Tubuh Gandi terpental setelah bahu kirinya terkena cahaya hijau tersebut. Raksa Geni yang tengah ditekan oleh pemuda itu dan Pedang Guntur Saketi pun akhirnya bisa melepaskan diri dari kepungan. Dia menggerakkan pedang Maharaja sedemikian rupa sehingga pedang Guntur Saketi yang tengah menekannya melesat ke samping lalu melesat turun ke bawah sana disertai aura petir putih kebiruan.Blaaaarrr!!!Saat Pedang ciptaan Batara Narada itu menghantam tanah, ledakan petir yang cukup kuat pun terjadi. Gelombang petir menyebar di bawah sana. Raksa Geni menatap pedang yang baru saja menyulitkan dirinya tersebut."Kekuatan Pedang Guntur Saketi memang luar biasa..." batin pria muda itu.Gandi yang baru saja mendapat serangan merasa aneh dengan tubuhnya. Saat dia melirik kearah bahu kirinya, dia melihat aura hijau yang seperti tengah mengikis sisik biru miliknya."Racun yang mengerikan...Apakah ini kekuatan Candrika yang sebenarnya?" batin pemuda itu sambil menatap ke arah tumpukan tanah longsor yan
Gandi yang melayang di udara menatap kearah Raksa Geni yang juga sama-sama tengah menatapnya. Nawang Geni merasa, Raksa Geni dalam bahaya. Dia segera mengeluarkan senjata andalan miliknya, yakni Tombak Tujuh Samudra. Yao Ling yang melihat hal itu segera memberitahu Nawang Geni melalui telepati."Adik Nawang! Jangan gegabah! Pertarungan ini adalah milik mereka. Jika kau ikut campur, kau juga bisa dalam bahaya!" Nawang Geni terkejut mendengar telepati dari Yao Ling. Dia menatap kearah pria itu."Tapi Raksa Geni dalam bahaya...Jika dia mati, kelompok kami tak ada lagi kekuatan yang bisa membuat kami bertahan!" sahut Nawang Geni."Jika kau ikut campur, aku pun tak akan tinggal diam. Adik Nawang, jangan turuti pemikiranmu. Biarkan mereka bertarung seperti yang mereka inginkan. Sejak awal, Raksa Geni lah yang memaksa Gandi untuk bertarung. Padahal niat Gandi dan kami kelompoknya memang benar ingin membantu kalian mengalahkan para iblis disana. Tapi sayang, Raksa tiba-tiba saja menjadi aneh
Gandi mengangkat Pedang Guntur Saketi miliknya. Aura petir menyambar dari atas langit dan masuk kedalam Pedangnya. Lalu kemudian Raja Naga Air tersebut mengibaskan pedangnya sehingga kekuatan petir itu melesat keluar dan menyambar ke arah Raksa Geni. Denga cepat anak Dewi Ambarwati itu melompat menghindari sambaran petir yang begitu kuat.Duaaarr!Tanah dimana sebelumnya dia berada hancur setelah tersambar kekuatan petir. Raksa Geni berhasil menghindar, namun Gandi sudah menghadang di depannya dan langsung menebas dengan cepat dan bertenaga. Raksa Geni hanya sempat bergerak untuk menahan serangan menggunakan Pedang Maharaja tanpa sempat mengeluarkan tenaga dalam. Alhasil, tubuhnya pun terpental jauh hingga menabrak tebing yang telah hancur.Dum!Tubuh Raksa terbenam didalam tanah. Gandi mengangkat tangan kirinya. Aura biru muncul dari dalam telapak tangannya membentuk bola air. Namun belum sempat dia melancarkan serangan kembali, dari dalam tanah yang ada di depan sana muncul Pedang M
Raksa Geni menatap tak berkedip melihat sepasang Naga biru yang berukuran lebih besar dari Raksasa Argapura. "Mustahil...kekuatan ini...Apakah benar-benar kekuatan miliknya? Bahkan dua Naga itu membuat Raksasa Argapura terdiam saat melihatnya..." batin Raksa Geni.Mata biru dari dua Naga tersebut menatap kearah Raksasa Argapura. Mahkota emas yang ada di atas kepala dari makhluk tersebut menyala terang sebelum keduanya sama-sama membuka mulut dan langsung menyemburkan bola air raksasa kearah Raksasa Argapura tersebut.Mendapat serangan langsung dari sepasang naga, raksasa bertubuh merah itu tak bergeming. Kedua tangannya bergerak mendorong ke depan. Bola air raksasa pun datang menghantam.Terdengar suara gemuruh yang dahsyat saat dua bola air itu menghantam kedua tangan Raksasa Argapura. Air bah pun melanda tempat tersebut menjadi layaknya sungai besar.Makhluk penghuni Pedang Maharaja itu nampak tak bergeming meski baru saja menahan serangan kuat dari sepasang Naga Biru. Dia mendengu
Raksa Geni terkejut susunan formasi yang sudah hampir terbentuk secara sempurna tiba-tiba diserang rantai merah raksasa hingga hancur. Begitu juga dengan Gandi yang tak menyangka ada orang lain yang membantu dirinya. Melihat susunan formasi yang hancur, dua Naga biru yang ada di atas Gandi langsung berpisah. Naga jantan melesat kearah Raksasa Argapura sedangkan Naga betina melesat ke langit untuk menghancurkan gerombolan makhluk hitam bersayap kelelawar.Gandi pun tak tinggal diam. Dengan Pedang Guntur Saketi di tangan, tubuhnya melesat kearah Raksa Geni. Karena senjata Pedang Maharaja miliknya saat ini tengah menjelma menjadi raksasa, tak ada pilihan lain bagi Raksa untuk menggunakan senjata lain yang dia miliki sebelum mendapatkan Pedang Maharaja dulu. Yakni Cemeti Pembakar Jiwa.Ctaarrr!Gandi terkejut karena cambuk merah menyala itu hampir saja mengenai dirinya seandainya dia tidak cepat menghindar."Senjata apa lagi yang dia miliki!?" batin Gandi sambil menahan tubuhnya yang men
Bara Sena tertawa lebar melihat Gandi yang melotot ke arahnya. "Kau kurang cerdik Gandi! Aku yang mendapatkannya lebih cepat darimu!" kata Bara lalu tubuhnya menghilang begitu saja masuk kedalam pusara aneh. Gandi, Yao Ling, Lu Xie, Raksa Geni dan Nawang Geni sama-sama terkejut melihat Bara yang menghilang menggunakan pintu gaib. Mereka sama sekali tak menyangka dengan kemunculan Bara Sena di tempat tersebut."Apakah sejak tadi dia mengamati pertarungan ku melawan Raksa Geni? Sialan...! Mencuri buruan kami tepat di depan mata kami...!" geram Gandi namun dia tak bisa berbuat banyak. Kekuatan jiwanya telah menipis. Dia harus memulihkan diri untuk sementara waktu. Raksa Geni dan Nawang Geni pergi dari tempat tersebut meninggalkan kelompok Gandi yang masih berada disana."Apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Yao Ling setelah Gandi melayang turun."Tak ada yang bisa kita lakukan. Mengejar Bara sama saja mencari mati. Karena Zhou Yin dan Sukma Geni pastinya tidak berada jauh dari t
Istana itu terlihat begitu megah namun memiliki kesan angker karena warna dari bangunan menjulang tinggi tersebut nampak gelap dan memiliki aura yang mencekam. Ditambah tempat di sekitarnya yang mengerikan karena bangunan besar tersebut berada di atas lahar puncak gunung berapi. Sesekali lahar tersebut meletup dan menciptakan pijaran api yang membuat ngeri siapa pun yang melihatnya.Seorang pria bertubuh tinggi besar, berjubah hitam dan nampak sepasang Tanduk hitam di keningnya berdiri di atas loteng dari menara istana sambil menatap kearah tebing setinggi ratusan tombak yang mengelilingi istana tersebut."Aku merasa ada yang salah dengan Wu Chen, Giok ini hancur..." gumam pria tersebut sambil mengelus jenggot panjangnya dan menatap Giok merah yang pecah menjadi beberapa bagian.Dari arah belakang terdengar suara langkah kaki berat beberapa sosok. Mereka langsung berlutut di belakang pria berjenggot panjang tersebut."Salam untuk Yang Mulia Kaisar Iblis!" terdengar suara dari tiga sos
Altar luas dan banyak pilar besar berdiri mengelilinginya menyambut kedatangan Bara Sena dan kelompoknya yang akhirnya berhasil masuk ke dalam Benteng Kerajaan Binatang Surgawi. Lagi-lagi mereka menggunakan penyamaran untuk bisa masuk kedalam Kerajaan tersebut.Karena semua penghuni Kerajaan itu memiliki Tanduk rusa, Bara dan yang lainnya pun menggunakan Tanduk rusa yang mereka bunuh untuk menyamar. Ketiganya pun menekan aura kekuatan jiwa mereka agar tidak dicurigai oleh para penghuni kerajaan."Ada apa sebenarnya di tempat ini? Kenapa mereka semua berkumpul di Altar besar?" tanya Bara kepada salah satu penduduk di dalam benteng raksasa yang ada di tengah Lembah tersebut."Beberapa saat yang lalu, Pemimpin suci kami menghilang. Kaisar Suci yang memiliki Giok es untuk mengetahui keadaan pemimpin suci memberitakan bahwa Giok es telah hancur pertanda pemimpin suci kami telah tiada." kata pria bertanduk rusa. Bara melihat pria itu hanyalah makhluk biasa yang tak memiliki harga sama sekal
Taman kecil itu di kelilingi pilar-pilar biru yang bercahaya. Setelah Bara dan ketiga wanitanya masuk ke dalam taman mengikuti langkah Ki Jogo Segoro, entah mengapa mereka merasa tenang dan nyaman di tengah taman kecil yang ditumbuhi bunga-bunga berdaun biru tersebut.Ki Jogo Segoro nampak menghampiri sesuatu di kolam kecil yang berisi air dan ikan berbentuk aneh. Dari mulut pria itu terdengar suara yang tidak jelas dengan bahasa yang tidak Bara mengerti sama sekali. Setelah sesepuh Padepokan yang paling dituakan itu selesai bicara dengan bahasa aneh tersebut, sepasang ikan aneh yang ada di dalam kolam kecil tiba-tiba meluncur dari dalam air dan terbang ke atas lalu berputar di udara membantu lingkaran bercahaya biru redup."Pintu gerbang menuju ke tempat Harta Kerajaan Naga Air telah terbuka. Silahkan Tuan Bara dan Para Dewi..." kata Ki Jogo Segoro mempersilahkan keempat tamu istimewa itu masuk ke dalam portal biru.Bara pun masuk ke dalam sana bersama tiga kekasihnya disusul Ki Jogo
Bara menoleh kearah pria tua yang terlihat berkeringat wajahnya saat hendak menemui dirinya. Pemuda itu tahu bahwa pria Naga yang tak lain adalah Ki Jogo Segoro itu tengah menahan perasaan anehnya mengahadapi Bara yang dia ketahui bahwa pemuda itu adalah sang Dewa Iblis Asura."Tuan muda Bara Sena, anda sudah memenuhi syarat untuk masuk ke dalam Padepokan kami. Jadi, Yang Mulia memberikan ijin kepada tuan untuk memasuki Padepokan dan tentu saja ke tempat Rahasia kami yang hanya dibolehkan untuk Tamu Istimewa Raja kami," kata Ki Jogo Segoro sambil memberi hormat dengan menyatukan kedua telapak tangan di depan dada."Tempat rahasia? Sepertinya menarik...Tapi, aku menunggu tiga kekasihku sampai, bukankah mereka terasa sedikit lebih lama?" kata Bara sambil menoleh kearah gapura Naga kembar."Tiga kekasih...?" batin Ki Jogo Segoro yang tak menyangka pemuda di hadapannya memiliki tiga kekasih yang dibawa ke Padepokan tersebut. Dan tak lama setelah Bara berkata seperti itu, tiga wanita berpa
Bara melesat kearah Naga bertubuh besar yang tengah mengerahkan kekuatan penuh miliknya. Tinju pemuda itu menghujam ke arah punggung sang Naga dengan cepat. Namun Bara lupa, Naga itu telah menyebar aura hingga dalam jarak tertentu dia bisa melacak hawa kehadiran Pendekar Golok Iblis tersebut."Ketemu kau!" teriak Naga itu sambil menoleh dan secara tiba-tiba melayangkan tinjunya kearah Bara yang masih menggunakan Jurus Hantu Menari,Dssss!Bara menahan serangan tersebut menggunakan kedua tanganya. Tubuhnya terpental ke belakang hingga beberapa tombak. Jurus yang dia gunakan pun memudar setelah dia menahan serangan sehingga Naga bertubuh besar itu bisa melihat dengan jelas keberadaan Bara Sena. Tak menunggu Bara mendarat di lantai, dia yang geram karena ketiga rekannya telah dikalahkan segera meluncur dengan satu teriakan keras.Gelombang biru disertai suara bergemuruh menderu kearah Bara bagaikan ombak di lautan lepas. Pemuda itu segera mengerahkan kekuatan es miliknya untuk menyerang
Bara Sena terkejut melihat rantai biru yang mengejar dirinya. Tak memiliki pilihan lain untuknya selain melawan jurus gabungan tersebut dengan segenap kekuatannya yang dia miliki saat ini. Pemuda itu menggerakkan tangannya membentuk rapalan. Lalu dia pun mengarahkan tangannya tersebut ke arah enam Rantai Biru yang mengejarnya. Dari dalam telapak tangan Bara keluar gelombang api merah yang menderu ke arah rantai biru. Melihat kekuatan api tersebut, empat Naga yang berada di bawah terkejut melihat kekuatan api milik Bara."Api Tingkat Neraka! Kerahkan semua kekuatan yang kalian miliki!" teriak Naga bertubuh besar.Mereka berempat pun melipatgandakan tenaga dalam sehingga membuat rantai biru mengeluarkan cahaya yang cukup terang. Gelombang api pun menghantam rantai-rantai tersebut dengan dahsyatnya.'Wosssshhhh!!!Semua Naga yang melihat nampak takjub dengan perlawanan Bara meskipun dirinya telah terkunci oleh serangan Formasi Penjerat Iblis yang tengah dikerahkan oleh empat murid terat
Bara melangkahkan kakinya di tangga yang terakhir dengan perasaan senang karena akhirnya dia bisa melewati 1000 anak tangga dengan susah payah. "Kekuatan jiwaku meningkat meski tidak terlalu pesat. Yang paling menakjubkan adalah kekuatan luarku yang aku pikir-pikir lebih kuat dari sebelumnya saat aku masih memiliki kekuatan dewa. Apakah ini keberuntungan tersembunyi dari Tangga Penguji Jiwa ini?" batin Bara.Begitu dia menginjak kan kaki di lantai batu yang berwarna biru, dia terkejut saat melihat puluhan pria dan wanita yang berdiri di depan sana sambil menatapnya dengan pandangan mata yang menyorot tajam bagai Pemburu yang mengincar mangsanya."Apa-apaan mereka ini? Bukankah mereka adalah para murid di Padepokan Naga Air? Kenapa mereka menyambutku dengan tatapan seperti itu seolah-olah aku adalah buronan!" batin Bara sambil membalas tatapan mata mereka semua tanpa rasa takut.Pandangan mata Bara terhenti di satu sosok bertubuh besar dengan rambut yang sudah memutih. Sosok yang tak
Gandi menganggukkan kepala dan tersenyum melihat wajah Ki Jogo Segoro yang terlihat pucat."Tapi Yang Mulia, bukankah dia adalah tamu anda? Ditambah, dia buka seorang Iblis bukan?" tanya pria tua tersebut."Kau akan tahu saat Formasi itu dinyalakan. Aku akan mengawasi untuk berjaga-jaga seandainya dia mengamuk," kata Gandi membuat Ki Jogo Segoro penasaran."Memangnya dia sekuat apa sampai Yang Mulia sendiri yang akan mengawasi? Apakah kemampuan para guru di Padepokan ini tidak meyakinkan menurut Yang Mulia?" tanya Ki Jogo sedikit tidak enak karena merasa Rajanya telah meremehkan kemampuannya dan juga para guru di Padepokan Naga tersebut meski mereka rata-rata masih berada di Ranah Alam Cakrawala."Bukannya aku tak percaya kepada kalian. Asal kalian tahu, pria ini hampir saja mengalahkanku dengan telak saat Turnamen Probo Lintang berlangsung." kata Gandi lagi-lagi membuat Ki Jogo Segoro terkejut setengah mati. Dia pun tak berani mengajukan pertanyaan lagi setelah tahu bahwa pria yang a
Begitu kaki Bara memasuki gapura tersebut, dia merasakan tekanan yang kuat dari arah depan. Pemuda itu tersenyum merasakan hembusan angin yang kuat dari arah bukit yang berada di atasnya tersebut."Kita berada di jalan yang benar," kata Bara sambil melangkah terus ke depan dengan perlahan."Kekuatan ini masih kecil untuk kita hadapi. Tapi mungkin cukup menghibur untukmu." kata Lian Xie yang melangkah di belakang Bara. Pemuda itu menyeringai kecil."Mungkin yang dimaksud sambutan oleh belut biru itu. Tak masalah jika dia ingin menghiburku, tapi dia seharusnya tahu dampak yang akan ditimbulkan jika ingin menghibur diriku," kata Bara sambil terus melangkahkan kakinya di atas tangga tak terlihat. Hembusan angin tersebut semakin kuat saat Bara dan yang lain semakin naik ke atas hingga membuat langkah pemuda itu semakin perlahan. "Ini baru setengah jalan, tapi hembusan itu sudah membuat langkah kakiku menjadi pelan...Sepertinya ini benar-benar bisa menghiburku..." ucap Bara sambil terseny
Gandi yang mendengar suara tersebut tertegun dibuatnya. "Tombak Banyu Biru...Itu adalah pusaka kuno dari Naga Air yang sudah lama menjadi cerita legenda. Sampai sekarang aku sendiri tidak tahu sama sekali bentuknya seperti apa." batin Gandi sambil menatap raut wajah Bara yang nampak terbelakak setelah membaca catatan kuno berasal dari neraka tersebut."Luar biasa...! Jadi, Yama memiliki beberapa benda Surgawi...Dan salah satunya ada di tanganku Hahaha! Aku penasaran bagaimana raut wajahnya setelah tahu bahwa benda itu ada di tanganku," ucap Bara sambil menyeringai."Tapi sebaiknya kau juga berhati-hati. Bukan tidak mungkin Dewa Yama akan mengirim pembunuh untuk memburumu setelah keberadaan Kotak ini diketahui olehnya. Selama ini benda itu tersembunyi sehingga luput dari pandangan matanya. Tapi, kau baru saja menggunakannya hingga membuat fenomena alam yang cukup menghebohkan. Dia pasti merasakan keberadaan harta miliknya yang telah lama hilang," kata Gandi memperingatkan.Bara tersen
Bara terkagum-kagum pada tubuhnya sendiri yang mengalami perubahan begitu banyak. Bahkan dia sangat pangling dengan tampangnya sendiri yang kini menjadi lebih tampan dan bersinar. Saat dia menatap wajahnya, ada perasaan yang tak asing seolah dia pernah melihat wajah tersebut namun entah dimana."Apakah ini dampak dari kekuatan sejati yang sangat murni hingga semua kotoran jiwa milikku terhapuskan? Kalau benar begitu, bukankah ini sangat luar biasa?" batin Bara lalu dia pun tersenyum saat mengingat bagaimana tiga wanita yang ada di luar kamar itu terpana melihat perubahan pada dirinya.Pemuda itu pun melangkah keluar dari dalam kamar sambil tersenyum senang. "Ternyata kalian terkejut karena perubahan pada diriku...? Tapi aku tetaplah Bara yang sama," kata Bara sambil mendekati tiga wanita cantik tersebut."Jujur saja aku memang terkejut dengan penampilan kakak yang berubah hingga membuatku hampir tak mengenalimu...Tapi kakak memang terlihat sangat tampan saat ini dan aura Dewa milik k