Bulan?Nama bunga ini sangat indah.Warna bunga ini memang mirip rembulan di malam hari.Pamela tidak pernah mendengar jenis bunga itu, mungkin sangat langka.Pamela melamun sesaat saat melihat bebungaan itu. Kemudian, Pamela bertanya dengan heran, "Kenapa Tuan Marko memupuk bunga sendiri? Harusnya ada tukang kebun, 'kan?"Marko menjawab, "Ini bunga kesukaan istriku. Bunga ini sulit dirawat karena memiliki persyaratan tertentu terhadap suhu, kelembapan dan kondisi tanah. Aku nggak memercayakan orang lain untuk merawatnya."Istri?Hmph! Istri Marko sekarang adalah ibunya Kalana!Pria bajingan ini telah mengkhianati istri pertama, tetapi begitu menyayangi bunga kesukaan istri sekarang, sungguh ironis!Jangan-jangan Marko berpikir hal itu akan membuatnya terlihat setia?Munafik!Teringat pada tuduhan, pengkhianatan dan pengkhianatan yang mungkin telah dialami oleh Ibu di rumah Keluarga Yanuar, Pamela kesulitan untuk mengendalikan perasaan.Terlepas dari yang lain, Marko adalah pria yang p
Kalana berkata, "Ibu nggak enak badan, Ibu mau Ayah naik dan tengok."Marko mengernyit. "Kalau nggak enak badan, suruh orang bawa dia ke rumah sakit. Ayah bukan dokter."Kalana tercengang. Jawaban Ayah sama persis dengan jawaban Agam waktu itu.Inikah sikap seorang pria terhadap wanita yang tidak dicintainya?Sejak menikah, Ibu telah mengerahkan segala upaya untuk menyenangkan hati Ayah beserta mertua. Akan tetapi, Ibu tidak pernah mendapatkan penghormatan dan rasa cinta dari Ayah!Selama bertahun-tahun ini, Ibu memiliki kedudukan stabil di rumah Keluarga Yanuar berkat melahirkan dia dan Justin.Kalana benar-benar tidak memahami isi pikiran para pria. Selama bertahun-tahun, Ayah selalu memikirkan mantan istri yang tidak tahu malu dan anak haram itu, tetapi mengabaikan cinta dari Ibu.Sementara itu, Agam menyukai Pamela si gadis desa yang licik, tetapi mengabaikan cinta darinya.Kalana merasa enggan sehingga ingin membantu ibunya. Kalana berkata, "Coba Ayah tengok Ibu. Katanya Kakek dan
Justin sangat marah, tetapi tidak dapat membantah.Pamela kebetulan duduk di tempat Justin mengerjakan soal latihan, lalu membacanya. "Tuan Muda Justin belum selesai kerjakan soal latihan, bahkan suruh orang bantu kerjakan, tapi malah sempat ikut campur dalam urusan orang lain?"Justin merasa gelisah dan malu saat Pamela membaca buku soal latihannya. Justin berseru dengan kesal, "Letakkan, jangan sentuh soal latihanku! Jangan mengatur-ngatur aku!"Pamela meletakkan soal latihan Justin dan mengetukkan jari ke meja. "Tentu saja, aku hanya orang luar, apa hakku untuk mengatur-ngatur kamu?"Justin menyeringai sombong. "Bagus kalau kamu tahu!"Pamela berkata dengan santai, "Tapi, aku bisa sampaikan apa yang kulihat pada Pak Jason, biar dia saja yang mengaturmu."Justin menjadi panik. "Kamu!"Pamela tersenyum. "Kenapa? Takut aku lapor ke Pak Jason kalau kamu suruh orang kerjakan soal latihanmu?"Justin memelototi Pamela dengan jengkel. "Ya! Masih pura-pura tanya!"Senyuman Pamela memudar dan
Justin baru ingat bahwa rumus yang pernah diajarkan Pamela di perusahaan Jason waktu itu sepertinya bisa digunakan untuk mengerjakan soal tersebut!Justin tercerahkan dan mengerti bagaimana cara mengerjakan soal. Akan tetapi, Justin menggerutu dengan sombong, "Hmph! Nggak butuh kamu ajarkan!"Pamela tidak marah. Pamela meletakkan pensil dan berkata, "Aku ke toilet dulu. Kalau kamu masih nggak bisa kerjakan saat aku keluar, aku akan menertawakanmu, Tuan Muda Justin!"Pamela berjalan melewati Justin dan masuk ke toilet di kamar, lalu menutup pintu.Justin menatap sosok belakang Pamela sambil mendengus. Kemudian, Justin membaca soal latihan dengan cermat dan mencoba mengerjakannya berdasarkan rumus itu.Tok tok!Pintu kamar Justin tiba-tiba diketuk dari luar. Justin yang belum selesai mengerjakan soal latihan merasa gelisah karena berpikir Jason sudah pulang untuk mengecek!"Justin, apa kamu di dalam?"Justin menghela napas lega saat mendengar suara ibunya."Ibu, masuklah! Aku sedang kerj
Justin mengernyit, jengkel pada Ibu dan Kalana yang memprovokasinya untuk mewarisi perusahaan keluarga. Justin sama sekali tidak berminat terhadap perusahaan keluarga!Justin juga jengkel pada Ibu yang berpikir negatif terhadap Jason. Jason sangat tegas pada Justin sehingga Justin takut pada Jason, tetapi Justin tidak pernah meragukan kasih sayang Jason padanya.Seperti yang Ibu katakan, mereka adalah saudara tiri. Namun, Jason-lah yang membesarkan Justin dari kecil. Jason-lah yang mengajari Justin berbicara dan menulis.Jason tidak memanjakan Justin seperti Kalana, tetapi Jason yang tegas tidak pernah menganiaya Justin.Jason juga tidak mendukung Justin untuk bermain game, bahkan menegur Justin karena ugal-ugalan saat Justin meminta untuk dibelikan gadget. Namun, tak lama kemudian, Calvin akan membelikan gadget untuk Justin.Justin tahu Calvin tidak akan berani membelikan gadget padanya tanpa perintah dari Jason!Dalam beberapa tahun terakhir, Jason mulai mengajarkan ilmu manajemen pa
Kelly berpikir sejenak, lalu berkata pada Pamela, "Bu, tolong ikut aku sebentar. Ada yang ingin kubicarakan denganmu."Pamela tersenyum. "Baik."Mendengar Pamela tidak membantah status sebagai guru privat dan setuju untuk berbicara dengan Kelly, Justin mendongakkan kepala dengan kaget. "Ibu, sebenarnya dia ...."Pamela sekali lagi menyelang perkataan Justin, "Tuan Muda Justin, kerjakan soal dengan sungguh-sungguh. Nanti aku akan periksa."Justin menelan kembali perkataannya dan mengernyit karena bingung.Melihat Pamela pergi berbincang dengan ibunya, Justin menggaruk kepala karena tidak mengerti mengapa Pamela berpura-pura menjadi guru privat....Pamela mengikuti Kelly ke kamar tamu yang kosong.Setelah menutup pintu, Kelly mengamati Pamela dari atas ke bawah, lalu bertanya, "Siapa nama Ibu?"Pamela tersenyum. "Pamela."Kelly melipat tangan di depan dada dengan sombong seraya bertanya, "Bu Pamela lulus dari universitas mana? Perkenalkan dirimu."Pamela berterus terang, "Aku lulusan Un
"Aku bilang ...." Saat ini, tatapan Pamela bagaikan setan perenggut nyawa dan senyumannya menyeramkan. "Aku menginginkan nyawamu!"Pamela menegaskan nadanya dan tiba-tiba mengulurkan tangan ke arah Kelly!Kelly mundur karena mengira Pamela ingin mencekiknya dan terhuyung sehingga nyaris terjatuh. Untungnya, Kelly dipegangi."Apa Nyonya Kelly baik-baik saja?" tanya Pamela dengan penuh perhatian seraya memegangi Kelly.Kelly tersadarkan dan menatap Pamela dengan kaget. Saat ini, senyuman Pamela tampak ramah dan ceria, sama sekali tidak menyeramkan.Aneh! Kelly bahkan mengira kejadian barusan hanyalah ilusi. Kelly terengah-engah karena ketakutan. "Kamu ... kamu mau apa tadi?"Pamela tertawa terbahak-bahak. Beberapa saat kemudian, Pamela berkata, "Nyonya Kelly, maafkan aku terlalu girang karena Nyonya Kelly tiba-tiba memberiku bayaran 10 kali lipat. Saking girang, aku jadi ingin bercanda dengan Nyonya Kelly!"Kelly merasa tersinggung oleh Pamela yang tidak menghormatinya. Setelah berdiri s
Kelly berpura-pura sakit dan meminta Kalana mencarikan Marko. Kalana tidak mengecewakan Kelly dan berhasil.Marko memang datang, tetapi begitu masuk, Marko menanyakan apa gejala Kelly dan ingin memanggil mobil ambulans.Kelly hanya berpura-pura sakit. Gawat jika mobil ambulans datang dan tidak dapat mendiagnosis apa penyakitnya.Jadi, Kelly mengatakan dirinya hanya pusing.Kemudian, Marko duduk di samping ranjang dan membaca alkitab tebal dengan penuh konsentrasi.Terkadang, Kelly curiga apakah Marko ingin menjadi petapa. Marko lebih memiliki untuk membaca buku daripada melihat istrinya yang cantik!Kelly pun berhenti berpura-pura. Kelly mengatakan dirinya sudah merasa lebih baik dan ingin pergi ke luar untuk menghirup udara segar.Marko tidak pernah memberi perhatian pada Kelly.Pernikahan mereka sama seperti kehidupan wanita janda!Akan tetapi, Kelly tidak dapat menceritakan kehampaan dan kebutuhan fisiologisnya pada Kalana. Kelly menggelengkan kepala dengan sedih. "Nggak ada apa-apa
Ketakutan masih melanda Phillip ketika dia membayangkan situasi saat itu, Dian meratakan alis pria itu, "Aku tahu kamu pasti akan datang untuk menyelamatkanku, sama seperti sebelumnya.""Aku mencintaimu, Phillip."Sebelumnya Dian sudah menyatakan cintanya, tapi dia mengatakannya dalam keadaan tidak sadar. Sekarang dia sudah sadar, pikirannya jernih, bahkan sambil tersenyum tipis. Ucapannya membuat Phillip tersipu sejenak."Aku juga mencintaimu," balas Phillip.Dian hanya dirawat sebentar di rumah sakit, tak lama kemudian dia kembali ke Kediaman Sanders.Seperti yang mereka katakan, kondisi Dian tidak serius, dirawat di rumah sakit hanya akan memperlambat pemulihannya.Lebih baik dia dirawat di rumah.Phillip tidak pernah menyinggung pekerjaan Dian. Sebaliknya, Dian langsung pergi ke Surat Kabar Sino untuk mengundurkan diri.Kondisinya saat ini tidak sesuai untuk menyelidiki kasus terkait, lagi pula Phillip langsung menyerahkan barang bukti ke kantor polisi, pihak kepolisian yang akan m
"Phillip, aku menyukaimu, aku mencintaimu."Phillip memeluk Dian dengan perasaan sakit yang tiada tara, "Ini salahku, seharusnya aku lebih cepat.""Aku nggak pernah menyalahkanmu. Aku hanya ingin melihatmu tersenyum. Selama kamu bersedia membiarkanku tetap di sisimu, aku nggak meminta pengakuanmu.""Aku tahu keluargamu menyulitkanmu, aku bisa melihatnya ...."Para pengawal yang ikut menerobos masuk merasa canggung ketika melihat CEO mereka menangis.Namun, yang terpenting saat ini adalah membawa Dian ke rumah sakit untuk pemeriksaan fisik. Setelah lama terikat, aliran darahnya surut, menyebabkan mati rasa yang akan menjadi masalah serius jika tidak bisa pulih.Akhirnya, para pengawal mendorong bos mereka yang sangat pemberani untuk menasihati Phillip. Phillip menundukkan kepala, menyeka air matanya, dia menggendong Dian dengan mudah, tidak membiarkan orang lain turun tangan. Gerakannya sangat lembut, seolah-olah sedang menggendong tuan putri.Untungnya, hasil pemeriksaan menyatakan kon
Setelah itu, Lesti pergi tanpa menoleh, sama sekali tidak menunjukkan keraguan.Masa depan dirinya dan Fabian ada dalam kandungannya, tidak mungkin dia menyerahkan semua hartanya pada Ririn.Karena putrinya tidak menurut, maka dia akan mengandalkan putra dalam kandungannya.Bukankah Ririn senang menemui Juko? Kalau begitu, biarkan saja mereka hidup bersama.Lagi pula dia sudah menghabiskan banyak usaha untuk membesarkan putrinya itu.Ririn menghabiskan paruh pertama hidupnya bersama Lesti, paruh kedua hidupnya sudah seharusnya menjadi giliran Juko.Satu-satunya hal yang membuat Phillip bersyukur adalah Juko tidak mempermainkannya, tampaknya dia masih peduli pada putrinya.Phillip bersama para pengawalnya berhasil menemukan rumah bobrok itu.Pelaku cukup waspada, mereka memilih rumah bobrok di pinggiran desa.Setelah pintu didobrak, Phillip menemukan Dian terbaring sendirian di lantai, tanpa ada yang menghiraukannya.Penjahat yang berjaga menunggu instruksi Juko, tanpa perintah darinya,
Lesti meneteskan air mata, duduk bersila dan terdiam, tidak ingin membela diri.Ririn satu-satunya orang yang masih berusaha memberikan penjelasan, tapi apa pun yang dia katakan, Fabian tidak lagi memercayainya.Hal seperti ini sudah terjadi berkali-kali dan setiap kali Fabian selalu memilih memercayai Lesti dan putrinya.Namun kini dia menyadari bahwa dia sepenuhnya salah.Dian dulunya sangat perhatian dan berperilaku baik, tetapi setelah Lesti dan Ririn memasuki hidup mereka, dia merasa putrinya mulai bermulut tajam dan selalu bertingkah di hadapannya.Sekarang dia baru menyadari, semua itu Dian lakukan untuk mendapatkan lebih banyak perhatian darinya atau setidaknya hanya ingin dia memperlakukan dirinya dan Ririn secara adil.Hanya saja dia tidak pernah menyadarinya. Sebaliknya, dia merasa Dian harus mengalah pada Ririn karena lebih tua."Karena kamu begitu menyukai ayah kandungmu, mulai sekarang kamu bisa hidup bersamanya.""Jangan pernah datang lagi ke rumah ini. Sedangkan ibumu,
Ririn buru-buru bertanya, "Ibu tertipu?""Kenapa Ibu menghubungi Juko?""Sekarang mereka tahu keberadaan Dian, Ibu mengacaukan rencanaku, apa yang ada di kepala Ibu?"Namun Lesti tidak menggubris, dia menangis dan menampar Ririn, "Kamu membuat Ibu takut setengah mati. Kalau terjadi sesuatu padamu, Ibu harus bagaimana? Susah payah Ibu membesarkanmu, apa Ibu harus melihatmu mati?""Ibu 'kan sudah bilang, jangan menemui Juko Sanders, kenapa kamu masih diam-diam menemuinya, bahkan menyuruhnya melakukan hal seperti ini, apa kamu sudah gila?""Ibu hanya ingin menjalani sisa hidup dengan damai bersamamu, kenapa kamu nggak mau mendengarkan Ibu?"Ririn sangat kecewa pada ibunya. Sejak hamil, Lesti tidak pernah lagi memberi pelajaran pada Dian.Namun, Ririn tidak terima, Dian bagaikan duri yang menancap di matanya, duri itu harus disingkirkan agar dia merasa lega."Apa Ibu nggak tahu aku menyukai Phillip?""Aku yang duluan menyukai Phillip, tapi Dian merampasnya. Mana mungkin aku melepaskannya.
Ingin sekali Lesti menamparnya, untuk apa dia bicara seperti itu?Jika dulu pria itu tidak melakukan tindak kekerasan padanya, hubungan mereka tidak mungkin jadi seburuk ini.Sekarang beraninya dia mengatakan berbuat seperti ini demi putrinya, dia kira nyawa Dian bisa diambil semudah itu?Dian adalah Nona Besar Keluarga Sandiga, belum lagi dia sudah menikah dengan Phillip Sanders, sekarang dia adalah istri dari pemilik Perusahaan Sanders. Juko kira siapa dirinya? Beraninya dia menculik Dian!Napas Lesti tidak teratur, dia tersentak, "Kalau kamu nggak percaya, dengarkan saja teriakan putrimu.""Aku nggak bisa menyelamatkannya, nyawanya ada di tanganmu. Lagi pula aku sedang mengandung anak Fabian. Tanpa Ririn sekalipun, aku masih punya anak yang lain, tapi nggak denganmu!"Phillip sangat mengagumi Lesti. Di saat seperti ini, dia tidak lupa mengungkapkan kesetiaannya pada Fabian, secara tidak langsung memberi tahu Fabian bahwa dia selalu berpihak padanya, sungguh hebat.Di ujung telepon,
Phillip menaikkan alisnya sambil berkata, "Jangan khawatir, paling-paling hanya jari tangannya yang disentuh, nggak akan jadi masalah besar. Cedera otot dan tulang akan pulih dalam beberapa bulan. Kalian bisa merawatnya dengan baik di rumah, dijamin dia akan segera pulih."Lesti tidak tega mendengarnya, dia bergegas ke arah Phillip untuk memukulnya, tetapi sebelum berhasil mendekat, pengawal sudah menghentikannya.Fabian juga khawatir, dia segera memeluk Lesti erat-erat ke sisinya, "Kalau benar nggak ada hubungannya dengan Ririn, dia pasti akan keluar dengan selamat, tetapi kalau sebaliknya, kamu harusnya tahu ...."Suara Fabian tiba-tiba berubah dingin. Dia tidak pernah menyangka penculikan putri kandungnya ternyata berhubungan dengan putri tirinya ini.Namun, dia juga tidak terlalu bodoh dan langsung bertanya, "Bagaimana seorang gadis seperti Ririn bisa membawa Dian?""Bahkan kaca mobilnya pecah, pasti ada yang membantunya.""Mungkinkah ada hubungannya dengan ayah kandung Ririn?"Phi
"Benar aku menemui ayah kandungku, tapi hanya satu kali, aku nggak berniat kembali ke sisinya!""Kalau nggak, aku pasti sudah dari dulu meninggalkan Keluarga Sandiga, tapi aku peduli padamu, Ayah. Ayah sudah menjagaku selama bertahun-tahun, aku sudah menganggapmu sebagai ayah kandungku. Kenapa Ayah memperlakukan kami seperti ini?""Sekarang Phillip berbicara nggak bermoral dan melimpahkan semua kesalahan padaku. Ayah harus melihat kebenarannya!"Lesti mengangguk berulang kali, tapi di saat bersamaan, dia penasaran, kapan Ririn menemui Juko?Gadis itu tidak mengatakan apa pun padanya, tapi malah tertangkap oleh Phillip.Sepertinya kejadian yang menimpa Dian memang berhubungan dengannya. Lesti hanya ingin menyelesaikan masalah ini secepatnya agar Phillip tidak berlama-lama di sana.Dia sama sekali tidak punya pemikiran seperti itu, apalagi untuk rujuk dengan Juko.Dia hanya ingin melahirkan putranya dengan selamat di Keluarga Sandiga. Kelak Keluarga Sandiga akan menjadi milik putranya, d
Phillip paling benci ditunjuk orang saat berbicara dengannya. Dia bangkit dari duduknya, seketika tubuhnya lebih tinggi dari Fabian."Kamu masih berani mengaku sebagai ayah kandungnya Dian, kalau aku jadi kamu, aku akan memilih diam dan menyingkir.""Demi putri orang lain, kamu menuduhku mengancam Ririn. Dari ekspresi bersalahnya saja sudah cukup membuktikan kalau masalah ini berhubungan dengannya.""Sekalipun nggak percaya padaku, minimal gunakan otakmu. Pantas saja Perusahaan Sandiga semakin terpuruk, cepat atau lambat akan tamat di tanganmu."Phillip tidak lagi memberi muka. Saat mengucapkan kata-kata ini, dia mundur berulang kali, memegangi dadanya dan hampir kehabisan napas.Lesti melupakan tubuh lemahnya dan maju beberapa langkah, "Begini caramu berbicara dengan ayah mertuamu? Apa Ririn pernah menyinggungmu? Sebelumnya dia bahkan menyukaimu, Ririn masih kecil, kenapa kamu memperlakukannya seperti ini?"Dia mengatakannya berulang kali, tetapi sikap Phillip sudah jelas dan para pen