“Kamu ingin punya rumah untuk kakekmu tinggal?” tanya Reza lagi.Sonia tidak mengatakan apa-apa. Jarak mereka terlalu dekat, hingga Sonia merasa tidak bisa bernapas. Saat ini, dia seperti telah melihat sisi iblis Reza.Begitu Reza menundukkan kepala, bibirnya pun mengecup bibir Sonia. Hanya cium sebentar, lalu dilepaskannya. Suara pria itu terdengar serak dan berat, “Aku seorang pengusaha. Aku nggak akan pernah melakukan bisnis yang merugi. Satu malam ditukar dengan satu rumah. Aku agak rugi.”Reza tampak lembut dan tenang. Dua sifat yang kontradiktif menyatu, membuat ekspresi wajahnya tidak jelas saat ini. Namun, setelah dilihat lebih teliti, di dalam mata pria itu hanya ada ketidakpedulian dan aura dingin.Sonia tidak makan tadi malam, selain itu juga melakukan aktivitas berat begitu lama. Saat ini dia kekurangan asam amino sehingga tidak dapat membuat otak berfungsi normal, semuanya berantakan.Sonia tidak mengerti apa yang Reza maksud, “Apa yang ingin kamu katakan?”Reza menatapnya
Begitu pintu tertutup, wajah Sonia pelan-pelan berubah menjadi pucat. Perempuan itu mengingat kembali percakapannya dengan Reza, sedikit tidak masuk akal, tetapi dia tidak merasa bahwa tindakannya barusan sedikit berlebihan.Perempuan itu menoleh untuk mencari ponselnya. Lalu menemukan, bahwa ponselnya berada di atas lemari sedang mengisi daya, saking kosong baterainya, ponsel itu pun sampai berada di posisi daya mati.Begitu ponsel dinyalakan, notifikasi panggilan tidak terjawab dan juga pesan WhatsApp langsung menyerang ponsel tersebut.Ada dari Kelly, Bi Rati, juga Hendri yang memberikan notifikasi pesan masuk yang paling baru.Perempuan itu sudah dapat menebak, apa yang ingin disampaikan oleh Hendri kepadanya, sehingga Sonia pun membalas telepon Kelly dan juga Bi Rati terlebih dahulu.Kelly hampir menangis menerima telepon dari sahabatnya. Semalam, dia tidak sempat menjawab telepon Sonia, tapi setelah itu dirinya tidak lagi dapat mengontak sahabatnya. Kelly bahkan sampai pergi ke A
Pria itu berjalan ke depan meja, begitu melihat Sonia, wajah Robi yang biasanya terlihat datar tanpa ekspresi, tiba-tiba terlihat sedikit kaget.Sonia bangkit berdiri, lalu berkata dengan nada yang sopan, “Silakan duduk, aku sudah memesankan sebuah kopi hitam yang dingin untukmu.”Robi duduk di seberang perempuan itu, dan menatap ke arah Sonia dengan pandangan yang tajam.Rupanya seperti itu!Ternyata itu yang terjadi!Sonia hanya tertawa simpul melihat reaksi Robi. “Jangan terkejut dulu, karena perkataanku yang selanjutnya, pasti membuat kamu menjadi lebih kaget lagi.”***Kurang lebih, setengah jam kemudian, Robi dan Sonia bersama-sama meninggalkan kafe tersebut. Satu ke arah kiri, satunya lagi ke arah kanan. Masing-masing berjalan ke arah yang berlawanan, seperti orang asing.Sama sekali tidak terlihat, bahwa mereka berdua baru saja menyepakati sebuah perjanjian yang baru.Ketika kembali ke dalam mobilnya, Robi masih tidak dapat memercayai apa yang baru saja di dengarnya. Pria itu t
Selesai makan malam, ketika Sonia kembali ke kamar untuk mengepak barang-barangnya. Bi Rati masuk sambil membawakan kue, es krim, dan puding cokelat buatannya. Satu per satu makanan tersebut diletakkannya di atas meja dengan pelan. “Non Sonia, kalau Non mau memakan-makanan ini, aku akan buatkan untuk Non. Jangan beli di luar yah, Non. Di luar bahan-bahannya kurang segar.”Sonia bukanlah seseorang yang mudah terharu, tapi melihat tatapan Bi Rati yang begitu tidak tega melepas dirinya, hati perempuan itu pun tergerak. Sonia maju selangkah, lalu memeluk Bi Rati erat-erat, “Mungkin, aku masih kembali lagi nanti ….”Hidung Bi Rati berubah merah, lalu berkata dengan lembut, “Aku dan Pak Yanto akan menunggu kamu kembali.”Sonia menganggukkan kepalanya. “Hari ini aku akan mengepak baju-bajuku, lalu besok akan kembali untuk mengambilnya. Kedepannya Bibo aku serahkan kepada Bibi dan Pak Yanto, tolong jaga dia yah, Bi.”“Pasti!” jawab Bi Rati menepuk-nepuk pundak perempuan itu dengan lembut. “Kam
Sonia tahu, apa maksud pertanyaanya, sehingga perempuan itu pun berpura-pura tenang dan menjawab, “Biasa saja.”Ranty kembali bertanya dengan khawatir, “Kamu merasa nggak sifatnya aneh?”Kedua telinga Sonia pelan-pelan mulai memerah. Perempuan itu berusaha mencari sedikit kepingan-kepingan memori di tengah keadaan yang kacau itu, “Seharusnya sih nggak ada.”Sonia pun menjadi tenang mendengar penjelasan sahabatnya ini. Perempuan itu membuka dasbor mobilnya dengan sebelah tangan, lalu mengambil sebuah kotak dan melemparkannya ke pangkuan Sonia. “Untuk sementara, kalau kamu masih belum mau hamil, makan ini. Satu butir setiap kali melakukannya. Obat ini sangat aman, nggak ada efek samping apa pun di tubuh kita. Tapi demi keamanan, sebaiknya lain kali minta dia juga menggunakan kontrasepsi.”Sonia melihat kotak tersebut lalu membukanya, kemudian dia mengambil sebutir obat dan langsung memasukkannya ke dalam mulut.Ketika umurnya baru berusia empat tahun, orang tua angkatnya meninggal karen
Perempuan itu menertawakan dirinya sendiri sambil menggelengkan kepala. Dia membuka koper, lalu meletakkan baju-bajunya ke dalam lemari.Sementara koper yang satunya lagi berisi komputer dan juga dua buah layar monitor. Sonia pun meletakkannya di ruang buku, di kamar sebelah.Kamar yang mereka tempati cukup luas, penataannya tentu saja juga sangat baik. Pemilik tempat itu mempunyai ruang kerjanya sendiri, bahkan di samping kamar tamu juga mempunyai ruang belajar. Di dalam rumah itu juga masih ada sebuah kamar kosong lain, yang mungkin kamar tersebut digunakan untuk menaruh barang-barang.Setelah selesai merapikan semua barang-barangnya sendiri, Sonia pun membersihkan badannya lalu berbaring di atas kasur. Tanpa ada orang lain di kamar yang menemaninya, rasa kesepian dan juga ketakutan membuat perempuan itu langsung tertidur.***Sekitar jam delapan malam, Bi Rati menelepon Reza dan memberitahunya bahwa Sonia telah pindah. Perempuan paruh baya itu pun meminta petunjuk dari atasannya, ap
Pria itu bangkit berdiri dan berkata dengan tenang, “Aku akan mengantarkan kamu pulang.”“Di mana supirnya?” tanya Sonia.Reza sudah berjalan hingga ke depan pintu. Begitu mendengar pertanyaan dari perempuan itu, langkah kakinya langsung berhenti dan menoleh ke belakang. “Aku kebetulan lewat sana.”Sonia hanya tersenyum simpul dan berkata, “Terima kasih!”Ketika mobil yang mereka naiki pelan-pelan menjauh dari rumah keluarga Herdian, Reza bertanya dengan lembut, “Apa kamu kerasan tinggal di sana?”“Emm, sangat nyaman,” jawab Sonia cepat. Perempuan itu berpikir sejenak, lalu berkata, “Aku ingin mengganti seprei putih di kamarku menjadi warna lain, apa boleh?”Reza berkata, “Tentu saja boleh, rumah itu sudah menjadi milik kamu sepenuhnya ketika kamu tinggal di dalamnya. Kamu mau bagaimana menata dan mendekorasinya, semua terserah kamu.”Sonia berterima kasih kepadanya, lalu melanjutkan, “Upah para pekerja itu, kita juga bisa membagi dua.”Setelah perempuan itu tinggal di dalam rumah ters
Semua orang pun langsung terkesima dan memuji Reviana. Memuji bahwa kalung yang digunakan olehnya sangatlah cantik, memuji Stella adalah anak yang berbakti, juga memuji Reviana sangat beruntung.Ibu Widi dengan separuh hati yang menyesal dan separuh hati cemburu, berkata, “Sebenarnya aku sudah mengincar kalung ini ketika GK Jewelry pertama kali mengumumkan kalung model terbarunya. Tapi sayangnya, aku nggak pernah melihat kalung ini di dalam toko. Aku juga sudah menanyakan hal ini ke manajer toko, kata manajer toko kalung ini sudah dipesan oleh seseorang. Ternyata Stella adalah tamu VVIP dari GK Jewelry.”Salah seorang dari ibu-ibu yang berada di sana juga ikut menyelak, “Aku juga sempat bertanya dengan manajer toko, katanya kalung itu sudah dipesan oleh orang dalam, yaitu Ibu Dania, direktur GK Jewelry. Stella, apa kamu kenal dengan Ibu Dania?”“Mana mungkin!” ejek Ibu Eri yang dari tadi diam.Reviana sendiri langsung memandang putrinya dengan terkejut, “Kamu mengenal Ibu Dania?”Dania
Kase tersenyum dingin. “Apa kamu ingin aku mencabut semua bulunya?”Pengurus rumah tertegun sejenak, lalu berkata dengan tenang, “Kalau kamu tidak suka makan ayam gosong, aku sarankan kamu jangan berbuat seperti itu!”Kase berkata, “Baiklah, sekarang aku akan pergi menemuinya!”“Baik!” Pengurus rumah mengakhiri panggilan dengan sopan dan hormat.Kase melepaskan ponselnya, lalu memalingkan kepalanya melihat ke sisi Sonia. “Kamu istirahat dulu. Aku pergi urus sedikit urusan. Nanti kita bicarakan lagi percakapan sebelumnya.”Sonia tidak mengira ada yang perlu dibicarakan lagi di antara mereka. Dia hanya sedikit mengangguk saja. “Kamu sibuk sana!”Kase berjalan pergi, kemudian dia segera membalikkan tubuhnya, lalu meletakkan sekotak permen susu untuk Sonia. Kemudian, dia berkata dengan nada menggoda, “Kalau kamu tinggal bersamaku, aku jamin tidak akan membatasi konsumsi permenmu. Aku akan membelikan perusahaan permen terbesar di seluruh dunia untukmu!”“Sepertinya dia tidak butuh!” Suara d
Sonia menggeleng. “Nggak bisa!”Kase berkata dengan nada terburu-buru, “Waktu itu pengutaraan perasaanku terlalu buru-buru, juga tidak tulus. Izinkan aku untuk mengulanginya sekali lagi. Aku menyukaimu. Dari identitasmu sebagai Suki dan juga Sonia, ternyata hanya kamu yang aku sukai. Aku akan suruh ayahku untuk membatalkan pernikahan bisnisku. Aku hanya menginginkanmu untuk menjadi istriku!”Kemudian, Kase melanjutkan ucapannya seperti sedang bersumpah, “Dulu aku melewati hidupku dengan sangat konyol. Kamu malah memergokiku yang begitu konyol. Aku merasa sangat bersalah dan kesal, tapi aku jamin kelak aku juga nggak akan melakukannya lagi. Aku akan setia terhadapmu, akan memberikan semuanya kepadamu. Aku berharap kamu bisa tinggal di sini, bersamaku untuk selamanya.”Kening Sonia berkerut. “Aku sudah punya orang yang aku cintai. Aku rasa aku sudah ngomong dengan sangat jelas!”“Apa Raja Bondala?”“Iya!”Seandainya orang yang disukai Sonia adalah orang lain, Kase masih ingin berusaha la
Morgan melihat langit biru di luar jendela. Kedua matanya kelihatan menyipit. “Bukannya aku tidak pernah memikirkannya, tapi aku merasa aku memang terlahir untuk berada di sini. Aku sudah melupakan bagaimana kehidupan yang normal, sepertinya aku juga tidak akan terbiasa!”Sonia berkata, “Bukannya kamu bilang kamu akan tinggal dua bulan kali ini. Kamu bisa mulai membiasakan diri!”Morgan membalas, “Aku sudah mendidik orang yang bisa mengambil alih pekerjaanku. Sekarang Tritop sudah meninggal, Hondura akan segera mengalami perombakan besar-besaran. Dulu aku dan Raja Bondala tidak ingin terlibat dalam permasalahan Hondura. Sekarang meski kami tidak ingin terlibat, kami juga sudah terlibat. Aku dan Reza sudah memiliki gambaran umum tentang bagaimana mengelola Hondura di kemudian hari ….”Morgan tertegun sejenak, lalu berkata dengan tersenyum, “Sebelum misi kali ini, aku benar-benar tidak tahu Reza adalah Raja Bondala! Jejak Raja Bondala sangat misterius, juga tidak ikut campur dalam pertik
Bill melihat sekilas, lalu mengangguk dengan gugup. “Iya, ini obat penawar dari racun itu. Setiap hari satu pil. Setelah dikonsumsi selama sepuluh hari, dia akan normal kembali.”Reza bertanya, “Obat penawar cuma satu botol saja?”“Ada satu botol lagi. Ada di dalam brankasku!”Usai Bill berbicara, anggota Reza segera mengambil brankas Bill.Beberapa menit kemudian, Bill membuka brankasnya sendiri, lalu mengeluarkan botol yang sama kepada Reza. “Rayden juga menyuruhku untuk meneliti obat ini!”Reza mengangguk dengan datar. Dia menyuruh anggotanya untuk membawa pergi Bill, kemudian menyerahkan obat kepada Regan. “Segera analisis komposisi obat di dalam botol ini.”Regan tidak berani berbicara terlalu banyak. Dia membawa Reza untuk pergi ke laboratoriumnya, lalu menggunakan alat untuk menganalisis kandungan dari obat itu.Sekitar setengah jam kemudian, Regan pun menyerahkan laporan komposisi obat kepada Reza.Reza memotretnya, lalu mengirimkannya ke perusahaan bioteknologi di Ruiss. Obat
Sonia melanjutkan, “Apa kamu sudah bertemu dengan wanita yang bernama Hallie? Dia datang ke Hondura untuk mencari kekasihnya. Aku pernah menyelamatkannya dua kali. Kemudian, aku menyadari di punggungnya ada tanda lahir berwarna merah seperti yang dikatakan Kakek.”“Hanya saja, posisinya agak menyamping. Aku pernah tanya sama dia, katanya dia memang diadopsi. Umurnya juga sesuai. Bisa jadi kita ditakdirkan untuk bertemu sama dia? Aku ingin membawa Sonia pulang. Alangkah bagusnya kalau Sonia benar-benar adalah cucu dari Pak Guru!”Reza mengangkat-angkat alis tanda dirinya merasa syok. Apa mungkin akan kebetulan sekali?“Kekasihnya adalah apoteker yang bekerja di Istana Fers. Hanya saja, dia sudah kecanduan parah, nggak bisa kembali lagi.” Sonia berkata dengan suara rendah, “Tritop dan Serigala sudah mati. Istana Fers juga bukan lagi Istana Fers yang dulu lagi. Kalau kamu bisa menemukan Regan, tanyakan apa dia bersedia untuk pulang atau nggak? Kalau dia bisa pulang, anggap saja kita sedan
“Bukan!” Reza berusaha menekan perasaannya, lalu mengusap wajah Sonia. “Jangan berpikir kebanyakan. Sekarang kamu hanya perlu istirahat dengan baik!”“Kamu jangan marah!” Sonia menatapnya. Mata bekas menangis semalam masih kelihatan memerah. Dia menatap pria itu dengan sedikit gugup.Reza memalingkan wajahnya. Wajahnya kelihatan tegang seolah-olah sedang mengendalikan sesuatu, bahkan jakunnya tidak berhenti bergerak. Beberapa saat kemudian, Reza baru menoleh untuk melihat Sonia. “Kalau sekarang kamu ada tenaga untuk bicara, kamu beri tahu aku, bagaimana kondisi kamu sekarang?”Sonia terbengong sejenak. Dia pun segera merespons. Ternyata Reza sudah mengetahuinya!Sonia berterus terang, “Aku terus terjebak dalam mimpi, berulang kali mengalami kembali misi penyergapan tujuh tahun lalu dan berulang kali melihat Serigala dan yang lainnya mati di depan mataku.”“Awalnya, setiap kali aku terbangun, aku bahkan nggak bisa membedakan yang mana nyata dan yang mana mimpi. Sekarang … saat siuman, a
Morgan berkata, “Maksudmu, Tuan Kase sudah melukai Sonia? Aku rasa mungkin ada salah paham dalam masalah ini. Semalam Kase membawa pengawalnya membantu kami untuk melawan anggota Tritop. Dia juga bawa Sonia untuk berobat di sini. Dia tidak akan melukai Sonia!”Kase menurunkan kepalanya dan tidak berdalih. Dia tidak berbicara sama sekali.“Iya, Kak Reza!” Johan juga membujuknya, “Untung saja dokter di sini bisa melakukan pengobatan dengan segera, makanya Bos baru baik-baik saja. Mungkin benar ada salah paham. Kita bicarakan lagi setelah Bos siuman!”Hallie juga berlari kemari. Dia membantu Kase untuk menjelaskan, “Apa yang Tuan Reza maksud itu masalah Sonia dibawa pergi Rayden waktu itu? Waktu itu, aku memang nggak tahu kenapa Sonia ditangkap, tapi pada akhirnya Tuan Kase yang menyelamatkan Sonia. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri. Meskipun Tuan Kase bersalah, berhubung dia sudah menyelamatkan Sonia, aku harap kamu jangan membunuhnya!”Hallie sudah lama kenal dengan Sonia dan Kas
“Kamu jangan emosional!” ujar Yandi dengan datar, “Aku tidak menyalahkannya. Aku menyadari kalau dia bermurah hati terhadap Sonia! Aku juga punya kesalahan dan kekurangan dalam masalah waktu itu. Jadi, sudah seharusnya dia membenciku!”Tatapan Yandi berubah muram. Sebelum dia datang ke Hondura, dia pernah menyelidiki tempat yang ditempati Rayden. Jadi, sebelum datang ke Istana Fers, dia bisa memastikan bahwa Rayden adalah Serigala!Bagaimanapun, mereka bertujuh sudah berhubungan dekat, Yandi lebih memahami Serigala dibandingkan dengan Morgan!Sebelum Yandi datang, dia merasa sangat marah. Dia tidak mengerti kenapa Serigala berpihak terhadap Tritop, juga menentang Morgan!Setelah dipikir-pikir sekarang, seandainya waktu itu Morgan tidak begitu emosional, mungkin saat mereka bertiga bertemu kembali pada tujuh tahun kemudian, mereka tidak akan begitu tergesa-gesa dan juga saling bertentangan.Mungkin Serigala juga tidak akan mati! Serigala bisa bertahan hidup setelah mengalami begitu bany
Ruang tamu kembali terasa hening. Kase terus berdiri di depan jendela sembari memandang pemandangan malam di luar sana. Dia tidak berbicara sama sekali, entah apa yang sedang dia pikirkan.Sekitar satu jam kemudian, pintu ruang operasi terbuka. Mereka semua serempak berdiri dan melihat ke arah pintu.Dokter berjalan keluar. Ketika melihat mereka semua tidak berbicara dan kelihatan gugup, dokter pun segera berkata dengan tersenyum, “Kalian semua tidak usah khawatir. Nona dan Tuan di dalam baik-baik saja. Serpihan bom sudah dikeluarkan dan tidak melukai organ vital. Hanya saja, pasien kehilangan banyak darah, perlu istirahat sebentar!”Reza berjalan ke dalam ruang operasi.Sonia sudah dibaringkan di ranjang sebelah dan sedang diinfus. Setelah dia siuman besok, dia baru akan dipindahkan ke kamar lain.Sonia sedang tidur dengan tenang. Air mata masih menggantung di sudut matanya. Sepertinya dia juga merasa sangat sedih ketika sedang bermimpi.Reza menopang ranjang dengan kedua tangannya. D