Berpikir jika lelaki yang dia abaikan pasti kembali datang, ternyata salah terka. Hingga hari kedua, jangankan sosoknya, sekilas kabar pesan pun tidak ada. Bahkan bagaimana respon yang makanan diantar kurir, tidak ada protes dan amuknya. Ke mana dia, Shanumi bertanya-tanya. “Mbak, ntar malam jadi jenguk Yena, nggak?” tanya Mila saat membawa uang dan bon meja. “Iya, jadi. Kalian pulang dulu, mandi dan ganti baju. Soalnya jenguk orang.” Shanumi sambil menghitung uang kembalian. “Iya, Mbak,” sahut Mila sambil menerima uang kembalian dan pergi.Semalam, Yena memberi kabar jika dirinya keguguran. Tidak serius, sebab kandungannya dinyatakan bersih tanpa perlu ada tindakan kuret. Hanya dokter menganjurkan istirahat setidaknya tiga hari. “Mbak, ada yang nyari. Jaket hitam pakai kaca mata. Duduk di meja dua puluh!” ujar Dena saat berlalu. Membawa setumpuk piring kotor. Shanumi meletak uang kembali. Tidak jadi dihitung olehnya. Siapa? Daehan? Mungkin….Bergegas turun kursi dengan buru-buru
Shanumi yang diam seolah beku ditempat, tambah jantungan kala Daehan berjalan mendekat. Memicing mata dengan rahang mengeras, melewati Intana sedikit dan berhenti. “Siapa yang menyuruhmu datang ke sini?” tanyanya dingin. Membuat Shanumi kian kaku dan serasa tak bermuka. “Aku… mengantar sarapan pagimu. Seperti yang pernah kamu minta waktu itu.” Shanumi melawan gentar dan gemetar suaranya. Berdebar menunggu reaksi Daehan. Dua alis tebal lelaki itu sedang bertautan sekilas. “Sudah kubilang, tidak butuh. Sudah aku pesankan sendiri. Oh, bicaramu pada calon suamiku seperti pada teman. Sejak kapan berani sok akrab dengannya?” tanya Intana menyela sengit. Shanumi menarik napas beberapa kali dengan cepat. “Aku tidak sok akrab. Hanya terbawa cara Mas Erick bicara dengan Mas Daehan,” sahut Shanumi nekat. Ingin menunjuk sedikit power pada Intana. Juga merasa lega, Daehan diam saja dan tidak mencelanya. “Alasan. Jika tidak ada Mas Erick denganmu, tahu dirilah sedikit. Siapa yang sedang kamu
Shanumi sedang menerima telepon di balkon apartemen selesai mencuci piring dan perkakas kotor di wastafel. Menumpu siku di pagar besi pengaman dengan pandangan yang jauh. Baru ditutupnya perbincangan saat Daehan tiba-tiba datang dan berdiri di sebelah. “Mau ke mana?” tanya Shanumi. Daehan terlihat rapi dengn kemeja biru muda tanpa jas dan dasi. Mengenakan celana hitam yang membuatnya kian terlihat gagah. “Aku akan menemui seseorang, ada hal penting yang harus kami bicarakan,” ucap Daehan, juga dengan memandang jauh ke depan. "Siapa yang nelpon?" tanya Daehan menoleh Shanumi."Erick ... dia kata ingin singgah di kafe. Namun, tidak tahu lagi kapan tepatnya." Shanumi menjelaskan."Apa dia di Surabaya? Dia pasti senang, sudah tahu alamatmu." Daehan menatap jauh ke awan putih di depan. Mengingat jika Erick sempat mengeluh sedang mencari seorang gadis. Rupanya yang dicari adalah gadis yang sempat membuat Daehan merasa sungguh apes dan naas yang fatal.Shanumi terdiam, menduga dengan sia
“Mau ke mana, Mbak?” tanya Mila saat bos kafe turun tangga membawa harum yang semerbak. “Ke rumah Yena sebentar, Mil.” Shanumi sumringah dan cerah. “Udah malem, Mbak.” Mila melongok jam dinding, pukul delapan malam. “Iya, nunggu hujan reda sih. Paling di sana bentar saja. Takut kejebak hujan jika turun lagi,” ucap Shanumi sambil berjalan ke belakang. Mengambil segunung parcel buah dan sekotak paket delivery kafe. Telah disiapkan untuk Yena dengan hati bahagia. Seminggu lebih tak bertemu membuat hatinya sangat rindu. Terlebih sedang ada hal gembira yang akan dia kabarkan. Shanumi berjalan ke depan lagi sambil salam sekilas pada anak kafe yang dijumpa terlebih pada Mila. Anak kafe selain Yena yang coba dia percaya. Terlihat cerdas dan jujur juga satu-satunya hijaber di antara anak kafe. Berharap penampilan luar seiring baiknya dengan kepribadian luar dalam. Selebihnya, Shanumi pasrahkan kepada yang di atas. Juga pada CCTV kafe yang belakangan dipasangnya.Blak! “Shanumi!”Bunyi p
Shanum merasa lega, suara riuh yang membuat merinding tetapi bukan seram telah redam perlahan dan sama sekali menghilang. Hanya deras jatuh hujan yang kembali menerobos ke gendang telinga. Keinginan untuk kembali tidur, nyatanya gagal total. Suara membuka pintu membuat Shanumi cepat memejamkan mata dan tidur pura-pura. Hingga lama, Yena tidak juga kembali menyusul. Berharap tidak usah, sebab perasaan jadi tidak nyaman. Mungkin Yena atau suami atau juga keduanya hanya pergi ke kamar mandi di belakang. Shanumi berusaha keras untuk santai dan tidur. Namun, Shanumi kembali tegang dan berdebar di pembaringan. Suara parau Yena kembali mengudara. Kian lama kian heboh. Mereka kembali berassyik massyuk di kamar sebelah dan mungkin sedang lupa di daratan, menganggap tengah berlayar seru di lautan. Atau lupa sedang berada di rumah tanpa kedap suara dan menganggap di stadion sepak bola Gelora Bung Tomo Surabaya yang bebas semaunya. “Aduh,” keluh Shanumi merasa sangat tidak nyaman. Menutup teli
“Aku ingin melihatmu.” Meski Daehan tidak berbuat apa pun dan Shanumi masih berselimut. Ucapan lelaki itu seperti menunjuk jika dia sudah berbuat lebih dari apa yang dikatakan. “Tidak sopan, emang aku cewek apaan?!” sembur Shanumi sengit dengan mata kian melotot. Daehan menahan tawa. Sikap Shanumi yang galak justru membuat gemas. Mata indah lebarnya juga membuat sangat cantik. Lagi-lagi jadi pemicu jiwa lelakinya bergolak hebat. “Kamu itu bukan cewek lagi. Tapi istri, Shanumi!” Daehan mendekati. Sudah sangat memahami, terlihat sengit sebegitu saja. Selebihnya, Daehan yakin akan mudah membuat luluh. “Istri, istri siapa aku?” tanya Shanumi mencemooh. Lelah raga dan hawa dingin seolah menguap, bertukar rasa tegang menghadapi Daehan. “Emang ada lelaki lain yang sudah mengawinimu selainku?” tanya Daehan sambil tertawa santai. Tidak sebanding dengan Shanumi yang berapi. “Emang nggak ada selainmu. Tapi nanti akan ada. Kita sudah putus. Nikahan hanya status rahasia di KUA. Selebihnya
Yang dia yakini tidak salah, bukan susah membuat luluh Shanumi di depannya. Yang mula menolak keberatan, kini pasrah dengan tampilan menakjubkan. Mengingat selama ini tidak berbuat hal-hal melanggar bersama Erick, bahkan sempat dibanggakan pria itu di depan orang, kini Daehan merasa puas telah membuat Shanumi tanpa busana karenanya. Jiwa pongah sebagai lelaki sedang membahana. “Bagaimana perasaanmu…?” tanya Daehan parau. Menghentikan segala gerak cumbuann. Setelah lama terlena kini kepo akan perasaan gadis yang telah dibuatnya tak berdaya. “Aku tidak tahu…,” sahut Shanum tercekat menahan malu. Berpaling wajah ke samping dengan cepat, menyimpan rona pias dan memerah di kulit cerahnya. Daehan yang menindih pun mengambil wajah itu dan mereka saling pandang. “Ini yang pertama bagimu?” tanya Daehan sayu dengan napas yang ditahan. “Kalo bukan yang pertama, emang aku pernah melakukan seperti ini dengan siapa?” sahut Shanumi dengan membantah biasanya, tetapi dengan nada yang berbeda, m
Shanumi meninggalkan Daehan yang tidur pulas di kamarnya. Mandi dini hari dengan guyuran air dingin yang menyegarkan dan mensucikan di kamar sebelah. Bukan dingin, hawa Surabaya senantiasa gerah tanpa pandang musim dan waktu. Berulangkali meyakini jika Daehan tidak sampai menodai dalam artian diri tetap virgin. Meski tidak sesuci sebelumnya, masih ada mahkota yang dibanggakan dan bisa dibawa ke hadapan suami kelak dengan rela. Ah, siapa nanti suaminya?Mendadak bayang Daehan yang sedang membawa mengarungi nirwana barusan justru terbayang kencang. Begitu lihai dan seperti bukan pengalaman yang pertama. Mungkin seperti itulah lelaki, sudah naluriah sebagai pemimpin di segala situasi dan kondisi. Salutnya, pria itu bisa membawa terbang mengawang tanpa perlu membuat dirinya kesakitan. Seperti kata Yena saat making love pertama kali dengan suaminya! "Ah, tentu saja beda. Daehan kan tidak...," ucap Shanumi di bawah guyur shower. Bibirnya tersenyum tetapi tampak sedih. Kamar sebelah….Dae
Daishin yang terbang ke Jepang lebih cepat beberapa hari daripada Osara, hari ini terpaksa kembali ke bandara untuk menjemput kedatangan gadis itu malam ini. Mama Azizah dan Papa Handy akan menyusul dua hari kemudian. Setelah dirasa kesehatan papanya benar-benar fit tanpa keluhan. Daishin baru saja berdiri di pintu kedatangan saat dari jauh terlihat calon istri dadakannya mendorong koper baru yang berwarna coklat susu. Setelah berada dekat dan mereka saling menghampiri, sangat jelas jika wajah cantik Osara sangat masam dan tanpa senyum memandangnya. “Sudah kubilang, tidak perlu jemput aku. Temanku sudah siaga menyambutku.” Osara berkata dingin seperti biasa belakangan ini. Sikapnya pada Daishin kembali ketus dan kaku setelah mereka dijodohkan. Sikap membaik saat saling dukung untuk mendapat video bukti Firash waktu lalu, kini hilang tak tersisa. “Mana temanmu? Jika siaga harusnya sudah di sini.” Daishin menyahut datar. “Dia masih dalam perjalanan. Lambat beberapa menit hingga bela
Kamar ICU di rumah sakit terasa sungguh sunyi, hanya suara mesin pemantau jantung yang berbunyi pelan di samping ranjang. Osara duduk di kursi, matanya sembab, sementara Daishin berdiri dengan wajah muram di dekat jendela.Sama-sama sedang merasa cemas dan merasa bersalah. Terlebih beberapa kali tatapan Mama Azizah yang tajam seperti sedang mengiris dan menguliti. Di atas ranjang, Papa Handy berbaring lemah meski kesadarannya sudah kembali. Wajah memucat tetapi matanya tetap memancar sorot tegas. "Aku hanya ingin melihat kalian menikah sebelum aku pergi," suara Papa Handy terdengar lirih namun penuh harapan. Kembali mengungkit perkara penyebab kambuh sakitnya. Osara menggigit bibir. "Tapi, Pa ... jangan bicara seperti itu. Kumohon, mengertilah. Kami tidak saling mencintai. Aku juga tidak terpikir untuk menikah dengannya. Keinginan Papa, aku tidak bisa." Osa bersikeras pelan dan hati2. Daishin yang sudah berdiri di sebelahnya pun mengangguk. "Ini bukan hal yang bisa kami jalani beg
Orang-orang di ruang tamu terbelalak. Bahkan juga Osara. Tetapi semua bungkam dan mematung memandang Daishin. Pengakuannya barusan terdengar tidak masuk akal bagi Papa Handy dan Mama Azizah. Osara sungguh heran, tidak menyangka Daishin tiba-tiba mengaku yang sebenarnya. Waswas pada Papa Handy, takut jantung di dada tua itu kembali bermasalah. Lagi-lagi itu membuatnya merasa selalu jadi penyebab segala ketidaknyamanan belakangan ini. Padahal, Osara berharap semua berlalu begitu saja tanpa perlu mencium bangkai dalam rumah di keluarganya. Justru kecewa dan sangat terkejut akan pengakuan Daishin yang tiba-tiba. Sayang, tidak ada kesempatan untuk melarang Daishin membuat pengakuan. “Duh, Shin …. Bicara apa kamu ini? Ucapkan istighfar. Sana ucap istighfar, Nak. Hal begitu tidak boleh buat candaan dan main-main,” Mama Azizah yang akhirnya memecah kebisuan. Memang sama sekali tidak percaya. “Iya, ngomong apa sih? Kamu nggak lihat keadaan! Bercanda nggak kira-kira!” Osara ikut nenimpali
Sebab ucapan Firash, Papa Handy seperti sedang kebakaran jenggot. Sangat tidak terima dan menganggap tuduhan itu hanyalah alibi Firash yang mengada-ngada. “Jangan ucap fitnah secara ceroboh demi menutup aibmu sendiri, Firash.” Papa Handy bicara dengan nafas yang seolah hanya sampai di tekak. Terlalu marah hingga susah berkata-kata. Napasnya pun memburu tiba-tiba. “Siapa yang berkata fitnah, Om? Ha ha ha, aib anak orang di seberang benua sebesar gajah. Aib anak sendiri di lubang hidung tak terendus. Pandai sangat ya Osara kau?!” ucap Firash tampak puas dengan senyum lebarnya pada Osara. Lelah menatap marah pada Firash, kini tatapan Papa Handy bergeser pada Osara. Anak angkat yang sedang diperjuangkannya itu justru menunduk dengan tangisan. Seketika tatapan Papa Handy berubah nyalang sebab perasaannya tiba-tiba tidak enak. Bukan marah, menyangkal atau mengumpat tidak terima, tetapi Osara justru menangis. Ah, respon macam apa itu?! Papa Handy merasa harus terbiasa menghadapi Osara.
Sudah hampir pukul tujuh pagi, tetapi matahari belum terbit di bumi jiran, Malaysia. Maklum, waktu subuh pun tiba sekitar pukul enam pagi. Meski perbedaan waktu hanya 1 jam lebih cepat dengan waktu di Indonesia bagian barat, tetapi perbedaan waktu ini sungguh mencolok. Namun, sebenarnya waktu di Malaysia ini memberi kemudahan kepada seluruh warga. Khususnya bagi muslim. Kenapa? Tentu jatuh waktu begini lebih membuat ringan. Bisa bangun pagi sekalian shalat subuh sambung pergi kerja. Sebab, waktu efektif kerja pun dimulai pukul tujuh pagi. Berbeda tantangan dengan di Indonesia bagian barat. Serba nanggung rasanya, subuh pukul empat lebih, sedang waktu efektif kerja pukul tujuh. Habis subuh tidur dulu. Alhasil bangun tidur kepala jadinya pening! Apa kamu pun begitu? Namun, ada waktu di Indonesia yang bersamaan dengan waktu di Malaysia. Yakni di wilayah Waktu Indonesia bagian Tengah. Tidak ada selisih waktu dengan di Malaysia! Osara turun tangga dengan penampilan yang sudah rapi da
Alarm yang sudah diatur menjelang subuh telah berbunyi nyaring. Menggelitik telinga pemiliknya di atas tempat tidur. Hingga menggeliat dan diam sejenak yang tidak lekas bangun. Termenung di atas bantal hingga bunyi alarm benar-benar terasa memuakkan. Daishin terpaksa bangkit dari kenyamanan dan menghempas kemalasan. Tidak ingin lebih mengulur waktu. Setelah mandi dan tunai subuhnya, segera keluar kamar demi niat menemui papanya. Tidak lupa sambil membawa ponsel. Bahan bukti penyemangatnya pagi ini. “Sudah bangun, Shin? Semalam pulang jam berapa?” tegur papanya di ruang keluarga yang biasa. Daishin sudah menduga, tiap subuh, Papa Handy memang selalu sudah siaga di luar kamar. Biasanya pergi ke halaman untuk jalan sehat keliling atau jalan santai di luar pagar pada jalan utama. Namun, sebab sedang kurang enak bodi, papanya hanya melangkah-langkah pelan di dalam rumah luas ini. Dalam hati, Daishin terus memohon agar papanya segera diberi sehat kembali. “Pulang jam sebelasan, Pa.”
Perjalanan dari Genting Highland menuju kota Kuala Lumpur yang menelan waktu hampir dua jam pun berakhir. Daishin sampai di rumah Mama Azizah kembali tepat pukul sebelas malam. Suasana sepi dan lengang itu terkikis dengan pintu rumah yang tiba-tiba terbuka. Osara yang sudah tahu bahwa video bukti berhasil didapat, tentu saja sangat senang dan tidak mungkin pergi tidur. Kini menyambut kedatangan Daishin di teras dengan membukakan pintu rumah. “Assalamu'alaikum.” Daishin melempar salam sebelum melewati Osara di pintu. “Wa'alaikumsam.” Osara menyahut. “Terima kasih ya ….”Osara menjawab salam disusul ucapan terima kasih dengan memandang Daishin sebentar. Kemudian berpaling dan pura-pura akan menutup pintu. Tatapan elang itu membuatnya salah tingkah. Antara lega juga merasa bersalah. “Sebaiknya lekas istirahat saja. Papa Handy dan Mama Azizah baru saja tidur. Mereka sama-sama sedang minum obat. Mama pun tidak enak badan tiba-tiba. Mungkin sedang banyak pikiran. Maaf….” Osara kembali
Daehan telah memindahkan istri ke kamar rawat di klinik hotel. Menunggu dengan tegang yang membuatnya tidak mengantuk sama sekali. Padahal hari sudah larut malam. Selain tegang tidak mengantuk, rasa lapar juga terlupa. Padahal sudah kelewat lama waktu makan. Hanya kabar kejutan dari dokterlah yang membuatnya merasa terus kenyang. Seperti kabar hoax bahwa istrinya telah mulai mengandung calon anaknya. “Shanumi!” Daehan sangat girang saat tiba-tiba kelopak mata istri bergerak-gerak tanda akan siuman. Segera dicium berulang kali kening halusnya itu. Ingin Shanymi segera sadar sepenuhnya. “Mas…!” Shanumi berseru saat matanya benar- benar terbuka, wajah Daehan telah begitu dekat menyapa. Diulurnya kedua tangan dan Daehan pun sigap menyambut. Mereka erat saling berpelulan. Shanumi merasa lega luar biasa. “Alhamdulillah, Shan. Kamu sudah sadar. Bagaimana rasanya? Apa yang sakit? Kenapa sampai pingsan?” tanya Daehan beruntun yang meluah betapa cemas dirinya. “Maaf, ya. Aku sudah kelua
Lelaki India yang bertampang garang dan sangar sebab kulitnya yang gelap dengan jambang tebal, ternyata adalah wakil malaikat. Shanumi benar-benar di antar ke lobi tanpa sedikit pun punya modus. Lelaki itu telah berlalu meninggalkan hotel setelah sempat memastikan bahwa Shanumi akan baik-baik saja. Sebab sangat buru-buru, lelaki India itu pun berlalu meski belum ada titik terang. Namun…. “Benar, Kak. Tidak ada nama Tuan Daehan dalam daftar pengunjung.” Petugas resepsionis kembali meyakinkan. “Tapi aku dan suamiku benar-benar menginap di sini. Kami dari Indonesia.” Terang Shanumi penuh harap. “Kebetulan banyak sekali pengunjung dari Negara Indonesia ya, Kak. Saya sudah membacanya dengan teliti. Tidak ada nama dari suami Kakak.” Petugas berbicara lembut tetapi sangat tegas. Shanumi hidak ingin lagi mendebat. Kini menuju sofa dan duduk di sana untuk sekedar melepas lelah. Sambil berpikir keras bagaimana menemukan kamarnya. Juga mengharap Daehan mencari dan menemukannya dengan cepat