Home / Romansa / Janda Tapi Perawan / Dia Pemenangnya

Share

Dia Pemenangnya

Author: Ayaya Malila
last update Last Updated: 2024-10-07 20:29:56
"M-maksudnya? Bukankah pernikahan kita ini cuma sandiwara?" Aira menelan ludah. Keringat dingin muncul membasahi dahi saat melihat tatapan dan mimik Manggala yang seakan ingin memakannya.

"Ya, ampun!" Manggala tergelak. "Kamu mikir apa, Ra? Aku cuma bercanda. Lagian, kewajiban istri kan macam-macam. Nggak cuma di ranjang. Ternyata, pikiran kamu mesum juga, ya," ledeknya.

"Angga!" seru Aira tak terima.

Manggala tertegun sejenak mendengar panggilan kesayangan yang pernah disematkan Aira untuknya. Akan tetapi, beberapa saat kemudian, dia kembali tertawa renyah.

Manggala menyembunyikan segala gundah dan kecewa dalam hati. Sebenarnya, perkataannya tadi serius. Namun, melihat bahasa tubuh Aira yang sama sekali tak menampakkan kenyamanan, membuat Manggala paham bahwa sepertinya sudah tak tersisa sedikit pun rasa cinta untuknya.

"Kamu siap-siap, deh. Kita berangkat ke kantor sama-sama," titah Manggala.

"Sama-sama? Memangnya tidak apa-apa?" tanya Aira ragu.

"Sekadar berangkat ba
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • Janda Tapi Perawan   It's A Secret

    "Mr. Naradipta?" Tidak mungkin!" Aira terkekeh. "Kenapa tidak? Dia tampan dan mapan," sanggah Brandon. "Tapi dia ...." Aira buru-buru membungkam bibirnya sendiri. Jangan sampai dia kelepasan memberitahu Brandon bahwa Manggala telah menikah dengannya. "Apa?" Brandon mengernyitkan dahi curiga. "Tidak ada. Lupakan!" Aira mengibaskan tangan. Gugup sebenarnya, tapi dia harus berpura-pura santai supaya rekannya itu tak curiga. "Nanti makan siang sama-sama, ya. Di restoran depan kantor," ajak Brandon sebelum memulai kesibukannya di studio sebelah, yang hanya terpisah oleh sekat dinding berbahan kaca. Aira mengacungkan dua jempol sebagai isyarat jika dirinya setuju. Sama sekali tak terbersit dalam pikiran Aira untuk meminta izin atau mengabari Manggala. Toh, suaminya sendiri yang meminta untuk merahasiakan pernikahan ini. Dua jam berkutat dengan pekerjaan, kini saatnya Aira harus beristi

    Last Updated : 2024-10-09
  • Janda Tapi Perawan   Aroma Kopi

    Aira buru-buru melepas helm Brandon. Rencananya, dia akan segera berlari masuk ke rumah sebelum Mira memergokinya pulang berdua dengan pria selain Manggala. Bukan apa-apa, Aira hanya malas dicecar pertanyaan oleh tante cerewetnya itu. "Ini! Terima kasih tumpangannya, ya." Aira segera menyodorkan pelindung kepala berwarna coklat itu pada Brandon. "Tunggu! Kau tidak mengajakku masuk? Apa tidak ingin menawarkan kopi atau semacamnya?" tuntut Brandon tak tahu malu. Aira langsung melotot. Sepertinya gestur itu sudah menjadi kebiasaannya akhir-akhir ini. "Aku tidak bisa. Di dalam ada ...." "Aira!" Belum selesai Aira merangkai kalimat, sang tante sudah keluar menghampirinya dengan langkah tergesa. "Siapa lagi ini?" Nada suara Mira semakin meninggi. "Eh, ini .... Di-dia rekan kerjaku, Tante. Kenalkan, namanya Brandon," ucap Aira terbata. Merasa tak ada gerakan apapun dari pria di sampingnya, Aira pun menyenggol lengan Brandon. "Ah, oh, hai! Senang berkenalan dengan anda, Nyonya,"

    Last Updated : 2024-10-09
  • Janda Tapi Perawan   Palsu

    "Aku sibuk, Cynthia. Mengertilah. Selama tiga hari ke depan, aku harus menemanimu. Jadi, aku memutuskan untuk tidak ke kantor. Oleh karena itu, aku mesti bekerja dari sini," terang Manggala. Mendengar hal itu, Cynthia tertawa getir. "Kau menemaniku, tapi sibuk dengan pekerjaanmu. Sama saja," cibirnya. "Terus? Aku harus bagaimana?" tanya Manggala. "Kamu berubah ...." Air muka Cynthia mendadak sendu. "Berubah?" ulang Manggala. Tak lupa dia menyunggingkan senyuman tipis, berusaha supaya terlihat tenang di hadapan sang kekasih. "Apa ada yang kau sembunyikan dariku?" selidik Cynthia. "Ya, ampun." Manggala tergelak. Dia berinisiatif menghampiri Cynthia yang masih mematung di ambang pintu sambil membawa sekeranjang bunga. Dipeluknya tubuh molek nan seksi itu erat-erat demi meredakan kegalauan kekasihnya. "Maaf, ya. Sudah membuatmu curiga dengan sikapku," ucap Manggala. "Kau pasti lelah, ya? Terlalu banyak tekanan dalam pekerjaan bisa membuat stress," terka Cynthia. "Aku bisa me

    Last Updated : 2024-10-10
  • Janda Tapi Perawan   Hati Ke Hati

    "Ngga, terima kasih.." Aira tak henti-henti mengucapkan kata itu. Mungkin sudah puluhan kali. Namun, rasanya tak cukup untuk membalas kebaikan Manggala, pria yang dulu pernah dilukainya. "Santai saja, Ra. Anggap saja kita sama-sama diuntungkan. Kamu selamat dari gangguan Jati dan Senja, sedangkan aku ...." Aira mengernyit saat Manggala sengaja menggantung kalimatnya. "Kamu tahu sendiri, kan? Menikahimu adalah keinginanku sejak dulu," ujar Manggala lirih. Aira tertegun. Lekat, iris mata coklatnya memindai wajah tampan yang hanya berjarak beberapa senti darinya itu. Kata-kata Manggala terdengar pelan dan datar. Namun, siapa sangka jika bisa menggetarkan kalbu Aira. Debar jantung yang semakin lama semakin menggila, membuat Aira sesak napas. Selemah inikah dia menghadapi laki-laki? Dulu Jati, sekarang Manggala. Sungguh, Aira tak ingin terjatuh lagi. "Kamu mungkin menganggapku pecundang. Tapi, inilah yang kurasakan, Ra. Aku jatuh cinta padamu, sejak pandangan pertama." Manggala

    Last Updated : 2024-10-11
  • Janda Tapi Perawan   Kebahagiaan Semu

    "Mama!" Aira menghambur ke pelukan ibunya. "Kok bisa mama ada di sini?" "Manggala yang mengundang kami semua, Ra. Dia juga yang memberikan tiket akomodasi," sahut seseorang yang kini berdiri di belakang ibunda Aira. "Kak Sinta? Kak Wildan?" seru Aira. Terkejut, sekaligus bahagia karena ternyata Manggala tak hanya mendatangkan sang ibu, melainkan juga kakak kandung serta kakak iparnya. "Ngga, kenapa kamu nggak cerita?" Aira mengalihkan pandangan ke arah Manggala yang sejak tadi setia mengikuti di sampingnya. "Namanya juga kejutan." Manggala tersenyum manis seraya membelai lembut pipi Aira. Mendapat perlakuan semanis itu, sontak Aira tersipu. "Semoga ini menjadi pernikahan terakhirmu, Ra. Kuharap kalian selalu bersama sampai maut memisahkan dan bahagia selamanya." Kali ini, bait-bait doa tulus dilantunkan oleh Mira, sang tante yang ternyata juga berada di sana. "Senang rasanya melihat kalian semua berkumpul," ucap Aira penuh haru sekaligus meragu. Dia masih merasa tak percaya

    Last Updated : 2024-10-12
  • Janda Tapi Perawan   Lembaran Kelam

    "Jangan khawatir, Senja. Tidak ada dalam kamusku, menyakiti sesama perempuan. Aku anti merebut milik orang lain. Apalagi orang itu tidak pernah mencintaiku sejak awal," timpal Aira kalem. Dia sama sekali tidak berniat menyindir. Apa yang Aira ungkapkan hanyalah kenyataan. "Jangan terlalu berpikir macam-macam. Jalani saja hidupmu bersama Kak Jati dengan bahagia," sarannya. "Tapi, apa kamu bahagia, Ra?" sela Jati, tak memedulikan raut sendu istrinya. "Kak Jati bisa melihat dan menilai sendiri, kan?" Aira melingkarkan tangan di lengan Manggala dan bergelayut manja. Tanpa sungkan, dia menyandarkan kepala di pundak lebar sang suami. Manggala juga tampak tak keberatan. "Syukurlah." Jati memaksakan senyum. Sorot mata sejuta arti, dia layangkan pada Aira. Entah apa maksud tatapan itu, Aira tak peduli. Baginya, kisah bersama Jati sudah selesai dan tak ingin dia buka lagi lembaran kelam itu. Beruntung, Jati dan Senja tak berlama-lama di pesta. Mereka segera berpamitan setelah menikmati

    Last Updated : 2024-10-13
  • Janda Tapi Perawan   Alasan

    "Kau .... Sedang apa di sini?" Manggala menatap nyalang pada Brandon. "Kenapa memangnya? Apa aku harus memiliki undangan supaya bisa masuk ke dalam sini?" balas Brandon sinis. "Tentu saja. Kau tidak boleh sembarangan masuk di pesta seseorang," timpal Manggala. "Kenapa harus sembunyi-sembunyi? Bukankah kabar bahagia seperti ini harus disebarluaskan?" sindir Brandon. Merasa Manggala tak bisa berkutik, Brandon pun mengalihkan pandangan pada Aira. "Dan kau, Aira. Aku sama sekali tak menyangka bahwa sosok suamimu adalah dia," ujarnya sembari mengarahkan telunjuk tepat ke muka Manggala. "Seingatku, kau pernah mengatakan kalau kau dan suamimu berhubungan jarak jauh. Tak kusangka, ternyata kau memiliki bakat berbohong," cibir Brandon seraya tersenyum meremehkan. "Kami berhak menyembunyikan pernikahan kami dari siapapun yang kami mau. Kau tak punya hak dan alasan untuk menuntut ini dan itu," tegas Manggala. "Sebenarnya, aku sama sekali tidak peduli atas masalah kalian. Tapi, ada

    Last Updated : 2024-10-15
  • Janda Tapi Perawan   Kandas

    Di sisa waktu liburan, Aira mencoba bersikap biasa. Dia tak mau merusak suasana bahagia yang tengah dirasakan oleh Kartika. Ibunya itu harus tetap senang sampai tiba waktunya pulang ke Indonesia. Tak terasa, dua hari telah berlalu. Saatnya mereka semua harus check out dari hotel. "Mama masih di sini, kan?" tanya Aira was-was, sebab dirinya masih teramat rindu dengan sang ibu. "Wildan pulang lebih dulu besok pagi, karena dia punya banyak tanggungan pekerjaan di kantor. Wildan cuma mendapat izin cuti tiga hari. Sedangkan mama dan Sinta menginap di rumah Mira sampai seminggu ke depan. Rencananya, kami mau berjalan-jalan keliling Brisbane dulu sampai puas," jelas Kartika panjang lebar. "Syukurlah," ucap Aira sambil sesekali melirik ke arah Manggala. Ada satu keinginan yang tak berani dia ungkapkan pada suaminya itu. "Kamu mau menginap di rumah Tante Mira juga?" terka Manggala yang seolah tahu isi hati Aira. Sontak Aira tersenyum lebar. "Hebat! Kamu bisa membaca pikiranku!" sa

    Last Updated : 2024-10-16

Latest chapter

  • Janda Tapi Perawan   Laki-laki Kuat

    "Sudah kuduga, Bunda pasti mendengar semuanya." Ibra terkekeh. Namun, di sisi lain dirinya cukup gelisah, khawatir Imelda akan memarahinya, atau lebih parah lagi, memarahi Aira. Kekhawatiran itu bukannya tak beralasan. Ibra sempat menebak bahwa ibunya pasti berpikir jika secara tidak langsung, Aira lah yang menyebabkan Ibra pergi ke luar negeri."Ibra." Imelda maju selangkah dan berdiri tepat di hadapan putra tengahnya itu. Postur Ibra yang tinggi menjulang, membuat Imelda mendongak agar bisa menatap tepat ke arah kedua mata Ibra. "Bunda bangga padamu," ucapnya."Hah!" Ibra melongo. Tak menyangka jika Imelda malah memberinya pujian. "Bunda nggak marah?" tanyanya memastikan."Marah? Kenapa mesti marah? Bunda malah senang dengan pemikiranmu. Tandanya, pola pikirmu sudah dewasa dan matang, Nak," tutur Imelda sembari mengusap lembut lengan Ibra. "Lagipula, anak cowok memang harus merantau. Harus terbiasa menghadapi kerasnya dunia. Mentalmu harus ditempa supaya menjadi laki-laki kuat, laya

  • Janda Tapi Perawan   Nasihat Manis

    Aira tercenung setelah mendengar penuturan Manggala. Sebelumnya, Mira pernah memperingatkan dirinya tentang Ibra yang kemungkinan besar menaruh hati pada Aira. Namun, dia tak pernah menanggapi serius akan hal itu."Apa anak itu benar-benar menyukaiku, Ngga?" gumam Aira. "Siapa yang tidak suka padamu, Ra. Kamu cantik, cerdas, berbakat. Pokoknya paket komplit, deh," sanjung Manggala."Ah, gombal lagi!" Aira mencebikkan bibir."Serius, Sayang!" ujar Manggala."Padahal aku jauh lebih tua dari Ibra. Bisa-bisanya dia naksir aku." Aira terkikik geli."Kamu tuh masih kelihatan seperti anak kuliahan, Ra. Nggak akan ada yang menyangka kalau kamu tuh ibu anak satu," sanjung Manggala lagi."Ah, aku bosan dengan gombalanmu. Mending tidur," gerutu Aira. Sesaat kemudian, dia menarik selimut hingga ke dagu lalu memejamkan mata."Beristirahatlah, Sayang. Selamat tidur." Manggala mengecup lembut dahi Aira sebelum turut tenggelam ke alam mimpi.Entah berapa lama Aira tertidur, dia terbangun saat menden

  • Janda Tapi Perawan   Dari Hati ke Hati

    Setelah makan malam bersama, Manggala dan Aira memutuskan untuk menginap di kediaman Bayu dan Imelda. Namun, ada yang berbeda dari raut wajah pasangan suami istri itu. Manggala terlihat murung, dan Aira mampu menangkap hal itu. "Kamu kenapa, Ngga?" tanya Aira. Lama tak mendapat jawaban. Manggala masih terus asyik memandang lurus ke arah jalan raya yang tak terlalu ramai di depan. Jemarinya sesekali memutar kemudi. Merasa tak mendapat jawaban, Aira kembali bertanya sambil menyentuh lembut bahu suaminya, "Ngga?" "Ah, eh, iya, Sayang?" Manggala sedikit terhenyak, lalu menoleh kepada Aira. "Kamu kenapa?" ulang Aira. "Oh, itu ...." Manggala tersenyum kelu. "Kepikiran Ibra?" terka Aira. Manggala mengangguk lesu. "Aku merasa, keputusannya pergi ke luar negeri itu gara-gara aku," sesalnya. "Kok bisa?" Aira menautkan alisnya. "Ehm ...." Manggala tak langsung menjawab. Dia menoleh ke arah Enzo yang nyenyak tertidur di kursi khusus bayinya, di jok belakang. "Eh, sudah sampai. Kita la

  • Janda Tapi Perawan   Kejutan Manis

    Manggala langsung mencegah lengan Aira yang hendak menghampiri Mira. "Jangan," bisiknya sambil menggeleng pelan. "Kenapa?" tanya Aira. "Sepertinya Tante Mira dan Alex sedang kencan," jawab Manggala lirih. "Oh!" Aira membulatkan bibir. Diamatinya dua sejoli itu dari kejauhan. Mira tampak tersipu sambil sesekali menyentuh punggung tangan Alex yang memegang gelas. "Ah, tapi aku tidak tahan untuk tidak menyapa!" Aira mengabaikan larangan Manggala. Dia malah berlari mendekat dan menyapa sang tante. "Halo! Sedang apa Tante di sini?" sapa Aira ceria. "E-eh, Aira!" Mira tak dapat menyembunyikan sikap gugupnya. Demikian pula Alex yang terlihat serba salah. "Kamu sendiri ngapain di sini?" Mira balas bertanya. "Bunda dan Papa Bayu mengajak kami makan malam bersama, Tante," ucap Aira. "Oh, ya? Enzo mana?" Mira mengedarkan pandangan ke sekeliling. "Dia sedang bersama Ibra dan orang tua saya di lantai dua, Tante," sahut Manggala sopan. "Oh, begitu." Senyum kaku Mira tak lepa

  • Janda Tapi Perawan   Melepaskan

    "Aku memang kagum pada Kak Aira awalnya," ungkap Ibra lesu sambil diam-diam melirik sang kakak yang duduk menekuk lutut di sampingnya. Dua bersaudara itu memilih menepi, duduk berkalang tanah di tengah-tengah tanaman hias Imelda yang tumbuh subur di taman belakang. "Lalu? Kenapa bisa jadi begini?" tanya Manggala sinis. "Aku sendiri juga tidak tahu." Ibra tertawa getir. Manggala turut tertawa. "Aku suka melihat ketegarannya. Padahal waktu itu dia hancur sehancur-hancurnya saat mendengar berita kematianmu. Kak Aira selalu menampakkan senyuman manis, berusaha menunjukkan kalau dia kuat dan baik-baik saja," ungkap Ibra panjang lebar. "Dia tidak ingin membuat semua orang khawatir. Dia selalu berusaha menguatkan orang-orang di sekitarnya, walaupun sebenarnya Kak Aira lah yang paling butuh dikuatkan." Ibra menarik napas panjang setelah berhasil mengeluarkan semua yang dipendam dalam hati. "Dan di saat aku jauh, kamu berusaha mendekati Aira. Kamu ingin mengambil posisi kosong y

  • Janda Tapi Perawan   Selamanya Milikku

    "Ada-ada saja kamu, Ibra." Aira tertawa renyah. "Bukannya baru dua hari lalu kamu datang ke studio?""Maunya sih, ketemu tiap hari," sahut Ibra enteng, seolah tanpa beban. Seketika Aira terdiam. Teringat olehnya perkataan Mira beberapa waktu lalu. Tantenya itu meminta Aira untuk waspada terhadap Ibra. Aira sempat tak menanggapi kekhwatiran sang tante yang menurutnya terlalu berlebihan. Namun, setelah dipikir-pikir, Ibra memang terlihat berbeda. Perhatian yang diberikan lebih dari sekadar perhatian seorang adik.Dalam kegamangan itu, tiba-tiba dua tangan kekar melingkari perut rata Aira. "Siapa yang telepon?" bisik seseorang yang tak lain adalah Manggala.Sengaja pria tampan itu mendekatkan bibir di telinga Aira yang tak ditempeli ponsel. Sambil mengecup dan menggigit pelan daun telinga Aira, kembali Manggala bertanya, "Ibra, ya? Untuk apa dia telepon pagi-pagi?"Aira tak menjawab. Dia malah fokus pada panggilan yang belum berakhir. "Ibra, terima kasih perhatiannya. Nanti sore, aku a

  • Janda Tapi Perawan   Kangen

    "Stephen melihat ada sesuatu dari diriku yang mengingatkannya pada David. Dia menyukaiku sejak pertama kami bertemu, Ra," ungkap Manggala seraya membelai lembut punggung polos Aira. Keduanya kini tengah berpelukan dalam keadaan telanjang setelah melalui percintaan panas. Tubuh dua sejoli itu hanya ditutupi oleh selimut tipis berwarna putih. "Hm." Aira mengempaskan napas panjang. “Terus?” "Dia berkata kalau David hidup dalam diriku." Manggala menjelaskan sembari terkekeh. "Tuh, kan! Dia aneh sekali," gerutu Aira. "Ayolah, Ra," bujuk Manggala. "Ayolah, Ngga. Aku nggak mau kamu terjebak dengan konglomerat gila lagi. Nanti hidupmu disetir lagi, dihancurkan lagi seperti ...." Kalimat Aira mengambang, sebab Manggala lebih dulu mencium bibirnya. "Serah terima aset sudah dilakukan. Aku sudah sah menjadi pewaris Mr. Jungle satu-satunya," potong Manggala setelah melepaskan tautan bibirnya. "A-apa!" pekik Aira. Syok dan tak menyangka jika secepat itu Stephen akan mengikat sang suami.

  • Janda Tapi Perawan   Kenyataan Masa Lalu

    Aira lebih banyak termenung setelah Stephen McMahon alias Mr. Jungle berpamitan. Bahkan saat Manggala mengajaknya berbelanja bahan makanan dan kebutuhan dapur, Aira hanya menanggapi sekenanya saat sang suami bertanya."Perabot di rumah ini sudah lengkap, Ra. Kita tinggal menempati saja. Aku juga menyewa orang untuk membersihkan rumah setiap hari. Kamu jadi tidak perlu repot-repot memikirkan pekerjaan rumah,"tutur Manggala."Terima kasih." Aira tersenyum samar, lalu meninggalkan Manggala yang kebingungan melihat sikapnya yang tak biasa."Kamu kenapa, Sayang?" tanya Manggala keheranan."Tidak apa-apa." Aira menggeleng lemah sebelum membalikkan badan menuju kamar Enzo. Dibukanya pintu kamar bercat biru itu perlahan agar tak menimbulkan suara. Aira mengintip putra semata wayangnya yang nyenyak tertidur di dalam tempat tidur anak berukuran besar. Di sekeliing tempat tidur itu sudah terpasang pelindung berbentuk pagar yang akan menjaga bayi gembulny

  • Janda Tapi Perawan   Istana Kita

    Tangan kanan Manggala menggenggam erat tangan kiri Aira erat, sedangkan satu tangan lainnya memegang stroller, di mana Enzo tertidur pulas. "Apa kamu siap, Ra?" tanya Manggala dengan senyum terkembang. "Rumahnya bagus sekali, Ngga," sahut Aira ragu dengan tatapan mata tak lepas dari bangunan bergaya modern minimalis dua lantai di depannya. Manggala tersenyum puas. Baginya, kebahagiaan Aira adalah segalanya. Apalagi saat melihat Aira menyukai kejutan darinya, Manggala merasa sangat lega. Fokus Aira sama sekali tak lepas dari rumah bercat putih itu. Perlahan, dia melangkahkan kaki, melewati jalan setapak yang membelah halaman berumput, lalu menaiki tangga teras. Aira membuka pintu depan yang memang sengaja tak dikunci. Saking antusiasnya, dia sampai melupakan Enzo yang masih terlelap di stroller. "Wah, Ngga! Ini kan hasil foto-fotoku saat kita bulan madu di New Zealand!" seru Aira nyaring. Matanya membulat memindai setiap bingkai foto berukuran besar yang terpajang di dinding r

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status