E-tiket yang dipesan Damar sudah di tangan Arga. Pria itu jadi tidak sabar menunggu malam tiba. Dia sudah membayangkan keseruannya dengan Lalita.Senyum di wajah dingin itu bahkan terus-terusan merekah. Sungguh satu hal aneh, tetapi ajaib yang kini terjadi pada Arga.“Arga, kenapa kamu gila begini.” Dia bermonolog dengan dirinya sendiri.Saat jam pulang akan tiba, Lalita memasuki ruangan Arga. “Setelah pekerjaanmu selesai, duduklah. Ada yang ingin aku sampaikan.”Meski heran, Lalita menurut. Wanita itu hanya menebak, paling atasannya itu akan memberinya pekerjaan tambahan. “Ada yang perlu saya kerjakan lagi, Pak?”Usai pekerjaannya merapikan ruangan Arga rampung, gadis itu segera melapor. “Duduklah.” Arga bertitah dengan lembut, lalu satu tangannya terjulur memberikan sebuah kotak. “Pakai ini kemudian bersiaplah karena aku akan mengajak kamu menonton.” Kembali Lalita dibuat melongo dengan ucapan Arga, Menonton? Sesaat kemudian wanita itu menatap Arga dan terlontarlah pertanyaan, “
“Siapa Mario?”Wanita itu menghentikan makannya, menatap sang suami dengan rasa takut, “Teman saya sesama OB, Pak." Arga melemparkan tatapan tajamnya. “Siapa yang menyuruhmu menyimpan kontak pria lain!” Entah mengapa dada pria itu bergemuruh, rasa bahagia yang dari kemarin dia rasakan hilang begitu saja.Tau Arga marah, Lalita semakin ketakutan tapi dia juga heran.Menurutnya menyimpan nomor rekan kerja bukanlah sebuah kesalahan, tapi kenapa Arga begitu marah??"Ingat perjanjian kita Lalita, kamu tidak boleh memiliki lelaki lain selama pernikahan ini masih berlangsung." Kembali pria itu mengingatkan sang istri akan perjanjian mereka.“....” Bukan tidak paham atau ingat tapi…. Perjanjian mereka hanya melarang Lalita untuk memiliki pria lain selain Arga, bukan menyimpan nomor atau berteman dengan rekan kerja."Kenapa diam?” Tanya Arga yang membuyarkan lamunan Lalita.Tak ingin berdebat wanita itu mengangguk paham, “Saya faham Pak.” Makan siang yang seharusnya menenangkan dan mengenya
"Tidak melanggar, hanya saja...." Seketika raut wajah Arga berubah. Tatapannya mengarah ke Lalita, "Lalita pasti tau jawabannya.”Mario menatap ke arah Lalita dengan sebelah alisnya yang naik. Sementara itu, Lalita bernapas lega, sebab dia pikir Arga akan membuka status mereka.“Eh, itu–”"Selesaikan makanmu!” Sebelum Lalita sempat menjelaskan, Arga bangkit dari tempat duduknya. Sembari memperbaiki jasnya dia berkata, “Segera kembali ke kantor, ruanganku harus sudah bersih ketika aku pulang nanti!"Arga melangkah pergi, sedangkan Lalita menghela nafas dalam-dalam, dan Mario melongo menatap sahabatnya."Dia begitu mendominasi," cicit Mario.Lalita mengajak Mario untuk bergegas meski waktu istirahat masih cukup lama.Di sisi lain, CEO itu sudah berada di ruangannya. Dengan suasana hati yang buruk, Arga meminta Damar membatalkan meeting tadi.Dia tak peduli berapa banyak kerugian yang mungkin harus dia tanggung. Untuk saat ini, menurutnya yang terpenting adalah kemarahan dan ketidaknyaman
Buru-buru Lalita menyembunyikan tangannya, tapi Arga segera menarik tangan wanitanya. “Argh!” Teriakan Lalita karena rasa perih yang menjalar membuat emosi Arga meradang. Pria itu meneliti tangan wanitanya dengan saksama, sebelum bereaksi meluapkan kemarahannya pada pelayan di dapur. “Apa saja yang kalian lakukan di dapur hingga membuat istriku terluka?!!” Teriakan itu, memancing keingintahuan Kakek yang baru akan bergabung ke meja makan. Melihat dua poin–kakek dan kemarahan Arga yang belum pernah dilihatnya, Lalita jadi menyimpulkan jika sikap suaminya kali ini adalah bagian dari peran yang mereka lakoni di depan kakek. Semua pelayan dan koki menunduk, mereka meminta maaf. “Tidak apa-apa, ini bukan salah kalian, tetapi aku yang ceroboh,” ungkap Lalita pada mereka. Namun, berbeda dengan Arga yang enggan menggubris permintaan maaf itu. “Aku tidak menoleransi kesalahan kalian! Mencelakai istriku, berarti kalian siap untuk dipecat!” “Mas, jangan salahkan mereka.” Lalita menggun
Pagi telah menyapa, ketika Lalita membuka mata, terlihat Arga sudah siap dengan pakaian kerjanya. “Astaga, aku kesiangan!” Dia pun buru-buru bangun.Akan tetapi, sebuah kalimat tanya dari Arga menghentikan langkahnya. “Mau ke mana?” Perlahan, Lalita berbalik, “Mau ke dapur untuk menyiapkan sarapan, Pak,” jawabnya polos.“Tidak perlu,” sahutnya. “Mulai hari ini dan seterusnya, kamu tidak aku izinkan ke dapur lagi.”Mata Lalita mengerjap, kaget. “Kalau begitu saya akan bersiap, Pak.” Lalita memutar langkah, menuju walk in closet. Namun, cekalan lembut di tangannya membuat dia lagi-lagi menghentikan langkah.“Istirahat saja, hari ini tidak usah datang ke kantor.”“Tapi Pak…..” “Apa kamu ingin lukamu itu membusuk, lalu tanganmu diamputasi?!” ancam Arga.Pria itu tahu, kalimatnya terlalu berlebihan. Akan tetapi, dia pun bingung harus mengemukakan alasan apa pada sang istri.“Diamputasi??” Nyali wanita itu seketika menciut mendengarnya.Menahan tawa, hingga membuat sudut bibirnya bergeta
Sementara di luar Arga terus memintanya cepat, di dalam kamar mandi Lalita malu sendiri. Bagaimana bisa dia begitu ceroboh hanya memakai handuk di dalam kamar yang jelas bukan kamar pribadinya?!“Sekarang aku harus bagaimana?!” ujarnya dengan ekspresi ingin menangis. Puas merutuki kebodohannya, Lalita yang sudah berpakaian lengkap keluar dengan muka memerah. Dia begitu malu bahkan tak berani menatap Arga yang sedari tadi menunggu di depan kamar mandi.“Kenapa lama sekali.” Protes Arga yang langsung masuk ke dalam dan mengunci pintu.Lalita pikir, Arga hanya menjalankan ritual seperti biasa–mandi sepulang kerja. Dia tidak tahu, jika pria itu harus mandi keramas guna menenangkan hasratnya yang mengganas.Melihat wanita dengan pakaian minim, dan bahkan nyaris tak berbusana bukanlah hal baru sebetulnya untuk Arga. Anehnya, hasrat yang biasanya tak pernah terpancing, justru naik dengan begitu cepat hanya karena melihat Lalita memakai handuk.Menghabiskan 30 menit merendam diri di bathtub,
Di pagi harinya, Lalita yang membuka mata segera tersentak kaget. Dia nampak heran. Perasaan kemarin dirinya masih berada di mobil, tapi pagi ini sudah berada di ranjang empuk milik suaminya.“Aku tertidur begitu lama?” ujar Lalita. “Apa semalam dia yang memindahkanku? Tapi, kenapa aku tidak sadar?” gumamnya lagi, masih keheranan.Suara bariton Arga kemudian menyentak Lalita. “Bersiaplah. Hari sudah siang,” ujar Arga. Saat wanita itu turun dari tempat tidur, Arga kembali berujar, “Mulai saat ini tidak perlu menyiapkan makanan untukku, biar pelayan saja.” Ucapan Arga barusan membuat Lalita mematung, apa suaminya sudah berubah tidak ingin menindasnya lagi?“Sudah cepat lah bersiap.” Kembali pria itu memerintahkan istrinya agar bersiap.“Baik Pak.” Lalita bergegas pergi ke kamar mandi.**Pagi itu, Lalita yang habis membersihkan ruangan CEO ijin pamit kembali ke ruang OB, Arga yang kebetulan akan ada tamu mengijinkan sang wanita kembali.Saat bersamaan di lorong yang biasanya Lalita lewa
“Tidak jadi!” Setelah berpikir beberapa detik, Arga mengurungkan pertanyaannya. “Turunlah.”“Baik Pak.” Wanita itu pun turun.Seperti biasa, selesai mengerjakan pekerjaannya Lalita duduk bersantai di ruang OB. Di sela menikmati santainya Lalita terus melihat ponsel miliknya. Dia berharap Sang CEO memanggil, tetapi hingga waktu berjalan cukup lama, tak ada satu pun panggilan yang masuk.Wanita itu terlihat tak tenang, pikirannya semakin gusar.Meski ini semua adalah permintaannya, tapi entah mengapa Lalita merasa ada yang hilang. Tak bisa dipungkiri dia sudah terbiasa akan rasa peduli suaminya.“Lalita, bukankah kamu seharusnya senang dengan perubahannya???” Wanita itu bermonolog dengan dirinya sendiri.Mario yang baru selesai mengerjakan pekerjaannya, masuk ke dalam ruangan, pria itu meletakkan peralatan kerjanya kemudian menghampiri Lalita, “Ta.”Lalita segera menoleh kemudian melemparkan senyuman, “Sudah selesai?” “Lelah sekali.” Sambil mengelap keringat yang memenuhi dahinya.Saa