Kiara tertawa sinis. "Berakhir? Kamu pikir aku percaya omong kosongmu itu? Aku tahu kamu masih mencoba menggoda Brama. Kamu pikir aku tidak melihat caramu memandangnya?"Rinjani menggelengkan kepalanya lelah. “Aku hanya ingin bekerja dengan tenang. Aku nggak punya waktu untukk semua kosong ini.”Dia bahkan tidak peduli lagi apakah kamera itu menyala atau tidak. Di berniat segera kembali ke meja kerjanya. Tetapi, Kiara menahan lengan Rinjani. Dia memegangnya dengan sangat kuat, hingga kuku-kuku cantik gadis itu, nyaris terbenam di lengan Rinjani.Tanpa bisa ditahan, Rinjani meringis kesakitan. “Lepaskan!” gumamnya lirih, penuh tekanan.“Kiara mengangkat alisnya, lalu dengan nada yang penuh ejekan, dia bertanya, "Berapa?"Rinjani mengerutkan kening. "Apa?""Berapa yang harus aku bayar agar kamu mau pergi dari kehidupan Brama? Berapa harga yang kamu inginkan untuk keluar dari perusahaan ini?" ujar Kiara dengan suara yang dingin.Rinjani merasa seperti ditampar. Dia tidak menyangka K
Kiara merasa harga dirinya benar-benar jatuh di depan pria ini. Dia tidak pernah berinisiatif mendekati laki-laki sebelumnya.Dan sebagai seorang penyanyi terkenal dengan jutaan fans, laki-laki yang biasanya mengejarnya, tapi dengan Brama semua itu seakan tidak ada artinya. Namun, di sisi lain itu membuatnya semakin tertantang untuk menakhlukkan pria itu.“Kapan kamu akan membiarkan Rinjani keluar dari perusahaan?” tanyanya tiba-tiba. Brama mengerutkan kening. “Karyawanku bukan urusanmu.”Tanpa orang lain, seperti inilah komunikasi yang selalu terjadi di antara mereka.“Aku bukan bermaksud ikut campur, hanya saja kelihatan banget Rinjani sudah nggak mau bekerja di sini. Mungkin dia canggung dengan semua yang terjadi. Takut karyawan yang lain juga membicarakan.”Mata Brama menatap tajam Kiara. “Siapa yang berani membicarakan tentangku dan Rinjani di kantor?”“Bram! Sebentar lagi kita akan bertunangan. Setelah kejadian ini, kalau Rinjani masih terus bekerja di sini, kecurigaan
Seketika semuanya langsung berubah hening begitu Radit mengatakan hal semacam itu. Suasana ringan yang tadi berhasil di bangun menjadi runtuh seketika.Rinjani melotot kesal ke arah Radit yang saat itu merasa sangat bersalah.“Kenapa? Apa kamu mau mengenalkan seseorang?” tanya Rinjani berusaha mencairkan suasana. “Memangnya kalau ada, kakak mau?”Rinjani ingin mengatakan kalau dia hanya bercanda. Dia baru saja mendapatkan hasil pahit dari kegagalan hubungannya dengan Brama. Dalam waktu sesingkat itu, dia sama sekali tidak siap untuk bertemu dengan pria baru.Tetapi, saat itu dia merasakan tatapan penuh antusias dari kedua orangtuanya. Rinjani menelan kembali semua penolakan yang sudah berada di ujung lidahnya.“Kalau ada yang cocok, kenapa nggak?” Dia berusaha membuat suaranya seringan mungkin, senyum di bibirnya juga sangat lebar, menyembunyikan semua keengganannnya jauh dalam hati.Dia kira pembicaraan akan berhenti sampai di sana. Namun, kenyataan tidak semudah itu.Ra
Rinjani mengibaskan tangannya yang basah ke depan wajah Radit hingga percikan air mengenai wajah adiknya itu.“Kenapa terkejut? Bukannya tadi kamu yang mancing-mancing?”Radit menggaruk kepalanya salah tingkah, cengiran lebar terbit di wajahnya. “Aku nggak sengaja, Kak. Maaf.” Rinjani menggelengkan kepalanya. “Kalau ini bisa menenangkan hati ibu dan ayah, mungkin nggak masalah kalau aku melakukannya.”“Oke, kalau begitu. Besok akan aku tanya ke dia. Tenang saja.” Radit menggosokkan tangannya bersemangat. “Dia itu kakak kelasku dulu waktu kuliah, dia juga orang yang awal-awal jadi investor di awal-awal kantorku berdiri. Sampai sekarang, dia masih jadi konsultan di sana. Orangnya baik, tampangnya juga ... not bad lah.”Radit hendak mengatakan kalau pria yang hendak dia kenalkan ke kakaknya itu juga ganteng, tapi dia segera mengurungkan niatnya. Mengingat pria yang bersama dengan Rinjani selama bertahun-tahun adalah Brama.Meskipun dia tidak menyukai sifat Brama, dia tidak bisa me
Rinjani berusaha membuka matanya, tapi kelopaknya terasa seperti diberi beban. Suara-suara bising silih berganti memenuhi telinganya.“Dia kelelahan, kurang cairan dan kurang tidur, asam lambungnya juga naik. Dia butuh istirahat total," kata suara itu, tegas.Tidak lama kemudian ada suara lain muncul, lebih dalam, lebih tegas. Rinjani mengenali suara itu—suara Brama. “Terima kasih, Dokter.”Tidak lama kemudian Rinjani mendengar ponselnya berbunyi keras."Dia tidak bisa bertemu denganmu sekarang!" terdengar suara Brama, keras dan penuh kendali.Rinjani ingin membuka matanya, ingin bertanya apa yang terjadi, tapi tubuhnya menolak. Kepalanya terasa berdenyut-denyut, dan semua suara itu hanya membuatnya semakin pusing. Akhirnya, dia memutuskan untuk menyerah pada keinginan tubuhnya yang meminta untuk terlelap.Saat Rinjani akhirnya terbangun, pandangannya kabur. Dia mengedipkan mata beberapa kali, mencoba menyesuaikan diri dengan cahaya redup di ruangan.Perlahan, dia menyadari bahwa dia
Brama mengerutkan kening, dan segera menekan tombol panggilan yang ada di atas meja Rinjani dengan kening berkerut.“Kenapa kamu ceroboh banget?” gumamnya sembari memegang tangan Rinjani, matanya terlihat panik. Plaster putih yang ada di punggung tangan gadis, sudah berubah warna menjadi merah karena darah.Brama semakin tidak sabar, dia berulang-ulang menekan tombol abu-abu itu. Matanya menatap ke arah pintu dengan mata cemas. Mempertanyakan kenapa perawat tidak kunjung datang.Rinjani sendiri sudah mulai terbiasa dengan rasa sakit di tangannya, dia malah terkejut melihat ekspresi di wajah Brama.Tidak ada lagi raut wajah datar yang selalu setia menemani pria itu. Rinjani bahkan tidak yakin dengan penglihatannya saat itu. Apa dia masih bermimpi? Brama bisa juga menunjukkan ekspresi seperti ini, dan itu karenanya?Seorang perawat masuk ke ruangan mereka dengan langkah buru-buru. “Ada yang bisa kami bantu?” tanyanya.“Jarum infusnya geser, Sus. Coba diperiksa.”Suster
Satu-satunya orang yang mengantarnya ke rumah sakit adalah Brama. Tidak sulit menebak kalau pria itu yang menerima panggilan dari ponselnya tadi.Rinjani meragu sejenak. "Aku ... aku ada di rumah sakit," jawabnya pelan."Rumah sakit? Kenapa? Apa yang terjadi?" tanya Radit, suaranya langsung panik.“Aku baik-baik saja. Hanya kecapekan," jawab Rinjani, mencoba menenangkan adiknya. “Jangan kasih tahu sama ibu dan ayah ya. Aku nggak mau membuat mereka khawatir.”“Rumah sakit mana? Aku ke sana sekarang!”“Nggak usah!” Rinjani buru-buru menolak. “KalauRadit terdiam sejenak, lalu tiba-tiba bertanya, "Kamu sama Brama sekarang di sana?"Rinjani menatap Brama, yang masih duduk di sampingnya, lalu menjawab pelan, "Iya." Dia sudah capek berbohong. Setidaknya, pada Radit, adiknya dia ingin mengatakan apa yang terjadi. Dia bahkan nyaris tidak tahu lagi apa saja kebohongan yang sudah dia ucapkan setelah semuanyaRadit menghela napas. "Kak, apa semua yang terjadi belum cukup juga? Mau sampai k
Brama menatap Rinjani dalam. “Aku nggak paham, apa maumu. Itu kan yang selama ini kamu mau? Kenapa menolak?”Rinjani membalas tatapan itu dengan berani. Dia tidak tahu, Brama tidak tahu atau pura-pura tidak tahu. “Kalau kamu bilang kaya gini beberapa bulan lalu, mungkin aku akan melompat kegirangan.”Sudut bibir Brama terangkat membentuk senyum tipis saat mendengar itu, di kepalanya langsung terbayang Rinjani melompat dengan senyum lebarnya dan mata berbinar.Itu adalah sesuatu yang sangat mungkin terjadi. Terkadang, Brama sampai kebingungan sendiri, kenapa Rinjani seakan sangat mudah bahagia.Sedikit perhatian atau kejutan kecil bisa membuat gadis itu bahagia hingga berhari-hari. Sekarang, gadis itu sudah banyak berubah.Brama mendekat ke Rinjani. Kali ini, dia sengaja memegang lengan yang disuntik jarum infus itu dan menahannya agar dia tidak lagi ada kejadian berdarah seperti tadi.“A-apa yang kamu lakukan?” Rinjani menggigit dinding mulutnya kesal. Dia ingin menun
Udara di ruang rumah sakit terasa kaku. Rinjani berdiri di tengah-tengah keluarga kecil mereka, tangannya gemetar saat Jagat tiba-tiba berlutut di hadapannya.Suara Jagat menggema di telinganya, tapi yang terlihat di depan matanya justru bayangan Brama. Berapa malam dia bermimpi tentang saat-saat seperti ini—tapi dengan pria yang berbeda.Kakinya ingin lari. Dadanya sesak. Ini terlalu cepat. Siapkah dia memulai komitmen sejauh itu dengan pria yang tidak begitu dia kenal?Tapi saat matanya beralih ke orangtuanya yang berdiri di samping, wajah dan ayahnya yang menatap lekat, lalu ke ibu Jagat yang menatap penuh harap, Rinjani menarik napas dalam-dalam."Aku mau,” gumamnya lirih.Tangannya terjulur, dan Jagat dengan cepat menyematkan cincin pertunangan itu. Dingin, asing, dan terasa berat. Cincin platinum sederhana dengan satu permata kecil itu terasa membebani jarinya.Jagat bangkit, menggenggam tangannya erat. "Terima kasih," bisiknya, hanya untuk didengar Rinjani. Matanya berbin
***Keesokan harinya, Brama sudah kembali ke kantor. Rinjani yang tahu itu langsung menemui pria itu di ruangannya.Kantor Brama terasa pengap meski AC menyala kencang. Rinjani berdiri di depan meja kerjanya, menatap pria itu yang duduk dengan bahu turun, wajahnya lesu dan lingkaran hitam tebal di bawah matanya."Aku berhasil mendapatkan tanda tangan Pak Hendra, dia setuju penawaran kita," ujar Rinjani meletakkan dokumen di atas meja.Brama mengangkat kepala perlahan, matanya menyipit melihat kertas itu. Tangannya meraih dokumen tersebut, keningnya berkerut dalam.“Ini ... tujuan kamu ke lapangan golf waktu itu?" suara pria itu terdengar sedikit parau, penuh kecurigaan.Dia tahu kalau Hendra ada di lapangan golf waktu itu, tapi karena dia tidak mempersiapkan apapun sebelumnya dia tidak menemui pria itu. Siapa sangka, Rinjani sudah memiliki persiapan yang jauh lebih matang.Rinjani mengangguk. "Iya."Brama mengerutkan kening. "Hendra menolak proposal kita karena dia dapat penawa
“Secepatnya, Tante. Karena keadaan mama saya sudah cukup mendesak, harus segera dioperasi.”“Aku dan Jagat berencana mengadakan acara tukar cincin sederhana saja di depan orangtua Jagat, untuk membuat ibu Jagat lebih tenang.” Takut kalau orangtua Rinjani tidak senang dengan kalimat itu, Jagat buru-buru menambahkan. “Ini Cuma sekedar untuk menunjukkan ke mama saya kalau serius hendak menikah ke mama saya. Setelah keadaan mama membaik, kami akan mengulangi semua acara itu dengan lebih serius.”Udara di ruang tamu apartemen terasa berat. Orangtua Rinjani duduk berhadapan dengan Jagat, wajah mereka dipenuhi keraguan. Ibu Rinjani memutar-mutar gelas teh di tangannya, matanya tak lepas dari wajah pemuda di hadapannya."Jujur, kami masih sulit menerima, semuanya secepat ini. Apalagi, kami sama sekali belum bertemu dengan keluargamu.”Jagat duduk tegak, tangannya tergenggam di atas lutut. "Saya mengerti kekhawatiran Om dan Tante, tapi keadaan mama benar-benar tidak mendukung untuk pem
Lift apartemen bergerak pelan, namun detak jantung Rinjani berdegup kencang. Kulitnya masih terasa hangat di tempat Brama menyentuhnya tadi, seolah bekas jari-jarinya membakar.Apa yang terjadi padanya? Pikiran itu terus mengusik. Wajah Brama yang biasanya tegar tadi terlihat begitu rapuh—matanya redup, garis wajahnya kaku oleh stres yang tak terkatakan.Tidak. Rinjani menggeleng keras. Dia Brama. Dia selalu bisa menyelesaikan masalahnya sendiri.Tapi alasan itu tidak membuat dadanya lega. Rasanya seperti berbohong pada diri sendiri.Rinjani memaksa dirinya untuk tidak memikirkan masalah itu lebih jauh lagi.Pintu apartemen terbuka. Suara obrolan orangtuanya dari ruang tamu menyambutnya."Yu? Kamu pulang larut sekali," suara hangat ibu menyapa, matanya penuh pertanyaan.Rinjani menarik napas dalam-dalam. "Iya, Bu. Tadi habis dari rumah sakit, bertemu dengan orangtua Jagat.”“Secepat itu? Bukannya kalian baru kenal?”Rinjani terdiam mendengar pertanyaan ibunya itu, setelah ragu sesaat
Brama mengambil langkah mundur, wajahnya tertutup. “Ma, aku nggak mau berdebat dengan mama sekarang ini. Sebaiknya mama tenangkan diri dulu.”Dia tidak pernah percaya kalau pernikahannya akan menentukan masa depannya di perusahaan. Dia sudah menjadi direktur di perusahaan itu selama beberapa tahun.Semua pengalaman, kegagalan dan keberhasilan mengajarinya banyak hal. Dia percaya, untuk mengembangkan perusahaan itu dia tidak perlu harus menikah dengan perempuan.Harga dirinya tidak mengizinkan Brama menjadi sosok seperti ayahnya."Brama!”Tapi Brama sudah berbalik, berjalan menuju pintu. Sebelum keluar, dia berhenti. "Ma, mama tenang saja. Aku bukan laki-laki naif yang akan membuang semua yang aku miliki untuk cinta.”Dia percaya dia bisa mendapatkan semuanya tanpa harus kehilangan salah satunya. Kontrol atas pernikahannya dan Abiyasa Grup, dia akan mendapatkan semuanya.Ibu Brama hanya bisa menatap anaknya itu dengan pandangan yang sulit diartikan. Kecemasan dan rasa kesal bercampu
Brama memilih diam, dengan keras kepala dia menolak untuk minta maaf atau menundukkan kepala di depan ayahnya.“Bahkan Rinjani lebih bisa mengontrol emosinya! Kamu kalah sama perempuan!"Nama Rinjani seperti pisau yang menancap. "Jangan bandingkan aku dengannya." Tangan Brama terkepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Sekarang ini, mungkin Rinjani sama sekali tidak peduli lagi padanya.Dia bahkan sudah memiliki pria lain di sisinya. Saat itu, emosi itu kembali memuncak dalam dirinya. Dia menahan diri sejak tadi untuk tidak memborbardir nomor telepon Rinjani dengan telepon dan pesan untuk menanyakan siapakah laki-laki itu."Kalau kamu tidak bisa mengontrol perasaanmu terhadap mantan karyawan itu, lebih baik kau pecat dia sekarang juga!" Ayahnya menatap tajam. "Direktur Abiyasa Grup tidak boleh dikendalikan oleh perempuan!"Brama menarik napas dalam-dalam. "Aku bisa mengontrol diri."Ayahnya tertawa sinis. "Benarkah? Aku harap kamu benar-benar melakukan perkataanmu!” Pria itu ber
Rinjani tersipu, sementara Jagat hanya diam, matanya menatap Rinjani dengan ekspresi yang sulit dibaca—antara syukur atau beban harus bertunangan dengan perempuan yang baru dia kenal."Jadi, kapan acara tunangannya?" tanya Ibu Jagat bersemangat.Rinjani tersenyum. "Bagaimana kalau minggu depan? Sederhana saja, di sini jika Tante, tidak bisa keluar rumah sakit."Ibu Jagat mengangguk antusias. "Nggak boleh. Ini kan acara pertunangan kalian, masa di rumah sakit. Nanti orangtua kamu nggak setuju, mengiranya Jagat nggak serius.”“Nggak begitu, Tante. Orangtua saya pasti akan menerima saja kok. Apalagi kondisinya memang memaksa.”“Iya, Ma. Nanti nikahannya bisa dibuat agak besar kalau mama sudah sembuh.”Ibu Jagat masih terlihat enggan dia menatap ke arah suaminya.Ayah Jagat menghela napas. "Papa akan coba bicara sama dokternya, tapi kalau dokternya nggak ngasih mama izin, kita harus tetap mengadakannya di sini, oke? Tenang saja nanti papa yang bantu bicara ke orangtua Rinjani."Rinjani
Tetapi, Brama bukan orang yang bisa melepaskan semua hanya untuk emosi sesaat. Mengingat semua tujuannya, Brama kembali menahan dirinya. “Ayo, papa sudah nunggu kita, Bram.”Kiara menarik Brama menjauh dari sana. Brama menghela napas gusar. “Besok kita bicara di kantor!”“Hmm.”Udara di antara mereka terasa semakin tegang. Rinjani bisa merasakan panas dari tatapan Brama, tapi dia juga merasakan ketegangan di bahu Jagat sudah pasang badan di depannya.Brama pergi meninggalkan Rinjani di sana bersama Kiara. Rinjani menghembuskan napas panjang.“Kita pergi?” tanya Jagat.Jagat mengangguk, lalu dengan sengaja meletakkan tangan di punggung Rinjani, membimbingnya pergi.Saat mereka sudah cukup jauh, Jagat menghela napas. "Kamu baik-baik saja?"Rinjani mengangguk, tapi senyumnya terlihat terpaksa. "Aku nggak papa. Maaf, membuat kamu terseret masalah ini.”Jagat memandangnya dengan serius. "Its okay. Aku nggak masalah. Masih ... sulit melihat dia sama perempuan lain?”Rinjani tertegun.
"Rin?" Jagat memanggil, memecah lamunannya. “Are you okay?”Rinjani menghela napas dalam-dalam. "Aku baik-baik saja, maaf sedikit melamun tadi. Aku gugup,” dustanya.Tapi hatinya berbicara lain. Setiap langkah mendekati hole ke-9 terasa seperti berjalan di atas pecahan kaca."Pak Hendra!" sapa Jagat dengan ramah saat mereka tiba di lokasi.Seorang pria berbadan tegap berbalik, wajahnya langsung berseri. "Jagat! Akhirnya kamu datang juga!"Mereka berjabat tangan erat."Ini Rinjani, orang yang mau ketemu Bapak,” perkenalkan Jagat.Rinjani menyodorkan tangannya. "Senang bertemu dengan Anda, Pak Hendra.""Ah, halo. Jagat sudah menceritakan tentangmu. Dari Abiyasa Grup, kan? " ujar Hendra sambil tersenyum. "Ayo kita bicara sambil jalan."Mereka mulai berjalan menyusuri lapangan. Rinjani mengeluarkan proposal dari tasnya, menjelaskan dengan lugas rencana proyek mereka."Untuk harga, ini jumlah yang bisa kami berikan untuk bapak, tapi bapak tenang saja, semuanya setelah itu akan tim kami