Share

25. Keanehan Brama

Penulis: Neza Visna
last update Terakhir Diperbarui: 2025-03-16 22:46:15

Rinjani berusaha membuka matanya, tapi kelopaknya terasa seperti diberi beban. Suara-suara bising silih berganti memenuhi telinganya.

“Dia kelelahan, kurang cairan dan kurang tidur, asam lambungnya juga naik. Dia butuh istirahat total," kata suara itu, tegas.

Tidak lama kemudian ada suara lain muncul, lebih dalam, lebih tegas. Rinjani mengenali suara itu—suara Brama. “Terima kasih, Dokter.”

Tidak lama kemudian Rinjani mendengar ponselnya berbunyi keras.

"Dia tidak bisa bertemu denganmu sekarang!" terdengar suara Brama, keras dan penuh kendali.

Rinjani ingin membuka matanya, ingin bertanya apa yang terjadi, tapi tubuhnya menolak. Kepalanya terasa berdenyut-denyut, dan semua suara itu hanya membuatnya semakin pusing. Akhirnya, dia memutuskan untuk menyerah pada keinginan tubuhnya yang meminta untuk terlelap.

Saat Rinjani akhirnya terbangun, pandangannya kabur. Dia mengedipkan mata beberapa kali, mencoba menyesuaikan diri dengan cahaya redup di ruangan.

Perlahan, dia menyadari bahwa dia
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terkait

  • Gelora Cinta Pria Arogan   26. Tidak Percaya Rinjani

    Brama mengerutkan kening, dan segera menekan tombol panggilan yang ada di atas meja Rinjani dengan kening berkerut.“Kenapa kamu ceroboh banget?” gumamnya sembari memegang tangan Rinjani, matanya terlihat panik. Plaster putih yang ada di punggung tangan gadis, sudah berubah warna menjadi merah karena darah.Brama semakin tidak sabar, dia berulang-ulang menekan tombol abu-abu itu. Matanya menatap ke arah pintu dengan mata cemas. Mempertanyakan kenapa perawat tidak kunjung datang.Rinjani sendiri sudah mulai terbiasa dengan rasa sakit di tangannya, dia malah terkejut melihat ekspresi di wajah Brama.Tidak ada lagi raut wajah datar yang selalu setia menemani pria itu. Rinjani bahkan tidak yakin dengan penglihatannya saat itu. Apa dia masih bermimpi? Brama bisa juga menunjukkan ekspresi seperti ini, dan itu karenanya?Seorang perawat masuk ke ruangan mereka dengan langkah buru-buru. “Ada yang bisa kami bantu?” tanyanya.“Jarum infusnya geser, Sus. Coba diperiksa.”Suster

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-17
  • Gelora Cinta Pria Arogan   27. Brama Cinta?

    Satu-satunya orang yang mengantarnya ke rumah sakit adalah Brama. Tidak sulit menebak kalau pria itu yang menerima panggilan dari ponselnya tadi.Rinjani meragu sejenak. "Aku ... aku ada di rumah sakit," jawabnya pelan."Rumah sakit? Kenapa? Apa yang terjadi?" tanya Radit, suaranya langsung panik.“Aku baik-baik saja. Hanya kecapekan," jawab Rinjani, mencoba menenangkan adiknya. “Jangan kasih tahu sama ibu dan ayah ya. Aku nggak mau membuat mereka khawatir.”“Rumah sakit mana? Aku ke sana sekarang!”“Nggak usah!” Rinjani buru-buru menolak. “KalauRadit terdiam sejenak, lalu tiba-tiba bertanya, "Kamu sama Brama sekarang di sana?"Rinjani menatap Brama, yang masih duduk di sampingnya, lalu menjawab pelan, "Iya." Dia sudah capek berbohong. Setidaknya, pada Radit, adiknya dia ingin mengatakan apa yang terjadi. Dia bahkan nyaris tidak tahu lagi apa saja kebohongan yang sudah dia ucapkan setelah semuanyaRadit menghela napas. "Kak, apa semua yang terjadi belum cukup juga? Mau sampai k

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-18
  • Gelora Cinta Pria Arogan   28. Eksploitasi Orang Kaya

    Brama menatap Rinjani dalam. “Aku nggak paham, apa maumu. Itu kan yang selama ini kamu mau? Kenapa menolak?”Rinjani membalas tatapan itu dengan berani. Dia tidak tahu, Brama tidak tahu atau pura-pura tidak tahu. “Kalau kamu bilang kaya gini beberapa bulan lalu, mungkin aku akan melompat kegirangan.”Sudut bibir Brama terangkat membentuk senyum tipis saat mendengar itu, di kepalanya langsung terbayang Rinjani melompat dengan senyum lebarnya dan mata berbinar.Itu adalah sesuatu yang sangat mungkin terjadi. Terkadang, Brama sampai kebingungan sendiri, kenapa Rinjani seakan sangat mudah bahagia.Sedikit perhatian atau kejutan kecil bisa membuat gadis itu bahagia hingga berhari-hari. Sekarang, gadis itu sudah banyak berubah.Brama mendekat ke Rinjani. Kali ini, dia sengaja memegang lengan yang disuntik jarum infus itu dan menahannya agar dia tidak lagi ada kejadian berdarah seperti tadi.“A-apa yang kamu lakukan?” Rinjani menggigit dinding mulutnya kesal. Dia ingin menun

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-19
  • Gelora Cinta Pria Arogan   29. Rumah Baru

    “Cel, ibuku mau bicara denganmu. Ibu tahunya kamu yang sakit.” Celia mengangguk mengerti, dia meletakkan tas yang dibawanya dekat situ dan segera duduk di samping Rinjani.Rinjani langsung menelepon ibunya. “Halo, Bu. Ini Celia sudah bisa bicara sekarang. Ibu mau bicara?”“Iya, iya. Tolong sambungkan,” kata ibunya.Rinjani langsung menyerahkan ponsel itu ke Celia, menyerahkan ponselnya. “Celia mengambil ponsel itu, mencoba terdengar meyakinkan. “Halo, Tante? Iya, aku Celia. Maaf ya, Tan. Aku kurang enak badan, jadi aku minta Rinjani menemaniku malam ini.”Celia sengaja membuat nada suaranya lebih rendah agar terdengar lemah.Rinjani mendengar suara ibunya di seberang sana, masih bertanya ini itu, tapi akhirnya percaya juga.“Iya, Tan. Cuma demam biasa kok. Karena terlalu kecapekan kemarin.”Celia dengan sabar menjawab semua pertanyaam ibu Rinjani itu. Setelah beberapa menit, Celia mengembalikan ponsel itu padanya.“Tante mau bicara lagi sama kamu,” kata Celia, tersenyum kecil.R

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-20
  • Gelora Cinta Pria Arogan   30. Tertarik KPR

    “Aku belum jadi ketemu, Bu. Ada urusan mendadak, jadi kami memutuskan janjian lain hari.”“Ibu ternyata kenal orangnya loh. Dia pernah ke sini, kebetulan ibu lagi nganterin makanan untuk Radit waktu itu. Anaknya lumayan ganteng kok. Dia juga baik, dan ramah banget. Ayah kamu saja waktu itu langsung akrab ngobrolnya sama dia.”Rinjani mengangkat sebelah alisnya mendengar itu. “Oh, ya? Kalau begitu aku jadi tertarik. Jarang ayah cepat akrab sama orang, apa lagi anak muda begitu.”“Makanya itu. Ibu cukup yakin, siapa tahu ini jodoh kamu?”Rinjani tersenyum lembut. “Semoga ya, Bu.”Dia juga menyadari umurnya tidak muda lagi. Kalau dengan berusaha menyenangkan hati orangtuanya dia bisa bertemu dengan jodohnya sekalian, Rinjani akan sangat bersyukur.Meski, dia tidak se-optimis ibunya. Dia tidak yakin, pria itu akan bisa menerima masa lalunya.“Bu, aku kurang tidur semalam. Aku tidur dulu ya?” pamitnya pada ibunya.Wanita paruh baya itu segera menyadari wajah Rinjani yang terlihat

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-22
  • Gelora Cinta Pria Arogan   31. Kesepian Brama

    Kiara tertawa kecil. “Tante kasih tahu aku alamat apartemen kamu.” Dia lalu berdiri tegak, menjauh dari tembok yang tadi disandarinya.“Aku sudah pegel banget nungguin kamu dari tadi.”“Kenapa nggak mengabari dulu kalau mau ke sini?”“Tentu saja kejutan.” Senyum di wajah kiara semakin lebar, menunjukkan gigi putih yang berjejer rapi.Wajah Brama semakin keruh. Dia sedang tidak ingin bertemu dengan siapapun, sekarang ini. “Aku lagi nggak mood. Sebaiknya kamu pulang saja.”Kiara mengepalkan tangannya menahan emosi. “Aku tahu kamu lagi bad mood karena semua masalah itu. Makanya aku sengaja bawain ini semua. Tante juga kayanya khawatir banget sama kamu, setelah kejadian itu.”Brama menghela napas gusar. “Terima kasih, tapi aku tidak ingin menerima tamu sekarang ini.”“Hei, setidaknya hargai sedikit usahaku? Bagaimana juga aku sudah repot-repot ke sini dan menunggumu lama.”mBrama menghela napas, merasa kesal. "Kamu tidak perlu melakukan ini. Tidak ada yang memintamu melakukannya.”Ki

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-23
  • Gelora Cinta Pria Arogan   32. Kiara Lepas Kontrol

    Semakin lama dia berpisah dari Rinjani, semakin Brama sadar kalau gadis itu benar-benar sudah menyelinap ke setiap sisi kehidupannya.Dan tanpanya, semua terasa hambar. Bahkan untuk hal sesepele pakaian saja, sudah dipilihkan oleh Rinjani. Kini, dia merasa semua pakaian yang dipilihnya terasa salah.“Kalau kamu nggak suka makanannya, aku bisa pesan yang lain. Atau aku masakkan sesuatu? Aku sudah mulai belajar masak.”“Nggak perlu. Selesaikan saja itu, setelah itu kamu bisa langsung pulang.”Kiara nyaris tidak bisa mempertahankan senyumnya. Dengan frustrasi dia menenggak isi gelasnya sampai habis kemudian mengisinya lagi hingga setengah penuh.Dia menenggak alkohol itu bagai menenggak air, makanannya juga nyaris tidak tersenyuh olehnya.“Kenapa kamu memilih Rinjani, dari semua perempuan?” tanyanya tiba-tiba.“Dia ... sesuai.”Kiara mengerutkan kening mendengar jawaban singkat itu, tidak mengerti. “Sesuai? Apanya? Cuma karena kalian sudah kenal begitu lama? Aku yakin, perempuan ma

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-23
  • Gelora Cinta Pria Arogan   33. Persetujuan Keduanya.

    Kiara merasa air matanya hampir jatuh, tapi dia mencoba menahannya. "Kamu mengusirku begitu saja? Kamu benar-benar nggak punya perasaan ya. Aku jauh-jauh datang ke sini untuk menghibur kamu, tapi kamu ngusir aku begitu saja!”Brama menghembuskan napas gusar. Dia tidak menyangka, Kiara akan jadi seperti ini ketika mabuk.“Sebaiknya segera bawa dia dari sini.”“Baik, Mas Brama.”Kali ini, tanpa menahan tenaganya lagi, asisten Kiara itu mengangkat Kiara dan membimbingnya untuk berjalan ke luar apartemen itu bahkan hingga nyaris menyeretnya karena Kiara terus memberontak.“Ayolah, Ra. Kalau terus gini, besok kamu sendiri yang menyesal waktu ingat semuanya!” gerutunya.Sebagai orang yang sudah cukup lama bekerja dengan Kiara, dia sudah cukup paham sikap gadis itu.“Permisi, Mas Brama. Saya minta maaf untuk sikap Kiara hari ini ya. Dia Cuma lagi stres saja karena mengurus semua efek pemberitaan kemarin itu. Biasanya dia nggak kaya gini.”Begitu dia sampai di depan Brama, asisten itu masi

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-24

Bab terbaru

  • Gelora Cinta Pria Arogan   46. Brama Lepas Kontrol

    Tanpa mengakhiri panggilannya, dia langsung menekan tombol pengeras suara di ponselnya, lalu membuka aplikasi yang dimaksud Celia itu dan melihat apa yang diunggah oleh adiknya itu.Mata Rinjani seketika melebar melihat story Radit. Di sana ada foto saat Jagat menyematkan cincin di jarinya, dan ada satu kalimat di bagian bawah foto itu.‘Selamat untuk Kalian! Semoga lancar sampai pernikahan.’ Tidak cukup sampai di sana, dia juga menekan tag pada akun Rinjani dan Jagat. Rinjani hanya terlalu sibuk tadi sehingga dia tidak sempat melihat ponselnya.Rinjani tidak pernah berencana menyebarluaskan tentang beritanya dan Jagat. Tetapi, dia lupa menyampaikan hal itu pada Radit.Sekarang, Rinjani hanya bisa menyesal dan menyalahkan dirinya sendiri. “Kamu sudah gila? Orangtua kamu juga setuju? Apa kamu bahkan kenal dengan laki-laki itu?”“Namanya Jagat Cel,” gumam Rinjani lemah.“Persetan dengan namanya! Apa kamu bahkan tahu hal lain selain namanya?” Celia terdengar sangat kesal, dia

  • Gelora Cinta Pria Arogan   45. Semua Tahu

    Udara di ruang rumah sakit terasa kaku. Rinjani berdiri di tengah-tengah keluarga kecil mereka, tangannya gemetar saat Jagat tiba-tiba berlutut di hadapannya.Suara Jagat menggema di telinganya, tapi yang terlihat di depan matanya justru bayangan Brama. Berapa malam dia bermimpi tentang saat-saat seperti ini—tapi dengan pria yang berbeda.Kakinya ingin lari. Dadanya sesak. Ini terlalu cepat. Siapkah dia memulai komitmen sejauh itu dengan pria yang tidak begitu dia kenal?Tapi saat matanya beralih ke orangtuanya yang berdiri di samping, wajah dan ayahnya yang menatap lekat, lalu ke ibu Jagat yang menatap penuh harap, Rinjani menarik napas dalam-dalam."Aku mau,” gumamnya lirih.Tangannya terjulur, dan Jagat dengan cepat menyematkan cincin pertunangan itu. Dingin, asing, dan terasa berat. Cincin platinum sederhana dengan satu permata kecil itu terasa membebani jarinya.Jagat bangkit, menggenggam tangannya erat. "Terima kasih," bisiknya, hanya untuk didengar Rinjani. Matanya berbin

  • Gelora Cinta Pria Arogan   44. Tukar Cincin

    ***Keesokan harinya, Brama sudah kembali ke kantor. Rinjani yang tahu itu langsung menemui pria itu di ruangannya.Kantor Brama terasa pengap meski AC menyala kencang. Rinjani berdiri di depan meja kerjanya, menatap pria itu yang duduk dengan bahu turun, wajahnya lesu dan lingkaran hitam tebal di bawah matanya."Aku berhasil mendapatkan tanda tangan Pak Hendra, dia setuju penawaran kita," ujar Rinjani meletakkan dokumen di atas meja.Brama mengangkat kepala perlahan, matanya menyipit melihat kertas itu. Tangannya meraih dokumen tersebut, keningnya berkerut dalam.“Ini ... tujuan kamu ke lapangan golf waktu itu?" suara pria itu terdengar sedikit parau, penuh kecurigaan.Dia tahu kalau Hendra ada di lapangan golf waktu itu, tapi karena dia tidak mempersiapkan apapun sebelumnya dia tidak menemui pria itu. Siapa sangka, Rinjani sudah memiliki persiapan yang jauh lebih matang.Rinjani mengangguk. "Iya."Brama mengerutkan kening. "Hendra menolak proposal kita karena dia dapat penawa

  • Gelora Cinta Pria Arogan   43. Harus Ketemu Orangtua

    “Secepatnya, Tante. Karena keadaan mama saya sudah cukup mendesak, harus segera dioperasi.”“Aku dan Jagat berencana mengadakan acara tukar cincin sederhana saja di depan orangtua Jagat, untuk membuat ibu Jagat lebih tenang.” Takut kalau orangtua Rinjani tidak senang dengan kalimat itu, Jagat buru-buru menambahkan. “Ini Cuma sekedar untuk menunjukkan ke mama saya kalau serius hendak menikah ke mama saya. Setelah keadaan mama membaik, kami akan mengulangi semua acara itu dengan lebih serius.”Udara di ruang tamu apartemen terasa berat. Orangtua Rinjani duduk berhadapan dengan Jagat, wajah mereka dipenuhi keraguan. Ibu Rinjani memutar-mutar gelas teh di tangannya, matanya tak lepas dari wajah pemuda di hadapannya."Jujur, kami masih sulit menerima, semuanya secepat ini. Apalagi, kami sama sekali belum bertemu dengan keluargamu.”Jagat duduk tegak, tangannya tergenggam di atas lutut. "Saya mengerti kekhawatiran Om dan Tante, tapi keadaan mama benar-benar tidak mendukung untuk pem

  • Gelora Cinta Pria Arogan   42. Dapat Restu Orangtua

    Lift apartemen bergerak pelan, namun detak jantung Rinjani berdegup kencang. Kulitnya masih terasa hangat di tempat Brama menyentuhnya tadi, seolah bekas jari-jarinya membakar.Apa yang terjadi padanya? Pikiran itu terus mengusik. Wajah Brama yang biasanya tegar tadi terlihat begitu rapuh—matanya redup, garis wajahnya kaku oleh stres yang tak terkatakan.Tidak. Rinjani menggeleng keras. Dia Brama. Dia selalu bisa menyelesaikan masalahnya sendiri.Tapi alasan itu tidak membuat dadanya lega. Rasanya seperti berbohong pada diri sendiri.Rinjani memaksa dirinya untuk tidak memikirkan masalah itu lebih jauh lagi.Pintu apartemen terbuka. Suara obrolan orangtuanya dari ruang tamu menyambutnya."Yu? Kamu pulang larut sekali," suara hangat ibu menyapa, matanya penuh pertanyaan.Rinjani menarik napas dalam-dalam. "Iya, Bu. Tadi habis dari rumah sakit, bertemu dengan orangtua Jagat.”“Secepat itu? Bukannya kalian baru kenal?”Rinjani terdiam mendengar pertanyaan ibunya itu, setelah ragu sesaat

  • Gelora Cinta Pria Arogan   41. Air Mata Brama

    Brama mengambil langkah mundur, wajahnya tertutup. “Ma, aku nggak mau berdebat dengan mama sekarang ini. Sebaiknya mama tenangkan diri dulu.”Dia tidak pernah percaya kalau pernikahannya akan menentukan masa depannya di perusahaan. Dia sudah menjadi direktur di perusahaan itu selama beberapa tahun.Semua pengalaman, kegagalan dan keberhasilan mengajarinya banyak hal. Dia percaya, untuk mengembangkan perusahaan itu dia tidak perlu harus menikah dengan perempuan.Harga dirinya tidak mengizinkan Brama menjadi sosok seperti ayahnya."Brama!”Tapi Brama sudah berbalik, berjalan menuju pintu. Sebelum keluar, dia berhenti. "Ma, mama tenang saja. Aku bukan laki-laki naif yang akan membuang semua yang aku miliki untuk cinta.”Dia percaya dia bisa mendapatkan semuanya tanpa harus kehilangan salah satunya. Kontrol atas pernikahannya dan Abiyasa Grup, dia akan mendapatkan semuanya.Ibu Brama hanya bisa menatap anaknya itu dengan pandangan yang sulit diartikan. Kecemasan dan rasa kesal bercampu

  • Gelora Cinta Pria Arogan   40. Anak Harram

    Brama memilih diam, dengan keras kepala dia menolak untuk minta maaf atau menundukkan kepala di depan ayahnya.“Bahkan Rinjani lebih bisa mengontrol emosinya! Kamu kalah sama perempuan!"Nama Rinjani seperti pisau yang menancap. "Jangan bandingkan aku dengannya." Tangan Brama terkepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Sekarang ini, mungkin Rinjani sama sekali tidak peduli lagi padanya.Dia bahkan sudah memiliki pria lain di sisinya. Saat itu, emosi itu kembali memuncak dalam dirinya. Dia menahan diri sejak tadi untuk tidak memborbardir nomor telepon Rinjani dengan telepon dan pesan untuk menanyakan siapakah laki-laki itu."Kalau kamu tidak bisa mengontrol perasaanmu terhadap mantan karyawan itu, lebih baik kau pecat dia sekarang juga!" Ayahnya menatap tajam. "Direktur Abiyasa Grup tidak boleh dikendalikan oleh perempuan!"Brama menarik napas dalam-dalam. "Aku bisa mengontrol diri."Ayahnya tertawa sinis. "Benarkah? Aku harap kamu benar-benar melakukan perkataanmu!” Pria itu ber

  • Gelora Cinta Pria Arogan   39. Terjebak Masa Lalu

    Rinjani tersipu, sementara Jagat hanya diam, matanya menatap Rinjani dengan ekspresi yang sulit dibaca—antara syukur atau beban harus bertunangan dengan perempuan yang baru dia kenal."Jadi, kapan acara tunangannya?" tanya Ibu Jagat bersemangat.Rinjani tersenyum. "Bagaimana kalau minggu depan? Sederhana saja, di sini jika Tante, tidak bisa keluar rumah sakit."Ibu Jagat mengangguk antusias. "Nggak boleh. Ini kan acara pertunangan kalian, masa di rumah sakit. Nanti orangtua kamu nggak setuju, mengiranya Jagat nggak serius.”“Nggak begitu, Tante. Orangtua saya pasti akan menerima saja kok. Apalagi kondisinya memang memaksa.”“Iya, Ma. Nanti nikahannya bisa dibuat agak besar kalau mama sudah sembuh.”Ibu Jagat masih terlihat enggan dia menatap ke arah suaminya.Ayah Jagat menghela napas. "Papa akan coba bicara sama dokternya, tapi kalau dokternya nggak ngasih mama izin, kita harus tetap mengadakannya di sini, oke? Tenang saja nanti papa yang bantu bicara ke orangtua Rinjani."Rinjani

  • Gelora Cinta Pria Arogan   38. Rinjani Bertunangan

    Tetapi, Brama bukan orang yang bisa melepaskan semua hanya untuk emosi sesaat. Mengingat semua tujuannya, Brama kembali menahan dirinya. “Ayo, papa sudah nunggu kita, Bram.”Kiara menarik Brama menjauh dari sana. Brama menghela napas gusar. “Besok kita bicara di kantor!”“Hmm.”Udara di antara mereka terasa semakin tegang. Rinjani bisa merasakan panas dari tatapan Brama, tapi dia juga merasakan ketegangan di bahu Jagat sudah pasang badan di depannya.Brama pergi meninggalkan Rinjani di sana bersama Kiara. Rinjani menghembuskan napas panjang.“Kita pergi?” tanya Jagat.Jagat mengangguk, lalu dengan sengaja meletakkan tangan di punggung Rinjani, membimbingnya pergi.Saat mereka sudah cukup jauh, Jagat menghela napas. "Kamu baik-baik saja?"Rinjani mengangguk, tapi senyumnya terlihat terpaksa. "Aku nggak papa. Maaf, membuat kamu terseret masalah ini.”Jagat memandangnya dengan serius. "Its okay. Aku nggak masalah. Masih ... sulit melihat dia sama perempuan lain?”Rinjani tertegun.

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status