Happy Reading*****Pagi yang membuat Kiran uring-uringan terjadi. Pasalnya, Mir kembali melarangnya ke kantor."Mas, aku beneran enggak boleh ngantor?" tanya Kiran."Sayang, semalam kan sudah dibahas masalah ini. Kok, masih tanya lagi? Lagian, ya, semua tugas yang menjadi tanggung jawabmu sudah aku limpahkan pada Fitri," jawab Amir santai.Setelah memberikan baju yang akan dikenakan suaminya, Kiran duduk di depan meja rias. Memandang Amir yang sibuk mengancingkan kemeja.'Tapi, Mas. Aku pasti bosen kalau nggak ngerjain apa-apa. Kan, sudah terbiasa banyak tugas dan pekerjaan," balas Kiran, masih mencoba merayu suaminya supaya diperbolehkan bekerja. "Pekerjaan rumah sama ngurus Rara pasti menyita waktumu. Mas, nggak mau menambah beban istri dengan masalah kerjaan di kantor. Mas, janji, akan mencukupi semua kebutuhanmu. Nggak usah sungkan. Mas, ikhlas melakukan semua demi membahagiakanmu." Sisir yang dipegang saat berbicara tadi, Amir letakkan. Menatap si istri dengan penuh cinta. La
Happy Reading*****"Mir!" panggil Syaif. Sang pemilik perusahaan yang baru saja melangkahkan kaki, terpaksa berhenti. Mengerutkan kening, wajah kusut sahabatnya terlihat jelas. "Apa ada masalah?" tanyanya. "Tunggu!" cegah sang manajer HRD. Wajah Syaif sangat serius saat ini membuat Amir berpikir hal-hal negatif. "Ada apa, sih? Nggak usah nakut-nakutin gitu, mukanya." Amir menepuk pundak sahabatnya. "Sebaiknya kamu nggak usah masuk ruangan," suruh lelaki berhidung mancung itu dengan raut serius penuh kekhawatiran."Kenapa? Bisa-bisanya kamu nyuruh aku nggak masuk ruanganku sendiri." "Pliss, dengarkan aku kali ini," pinta Syaif. "Jangan sampai kamu menyesal dan menyalahkan aku.""Ribet, deh. Cepetan ngomong ada apa?" Amir mulai terlihat emosi. Kesabarannya yang terkadang setipis tisu dibelah dua, malah pancing oleh sng manajer HRD.Kekasih Fitri itu menggaruk kepala, tingkahnya juga agak aneh. "Cepetan ngomongnya," bentak Amir. Lelaki itu sudah akan melangkahkan kakinya ke ruanga
Happy Reading*****Kiran memajukan bibirnya saat membaca balasan chat yang dikirim sang suami. "Enggak, mau. Lagian aku sedang sama Mama. Malu, Mas," jawab Kiran terhadap ajakan sang suami. "Kenapa mesti malu?""Pokoknya enggak mau. Lagian, baru beberapa menit nggak ketemu, masak udah kangen. Nanti, sore juga udah ketemu lagi," tulis Kiran."Karena kamu memang ngangenin, Sayang. Mas, nggak bisa jauh-jauh walau semenit saja. Pengennya berduaan terus.""Kalau gitu, ijinin aku kerja lagi supaya bisa bareng terus.""Nggak, Sayangnya Mas, nggak boleh kerja."Kiran tersenyum membaca balasan Amir hingga membuat sang mertua menoleh. "Hayo, kenapa senyum-senyum sendiri," tanya Laila."Nggak papa, Ma," jawab sng menantu. Berkutat dengan pekerjaan rumah sudah biasa dilakukan Kiran, tetapi jika harus sepanjang hari berada di rumah, mungkin akan bosan juga. Apalagi semua pekerjaan beres-beres sudah ada asisten rumah tangga. Dia dan sang mertua cuma duduk. "Ma, nggak ada yang bisa aku kerjain
Happy Reading*****Sampai di rumah, pikiran Kiran terus dihantui pertanyaan tentang siapa Naumira sebenarnya. Perempuan itu terus menatap kertas yang berisi data si kecil."Apa kertas itu lebih menarik dari suamimu yang ganteng ini, Sayang?" tanya Amir menggoda Kiran yang terlihat terpaku memandangi kertas di tangannya. Senyum si perempuan seolah sirna. Tatapannya terus saja mengarah pada selembar kertas. Sesekali menghela napas panjang bahkan suara Amir tadi tidak didengar. Lelaki itu terpaksa menyentuh pundak sang istri supaya menyadari kehadirannya. "Astagfirullah," ucap Kiran. Perempuan itu segera menyalami suaminya yang baru pulang. "Sudah lama datang, Mas?""Lama sih nggak. Cuma kertas itu menghilangkan sebagian fokusmu hingga salamku nggak terdengar." Satu kecupan mendarat pada kening Kiran. Lalu, lelaki itu tersenyum manis. "Kertas apa, sih?" Tangan Amir sudah akan mengambil kertas itu, tetapi ditepis oleh sang istri. "Hmm itu." Kiran tampak ragu ingin bertanya. Wajah lel
Happy Reading*****Selesai dengan makan malamnya, Kiran langsung menghubungi Fitri. "Assalamualaikum," sapa Kiran ketika panggilannya terangkat. "Wassalamu'alaikum. Tumben Bu bos malam-malam gini nelpon. Ada hal penting apa nih?" sapa Fitri yang begitu riang di telinga sahabatnya. "Fit," rengek Kiran manja. "Naik gunung, yuk?""Eh, kok tumben?" Nada suara Fitri terdengar terkejut. Di sebelah sang istri yang sedang merayu sahabatnya, Amir mengendus -endus leher Kiran yang putih mulus. Sesekali, lelaki itu tersenyum dengan sifat manja Kiran pada sahabatnya."Enggak tahu, kok, tiba-tiba pengen naik gunung lagi. Kangen pemandangan kawah Ijen," alibi Kiran. "Ya, udah. Besok selesai salat subuh kita berangkat, tapi suamimu gimana?" Saat menyebut Amir, Fitri terlihat ragu."Enggak apa-apa, sih. Nanti, aku ijin sama beliau. Lagian, biarpun besok hari libur, beliau enggak libur. Katanya, ada banyak pekerjaan yang harus diselesaikan."Amir mencolek hidung sang istri gemas ketika Kiran san
Happy Reading*****"Bukan aku yang ngomong. Semalam, Kiran sendiri, lho, yang ngasih tahu," protes Fitri karena sng kekasih menatapnya aneh. "Lagian, semalam dia juga ngomong kalau Pak Amir nggak bisa menemani. Tapi sekarang, kok?" kening Fitri makin berkerut. "Mami bohongin Tante Fitri, ya?" tanya si kecil seolah mengetahui arah pembicaraan para orang dewasa. "Mami enggak bohong, Sayang. Om Syaif tuh yang bohong," tunjuk Kiran pada lelaki sahabat suaminya."Kok, aku, Ran?" protes sang manajer HRD."Kalau bukan kamu, siapa lagi," tambah si bos. Dia memilih berdiri di samping sang istri. Lalu, mengusap keringat Kiran yang berada di wajahnya. "Capek, ya, Sayang?"Kiran cuma bisa menganggukkan kepala sebagai jawaban, sedangkan Fitri melongo melihat semua adegan di depannya.Kekasih Syaif itu menggaruk kepala, bingung. "Sebenarnya ada apa, sih. Kok, Pak Syaif juga ada di sini? Memangnya ada acara penting, ya, sampai kalian semua berkumpul di sini.""Elah, masih manggil Pak. Padahal ka
Happy Reading **** Masih menahan rasa kesal pada Syaif, Amir tetap mengajak sahabatnya itu beristirahat sejenak di rest area. Demi kenyamanan Kiran, dia memesan kamar. Memanggil dokter untuk mengobatinya padahal luka sang istri tidak seberapa besar. "Mas, harusnya enggak perlu sampai manggil dokter.""Mas, nggak mau kamu kenapa-napa, Sayang," jawab Amir. Lelaki itu kemudian menengok Syaif yang masih mengerucutkan bibirnya. "Awas saja kalau sampai kaki istriku bengkak nantinya."Syaif mencebik. "Maaf, aku lupa kalau Kiran phobia sama suara keras, tapi ya, nggak usah memprovokasi Fitri seperti tadi.""Biar kapok. Salah sendiri. Sudah bagus dibantuin, eh, malah ngelunjak. Kalau kayak gini, kan, impas," sahut Amir."Ayolah, Mir. Kamu nggak kasihan sama sahabatmu ini? Masak iya tega ngasih perintah Fitri kayak gitu. Lagian luka Kiran kan nggak dalam, kok." Syaif merayu sahabatnya, tetapi mendapat pelototan dari si bos."Nggak bisa!" kata Amir keras. Kiran memegang tangan suaminya. Meng
Happy Reading*****"Suamiku ngerjain Pak Syaif, Fit. Dah, sana kejar. Jangan sampai kehilangan cintamu. Dia itu lelaki baik, pasti akan bertanggung jawab. Enggak usah ragu tentang masa depan adik-adikmu. Terimalah lamarannya," nasihat Kiran yang diangguki oleh Amir. "Benar kata istriku, Fit," tambah Amir. Fitri makin bingung. Tadi, dia sudah bahagia karena tidak harus menjawab lamaran Syaif. Setidaknya, perempuan itu masih punya waktu untuk berpikir. Namun, ketika sahabat dan bosnya malah mendukung, Fitri bimbang. "Syaif itu sangat bertanggung jawab. Dia anak bungsu. Kakaknya sudah punya keluarga yang suaminya sangat sukses. Apa yang mesti kamu khawatirkan? Jika sampai sekarang Syaif, masih betah jadi karyawan saya. Semua dilakukan karena rasa cintanya padamu. Bisa saja Syaif menggantikan usaha papanya dengan mudah, tapi nggak dilakukan. Dia ingin mendapatkan dirimu, Fit." Amir membuang napas, lega setelah bisa menceritakan semua tentang Syaif. Setidaknya, dia berharap Fitri mau
Happy Reading*****Sedikit mendorong tubuh sang suami agar tidak mengubah keputusannya tadi, Kiran mengatupkan kedua tangannya."Mas, aku mohon beri sedikit waktu supaya tenagaku pulih. Nanti, kita bisa melakukannya lagi. Ya?" kata Kiran dengan wajah memelas agar suaminya tidak meminta haknya. Dia benar-benar capek dan butuh pemulihan."Makanya, jangan suka godain. Sudah tahu suamimu ini gampang banget terpancing kalau masalah begituan. Jadi, kenapa sayangnya Mas ini masih menggoda?" Amir mencolek dagu sang istri, lalu mengecup keningnya lembut. "Tapi, Mas janji. Hari ini, demi kesayangan. Mas, rela menahannya sampai kamu benar-benar siap."Kiran tersenyum dengan perkataan sang suami yang begitu pengertian, rasanya ingin mengecup bibir lelakinya sekali lagi, tetapi takut jika akan membangkitkan hasratnya lagi. Jadi, Kiran cuma bisa melemparkan senyumnya saja. "Aku mau mandi saja, gerah," kata Kiran untuk mengalihkan pembahasan mereka."Boleh ikut nggak sih, Sayang?" goda Amir disert
Happy Reading*****Amir tersenyum lebar dan langsung memeluk sng istri, seolah-olah mereka sudah berpisah cukup lama. "Mas, lepas. Malu sama Mama," pinta Kiran sambil sedikit mendorong tubuh lelakinya. Amir terpaksa mengurai pelukan sang istri. Menatapnya penuh kekecewaan. "Malu kenapa, sih? Mas, nggak salah apa-apa. Lagian kita cuma pelukan nggak ngapa-ngapain juga."Laila cuma bisa tersenyum dengan tingkah manja Amir. Jika sudah seperti itu, maka si bos tidak akan memiliki rasa malu lagi. "Sudahlah, kalian pulang berdua saja. Mama sama sopir dan langsung menjemput Rara," putus perempuan paruh baya tersebut, memberi kesempatan pada keduanya untuk melepas rindu. Laila bukanlah mertua yang tidak bertoleransi, dia juga pernah muda dan pernah merasakan gairah sang suami yang begitu menggebu-gebu. Jadi jika Amir sekarang bersikap seperti itu, sudah tidak kaget lagi."Tapi, Ma. Aku tadi sudah janji sama Rara bakalan nganter jemput," kata Kiran antara keberatan dan tidak enak hati suda
Happy Reading*****Laila mencolek sang menantu, lalu berbisik. "Kamu kenal sama dia, Ran?"Istri Amir itu menggerakkan kepalanya ke bawah. Lalu, dia menoleh ke arah lelaki yang digandeng Rosa tadi. "Kabar baik, Mas. Gimana kabarnya Mbak Nonik?" tanya Kiran membuat dua insan yang sedang terlihat mesra itu tegang. Laila juga ikut tegang, matanya menyipit dengan alis yang hampir bertautan. "Apa maksud Kiran sebenarnya?" gumamnya dalam hati. "Aku nggak tahu gimana kabarnya sekarang, Ran. Kami sudah lama nggak ketemu," kata lelaki yang digandeng oleh Rosa tadi."Oh, kalian sudah berpisah?" tanya Kiran bermaksud memastikan hubungan sahabat masa kuliahnya dulu. Walau dia tidak dekat dengan perempuan yang sudah dinikahi lelaki itu, tetapi Kiran memiliki hubungan yang cukup baik. Waktu bertemu di reuni tahun lalu, Nonik dan lelaki itu masih terlihat mesra. Namun, sekarang si lelaki sudah menggandeng perempuan lain."Berpisah secara resmi belum, sih. Kami sedang proses perceraian," jawab s
Happy Reading*****Merasa menantunya diremehkan, Laila menatap orang yang berkata kasar tersebut dengan kasar. "Rosa?!" tanyanya sedikit terkejut ketika melihat gadis yang dulu pernah dijodoh-jodohkan dengan Amir ada di sekolah cucunya.Perempuan yang dipanggil namanya itupun membulatkan mata ketika melihat siapa yang menyebut namanya tadi. "Tante Laila?" tanyanya tak percaya akan bertemu dalam keadaan tidak mengenakkan seperti sekarang. "Ngapain kamu ada di sekolahannya Rara? Siapa anak ini?" Laila mengerutkan kening. Merasa aneh jika Rosa ada di sekolah Rara. Jelas sekali dalam keluarga sahabatnya tidak memiliki anak kecil seumuran Naumira."Pastinya nganter anak sekolah kalau sudah ada di sini. Memangnya kenapa?" Suara Rosa meninggi seolah sedang berbicara pada musuhnya. Sekarang, Laila baru menyadari jika apa yang dikatakan putranya, benar. Rosa tak sebaik yang terlihat. "Tante ngerti kalau datang ke sini pasti nganter anak sekolah. Cuma dia anak siapa? Bukannya, kakakmu, anak
Happy Reading*****Semua orang menepuk kening masing-masing mendengar permintaan Naumira. "Sekarang, bagaimana caramu menjelaskan padanya?" tanya Wijananto. Segera menggandeng tangan sang istri untuk meninggalkan Amir dan Kiran."Pa, kok, malah ditinggal gitu aja, sih," kata Amir yang mulai kebingungan untuk mencari alasan supaya putrinya mengurungkan niatnya semula. Laila dan Wijananto berbalik, keduanya menjulurkan lidah, mengejek sng putra mahkota. Akibat ulahnya sendiri, kini dia harus menjelaskan pada Naumira. "Suruh siapa pake alasan itu. Anakmu itu sudah mulai kritis, jadi pake alasan yang logis," kata Laila. "Yah, Mama," keluh Amir mulai frustasi karena belum menemukan cara ampuh untuk menjelaskan semuanya. "Jadi, gimana, Pi?" tanya bocah kecil dalam gendongan Amir. "Sayang," panggil Kiran membuat Amir dan Naumira menoleh padanya secara bersamaan. "Aku manggil Rara, Mas.""Kirain, Mas, Sayang." Amir menggaruk kepala, nyengir kuda karena sudah salah paham akibat panggila
Happy Reading*****"Cup ... cup," ucap Kiran sambil mengusap air mata yang membasahi si kecil. "Jangan nangis, dong, Sayang. Coba ceritakan dengan jelas. Kenapa Mami disebut jahat sama Rara?"Gadis kecil itu mencoba menghentikan tangisannya, tetapi tetap tidak bisa. Isakannya sesekali masih terdengar."Sini, sama Nenek," pinta Laila. Merentangkan kedua tangan agar si kecil mau pindah ke gendongannya. "Rara bisikin aja sama Nenek. Apa yang sudah Papi sama Mami lakukan hingga menyebut mereka jahat?"Naumira menatap Laila penuh kesedihan. Walau air matanya sudah berhenti mengalir, tetapi isakan itu masih ada. Jelas sekali jika si kecil sangat sedih. "Ran," panggil Laila. Tatapannya penuh selidik pada sang menantu. "Coba kamu ingat, apa yang sudah kalian lakukan sampai Rara seperti ini."Kiran cuma bisa menggelengkan kepala. Semalam setelah dari rumah Dokter Rini, jelas-jelas dia dan Amir langsung ke kamar dan tidak pernah keluar lagi sampai subuh. "Coba ngomong pelan-pelan, Sayang," p
Happy Reading*****Kiran mundur, tubuhnya bergetar hebat ketika mendengar suara keras suaminya. Tersadar, Amir merengkuh tubuh istrinya dalam pelukan."Maafkan, Mas, Sayang," ucap si bos ketika menyadari kesalahannya yang sudah berkata keras tadi.Mengalungkan tangannya pada leher sang suami, Kiran menyembunyikan wajahnya. "Mas, aku cuma mau ngomong. Biar aku aja yang mimpin, tapi sepertinya njenengan enggak suka. Malah bentak tadi."Amir kembali membulatkan mata, tetapi bibirnya malah tersenyum, tak menyangka jika sang istri akan berkata demikian. Dia benar-benar salah sangka akan sikap Kiran. "Terus, sayannya Mas ini takut, ya, mendengar suara keras tadi?"Kiran menggeleng. "Takut, sih, enggak. Cuma agak syok aja. Kok, suamiku ini ternyata enggak bisa nahan keinginannya. Kalau enggak dituruti marah. Jadinya, persis kayak Rara." Perempuan mencubit pelan hidung Amir.Manja, Amir mulai menciumi bagian leher sang istri. Tangannya mulai bergerilya secara aktif memberikan rangsangan di t
Happy Reading*****Semua orang tertawa mendengar balasan Farel pada saudara perempuannya. Namun, hal berbeda terjadi pada Agung. Lelaki itu mu lai merasa canggung ketika semua orang meninggalkannya cuma berdua dengan Rini. Seluruh keberanian bahkan semangatnya yang ingin terus berdekatan dengan dokter cantik itu mendadak lenyap karena menatap kecantikan sang istri. "Mas," panggil Rini. Dia sudah duduk, kembali ke tempatnya semula."Ya." Agung menatap perempuan yang baru dinikahinya itu dengan kagum. Seperti di film-film kartun jika sedang jatuh cinta yang akan terdapat gambar hati di kelopak mata ketika melihat orang yang dicintai. Maka, hal sama pun terjadi pada saudara sulung Kiran. Cinta itu begitu jelas terlihat di matanya ketika menatap sang istri."Njenengan nggak capek berdiri terus. Sini, duduk." Rini menepuk sisi kosong pada sofa yang didudukinya. Seperti sapi yang dicocok hidungnya, Agung menuruti semua perkataan sang istri. Tatapannya masih sama seperti, tadi bahkan mung
Happy Reading*****Sebelum prosesi akad dilanjutkan, beberapa orang masuk dengan didampingi karyawan yang dipekerjakan oleh keluarga Rini. Ternyata sang pemilik rumah sengaja mengundang beberapa tetangga untuk menyaksikan prosesi pernikahan putri semata wayang mereka yang terbilang sederhana.Rini duduk di sofa terpisah dari Agung. Para wanita juga melakukan hal sama,mereka berkumpul di ruang tengah sambil menunggu Agung mengucapkan akad. "Baiklah karena semua ornag sudah hadir, kita bisa lanjut lagi prosesinya," kata sang penghulu yang mendapat angukan serta ucapan setuju dari semua orang.Agung benar-benar tidak menyangka jika pernikahannya akan berlangsung mendadak seperti pernikahan Kiran dan Amir. Dia sedih sekaligus bahagia. Sedih karena tidak bisa memberikan pernikahan yang berkesan dan bahagia karena statusnya sebentar lagi akan berubah menjadi suami.Setelah mengucap basmalah, papanya Rini mulai mengucap akad dipandu oleh sang penghulu yang duduk tepat di sampingnya. Tak bu