Home / Romansa / Ibu Pengganti 1 Miliar untuk Anak Pewaris / Bab 7. Malam Selanjutnya, Aleena Harus Berhasil!

Share

Bab 7. Malam Selanjutnya, Aleena Harus Berhasil!

Author: Te Anastasia
last update Last Updated: 2024-12-03 19:10:43

Aleena merasa jenuh berada di dalam paviliun sepanjang hari. Setelah kejadian pagi tadi, ia memang sengaja tidak keluar dari paviliun dan terus merenung di sana.

Namun, saat hari menjelang malam, Aleena kepikiran kondisi Papanya yang masih terbaring di rumah sakit. Gadis itu pun berinisiatif untuk mengunjunginya malam itu juga.

Kalau sudah sadar, Papanya pasti akan mencari Aleena. Belum lagi, pria paruh baya itu akan merasa kesepian bila tak menemukan keberadaannya.

Aleena berpikir sambil menggigit bibir bagian dalamnya, lalu mengangguk kecil untuk meyakinkan diri.

"Mungkin aku harus meminta izin pada Nyonya Marsha sebentar untuk ke rumah sakit," ucap Aleena. Perasaan ragu langsung hinggap di hatinya, tapi Aleena berusaha menepisnya. Bagaimanapun, ia harus memastikan kondisi Papanya agar tak terus merasa khawatir.

Aleena melangkah keluar dari paviliun. Ia melewati taman samping untuk sampai di teras rumah megah milik Marsha dan Asher.

Sesampainya di kediaman utama, Aleena memelankan langkahnya saat ia melihat di dalam rumah ada beberapa tamu di sana.

"Nona Aleena, Nona sedang apa di sini?" tanya Bibi Julien yang tidak sengaja melihat Aleena.

"Bi, aku mencari Nyonya Marsha," jawab Aleena. "Aku ingin meminta izin padanya untuk pergi ke rumah sakit menjenguk Papa."

Dari arah ruang keluarga, Marsha menatap ke arah Aleena yang nampak tengah berbincang dengan pelayan. Lantas, Marsha langsung beranjak dari duduknya meninggalkan Mama dan Papa mertuanya di sana.

Wanita cantik dengan balutan dress hijau itu melangkah dengan anggun mendekati Aleena. Kedatangannya pun langsung disambut oleh kegugupan Aleena.

"Ada apa, Aleena?" tanya Marsha menelisik wajah gadis itu.

"Nyonya ... sa-saya ingin meminta izin untuk menjenguk Papa saya di rumah sakit," ujar Aleena.

Marsha mendengus pelan mendengarnya, wanita itu merotasikan kedua matanya menunjukkan ekspresi tidak setuju.

"Perjanjian di antara kita, tertulis kau tidak bisa seenaknya keluar masuk dari tempat ini, kan?!" tegas Marsha dengan suara lirih, ia menatap Aleena dengan sorot kesal. "Artinya, kau tidak bisa pergi ke manapun sebelum aku memerintahkanmu untuk pergi. Begitu saja tidak mengerti?!"

Bibir Aleena langsung mengatup rapat tanpa bantahan. Sungguh Aleena tidak menduga Marsha akan menjadi segalak ini setelah pertemuan pertama mereka, karena Aleena sempat menilainya sebagai wanita yang baik dan ramah.

"Baik, Nyonya." Aleena tertunduk menelan kekecewaannya.

"Nyonya, makan malamnya sudah siap." Suara seorang pelayan terdengar dari arah belakang.

Marsha menoleh dan mengangguk, sebelum dia kembali menatap Aleena dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan ekspresi dingin.

Tanpa sengaja, Aleena menatap ke arah tiga orang yang kini berjalan keluar. Mereka adalah orang tua Asher, dan juga sosok Asher yang berjalan di belakangnya.

Melihat mereka, Aleena langsung tertunduk meremas ujung dress putih yang kini ia pakai. Sedangkan orang tua Asher terus memperhatikan Aleena.

"Siapa gadis itu, Marsha?" tanya Camelia—Mama Asher yang kini menatap lurus ke arah Aleena.

Marsha sontak menoleh, dia dan Asher saling tatap menunjukkan kegugupan karena tidak mengantisipasi pertemuan itu.

“Oh, di-dia—”

"Dia pelayan baru di sini, Ma," sela Asher sebelum Marsha sempat menyelesaikan kalimatnya.

"Oh, pelayan…." Wanita setengah baya itu mengangguk dengan wajah skeptis.

"Mari kita ke ruang makan sekarang, Ma," ajak Marsha, berusaha mengalihkan perhatian mertuanya.

Mereka pun bergegas menuju ruang makan dan Asher menjadi orang terakhir di sana.

Laki-laki itu menatap Aleena dengan tatapan tajam, seolah keberadaan Aleena di sana sangat mengganggu dan membuat Asher kesal.

"Apa yang kau lakukan di sini? Jangan bersikap lancang!" sinis Asher. “Kau pikir kau bebas berkeliaran sesuka hatimu?”

Aleena menggeleng panik. “Tidak, Tuan. Saya hanya—”

Asher mendengus, lalu melenggang pergi tanpa menunggu Aleena memberikan alasan.

Sementara Aleena masih berdiri di sana dengan raut wajah sedih. Serba salah ia berada di sana. Tetapi, mengingat Aleena lebih dulu dibantu oleh mereka, ia pun berpasrah hati diperlakukan seperti apapun.

"Nona tidak papa?" Bibi Julien mengusap pundak Aleena dengan lembut dan suaranya terdengar cemas.

Aleena tersenyum tipis dan menggeleng. "Aku tidak papa, Bi. Jangan khawatir..."

"Baiklah, mari ikut Bibi saja ke belakang, ya?"

Anggukan diberikan oleh Aleena, mereka berdua pun melangkah bergegas menuju ke arah dapur.

Dapat Aleena perhatikan kedua orang tua Asher yang kini berbincang-bincang, tetapi nampaknya Marsha sejak tadi hanya diam saja. Aleena memperhatikan mereka dari arah dapur, sesekali ia mengabaikannya dan memilih membantu para pelayan.

Marsha sesekali melirik ke arah Aleena dengan tatapan dingin.

"Bagaimana, Marsha? Apa sudah ada tanda-tanda?" tanya Camelia menatap menantunya yang duduk di hadapannya.

Lantas, Marsha mengangkat wajahnya dan wanita itu menggeleng. "Belum, Ma. Tapi aku dan Asher masih berusaha," jawabnya.

"Marsha, Marsha ... sudah berapa tahun kau menikah dengan Asher? Awalnya kau bilang tidak mau punya anak dulu, tapi sekarang lihat hasilnya!" sergah Camelia, tak repot-repot menutupi kejengkelan di wajahnya.

"Semua butuh proses, Ma. Tidak segampang itu," sahut Darren—Papa Asher yang kini bersuara tenang.

"Proses ya proses, Pa! Tapi sudah bertahun-tahun mereka menikah! Sudah sangat lama!" seru Camelia.

Asher menyergah napasnya panjang. Setiap kali bersama, mereka selalu saja membahas hal ini. Asher merasa muak, meskipun ia sendiri tidak bisa menampik bahwa sebenarnya ia juga sangat menantikan seorang anak dari Marsha.

"Sudah Ma, jangan merusak suasana dengan pembahasan ini," sahut Asher kemudian.

"Nasehati istrimu! Kau sudah menjadi pemimpin perusahaan, Asher," cecar Camelia. "Apa jadinya kalau sampai kalian menua nanti tapi tidak memiliki keturunan untuk meneruskan perusahaan? Pikirkan itu!"

"Cukup, Ma!" tegas Asher menatapnya dengan wajah marah. "Jangan terus menyudutkan dan menyalahkan Marsha! Salahkan saja aku di sini, aku yang sudah salah sejak awal karena akulah yang dulu memintanya untuk menunda kehamilan. Ini semua bukan salah Marsha!"

Ungkapan Asher membuat Marsha menoleh menatap suaminya. Tentu saja Asher berbohong, demi melindunginya.

Tetapi hal itu tidak membuat Marsha merasa senang. Wanita itu tampak sudah jengah dan muak dengan sindiran Mama mertuanya, sehingga dia hanya diam dengan wajah datarnya.

Perbincangan dengan suara keras itu terdengar hingga dapur. Aleena berdiri di sana memperhatikan Marsha.

Jadi karena ini Marsha selalu menekan Aleena bahkan hingga memarahinya?

Aleena tertunduk, ia merasa bersalah pada Marsha karena malam kemarin ia gagal melakukannya dengan Asher. Namun, dapat Aleena lihat bagaimana Asher membela dan melindungi Marsha, padahal alasan mereka tidak punya anak karena Marsha mandul. Aleena melihat cinta dan kasih sayang yang begitu besar dari Asher untuk istrinya.

Aleena meremas sebuah nampan di hadapannya dengan pikiran putus asa.

Aleena sudah berjanji untuk tidak mengecewakan Marsha … karena itu, malam berikutnya bersama Asher, ia tidak boleh gagal melakukannya!

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Related chapters

  • Ibu Pengganti 1 Miliar untuk Anak Pewaris   Bab 8. Satu Malam Tanpa Kelembutan

    Setelah kedua orang tua Asher pulang beberapa menit yang lalu, rumah megah itu pun tersisa Marsha dan Asher saja. Terlihat Marsha yang kini berdiri bersedekap menatap lurus ke arah paviliun tempat Aleena tinggal. "Aku tidak ingin kau mengulur banyak waktu, Asher," ucap Marsha tiba-tiba. Asher yang mendengarkannya pun menoleh. "Apa maksudmu, Sayang?" Marsha membuat tubuhnya menatap sang suami. "Aku sudah muak dengan semua cercaan Mamamu tentang anak sampai telingaku terasa panas karena terus mendengar hal itu setiap bertemu!""Sayang—""Kau tidak menepati janjimu padaku, Asher. Aku hanya memintamu untuk bermalam dengan Aleena, kita sudah membayar gadis itu. Hanya dia harapan kita satu-satunya!" desak Marsha dengan wajah memerah. Asher memijit pangkal hidungnya, tampak benar-benar frustrasi. “Marsha, aku bisa melakukannya kapan-kapan—”"Kapan-kapan?” sela Marsha. “Tapi sampai kapan, Asher? Apa kau tidak keberatan melihatku terus direndahkan seperti ini? Atau sebenarnya kau ingin be

    Last Updated : 2024-12-04
  • Ibu Pengganti 1 Miliar untuk Anak Pewaris   Bab 9. Beban yang Harus Ditanggung sang Ibu Pengganti

    “Akh—shh—” Aleena meringis menahan sakit pada bagian inti tubuhnya ketika ia terbangun di ranjang yang asing pagi itu. Ia menarik selimut dan mendekapnya dengan erat di dada saat menyadari tubuhnya polos tanpa sehelai benang pun. Bayangan-bayangan dari malam panas itu kembali terulang dalam ingatannya, seolah tak membiarkan Aleena lupa begitu saja. “Siapa dirimu sebenarnya, Aleena?” Aleena tidak tahu mengapa Asher tampak kalut dan tidak percaya bahwa dirinya masih suci. “S-saya—”“Tak mungkin aku yang pertama bagimu! Katakan, apa tujuanmu melakukan ini? Kenapa kau—”“Lakukan saja, Tuan,” Aleena menyela sebelum Asher kembali menghinanya dengan kata-kata tajam. Suaranya bergetar di bawah dominasi Asher yang membuat tubuhnya meremang. Ia hanya ingin semua ini segera berakhir. “Lakukan saja dengan cepat, seperti yang Nyonya Marsha inginkan….”Aleena tidak mengerti mengapa setelah itu Asher tiba-tiba berubah seperti predator kelaparan. Sentuhan dan gerakannya berantakan, menuntut,

    Last Updated : 2024-12-05
  • Ibu Pengganti 1 Miliar untuk Anak Pewaris   Bab 10. Hamil Anak dari sang Presdir Angkuh

    "A-apa maksud Tuan mengatakan hal itu?" Aleena menatap Asher dengan lekat, dan napasnya tercekat seolah ingin mencekiknya kuat-kuat. Mengapa Asher tidak pernah berhenti merendahkannya?Melihat ekspresi kesal di wajah Aleena, Asher hanya tersenyum miring. Dagunya terangkat, menunjukkan ekspresi remeh. "Memang begitu kenyataannya, bukan?" katanya dengan nada datar. "Baru semalam kau berhasil merayuku, siang ini kau sudah bertemu laki-laki lain.”“Saya hanya—”Asher lebih dulu menyela. “Kali ini apa yang kau tawarkan padanya? Tubuhmu, seperti yang kau lakukan padaku?”Dada Aleena bergemuruh hebat tak terima. Perkataan Asher selalu berhasil mencabik dan melukai perasaan serta harga dirinya setiap kali dia berbicara. Dengan kedua tangan terkepal, Aleena berdiri dengan tegap memberanikan diri menatap Asher yang kini duduk di sofa menyilangkan kakinya, memperhatikan Aleena dengan begitu rendahnya. Aleena menahan air matanya yang berdesakan dan berusaha menjelaskan. Bibirnya menipis gera

    Last Updated : 2024-12-06
  • Ibu Pengganti 1 Miliar untuk Anak Pewaris   Bab 11. Desakan untuk Segera Hamil

    Butuh beberapa menit perjalanan dari rumah Asher menuju rumah sakit dengan bus kota yang Aleena tumpangi. Di sepanjang jalan, hatinya dipenuhi perasaan tak sabar ingin segera memeluk Papanya. Setibanya di rumah sakit, Aleena berjalan memasuki lorong di lantai lima. Papanya kini dirawat di ruang kelas A, tempat di mana pasien-pasien mendapatkan penanganan khusus dan istimewa. Aleena berjalan bersama Dokter Camael, sosok dokter yang sudah dua tahun ini menangani Papa Aleena. "Kondisi Papa saya berarti sudah jauh lebih baik, kan, dok?" tanya Aleena mendongak menatap dokter itu sembari berjalan menuju ruangan rawat inap. "Sudah Nona. Kondisi Tuan Liam sudah jauh lebih baik semenjak beliau dioperasi," jawab dokter Camael menjelaskan.Aleena tersenyum lega mendengarnya. Ia bersyukur Tuhan menyelamatkan Papanya. Kini, ia bisa kembali melihat senyuman sang Papa yang terus menjadi penyemangat hidupnya. Aleena akhirnya tiba di depan pintu kamar inap Papanya. Dokter Camael pun berpamitan ke

    Last Updated : 2024-12-07
  • Ibu Pengganti 1 Miliar untuk Anak Pewaris   Bab 12. Perlakuan yang Keterlaluan

    Di kediaman utama pagi ini terlihat ramai. Tampak beberapa orang perempuan cantik dengan penampilan glamor dan berkelas yang sedang duduk bersama di teras samping kediaman utama. Aleena memperhatikan mereka dari taman di dekat paviliun saat ia mengikuti Bibi Julien memindahkan beberapa pot bunga. Aleena yang penasaran dengan para wanita itu, ia pun bertanya pada Bibi Julien. "Bi, mereka itu siapa?" Aleena menatap ke arah para wanita itu sebentar. "Mereka semua adalah teman Nyonya Marsha, para wanita dari kalangan masyarakat kelas atas, Nona," jawab Bibi Julien menjelaskan. Aleena mengangguk paham. Dalam hati ia sangat kagum dengan Marsha yang memiliki lingkungan pertemanan yang hebat. Tak menyangkal, Marsha memang wanita berkelas yang disegani.Tanpa Aleena sadari, tampaknya para wanita yang tengah duduk di teras itu juga memperhatikannya dari kejauhan.Mereka menatap sosok Aleena dengan rasa penasaran. Karena sejauh ini mereka tidak pernah melihat seorang gadis di kediaman sahab

    Last Updated : 2024-12-08
  • Ibu Pengganti 1 Miliar untuk Anak Pewaris   Bab 13. Kemarahan Asher pada Marsha

    Ketenangan Marsha terusik karena ucapan teman-temannya siang tadi tentang Aleena terngiang di kepalanya.Teringat bagaimana mereka mengatakan kalau Aleena sangat cantik dan masih muda, kemungkinan bisa membuat Asher berpaling darinya. Marsha merasa cemburu. Mempermalukan Aleena seperti tadi pun rasanya tidak cukup.Wanita itu melirik suaminya yang duduk di sofa kamar memangku laptopnya. "Sayang," panggilnya pelan. Ia menatap Asher dari pantulan cermin meja riasnya. "Hm?" Asher mengangkat wajahnya menatap sang istri. "Ada apa?" "Menurutmu … seperti apa sosok Alena?" tanya Marsha penasaran. "Kau bisa menjawabnya dengan jujur." Alis tebal Asher menukik seketika mendengar pertanyaan konyol istrinya, seolah tak suka Marsha membahas gadis itu saat mereka berdua. Asher kembali menatap laptopnya. "Biasa saja," jawabnya singkat. "Apa dia tidak cantik? Apa kau tidak tertarik dengannya karena dia muda dan menarik?" Mendengar pertanyaan istrinya yang semakin keterlaluan, Asher menutup lapt

    Last Updated : 2024-12-09
  • Ibu Pengganti 1 Miliar untuk Anak Pewaris   Bab 14. Perhatian Berselimut Kebencian

    Asher kembali pulang ke rumah setelah ia bertemu dengan Papanya untuk membahas pekerjaan, bahkan ia juga sempat ribut dengan Mamanya perkara Marsha. Namun, saat mobil hitamnya tiba di depan gerbang kediaman megahnya, di sana Asher melihat seorang laki-laki tampak berdiri memperhatikan rumahnya.Asher melepaskan kacamata hitam yang ia pakai. Keningnya mengerut saat mendapati orang itu ternyata pria yang sama dengan pria yang kapan hari berbincang dengan Aleena."Mau apa dia?" Asher mendengus kesal. Ia segera membuka pintu mobilnya dan melangkah keluar saat gerbang rumahnya di buka. Ia juga memerintahkan ajudannya untuk membawa mobil hitamnya masuk. Sedangkan Carl berdiri mematung menatap Asher yang turun dari dalam mobil dan berjalan ke arahnya. "Tu-Tuan, selamat siang," sapanya gugup. "Sedang apa kau di depan rumahku?" tanya Asher tanpa basa-basi. Carl tersenyum canggung. "Saya ingin bertemu sebentar dengan Aleena, Tuan," jawabnya. "Ada hubungan apa kau dengannya, sampai kau be

    Last Updated : 2024-12-10
  • Ibu Pengganti 1 Miliar untuk Anak Pewaris   Bab 15. Di Balik Sikap Dingin Asher

    Beberapa menit kemudian, Aleena sampai di rumah sakit. Pakaiannya basah kuyup, membuat tubuhnya menggigil. Namun, ia tidak peduli dengan kondisinya sendiri. Ia bergegas menemui Dokter Camael yang sudah menunggu kedatangannya. Dokter itu menjelaskan tentang kondisi Liam yang tiba-tiba saja drop hingga membuat Aleena panik. "Jangan khawatir, Nona, hal ini bisa terjadi karena kondisi Tuan Liam belum benar-benar pulih seratus persen. Semuanya butuh proses," ujar Dokter Camael yang duduk di hadapan Aleena. Wajah Aleena tertekuk sedih. "Jadi ... meskipun sudah operasi, Papa saya masih akan sering kambuh, dok?" "Benar, Nona. Tapi hanya untuk sementara saja, kalau kondisinya sudah stabil, maka tidak akan mudah kambuh lagi," jawab Dokter Camael tersenyum tipis. Aleena mengangguk paham. Panjang lebar dokter itu menjelaskan tentang perkembangan kondisi Papanya saat ini. Beberapa menit kemudian, barulah Aleena keluar dari dalam ruangan Dokter Camael. Meski sedikit lega karena dokter berka

    Last Updated : 2024-12-11

Latest chapter

  • Ibu Pengganti 1 Miliar untuk Anak Pewaris   Bab 336. Bersama Sampai Mereka Besar Nanti

    Keesokan harinya, Aleena sudah diperbolehkan pulang oleh dokter, juga anak kembarnya. Kepulangan Aleena disambut dengan sangat baik oleh Theo, Jordan, dan seorang anak perempuan yang bersama Theo. Tampak Aleena dan Asher sedikit terkejut melihat anak perempuan mungil berwajah cantik dan lucu berada di sana dengan pakaian yang rapi dan bagus. "Mama, Theo kangen," seru Theo mendekati Aleena dan memeluk sang Mama yang kini berdiri di samping Asher. Sedangkan bayi kembarnya sudah dibawa masuk oleh seorang pengasuh yang disewa oleh Asher dan Aleena, yaitu pengasuh Theo saat kecil dulu. Aleena tersenyum hangat melihat putranya yang begitu antusias. "Mama juga kangen sekali dengan Theo," ujar Aleena tersenyum manis mengelus pucuk kepala Theo. "Hmmm ... nanti malam bobo sama Mama dan adik, ya, Sayang..." "Iya, Mama. Siap!" Theo terlihat sangat berseri-seri bahagia. Asher yang bersama mereka, ia pun ikut tersenyum sambil merangkul pundak istrinya. "Theo tidak boleh nakal, ya, Sayang.

  • Ibu Pengganti 1 Miliar untuk Anak Pewaris   Bab 335. Anak Adopsi Seorang Ajudan

    Hari sudah sore, Jordan pun mengajak Theo untuk pulang bersamanya. Anak itu terlalu asik bermain dengan adik kembarnya. Sampai diajak pulang pun Theo tampak hampir tidak mau pulang sekeras apapun Jordan membujuknya. "Ayo Bos Kecil, kita pulang dulu. Nanti malam ke sini lagi," bujuk Jordan pada Theo yang masih marah dan merajuk berdiri di ambang pintu. "Tidak mau! Theo mau di sini sama Adik!" pekik anak itu menolak. Jordan menyergah napasnya panjang, laki-laki itu berdiri di dekat pintu sambil menenteng tasnya. Ia menatap ke arah Theo yang masih marah-marah. Dan kini, Asher pun mendekati putra kecilnya. Anaknya yang sudah jelas terlihat menolak keras untuk pulang. "Sayang, Theo harus pulang. Ajak Paman Jordan bermain di game zone," ujar Asher. Theo merotasikan kedua bola matanya. "Tidak tertarik!" "Emmm ... bagaimana kalau ke kedai es krim?" "Sudah bosan, Papa..." Jordan yang menatapnya dengan mencari ide pun tiba-tiba laki-laki itu tersenyum lebar. "Bagaimana kalau kita men

  • Ibu Pengganti 1 Miliar untuk Anak Pewaris   Bab 334. Theo dan Adik Kembarnya

    Di lain tempat, Aleena dan Asher kini masih di rumah sakit. Aleena sudah merasa baikan meskipun perutnya masih terasa sangat sakit di bagian luka operasinya. Pagi ini, Aleena diizinkan bertemu dengan kedua bayi kembarnya. Bayi-bayi manis itu dibawa ke kamar Aleena. Wajah Aleena berseri-seri bahagia melihat bayi kembarnya yang ternyata benar-benar sangat mirip dengan Asher. "Lihat, ya ampun Aleena ... Leo sangat-sangat mirip dengan Theo saat masih bayi, Nak!" seru Camelia tersenyum begitu bahagia menatap bayi yang ia gendong. "Iya, Ma. Lea juga sangat manis sekali," ujar Aleena menatap bayi dalam pelukannya. "Lea lebih mirip dengan Aleena menurut Papa," sahut Darren. "Iya. Mama pikir juga begitu, Pa...." Camelia menyahuti. Kedua orang itu sangat bahagia melihat cucu kembarnya. Sedangkan Asher merangkul Aleena dari samping sambil memperhatikan wajah menggemaskan putri kecilnya. Tentu saja Asher dan orang tuanya merasa begitu bahagia, mereka mempunyai keturunan anak perempuan. "

  • Ibu Pengganti 1 Miliar untuk Anak Pewaris   Bab 333. Rasa Sayang Seorang Anak Kecil

    Keesokan paginya... Theo berangkat ke sekolah bersama dengan Jordan seperti biasa. Anak laki-laki itu kini tampak sangat tampan dengan balutan mantel berwarna cokelat yang ia pakai dan syal berwarna hitamnya, juga topi beret berwarna merah muda di kepalanya. Theo yang baru saja turun dari dalam mobil, kini menoleh ke kanan dan ke kiri. "Hemmm, Arabelle belum datang, ya?" gumamnya lirih. Jordan menaikkan salah satu alisnya. "Sepertinya pacarnya Bos Kecil tidak masuk sekolah." "Masuk, Paman! Theo sudah janjian dengan Arabelle!" seru Theo dengan bibir mencebik. "Arabelle dan Theo tidak satu kelas, jadi kalau main harus bersama bisa bertemu terus!" Mendengar seruan Theo yang 'sok dewasa' membuat Jordan tersenyum gemas. Jordan menekuk kedua lututnya di tepian jalan trotoar. Situasi sekolah Theo juga masih sepi, belum banyak anak-anak yang datang. Sedangkan Theo tampak menunggu-nunggu. Hal ini membuat Jordan penasaran, anak sekecil Theo, anak laki-laki, anak orang kaya, kenapa mau b

  • Ibu Pengganti 1 Miliar untuk Anak Pewaris   Bab 332. Kebahagiaan yang Kita Rasakan

    Setelah Aleena dipindah ruangan usai operasi, masih belum diizinkan pihak keluarga untuk menjenguknya sementara waktu. Dan hanya Asher yang diizinkan untuk masuk, karena Aleena masih belum sadarkan diri. Tetapi, Asher dipanggil lagi oleh suster ke ruangan perawatan bayi. Kali ini, ia mengajak Theo bersamanya untuk melihat adik bayinya yang baru lahir. Theo begitu senang melihat dua wajah gemas adik bayinya yang kini berada di dalam ranjang bayi dari kaca di dalam ruangan rumah sakit. "Papa, adik Leo yang mana?" tanya Theo menatap dua bayi mungil di depannya. Asher tersenyum. "Adik Leo yang pakai selimut biru, Sayang. Yang pakai selimut merah muda, ini Adik Lea." Kedua mata Theo berbinar-binar menatap adiknya. "Wahhh ... lucunya, Theo mau gendong adik," seru anak itu. Asher langsung menarik tubuh Theo dan memeluknya. "Tidak boleh, Sayang. Adik kembar masih harus tidur." "Emmm, tidur terus. Mereka tidak mau menangis yang kencang ya, Pa?" tanya Theo cemberut. "Jangan dong, biark

  • Ibu Pengganti 1 Miliar untuk Anak Pewaris   Bab 331. Kelahiran Si Kembar Leo dan Lea

    Di rumah sakit, Aleena kini berada di dalam sebuah ruangan khusus setelah seharian penuh ia di dirawat di sana menjelang hari kelahiran si kembar. Aleena kini ditemani oleh Asher di dalam sebuah ruangan khusus sebelum masuk ke dalam ruangan operasi. Tampak Asher terus menggenggam erat tangan Aleena dan membisikkan kata-kata yang penuh dengan dukungan. "Jangan takut, Sayang. Semua pasti akan baik-baik saja, kau dan si kembar pasti akan sehat-sehat," ujar Asher berbisik di telinga Aleena dan mengecup pipi istrinya. Aleena membalas genggaman tangan Asher dan wanita cantik itu mengangguk kecil. "Jangan pergi-pergi ya, Asher. Di sini saja sampai operasinya selesai," pinta Aleena. "Iya. Aku akan menemanimu, Sayang." Dengan penuh rasa cemas yang tak terbendung, Asher memeluk istrinya. Bahkan sejak pagi, ia terus mengusap-usap perut Aleena yang besar dan terus berbisik pada anaknya yang berada di dalam perut untuk segera lahir dengan sehat. Tak berselang lama seorang dokter dan suster

  • Ibu Pengganti 1 Miliar untuk Anak Pewaris   Bab 330. Teman Kesayangan Theodore

    Keesokan harinya, Aleena dan Asher pagi ini bersiap pergi ke rumah sakit. Hari ini adalah hari yang ditentukan oleh dokter untuk jadwal operasi Aleena untuk melahirkan besok. Theo menatap Mamanya yang masuk ke dalam mobil bersama sang Papa. Sedangkan anak itu tampak lesu dan sedih karena ia harus sekolah, tidak bisa menemani sang Mama. "Theo berangkat dengan Paman Jordan ya, Sayang," ujar Aleena pada Theo yang sedang digendong oleh Jordan."Iya, Mama. Mama hati-hati, nanti pulang sekolah Theo jenguk Mama," jawab anak itu melambaikan tangannya. Aleena dan Asher tersenyum. "Iya, Sayang." Barulah Jordan membawa Theo masuk ke dalam mobil satunya dan bergegas berangkat ke sekolah. Di dalam mobil, sepanjang perjalanan Theo mencebikkan bibirnya sebal dan tampak badmood. "Calon kakak tidak boleh cemberut terus, Boss..." Jordan menyenggol pelan lengan kecil Theo. Sejauh ini, Jordan dan Theo memang seperti musuh. Tapi hanya Jordan yang bisa memahami perasaan Theo, putra atasannya tersebu

  • Ibu Pengganti 1 Miliar untuk Anak Pewaris   Bab 239. Tinggal Menghitung Hari

    Beberapa Bulan Kemudian...Terlepas dari semua masalah pekerjaan yang selalu datang, Theodore yang semakin hari semakin aktif bertingkah ini dan itu layaknya anak seusianya, juga Aleena yang kini sudah mengandung ke sembilan bulan. Hari demi hari dihitung oleh Aleena. Wanita itu terus berdoa sepanjang hari menunggu hari kelahiran si kembar. Bahkan dokter sudah memberikan jadwal untuk Aleena melahirkan si kembar secara operasi yang kurang tiga hari lagi lantaran kondisi Aleena yang tidak memungkinkan. Namun, entah kenapa Aleena takut saat ia membayangkannya hingga tiga hari ini ia banyak diam dan termenung. Asher yang selalu menemaninya, ia paham dengan kekhawatiran yang dialami oleh sang istri. "Aleena..." Asher mendekatinya dan laki-laki itu meletakkan sebotol susu hangat di pipi Aleena. Wanita cantik yang tengah memandangi salju itu pun menoleh cepat. Aleena tersenyum tipis pada Asher. "Emm, kau ini mengejutkanku saja," ujar Aleena menepuk pelan lengan Asher. Laki-laki itu du

  • Ibu Pengganti 1 Miliar untuk Anak Pewaris   Bab 328. Asher yang Siap Siaga

    Usai keributan Aleena beberapa hari yang lalu dengan Levi, sekarang Aleena jatuh sakit dan tidak memungkinkan bagi Asher untuk pergi ke kantor. Karena kondisi inilah, Camelia dan Darren pun sampai datang berkunjung dengan sangat cemas melihat menantunya sakit dalam keadaan hamil yang ke tujuh bulan."Bagaimana Aleena bisa sakit, Asher? Sejak kapan Aleena sakit? Kenapa tidak menghubungi Mama dan Papa?" Camelia menatap putranya sambil duduk di tepi ranjang dan mengusap-usap lengan Aleena yang tengah berbaring. "Sejak tiga hari yang lalu, Ma. Tapi demamnya sejak semalam, panasnya juga sudah turun," ujar Asher. "Sudah turun apanya, masih panas begini kau bilang masih turun," omel Camelia. Wanita itu meraih handuk kecil basah dan ia mengompres lengan kiri Aleena yang benar-benar terasa sangat panas. "Ya ampun, Nak ... cepat sembuh, Aleena," bisik Cemelia lirih. "Perutmu sudah sebesar ini, Aleena. Mama tidak tega melihatnya." Aleena merasa pusing, ia tidak membuka mata dan masih tertid

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status