Share

3

Penulis: Lele_1393
last update Terakhir Diperbarui: 2021-04-23 14:35:46

Membalikan Hati tak semudah membalikan telapak tangan, menghapus masalalu tak semudah menghapus jawaban di lembar Ujian.

Fathan Agam Byantara

Satu kenangan yang menyakitkan pasti akan sulit untuk dilupakan. Semakin mencoba untuk melupakannya maka semakin gencar pula kenangan itu merongrong. Yang hanya bisa kau lakukan adalah berdamai dengan masa lalumu dan rasa sakitmu. Mungkin itu sulit, tapi itulah caranya. Nikmati prosesnya maka kau akan mengerti bagaimana rasa sakit itu memberimu kekuatan dan pelajaran yang orang sebut sebagai pengalaman.

Aku masih memandangi kotak itu, aku ingin mengembalikannya, tapi aku tidak tahu di mana alamat Kin. Setauku rumah Kin yang dulu sudah dijual dan ditempati oleh orang lain. Apa perlu aku membuangnya, jika kusimpan kamera ini, aku takut suatu hari nanti sesuatu akan terjadi. Dan semuanya akan berulang seperti waktu itu.

Kin, setauku dua tahun yang lalu dia pindah ke luar negri. Tepatnya saat tahun terakhir kami duduk di bangku sekolah menengah pertama. Itupun terjadi karena campur tangan kakakku. Dulu aku memang terlalu dekat dengan Kin, bahkan aku sempat menyimpan perasaan pada Kin. Saat itu Kin adalah peran utama dalam hidupku. Duniaku adalah Kin.

"Udah siap?"

Suara Haden membuyarkan lamunanku. Aku menatapnya yang sudah selesai mengenakan sepatu. "Ayo, nih dasinya." Aku memberikan dasi yang sudah ku siapkan pada Haden. Haden sering melupakan hal-hal kecil seperti dasi atau topi sekolah. Tidak jarang dia di hukum oleh guru BP.

Aku dan Haden berjalan beriringan menuju sekolah, otakku terus memikirkan soal hadiah itu. Aku khawatir. Rasa gugupku yang dulu pernah menghantuiku seolah kembali lagi. Apa yang akan Kin lakukan, aku tidak bisa percaya begitu saja kalau Kin tiba-tiba saja datang tanpa tujuan apapun.

"Gam, nanti elo temenin gue latihan, ya?"

Aku hanya mengangguk, menandakan setuju atas ajakan Haden. Aku benar-benar tidak suka jika ada sesuatu yang mengganjal di pikiranku. Aku tipe orang yang selalu memikirkan hal sekecil apapun itu

"Elo kenapa Gam, masih mikirin yang kirim kamera tadi?"

"Eh?" Aku menghentikan langkahku lalu menoleh ke arah Haden yang seperti sedang membaca pikiranku. "Enggak, Den. Aku gak mikirin apa-apa."  Aku tidak suka berbohong dan aku tidak pernah bisa untuk berbohong.

"Nggak usah dipikirin, kalo lo gak mau pake itu kamera, lo bisa jual kan. Setau gue sekarang juga lo udah jarang maenan kamera. Lumayan duitnya bisa buat traktir gue makan enak hahaha ..."

"Dasar," Celetukku.

Haden melotot lalu merangkul leherku dan mengetekiku semaunya saja. Dia berpura-pura menjitaki kepalaku. Aku hanya tertawa geli. "Ampun, Den. Ampun." Ucapku sambil tertawa. Saat itu suasana lorong kelas sudah ramai dan banyak murid sedang berkumpul di lorong kelas. Banyak yang memperhatikan kami, tapi entah kenapa Haden tidak pernah risih dengan tatapan anak-anak lain.

~

Jam pelajaran pertama untuk hari ini adalah olahraga.

Aku malas sebenarnya untuk mengikutinya. Aku mengambil baju olahragaku dan hendak pergi ke kamar mandi untuk berganti pakaian. Kulihat Haden sudah berada di tengah lapangan basket. Haden sedang mendrible bola, ada lima orang di sana tapi hanya satu yang menjadi pusat perhatianku, Haden. Mataku terus tertuju pada Haden.

Aku segera masuk ke kamar mandi, mengganti seragamku dengan baju olahraga. Aku adalah tipe orang yang malas untuk mengeluarkan keringat, aku lebih suka membakar otakku dengan berbagai macam soal kimia dan Fisika.

Untunglah hari ini Pak Joko tidak masuk, jadi kami bisa bebas di jam pelajaran olahraga ini. Aku berjalan menuju tempat duduk di pinggir lapangan. Aku mencari tempat yang nyaman untuk melihat Haden yang sedang bermain di sana. Sebagian anak-anak ada yang kembali ke kelas, tau bahkan bermain bola sepak. Mataku terus terpaku ke arah Haden, sampai tiba-tiba getaran ponsel di sakuku mengagetkanku. Kulihat satu pesan masuk, nomor baru. Aku mengernyitkan alisku. Siapa ini. I'll be there.  Hanya itu bunyi pesannya, siapa yang iseng sekali mengirim pesan seperti ini.

"Senyum ..." aku mendongak mendengar suara itu, di hadapanku Haden sedang berjongkok sembari memegang ponselnya yang ia arahkan padaku. Aku tidak sadar, sejak kapan Haden di hadapanku. "Senyum kek, biar itu lesung pipi kelihatan." Haden berdiri dari jongkoknya ia berjalan ke arahku lalu duduk di sampingku. "Kenapa?"

"Apanya?" Aku mengulurkan sebotol air mineral pada Haden. Dia menerimanya dan segera meneguknya.

"Itu muka ditekuk." Jawaabnya setelah meneguk air yang aku berikan. Baru saja aku akan menjawab tiba-tiba bola melayang ke arahku dan mendarat tepat di wajahku. Ku pegang hidungku dan sesuatu mengalir dari lubang hidungku.

"Woy! Lo maen bola yang bener dong," kudengar Haden berteriak pada anak murid yang sedang bermain sepak bola. Aku tidak menghiraukan Haden aku segera berlari menuju kamar  mandi untuk membersihkan darah yang mengalir dari lubang hidungku. Kenapa aku lemah sekali, hanya terkena bola saja sampai berdarah seperti ini. Aku berdiri di depan wastafel membersihkan sisa darah yang masih keluar dari hidungku. Setelah yakin darah tidak keluar dari hidungku lagi, aku segera keluar dari kamar mandi untuk kembali menghampiri Haden. Tapi yang kulihat di sana anak-anak sedang berkerumun. Haden sedang menunjuk-nunjuk Ray, yang rupanya tadi menendang bola dan mengenai wajahku.

"Gue udah bilang gue nggak sengaja, ANJING!"

"Nggak punya mata elo, lo nggak lihat ada orang di situ!!" Kudengar ucapan Haden penuh emosi. Aku tidak suka melihat Haden yang tidak bisa mengontrol emosinya. Aku tidak berpikir panjang dan segera menengahi perkelahian itu tapi sayang satu pukulan melayang tepat di pipiku. Dan aku tidak tahu itu pukulan dari siapa.

~

Aku tidak meneruskan pelajaran, Haden dan Ray dipanggil ke ruang BK. Dan aku, sekarang duduk di UKS mengompres pipiku yang memar karena terkena pukulan tadi. Sakit, jujur aku tidak pernah memukul ataupun dipukul. Sejak kecil orangtuaku sangat protektif terhadapku. Saat aku hendak memilih sekolah dengan fasilitas Asrama, ibuku sempat tidak mengijinkannya. Ia takut jika aku tidak bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan di asrama. Tapi tekadku untuk terus mengikuti Haden lebih besar dari pada ketakutanku pada nasehat ibu.

"Gam?"

Aku menoleh ke arah suara, Haden melongok dari pintu. Aku meringis dan mengangguk pada Haden. Kulihat Haden berjalan masuk ke UKS. Dia menarik kursi lalu duduk di hadapanku. Dia mengambil kompres yang sedang aku pegang.

"Sini gue yang kompresin."

Aku hanya menurut saja, dan membiarkan pipiku di kompres oleh Haden. Sesekali aku meringis saat Haden terlalu keras menekan bagian yang cukup memar.

"Sakit?"

Aku hanya mengangguk. Tiba-tiba dia berhenti dan menunduk, membuatku penasaran.

"Kenapa, Den?"

"Gue nggak sengaja, gue mau mukul Ray, tapi elo yang kena."

"Boleh gantian?"

Haden mendongak dan menatap tidak percaya. "Elo mau nonjok gue?"

Aku mengangguk sembari menahan tawa.

"Elo tega?"

"Kenapa harus nggak tega?"

"Ya udah, nih." Haden memajukan pipinya dan menutup kedua matanya. Lihat, padahal dia itu jagoan. Bahkan dulu dia suka sekali tawuran tapi mau ditonjok saja takutnya, kelihatan. Aku tersenyum sendiri. Tanganku tiba-tiba terangkat hendak mengelus pipi Haden.

"Cepetan,"

aku segera tersadar saat mendengar Haden. Aku segera menoyor kepala Haden. Haden membuka matanya lalu mengelus kepalanya sebentar.

"Kok elo noyor gue?"

"Katanya preman, tapi takut ditonjok." Aku meledeknya. Kulihat Haden hanya tersenyum. Kami akhirnya tertawa bersama. Aku sekali menatap Haden yang sedang tertawa seperti ini. "Makasih, ya."

"Buat?"

"Berantem sama Ray. Hehe"

"Elo ngeledek gue?" Haden hendak memegang pipiku tapi aku segera menghindar. Tiba-tiba ponselku kembali bergetar. Aku mengambilnya, pesan yang sama dari nomor yang sama. Saat kubuka bunyi pesannya pun sama. I'll be there.

"Kenapa?" Aku menoleh ke arah Haden, apa aku perlu menceritakannya. Tapi aku yakin Haden akan khawatir. "Heh, elo kenapa?" Haden menyenggol sikutku.

"Kamu tahu nomor ini?" Aku menunjukkan pesan itu pada Haden. Haden terlihat memeriksa sebentar.

"Enggak, kenapa emangnya?"

"Nggak apa-apa. Kayaknya orang iseng, dari tadi kirim pesan kaya gini terus."

"Jangan-jangan pengagum rahasia elo."

Aku tersenyum kaku, aku tidak pernah mendekati siapapun sejak masuk SMA yang aku puja, yang aku suka cuma Haden. Nggak ada yang lain.

"Emangnya aku kamu Den, banyak yang antri." Ya, banyak sekali yang mengharapkan untuk menjadi pacar Haden tapi dari dulu Haden tidak pernah menghiraukan mereka. Saat aku tanya kenapa dia seperti itu, dia selalu mejawab "nggak minat, mereka itu makhluk paling ngerepotin." Atau mungkin Haden belum ingin membangun sebuah komitmen. Jadi bolehkah kalau aku berfikir, kalau suatu saat aku bisa merebut hati Haden? Aku tidak tahu, andai aku bisa membaca apa yang ada di hati Haden mungkin aku bisa tahu apa yang ada di hatinya.

"Lagian udah ada elo, ngapain gue mikirin punya cewek."

Tolong jangan bilang seperti itu, jujur kata-kata seperti itu membuatku melayang tinggi.

Jantungku benar-benar berdegup kencang mendengar ucapan Haden. Aku tidak ingin berharap, karena aku tahu pengharapan yang menyakitkan adalah mengharap cinta.

Tbc ....

Happy Reading Guys

Bab terkait

  • I Kissed You After The Sunset   4

    What is past is pastHaden Rafasya AnantaTerbawa perasaan, jaman sekarang semua anak muda pasti sudah pernah merasakannya. Istilah jaman sekarang baper Siapakah yang salah dalam kasus "terbawa perasaan" ini. Si pelaku atau si korban? Kadang mereka bilang si korban, karena terlalu perasa dan terlalu besar rasa. Dipandang sedikit lama dikira suka, diberi perhatian sedikit katanya memberi harapan. Si korban lalu menggunakan media sosial berharap si pelaku peka, peka terhadap perasaan si korban. Entah itu membuat kata-kata motivasi untuk diri sendiri atau lirik lagu yang menurut si korban ini sesuai dengan kisahnya. Jadi kalau ada istilah "pemberi harapan palsu" itu ciptaan si pelaku atau si korban? Mungkin harus koreksi terlebih dahulu. Bisa saja si pelaku memperhatikan si korban karena korban punya sesuatu yang mem

    Terakhir Diperbarui : 2021-04-23
  • I Kissed You After The Sunset   5

    Aku tidak menyangka jika aku akan terjebak di sini, kupikir saat Kin pergi semua masalahku sudah selesai dengannya. Tapi dia seperti piring terbang yang dilempar lalu kembali lagi pada sang pelempar. Kenapa harus kembali lagi, kalau hanya untuk mengacaukan keadaan saat ini."Den, kamu nggak perlu anggap Kin. Aku udah maafin dia. Kamu nggak perlu lakuin apa-apa lagi." Setelah percakapan itu aku pergi meninggalkan Haden yang masih terlihat kesal karena kejadian tadi. Aku tau mungkin Haden masih tidak suka, dia tahu bagaimana dulu aku hampir kehilangan diriku karena ulah Kin. Aku berjalan kembali ke kelas, aku tidak ingin membuat keributan di sekolah. Kudengar derap langkah yang kian mendekat ke arahku."Gam, tunggu."Aku hanya menggeleng, aku tidak mau membahas ini lagi. Percuma, tidak akan pernah selesai semuanya akan terungkit kembali. Dan rekaman kejadian waktu itu akan mengingatkanku pada rasa sakit hatiku."Tolong, Den.

    Terakhir Diperbarui : 2021-04-23
  • I Kissed You After The Sunset   7

    Aku tidak bisa tidur, aku masih memikirkan kejadian tadi sore. Aku bisa melihat ekspresi kekecewaan di wajah Kin tadi. Apa aku keterlaluan pada Kin, mungkin saja Kin sekarang sudah berubah. Apakah aku harus bersikap biasa saja pada Kin. Aku bingung sendiri. Kadang sifat plin-planku ini membuat aku kesal sendiri."Den." Aku membalikan tubuhku menghadap ke arah Haden. Ternyata dia belum tidur, sepertinya dia masih mengerjakan sesuatu."Kenapa, elo belom tidur?""Kamu ngerjain apa?"Dia berbalik menghadapku sekarang, ia angkat buku tulisnya dan ia perlihatkan padaku."Kimia yang kemarin,"Aku hanya mengangguk dan kembali menutup wajahku dengan selimut."Nggak bisa tidur?""Iya, nih."Haden sepertinya beranjak dari kursinya, aku bisa mendengar suara kursi yang bergeser."Nonton film aja gimana?"Aku kemb

    Terakhir Diperbarui : 2021-04-23
  • I Kissed You After The Sunset   8

    Semacam teman, tapi terlalu dekat. Saat perasaan cemburu ini datang aku kembali tersadar. Apa posisiku dalam hidupnya. Kamu terlalu jauh untuk aku genggam, tapi terlalu dekat untuk aku tatap. Kenapa waktu begitu menyiksa perasaanku.Katakan aku ini pengecut, tapi pengalaman yang mengajarkanku untuk bersembunyi di balik perasaanku ini. Jika tak ada kata trauma, mungkin aku sudah mengatakannya. Mengatakan kalau aku cemburu melihatmu dengan orang lain, selain aku. Kalau aku tidak suka, kau lebih mementingkan sepak bola daripada diriku. Kalau aku tidak suka saat harus pergi sendiri tanpamu.Langit di luar terlihat begitu gelap, awan hitam yang menggumpal seolah pertanda hujan akan turun. Aku masih santai menikmati espresso yang tersaji di hadapanku, ditemani sepotong ice cream cake strawberry. Aku harap hujan tidak turun sekarang, karena aku masih ingin menikmati waktu santaiku. Sejak pulang sekolah tadi ponselku sama sekali ti

    Terakhir Diperbarui : 2021-04-23
  • I Kissed You After The Sunset   9

    "Ayo,"Seperti biasa dia akan merangkulku tanpa rasa ragu. Menaruh kepalaku di bawah ketiaknya. Jujur aku suka bau harum ketiaknya saat pagi hari, dan ketika hal ini absen tidak ia lakukan maka aku akan merasa kekurangan. Sudah seperti candu bagiku."Elo ganti shampoo, Gam?" Haden berhenti berjalan dan melepaskan rangkulannya dari bahuku."Iya, ini kan shampoo kamu hehe ..." Aku tertawa garing di hadapannya, aku tahu ini pasti tidak lucu."Kenapa wanginya beda. Kayaknya kalo gue yang pake wanginya gak gini.""Masa?""Aneh cium bau shampoo sendiri di pake sama orang lain."Aku menepuk pundaknya, "eih, heran, tiap hari dipake sendirinya, juga." Aku kembali berjalan meninggalkannya yang masih berdiri dengan keheranannya.* * *Hari ini kami harus ke laboratorium, guru mata pelajaran biologi akan

    Terakhir Diperbarui : 2021-04-23
  • I Kissed You After The Sunset   10

    Auckland, Perlahan cahaya matahari itu masuk ke kamarku, merayap melalui celah korden jendelaku yang tidak begitu rapi menutupi jendela. Aku bisa merasakan pancarannya mengganggu tidur nyenyakku, kelopak mataku perlahan terbuka. Mengedip sejenak, menyesuaikan pandanganku setelah enam jam tertidur. Kepalaku masih sedikit pusing, kemarin malam aku harus mengerjakan tugas essayku untuk mengikuti tes masuk ke salah satu fakultas di universitas, di Auckland.Aku beranjak dari tempat tidurku, telapak kakiku bisa merasakan hawa dingin yang bersarang pada lantai kayu di kamarku. Perlahan inderaku mencium aroma antiseptik pembersih lantai yang khas, begitu menusuk penciumanku. Aku duduk di tepian ranjang, sekejap, perasaan itu kembali menghantuiku. Rasa sakit, marah, kecewa, takut dan cemas. Hingga membuat orang di sekitarku ikut merasakannya pula.Aku sedang berjuang untuk melawannya, melupakannya. Sama sep

    Terakhir Diperbarui : 2021-04-23
  • I Kissed You After The Sunset   11

    Aku duduk menghadap layar laptopku, satu e-mail baru saja ku terima dari kak Ferdinand, selama ini dia selalu mengirimiku kabar tentang Haden, tanpa ku minta sekalipun. Aku hanya bersyukur, aku masih bisa tahu bagaimana keadaannya sekarang. Empat tahun, empat tahun kami tidak saling bertemu, tidak saling bertukar kabar. Entahlah, apa dia masih mengingatku, aku tidak ingin berharap, berharap pada manusia pada ujungnya hanya akan memberi luka. Hari ini kak Ferdinand mengirimiku sebuah foto, foto Haden yang sedang tertawa bersama teman-temannya. Melihat foto itu membuat rasa rinduku semakin membuncah.Apa kabar? Apakah kamu masih tetap sama dengan Haden yang dulu? Semoga kamu tidak khawatir, aku baik-baik saja di sini, meskipun sendiri tapi

    Terakhir Diperbarui : 2021-04-23
  • I Kissed You After The Sunset   12

    Malam semakin larut dan aku masih tetap terjaga, menatap langit-langit kamarku. Tak ada yang istimewa dari sekedar langit-langit kamar, hanya saja mataku tak mau terlepas untuk terus memandanginya. Pikiranku melayang, memikirkan surat yang dikirim oleh Haden. Sudah tiga bulan berlalu, tapi aku belum juga membalas surat dari Haden. Aku hanya terlalu bingung, dari mana aku harus mengawalinya.Untuk kembali aku belum bisa, aku masih terlalu sibuk dengan segala urusan pendidikanku di sini, atau mungkin itu hanya alasanku saja untuk menunda kepulanganku. Bukan karena aku tidak ingin menenumi Haden, bagaimana bisa aku tidak ingin bertemu dengannya. Sementara rasa bahagiaku adalah melihat bayanganku di bola matanya. Melihat senyum terukir di wajahnya karena diriku.Apa yang aku rasakan saat ini bukanlah kesedihan, atau pun kebahagiaan. Aku hanya, hanya merasa kosong.Aku terlalu takut untuk menemui Haden, bibirku mungkin bisa mengatakan kalau ak

    Terakhir Diperbarui : 2021-04-23

Bab terbaru

  • I Kissed You After The Sunset   15

    Layaknya pohon beringin, dia kokoh dan tegap berdiri. Meski terkadang angin kencang datang mengguncang kau tetap mencoba untuk menahannya.Aku baik-baik saja sekarang, berguncanglah. Tak perlu lagi kau berpura-pura dan menahan guncangan itu.Kau ulurkan tanganmu bak ranting pohon yang rela meski tahu daunnya akan terjatuh saat melindungiku dari terik sinar matahari atau derasnya hujan yang turun. Kau tersenyum seolah mendapat kekuatan dariku, "aku baik-baik saja, aku bersyukur punya teman sepertimu yang selalu ada di sampingku." Itu katamu saat kau mencoba melindungiku.Disaat semuanya hancur kau masih tetap mencoba melindungiku dengan dahan rimbunmu. Maaf, dulu aku hanya jadi pohon kecil peneduh di hidupmu. Bukan beringin yang mampu sejajar denganmu, kokoh, tegap berdiri. Mampu menahan guncangan angin yang begitu kencang."Jangan menghindar,"Dia membuka suara, aku yang sedang menatap lantai k

  • I Kissed You After The Sunset   14

    Layaknya pohon beringin, dia kokoh dan tegap berdiri. Meski terkadang angin kencang datang mengguncang kau tetap mencoba untuk menahannya.Aku baik-baik saja sekarang, berguncanglah. Tak perlu lagi kau berpura-pura dan menahan guncangan itu.Kau ulurkan tanganmu bak ranting pohon yang rela meski tahu daunnya akan terjatuh saat melindungiku dari terik sinar matahari atau derasnya hujan yang turun. Kau tersenyum seolah mendapat kekuatan dariku, "aku baik-baik saja, aku bersyukur punya teman sepertimu yang selalu ada di sampingku." Itu katamu saat kau mencoba melindungiku.Disaat semuanya hancur kau masih tetap mencoba melindungiku dengan dahan rimbunmu. Maaf, dulu aku hanya jadi pohon kecil peneduh di hidupmu. Bukan beringin yang mampu sejajar denganmu, kokoh, tegap berdiri. Mampu menahan guncangan angin yang begitu kencang."Jangan menghindar,"Dia membuka suara, aku yang sedang menatap lantai k

  • I Kissed You After The Sunset   13

    Kebahagiaanku adalah menatap bayanganku di matanya dan Tuhan mengabulkannya di hari ini. Aku tidak pernah menyangka jika perasaan itu, perasaan di hari saat pertama kali dia mengulurkan tangannya untukku, merangkulku karena rundungan mereka kembali ku rasakan. Detak jantungku yang seolah berlomba, seperti akan loncat dari tempatnya. Mataku, mataku kini bisa menatapnya dengan begitu jelas. Ini bukanlah sebuah ilusi, kan?Aku tidak sedang bermimpi? Kakiku melangkah tanpa ragu ke arahnya, jemariku seolah berlomba untuk menyentuh pipinya. Mataku lekat menatap wajahnya. Rambut hitam legam itu kini tak menutupi dahinya lagi, kesan cowok tengil kini sudah tidak ada lagi di wajahnya. Dia, sudah menjadi seorang pria tampan.

  • I Kissed You After The Sunset   12

    Malam semakin larut dan aku masih tetap terjaga, menatap langit-langit kamarku. Tak ada yang istimewa dari sekedar langit-langit kamar, hanya saja mataku tak mau terlepas untuk terus memandanginya. Pikiranku melayang, memikirkan surat yang dikirim oleh Haden. Sudah tiga bulan berlalu, tapi aku belum juga membalas surat dari Haden. Aku hanya terlalu bingung, dari mana aku harus mengawalinya.Untuk kembali aku belum bisa, aku masih terlalu sibuk dengan segala urusan pendidikanku di sini, atau mungkin itu hanya alasanku saja untuk menunda kepulanganku. Bukan karena aku tidak ingin menenumi Haden, bagaimana bisa aku tidak ingin bertemu dengannya. Sementara rasa bahagiaku adalah melihat bayanganku di bola matanya. Melihat senyum terukir di wajahnya karena diriku.Apa yang aku rasakan saat ini bukanlah kesedihan, atau pun kebahagiaan. Aku hanya, hanya merasa kosong.Aku terlalu takut untuk menemui Haden, bibirku mungkin bisa mengatakan kalau ak

  • I Kissed You After The Sunset   11

    Aku duduk menghadap layar laptopku, satu e-mail baru saja ku terima dari kak Ferdinand, selama ini dia selalu mengirimiku kabar tentang Haden, tanpa ku minta sekalipun. Aku hanya bersyukur, aku masih bisa tahu bagaimana keadaannya sekarang. Empat tahun, empat tahun kami tidak saling bertemu, tidak saling bertukar kabar. Entahlah, apa dia masih mengingatku, aku tidak ingin berharap, berharap pada manusia pada ujungnya hanya akan memberi luka. Hari ini kak Ferdinand mengirimiku sebuah foto, foto Haden yang sedang tertawa bersama teman-temannya. Melihat foto itu membuat rasa rinduku semakin membuncah.Apa kabar? Apakah kamu masih tetap sama dengan Haden yang dulu? Semoga kamu tidak khawatir, aku baik-baik saja di sini, meskipun sendiri tapi

  • I Kissed You After The Sunset   10

    Auckland, Perlahan cahaya matahari itu masuk ke kamarku, merayap melalui celah korden jendelaku yang tidak begitu rapi menutupi jendela. Aku bisa merasakan pancarannya mengganggu tidur nyenyakku, kelopak mataku perlahan terbuka. Mengedip sejenak, menyesuaikan pandanganku setelah enam jam tertidur. Kepalaku masih sedikit pusing, kemarin malam aku harus mengerjakan tugas essayku untuk mengikuti tes masuk ke salah satu fakultas di universitas, di Auckland.Aku beranjak dari tempat tidurku, telapak kakiku bisa merasakan hawa dingin yang bersarang pada lantai kayu di kamarku. Perlahan inderaku mencium aroma antiseptik pembersih lantai yang khas, begitu menusuk penciumanku. Aku duduk di tepian ranjang, sekejap, perasaan itu kembali menghantuiku. Rasa sakit, marah, kecewa, takut dan cemas. Hingga membuat orang di sekitarku ikut merasakannya pula.Aku sedang berjuang untuk melawannya, melupakannya. Sama sep

  • I Kissed You After The Sunset   9

    "Ayo,"Seperti biasa dia akan merangkulku tanpa rasa ragu. Menaruh kepalaku di bawah ketiaknya. Jujur aku suka bau harum ketiaknya saat pagi hari, dan ketika hal ini absen tidak ia lakukan maka aku akan merasa kekurangan. Sudah seperti candu bagiku."Elo ganti shampoo, Gam?" Haden berhenti berjalan dan melepaskan rangkulannya dari bahuku."Iya, ini kan shampoo kamu hehe ..." Aku tertawa garing di hadapannya, aku tahu ini pasti tidak lucu."Kenapa wanginya beda. Kayaknya kalo gue yang pake wanginya gak gini.""Masa?""Aneh cium bau shampoo sendiri di pake sama orang lain."Aku menepuk pundaknya, "eih, heran, tiap hari dipake sendirinya, juga." Aku kembali berjalan meninggalkannya yang masih berdiri dengan keheranannya.* * *Hari ini kami harus ke laboratorium, guru mata pelajaran biologi akan

  • I Kissed You After The Sunset   8

    Semacam teman, tapi terlalu dekat. Saat perasaan cemburu ini datang aku kembali tersadar. Apa posisiku dalam hidupnya. Kamu terlalu jauh untuk aku genggam, tapi terlalu dekat untuk aku tatap. Kenapa waktu begitu menyiksa perasaanku.Katakan aku ini pengecut, tapi pengalaman yang mengajarkanku untuk bersembunyi di balik perasaanku ini. Jika tak ada kata trauma, mungkin aku sudah mengatakannya. Mengatakan kalau aku cemburu melihatmu dengan orang lain, selain aku. Kalau aku tidak suka, kau lebih mementingkan sepak bola daripada diriku. Kalau aku tidak suka saat harus pergi sendiri tanpamu.Langit di luar terlihat begitu gelap, awan hitam yang menggumpal seolah pertanda hujan akan turun. Aku masih santai menikmati espresso yang tersaji di hadapanku, ditemani sepotong ice cream cake strawberry. Aku harap hujan tidak turun sekarang, karena aku masih ingin menikmati waktu santaiku. Sejak pulang sekolah tadi ponselku sama sekali ti

  • I Kissed You After The Sunset   7

    Aku tidak bisa tidur, aku masih memikirkan kejadian tadi sore. Aku bisa melihat ekspresi kekecewaan di wajah Kin tadi. Apa aku keterlaluan pada Kin, mungkin saja Kin sekarang sudah berubah. Apakah aku harus bersikap biasa saja pada Kin. Aku bingung sendiri. Kadang sifat plin-planku ini membuat aku kesal sendiri."Den." Aku membalikan tubuhku menghadap ke arah Haden. Ternyata dia belum tidur, sepertinya dia masih mengerjakan sesuatu."Kenapa, elo belom tidur?""Kamu ngerjain apa?"Dia berbalik menghadapku sekarang, ia angkat buku tulisnya dan ia perlihatkan padaku."Kimia yang kemarin,"Aku hanya mengangguk dan kembali menutup wajahku dengan selimut."Nggak bisa tidur?""Iya, nih."Haden sepertinya beranjak dari kursinya, aku bisa mendengar suara kursi yang bergeser."Nonton film aja gimana?"Aku kemb

Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status