Beranda / Romansa / Istri Kedua di Antara Kita / Menunggu Ayuni jadi Janda?

Share

Menunggu Ayuni jadi Janda?

Penulis: Salwa Maulidya
last update Terakhir Diperbarui: 2025-01-23 14:54:19

“Ke—kenapa kamu baru memberitahuku, Ayuni?” Andreas cukup lemas mendengar pernyataan dari Ayuni bahwa mereka sempat hampir memiliki anak.

“Aku … aku keguguran dan tidak bisa memiliki anak dalam waktu yang panjang.” Ayuni mengusap air mata di pipinya.

“Aku sudah pasrah, Mas. Sudah menerima keadaan bila nanti kita harus berpisah. Tapi, kamu sendiri yang memilih bertahan denganku. Karena ulah kamu juga karena terlalu semangat bila sedang menyentuhku.”

Ayuni kemudian mengusap air mata yang jatuh di pipinya. Sakit rasanya memberi tahu apa yang sebenarnya tengah dia alami. Menyimpan semua rahasia itu seorang diri karena tidak ingin melukai perasaan Andreas.

“Aku pernah meminta kita untuk berpisah. Tapi, kamu berjanji akan menerima aku apa adanya. Kenyataannya tidak seperti itu. Meski pernikahan itu bukan inginmu, tapi kamu sudah mengingkarinya.”

Ayuni kembali berbicara. Ia kemudian menatap Andreas dengan mata sayunya. “Aku ingin cerai, Mas. Lepaskan aku agar aku tidak menjadi beban kamu lagi.”

Andreas menggeleng dengan pelan. “Nggak. Kamu bukan beban aku, Sayang. Kita saling mencintai. Kamu harus tetap ada di sampingku.”

Ayuni tersenyum lirih. “Sudah ada Gita, untuk apa masih mengharapkanku.”

“Gita bukan alasan untuk kita berpisah.”

“Nyatanya karena kehadiran dia, aku memilih pergi.”

“Dan aku ingin kamu kembali lagi. Jangan pergi, aku mohon. Kamu boleh menjaganya selamanya, kalau kamu ingin. Untuk kesehatan kamu juga, Ayuni.”

Ayuni terdiam. Mendengar ucapan Andreas membuatnya merasa bersalah. Apa yang sebenarnya terjadi? Perasaan apa yang membuatnya seperti ini?

“Ayuni. Please.” Andreas memohon. Ia tidak ingin pergi. “Sampai seratus kali pun kamu menggugat cerai aku, tidak akan pernah aku kabulkan.”

Ayuni hanya menelan saliva dengan pelan. Tidak menjawab apa-apa lagi. Sebab rasanya tidak akan pernah berhenti.

**

Satu minggu sudah Ayuni dirawat di rumah sakit. Kini, perempuan itu tengah duduk menyandar di sandaran bangsalnya.

“Hei!” Ryan menghampiri Ayuni kemudian duduk di depan perempuan itu.

Ayuni tersenyum tipis. “Aku baru tahu, kalau istri kamu sudah pergi. Bagaimana dengan anakmu?”

“Shakira? Dia baik. Setiap minggu kami selalu mengunjungi makamnya.”

Ayuni mengangguk-anggukkan kepalanya. “Pasti sulit sekali melepas kepergian dia. Tapi, mau gimana lagi. Tuhan lebih sayang dia.”

Ryan mengangguk seraya mengulas senyumnya. “Arumi sudah bahagia di sana. Aku pun harus bahagia di sini. Aku tidak ingin terlalu larut dalam kesedihan karena kehilangan dia. Meski aku sangat mencintainya bahkan hingga kini pun masih belum bisa mencari penggantinya.”

“Sepertinya tidak akan, yaa. Fokus membesarkan Shakira saja. Dia juga kayaknya nggak minta mama baru lagi.”

Ryan terkekeh pelan. “Setahun lamanya Arumi pergi dari hidup kami, Shakira diasuh oleh Naina, adiknya Arumi. Kamu pasti kenal dengan dia. Selama ini, kalau aku sedang kerja, dialah yang merawatnya. Jadi, sepertinya mungkin tidak perlu mencari mama baru untuk dia.”

Ayuni mengulas senyum tipis. “Hebat!”

“How with you? Nggak jadi cerai, kan?”

Ayuni tersenyum miring lalu mengendikan bahunya. “Dia sudah tahu kalau aku menjaga kehamilan dan membiarkan itu asalkan tetap bersamanya. Tapi, sudah hampa, Ryan.”

“Ya. Aku paham dengan perasaanmu, Ayuni. Ada orang ketiga dalam hubungan itu memang tidak menyenangkan.”

“Begitulah. Aku akan pergi setelah Gita hamil, Ryan. Aku tidak ingin membuat anak itu kekurangan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Rasanya jahat kalau aku merawatnya, sementara dia masih memiliki ibu.”

Ryan menepuk-nepuk lengan Ayuni. “Yang sabar, yaa. Kamu perempuan hebat. Harusnya kamu bisa melewati itu semua.”

Ayuni mengangguk. “Iya. Terima kasih, atas moodboster-nya. Kamu ini cocoknya jadi psikiater daripada dokter bedah.”

Ryan terkekeh pelan. “Nggak gitu konsepnya, Ayuni.”

Perempuan lantas menerbitkan senyum kepada lelaki itu. “Ryan. Dulu, kamu itu orang paling kalem yang aku kenal. Sampai sekarang pun masih juga kalem.”

“Sudah dari sananya mungkin. Tapi, anakku aktif. Dia cepat sekali dekat dengan orang yang baru dia kenal. Kamu belum pernah ketemu dia, kan?”

Ayuni menggeleng dengan pelan. “Boleh, ketemu sama Shakira? Kayaknya anaknya manis-manis gimana gitu. Aku kenal baik sama Arumi. Tahu banget dia cantiknya kayak gimana. Shakira juga pasti cantik banget.”

Ryan menerbitkan senyumnya. Ia kemudian mengambil ponselnya dan memperlihatkan foto sang anak kepada Ayuni.

“Tuh, kan! Apa aku bilang. Astaga, imut banget. Jadi pengen culik.”

Ryan terkekeh pelan mendengarnya. “Boleh diculik. Asalkan dikembalikan lagi.”

Ayuni mengusapi wajah anak berusia tujuh tahun itu kemudian menghela napasnya dengan pelan. “Andai dia tumbuh dengan baik di rahimku, mungkin usianya tidak jauh dari Shakira. Bisa jadi mereka pasti sudah berteman baik dengan Shakira.”

Ryan kembali mengusapi lengan perempuan itu. “Suatu saat nanti, setelah luka itu sembuh, dia akan tumbuh lagi.”

Ayuni menyunggingkan senyum tipis. “Siapa yang tengoknya? Aku udah nggak berniat melayani Andreas lagi.” Ayuni mengusap wajahnya lalu mengembungkan pipinya.

“Kenapa? Nggak bisa membayangkan Andreas sama Gita lagi main?”

Ayuni lalu melirik Ryan dan menyunggingkan bibirnya.

Ryan tertawa pelan melihat ekspresi wajah Ayuni. “Sudahlah, tidak perlu dibayangkan. Akan membuat kamu jadi serba salah. Bukankah lebih cepat lebih baik?”

“Iya. Aku tidak akan membayangkan hal bodoh itu. Semua perempuan pasti merasakan itu dengan pasangannya.”

Ryan menganggukkan kepalanya. “Iya, Ayuni. Besok pagi kamu sudah boleh pulang. Kondisi kamu sudah semakin membaik.”

Ayuni mengangguk. “Iya, Dok.”

Ryan geleng-geleng kepala lalu tersenyum tipis. “Meski aku dokter, kalau kamu manggil aku kayak gitu, agak gimana gituu.”

Ayuni terkekeh pelan. “Terus, maunya dipanggil apa? Mas Ryan?”

“Itu apalagi.”

Ayuni kemudian mengerucutkan bibirnya. “Aku mau tidur dulu. Udah malam.”

Ryan menganggukkan kepalanya. “Nice dream, Ayuni. Jangan mimpiin Gita sama Andreas lagi main, yaa.”

“Sialan!” Ayuni lantas memukul lengan Ryan.

Lelaki itu kemudian terkekeh lalu menarik selimut Ayuni hingga ke dada. “Good night!” ucapnya lalu keluar dari kamar rawat Ayuni.

Bersamaan dengan Ryan keluar dari kamar rawat Ayuni, Vita datang dan langsung menerbitkan senyum yang lebar kepada lelaki itu.

“Kenapa kamu?” tanya Ryan tampak aneh melihat Vita.

“Dih! Kamu sendiri ngapain cengar-cengir gitu abis keluar dari kamarnya Ayuni? Lagi nunggu jandanya Ayuni, yaa?” bisik Vita sembari menunjuk wajah Ryan.

Pipi Ryan lantas memerah mendengarnya. Ia kemudian tertawa canggung sembari mengibaskan tangannya.

“Kamu ini, dari dulu sampai sekarang masih saja bicara yang di luar nalar.” Ryan mengelak atas tebakan Vita.

Perempuan itu kemudian mengerucutkan bibirnya. “Ya udah, kalau emang nggak mau ngaku.”

“Kamu mau ke mana? Ayuni sudah tidur. Besok lagi saja kalau mau jenguk. Besok dia sudah diperbolehkan pulang.”

Ryan kemudian menarik tangan Vita dan membawanya ke kantin. Duduk saling berhadapan dan menatapnya lekat.

“Vita. Kamu tahu, kalau Ayuni sempat keguguran?” tanyanya kemudian.

Komen (2)
goodnovel comment avatar
Icha Qazara Putri
Nah bener tuh apa kata Vita Ryan nunggu Ayuni janda agar jadi mama untuk Sakira wkwkwk
goodnovel comment avatar
Kania Putri
wah Ryan perhatian banget ini sama ayuni ya, katanya Ryan ini suka deh sama ayuni
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

  • Istri Kedua di Antara Kita   Lama-lama Terbiasa, kemudian Jatuh Cinta

    Vita terdiam sejenak kemudian menghela napas kasar. “Tahu. Orang tua Ayuni juga tahu. Hanya Andreas yang nggak tahu karena saat itu memang usia kandungannya baru tiga minggu.”“Seharusnya Andreas diberitahu.”“Harusnya. Tapi, Ayuni juga harus ngasih tahu kalau dia dijaga. Lima tahun lamanya, Ryan. Udah lima tahun Ayuni dijaga karena kondisi rahimnya nggak baik kalau hamil lagi. Ayuni sempat kok, minta cerai sama Andreas.“Tapi dianya yang nggak mau dan akan menerima Ayuni apa adanya. Eeh! Ternyata semuanya bulshit. Dia nikah lagi bahkan tanpa sepengetahuan Ayuni. Kan kampret. Ayuni sempat mikir, katanya itu karma buat dia karena udah merahasiakan penyakit dia.”Ryan menghela napas dengan pelan. “Sebenarnya Ayuni masih mencintai suaminya, kan?”Vita mengendikan bahunya. “Entah. Hanya Ayuni yang tahu kalau soal itu.”Ryan tersenyum tipis kemudian pamit pergi. Pun dengan Vita yang akhirnya mengurungkan diri untuk menjenguk Ayuni sebab perempua itu rupanya sudah tidur.**Waktu sudah men

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-23
  • Istri Kedua di Antara Kita   Dalam Proses Cerai

    Di taman kota dekat permainan anak-anak, Ayuni duduk di kursi panjang menunggu Ryan dan juga Shakira yang ingin bertemu dengannya.Ya. Ayuni memilih bertemu dengan Shakira yang ingin bertemu dengannya. Entah memang Shakira yang ingin bertemu, atau Ryan sendiri yang ingin kembali menemui perempuan itu.“Hei! Sorry banget, baru sampai.” Ryan menghampiri Ayuni kemudian mengulas senyumnya.“Eh! Iya, nggak apa-apa.” Ayuni kemudian mengusapi pucuk kepala Shakira. “Halo, anak manis. Namanya Shakira, yaa?”Shakira mengangguk. “Halo, Tante. Tante namanya Ayuni, yaa? Cantik banget, mirip Mama.”Ayuni tersenyum malu-malu mendengar ucapan Shakira. “Shakira juga cantik. Mirip sekali sama mamanya.” Ayuni mengusapi pucuk kepala anak kecil itu.Ayuni kemudian menatap Ryan yang tengah menatapnya juga. “Eh! Kacamatanya ke mana? Kok nggak dipake?”“Hanya kalau lagi kerja saja. Kalau di luar, males pake.”Ayuni manggut-manggut. “Sini, duduk, Sayang. Kamu baru pulang sekolah, yaa?” tanyanya kepada Shakira

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-23
  • Istri Kedua di Antara Kita   Akui Saja

    “Keterlaluan kamu, Ayuni! Kamu bilang akan pulang. Tapi kenapa malah ke sini sama dia?” pekik Andreas naik pitam kala melihat dengan mata kepalanya sendiri bila Ayuni memang benar tengah bersama dengan Ryan.Ayuni menghela napas pelan. “Aku, keterlaluan? Kamu sendiri, harus disebut dengan apa kalau aku makan siang aja disebut keterlaluan? Sementara kamu, menikah lagi tanpa seizing aku. Lebih dari keterlaluan, kan?”Andreas lantas menyeret tangan Ayuni, membawa perempuan itu keluar dari resto tersebut dengan langkah lebarnya.Ryan kemudian mengejarnya. Menarik tangan Ayuni yang mengaduh sakit karena genggaman tangan yang erat.“Tidak baik memperlalukan wanita seperti itu, Andreas!” ucap Ryan sembari melepaskan tangannya dari tangan Ayuni.“Kamu tidak usah ikut campur, Ryan! Hubungan kalian hanya sampai di rumah sakit saja. Kamu hanya dokter yang merawat dia! Di luar itu, kalian tidak perlu bertemu apalagi sampai makan siang bersama!” pekik Andreas begitu marah.Ryan tersenyum tipis men

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-23
  • Istri Kedua di Antara Kita   Ayuni Pergi

    “Sudahlah, Ayuni. Kamu jangan seperti ratu yang semuanya ingin dituruti. Memangnya kamu bisa, menuruti keinginan Mas Andreas dan orang tuanya? Nggak, kan?”Ayuni menoleh kemudian menatap Andreas lagi. “Mas. Kamu bohong sama aku, huh? Kamu bohong, kalau dia udah nggak tinggal di sini lagi? Kurang ajar kamu, Mas! Aku mau kembali lagi ke sini karena kamu bilang dia sudah tidak tinggal di sini!”Ayuni geleng-geleng kemudian keluar lagi dari rumah itu.Andreas lantas mengejar Ayuni dan menarik tangan itu.“Lepas, Mas! Kamu sudah menyakiti tanganku di resto tadi. Kamu nggak lihat, luka karena kuku kamu di sini?” pekik Ayuni naik pitam.“Jangan pergi lagi aku mohon, Ayuni. Aku sudah membawanya perg—““Kalau memang sudah tidak tinggal di sini, kenapa dia masih ada di sini? Aku nggak akan pernah menginjakan kaki di sini lagi kalau ada dia!” ucapnya tegas.“Taksi!” Ayuni segera masuk ke dalam taksi tanpa peduli dengan Andreas yang berteriak memanggil namanya.“Ke mana, Bu?” tanya sopir itu.“Fl

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-23
  • Istri Kedua di Antara Kita   Tidak Perlu Berteman Lagi

    “Saya ingin mengajukan cuti selama lima hari, Dok,” ucap Ryan pada Damian—pemilik rumah sakit tersebut.“Lama sekali. Mau ke mana, Dok? Mendadak sekali,” tanya Damian terheran-heran mendengar pengajuan cuti Ryan selama lima hari. Sebab tidak biasanya Ryan mengambil cuti selama itu.“Ya. Ada yang mesti saya lakukan di luar sana. Nanti tugas saya dialihkan pada Dokter Firman.”Damian menatap Ryan dengan lekat. “Mau ke mana, Dok? Nikah lagi, yaa?”Ryan terkekeh pelan kemudian menggeleng dengan pelan. “Tidak, Pak. Hanya ingin liburan saja. Menenangkan diri sejenak.”Damian manggut-manggut. “Beri izin. Saya ACC.”“Baiklah. Isi form-nya saja, Dok,” ucap Dokter Haris—kepala rumah sakit di sana.“Terima kasih, Dok. Pak Damian. Kalau begitu, saya pamit. Ada satu pasien yang mesti saya periksa.”Ryan kemudian keluar dari ruangan pimpinan di sana dan melangkah dengan lebar menuju ruangannya. Hendak mengisi form cuti meski hanya lima hari.Ia kemudian menghubungi Ayuni—berharap perempuan itu mau

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-23
  • Istri Kedua di Antara Kita   Diam Berarti Iya

    Hari terakhir di Maldives ….Tampak Shakira tengah asyik bermain di pesisir pantai dengan riangnya. Ia yang sudah merindukan liburan itu akhirnya bisa menikmati waktu liburan dengan riang gembira.“Kamu mau tinggal di apartemen atau kembali ke rumah suamimu?” tanya Ryan kepada Ayuni yang tengah memasukan bajunya ke dalam koper.Ayuni mengendikan bahunya. “Entahlah. Aku bingung, Ryan. Seperti sudah tidak punya arah dan tujuan. Aku belum bisa menerima kehadiran Gita. Rasanya aneh saja kalau aku tinggal bersama dengan maduku.”Ryan menyunggingkan senyum tipis. “Aku ngerti perasaan kamu, Ayuni. Sebaiknya kamu tinggal di apartemen saja kalau memang Gita masih ada di rumah kalian.”Ayuni mengangguk kemudian mengulas senyumnya. “Iya. Kalian boleh main kapan pun ke sana. Kalau Shakira lagi kangen sama aku. Shakira anak yang baik dan periang. Mungkin karena aku memang menyukai anak kecil, merasa nyaman aja main sama Shakira.”Ryan kembali mengulas senyumnya. “Aku ingin berteman denganmu dan ti

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-24
  • Istri Kedua di Antara Kita   Di Depan Apartemen Kamu

    “Kamu yang udah milih untuk nikah secara diam-diam. Dan sekarang kamu juga yang kayak orang gila,” sengal Malik—pria yang memberi tahu tentang pernikahan Andreas dan Gita.Andreas kemudian menghela napas kasar. “Kamu kan, yang udah kasih tahu dia soal itu? Kenapa sih, harus dikasih tahu?”“Dia nanya. Yaa aku jawab. Batin istri itu kuat, Andreas. Mau kamu sembunyikan sekuat tenaga pun dia pasti tahu kebenarannya. Ya udah, mending sekalian aja aku kasih tahu.”Andreas berdecak pelan lalu menuangkan beer kembali ke dalam gelasnya. Dan meneguknya dalam satu tegukan.“Aku nggak mau pisah sama Ayuni. Aku nggak berniat punya dua istri. Itu semua hanya perintah dari Mama dan Papa aja.”“Karena mereka cuma punya kamu doang, Andreas. Mereka butuh keturunan dari kamu. Ayuni kenapa sih, nggak bisa punya anak?”Andreas menghela napas kasar. “Rahimnya luka. Tuba falopinya tersumbat. Nggak bisa hamil dengan normal. Kalau hamil, akan membahayakan kondisinya.”Malik menganga mendengarnya. “Cukup berba

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-24
  • Istri Kedua di Antara Kita   Minta Mama Baru

    “Masuk,” titahnya kemudian. Meski sebenarnya dia masih sangat terkejut Ryan ada di depan apartemennya secara mendadak.Ayuni menoleh ke kanan dan ke kiri sekitarnya lalu menutup pintu itu menghampiri Ryan yang tengah berdiri di ruang tengah.“Kok gelap?” tanya Ryan kemudian.“Belum dinyalakan. Aku baru bangun dan langsung lari keluar waktu kamu bilang ada di depan,” ucapnya lalu segera mencari saklar lampu.Prang!“Aww!” Ayuni menyenggol gelas di atas meja dan pecahan itu mengenai kakinya.Ryan lantas mencari saklar lampu di sana dan menyalakannya. “Astaga, Ayuni.” Ia segera menggendong tubuh perempuan itu membawanya ke atas sofa. “Sorry, yaa. Malah jadi luka gini.”“Nggak apa-apa. Cuma luka sedikit.”“Robek, Ayuni. Ada P3K?”Ayuni mengangguk canggung. “Ada. Di laci paling bawah di sana.” Ayuni menunjuk laci dekat televisi.Ryan kemudian mengambilnya dan membawa untuk mengobati luka di kaki Ayuni. “Luka pecahan gelas seperti ini jangan diabaikan. Bisa infeksi. Harusnya sih dijahit.”“

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-24

Bab terbaru

  • Istri Kedua di Antara Kita   Ryan itu Setia

    Satu bulan berlalu ….Ryan dan Ayuni masih terpisah jarak yang cukup jauh. Hanya bertukar kabar melalui orang tua Ayuni sebab hingga kini perempuan itu masih enggan menghubungi lelaki itu.Di sebuah pantai yang cukup indah. Australia memang terkenal dengan pantai-pantainya yang indah. Ayuni tengah duduk di pesisir pantai sembari memandang ombak yang menggulung dengan indahnya.“Kok kayak kenal,” gumam seseorang kala melihat Ayuni seorang diri di sana.“Ayuni?”Perempuan itu lantas menoleh dengan pelan. “Lho! Mas Andreas?” Ayuni menunjuk lelaki itu hingga Andreas ikut duduk di samping Ayuni.“Kamu lagi ngapain di sini? Liburan? Sendirian? Nggak sama Ryan? Atau lagi bulan madu?”Ayuni menghela napas kasar. “Nggak. Nikah aja belum.”“Kenapa?” tanyanya tak tahu.“Kamu ini gimana sih! Gara-gara kamu juga, menunda-nunda cerai. Ada masa idah yang mengharuskan aku untuk menunda pernikahan. Selama tiga bulan. Sisa sebulan lagi. Baru bisa menikah!” sengal Ayuni kesal.Andreas lantas tertawa. “Y

  • Istri Kedua di Antara Kita   Punya Cara

    “Pak Damian! Dengarkan saya dulu. Saya sudah mencegahnya dan melarang dia untuk resign. Tapi, sudah dua minggu ini dia tidak pernah datang.”Rifky mencoba menjelaskan kepada Damian karena diamuk telah membiarkan Ryan mengundurkan diri di sana.“Ya sudah! Sekarang jelaskan kenapa Dokter Ryan mengundurkan diri? Kalau tidak ada alasan yang membuatnya mengundurkan diri, dia tidak akan melakukan itu!” pekik Damian lagi.“Pak Edrick di mana? Rasanya percuma, saya bicara dengan Anda!” Damian lantas mengambil ponselnya dan menghubungi orang kepercayaannya di sana.“Ke ruangan saya sekarang juga!” titahnya kemudian menutup panggilan tersebut.Tak lama setelahnya, Biru dan Dokter Firman masuk ke dalam ruangan Ryan. Menghampiri Damian untuk memberi tahu alasan mengapa Ryan mengundurkan diri.“Saya tahu, alasan Dokter Ryan mengundurkan diri, Pak Damian,” kata Dokter Firman kepada Damian.Rifky menolehkan kepalanya kepada Dokter Firman. “Tahu apa, Anda? Saya tahu, Anda sahabatnya Pak Ryan.”Dokter

  • Istri Kedua di Antara Kita   Dua Tahun Kepergian Dia

    Dua minggu berlalu ….Ayuni masih berada di Sidney, Australia. Bersama dengan orang tuanya yang masih berada di sana. Rini menyusul anaknya satu minggu setelah Shakira sudah diperbolehkan pulang.“Kondisi Shakira sudah membaik, Ma?” tanya Ayuni yang sebenarnya mengkhawatirkan anak itu.“Sudah, Ay. Dia sudah diperbolehkan pulang makanya Mama bisa ke sini menemui kamu dan papa kamu. Shakira masih mencari keberadaan kamu. Meskipun Mama sudah kasih tahu kamu selamat, tapi dia masih ingin bertemu sama kamu.”Ayuni menelan saliva dengan pelan seraya menatap foto Shakira di ponselnya. “Aku juga rindu. Udah dua minggu nggak pernah lihat dia. Yang penting sekarang dia udah sehat, Ma.”Rini mengangguk sembari mengulas senyumnya. “Iya, Nak. Shakira tinggal bersama Mama Melinda. Sampai kamu kembali, Shakira tidak mau bertemu dengan papanya. Dia sudah memutus hubungan dengan papanya. Dia bilang begitu. Ada lucunya dan juga sedihnya.”Ayuni menghela napasnya dengan panjang. “Gimana kabar dia, Ma?”

  • Istri Kedua di Antara Kita   Tunggu Saja

    Shakira sudah sadarkan diri. Akan tetapi, anak kecil itu tidak mau bertemu dengan papanya lagi karena sudah membuatnya kehilangan Ayuni untuk selamanya.Ryan tidak diberi akses masuk ke dalam ruang rawat anaknya sendiri karena permintaan dari Shakira sendiri. Hati Ryan benar-benar hancur berkeping-keping karena telah dibenci dan tidak diterima kehadirannya oleh anaknya sendiri.Di kediaman Ryan ….Lelaki itu tengah mengenakan kemeja hitam dengan celana senada. Hendak pergi ke rumah sakit, menemui sang pemilik rumah sakit di mana ia bekerja.“Kamu mau ke mana?” tanya Melinda kepada sang anak yang tengah mengambil kunci mobilnya.“Mau ke rumah sakit, Ma. Mengundurkan diri dari jabatan itu dan tidak akan menjadi dokter di sana lagi,” jawabnya dengan pelan.Melinda menelan saliva dengan pelan. “Nak. Ayuni masih hidup. Dia gagal naik pesawat karena lupa bawa passpor. Rini baru saja memberi tahu Mama tadi pagi.”Ryan menoleh cepat kepada sang mama. “Mama tidak bercanda, kan?”“Tidak, Nak. M

  • Istri Kedua di Antara Kita   Korban Meninggal Semua

    Di bandara ….Perempuan itu tengah merenung memikirkan hal yang mengejutkan yang baru saja ia alami di hari ini. Selama ini dia selalu menutup telinga akan rumor itu. Namun, kini sudah tak perlu lagi menutupnya karena sudah melihat sendiri adegan mengejutkan itu.Suara pramugari memberi tahu keberangkatan menuju Australia sudah menggema. Ayuni kemudian beranjak dari duduknya dan menggeret koper, masuk ke bagian check in counter.“Mohon menunjukan passport-nya, Bu.”“Oh, iya tunggu sebentar.” Ayuni lupa mengeluarkan passport miliknya. Ia lantas membuka tasnya terlebih dahulu dan meminta yang lain dulu saja duluan.“Duh! Pake acara ketinggalan segala lagi,” gerutunya kemudian mengambil ponselnya karena passport miliknya tertinggal di rumah.“Halo, Vit. Elo lagi di mana? Gue mau minta tolong sama elo.” Ayuni menghubungi Vita.“Elaaah! Malam-malam gini elo mau minta tolong apaan lagi, Ayuni?”“Gue lupa bawa passport.” Ia lalu menoleh pada pesawat yang sudah terbang dan menghela napas pasr

  • Istri Kedua di Antara Kita   Kemarahan Shakira

    Suasana tegang di kediaman Ryan membuat Melinda memijat pelipisnya setelah mendengar kabar dari Rini bila Ayuni sudah pergi dari Jakarta. Meninggalkan semua orang di sana termasuk Shakira.“Mel. Aku tidak tahu kalau Ryan yang ada di hotel itu. Karena tidak mungkin Ryan melakukan itu.” Irwan menjelaskan sekali lagi kepada Melinda yang tengah memijat-mijat keningnya.“Aku juga tidak percaya kalau Ryan melakukan itu. Aku tahu betul bagaimana sifat Ryan. Mana mungkin dia melakukan hal sebejad itu.” Melinda menghela napas kasar.“Mama Ayuni pergi bukan karena mau kerja ya, Oma?” Shakira menghampiri dan mendengar semua percakapan nenek dan kakeknya itu.Melinda menggeleng dengan pelan. “Bukan begitu, Sayan—““Papa udah menyakiti hati Mama Ayuni ya, Oma? Papa jahat! Papa udah janji nggak akan menyakiti hati Mama Ayuni! Huwaaaaa!”Shakira lantas menangis dengan sangat kencang. “Mama Ayuniiiiii!”Tangisan Shakira semakin menjadi sampai membuat Melinda sulit untuk menenangkan cucunya itu.“Ngga

  • Istri Kedua di Antara Kita   Cukup Sampai di Sini

    Ayuni tersenyum miris sembari menahan air matanya yang hendak keluar dari pelupuk matantya.Dengan sekuat tenaganya, Ryan menyingkirkan tubuh Friska hingga perempuan itu terjungkal di bawah.“Awww!” pekiknya mengaduh.Ryan tak peduli. Ia memilih menghampiri Ayuni yang masih berdiri di ambang pintu kamar hotel itu.“Ayuni! Ini semua tidak seperti yang kamu pikirkan. Aku bisa menjelaskan semu—“Plak!Dengan sangat kencang, perempuan itu menampar pipi Ryan hingga wajah itu berpaling karena tamparan yang cukup keras itu.Ryan menelan saliva dengan pelan kemudian menatap Ayuni dengan tatapan sayunya.“Silakan tampar aku sepuas kamu asalkan setelah ini kamu dengarkan penjelasan aku. Silakan, tampar lagi. Aku akan menerimanya.”“Bohong! Dia yang sudah menggoda saya dan meminta saya untuk memesan kamar hotel,” seru Friska membuat masalah itu semakin runyam.“Friska!” pekik Ryan tak terima dengan ucapan perempuan itu tadi. “Saya tidak pernah meminta kamu untuk memesan hotel!”“Buktinya, bukti

  • Istri Kedua di Antara Kita   Godaan Gila Friska

    “Haah?” Biru membolakan matanya dengan tatapan pasrah kala melihat Ayuni yang sudah menggebu-gebu.Ia lalu menoleh cepat kepada Biru dan menarik kerah kemeja lelaki itu. “Dari tadi elo ngulur waktu gue karena sembunyiin sesuatu dari gue, kan? Jawab, Biru! Ryan bukan lagi meeting sama bapaknya, tapi lagi cek in sama anaknya! Iya?!”Suara teriakan Ayuni terdengar hingga keluar. Dokter Firman yang mendengarnya lantas segera masuk ke dalam ruangan keponakannya itu.“De—dengerin gue dulu, Ayuni. Gue nggak tahu menahu kalau soal cek ini itu. Sumpah, gue nggak tahu. Gue cuma diminta Ryan buat jangan kasih tahu elo kalau dia harus jemput tamu di hotel Livina sama Friska.”Dengan susah payah Biru menjelaskan kepada Ayuni. Sebab mengenai pembayaran kamar itu Biru tidak diberi tahu oleh lelaki itu.“Brengsek!” pekik Ayuni kemudian keluar dari ruangan tersebut. Melangkah dengan lebar dan masuk ke dalam lift.Hendak pergi ke hotel Livina di mana Ryan membayar bill cek ini kamar dan hanya satu kama

  • Istri Kedua di Antara Kita   Bayar Cek in?

    “Iyalah. Ngapain lagi gue ke sini? Mau ketemu sama elo? Dih. Gak ada gawe.”Biru menganga kemudian melirik ke arah Dokter Mia yang tengah berdiri di sampingnya yang baru saja memberikan dokumen jadwal operasi nanti malam.“Gue mau ke atas dulu.” Ayuni lantas meninggalkan Biru yang masih berdiri sembari menganga.“Tu—tunggu dulu, Ayuni.” Biru kemudian menarik tangan Ayuni yang hendak menekan tombol lift menuju lantai sepuluh.“Kenapa lagi sih?” tanya Ayuni kesal.“Ryan masih meeting sama Pak Rifky. Dia nggak ada di ruangannya. Mending elo tunggu di sini aja atau di kantin. Makan siang bareng gue.”Biru kemudian menarik napasnya lalu menerbitkan senyum kepada Ayuni.“Masih meeting? Lama banget.”“Yaa namanya juga meeting sama pemilik rumah sakit. Udah pasti lama.”“Sama cabe kriting juga?”Biru mengangguk pelan. “Ho’oh. Tapi, elo jangan nething dulu. Dua bulan lagi udahan jadi aspri-nya Ryan.”“Serius? Elo nggak bohong, kan?”“Kagak, Ayuni. Gue nggak pernah bohong sama elo. Ini makanan

Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status