Happy Reading*****Amir menggelengkan kepala dan tersenyum. Keluar kamar, bersegera membersihkan diri. Namun, baru saja dia menutup pintu, mata Laila sudah melotot. "Nggak usah macem-macem sama menantu Mama. Mau dapet jeweran?" kata Laila. Kedua tangannya menyilang di depan dada. Khas emak-emak yang lagi memarahi anaknya. "Apa lho, Ma?" Amir mulai bingung dengan kemarahan Laila yang tiba-tiba. Perasaan, lelaki itu tidak memiliki salah apa pun pada perempuan yang telah melahirkannya.Perempuan paruh baya itu langsung menjewer salah satu telinga putranya. "Mama lihat adeganmu sama Kiran tadi. Nggak tahu dia lagi berduka main nyosor aja. Tahan sedikit lagi, memangnya nggak bisa?"Ish, Mama. Cuma gitu aja masak nggak boleh. Lagian ngapain Mama ngintip suami istri yang lagi berduaan di kamar," protes Amir"Mama nggak ngintip," elak Laila."Terus kalau nggak ngintip, kok, Thu aku sama Kiran lagi gituan."Jeweran Laila makin menjadi akibat ulah Amir sendiri. "Kamu aja yang nggak mau nutup
Happy Reading*****"Apaan, sih, Mas," jawab Kiran. Dia melepas mukenanya, tetapi tidak dengan jilbab. Penutup kepala yang biasa dia gunakan masih bertengger, menutupi mahkota kepalanya. Amir tersenyum puas ketika rona kemerahan mulai menghiasi pipi sang istri. "Kalau kayak gini, aku makin sayang, deh.""Hmm," jawab Kiran. Perempuan itu lantas naik ke pembaringan. Amir pun mengikuti sng istri. Kiran berbaring menghadap arah berlawanan dengan sang suami. Memakai pakaian lengkap beserta jilbab yang masih enggan ditanggalkannya. Di tengah kegugupan hati, dia merasakan pergerakan ranjangnya. "Sayang, kamu nggak gerah tidur pake jilbab seperti itu?" tanya Amir yang sudah menghadapkan wajah tepat di atas kepala sang istri yang memunggunginya. "Enggak," jawab Kiran. Kedua tangannya ditaruh di bawah pipi. Kakinya sedikit ditekuk tanpa berani menatap sang suami. Amir menyentuh lengan istrinya. Mengecup ubun-ubun Kiran. "Apa yang kamu takutkan sampai nggak mau melepas jilbab?""Aku nggak t
Happy Reading*****Pagi menjelang, Kiran membuka mata dan melihat sang suami yang masih menutup mata. Perlahan, gadis itu menyusuri wajah Amir tanpa berani menyentuh. Walaupun tangan Kiran tidak menyentuh wajahnya, tetapi Amir bisa merasakan setiap gerakan sang istri. Lelaki itu pun membuka mata. "Kenapa nggak langsung dipegang saja?" "Mas," kata Kiran, tersipu. Menyingkap selimutnya, bersiap turun dari pembaringan."Sayang, jangan turun dulu. Kasih morning kiss, dong.""Genit, ih." Setengah berlari, Kiran meninggalkan suaminya. Suasana sarapan di rumah Nur saat ini terasa sangat ramai. Sekalipun dalam keadaan berkabung, tetapi berkat kehadiran Naumira, mereka semua bisa tersenyum. Melupakan kesedihan walau sejenak. "Mami hari ini kerja?" tanya Naumira di sela-sela mengunyah nasi goreng. "Telan dulu makananmu, Ra. Baru ngomong," kata Amir, "Mami akan kerja hari ini sekaligus pamitan sama karyawan lain. Besok, Mami full di rumah sambil jagain Rara. Oke."Masih sambil mengunyah m
Happy Reading****"Astagfirullah," ucap Syaif, "maaf, Mir. Aku terlampau menghayati tangisan munafiknya."Syaif mengusap wajahnya. Dia baru menyadari jika perempuan bernama Dahlia itu sering melakukan hal sama untuk mencapai tujuan dan kepentingan pribadinya. Sering kali berdrama."Jangan diulang. Aku dan Kiran baru saja membangun pernikahan. Kamu tahu trauma istriku itu, 'kan? Aku nggak mau Kiran salah paham dan membenciku. Dahlia adalah masa lalu terburukku dan juga persahabatan kita." Amir menghela napas. Syaif mengusap wajahnya, mengangguk, membenarkan ucapan sahabatnya. "Jadi, gimana malam pertama kalian? Berapa ronde semalam?"Lemparan sekotak tisu mengenai hidung Syaif. "Sembarangan kalau ngomong. Emang aku cowok apaan. Nggak ngerti situasi berkabung masih pengen gituan. Mulai geser otakmu sekarang," kata Amir keras, tetapi tetap menaikkan garis bibirnya. "Elah. Siapa tahu sudah nggak kuat nahan, main terabas aja walau banyak halangan.""Sana balik ke ruanganmu. Ngomongin m
Happy Reading*****"Maaf, Pak. Saya kira, hanya ada Kiran tadi." "Aku kira kamu sedang makan siang, Fit," cicit Kiran sambil menyembunyikan wajahnya di balik punggung sang suami. "Nggak papa, Ran. Aku yang salah. Harusnya, tadi ngetuk pintu dulu." Fitri sudah akan berbalik arah, tetapi Syaif sudah berdiri di sampingnya."Kenapa, Fit?""Kalian berdua ngapain ada di sini barengan? Sengaja memata-matai kami," kata Amir dengan nada tegas ketika melihat sahabatnya.Kiran memberanikan diri memegang tangan suaminya. Setelah ditatap, perempuan itu menggelengkan kepala. "Jangan sembarangan nuduh, Mas," bisik Kiran. "Siapa tahu, Yang. Mereka pengen kayak kita." Amir sengaja memeluk kembali sang istri. "Dih," decak Syaif. Lelaki itu sudah akan memegang pergelangan sang kekasih, tetapi Fitri malah melotot tanda tidak setuju."Ngaku aja, deh. Kamu pasti pengen juga kayak aku gini." Amir mengeratkan pelukannya pada Kiran. Lalu, sengaja mencium pipi perempuan yang baru dihalalkannya itu. "Dasa
Happy Reading*****Kedatangan Kiran di sambut baik oleh Laila. Walau dirinya dan Amir cuma datang untuk tidur saja, tetapi perempuan paruh baya itu tetap bersikap baik. Seperti pagi ini, ketika Kiran hendak pamit ke rumah Nur bersama Amir yang akan berangkat kerja. "Ran, Mama nitip beberapa bahan pokok untuk ibumu, ya. Semua sudah Mama siapkan di kardus itu. Maaf, Mama belum bisa bantu-bantu lagi dan belum sempat sowan ke rumahmu," kata Laila. "Enggeh, Ma. Nanti, Kiran sampaikan." Gadis itu menengok sang suami. Sedikit kesal sejak kemarin karena dia disuruh cuti sampai acara tujuh harian ayahnya selesai."Apa, Sayang?" tanya Amir yang mengerti arti tatapan sang suami. "Enggak apa-apa," sahut Kiran berusaha menutupi semua kekesalan hatinya."Mas, cuma nggak mau kamu kecapean aja. Harus ngurus urusan kerjaan, sudah gitu ngurus bantuin Ibu," jelas Amir. Laila menatap keduanya, mulai mengerti arah pembicaraan pengantin baru tersebut."Apa yang Amir katakan benar, Ran. Saat ini, sebai
Happy Reading*****Pagi yang membuat Kiran uring-uringan terjadi. Pasalnya, Mir kembali melarangnya ke kantor."Mas, aku beneran enggak boleh ngantor?" tanya Kiran."Sayang, semalam kan sudah dibahas masalah ini. Kok, masih tanya lagi? Lagian, ya, semua tugas yang menjadi tanggung jawabmu sudah aku limpahkan pada Fitri," jawab Amir santai.Setelah memberikan baju yang akan dikenakan suaminya, Kiran duduk di depan meja rias. Memandang Amir yang sibuk mengancingkan kemeja.'Tapi, Mas. Aku pasti bosen kalau nggak ngerjain apa-apa. Kan, sudah terbiasa banyak tugas dan pekerjaan," balas Kiran, masih mencoba merayu suaminya supaya diperbolehkan bekerja. "Pekerjaan rumah sama ngurus Rara pasti menyita waktumu. Mas, nggak mau menambah beban istri dengan masalah kerjaan di kantor. Mas, janji, akan mencukupi semua kebutuhanmu. Nggak usah sungkan. Mas, ikhlas melakukan semua demi membahagiakanmu." Sisir yang dipegang saat berbicara tadi, Amir letakkan. Menatap si istri dengan penuh cinta. La
Happy Reading*****"Mir!" panggil Syaif. Sang pemilik perusahaan yang baru saja melangkahkan kaki, terpaksa berhenti. Mengerutkan kening, wajah kusut sahabatnya terlihat jelas. "Apa ada masalah?" tanyanya. "Tunggu!" cegah sang manajer HRD. Wajah Syaif sangat serius saat ini membuat Amir berpikir hal-hal negatif. "Ada apa, sih? Nggak usah nakut-nakutin gitu, mukanya." Amir menepuk pundak sahabatnya. "Sebaiknya kamu nggak usah masuk ruangan," suruh lelaki berhidung mancung itu dengan raut serius penuh kekhawatiran."Kenapa? Bisa-bisanya kamu nyuruh aku nggak masuk ruanganku sendiri." "Pliss, dengarkan aku kali ini," pinta Syaif. "Jangan sampai kamu menyesal dan menyalahkan aku.""Ribet, deh. Cepetan ngomong ada apa?" Amir mulai terlihat emosi. Kesabarannya yang terkadang setipis tisu dibelah dua, malah pancing oleh sng manajer HRD.Kekasih Fitri itu menggaruk kepala, tingkahnya juga agak aneh. "Cepetan ngomongnya," bentak Amir. Lelaki itu sudah akan melangkahkan kakinya ke ruanga
Happy Reading*****Amir tersenyum lebar dan langsung memeluk sng istri, seolah-olah mereka sudah berpisah cukup lama. "Mas, lepas. Malu sama Mama," pinta Kiran sambil sedikit mendorong tubuh lelakinya. Amir terpaksa mengurai pelukan sang istri. Menatapnya penuh kekecewaan. "Malu kenapa, sih? Mas, nggak salah apa-apa. Lagian kita cuma pelukan nggak ngapa-ngapain juga."Laila cuma bisa tersenyum dengan tingkah manja Amir. Jika sudah seperti itu, maka si bos tidak akan memiliki rasa malu lagi. "Sudahlah, kalian pulang berdua saja. Mama sama sopir dan langsung menjemput Rara," putus perempuan paruh baya tersebut, memberi kesempatan pada keduanya untuk melepas rindu. Laila bukanlah mertua yang tidak bertoleransi, dia juga pernah muda dan pernah merasakan gairah sang suami yang begitu menggebu-gebu. Jadi jika Amir sekarang bersikap seperti itu, sudah tidak kaget lagi."Tapi, Ma. Aku tadi sudah janji sama Rara bakalan nganter jemput," kata Kiran antara keberatan dan tidak enak hati suda
Happy Reading*****Laila mencolek sang menantu, lalu berbisik. "Kamu kenal sama dia, Ran?"Istri Amir itu menggerakkan kepalanya ke bawah. Lalu, dia menoleh ke arah lelaki yang digandeng Rosa tadi. "Kabar baik, Mas. Gimana kabarnya Mbak Nonik?" tanya Kiran membuat dua insan yang sedang terlihat mesra itu tegang. Laila juga ikut tegang, matanya menyipit dengan alis yang hampir bertautan. "Apa maksud Kiran sebenarnya?" gumamnya dalam hati. "Aku nggak tahu gimana kabarnya sekarang, Ran. Kami sudah lama nggak ketemu," kata lelaki yang digandeng oleh Rosa tadi."Oh, kalian sudah berpisah?" tanya Kiran bermaksud memastikan hubungan sahabat masa kuliahnya dulu. Walau dia tidak dekat dengan perempuan yang sudah dinikahi lelaki itu, tetapi Kiran memiliki hubungan yang cukup baik. Waktu bertemu di reuni tahun lalu, Nonik dan lelaki itu masih terlihat mesra. Namun, sekarang si lelaki sudah menggandeng perempuan lain."Berpisah secara resmi belum, sih. Kami sedang proses perceraian," jawab s
Happy Reading*****Merasa menantunya diremehkan, Laila menatap orang yang berkata kasar tersebut dengan kasar. "Rosa?!" tanyanya sedikit terkejut ketika melihat gadis yang dulu pernah dijodoh-jodohkan dengan Amir ada di sekolah cucunya.Perempuan yang dipanggil namanya itupun membulatkan mata ketika melihat siapa yang menyebut namanya tadi. "Tante Laila?" tanyanya tak percaya akan bertemu dalam keadaan tidak mengenakkan seperti sekarang. "Ngapain kamu ada di sekolahannya Rara? Siapa anak ini?" Laila mengerutkan kening. Merasa aneh jika Rosa ada di sekolah Rara. Jelas sekali dalam keluarga sahabatnya tidak memiliki anak kecil seumuran Naumira."Pastinya nganter anak sekolah kalau sudah ada di sini. Memangnya kenapa?" Suara Rosa meninggi seolah sedang berbicara pada musuhnya. Sekarang, Laila baru menyadari jika apa yang dikatakan putranya, benar. Rosa tak sebaik yang terlihat. "Tante ngerti kalau datang ke sini pasti nganter anak sekolah. Cuma dia anak siapa? Bukannya, kakakmu, anak
Happy Reading*****Semua orang menepuk kening masing-masing mendengar permintaan Naumira. "Sekarang, bagaimana caramu menjelaskan padanya?" tanya Wijananto. Segera menggandeng tangan sang istri untuk meninggalkan Amir dan Kiran."Pa, kok, malah ditinggal gitu aja, sih," kata Amir yang mulai kebingungan untuk mencari alasan supaya putrinya mengurungkan niatnya semula. Laila dan Wijananto berbalik, keduanya menjulurkan lidah, mengejek sng putra mahkota. Akibat ulahnya sendiri, kini dia harus menjelaskan pada Naumira. "Suruh siapa pake alasan itu. Anakmu itu sudah mulai kritis, jadi pake alasan yang logis," kata Laila. "Yah, Mama," keluh Amir mulai frustasi karena belum menemukan cara ampuh untuk menjelaskan semuanya. "Jadi, gimana, Pi?" tanya bocah kecil dalam gendongan Amir. "Sayang," panggil Kiran membuat Amir dan Naumira menoleh padanya secara bersamaan. "Aku manggil Rara, Mas.""Kirain, Mas, Sayang." Amir menggaruk kepala, nyengir kuda karena sudah salah paham akibat panggila
Happy Reading*****"Cup ... cup," ucap Kiran sambil mengusap air mata yang membasahi si kecil. "Jangan nangis, dong, Sayang. Coba ceritakan dengan jelas. Kenapa Mami disebut jahat sama Rara?"Gadis kecil itu mencoba menghentikan tangisannya, tetapi tetap tidak bisa. Isakannya sesekali masih terdengar."Sini, sama Nenek," pinta Laila. Merentangkan kedua tangan agar si kecil mau pindah ke gendongannya. "Rara bisikin aja sama Nenek. Apa yang sudah Papi sama Mami lakukan hingga menyebut mereka jahat?"Naumira menatap Laila penuh kesedihan. Walau air matanya sudah berhenti mengalir, tetapi isakan itu masih ada. Jelas sekali jika si kecil sangat sedih. "Ran," panggil Laila. Tatapannya penuh selidik pada sang menantu. "Coba kamu ingat, apa yang sudah kalian lakukan sampai Rara seperti ini."Kiran cuma bisa menggelengkan kepala. Semalam setelah dari rumah Dokter Rini, jelas-jelas dia dan Amir langsung ke kamar dan tidak pernah keluar lagi sampai subuh. "Coba ngomong pelan-pelan, Sayang," p
Happy Reading*****Kiran mundur, tubuhnya bergetar hebat ketika mendengar suara keras suaminya. Tersadar, Amir merengkuh tubuh istrinya dalam pelukan."Maafkan, Mas, Sayang," ucap si bos ketika menyadari kesalahannya yang sudah berkata keras tadi.Mengalungkan tangannya pada leher sang suami, Kiran menyembunyikan wajahnya. "Mas, aku cuma mau ngomong. Biar aku aja yang mimpin, tapi sepertinya njenengan enggak suka. Malah bentak tadi."Amir kembali membulatkan mata, tetapi bibirnya malah tersenyum, tak menyangka jika sang istri akan berkata demikian. Dia benar-benar salah sangka akan sikap Kiran. "Terus, sayannya Mas ini takut, ya, mendengar suara keras tadi?"Kiran menggeleng. "Takut, sih, enggak. Cuma agak syok aja. Kok, suamiku ini ternyata enggak bisa nahan keinginannya. Kalau enggak dituruti marah. Jadinya, persis kayak Rara." Perempuan mencubit pelan hidung Amir.Manja, Amir mulai menciumi bagian leher sang istri. Tangannya mulai bergerilya secara aktif memberikan rangsangan di t
Happy Reading*****Semua orang tertawa mendengar balasan Farel pada saudara perempuannya. Namun, hal berbeda terjadi pada Agung. Lelaki itu mu lai merasa canggung ketika semua orang meninggalkannya cuma berdua dengan Rini. Seluruh keberanian bahkan semangatnya yang ingin terus berdekatan dengan dokter cantik itu mendadak lenyap karena menatap kecantikan sang istri. "Mas," panggil Rini. Dia sudah duduk, kembali ke tempatnya semula."Ya." Agung menatap perempuan yang baru dinikahinya itu dengan kagum. Seperti di film-film kartun jika sedang jatuh cinta yang akan terdapat gambar hati di kelopak mata ketika melihat orang yang dicintai. Maka, hal sama pun terjadi pada saudara sulung Kiran. Cinta itu begitu jelas terlihat di matanya ketika menatap sang istri."Njenengan nggak capek berdiri terus. Sini, duduk." Rini menepuk sisi kosong pada sofa yang didudukinya. Seperti sapi yang dicocok hidungnya, Agung menuruti semua perkataan sang istri. Tatapannya masih sama seperti, tadi bahkan mung
Happy Reading*****Sebelum prosesi akad dilanjutkan, beberapa orang masuk dengan didampingi karyawan yang dipekerjakan oleh keluarga Rini. Ternyata sang pemilik rumah sengaja mengundang beberapa tetangga untuk menyaksikan prosesi pernikahan putri semata wayang mereka yang terbilang sederhana.Rini duduk di sofa terpisah dari Agung. Para wanita juga melakukan hal sama,mereka berkumpul di ruang tengah sambil menunggu Agung mengucapkan akad. "Baiklah karena semua ornag sudah hadir, kita bisa lanjut lagi prosesinya," kata sang penghulu yang mendapat angukan serta ucapan setuju dari semua orang.Agung benar-benar tidak menyangka jika pernikahannya akan berlangsung mendadak seperti pernikahan Kiran dan Amir. Dia sedih sekaligus bahagia. Sedih karena tidak bisa memberikan pernikahan yang berkesan dan bahagia karena statusnya sebentar lagi akan berubah menjadi suami.Setelah mengucap basmalah, papanya Rini mulai mengucap akad dipandu oleh sang penghulu yang duduk tepat di sampingnya. Tak bu
Happy Reading*****Agung mulai resah, pasalnya tidak pernah menyangka kalau akan ditodong dengan pertanyaan seperti tadi. Selain itu, dirinya juga tidak memiliki persiapan apa pun juga untuk menikah. Melihat ke arah ibunya, Nur cuma menjawab dengan senyuman. Mungkin sama seperti dirinya, perempuan paruh baya itu juga syok mendengar permintaan papanya Rini. Agung pun beralih menatap Kiran dan Amir, mereka berdua langsung menganggukkan kepala tanda setuju. Demikian juga dengan Farel, si bungsu juga mengangguk sebagai tanda persetujuan dengan rencana papanya Rini."Jadi, gimana Mas Agung?" tanya sang kepala keluarga, memastikan bahwa putri dimiliki oleh orang yang tepat ketika dia meninggalkan negaranya."Ehmm," gumam Agung sambil menggaruk kepala yang tak gatal."Gini aja, Gung. Kalau kamu ragu dengan mahar yang diberikan pada dokter Rini, kamu bisa memberikan cincin berlian yang tadi dibawa sebagai maharnya," saran Wijananto seolah mengerti keresahan hati sulung keluarga Kiran.Senyu