Selesai acara tahlil Papa pamit pulang ke Jakarta, Papa datang dengan membawa mobil bersama Pak Edi. Bersyukur kini infrastruktur sudah maju, langsung masuk tol perjalanan Jakarta-Semarang dan sebaliknya, bisa di tempuh dalam waktu lebih cepat."Papa pamit ya, jaga dirimu baik-baik.""Iya Pa. Papa hati-hati ya." Aku masih merangkul lengan Papa. Mengantarnya sampai di halaman rumah, pun dengan Tante Fira, Om Zidan, beserta Zaki dan Azizah, kami semua berada di halaman rumah.Setelah Papa masuk mobil dan melambaikan tangan, perlahan mobil mulai bergerak meninggalkan halaman.Setelah memastikan mobil Papa sudah tak terlihat lagi, kami semua masuk ke dalam rumah.Baru saja kami semua memasuki pintu rumah, Tante Fira yang juga sudah mengunci pintu karena memang hari sudah malam. Tiba-tiba terdengar suara pintu di ketuk seseorang.Kami semua yang masih berada di ruang tamu, saling tatap.Tante Fira yang kembali memutar anak kunci, membukanya.Seorang laki-laki berdiri di depan pintu, pakaia
"Apa Tante? Cerai?"Tante Fira menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan, ia pejamkan erat matanya beberapa saat. Seakan mempersiapkan hari untuk menceritakan hal yang sangat berat padaku."Duduk dulu Tante, ini minum dulu teh-nya Tante." Aku menarik kursi untuknya, dan menyodorkan segelas teh hangat yang memang tadi kusiapkan untuk semua anggota keluarga ini."Makasih Yas." Tante Fira meraih gelas Teh dan menyesapnya pelan."Ada apa Tante?"Tante Fira menggeleng."Tante, Tyas paham, kenapa sampai Tante mengambil keputusan sebesar itu, pasti punya alasan kan? Apalagi sampai harus cerai.""Apa? Cerai? Siapa Ma?" Tiba-tiba suara Zaki mengagetkan.Seketika aku dan Tante Fira menoleh, Zaki menatap kami berdua dengan tatapan tajam."Ehm, maksudnya ... Aku Zak, aku kan sudah bercerai dengan Mas Iqbal," sahutku berusaha menutupi."Yas." Tante Fira menatapku sekilas."Duduk dulu Zak," pinta Tante Fira.Zaki duduk di depan Tante Fira."Maksud Nama Bapak kan? Mama sama Bapak ma
"Bapak akan tetap meminta hak Bapak. Di sana calon adikmu sebentar lagi Zak, dan Bapak butuh banyak biaya." "Ck! Itu urusanmu! Bukan urusan kami, apalagi meminta bagian yang jelas bukan hak Anda!" "Kamu kenapa jadi begini? Apa begini hasil didikan kamu Fira!" "Hei! Cukup! Anda benar-benar nggak punya kaca?! Aku begini karena ulah Anda! Bukan karena Mama! Jadi jangan pernah sekali-kali menyalahkan Mama!" bentak Zaki. "Bapak cuma mau–" "Nggak! Nggak akan sepeserpun kami membagi pada Bapak, karena memang Bapak nggak ada hak! Semua yang ada di sini adalah peninggalan Nenek. Jadi Bapak nggak ada hak. Sekarang aku minta Bapak pergi dari sini, dan jangan pernah lagi datang mengusik kami! Kami sudah terbiasa tanpamu!" "Cepat keluar dari rumah ini!" Zaki terlihat sangat murka. Dengan langkah cepat ia memasuki kamar mamanya dan tak lama kemudian keluar membawa tas ransel milik Om Zidan. "Ini bawalah! Cepat pergi dan jangan pernah datang lagi kemari." Om Zidan menatap nyalang ke
"Aku benci sama Bapak!" ucap Zaki tiba-tiba, saat kami bertiga sama-sama terdiam.Tante Fira menatap Zaki lekat. Kedua netranya masih merah dan bengkak karena sejak tadi menangis. Aku yakin sejak semalam Tante Fira menangis."Zak, Mama memang tak suka dengan apa yang sudah dia lakukan pada kita. Tapi Mama nggak pernah mengajari kamu untuk membenci Bapak. Bagaimanapun, seburuk apapun dia, dia tetap Bapakmu."Zaki langsung membuang muka."Dia sudah jelas menyakiti Mama. Menyakiti aku sama Zizah, Mama masih meminta aku untuk nggak boleh benci dia? Aku nggak bisa Ma! Dia sendiri yang sudah membuat anak-anaknya membencinya!" sentaknya lalu bangkit dari duduknya dan melenggang begitu saja memasuki kamarnya.Aku Hela napas dalam-dalam."Sabar Tante. Sekarang ini Zaki maupun Zizah, masih sama-sama Syok. Mereka nggak nyangka seseorang yang ditunggunya ternyata di luar sana sudah mempunyai rumah baru. Wajar mereka sekarang bersikap begitu. Beri mereka waktu, Tante."Tante Fira kembali terisak.
[Yas, apa kau sudah tidur?] tanya Yusuf dalam pesannya.Aku terdiam.[Belum. Ada Apa?][Ada yang ingin aku sampaikan? Bisa keluar sebentar?]Apa yang hendak Yusuf katakan?[Tapi ini sudah malam, aku nggak bisa keluar. Besok jam tujuh pagi di sungai. Sekalian aku mau ke pasar, sama Zaki.]Sebab aku tak ingin bertemu dengannya hanya berduaan saja. Bagaimanapun aku orang baru di sini, aku juga harus menjaga etika di tanah ini.Sekalian aku juga hendak pamit pada Yusuf kalau besok sore aku akan kembali ke Jakarta.[Oke. Istirahatlah, selamat malam]Aku tak membalas lagi. Aku memutuskan untuk ke kamar, merebahkan tubuhku di pembaringan.***Kicau burung mewarnai pagi yang dingin. Ketika aku menoleh ke samping dari arah timur, pancaran sinar mentari berwarna jingga, terlihat gagah, menghias awan putih. Menandakan hari ini cerah, walau udara di sini terasa di dingin.Aku menarik resleting sweater berwarna biru Dongker yang kukenakan, sambil menunggu Zaki keluar.Tak lama kemudian Zaki keluar
"Apa? Ehm, Suf, maksud kamu?" Aku cukup terkejut dengan apa yang dilakukan Yusuf saat ini. Bahkan ia membuka kotak merah itu, memperlihatkan cincin emas putih bertahtakan berlian. Walau hanya melihatnya saja aku sudah tahu jika barang mungil itu harganya tidak main-main."Aku serius Yas. Aku mencintaimu, sungguh. Bahkan rasa ini sudah ada ketika kita masih kecil dulu. Taukah kamu bagaimana jadi aku selama ini memendam rasa ini. Aku tersiksa sendiri ketika aku berusaha menghapus rasa ini." Yusuf berkata dengan suara serak.Aku tercekat."Yusuf aku–""Aku tahu ini mengejutkan bagimu. Tapi itulah kenyataannya Yas. Aku sendiri tak tahu, kenapa aku sulit sekali melupakanmu, padahal kita bersama-sama itu dulu. Aku pikir itu hanya perasaan cinta monyet yang nantinya akan terlupakan dengan seiring berjalannya waktu. Tapi ternyata aku salah. Selama aku di pesantren, tak pernah aku merasakan suka atau rasa tertarik pada perempuan lain, dalam keyakinanku hatiku, aku telah memiliki kamu, orang y
Sore hari Yuda dan Riyan sudah datang menjemput dengan membawa mobil. "Istirahat dulu Kalian, satu jam lagi baru kita jalan," ucapku pada mereka. Mereka yang baru saja tiba aku suruh untuk istirahat dulu. "Tante, makasih banyak ya, atas semua kebaikan Tante selama Tyas di sini. Tyas sebenarnya betah lho di sini, di sini tenang, adem, damai, kalau nggak inget kerjaan di Jakarta, mungkin Tyas pengin netap aja di sini Tante." Tante Fira tersenyum hangat. "Netap aja di sini, nikah sama Yusuf. Tante lihat dia itu beneran tulus sayang sama kamu lho Yas," ucap Tante Fira dengan berbisik. "Ih Tante apaan sih! Enggak lah! Yusuf pantas mendapatkan yang lebih baik dari aku Tante. Tante apa nggak pernah dengar beberapa tetangga pada mengidamkan dia jadi menantunya." Tante Fira justru terkekeh. "Ya, Tante denger. Tapi ya, kalau memang Yusuf-nya sukanya sama kamu, mereka bisa apa?" Aku menarik senyum menanggapi. Aku menganggap Yusuf hanya teman. Aku tak ingin memberinya harapan leb
Abian POV.Aku masih fokus di depan layar laptop di depanku. Ketika tiba-tiba dering ponsel di laci meja kerja berbunyi.Sejenak menghentikan aktivitasku yang tengah memeriksa seluruh laporan keuangan selama tiga tahun terkahir ini.Ya, sekarang aku memutuskan untuk kembali. Kembali masuk dan aktif di kantor milik Papaku.Tak peduli tatapan sinis Om Martin setiap hari kala kami bertemu.Toh aku ini anak Papa. Jika dibandingkan dia, tentu aku lebih berhak di sini. Bisa saja aku memberhentikan dia saat ini juga, kalau aku mau. Tapi belum saatnya aku mengungkap semuanya. Om Martin Satu-satunya orang yang tahu semua seluk beluk tentang perusahaan ini. Dia satu-satunya orang kepercayaan Papa yang di beri akses sepenuhnya oleh Papa dalam mengendalikan perusahaan.Aku membuka laci karena ponsel terus saja berdering.Pak Aditama tertera di layar."Ya Hallo Pak!" "Hallo Bi, maaf saya ganggu waktu kamu, saya cuma mau kasih kabar kalau Tyas ....""Tyas kenapa Pak?" Mendadak perasaanku tak enak.
"Pergi dari sini aku bilang! Pergi!" Sentak Iqbal dengan suara menggelegar."Oke, oke, aku tak akan mengambil Rayyan darimu. Tapi satu hal yang ingin aku sampaikan. Bagaimanapun aku ini adalah ayahnya. Jadi aku bisa sewaktu-waktu kemari untuk menengoknya. Kau tak bisa melarangku, kalau itu terjadi maka aku akan membawanya pergi jauh darimu."Ucapan Juna terdengar seperti ancaman bagi Iqbal."Oke! Tapi jangan pernah kau katakan kau adalah ayahnya. Tunggu sampai saatnya tiba. Saat dia bisa mengerti semua keadaan ini."Juna mengangguk kemudian pergi.Dalam keheningan malam, Iqbal duduk sendiri di kamar Rayyan, memandangi anak itu yang tertidur pulas. Sekarang Rayyan mulai mau menginap di rumah itu dan tidur bersama Iqbal. Tentu saja itu sesuatu yang sangat membahagiakan bagi Iqbal."Aku telah mencintaimu sejak hari pertama aku melihatmu di dunia ini," bisiknya lirih. "Sekarang dan sampai kapanpun ... tidak ada yang bisa mengubah itu." Iqbal mengelus pelan rambut lebat bocah yang tengah
Iqbal menunggu dengan penuh rasa penasaran. Jantungnya berdegup kencang.Dan Hasilnya ... TIDAK COCOK. Rayyan bukan darah dagingnya.Iqbal tercengang. Dunia seakan runtuh seketika. Hatinya hancur. Ia tidak tahu bagaimana harus bereaksi. Semua yang selama ini ia kira adalah kenyataan hidupnya, ternyata hanyalah ilusi. Amanda–wanita yang ia nikahi, ternyata telah menipunya. Namun yang lebih menyakitkan lagi, Rayyan anak yang selama ini ia anggap sebagai bagian dari dirinya, anak itu ternyata bukan anak kandungnya.Wajah Iqbal mendadak pucat. Ia masih seperti mimpi. Mimpi buruk yang membuatnya seperti kehilangan sebagian dari hidupnya.Meski ia berpisah lama dengan Rayyan karena dia di penjara, tapi dalam hatinya selalu menyakini bahwa Rayyan adalah permata hatinya. Dan sampai kapanpun dia tak merasa sendiri sebab ia punya anak. Tapi ternyata kenyataan berkata lain. Iqbal menggeleng, beberapa kali ia mengusap kasar wajahnya. Masih tak bisa terima dengan apa yang dikatakan dokter, tapi
Setelah menjalani masa hukuman di penjara selama beberapa tahun, Iqbal kembali ke dunia luar dengan segunung tantangan yang menantinya. Fauzan yang telah menjamin kebebasan untuk Iqbal. Iqbal tak pernah menyangka, orang yang dulu ia tolong, kini telah sukses dan bahkan bisa menolongnya keluar dari penjara. Iqbal sangat berterimakasih pada Fauzan.Bayangan suram masa lalunya membayang-bayangi langkahnya, tapi ia mencoba menghapus semuanya, memulai lembaran baru. Fauzan menjemput Iqbal dengan mobil miliknya. Begitu sampai di halaman rumah Iqbal terkejut Hasna tengah sibuk melayani beberapa pembeli."Hasna," ucap Iqbal dengan senyum tersungging di bibirnya.Bergegas ia turun dari mobil untuk menemui ibunya. Beberapa langkah sebelum sampai di teras toko, ia melirik ke arah pintu rumahnya. Harusnya ada ibunya yang menyambut kepulangannya di sana. Mendadak hatinya gerimis, mengingat kini ibunya sudah tidak ada lagi.Dulu ibunya adalah satu-satunya orang yang selalu ada mendukungnya. Wala
Amanda duduk duduk di tepi ranjang kecil yang suram, memandangi jendela yang menghadap ke gang sempit di sudut kota Semarang.Diluar kehidupan kota samar-samar terdengar, namun jiwa wanita itu terasa hampa. Tubuhnya lemah, wajahnya pucat dengan tatapan matanya kosong. Sisa kehidupan yang dulu penuh hingar bingar kini hanya menyisakan sebuah penyesalan yang tak tertahankan."Aku muak dengan semua kelakuanmu! Kamu hadapi semua ini sendiri! Aku nggak mau tahu! Ini kan buah dari semua perbuatanmu!" sentak Yusuf sore itu sebelum memutuskan untuk pergi ke Jakarta.Yusuf yang menjadi kakak tiri Amanda, merasa sudah capek menghadapi berbagai model orang yang datang menagih hutang pada Amanda.Yusuf seolah menjadi ATM bagi Amanda, seenaknya dia meminta kakaknya untuk membayar hutang-hutangnya.Yusuf pun merasa capek. Akhirnya dia memutuskan untuk pergi dan berusaha bersikap masa bodoh dengan Amanda. Karena semakin di turuti keinginannya, Amanda semakin menjadi. Seolah makin banyak saja orang
Salah satu perawat yang tinggal tak begitu njauh dari rumah Hasna datang tergopoh, ia langsung mengecek kondisi tubuh Bu Wina yang dingin."Maaf, Ibu Wina sudah tidak ada," ucap perempuan itu lirih."Innalilahi wa Inna ilaihi Roji'un." Beberapa orang tetangga yang sudah datang turut berduka.Sedangkan Hasna masih tak sadarkan diri."Panggilkan Bapakya Hasna, cepat!" seru salah satu tetangga memberi titah pada tetangga lainnya. Laki-laki yang diberi perintah itu pun bergegas lari ke rumah Bapaknya Hasna, yang tinggal tak jauh dari rumah itu bersama Bu Maryam."Astaghfirullah, ada apa, Hasna! Hasna!" Laki-laki paruh baya itu datang, ia syok melihat Wina istri pertamanya telah berpulang. Dan Hasna masih terbaring pingsan.Dalam hati kecilnya ia sangat sedih, meski semasa hidup dan tinggal bersama Wina ia kerap kali berbeda pendapat, kerap kali bertengkar, tapi perjalanan waktu yang di lalui bersama, tentu menyimpan sejuta kenangan bersama juga bersama anak-anak mereka."Yang sabar Pak! I
Pagi-pagi sekali Hasna sudah bersiap untuk pergi menemui Iqbal."Mbak Santi, tolong titip Ibu sebentar ya. Akan saya usahakan cepat pulang." Hasna meminta bantuan tetangga untuk menjaga ibunya sebentar, selama dia pergi."Iya Hasna, tenang aja. Saya akan di sini sampai kamu pulang.""Terimakasih banyak Mbak Santi.Hasna pun berangkat dengan memakai motor matic second yang dibelinya, untuk di pakai setiap kali berbelanja mengisi tokonya.Saat tiba di Lapas, seketika Hasna merasakan atmosfer yang berat. Rasa rindu, marah, kecewa, dan kesedihan bercampur aduk menjadi satu di dalam dadanya. Saat Iqbal muncul di ruang kunjungan, Hasna melihat perubahan besar dalam diri kakaknya. Wajahnya tirus, tubuhnya semakin kurus, rambutnya sedikit berantakan, dan ada bayangan kelam di matanya."Hasna ..." Iqbal memanggil namanya dengan suara serak, seakan-akan ia tak percaya adiknya benar-benar datang.Hasna duduk di depannya, diam sejenak. Suasana canggung terasa di antara mereka. "Aku datang karen
"Selamat sore, Mbak Hasna," sapa pria itu.Hasna sedikit terkejut. Ke apa laki-laki itu bisa tahu namanya. Dari gelagatnya dia seperti tidak berniat untuk membeli sesuatu di toko."Sore, Pak. Ada yang bisa saya bantu?""Saya teman lama Iqbal. Namaku Fauzan. Saya baru dengar tentang kejadian yang menimpa keluargamu."Hasna terdiam sejenak. Ada rasa kekhawatiran, jangan-jangan kakaknya punya hutang pada temannya ini dan sekarang dia datang untuk menagih hutang. Begitu pikir Hasna."Oh, begitu. Ada yang bisa saya bantu? Maaf Mas Iqbal tidak ada di rumah."Fauzan mengangguk pelan. "Aku hanya ingin tahu bagaimana kabar ibumu. Aku tahu bahwa apa yang terjadi dengan Iqbal pasti bagi kalian."Hasna memandang pria itu dengan sedikit rasa waspada. Ia memang pernah mendengar nama Fauzan dari Iqbal, tapi mereka tak pernah bertemu sebelumnya. Tentu saja, setelah semua yang terjadi dengan kakaknya, ia sulit untuk langsung mempercayai siapa pun, terutama orang yang datang tiba-tiba tanpa diduga.H
POV Author. Jalan Terjal Kehidupan keluarga Iqbal."Makan dulu Bu." Hasna menyuapi ibunya–Wina dengan telaten.Nasi putih dengan tekstur sedikit lembek dan sayur Sop ayam. Biasanya ibunya akan sangat suka dengan menu satu ini. Tapi hari ini Bu Wina seperti tak ada nafsu makan."Bu, lagi ya." Bu Wina menggeleng. Hasna menghela napas."Ya sudah sekarang minum obatnya, ya." Hasna bergegas menuju ke kamar ibunya, membuka laci nakas tempat ia menyimpan obat.Setelah kejadian Bu Wina jatuh stroke, Hasna memilih resign dari kantor dan fokus di rumah mengurus ibunya.Ia membawa Wina kembali ke rumah lamanya. Sedangkan Bu Maryam dan Bapaknya pindah dari rumah itu, tinggal tak begitu jauh dari rumah Bu Wina."Ini Bu obatnya." Setelah selesai mengurusi ibunya, Hasna membawa ibunya ke depan teras rumah, udara pagi yang sejuk, juga sinar matahari pagi bagus untuk kesehatan ibunya."Hasna buka warung dulu ya." Bu Wina hanya mengangguk. Sebenarnya Bu Wina masih bisa bicara walau ada sedikit terb
"Halo Sayang, aku sekarang bagi diperjalanan pulang ke Jakarta." Aku mengabari Tyas melalui sambungan telepon."Iya Mas hati-hati. Gimana tadi ketemu sama Pak Bambang?""Ketemu Sayang.""Terus?""Nanti aku ceritakan di rumah ya. Assalamualaikum."Panggilan selesai. Aku fokus mengemudi dengan karena jalan berbelok-belok dan berbatu.Aku kembali ke Jakarta dengan menggenggam luka. Kesaksian Pak Bambang, tentu memberi titik terang sekaligus memberikan luka. Betapa Martin sangat jahat. Padahal Papa sudah sangat percaya padanya.Ternyata dia tega mengkhianati kepercayaan Papa. Sungguh ini sakit sekali."Ya Allah Pa. Lihat kan Pa, orang yang selalu Papa bela mati-matian, orang selalu menjadi diri diantara hubungan kita. Ternyata dia adalah orang yang sangat busuk! Brengsek! Awas saja Kau Martino, aku pastikan kau akan mendekam di balik jeruji besi untuk waktu yang sangat lama," geramku, sambil memukul stir mobil beberapa kali.Aku berhasil keluar dari jalan desa, kini melewati jalanan yang