Angin malam berhembus lembut, membawa aroma bunga peony yang baru mekar dari taman kerajaan Istana Bai Li Yuan. Cahaya bulan perak menyinari Aula Istana Kekaisaran, tempat pertemuan yang telah mengubah nasib banyak selir. Setelah pertemuan itu, langkah-langkahnya terdengar menggema di koridor yang sepi saat ia kembali ke kerajaan Ruyi untuk menemui Shen Jin.Di dalam kamar-kamar yang dulu dipenuhi dengan tawa dan bisikan, kini hanya terdengar suara kain sutra yang dilipat dan peti kayu yang ditutup. Para selir yang dibebaskan, dengan perasaan campur aduk, bersiap untuk meninggalkan kehidupan yang telah mereka kenal. Mereka mengemas barang-barang pribadi mereka, mengucapkan selamat tinggal pada kenangan yang telah terukir di dinding-dinding istana.Namun, di antara mereka, Selir pertama berdiri tegak, matanya memancarkan api yang tidak bisa dipadamkan. Ia menolak untuk dipulangkan, merasa kesal dan marah atas tindakan yang tak terduga ini. "Wanita itu," katanya dengan suara yang berg
Dua hari berlalu, Shen Jin dan Kaisar Yuan akhirnya memutuskan untuk kembali ke Istana kerajaan Bai Li Yuan. Shen Jin berbisik pada dirinya sendiri. "Selama aku menginap di kediaman raja Ruyi, perasaanku tidak pernah tenang dan nyaman. Ingatan pemilik tubuh asli ini, masih saja terlintas di pikiranku, dimana Yi Xiuying yang selalu mendapatkan perlakuan yang tidak adil."Sebelum itu, ia meminta pada kaisar Bai Li Yuan, untuk membawa ibu Yi Xiuying tinggal bersamanya di istana kekaisaran. Shen Jin dengan nada memohon. "Kaisar, bisakah ibu Yi Xiuying tinggal bersamaku di istana kekaisaran?"Tentu saja keinginan sang istri kecilnya di kabulkan, namun semua itu di tolak secara halus oleh selir An Yi langsung yang tidak mau meninggalkan istana kerajaan itu. Semuanya berkumpul di halaman depan P istana Ruyi, untuk melepas kepergian mereka. Shen Jin dengan wajah lucu. "Ibu, berjanjilah kalau kau akan baik-baik saja di sini. Ingat, ibu adalah istri yang di berkahi oleh kaisar___" ucapan S
Kereta kuda rombongan Kaisar Yuan meluncur, memasuki hutan Orc dengan suasana seperti malam yang gelap, karena hutan itu selalu di selimuti kabut, roda kayu berputar dengan gemuruh di atas jalur berbatu. Cahaya matahari hanya menyentuh ujung-ujung atap kereta, meninggalkan sebagian besar dalam kegelapan. Namun, malam ini ada ketegangan yang menggantung di udara, seperti aroma hujan yang akan segera turun.Baru kali ini ada seseorang yang berani dan terang-terangan menyerang Kaisar Yuan dan rombongannya. Lawan yang mereka hadapi bukanlah manusia biasa. Mereka adalah kalangan siluman, makhluk yang bersembunyi di balik bayangan dan memanfaatkan ilmu bela diri yang mematikan. Meskipun begitu, kekuatan yang mereka miliki belum sepadan dengan lawan mereka.Kawanan penyerang itu sekitar dua puluh orang, mengenakan pakaian serba hitam seperti ninja. Wajah mereka disembunyikan di balik topeng, hanya mata mereka yang terlihat, berkilauan seperti mata harimau yang siap menerkam. Pangeran Liu Jun
Wajah Kaisar Yuan berubah muram dan gelap ketika salah satu penyerang mengaku ingin menghabisi Shen Jin atas perintah seseorang. Udara di sekitar mereka terasa tegang, seperti saat badai akan datang. Kaisar menatap penyerang itu dengan mata tajam, mencoba mencerna kata-kata yang baru saja terucap.Angin malam membawa aroma tanah basah dan dedaunan yang terinjak. Kaisar merasakan getaran halus di tanah, seolah-olah alam sendiri mengetahui pentingnya momen ini. Di balik penyerang yang terengah-engah, Shen Jin berdiri dengan tenang, matanya memancarkan ketegasan yang tak tergoyahkan."Siapa yang menyuruhmu?" tanya Kaisar dengan suara rendah, mengabaikan darah yang mengalir dari mulut penyerang itu. Namun, sebelum penyerang bisa menjawab, tubuhnya tiba-tiba terguncang. Darah lebih banyak lagi membanjiri mulutnya, dan matanya membelalak sebelum ia jatuh tergeletak tak sadarkan diri.Kaisar Yuan menatap Shen Jin, mencoba membaca ekspresi di wajah pria itu. Hampir saja penyerang itu menyebut
Selir Lien Hua terkejut ketika pintu kamarnya terbuka perlahan. Cahaya lilin yang gemerlap memperlihatkan sosok Kaisar Yuan yang berdiri di ambang pintu. Wajahnya yang tampan dan pakaian sutra yang mewah membuat hati Lien Hua berdebar-debar."Kaisar Yuan!" serunya, suara lembutnya terdengar di ruangan yang tenang. "Apa yang membawa Anda ke sini?"Kaisar Yuan tersenyum, langkahnya mantap menuju tempat tidur Lien Hua. "Aku ingin melihatmu," katanya, suaranya rendah dan menggoda. "Kamarku terlalu sepi tanpa kehadiranmu."Lien Hua merasa senang dan terhormat. Dia segera mempersilahkan Kaisar Yuan duduk di kursi empuk di dekat jendela. "Tentu saja, Kaisar. Apakah ada yang bisa saya lakukan untukmu?"Kaisar Yuan menggeleng. "Hari ini, aku hanya ingin berbicara denganmu." Dia menatap Lien Hua dengan tajam. "Bagaimana keadaanmu? Apa kau baik-baik saja?" "Saya sangat baik Yang Mulia." Lien Hua menatap kaisar Yuan sedikit takut. "Saya melihat ada ke khawatiran di raut wajah Anda, Yang Mulia. A
Kaisar Yuan tersenyum misterius dan berkata, "Kalian pasti bertanya-tanya mengapa aku memanggil kalian ke sini. Ada sesuatu yang harus kalian ketahui." Suasana di aula istana semakin tegang. Shen Jin dan yang lainnya menatap Kaisar Yuan dengan perasaan campur aduk. Lien Hua masih terduduk di lantai, wajahnya pucat dan penuh ketakutan."Saat kembalinya diriku dengan permaisuri Xiuying , beberapa kelompok berpakaian baju hitam telah menyerang kami saat di perjalanan" lanjut Kaisar Yuan, " bukan itu saja, sekelompok orang itu, berhasil masuk tanpa di ketahui oleh pihak manapun. Beberapa jam tadi, nyawa Xiuying hampir saja melayang karena ulah perbuatannya." "APA?"ucap raja dan ratu kerajaan Bai Li Yuan secara serempak. "Jika memang ada penyusup ke kerajaan ini, bagaimana kami semua tidak bisa mengetahui atau merasakannya? Ini sangat aneh .""Tentu saja kalian semua tidak akan merasakan kehadiran mereka semua, karena dia ," kaisar Yuan menunjuk Lien Hua yang masih terduduk di lantai, "
Hua Mo menggigit bibirnya, pandangannya menerawang melalui jendela. Di luar, dedaunan bergerak lembut oleh hembusan angin, dan bunga-bunga melambai dalam sinar matahari pagi. Bau tanah basah dan bunga melati menyelinap masuk ke kamarnya, mengingatkannya pada masa-masa ketika putrinya masih kecil dan mereka bermain di taman istana.Tiba-tiba, pintu kamarnya terbuka. Cahaya remang-remang menyelinap masuk, mengungkapkan seorang pelayan muda yang berdiri di ambang. Di belakangnya, dua sosok yang tak asing: Kaisar Yuan dan Shen Jin. Mereka memasuki ruangan bersamaan, langkah mereka seirama, seperti pasangan burung rajawali yang terbang bersama.Raja Xia, yang tadinya tengah duduk di atas singgasana, segera berlutut. Tubuhnya menunduk, menghormati kedatangan dua orang berpengaruh di hadapannya. Hua Mo, begitu nama raja Xia, merasa jantungnya berdebar kencang. Dia tahu, pertemuan ini tak akan berlangsung biasa.Kaisar Yuan dan Shen Jin menatap dingin raja Xia yang masih berlutut. Wajah merek
Lien Hua dan ayahnya, Raja Xia, akhirnya meninggalkan istana kerajaan Bai Li Yuan. Langit senja yang memerah seolah mencerminkan suasana hati mereka yang penuh dengan kekecewaan dan kemarahan. Semua bangsawan yang telah diundang untuk menjemput putri-putri mereka menatap sinis ke arah Lien Hua dan Raja Xia, seakan-akan pandangan mereka bisa menusuk jantung."Aku tidak menyangka jika Raja Xia memanfaatkan putrinya demi ambisi untuk merebut kerajaan ini. Nyalinya sungguh besar," bisik salah satu raja kepada temannya, suaranya penuh dengan ketidakpercayaan dan cemoohan."Menurutku, bukan Raja Xia tapi putrinya sendirilah yang memang tergila-gila pada kaisar. Bahkan putri-putri kita pun sering dia perlakukan tidak adil," balas temannya dengan nada yang tak kalah sinis, matanya menyipit penuh kecurigaan.Raja Xia mendengar bisikan-bisikan itu dan berhenti sejenak. Dia menoleh ke arah para bangsawan, matanya menyala dengan kemarahan yang tertahan. "Kalian semua tidak tahu apa-apa tentang p
Fajar menyingsing dengan lembut, memercikkan warna emas pucat ke langit yang masih membayang abu-abu. Kabut tipis menggantung di atas tanah, seperti selendang gaib yang enggan dilepas oleh malam. Di tengah hutan yang sunyi, pepohonan kuno berdiri tegak, setiap helai daun mereka tampak menyala karena cahaya pertama matahari.Angin pagi membawa aroma tanah basah dan bunga liar yang baru mekar, bercampur dengan desau lembut sungai kristal yang mengalir di kejauhan. Di atasnya, burung-burung kecil dengan sayap berkilauan seperti permata beterbangan, menciptakan harmoni dari kicauan mereka.Dari balik bayangan pepohonan, seekor rusa bertanduk perak melangkah perlahan, matanya bersinar lembut seperti bulan. Jejak kakinya meninggalkan cahaya redup di atas rerumputan yang berkilauan. Tak jauh darinya, sepasang peri kecil dengan sayap serupa kelopak mawar saling berkejaran, tertawa lembut seperti lonceng angin.Di atas bukit, sebuah desa kecil terbangun perlahan. Pondok-pondok dengan atap jera
Kabut pagi yang menyelimuti penginapan di kedai teh Senja perlahan tersibak, memperlihatkan siluet lima sosok yang bersiap untuk melanjutkan perjalanan. Jin Yu, dengan jubah putihnya yang berkibar tertiup angin, memeriksa pedang pusakanya, . Di sampingnya, Shen Zhibai, sang tabib muda dengan aura tenang, menata ulang ramuan-ramuan di dalam tas kainnya. He Shen, sang pendekar berbadan tegap, mengencangkan sabuk pedangnya, matanya yang tajam mengawasi sekeliling, merasakan riak-riak energi spiritual yang samar.Di belakang mereka, Xiu Juan dan Rouyue, dua gadis muda dengan wajah yang masih menyimpan sisa-sisa ketakutan, berdiri berdampingan. Perjalanan ini, yang semula hanya misi pengawalan biasa, telah berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya. Sebelum ketiga pria itu terjun ke dalam pusaran intrik dan rahasia yang mengancam dunia persilatan, mereka harus memastikan keselamatan kedua gadis itu dengan mengantarkan mereka ke Kerajaan Dayue."Kita harus segera berangkat," ucap Jin
#warning 21+#Di kerajaan istana Bai Li Yuan, keheningan terasa begitu pekat, hanya dipecah oleh suara ketukan pena yang ritmis di atas meja marmer. Shen Jin, dengan tatapan menerawang, duduk termenung di balik meja kerjanya yang dipenuhi gulungan perkamen. Di seberangnya, di balik tumpukan dokumen kerajaan yang menggunung, Kaisar Yuan terbenam dalam kesibukan. "Kenapa wajahnya tidak asing?" gumam Shen Jin, suaranya nyaris tak terdengar, seperti bisikan angin malam.Kaisar Yuan, tanpa mengangkat kepala, menyahut dengan suara bariton yang tegas, "Wajah siapa yang membuatmu penasaran, Shen Jin?" Suara itu bergema di ruangan luas itu.Shen Jin menghela napas panjang, matanya menerawang jauh, seolah mencoba menangkap bayangan masa lalu. "Putri Ling Xian," jawabnya, suaranya kini lebih jelas, "gadis yang dipermalukan oleh Putri Yuqing di depan umum. Wajahnya... seperti seseorang yang pernah kulihat, tapi di mana?"Kaisar Yuan akhirnya mengangkat kepalanya, sorot matanya tajam menembus k
Perjalanan ke selatan membawa rombongan Jin Yu menyusuri jalur pegunungan yang berliku. Kabut tebal menyelimuti lembah, menyembunyikan pemandangan di sekitarnya. Suara gemerisik dedaunan dan desiran angin menciptakan suasana sunyi namun mencekam.Jin Yu, dengan indra kultivator nya yang tajam, merasakan sesuatu yang aneh. "Berhenti," perintahnya, suaranya menggema di antara tebing-tebing batu.Rombongan itu berhenti, kuda-kuda mereka meringkik gelisah. Shen Zhibai dan He Shen mengeluarkan pedang mereka, bersiap menghadapi kemungkinan bahaya. Rouyue dan Xiu Juan menatap sekeliling dengan cemas."Ada jejak energi pedang di sini," kata Jin Yu, matanya menelusuri kabut. "Pertempuran terjadi belum lama ini."Mereka melanjutkan perjalanan dengan hati-hati, mengikuti jejak energi pedang yang samar. Semakin jauh mereka masuk ke dalam lembah, semakin jelas tanda-tanda pertempuran. Pohon-pohon tumbang, batu-batu hancur, dan tanah dipenuhi bekas luka tebasan pedang.Tiba-tiba, mereka menemukan s
Setelah beberapa hari perjalanan mereka tertunda, melihat kondisi Xiu Juan yang sudah semakin membaik, mereka pun memutuskan untuk melanjutkan kembali perjalanan yang tertunda karena sebuah insiden. Rute yang mereka ambil kali ini lebih memilih yang strategis, karena tidak mau insiden sebelumnya kembali terjadi."Sebaiknya kita ambil jalan ke selatan saja," ucap Jin Yu dengan tegas, matanya memandang ke arah peta yang terbentang di atas meja. "Meskipun jaraknya sedikit jauh, tapi sekiranya perjalanan kita aman dari bahaya."He Shen menggelengkan kepala. "Bukankah perjalanan kita akan lebih jauh? Kenapa kita tidak mengambil jalur timur saja? Jika kita lewat jalur sana, kita hanya membutuhkan satu hari perjalanan menuju kerajaan Dayue."Shen Zhibai memandang He Shen dengan mata yang tajam. "Sepertinya, kau memang belum jera mendapat pelajaran disana? Apakah kali ini kau akan sukarela mengantarkan nyawa?" Jin Yu dan Shen Zhibai menatap dingin He Shen seraya berpangku tangan di dada.He S
"Rouyue, Shen Zhibai, He Shen, jangan ganggu aku," ucapnya singkat namun tegas. Ruangan itu menjadi hening, hanya terdengar suara angin yang berbisik lembut melalui celah-celah jendela tua.Mata Jin Yu tertutup rapat. Ia merasakan tarikan lembut, seperti jaring tak terlihat yang membawanya ke dimensi lain—ke dalam dunia bawah sadar Xiu Juan. Cahaya putih yang menyilaukan menyambutnya, lalu seketika berubah menjadi bayangan kelabu. Di hadapannya terbentang hamparan padang tanpa batas, kosong dan sunyi. Angin di tempat itu membawa rasa dingin yang menusuk hingga ke tulang.“Xiu Juan!” serunya, suaranya menggema di padang luas itu. Tidak ada jawaban. Jin Yu terus berjalan, kakinya seperti tenggelam dalam kabut tipis yang menggulung-gulung di tanah. Ia tahu, di tempat yang sunyi dan dingin ini, Xiu Juan terjebak. Di kejauhan, ia melihat sosok perempuan duduk dengan kepala tertunduk. Rambut panjangnya menutupi wajahnya, dan tubuhnya terlihat rapuh, hampir transparan seperti bayangan. Jin
Di pondok tua yang dikelilingi embun pagi yang masih menempel pada dedaunan, Jin Yu berdiri termenung di depan kamar rawat Xiu Juan. Matanya tak lepas dari pintu kayu yang terlihat kusam dan penuh goresan. Dari dalam ruangan, terdengar suara Rouyue yang terus berceloteh, suaranya sedikit serak karena emosi.“Xiu Juan, apa kau tidak lelah terus berbaring seperti ini? Apa kau akan melupakan tekadmu untuk meluluhkan hati Selir Lin Hua, agar kau diakui sebagai anaknya? Bangunlah... Huhuhu.” Tangisnya terdengar seperti melodi yang terputus-putus, menggetarkan keheningan di pondok itu.Jin Yu menarik napas panjang, aromanya bercampur antara bau tanah basah dan aroma lembut ramuan obat dari dalam kamar. Sebelum ia sempat melangkah, suara langkah kaki lembut mendekat di belakangnya.“Jin Yu, kenapa kau tidak masuk?” Shen Zhibai berkata sambil menepuk pundaknya. Sentuhan itu mengejutkannya, seperti menyadarkan Jin Yu dari lamunannya.Tanpa banyak bicara, He Shen segera membuka pintu kamar. Cic
Di sebuah pondok tua yang terletak di desa Teratai Putih, Xiu Juan telah terbaring tak sadarkan diri selama dua hari. Panah yang dilesatkan oleh salah satu bandit gunung yang menargetkan Jin Yu telah dilumuri racun yang sangat mematikan. Jin Yu, sejak sampai di pondok tua hingga saat ini, tidak pernah sedikitpun beranjak dari sisi Xiu Juan. Meskipun Rouyue sudah memintanya untuk istirahat, Jin Yu tetap tidak mau meninggalkan Xiu Juan.Melihat kekhawatiran yang ditunjukkan oleh Jin Yu pada Xiu Juan, ada kekhawatiran dalam benak Rouyue. "Pangeran Jin Yu terlihat begitu khawatir. Jika sampai pangeran jatuh cinta pada Xiu Juan, ini akan menjadi masalah besar," gumam Rouyue dalam hati, sambil menatap Jin Yu dengan mata yang tajam.Rouyue yang tengah termenung, terlonjak saat tiba-tiba Jin Yu beranjak dari duduknya. Ia memandang dingin Rouyue, membuat Rouyue menelan ludahnya sendiri. Suhu udara di ruangan itu mendadak mencekam."Aku akan pergi keluar sebentar, kau jaga Nona mu dengan baik,"
Setelah dentingan senjata tak lagi terdengar, keheningan yang mencekam. Xiu Juan dan Rouyue, yang sebelumnya bersembunyi di dalam kereta, saling bertukar pandang penuh keraguan sebelum akhirnya memberanikan diri keluar. Dengan langkah hati-hati, mereka melangkah menghampiri Jin Yu yang berdiri tegap di depan kereta kuda, masih di atas kudanya yang menginjak-injak tanah dengan resah."Tuan, apakah semuanya baik-baik saja?" tanya Xiu Juan dengan nada lembut, hampir seperti bisikan yang menguap ke dalam malam. Angin dingin menyapu helaian rambutnya, menambah dramatis suasana.Tanpa banyak kata, Jin Yu melompat turun dari kudanya dengan gerakan yang begitu cepat dan penuh percaya diri. Ia kini berdiri tegap di hadapan Xiu Juan, tatapannya setajam pisau."Semuanya sudah terkendali. Kalian tidak perlu merasa takut lagi," ujarnya dengan nada yang dingin namun tegas, seperti lapisan baja yang menyembunyikan sesuatu di dalamnya. Kalimatnya tegas, tetapi menyimpan kesan tak terbantahkan bahwa