu.“Ya. Kami percaya Hazel adalah orang yang tepat untuk menangani kariermu.”Nicholas terkekeh pelan, nadanya terdengar meremehkan.“Lucu. Karena setahuku, dia lebih pandai menangani hubungan daripada karier.”Hazel mengepalkan tangannya di bawah meja, menahan emosi yang hampir meledak. Ia tahu Nicholas masih menyimpan dendam, tapi tidak menyangka pria itu akan langsung menyerangnya seperti ini.Arthur menatap keduanya bergantian, menyadari ketegangan yang m

    Last Updated : 2025-02-03
  • Jebakan Cinta Sang Idola   Chapter 4 : Permainan Dimulai

    Terdengar tawa kecil dari Noah.“Itu artinya kau kini memiliki tantangan baru?”Lift terbuka. Hazel melangkah masuk, menekan tombol menuju lantai dasar. Ponselnya masih menempel di telinga.“Ya, aku rasa begitu,” diiringi dengan helaan napas berat.Hazel menyandarkan punggung ke dinding lift. “Aku hanya berharap ini tidak menjadi keputusan yang kusesali nanti.”“Dengar, tidak ada keputusan yang benar-benar sempurna. Yang penting, kau bisa kembali ke industri ini dan membuktikan dirimu lagi.”Dentingan lembut terdengar saat lift sampai di lantai dasar. Hazel melangkah keluar, menggenggam ponselnya erat.“Ya, aku akan membuktikannya,” ucapnya pelan, lebih kepada dirinya sendiri.*Hari pertama Hazel sebagai manajer Nick seharusnya berjalan lancar, namun pria itu justru sengaja mempersulit pekerjaannya.“Kau tidak berubah, Hazel.”Hazel menutup mata sejenak, menghirup napas dalam-dalam sebelum akhirnya berbalik. Nick bersandar santai di sofa ruang tunggu, mengenakan kaus putih polos dan

    Last Updated : 2025-02-03
  • Jebakan Cinta Sang Idola   Chapter 5 : Kau Spesial!

    Nada suaranya sengaja dibuat melembut, dengan tatapan penuh arti yang membuat Hazel semakin jengkel. Ia tahu Nick sedang memainkan permainan ini—menekan batas kesabarannya.“Jangan panggil aku seperti itu,” desis Hazel. “Dan kau bukan satu-satunya orang di lokasi syuting. Semua kru menunggumu.”Nick meneguk wine-nya perlahan, seolah sengaja ingin membuat Hazel semakin frustrasi. “Mereka bisa menunggu. Aku bintang utamanya, bukan?”Hazel menarik napas dalam-dalam. Ia tidak akan membiarkan Nick menang. Dengan cepat, ia mengambil remote AC dan menurunkan suhunya ke tingkat paling dingin.Nick mengernyit. “Apa yang kau lakukan?”Hazel menatapnya tanpa ekspresi. “Kau bisa bersantai di sini, atau bersiap dan menyelesaikan pekerjaanmu. Pilihannya ada padamu.”Nick menatap Hazel selama beberapa detik sebelum akhirnya mendecak kesal. “Baiklah, baiklah. Aku akan bersiap.”Hazel berbalik, menyembunyikan senyum kecil di wajahnya. Jika Nick ingin bermain permainan ini, maka ia juga bisa ikut berma

    Last Updated : 2025-02-03
  • Jebakan Cinta Sang Idola   Chapter 6 : Hari yang Kacau

    Nick menatap Hazel beberapa detik sebelum akhirnya tersenyum kecil.“Kita lihat nanti.”Hazel tidak membalas. Ia hanya berbalik dan berjalan masuk ke lokasi syuting dengan kepala tegak.Tapi di dalam hatinya, ia tahu satu hal.Hari-harinya ke depan tidak akan mudah.Hari itu terasa seperti ujian kesabaran bagi Hazel. Begitu tiba di lokasi syuting, Nick langsung kembali ke kebiasaannya—membuat semua orang menunggu.“Kita sudah mundur hampir satu jam dari jadwal,” bisik asisten sutradara pada Hazel dengan nada cemas.“Apa kau bisa membujuknya?”Hazel menghembuskan napas panjang. Ia sudah cukup lelah menghadapi sikap Nick sejak pagi. Namun, ini pekerjaannya, dan ia tidak akan membiarkan seorang Nicholas Alexander menjatuhkan reputasinya lagi.Ia berjalan ke ruang makeup, menemukan Nick sedang duduk santai di kursi, memainkan ponselnya.Makeup artist berdiri di sampingnya, menunggu dengan gelisah.“Nick,” panggil Hazel, nada suaranya tegas.Pria itu mengangkat kepalanya, tersenyum seolah

    Last Updated : 2025-02-03
  • Jebakan Cinta Sang Idola   Chapter 7 : Api Lama yang Masih Menyala

    Hazel mengabaikannya dan menunduk ke ponselnya, mengecek email dari tim produksi Orion Entertainment. Namun, suara tawa pelan dari arah belakang membuatnya menoleh.Di sudut lokasi, Nick sedang berbicara dengan seorang aktris muda, Sarah Williams. Gadis itu tertawa kecil sambil menyentuh lengan Nick dengan manja.Hazel menghela napas. Ia seharusnya tidak peduli. Ini bukan urusannya. Tapi entah kenapa, melihat Nick seperti itu tetap saja membuatnya kesal.Nick melirik ke arah Hazel seolah menyadari tatapannya. Ia tersenyum miring, lalu berkata dengan nada lebih keras,“Sarah, kau sangat berbakat. Aku suka cara kau membangun chemistry dalam adegan tadi.”Sarah tersipu.“Benarkah? Aku hanya mencoba menyesuaikan energiku denganmu, Nick.”Hazel mendecak dalam hati. Nick selalu seperti ini—senang bermain dengan orang lain, seolah dunia berputar di sekelilingnya.“Hazel.”Nick tiba-tiba sudah berdiri di hadapannya, menyodorkan sekaleng kopi dingin.“Aku tidak memesannya,” kata Hazel dingin.

    Last Updated : 2025-02-03
  • Jebakan Cinta Sang Idola   Chapter 8 : Seperti Duri yang Menusuk

    Hazel berdiri di sudut ruangan, memperhatikan jalannya pemotretan dengan tangan terlipat di dada. Nick, seperti biasa, tampil sempurna di depan kamera. Setiap pose yang diambilnya terlihat alami, seolah-olah dunia fashion memang dunianya.Saat jeda pemotretan, Nick berjalan mendekati Hazel sambil melepas jas yang dikenakannya.“Kau diam saja sejak tadi. Jangan bilang kau masih terpesona denganku.”Hazel mendesah.“Aku hanya memastikan semuanya berjalan lancar. Itu tugasku.”Nick tertawa kecil.“Tugasmu juga memastikan aku tidak kelelahan, kan? Jadi, bagaimana kalau kau ambilkan kopi untukku?”Hazel menatapnya tajam.“Kalau kau haus, ambil sendiri. Kau bukan anak kecil, Nick.”Nick mengangkat bahu santai.“Tapi dulu kau tidak keberatan melakukannya.”Hazel mengepalkan tangan di sisi tubuhnya.“Dulu berbeda. Sekarang aku manajermu, bukan kekasih kontrakmu.”Senyum di wajah Nick melebar.“Oh, jadi kau masih mengingatnya?”Hazel berbalik, berusaha mengabaikannya. Tapi jauh di lubuk hatiny

    Last Updated : 2025-02-03
  • Jebakan Cinta Sang Idola   Chapter 9 : Masih Belum Menyerah

    Sepanjang perjalanan pulang, Hazel menyandarkan kepalanya ke jendela mobil, menatap keluar tanpa fokus. Hari ini melelahkan, dan ia bisa merasakan Noah meliriknya sesekali.“Kau tidak perlu melakukan ini, Noah,” ucap Hazel, akhirnya membuka suara.Noah terkekeh pelan. “Melakukan apa?”“Mengantarku pulang seperti ini,” jawab Hazel, menoleh ke arahnya. “Aku bisa pulang sendiri.”Noah menghela napas, tetap fokus pada jalan di depannya.“Aku tahu. Tapi sejak kapan aku pernah mendengarkan protesmu?”Hazel tersenyum kecil. Ia dan Noah memang sudah lama berteman. Sejak kuliah, mereka selalu ada untuk satu sama lain, bahkan setelah bekerja di Zhe Entertainment. Namun, saat Hazel dipecat, hubungan mereka sempat renggang.Hazel merasa terlalu malu untuk mencari Noah, tapi pria itu tetap datang padanya, tetap menjadi satu-satunya orang yang selalu ada.“Bagaimana harimu?” tanya Noah setelah beberapa saat hening.Hazel menghela napas panjang.“Berantakan. Nick benar-benar membuat pekerjaanku sulit

    Last Updated : 2025-03-05

Latest chapter

  • Jebakan Cinta Sang Idola   Chapter 20 : Rencana yang Tak Pernah Habis

    Syuting selesai, ketika dalam perjalanan pulang menuju apartemen Hazel…Nick melirik sekilas ke arah Hazel yang duduk di kursi penumpang. Gadis itu menatap lurus ke depan, ekspresinya sulit ditebak. Biasanya, setelah syuting selesai, mereka akan mengobrol ringan—membahas akting Nick, atau sekadar bercanda tentang kru di lokasi. Tapi malam ini, Hazel hanya diam.Nick mengetuk setir mobil dengan jemarinya, mencoba memecah keheningan."Kau baik-baik saja?"Hazel tersentak kecil, seolah baru menyadari bahwa Nick berbicara padanya."Hm?"Ia menoleh sebentar sebelum kembali menatap jalanan yang diterangi lampu kota."Ya, aku baik-baik saja."Jawaban itu terdengar terlalu cepat, terlalu datar. Nick menghela napas, melirik Hazel lagi sebelum kembali fokus pada jalan."Kau kelihatan... berbeda."Hazel tersenyum tipis, meski senyumnya tidak sampai ke mata."Hanya lelah. Syutingnya panjang hari ini."Nick tidak langsung menjawab. Ia tahu Hazel cukup profesional untuk tidak membawa masalah pribad

  • Jebakan Cinta Sang Idola   Chapter 19 : Waspada

    Hari pertama syuting dimulai dengan atmosfer yang penuh antusiasme. Para kru berlalu-lalang, mempersiapkan set dengan teliti, sementara para pemain berdiskusi dengan sutradara. Hazel berdiri di sudut ruangan, memperhatikan Nick yang tengah berbincang dengan lawan mainnya—Clara. Tatapan Hazel tajam, bukan karena cemburu, tapi lebih kepada rasa waspada. Ia tahu sejarah antara Nick dan Clara, dan instingnya mengatakan bahwa bekerja sama dalam proyek ini bisa menjadi bumerang bagi Nick. Nick tampak profesional, tidak menunjukkan tanda-tanda ketegangan atau keterikatan emosional dengan Clara. Ia sesekali tersenyum, tetapi jelas bahwa ada batas yang ia jaga. Sementara itu, Clara tampak lebih santai, bahkan cenderung menggoda dengan sikapnya yang akrab. "Hazel," panggil seorang staf produksi, membuat Hazel mengalihkan perhatiannya. "Sutradara ingin memastikan jadwal Nick untuk minggu ini." Hazel mengangguk, segera mengecek ponselnya untuk memastikan tidak ada bentrokan jadwal. "Baik, aku

  • Jebakan Cinta Sang Idola   Chapter 18 : Terasa Canggung

    Pertanyaan itu membuat Hazel terdiam. Ia tidak terkejut, karena cepat atau lambat Nick pasti akan mengetahuinya. Ia menatap Nick, memilih kata-katanya dengan hati-hati.“Aku tahu,” akhirnya Hazel mengaku.Nick mengepalkan tangannya di atas meja. “Dan kau tidak berpikir untuk memberitahuku lebih awal?”Hazel menghela napas. “Aku tidak ingin keputusanmu dipengaruhi oleh masa lalu, Nick. Aku ingin kau mempertimbangkannya secara profesional.”Nick tertawa kecil, tapi tidak ada humor di dalamnya. “Profesional?”Hazel tetap tenang. “Ya. Aku tahu kau dan Clara punya sejarah. Tapi aku juga tahu kau cukup profesional untuk memisahkan urusan pribadi dari pekerjaan.”Nick menatap Hazel, seakan mencari sesuatu di matanya. “Dan bagaimana denganmu?”Hazel mengerjap. “Apa maksudmu?”Nick bersandar ke kursinya, menatapnya dengan intens. “Kau benar-benar tidak keberatan aku bekerja dengan mantan kekasihku? Wanita yang menjadi pelarianku setelah aku kehilanganmu?”Pertanyaan itu menusuk sesuatu di dala

  • Jebakan Cinta Sang Idola   Chapter 17 : Masa Lalu

    Nick menatapnya lekat, matanya menyiratkan pemahaman, meski Hazel bisa melihat secercah ketegangan di sana.“Aku tidak meminta kita berpura-pura, Hazel. Aku ingin kita memulai kembali dengan cara yang lebih baik.”Hazel terdiam. Kata-kata itu terdengar begitu meyakinkan, tetapi ada ketakutan di dalam dirinya—ketakutan bahwa jika ia memberikan kesempatan lagi, mereka berdua akan kembali terluka.Nick menyandarkan punggungnya ke sofa, mengusap wajahnya dengan satu tangan.Hazel menunduk, jemarinya mengusap tepi cangkir tanpa sadar.“Aku tidak akan memaksamu, Hazel. Aku hanya ingin kau tahu kalau aku serius.”Ada sesuatu dalam nada suaranya yang membuat Hazel percaya. Tetapi, apakah kepercayaan itu cukup?Ia menarik napas dalam-dalam. “Aku tidak bisa menjanjikan apa pun sekarang, Nick.”Nick tersenyum kecil, meski Hazel bisa melihat ada ketegangan di balik senyum itu. “Itu sudah cukup untukku.”Mereka kembali terdiam. Hanya suara detak jam yang terdengar di antara mereka.Nick melirik jam

  • Jebakan Cinta Sang Idola   Chapter 16 : Terlalu Rumit

    Hazel mengerjap, dadanya terasa sesak tanpa alasan yang jelas. “Nick, kita sudah melewati banyak hal. Aku—”“Aku tahu,” potong Nick cepat. Ia menggenggam kedua tangan Hazel, seolah takut Hazel akan menjauh. “Aku akan lupakan segalanya, maksudku, kesalahanmu di masa lalu. Aku tidak akan pernah mengungkitnya sama sekali.”Hazel terdiam, jari-jarinya sedikit gemetar dalam genggaman Nick.“Kalau kau butuh waktu, aku akan menunggu,” lanjut Nick dengan suara lebih lembut. “Tapi aku ingin kau tahu… aku serius, Hazel.”Hening.Hazel menelan ludahnya, mencoba merangkai kata-kata di kepalanya. Namun sebelum ia sempat merespons, suara petir menggelegar di luar sana, disusul oleh rintik hujan yang mulai turun deras.Nick menoleh ke arah jendela sebelum kembali menatap Hazel. “Bolehkah aku masuk?”Hazel terdiam sesaat, sebelum akhirnya mengangguk dan melangkah ke samping, membiarkan Nick masuk ke dalam apartemennya.Nick berjalan masuk, melirik sekeliling ruangan sebelum matanya tertuju pada tr

  • Jebakan Cinta Sang Idola   Chapter 15 : Menyimpannya Untukmu

    Malam semakin larut saat mobil Nick berhenti di depan gedung apartemen Hazel. Lampu-lampu kota masih berpendar, menciptakan bayangan temaram di kaca jendela.Hazel melepas sabuk pengamannya, bersiap turun. Namun, sebelum sempat membuka pintu, Nick meraih tangannya dengan lembut. Sentuhan itu membuatnya refleks menoleh, menatap pria di sampingnya dengan penuh tanya.Nick menatapnya dalam, lalu mengangkat sesuatu dari jok belakang—piala emas yang baru saja ia menangkan. Dengan ekspresi serius, ia menyodorkannya ke arah Hazel.“Kau melupakan ini,” ucapnya pelan.Hazel mengernyit. “Nick, itu milikmu.”Nick tersenyum miring, jemarinya masih menggenggam erat trofi tersebut. “Apa yang menjadi milikku, juga milikmu, Hazel.” Suaranya terdengar dalam, nyaris seperti bisikan. “Aku ingin kau menyimpannya.”Hazel terdiam. Ada sesuatu di mata Nick—sesuatu yang tak bisa ia abaikan. Perasaan hangat menjalar di dadanya, namun ia menahannya rapat-rapat.Setelah beberapa detik hening, Hazel akhirnya m

  • Jebakan Cinta Sang Idola   Chapter 14 : Seseorang yang Luar Biasa

    Satu per satu nominasi diumumkan, diiringi tepuk tangan dan sorakan antusias. Hazel sesekali melirik Nick, yang tampak begitu tenang. Seakan tak peduli, padahal Hazel tahu persis bahwa ini adalah momen penting baginya.Dan akhirnya, saat yang ditunggu pun tiba.“Saatnya kita umumkan pemenang untuk kategori Aktor Terbaik Tahun Ini.”Seorang presenter berdiri di panggung, memegang amplop emas dengan senyum penuh antisipasi. Para tamu mulai berbisik, menebak-nebak siapa yang akan membawa pulang penghargaan prestisius tersebut.Hazel menggenggam tangannya sendiri tanpa sadar.“Dan pemenangnya adalah…”Seketika ruangan terasa sunyi, hanya suara presenter yang terdengar saat ia membuka amplop.“Nicholas Alexander!”Sontak, tepuk tangan bergemuruh memenuhi ruangan. Sorot lampu panggung langsung mengarah ke Nick, yang masih duduk di tempatnya dengan ekspresi yang sulit ditebak. Baginya, ini bukanlah kemenangan pertamanya. Sebelumnya, Nick sudah membawa pulang puluhan piala. Namun, malam ini

  • Jebakan Cinta Sang Idola   Chapter 13 : Malam yang Panjang

    Hazel mencoba menahan rasa gugupnya. Sejak awal, ia sudah tahu bahwa dunia Nick dipenuhi dengan sorotan seperti ini, tapi mengalaminya sendiri tetap saja membuatnya canggung.Saat mereka akhirnya masuk ke dalam ballroom, Hazel buru-buru menarik tangannya dari genggaman Nick."Kau membuat semuanya jadi lebih sulit," bisiknya kesal.Nick terkekeh."Salahmu sendiri karena terlalu cantik malam ini."Hazel mendelik, tapi sebelum sempat membalas, seorang staf acara menghampiri mereka."Mr. Alexander, silakan menuju meja Anda. Acara akan segera dimulai."Nick mengangguk, lalu menoleh pada Hazel."Ikut aku."Hazel menghela napas. Sepertinya malam ini akan menjadi malam yang panjang.—Di sisi lain ruangan, seseorang menatap Hazel dengan tatapan tajam.Naila.Ia mengepalkan tangannya di atas meja, menyadari bahwa Hazel tidak hanya kembali ke industri ini, tapi juga berhasil masuk ke dalam lingkaran elite.Ia tidak bisa membiarkan ini terus terjadi.Dengan senyum dingin, ia mengangkat gelas samp

  • Jebakan Cinta Sang Idola   Chapter 12 : Menggenggam Tanpa Ragu

    "Apa yang kalian bicarakan?" tanyanya santai, matanya bergantian melihat Hazel dan Pak Adrian.Pak Adrian menepuk bahu Nick dengan bangga."Aku hanya memuji manajermu yang luar biasa ini. Dia benar-benar berhasil menjinakkan si pemberontak."Nick menaikkan sebelah alisnya sebelum menatap Hazel dengan ekspresi menggoda."Oh? Jadi sekarang aku dijinakkan?"Hazel memutar matanya."Setidaknya kau jadi lebih mudah diajak kerja sama. Itu jauh lebih baik daripada harus berdebat setiap hari."Nick menyeringai. "Mungkin aku hanya lebih suka kalau kau yang memberikan perintah."Hazel mendesah, mengabaikan kilasan panas yang tiba-tiba merayapi wajahnya.Pak Adrian tertawa kecil."Teruskan kerja bagus kalian. Aku ingin syuting kita tetap seefisien ini sampai akhir."Setelah mengangguk, sang sutradara pun pergi, meninggalkan Hazel dan Nick berdua.Nick memasukkan tangannya ke dalam saku, menatap Hazel dengan ekspresi yang sulit diartikan."Jadi? Apa aku sudah menjadi aktor yang baik sekarang?"Haz

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status