Di waktu yang sama, di Kahyangan Barat...Zeus duduk di singgasana Raja Dewa di temani beberapa pelayan yang mengelus-elus lengan kekarnya. Kedua matanya yang menyala putih menatap kedepan dimana berlutut dua sosok pria bertubuh tinggi besar denga jubah hitam dan penutup wajah alias topeng."Bagaimana? Apakah kalian menemukan keberadaan Afrodit?' tanya Zeus sambil menatap tajam.Dua sosok itu mengangkat kepala mereka."Kami tidak dapat menemukannya Yang Mulia...Dia menghilang di kawasan Kerajaan Panjalu. Kami mencoba mencaritahu tapi tetap tak bisa menemukan jejaknya..." kata salah satu sosok yang di sebelah kanan.Kedua mata Zeus berkilat mendengar jawaban yang tidak dia inginkan tersebut. Jari telunjuk nya mengarah ke pria yang baru saja berkata tersebut. Lalu dari dalam jarinya itu keluar satu kilat putih terang yang melesat dalam waktu kurang dari satu detik.Crrrrttt!Cssss!Petir kecil itu menembus jantung pria yang tadi berkata membuat pria itu tumbang ke depan.Bruuugh!"Benar
Herakles, Perseus dan Triton sama-sama saling pandang mendengar Dewa Zeus mengatakan perintahnya kepada mereka."Apakah kau ingin memicu perang antar kahyangan?" tanya Perseus yang memiliki sifat lebih bijak dibanding dua orang lainnya. Hal itu dikarenakan dia hidup di dalam Kerajaan bersama ibunya. Sedangkan Herakles hidup di alam liar tanpa perhatian dari orang tuanya sehingga dia lebih garang dan hanya dengan bertarung semua akan mudah di selesaikan. Sementara Triton hanya diam menanti keputusan pasti."Aku tahu, ini akan memicu perang. Tapi aku memang menginginkannya karena kawan lamaku Siwa diinjak-injak oleh manusia setengah dewa itu," kata Zeus sambil tersenyum aneh."Jadi, turnamen ini bukan ajang untuk mencari siapa yang terkuat? Aku sedikit tak menyukainya jika kau membuat maksud terselubung di Turnamen berkelas seperti ini. Apakah kau yakin, ayah?" tanya Perseus lagi.Kali ini mata Zeus nampak menyala putih karena kesal Perseus tidak langsung menyetujui perintahnya. Herakle
Zeus diam tak menjawab pertanyaan dari anaknya tersebut. Yang menjadi pusat perhatiannya adalah bagaimana cara mengambil Jarum Penghancur Surga yang saat ini ada di tangan anaknya tersebut tanpa harus bertarung. Karena jika dia bertarung, akan memancing Dewa dewi yang lain. Bukan tidak mungkin mereka yang tidak suka padanya akan membantu Perseus dan bersekongkol menghancurkan dirinya."Hmmmm...Aku sendiri tidak tahu kenapa aku harus berurusan dengan Dewi Gaia dan Dewi Malam. Mengenai nama yang terakhir itu, aku akui, aku takut kepadanya. Karena dia bukan Dewa seperti kita semua. Dewi Malam adalah salah satu Pencipta yang masih ada dan terlihat. Dia itu Dewa Kuno yang memiliki kemampuan luar biasa dan bahkan mampu menjadikan diriku sebagai binatang peliharaannya..." kata Zeus membuat Perseus dan yang lainnya sama-sama terdiam."Dia sekuat itu...? Pantas saja ayah yang suka pamer ini takut kepadanya..." batin Perseus."Aku tak akan mengincar Jarum di tanganmu. Kau tenang saja. Lagipula
Bara Sena memejamkan kedua matanya sambil duduk bersila. Malam ini dia akan mengikuti perjamuan malam yang diadakan oleh pihak Kerajaan untuk menyambut para tamu penting dari 3 kahyangan. Dia tak menyangka sebelum acara itu dimulai, dia sudah kebanyakan makan dan minum di rumah makan bersama Gandi Wiratama."Bocah itu sengaja membuatku makan banyak agar tidak bisa ikut acara makan malam di Istana..." batin Bara."Jadi kau akan pergi kesana? Apakah kau tidak akan mengajakku?" terdengar suara merdu seorang wanita dari dalam ruangan di rumah kecil tersebut."Kau ingin ikut? Apakah kau tidak takut menunjukkan batang hidungmu didepan banyak Dewa? Mereka bisa menganggap ini sebagai pelanggaran karena aku membawa seorang wanita. Tidak hanya itu, akan ada banyak lagi gadis yang kesal dan cemburu padamu." kata Bara sambil tetap memejamkan mata.Wanita yang tak lain adalah Lian Xie itu masuk kedalam ruangan dimana Bara tengah duduk bersila."Aku penasaran, siapa saja yang akan ikut dalam perjam
Bara Sena benar-benar tidak menyangka akan mendengar perkataan yang mengejutkan dari Mahadewa Jaka Geni tersebut. Dia sama sekali tak mengerti apa alasan Jaka Geni mengatakan hal seperti itu kepadanya. Terutama mengenai orang yang akan menusuk dari belakang. Bahkan Mahadewa itu tak mempercayai anak dan istrinya. "Apa maksudmu? Siapa yang berani menusukmu dari belakang? Kau tidak sedang bercanda bukan?" tanya Bara. Jaka Geni tersenyum. Dia menepuk bahu pemuda tersebut lalu berkata, "Aku tak bisa mengatakan rincian permasalahannya. Karena itu hanya akan mempercepat laju takdir yang akan aku lalui. Kau tak perlu cemas, aku sudah menyiapkan segalanya. Termasuk kebangkitan ibumu, Azalea," kata Jaka Geni lagi-lagi membuat Bara terkejut. "Kau akan membangkitkan ibuku!?” serunya dengan mata terbelalak tak percaya. Jaka Geni menganggukkan kepalanya. " Aku sudah berjanji pada ayahmu, sebagai tanda rasa terimakasihku padanya. Kuharap ini juga hadiah istimewa untukmu, asal kau tak melupakan
Bara Sena berhenti melangkah didepan bangunan besar itu. Nampak sebuah tulisan beraksara Jawa kuno yang berbunyi 'Pangayom' yang artinya pelindung. Pemuda itu pun melangkah masuk kedalam halaman rumah tersebut dan berhenti di pintu kembar berwarna merah."Masuklah." terdengar satu suara yang membuat Bara tertegun. Padahal dia sudah menyembunyikan aura kekuatan miliknya. Namun orang yang baru saja menyuruhnya untuk masuk bisa merasakan hawa kehadirannya."Sukma Geni ini memiliki kekuatan yang sangat mengerikan. Dia bahkan bisa mengetahui keberadanku padahal aku sudah menghilangkan pancaran tenaga dalamku sebaik yang aku bisa...Ckckck...Benar-benar luar biasa...Tak ada orang yang bisa bersembunyi darinya..." batin Bara."Apakah kau akan berdiam diri terus disana? Aku banyak pekerjaan yang harus di selesaikan." kata wanita tadi sedikit dengan suara tegas. Bara yang terkejut segera melangkah kan kakinya masuk kedalam rumah besar itu.Tak ada sambutan apapun yang mungkin saja akan mengejut
Sukma Geni tertegun mendengar pertanyaan dari Bara Sena. Kedua matanya yang indah dan memiliki warna sedikit ungu itu membesar."Apa yang baru saja kau tanyakan?" tanya Sukma memastikan."Aku tanya sekali lagi, apakah kau mau menikah denganku jika aku memberikanmu Api Abadi milik Yama?" tanya Bara untuk kedua kalinya."Kau tak akan mungkin mendapatkan Api itu darinya. Aku tidak yakin ada yang bisa melakukannya." kata Sukma Geni sambil tersenyum. Meski dia tak yakin pemuda di hadapannya bisa membawakan Api Abadi untuknya, mendengar pemuda itu ingin membawakannya padanya saja sudah sangat menyenangkan. Karena sejauh ini tak ada yang berani berkata seperti itu. Bahkan mendengar api abadi saja mereka sudah sangat ketakutan."Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Aku sudah melalui hal-hal yang tidak mungkin membuatnya menjadi mungkin. Jika kau mau, aku akan berusaha untuk mendapatkan Api itu, sebelum Turnamen Dewa dimulai. Karena setelah Turnamen itu, kita tidak tahu apakah kita bisa
Setelah menemui Lu Xie dan akhirnya apa yang dia inginkan tercapai, Bara Sena bergabung dengan para peserta lainnya di acara jamuan makan malam yang diadakan oleh pihak istana Kerajaan Probo Lintang. Gandi ditemani kedua istrinya Maya dan Sinta sedangkan Bara ditemani oleh banyak wanita yang mengelilinginya. Mereka tak lain adalah kekasih-kekasih sang pemuda dari Zhuo Guo termasuk Lu Xie.Para putra Jaka Geni yang melihat itu merasa kesal dengan apa yang Bara Sena tunjukkan. Seolah mereka tak terima saudara mereka menjadi kekasih pemuda itu. Karena diam-diam mereka juga memiliki perasaan kepada anak Jaka Geni yang lain. Dan perbedaan ibu membuat mereka tidak masalah akan menjalin cinta dengan salah satu dari anak ayahnya. Hanya saja, Jaka Geni tidak menyukai tradisi Dewa yang menikah antar sesama keluarga.Kedatangan Bara Sena dan Gandi Wiratama tentu saja memeriahkan jamuan makan malam tersebut karena mereka adalah dua peserta turnamen yang bukan dari dunia dewa dan keluarga Dewa. An
Bara Sena yang saat itu masih berada di puncak gunung dan tengah mengendalikan Rantai Ungu miliknya terkejut dengan kemunculan 4 Binatang Pemburu Jiwa. Dan kini empat binatang itu bersatu untuk mengalahkan Gandi Wiratama. Jika dia berusaha membantu Raja Naga Air tersebut, maka kendalinya atas rantai ungu akan hilang dan pasukan Mayadwipa yang di pimpin Empat Raja akan bergerak bebas. Dengan jumlah pasukan sebanyak itu, meski lawan mereka adalah seorang Dewa sekalipun, tetap akan kesulitan. Apalagi para prajurit tersebut memiliki kemampuan menyusun formasi yang menyulitkan lawan."Apa yang harus aku lakukan? Sial!" batin pemuda itu kesal karena dia hanya bisa setengah berlutut sambil menapakkan tangannya ke tanah."Kau pasti sudah sangat gatal ingin ikut bertarung bukan? Hahaha!" bisik Iblis Sasaka di dalam kepala Bara."Makhluk yang bersatu itu memiliki kekuatan yang tidak wajar sama seperti Panglima Bayantaka. Keadaan Gandi juga sudah hampir kehabisan tenaga setelah mengerahkan pasuk
Lingkaran biru itu muncul tepat di belakang Sri Wedari. Tak lama kemudian Gandi muncul dan memegang bahu wanita Naga tersebut. Seketika wujud wanita itu kembali seperti semula seolah kekuatan sisik naga telah diambil kembali oleh pemiliknya. Sri Wedari hanya bisa terkejut dan tak bisa berbuat apa-apa karena tubuhnya terasa kaku."Jangan berbuat hal bodoh. Aku tak mengijinkan itu. Lebih baik kau rawat mereka yang terluka dengan kemampuan milikmu. Biarkan anjing ini aku yang hadapi." kata Gandi dengan suara yang membuat tanah bergetar.Sri Wedari tak bersuara sama sekali dan hanya bisa menunduk. Dia mundur secara perlahan dan membiarkan Gandi yang maju untuk menghadapi manusia anjing tersebut.Melihat Gandi yang muncul menggunakan portal gaib, kedua mata binatang Pemburu Jiwa itu pun menyala merah menatap tajam kearah Gandi."Bisa menciptakan portal gaib? Itu artinya dia adalah seorang Dewa Tingkat Atas. Kalau begitu, jiwanya pasti lebih nikmat dibanding yang lainnya, kekeke..." ucap ma
Pragasena bersama Banyu Segara dan Sri Wedari sama-sama merasakan tekanan dari hawa membunuh binatang Pemburu Jiwa yang tengah murka tersebut. Tekanan itu bahkan membuat mereka hampir jatuh berlutut karena saking kuatnya."Gila! Hanya aura membunuh saja sudah sekuat ini!" seru Pragasena."Makhluk ini sangat kuat...! Bagaimana dengan Iblis bernama Mayadwipa yang memelihara mereka!?" sahut Banyu Segara."Aku tak bisa menjawab hal itu. Yang jelas, dia telah menaklukkan seluruh makhluk hidup di Tanah Kutukan ini kecuali diriku." kata Pragasena membuat Banyu Segara terdiam seketika."Kalau benar begitu, Mayadwipa adalah musuh yang sangat berbahaya..." kata Sri Wedari.Pragasena dan Banyu Segara sama-sama saling pandang dan tak berkata apa-apa. Tiba-tiba dari arah langit muncul sinar merah membara yang menderu kearah mereka. Dengan cepat Pragasena segera mengerahkan tenaga dalamnya dan melepaskan Pukulan Sakti miliknya ke atas. Banyu Segara pun ikut membantu. Kecuali Sri Wedari yang bergera
Ratusan ribu pasukan air milik Gandi menerjang pasukan Ratu Mayadwipa. Peperangan tak dapat dielakkan lagi. Para dewa yang membantu Bara dan Gandi pun mengamuk begitu sampai di kaki gunung. Karena kaki pasukan sebanyak itu terikat oleh rantai ungu milik Bara, dengan mudah para pasukan air membunuh mereka menggunakan Pedang maupun tombak.Para Raja yang melihat itu nampak geram namun tak bisa berkutik karena rantai ungu yang melilit tubuh mereka. Dalam sekejap mata, ribuan bahkan puluhan ribu prajurit Mayadwipa tewas di tangan pasukan air dan para dewa yang menyerang mereka secara serempak. Mayat berjatuhan dalam keadaan terpenggal kepalanya atau pun terpotong tubuhnya. Banyak pula yang mati karena luka tusuk dan anak panah air yang menancap bagaikan besi.Keadaan yang tak menguntungkan tersebut memaksa para Raja mengeluarkan bekal rahasia yang dibawa dari Kerajaan Mayadwipa."Lepaskan semua peliharaan Ratu! Biarkan mereka mengamuk!" teriak Raja Agra memberi perintah kepada tiga Raja l
Xue Ruo berniat untuk menerobos pertahanan lawan yang masih berjarak belasan ribu tombak dari puncak gunung tersebut. Namun dia masih menahan diri melihat Lian Xie memegang pundaknya."Tahan dulu amarahmu. Jika kau kesana sekarang, bisa jadi kau akan masuk ke dalam perangkap orang-orang aneh yang baru saja datang melalui celah ruang." kata Lian Xie mengingatkan.Xue Ruo pun menuruti apa kata Lian Xie. Bagaimana pun juga, dia merasa tidak perlu meluapkan amarah tanpa berpikir panjang. Karena dia pernah mengalami hal yang buruk akibat kecerobohannya tersebut. Wanita itu akhirnya bisa menahan diri dan menunggu saran dari Lian Xie yang dirasa lebih bijaksana dalam mengambil keputusan.Pasukan Raja Agra bersama para pengawal istana mulai bergerak maju. Lingkaran hitam raksasa pun ikut bergerak kearah gunung mengikuti langkah para prajurit yang berjumlah ratusan ribu. Para Raja yang lain pun ikut bergerak dengan perintah di tangan Raja Agra melalui telepati.Hu Shi Yun menoleh kearah Rui Y
Wung!Sepuluh Pedang Es raksasa meluncur dari atas langit menuju ke bawah sana dimana ratusan ribu prajurit manusia iblis terpana dibuatnya. Raja Agra pun terpaku sejenak karena hantaman gelombang petir merah masih belum usai ditambah serangan mematikan sadari atas langit."Kekuatan apa yang sebenarnya kami hadapi? Apakah ini alasan Ratu mengutus setengah prajurit Kerajaan ke tempat ini? Karena lawan memiliki kekuatan yang mengerikan..." batin Raja Agra.Tiba-tiba muncul pecahan ruang di atas ratusan ribu pasukan tersebut. Lalu keluar beberapa sosok dari dalam pecahan ruang tersebut dan langsung mengayunkan senjata mereka kearah langit.Wusss!Tiga sinar putih menderu membentuk sabit raksasa. Lian Xie terkejut merasakan aura kuat dari serangan tiga sosok yang baru saja muncul tersebut. Dan ternyata benar, serangan itu memang sangat kuat. Itu terbukti saat tiga cahaya berbentuk sabit tersebut membabat putus tiga pedang es raksasa milik Dewi Es Lian Xie. Setelah itu terciptalah ledakan
Dewi Es Lian Xie mendengus geram melihat apa yang tengah dilakukan oleh para prajurit bawahan Raja Agra. Lu Xie yang juga melihat hal itu tak tinggal diam. Dia berniat untuk membantu wanita tersebut menggunakan kemampuan petir merah miliknya."Jangan membantuku Lu Xie! Biarkan aku yang menangani para serangga ini. Kau tetap ditempat dan menjaga mereka berdua. Aku yakin, musuh mengincar Gandi dan Bara yang membawa pusaka dari Bayantaka dan reruntuhan Kuno." kata Lian Xie.Lu Xie mengangguk dan tetap berada di tempatnya sambil menatap kearah langit dimana puluhan lingkaran portal muncul dan mengeluarkan Pedang Es raksasa."Wanita ini, dia memiliki banyak kekuatan yang tak terbayangkan olehku..." batin Lu Xie.Para Raja yang lain yang juga melihat lingkaran biru tersebut segera saling berhubungan melalui telepati jarak jauh. "Apa yang terjadi di wilayah Agra?" tanya Raja Ungrama."Ada Dewa dengan kekuatan es yang menjadikan kami sasaran Pedang Es raksasa miliknya. Saat ini kami akan ber
Belasan ribu tahun yang lalu, seorang wanita dari ras Iblis bernama Mayadwipa atau yang disebut sebagai Tujuh Iblis Kehancuran datang ke tanah kutukan yang ada di dalam wilayah Kerajaan Naga Air dan menaklukkan Kerajaan manusia iblis serta binatang Iblis di sana. Para Raja Manusia Iblis yang menyerah pun menjadi bawahan sang Wanita Iblis yang memang memiliki kekuatan sangat mengerikan. Tidak ada satu pun Raja Kerajaan dari ras manusia iblis maupun ras bintang Iblis yang mampu melawan Ratu Mayadwipa sehingga mereka pun dipaksa untuk tunduk kepada wanita Iblis tersebut.Para Raja tidak menyadari, bahwa waktu itu Mayadwipa datang dalam keadaan tengah terluka setelah pertarungannya melawan Sasaka. Kedatangannya telah mengubah pandangan dua ras tersebut terhadap Pencipta mereka, yakni Empu Jagat Martapura yang kala itu sudah melemah setelah menciptakan Tombak Banyu Biru dan senjata terakhir sebagai kuncinya, yakni Pedang Pembuka Kehidupan.Setelah Empu Jagat meninggal, Mayadwipa pun menjad
Bara dan Gandi sama-sama duduk bersila untuk memulihkan diri setelah pertarungan besar yang mereka lakukan sementara para pengikut mereka berjaga di berbagai titik di atas puncak gunung. Kedua pemuda itu duduk di tengah lahar yang mendidih dimana tepat di bagian tengah nya ada sebongkah batu raksasa yang mereka gunakan untuk duduk.Pragasena, Dara Purbavati bersama dua Naga Penjaga Banyu Segara dan Sri Wedari ikut menjaga di atas puncak gunung di sisi sebelah timur. Iblis Mata Perak Du Khan melayang di udara sendiri sambil sedekap tangan dan kedua mata yang tertutup. Sementara, Dewi Es Lian Xie berada di sebelah barat bersama Lu Xie nampak berjaga-jaga sambil mengawasi sekitar.Hu Shi Yun dan Rui Yun berdiri di sisi sebelah selatan. Sedangkan Xue Ruo berada di sisi utara bersama Du Khan namun dia duduk bersila di bawah sementara Iblis Mata Perak itu melayang di udara."Apa kau merasakannya Nona Xue?" tanya Du Khan melalui telepati."Apa yang kau rasakan? Aku tak merasakan apa pun," ta