Share

21. Mengikuti

Penulis: Ocean Na Vinli
last update Terakhir Diperbarui: 2024-06-03 16:27:10

Cahaya lampu di sekitar tampak temaram. Namun, berkat cahaya bulan di atas langit, Katherine dapat melihat wajah Karl meski samar-samar. Kini, dalam jarak beberapa meter, Karl tengah menoleh ke kanan dan ke kiri, seakan-akan tengah memastikan keadaan di sekitar. Bagi siapa pun yang melihat pasti akan menimbulkan tanda tanya besar.

Katherine membungkukkan badan tatkala hampir saja pandangannya bertemu dengan Karl barusan.

"Mencurigakan sekali, ke mana Karl pergi ya?" gumam Katherine pelan sambil matanya sesekali melirik ke depan.

Ia bergeming, sedang mengambil ancang-ancang untuk mengikuti Karl. Sejak tadi bersembunyi di balik hamparan bunga yang menjulang tinggi di sekitar taman. Mata Katherine seketika membola saat dari arah selatan, seorang pria yang wajahnya tidak jelas menyembul dari balik semak-semak.

Katherine kesulitan melihat wajah pria tersebut. Karena lelaki itu membelakangi Katherine. Namun yang jelas bukan Leon, kaki tangan Karl dan juga bukan orang yang pernah dia tem
Bab Terkunci
Membaca bab selanjutnya di APP

Bab terkait

  • Istri Kontrak Pangeran Frederick    22. Penasaran

    Dalam keadaan minim pencahayaan, Katherine berusaha memberontak dan tanpa pikir panjang menginjak kaki si pelaku. "Awh!" Berhasil, si pelaku reflek menurunkan tangan. Akan tetapi dahi Katherine berkerut samar saat mendengar rintihan yang tak asing sekarang. Secepat kilat ia memutar badan. Mata Katherine terbelalak. "Frederick ..., mengapa kau ada di sini?" tanyanya heran dan penasaran. Frederick terlihat meringis. "Tenagamu lumayan kuat, uh. Seharusnya aku yang bertanya, kenapa kau malam-malam begini ada di hutan?" Katherine hendak membalas namun akan teringat tujuannya masuk ke dalam hutan tadi. Lantas dengan cepat memutar tubuh ke belakang. Dahinya kembali berkerut sebab kumpulan manusia tadi tiba-tiba menghilang. Dia bergegas berlari kecil ke depan sambil mengabaikan suara panggilan Frederick di belakang."Katherine, hei kau mau ke mana? Ayo kita kembali ke istana, di sini berbahaya!" Frederick berlari cepat, mengekori Katherine. Katherine tak langsung menjawab, malah menoleh

    Terakhir Diperbarui : 2024-06-03
  • Istri Kontrak Pangeran Frederick    23. Jadi Partner

    Katherine terjatuh ke tanah. Dia tak sengaja menabrak punggung belakang Frederick barusan. Sebab lelaki bermata biru menghentikan langkahnya tiba-tiba. Sepertinya Frederick mendengar obrolan mereka tadi. Katherine amat terkejut tatkala mendengar suara teriakan Frederick barusan. Dengan cepat dia mendongak, melihat raut wajah Frederick merah padam. "Berhenti membicarakan dia!" seru Frederick seketika."Puteri, Anda tidak apa-apa 'kan?" Logan nampak khawatir lantas bergegas membantu Katherine berdiri.Mata Katherine mulai berkaca-kaca. Menahan sesak yang seketika merasuk jiwanya. Hari ini sudah dua kali Frederick membentaknya. Katherine pun tidak tahu mengapa hari ini suasana hatinya begitu sensitif. "Apa kau marah jika aku membicarakan Victoria? Aku hanya ingin tahu, apa itu salah, siapa tahu saja aku bisa membantumu." Suara Katherine terdengar bergetar. Menahan air matanya agar tak meluruh.Riak muka Frederick mendadak berubah menjadi datar. Lelaki itu terdiam tapi matanya tak berk

    Terakhir Diperbarui : 2024-06-04
  • Istri Kontrak Pangeran Frederick    24. Kembali Ke Setelan Awal

    Melihat kemolekan tubuh Katherine, Frederick terpaku di tempat. Bagi lelaki dewasa seperti Frederick pasti akan tergiur. Walaupun selama ini ia selalu mengatai tubuh Katherine kecil dan bukan tipenya. Sejak tadi jakun Frederick naik dan turun, menelan air ludahnya sendiri. Tetesan air hujan di atas genteng istana membuat keheningan di dalam kamar semakin terasa, sampai pada akhirnya Katherine segera tersadar. Dengan cepat ia menutup dada lalu memutar badan ke belakang sambil berkata," Frederick, keluarlah, aku mau pakai pakaian dulu." Katherine geleng-geleng kepala, rasanya begitu malu saat tubuhnya dilihat seseorang selain dirinya sekarang. Sebenarnya ini hal wajar bukan bagi pasangan suami istri. Tetapi, status pernikahan dia dan Frederick hanya pernikahan kontrak saja! Tak ada tanggapan, di belakang Frederick masih asik memandang ke arah Katherine, dengan mata tak berkedip-kedip. "Frederick, keluarlah, kau ingat kan status kita!" seru Katherine kembali, tatkala tak mendenga

    Terakhir Diperbarui : 2024-06-05
  • Istri Kontrak Pangeran Frederick    25. Merayu

    Di luar, hujan masih turun dengan lebat, membasahi rumah kecil yang terletak di tengah-tengah hutan belantara. Suasana di sekitarnya tampak gelap gulita, hanya terlihat pepohonan meliuk-liuk halus akibat terkena angin ribut malam. Mata Karl mendadak gelap sekarang, pecahan kaca dari luar membuatnya menerka-nerka, apa Frederick telah mengutus seseorang membuntutinya. Akan tetapi, mengingat keamanan di sekitar sangatlah ketat. Ia ragu-ragu. Meski rumah ini hanyalah rumah kayu. Namun, di depan sana ada pagar menjulang tinggi dan tidak dapat ditembus siapa pun selain ia dan para komplotannya. Memikirkan hal itu Karl malah menyungging senyum sinis lalu melirik Montero. Kemudian tanpa mengeluarkan suara, dia memberi kode kepada Montero untuk memeriksa keadaan di luar.Montero mengangguk patuh lalu bergegas keluar bersama dua pria lainnya. Sesampainya di depan pintu berlapis kayu itu. Montero arahkan pistol dan senter bersamaan ke sumber suara sembari mengerakkan mata ke segala arah. Dia

    Terakhir Diperbarui : 2024-06-06
  • Istri Kontrak Pangeran Frederick    26. Aku Tahu

    Lea sangat terkejut. Namun tangannya tak berhenti mengelap paha Frederick."Jauhkan tanganmu!" Suara bariton Frederick membuat Lea reflek mendongak. Tatapan jijik yang dia dapatkan dari bola mata biru itu. Lea dapat merasakan atmosfer di sekitar menjadi dingin, seakan-akan dia seperti tinggal di kutub utara sekarang.Lea terpaku di tempat. "Kau dengar jauhkan tanganmu!" seru Katherine.Katherine langsung berdiri di samping Frederick lalu menggandeng tangan suaminya erat-erat.Secara perlahan Lea menurunkan tangan lalu bangkit berdiri dan membungukkan badan sedikit di hadapan pasangan suami istri itu."Maafkan aku Pangeran, maafkan aku juga Kak, tadi aku tidak sengaja menumpahkan teh," kilah Lea dengan menunjukkan mimik muka bersalah. Katherine tersenyum sinis. "Tidak sengaja, jelas-jelas kau sengaja menumpahkan teh itu, kau pikir aku tidak melihatmu tadi."Katherine baru saja selesai sarapan dan berencana menemui Frederick. Setelah bertanya pada pelayan di mana keberadaan Frederick

    Terakhir Diperbarui : 2024-06-06
  • Istri Kontrak Pangeran Frederick    27. Melempar Umpan

    "Apa kau tidak kasihan dengan Karl, atau jangan-jangan dia tahu rencanamu," lanjut Katherine kembali dengan seringai tajam terukir di wajahnya. Lidah Lea mendadak kelu dan sulit untuk digerakkan sekarang. Mendadak air mata yang meluruh dari netranya berhenti mengalir seketika. Senyuman Katherine membuat dirinya mematung di tempat. Katherine tersenyum puas lalu secara perlahan menegakkan tubuh. "Pengawal, bawa Lea keluar, cambuk dia sebanyak 10 kali." Begitu perintah terdengar, dua orang pria melangkah terburu-buru masuk ke dalam. Lea diseret keduanya keluar dari ruangan. Tak ada perlawanan, wanita itu masih termenung, sibuk dengan pikirannya. "Puteri apa hukumannya tidak berat, kasihan Lea," kata Karl seketika setelah melihat Lea menghilang bersama dua pengawal di balik pintu. Katherine tersenyum sinis." Berat katamu, sesuai peraturan istana seharusnya aku memberikannya 100 kali cambukan, Lea patut bersyukur aku hanya memberikannya 10 kali cambukan, apa kau mau mengantikan Lea?"

    Terakhir Diperbarui : 2024-06-07
  • Istri Kontrak Pangeran Frederick    28. Membalas Balik

    Lea bagai orang kesurupan, berteriak-teriak kencang. Penampilannya sangat berantakan, gaun yang dikenakannya pun terlihat kotor karena pingsan di pelataran istana tadi."Lea, tenanglah! Apa maksudmu, mama tidak mengerti!" Zara semakin heran. Dia guncang-guncang kuat pundak Lea berulang kali. Lea sesenggukan, cairan bening mengalir deras membasahi pipinya. Bola matanya pun terlihat memerah juga. "Pokoknya aku tidak mau tahu, Mama harus membunuh Katherine!!!" jerit Lea sekali lagi. Napas Zara terdengar memburu, tersulut emosi karena Lea membuatnya kebingungan. Tanpa banyak kata dia menampar kuat pipi Lea."Berhenti menangis, sialan!" teriak Zara.Kepala Lea bergerak ke samping. Wanita berusia 20 tahun itu terkejut dan segera menghentikan tangisnya. Dengan cepat ia memalingkan wajah ke depan. "Mama, kenapa menamparku?" tanya Lea, memegangi pipinya yang terasa sangat pedas sekarang. "Bagaimana mama tidak menamparmu! Dari tadi kau menangis seperti orang gila! Sebenarnya apa yang terja

    Terakhir Diperbarui : 2024-06-07
  • Istri Kontrak Pangeran Frederick    29. Dendam

    Lea bergeming, tak langsung pergi, masih memandang ke depan sana, hendak memastikan apakah obat berkerja dengan sempurna atau tidak. Satu detik, dua detik, tiga detik, hingga beberapa menit pun berlalu. Di depan sana, dengan raut wajah meringis kesakitan dan dahi mulai dipenuhi keringat, Katherine memegangi kepalanya. 'Mampus kau, ini saatnya kau dicampakkan Frederick.' batin Lea, mengulas senyum licik. Saat ini suasana di istana begitu sepi, bagaikan tak ada penghuni di dalamnya. Lea ingat bila tadi sempat melihat Frederick pergi entah ke mana. Dalam sepersekian detik, Katherine tiba-tiba bangkit berdiri. Wanita bermata abu itu berjalan dengan sempoyongan ke lorong lain. "Panas," Katherine bergumam-gumam sembari memejamkan mata sesaat. Katherine merasakan ada sesuatu yang sangat aneh dan asing menjalar di sekujur tubuhnya sekarang. Dengan sekuat tenaga dia berjalan di lorong-lorong istana dan sesekali matanya berpendar ke segala arah. Tampak sepi, sunyi, senyap, tak

    Terakhir Diperbarui : 2024-06-09

Bab terbaru

  • Istri Kontrak Pangeran Frederick    133. Hari Bahagia - TAMAT

    Benda berbahan kaca itu langsung pecah, mengenai punggung Victor. Victor tak peduli malah makin mempercepat langkah kaki sambil tersenyum puas. Meninggalkan Larisa menjerit-jerit histeris. ...Keesokan harinya, pagi-pagi sekali istana gempar dengan kabar gembira dari Grace. Grace ternyata tengah mengandung. Bukan hanya Grace, Katherine pun juga, mengandung anak kedua. Keduanya sama-sama muntah tadi pagi. Sukacita menyelimuti hati Xavier, Frederick dan Victor. Saat ini mereka tengah sarapan bersama di ruang makan, ada Logan dan Robert juga terlihat duduk bersama. Sementara Larisa memilih sarapan di kamar karena hatinya dalam keadaan buruk sekarang. "Aku tidak sabar dengan kedatangan anakku, Grace. Semoga saja anakku perempuan dan anakmu laki-laki, jadi kalau sudah besar kita bisa menjodohkan mereka," celetuk Katherine setelah selesai menyantap roti. "Iya, amin, semoga saja anakku laki-laki, pasti lucu jika mereka sudah besar nanti," balas Grace tak kalah senang. "Aku setuju, maka

  • Istri Kontrak Pangeran Frederick    132. Kebenaran

    "Apa kau lupa aku menikahimu karena terpaksa, sampai kapan pun nama Clara tidak akan hilang, kaulah yang membuat aku dan Clara tidak bisa bersama, aku muak dengan sikapmu Larisa!" seru Victor dengan mata berkobar-kobar. Larisa mendekat. "Oh ya? Tapi wanita itu sudah mati sekarang dan kau tidak bisa memilikinya! Akulah yang memilikimu sekarang Victor!" Victor menyeringai tipis. "Kau hanya memiliki ragaku tapi tidak dengan jiwaku!"serunya dengan lantang. Membuat Larisa mengepalkan kedua tangan. Meski Clara sudah meninggal tapi di hati Victor nama Clara masih terus terukir dan tak pernah memudar sekali pun. Dulu, sebelum menikah dengan Larisa. Victor dan Clara sudah terlebih dahulu menjalin hubungan. Kala itu status Victor masih menjadi pangeran, belum menjadi raja. Sementara Clara baru bekerja di istana dan menjadi pelayan pribadi Victor. Karena sering bertatap muka Victor mulai jatuh cinta dengan Clara. Keduanya pun menjalin hubungan tanpa sepengetahuan anggota kerajaan. Akan

  • Istri Kontrak Pangeran Frederick    131. Menerima

    "Diam kau! Kau juga sama seperti mamaku! Bedanya mamaku pelayan istana! Sementara kau jadi anak angkat bangsawan baik hati! Asal-usulmu juga tidak jelas. Jadi jangan menghina mamaku, wanita jalang!" seru Xavier dengan muka Xavier semakin memerah. Dia sudah tidak memikirkan lagi adab dan sopan santunnya di istana. Larisa masih saja menghina mendiang mamanya. Padahal mamanya sudah tidak ada lagi di dunia, Larisa berhati ular dan tidak pantas disebut manusia!"Xavier, cukup! Kau tidak boleh menghina Mamamu!" teriak Victor menggelegar tiba-tiba. Membuat kumpulan manusia di ruangan tertegun. Mereka tak berani membuka suara di antara ayah dan anak itu, memilih diam dan mendengarkan dengan seksama pertikaian yang terjadi di depan mata.Pemegang tinggi di istana, saat ini wajahnya sangat tak bersahabat. Kemarahannya membuat sebagian orang ketakutan, termasuk Grace yang saat ini meneguk ludah berkali-kali. Berbeda dengan Xavier tak ada rasa takut sedikit pun yang terpancar dari bola matanya.

  • Istri Kontrak Pangeran Frederick    130. Heran

    Mendengar suara teriakan Xavier, seluruh anggota kerajaan Norwegia datang menuju sumber suara, tepatnya di ruang tamu. Sesampainya di ruangan, Larisa dan Sisilia membelalakan mata dengan kedatangan anggota kerajaan Denmark berada di sini. "Apa-apaan ini Xavier?" Victor, raja yang masih menjabat menjadi pemegang kekuasaan di Norwegia langsung bertanya. Kerutan di keningnya mendadak muncul dengan kedatangan tamu yang tak diundang pada malam-malam begini. Xavier tak langsung menjawab, ada secuil kerinduan menjalar di hatinya. Dia sudah lama tidak bertatap muka dengan ayahnya. Terlebih, umur ayahnya sudah tak lagi muda sekarang, ada banyak keriput di wajah dan rambut hitamnya pun sebagian sudah memutih. Akan tetapi, Xavier menghapus cepat kerinduannya tersebut kala mengingat perlakuan Victor selama ini. "Atas nama kerajaan Denmark, aku minta maaf karena datang malam-malam begini ke istana bersama istriku dan Pangeran Xavier." Saat melihat Xavier terdiam, Frederick langsung angkat bica

  • Istri Kontrak Pangeran Frederick    129. Kerjasama

    "Ayolah Pangeran, keluarlah kami tidak akan mengigit!" Lagi pria itu berseru sambil mengeluarkan tawa keras hingga teman-temannya pun ikut tertawa. Xavier menahan geram. Dadanya bergemuruh kuat seakan-akan meledak juga saat ini. Sampai-sampai Grace menggerakkan sedikit kepalanya ke samping dan membuat salah satu rumput bergerak. Alhasil salah seorang pria yang tak sengaja melihat adanya pergerakkan dari salah satu rumput yang memanjang, mengalihkan pandangan. Dalam sepersekian detik dia pun langsung meloncat tepat di hadapan Grace dan Xavier. "Bah! Dapat kalian!" pekiknya sambil menodongkan pistol ke kepala Grace. Grace langsung memekik histeris,"Tolong!!!" Xavier tak diam, ikut juga menodongkan pistol ke arah kepala si pelaku. Kelima pria lainnya serempak mengarahkan mata ke arah pasangan suami istri itu sambil mengangkat pistol masing-masing. Suasana mendadak tegang. Baik Xavier maupun keenam pria lainnya tak ada yang mau mengalah. "Jangan bunuh kami!" pekik Grace,

  • Istri Kontrak Pangeran Frederick    128. Melarikan Diri

    Grace terbelalak ketika melihat enam orang pria keluar dari mobil sambil menodongkan pistol ke arah mereka sekarang. Pria-pria asing itu tampangnya sangat menyeramkan, seperti preman pasar, ada tato-tato di tangan dan muka, bahkan terlihat tindik pula di hidung. "Keluar kalian!" teriak salah seorang pria dari luar lalu melempar senyum smirk. Grace makin panik. Dengan cepat menoleh ke samping kembali. "Xavier, bagaimana ini?" Dia sedikit heran mengapa Xavier sama sekali tak panik. Suaminya itu hanya menampilkan ekspresi datar namun tanpa sepengetahuan Grace, mata elang Xavier memandang ke arah kumpulan pria tersebut dengan sorot mata tajam. Tanpa menoleh ke samping, Xavier pun berkata,"Jangan lepas sabuk pengamanmu."Grace hendak bertanya namun belum juga lidahnya bergerak, Xavier melajukan mobil dalam kecepatan di atas rata-rata. Alhasil enam orang pria tersebut melesatkan timah ke arah mereka. Akan tetapi, Xavier berhasil mengelak dan menabrak pula kedua mobil yang menjadi pengha

  • Istri Kontrak Pangeran Frederick    127. Keluar Dari Istana

    "Kenapa kalian ingin keluar istana? Apa ada seseorang yang menyakiti kalian?" Dengan sorot mata merah menyala, Katherine lantas beranjak dari kursi. Riak mukanya pun berubah tak enak pandang sekarang. Mendengar tanggapan Katherine, Xavier dan Grace saling lempar sesaat dengan dahi mengerut samar. "Tidak ada Putri, ini kulakukan karena kami ingin hidup tenang dan jauh dari hiruk pikuk,"jawab Xavier. Tadi malam Xavier dan Grace telah mempertimbangkan rencana dengan matang. Keduanya ingin hidup tenang dan menetap di desa terpencil, hanya berdua dan suatu saat nanti tinggal bersama buah hati mereka. Bukan hanya alasan itu, Xavier juga tak enak hati dengan kedatangan Robert dan Sisilia akhir-akhir ini. "Tidak bisa! Aku tidak mengizinkan kalian keluar istana!" seru Katherine kemudian. Xavier melebarkan mata, tampak terkejut dengan respons Katherine. "Tapi Putri, kami—""Aku bilang tidak, ya tidak–""Sayang, tenangkan dirimu dulu, hei duduklah." Frederick langsung menyela saat kondisi d

  • Istri Kontrak Pangeran Frederick    126. Perketat Keamanan

    "Fred." Katherine merasa ada yang tidak beres lantas mendorong pelan dada Frederick. Frederick pun merasakan hal yang sama. Sungguh aneh, malam-malam begini malah terdengar bunyi pecahan kaca. Katherine dan Frederick serempak melirik jendela, memastikan apa jendelanya yang rusak. Akan tetapi, setelah diamati, jendela kamar dalam keadaan aman. Kerutan di kening Katherine dan Frederick makin bertambah. Pasangan suami istri tersebut menyudahi kegiatan panasnya lalu beringsut dari kasur dan memakai pakaian dengan tergesa-gesa. Begitu pula dengan Xavier dan Grace menghentikan kegiatannya, memilih keluar hendak memeriksa apa yang telah terjadi. Keduanya tanpa sengaja berpapasan dengan Frederick dan Katherine di lantai satu. "Ada apa ini Pangeran?" tanya Xavier dengan kening mengerut kuat. "Entahlah, aku juga tidak tahu, aku pikir dari jendela kamar kalian?" Frederick pun bertanya. Jika bukan berasal dari kamarnya bisa jadi bunyi pecahan dari kamar Grace. Sebab kamar Grace tepat berada

  • Istri Kontrak Pangeran Frederick    125. Kami Tahu

    Katherine dan Frederick saling melirik satu sama lain, tengah menahan senyum sekaligus merasa bersalah atas perbuatan mereka tempo lalu. "Untuk apa meminta maaf Xavier?" Frederick memberi tanggapan terlebih dahulu, perasaan bersalah mulai memenuhi hatinya. Sebab demi egonya dia menjebak Xavier dengan obat perangsang kala itu. "Sudah seharusnya kami meminta maaf pada Pangeran dan Putri karena telah berbohong selama ini, aku juga minta maaf." Grace ikut menimpali. "Kalian tidak salah Grace, Xavier. Itu masalah kalian, dan setidaknya buah dari kebohongan kalian menghasilkan sebuah rasa, 'kan?" ujar Katherine, ikut berkomentar. Grace malah cengengesan. Merasa pasangan suami istri di hadapannya ini, terlampau baik. Hal yang wajar jika Katherine dan Frederick marah. Namun, reaksi keduanya di luar perkiraan. Xavier pun memiliki pikiran yang sama dengan Grace. Secara perlahan menatap kembali pasangan tersebut."Iy—a Putri, tapi terimalah permohonan maaf dari kami, hatiku rasanya mengganj

DMCA.com Protection Status