Share

IBU SUSU BAYIKU, CANDUKU!
IBU SUSU BAYIKU, CANDUKU!
Penulis: Blue_Starlight

1. Mertua Mata Duitan

Penulis: Blue_Starlight
last update Terakhir Diperbarui: 2025-02-10 12:34:45

"Masih kayak mimpi kamu pergi secepat ini, Mas ... Aku sekarang sendirian di sini ..."

Langit seakan senang menertawakannya menangis. Tuhan seolah belum bosan memberinya hukuman. Awan hitam pun tetap enggan pergi dalam diri seorang Ashley.

Wanita itu belum bisa menerima kenyataan sebulan lalu, di mana kecelakaan membuat sang suami luka berat, dan bayinya yang belum sempat melihat dunia ini wafat.

"Ya Tuhan ..., terangkan alam kubur suamiku. Aku sangat mencintainya. Izinkan aku hanya berjodoh dengan suamiku dunia akhirat ...." ratap Ashley.

Hatinya begitu hancur. Dipandanginya lagi dua batu nisan mendiang suami dan bayinya di pemakaman yang sunyi di bawah guyuran hujan. Tak peduli basah dan kotor, tangannya terulur mengusap pelan pusara Soni.

"Aku gak akan bisa hidup tanpamu, Mas .... Aku kangen kamu, suamiku ... Kangen semua moment kebersamaan kita ..."

Seakan ia belum bisa menerima kenyataan, membuat Ashley menangis tersedu meratapi nasib. Dadanya bahkan terasa sesak, hingga ia menepuknya berulang kali.

Guyuran hujan semakin deras, kilatan petir pun saling menyambar seakan menyamarkan tangisan Ashley agar tak terdengar.

"Aku lelah .... Izinkan aku dan suamiku bersatu lagi di surgamu selamanya ya, Tuhan ..." ucap Ashley dengan sesengukan.

Sebanyak apapun air mata yang ia keluarkan. Bukankah takdir yang sudah di tulis Tuhan tidak bisa diubah?

Setelah puas menangis, lalu menarik napas dalam-dalam, Ashley kemudian bangkit. "Aku pulang dulu, Mas ..."

Tak ada lagi yang bisa ia perbuat di tempat itu.

Sesaat kemudian, langkah kaki gontai Ashley kini tiba di rumah. Namun, tatapannya beralih pada sosok pria yang berdiri di depan pintu utama.

Seorang pria berpakaian jas rapi tersenyum pada Ashley. "Maaf, boleh saya bertanya. Apakah ini rumah Pak Soni?" tanya pria tersebut.

Ashley mengangguk, tergugu mendengar nama almarhum suaminya, "I-iya, maaf, Anda siapa?"

Tanpa menyebutkan nama, pria itu menyodorkan satu amplop warna putih. "Saya petugas rumah sakit. Dan Ini untuk keluarga pendonor."

Ashley tercengang, dengan tangan gemetar ia menerima amplop. Namun, ia semakin dibuat penasaran dengan ucapan pria itu.

"Pe-pendonor?"

Dengan cepat Ashley membuka amplop putih dengan kop surat Rumah Sakit Emerald. Kata demi kata tidak ada yang terlewat pada sorot matanya.

Tatapan Ashley langsung berubah tajam, tertuju pada nama mendiang sang suami tertera sebagai pendonor jantung. Dan yang lebih membuatnya terkejut, tanda tangan wali yang menyetujui itu adalah ... Riana.

"Ibu ...?!" Ashley terbelalak melihat nama sang mertua tertera pada lembaran kertas.

Jemari lentik meremas erat kertas pada genggamannya. Disertai dada bergemuruh hebat, Ashley melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah meninggalkan pria tadi.

Brak!

Suara dentuman pintu kamar Riana yang didorong paksa Ashley hingga pintu itu membentur dinding.

"Jadi ibu yang jual jantung Mas Soni?!" hardik Ashley melemparkan kertas, "benarkan, ibu yang tanda tangan itu! Ibu tega banget ya, sama anak sendiri!"

Suara Ashley kian menggelegar hingga sudut kamar Riana.

Meski kertas itu mengenai wajah Riana. Namun, tidak juga membuat wanita paruh baya itu gentar. Ia justru berdiri di hadapan Ashley dengan mengangkat dagu.

"Iya! Kenapa?" jawab Riana angkuh. "Bukannya itu sepatutnya menjadi hakku menerima uang donor Soni? Dia anakku, Ash! Jadi aku bebas melakukan apapun!"

Rasa kesal bercampur marah kini Ashley rasakan mendengar pernyataan sang mertua yang tidak masuk akal. Ibu mana yang tega menjual jantung anaknya pada orang lain? Tangan Ashley seketika terkepal di sisi tubuhnya.

"IBU!!"

Ashley tak habis pikir. Entah apa yang dipikirkan Riana saat itu. "Ja-jadi ... seharusnya Mas Soni belum mati kan, Bu?!" tanya Ashley terbata, mencoba mencerna situasi.

"Memangnya kamu yang mau urusi semua biaya pengobatan Soni!" cetus Riana sinis, "Dia gak bakal sembuh, Ash! Dia bakal cacat seumur hidup!"

"Memang Ibu, Tuhan, yang nentuin hidup dan mati Mas Soni!"

Derai air mata membasahi pipi. Tubuh Ashley bergetar hebat makin tidak bisa menerima fakta kalau seharusnya suaminya masih hidup.

Tapi mengapa ibu kandungnya justru yang mendonorkan jantung suaminya?

Mendengar makian Ashley membuat Riana semakin murka. "Heh, kamu!" Ia menarik kuat rambut Ashley, "Dasar menantu gak tau diri! Pembawa sial!"

Genggaman kuat pada rambut Ashley belum lepas juga, Riana mendorong kasar tubuh sang menantu hingga wanita cantik itu tersungkur di atas lantai.

Kemarahan Riana tidak berhenti sampai di situ. Ia masih berdiri di hadapan Ashley dengan berkacak pinggang.

Ashley bisa melihat tatapan tidak suka ibu mertuanya yang sangat membencinya. Terlebih sejak kematian mendiang Soni, kemarahan Riana semakin menjadi.

"Pantas saja hidup Soni jadi sengsara semenjak menikahimu! Kamu itu pembawa sial! Kamu pembunuh Soni dan anakmu!"

Senang melihat kehancuran Ashley, Riana memang ingin membuat sang menantu agar tak betah di rumah itu.

"Heh, dengar ya!" Riana mencekal kasar dagu Ashley hingga mendongak. Tatapan tajam seketika menembus kedua bola mata indah pemiliknya. "Sekarang juga kamu angkat kaki dari rumah ini! Aku gak sudi punya menantu kayak kamu! Dan kamu gak berhak atas rumah ini!"

Ashley bergeming dengan isak tangis, hingga bibirnya terasa kelu tak mampu lagi berkata.

Dengan rahang mengeras, Riana melangkah menuju kamar Ashley yang tak jauh dari kamarnya. Ia mengeluarkan semua baju dalam lemari milik wanita cantik itu, kemudian membuangnya ke lantai.

"Sekarang juga kamu pergi dari rumah ini!"

***

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (37)
goodnovel comment avatar
Yoona Syifa
amit amit jabang bayi, ada ya orang tua kaya si Riana. sejahat2nya bin4tang aja, dia gak bakalan melukai anaknya. lagi ini si Riana coba.
goodnovel comment avatar
SalmiaSR
hadir thor... ikh amit2 banget punya orang tua kegitu... tega sama anak sendiri..jahat pula sama menantu
goodnovel comment avatar
Yanda Hanazti
tega banget tu riana, demi uang dia rela menjual jantung anaknya yg msh hidup, kini dia juga mengusir ashley demi mendapatkan apa yg riana inginkan
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

  • IBU SUSU BAYIKU, CANDUKU!   2. Seleksi Ibu Asi

    Semangat hidup Ashley hampir sirna. Dengan tangan gemetaran. Jemari lentik memunguti baju yang dilempar sang ibu mertua, memasukkan berjejal ke dalam kantong plastik.Dalam keterpurukan dan rasa putus asa, Ashley memandangi lagi setiap sudut rumah itu dengan mata berkaca. Semua kenangan indah bersama mendiang suami kini hampir benar-benar hilang."Maafkan, aku Mas. Aku gak kuat lagi tinggal di sini ..." batinnya terasa pilu.Langkah kaki rapuhnya perlahan meninggalkan rumah dengan sejuta kenangan ....Meski tidak punya tujuan, Ashley tetap melangkah pergi. Jangankan tujuan, sepeser uang pun ia tak punya."Aku gak punya siapa-siapa lagi di sini. Jadi untuk apa masih tetap bertahan sendiri ..." Dalam batinnya bergejolak.Masih dalam rintik hujan yang membasahi bumi, Ashley kini tiba di jalan raya utama. Deru suara mobil bercampur dengan cipratan air yang seakan memberi nuansa, jika masih banyak orang yang bertahan hidup di luaran sana. Namun, berbeda dengan wanita itu. Ia tak memiliki

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-10
  • IBU SUSU BAYIKU, CANDUKU!   3. Dilema

    Pertolongan utama pun langsung dilakukan setelah mobil Liam berhenti di depan ruang UGD. Beberapa perawat dan dokter langsung menanggani dengan sigap.Beruntungnya Ashley tidak mengalami luka berat. Bagian lututnya tidak mengalami masalah, hanya luka ringan di kening saat wanita itu pingsan tergores aspal.Dokter mengatakan bila kondisi Ashley memang lemah dan seolah tidak memiliki semangat hidup. Sang dokter pun mengatakan pada Hans setelah berhasil mengintrogasinya.Bram menemui Hans yang sudah menunggu di ruangannya. "Sepertinya, dia memang sengaja menabrakkan dirinya, Hans," katanya sembari mendudukkan diri.Sedikit terkejut, Hans mengangguk lirih, "Sudah aku duga. Lalu apa penyebabnya? Apa kamu juga tau?"Sang dokter tak heran bila sahabatnya sangat peka. "Menurut informasi yang aku dapat, dia masih berduka karena kehilangan suami dan bayinya. Kemungkinan itu yang menyebabkan dia depresi lalu ingin bunuh diri.""Apa katamu? Kehilangan bayi?"Seperti mendapat angin segar, wajah Ha

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-10
  • IBU SUSU BAYIKU, CANDUKU!   4. Menunggu Kepastian

    Kedatangan satu lagi sosok pria yang tiba-tiba melayangkan pertanyaan pada Ashley, membuat wanita itu terkejut. Terlebih, saat pertanyaan itu sangat tidak terduga olehnya.Ashley menatap Liam dan Hans secara bergantian. Tatapan penuh kebingungan atas pertanyaan yang baru saja dilontarkan Hans."Ehm ... begini Bu Ashley. Ini Pak Hans, beliau atasan saya," kata Liam memulai percakapan. "Kami menawarkan pekerjaan untuk Anda, karena Pak Hans merasa Anda memenuhi kriteria sebagai ibu susu untuk Baby Neul."Sejenak semua sunyi. Meskipun keadaan Ashley saat itu sangat miris, namun tidak membuat Hans merasa jijik. Baju yang kedodoran dan rambut yang tak disisir rapi, serta tanpa alas kaki, itu masalah yang mudah baginya.Sementara Ashley merasa dilema dengan jawaban yang sudah ditunggu kedua pria di hadapannya. Tak ada pilihan lain untuknya. Meskipun Ashley juga banyak tau tentang ibu susu, namun ia tidak menduga ini akan terjadi pada dirinya. Kejutan apa lagi yang menantinya di depan sana?

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-10
  • IBU SUSU BAYIKU, CANDUKU!   5. Hari Pertama Bekerja

    "Tidak ada tapi-tapian, Ash." Hans menyanggah penolakan Ashley, kemudian bangkit dari duduknya, "Ayo, aku tunjukkan di mana kamar Haneul. Mungkin saja dia sudah tidur, tapi tidak apa, yang penting kamu sudah tau kamarnya."Ashley mengangguk pelan, seraya mengikuti langkah sang majikan menuju lantai dua. Di mana kamar Haneul bersebelahan dengan kamar Hans.Sang CEO membuka pintu sangat pelan hingga hampir tidak terdengar suara apapun. Keduanya melangkah masuk lebih dalam.Pandangan Ashley langsung tertuju pada bayi laki-laki yang tertidur pulas dengan posisi miring. Tampak tenang dan menggemaskan. Sebulir air tanpa sengaja menerobos keluar sudut matanya."Benarkan, dia sudah tidur." Seutas senyum kecil pun tergambar pada bibir Hans yang langsung mendapat anggukan sang wanita.Suara bisik-bisik itu ternyata membangunkan perawat khusus menjaga Baby Neul selama ini. "Eugh ... Pak Hans ...?" sapa perawat sedikit terkejut.Sang perawat berusaha memulihkan kesadaran, namun Hans melarangnya.

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-10
  • IBU SUSU BAYIKU, CANDUKU!   6. Rencana Risma

    Dengan cekatan Ashley langsung menutup tubuh Baby Haneul dengan selimut, menyadari kehadiran sang majikan. Wanita itu bangkit dari duduknya, mendekap sang anak dengan erat."Maaf, saya pikir sinar matahari pagi baik untuk kesehatan bayi," balas Ashley menerangkan sembari membawa Baby Neul masuk."Tapi bukan sekarang, Ash!" Lagi-lagi Risma memprotes.Hans melihat kemarahan Risma semakin menjadi. Pria itu lantas melangkah maju di antara Risma dan Ashley. "Tidak apa, Sus. Toh, ruam pada Haneul juga sudah membaik, biarkan Ashley yang mengurusnya. Dia mungkin lebih tau kondisi Baby Neul," ucap Hans menghentikan pertikaian.Ashley meletakkan Baby Neul di atas kasur besar, lalu merapikan lagi baju sang anak, kemudian melihat ke arah Hans, "Haneul sudah minum asi pagi ini, Pak. Jadi dia lebih tenang sekarang. Anda mau menggendongnya?"Hari pertama Ashley bekerja, Hans bisa melihat kelembutannya merawat sang anak. Tentu saja wanita itu lebih mendalami perannya sebagai seorang ibu dibandingkan

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-10
  • IBU SUSU BAYIKU, CANDUKU!   7. Tukang Gosip

    Di perusahaan besar LuminaTech. Pria yang duduk di balik meja kerja besar tampak berpikir keras hingga keningnya berkerut. Hans mengetuk-ngetuk meja kerja beberapa kali kemudian mengangkat gagang telepon. "Hallo Liam, ke ruanganku sekarang!" Sang CEO memeriksa kembali beberapa email, dan cctv dalam kamar Baby Neul yang terhubung ke ponselnya. "Ternyata dia sedang menyusui Haneul ..." batin Hans tetap memastikan sang anak dengan baik. Dalam lamunan itu ... Tak berselang lama, terdengar ketukan pintu sekilas, lalu nampak sang asisten melangkah masuk ke dalam dengan membawa iPad, "Anda mencari saya, Pak?" "Hm, duduklah." "Pak, Anda sudah periksa catatan yang dikirim sekretaris?" tanya Liam tiba-tiba. "Ekhem ..." Hans berdehem kecil, kemudian mengembalikan ekspresinya cepat, "hm ... sudah, aku sudah periksa tadi." "Lalu, bagaimana tanggapan Anda, Pak? Apa Anda juga setuju?" "Lanjutkan saja dulu, akan aku tambahi setelah pertemuan nanti," jawab Hans, "Oh ya, katakan pa

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-10
  • IBU SUSU BAYIKU, CANDUKU!   8. Tertinggal Rapat

    Mendengar suara bariton yang mereka kenali, Ashley dan Risma seketika menoleh dengan wajah cemas.Ashley mendongak terkejut. Sementara Risma menoleh, namun dengan batin tertawa. "Rasakan kamu, masuk jebakanku!" "Ma-maaf, Pak, bukan maksud kami begitu," ucap Ashley terbata."I-iya Pak, maaf saya terpaksa mengatakannya karena Ashley mendesaknya," alibi Risma membuat Ashley menoleh dengan tercengang."Tidak, Pak. Bu—""Diam!" Hans melangkahkan kaki masuk lebih dalam ke kamar itu, "Sekali lagi aku mendengar kalian bicara sembarangan, aku tidak akan memaafkannya!"Ashley hanya bisa tertunduk dalam, dan merasa kesal karena Risma sudah mengambinghitamkannya.Walaupun Hans melihat sang bayi tampak riang disertai berceloteh ria, tapi ia tidak bisa membiarkan siapapun membicarakan tentang istrinya. Tak terkecuali, termasuk para pelayan.Setelahnya, pria itu langsung berbalik badan, meninggalkan Ashley yang

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-26
  • IBU SUSU BAYIKU, CANDUKU!   9. Kecanggungan di dalam Mobil

    Sandra seketika mendapat lirikan tajam dari pria yang duduk di sisi ujung meja dalam rapat itu.Liam merasa geram karena bisa-bisanya sekretarisnya itu telat dalam menghadiri rapat penting pagi ini.Wanita itu berjalan santai meski sudah mendapat tatapan tajam, "Maaf Pak, macet di jalan."Itu hanyalah alibi Sandra demi menghindari amarah dari sang CEO. Padahal, bukan itu yang sebenarnya terjadi.Setelahnya, selama hampir kurang satu jam, rapat tersebut berakhir. Hans bangkit dari duduknya, kemudian melangkah menuju ruangannya yang diikuti Liam. "Semua sudah siap, Liam?" tanya Hans tanpa menoleh."Sudah, Pak." Liam langsung paham dengan pertanyaan sang CEO yang membahas tentang perjalanan bisnisnya nanti sore.Sementara Sandra, memandang heran pada dua lelaki itu yang tidak menggubrisnya. "Apaan sih, masak iya mereka gak liat aku di sini!" gerutu Sandra seraya memberesi berkas-berkas rapat tadi.Di dalam ruang s

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-26

Bab terbaru

  • IBU SUSU BAYIKU, CANDUKU!   69. Frustasi

    Sandra terbangun dengan kepala yang Mata Sandra membelalak. Napasnya tercekat.Pikiran Sandra langsung melayang ke kejadian semalam. Tangan-tangan kasar itu memperlakukannya dengan brutal—menarik, mencengkeram, dan merenggut harga dirinya tanpa ampun, seolah ia bukan manusia. Semua itu terjadi diiringi desahan dan tawa menjijikkan.Suara mereka masih terngiang di telinga Sandra. Mereka mengolok-olok, menyebutnya murahan, lalu tertawa puas sambil mengatakan betapa mereka menikmati saat Sandra memohon, menangis, meronta sekuat tenaga, dan berteriak ketakutan."Tidaaaak!"Sandra menjerit histeris, tangannya mencengkeram rambutnya sendiri. Ia ingin menyangkal apa yang terjadi, tapi rasa sakit di tubuhnya berkata lain. Ia merasa jijik. Marah dan hancur.Emosi yang membuncah membuatnya meraih gelas kaca di atas meja dan melemparkannya ke dinding. "Bajingan!!!""Bangsat! Hendrik brengsek!!"Sandra bangkit dengan tubuh geme

  • IBU SUSU BAYIKU, CANDUKU!   68. Kegiatan Pagi Hari

    Hans memang memberi waktu bagi Ashley untuk menyesuaikan diri sebagai istrinya. Ia tidak memaksanya untuk segera menjalankan peran sebagai istri sepenuhnya. Baginya, sudah cukup jika Ashley tidak melupakan tugasnya sebagai seorang ibu. Pria itu menatap Ashley dengan lembut, membiarkan keheningan di antara mereka sejenak sebelum akhirnya bertanya, "Apa yang kamu inginkan dariku sebagai suamimu, Ash?" Terdiam sejenak, Ashley menatap Hans dengan sorot mata ragu. Mereka kini berbaring saling berhadapan. Kedua bola mata saling menyelami perasaan masing-masing. Begitu pula Hans, menatap teduh sang istri. Ashley tersentak mendengar pertanyaan itu. Ia mengangkat wajah, menatap suaminya dengan ragu. "Aku ... aku bersyukur," katanya pelan. "Aku gak pernah mendapatkan kasih sayang dari kedua mertuaku sebelumnya, tapi di sini, aku merasakannya. Aku gak butuh apa-apa lagi." Hans menggeleng kecil, tersenyum hangat. "Bukan itu maksudku, sayang." Ia mendekat, menggenggam tangan Ashley dengan

  • IBU SUSU BAYIKU, CANDUKU!   67. Canggung

    Setelah acara pesta barbeque usai pada malam itu, Naomi langsung membawa Haneul ke kamarnya. Sementara Hans dan Candra masih berbincang di ruang keluarga. Perbincangan yang santai diselingi tawa dan canda dari anak mantu keluarga Lee.Baru kali pertama Ashley merasakan kehangatan di dalam lingkungan keluarga mertuanya, dan sambutan mereka yang begitu hangat."Ash, kamu jangan sungkan-sungkan kalau di rumah ini ya. Ini rumah masa kecil Hans, jadi kamu pun juga harus merasa nyaman di sini," kata Candra membuat suasana semakin hangat."Mmm, iya, Pi. Aku akan membiasakan diri," balas Ashley terdengar kaku.Pasangan muda itu duduk berdampingan di sofa, sementara Candra duduk tak jauh dari mereka. Setelah mendengar lagi ucapan sang menantu, Candra tersenyum tipis, "Ya ya ya, itu akan jadi lebih baik. Jadi, kapan kalian bulan madu?"Hans dan Ashley saling berpandangan. Ashley menundukkan wajah, tersipu malu, sementara Hans menggar

  • IBU SUSU BAYIKU, CANDUKU!   66. Berpacu Waktu

    Entah mimpi apa Sandra hingga terjebak ke dalam permainan Hendrik yang sangat panas. Pria yang memiliki studio itu biasanya menghasilkan gambar-gambar para model untuk cover atau iklan tertentu.Namun, di balik semua itu, ternyata Hendrik memiliki bisnis kotor. Ia memproduksi film porno dengan korban yang ia ancam akan disebar video yang ia rekam.Plak!"Diam dan patuh, Sandra. Atau kamu tiba-tiba jadi artis viral!" bentak HendrikPipi Sandra seketika menjadi panas. Wajahnya langsung memerah marah. Detik itu juga sesuatu terasa keras masuk ke dalam intinya. Dirinya merasa terbelah. Sandra sontak mendongak. "Argh ...!"Hendrik mendorong kuat miliknya yang sudah mengeras dengan sekali hentakan. Sedikit sulit, dan sesuatu yang basah ia rasakan."Hmmm ... Ternyata kamu masih perawan juga ya?" desis Hendrik sambil menarik miliknya sedikit.Sekali lagi, ia hentakkan kuat hingga terdengar jeritan dari wanita yang ada di b

  • IBU SUSU BAYIKU, CANDUKU!   65. Ikat Dia

    Hendrik mulai melumat bibir Sandra. Perlahan, bibirnya menjelajah leher jenjang Sandra. Sementara kedua tangannya bergerilya menjelajahi tubuh halus Sandra tanpa menghentikan aksinya menciumi leher Sandra. Bahkan pria itu meninggalkan tanda merah yang dalam di kulit putih Sandra.Tiba-tiba Hendrik menghentikan aksinya dan berdiri. Ia memperhatikan tubuh Sandra yang masih terkulai tak sadarkan diri. Sesaat, ia terdiam. Ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya."Gini gak seru," gumam Hendrik. "Kalau dia sadar, reaksinya pasti lebih menarik."Dua teman Hendrik, Riki dan Anton, saling pandang."Maksudnya gimana?" tanya Anton, pria bertubuh besar dengan perut buncit."Bangunin dulu," Hendrik melirik ke wastafel di sudut ruangan. "Ambilin air, Rik."Riki, pria berkepala plontos, mengangkat bahu sebelum akhirnya berjalan ke wastafel. Sementara itu, Anton melipat tangan di dada, wajahnya masih penuh keraguan."Terus kalau

  • IBU SUSU BAYIKU, CANDUKU!   64. Video Panas

    Sandra yang sudah dalam keadaan tak sadarkan diri pun tengah digerayangi dua pria di sekelilingnya. Sementara Hendrik sedang menyiapkan kamera yang tepat dengan tempat yang akan dijadikan membuat video mereka. "Gimana bro, kita mulai sekarang aja, ntar keburu dia sadar?" tanya satu rekan Hendrik. Sementara satu pria lain pun menyahut, "Benar katanya. Kalau kita gak segera, mungkin kita akan gagal semuanya." "Oke, oke, tenang. Sebentar aku siapin lampu sorotnya." Setelah memastikan semuanya sempurna, Sandra yang sudah tak memakai sehelai pakaian pun tersorot kamera dengan sangat jelas. Bentuk tubuh setiap inci wanita itu terekspos melalui lensa kamera Hendrik. "Yuk, kita mulai," kata Hendrik yang mulai menyalakan lampu serta tombol power. Kamera menyala, merekam setiap detiknya tubuh wanita itu. Bagaimana pula Hendrik mendekatkan kamera itu merekam pada bagian tubuh Sandra yang paling inti. "Wow," gumam Hendrik sangat bergairah meskipun hanya melihat melalui lensa kame

  • IBU SUSU BAYIKU, CANDUKU!   63. Mangsa Baru

    Jika Hans dan Ashley dalam keharmonisan keluarga, berbeda dengan Sandra yang semakin terpuruk. Wanita itu benar-benar frustasi akibat tertampar oleh kenyataan yang begitu getir.Malam pun semakin larut, Sandra duduk di meja bar, menatap kosong ke gelas minumannya yang sudah hampir habis. Musik yang keras, lampu yang berkedip, dan keramaian di sekitarnya hanya membuatnya semakin merasa terasing.Dia seharusnya merasa bahagia, atau setidaknya merasa lebih baik setelah mencoba melupakan kenyataan yang pahit. Tapi kenyataan itu terus menghantuinya, seperti bayangan yang tak bisa hilang."Mengapa seolah takdir pun juga tidak memihakku ...?" gumamnya mengangkat gelas, meneguk habis isinya. Sesaat, rasa pahitnya menyeruak, mengingatkan pada betapa pahitnya kenyataan yang dia hadapi. Dia selalu bermimpi menikah dengan Hans, membangun keluarga kecil yang bahagia. Tapi kini, impian itu hancur berantakan."Sandra," bisik suara tiba-tiba dari s

  • IBU SUSU BAYIKU, CANDUKU!   62. Kejutan Piano

    Suasana sore semakin hangat di taman samping rumah orang tua Hans, dipenuhi tawa dan kebersamaan. Hans, Ashley, dan kedua orang tuanya sedang duduk bersama di sekitar meja makan. Terlihat Candra sudah menyiapkan alat bakar dan menyalakan api lebih dulu. Sementara Hans dan Ashley juga membantu."Kalian ambil daging, serta alat makan saja," pinta Candra agar kedua pengantin baru sedikit menjauh.Ashley menggangguk, "biar aku yang ambil sayur dan dagingnya, Mas."Namun, Hans juga tak mau kalah, ia juga ingin membantu dalam acara pesta barbeque ini, "Jangan, biarkan aku bantu juga."Keduanya langsung masuk ke dapur, Ashley membuka lemari pendingin, sementara Hans melangkah mengambil alat makan. Mereka sepakat bekerja sama."Aduh, sudah besar banget Neul, ya? Kayak papa banget,” kata Naomi, yang tiba-tiba muncul dari balik pilar sambil memeluk Baby Neul dengan lembut.Wanita paruh baya itu baru saja bermain dengan cucu kesay

  • IBU SUSU BAYIKU, CANDUKU!   61. Gugup

    Hari yang dinanti-nanti akhirnya tiba. Hans dan Ashley, bersama dengan Baby Neul, sedang mempersiapkan segala sesuatunya untuk menginap di rumah Oma dan Opa. Setelah Candra dan Naomi memutuskan untuk pulang lebih dulu setelah berakhirnya pesta. Meskipun mereka berdua tampak santai, ada sedikit kecemasan di wajah Ashley. Ini adalah pertama kalinya mereka menginap di sana, dan pastinya ada banyak hal yang ingin ia pastikan. "Ayo, Ash. Apa semua sudah siap?" tanya Hans menghampiri Ashley yang hendak Menggendong Haneul. "Hem, sudah Pak," sahut Ashley tanpa menoleh. Panggilan Ashley ternyata belum juga berubah hingga membuat Hans sedikit gemas. Namun, tangan pria itu tetap terulur membantu sang istri mengaitkan kunci di balik punggung hingga terdengar bunyi 'klik!' "Mau sampai kapan kamu gak merubah panggilan untukku itu, Sayang," bisiknya tepat di telinga Ashley hingga bibir serta embusan napas sang suami membuat wajahnya bersemu merah. Ashley tersipu malu mengalihkan pandanga

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status