Happy Reading*****Larangan seorang perempuan untuk tidak hadir dalam pemakaman rasanya cukup relevan. Bisa dibayangkan ketika mereka histeris, tentu akan mengganggu prosesi pemakaman seseorang. Beberapa saat setelah Kiran siuman, Amir pamit untuk turut serta memandikan jenazah sebagai pengganti istrinya.Sementara Laila dan Fitri menggantikan menemani Kiran yang masih lemah bersimbah air mata. Mereka terus menghiburnya sampai jenazah diberangkatkan ke pemakaman umum. Seberapa pun kebencian dalam diri istrinya Amir, rasa kehilangan itu jauh lebih besar apalagi mengingat detik terakhir kehidupan ayahnya. "Di saat terakhir hidupnya, beliau masih memikirkan aku dan segala kebahagiaanku. Maafkan, Kiran, Yah," rintih si gadis sambil terisak."Ikhlaskan semua, Ran. Beliau nggak akan suka dengan keadaanmu sekarang. Kalau sampai beliau tahu kamu menangis seperti ini, kasihan beliau," bisik Fitri menenangkan sahabatnya. "Benar kata Fitri, Ran. Ayahmu nggak akan tenang jika kamu terus merata
Happy Reading*****Amir menggelengkan kepala dan tersenyum. Keluar kamar, bersegera membersihkan diri. Namun, baru saja dia menutup pintu, mata Laila sudah melotot. "Nggak usah macem-macem sama menantu Mama. Mau dapet jeweran?" kata Laila. Kedua tangannya menyilang di depan dada. Khas emak-emak yang lagi memarahi anaknya. "Apa lho, Ma?" Amir mulai bingung dengan kemarahan Laila yang tiba-tiba. Perasaan, lelaki itu tidak memiliki salah apa pun pada perempuan yang telah melahirkannya.Perempuan paruh baya itu langsung menjewer salah satu telinga putranya. "Mama lihat adeganmu sama Kiran tadi. Nggak tahu dia lagi berduka main nyosor aja. Tahan sedikit lagi, memangnya nggak bisa?"Ish, Mama. Cuma gitu aja masak nggak boleh. Lagian ngapain Mama ngintip suami istri yang lagi berduaan di kamar," protes Amir"Mama nggak ngintip," elak Laila."Terus kalau nggak ngintip, kok, Thu aku sama Kiran lagi gituan."Jeweran Laila makin menjadi akibat ulah Amir sendiri. "Kamu aja yang nggak mau nutup
Happy Reading*****"Apaan, sih, Mas," jawab Kiran. Dia melepas mukenanya, tetapi tidak dengan jilbab. Penutup kepala yang biasa dia gunakan masih bertengger, menutupi mahkota kepalanya. Amir tersenyum puas ketika rona kemerahan mulai menghiasi pipi sang istri. "Kalau kayak gini, aku makin sayang, deh.""Hmm," jawab Kiran. Perempuan itu lantas naik ke pembaringan. Amir pun mengikuti sng istri. Kiran berbaring menghadap arah berlawanan dengan sang suami. Memakai pakaian lengkap beserta jilbab yang masih enggan ditanggalkannya. Di tengah kegugupan hati, dia merasakan pergerakan ranjangnya. "Sayang, kamu nggak gerah tidur pake jilbab seperti itu?" tanya Amir yang sudah menghadapkan wajah tepat di atas kepala sang istri yang memunggunginya. "Enggak," jawab Kiran. Kedua tangannya ditaruh di bawah pipi. Kakinya sedikit ditekuk tanpa berani menatap sang suami. Amir menyentuh lengan istrinya. Mengecup ubun-ubun Kiran. "Apa yang kamu takutkan sampai nggak mau melepas jilbab?""Aku nggak t
Happy Reading*****Setelan rok cokelat tua dan juga blazer dengan warna lebih muda dipadu dengan jilbab senada membuat perempuan pemilik nama Kirani Aina Apsarini mantap memasuki kantor baru. Sudah lama si gadis mengajukan perpindahan pada sang atasan agar bisa berkumpul satu kantor dengan sahabatnya yang bernama Fitriya. Sebelum turun dari motor, Kiran melirik arloji yang terpasang pada tangan sebelah kiri. "Alhamdulillah, aku enggak telat karena musibah tadi," katanya sendirian.Harusnya, gadis itu bisa datang lebih awal jika tidak ada tragedi ban bocor. Melangkah dengan mantap disertai bacaan basmalah, dia masuk ke kantor baru. Sampai di depan meja resepsionis, terdengar suara menggelegar oleh inderanya. "Kalian niat kerja apa nggak? Gimana perusahaan mau maju jika karyawan bekerja seenak udelnya. Dengar, ya! Disiplin itu kunci sukses. Jangan sepelekan!" ucap seorang lelaki dengan kemeja warna kuning gading. Keras disertai sorot tajam dan wajah menyeramkan. Kiran berdiri memat
Happy Reading*****Keluar dari ruangan si Bos, sekujur tubuh Kiran dibanjiri keringat. Jilbab yang dikenakannya saja terlihat basah di bagian kepala padahal dia menggunakan dalaman jilbab. Si gadis berjalan gontai menuju ruang produksi yang disiapkan untuknya, diantar Syaif. Satu senyuman diberikan oleh sang manajer HRD pada seorang perempuan yang mejanya bersebelahan dengan meja Kiran. Gadis itu melirik dan saat itulah wajahnya berubah. Dua perempuan itu saling melempar senyum."Apa kalian saling mengenal?" tanya Syaif."Dia sahabat saya, Pak," jawab gadis di hadapan si manajer yang bernama Fitriya."Oo, begitu. Tolong bantu dia, Fit. Jelaskan apa-apa yang harus dikerjakan di sini. Walau di pusat dia sudah ahlinya, tapi keadaan di cabang berbeda.""Siap, Pak." Fitri antusias menyambut sahabatnya. "Saya tinggal dulu. Selamat bekerja, semoga kamu betah berada di cabang ini," kata Syaif sambil mengulurkan tangan pada Kiran. Namun, ditolak secara halus oleh gadis dengan menangkupkan
Happy Reading*****"Saya, Pak," ucap Kiran gemetaran disertai jari telunjuk yang mengarah ke wajah. Amir menutup teleponnya dan menatap gadis itu lekat. "Iya kamu. Siapa lagi yang ada di sini selain dirimu, dasar cewek aneh.""Ada apa, Pak?" Kiran masih gemetaran, tangannya meremas ujung blazer. "Taruh kunci ini di meja ruanganku," kata Amir yang langsung berbalik arah menuju parkiran. Namun, beberapa langkah kemudian, dia berbalik menoleh pada Kiran. "Terima kasih." Setelahnya dia pergi begitu saja tanpa menunggu jawaban dari si gadis."Untung dia enggak marah karena kejadian tadi," kata Kiran. Gadis itu bernapas lega karena si bos tidak mengungkit kejadian di kafe tadi.Sepeningal si bos, Kiran tak langsung memenuhi permintaan tersebut. Gadis itu memilih berdiam di pos satpam beberapa menit, berusaha menetralkan ketakutannya. Beberapa saat setelahnya, barulah masuk dan menuju ruangan si bos. Takut-takut perempuan berjilbab itu membuka pintu berwarna biru wardah yang bertuliskan
Happy Reading*****Kiran memukul lengan sahabatnya pelan. Gemas sekali karena Fitri terus mengolok-oloknya memiliki hubungan spesial dengan si bos. Mereka berdua terus bersenda gurau hingga Kiran mendapat chat dari Wijananto."Kerja, yuk. Big Father udah ngasih warning," ucap Kiran."Sayang banget kayaknya beliau sama kamu. Jangan-jangan, kamu benar-benar punya hubungan spesial sama sang putra mahkota." Fitri mencolek dagu sahabatnya, menggoda Kiran."Berhenti, enggak!" Tangan Kiran siap memukul Fitri, sengaja menakuti gadis itu. Fitri menjulurkan lidah ketika pukulan sahabatnya bisa ditangkis. Dia lebih cepat menggerakkan kursi, pindah posisi."Kerja ... kerja biar nggak ditelpon si bos lagi. Ntar dikata kita bercanda terus," ucap Fitri setelah puas menggoda sahabatnya."Hmm, padahal dia sendiri yang ngajak guyon dari tadi," sahut Kiran. Walau mulutnya berkata demikian, tetapi tangannya sudah mulai menari dia tas keyboard komputer, menyelesaikan tugas dari sang atasan di pusat.Ke
Happy Reading*****Pulang dengan rasa jengkel, Kiran melajukan motornya dengan cepat. "Kok, ada lelaki menyebalkan seperti itu?" gerutunya sepanjang perjalanan. Mungkin, jika bukan karena ingin dekat dengan Fitri, Kiran akan minta mutasi lagi ke pusat. Dia tidak mau bekerja dalam tekanan dan bertemu dengan Amir setiap hari.Mengucap salam ketika memasuki rumah, Kiran melihat wajah teduh perempuan yang telah melahirkannya. Segera memeluk perempuan paruh baya itu dengan segenap jiwa. "Eh, ini kenapa?""Bentar saja, Bu." Kiran mengeratkan pelukannya."Tumben, sih." Perempuan paruh baya dengan daster rumahan itu mengajak putrinya duduk di sofa ruang tengah sambil memeluk. "Lagi ada masalah di kantor, ya? Nggak biasanya kamu pulang kerja manja gini."Bukannya malu dikatakan manja, Kiran malah meletakkan kepalanya di pangkuan sang ibu. "Enggak ada masalah, Bu. Cuma agak capek saja. Maklum, pertama kerja di kantor baru, butuh banyak penyesuaian."Selalu, Kiran berusaha menutupi semua yan
Happy Reading*****"Apaan, sih, Mas," jawab Kiran. Dia melepas mukenanya, tetapi tidak dengan jilbab. Penutup kepala yang biasa dia gunakan masih bertengger, menutupi mahkota kepalanya. Amir tersenyum puas ketika rona kemerahan mulai menghiasi pipi sang istri. "Kalau kayak gini, aku makin sayang, deh.""Hmm," jawab Kiran. Perempuan itu lantas naik ke pembaringan. Amir pun mengikuti sng istri. Kiran berbaring menghadap arah berlawanan dengan sang suami. Memakai pakaian lengkap beserta jilbab yang masih enggan ditanggalkannya. Di tengah kegugupan hati, dia merasakan pergerakan ranjangnya. "Sayang, kamu nggak gerah tidur pake jilbab seperti itu?" tanya Amir yang sudah menghadapkan wajah tepat di atas kepala sang istri yang memunggunginya. "Enggak," jawab Kiran. Kedua tangannya ditaruh di bawah pipi. Kakinya sedikit ditekuk tanpa berani menatap sang suami. Amir menyentuh lengan istrinya. Mengecup ubun-ubun Kiran. "Apa yang kamu takutkan sampai nggak mau melepas jilbab?""Aku nggak t
Happy Reading*****Amir menggelengkan kepala dan tersenyum. Keluar kamar, bersegera membersihkan diri. Namun, baru saja dia menutup pintu, mata Laila sudah melotot. "Nggak usah macem-macem sama menantu Mama. Mau dapet jeweran?" kata Laila. Kedua tangannya menyilang di depan dada. Khas emak-emak yang lagi memarahi anaknya. "Apa lho, Ma?" Amir mulai bingung dengan kemarahan Laila yang tiba-tiba. Perasaan, lelaki itu tidak memiliki salah apa pun pada perempuan yang telah melahirkannya.Perempuan paruh baya itu langsung menjewer salah satu telinga putranya. "Mama lihat adeganmu sama Kiran tadi. Nggak tahu dia lagi berduka main nyosor aja. Tahan sedikit lagi, memangnya nggak bisa?"Ish, Mama. Cuma gitu aja masak nggak boleh. Lagian ngapain Mama ngintip suami istri yang lagi berduaan di kamar," protes Amir"Mama nggak ngintip," elak Laila."Terus kalau nggak ngintip, kok, Thu aku sama Kiran lagi gituan."Jeweran Laila makin menjadi akibat ulah Amir sendiri. "Kamu aja yang nggak mau nutup
Happy Reading*****Larangan seorang perempuan untuk tidak hadir dalam pemakaman rasanya cukup relevan. Bisa dibayangkan ketika mereka histeris, tentu akan mengganggu prosesi pemakaman seseorang. Beberapa saat setelah Kiran siuman, Amir pamit untuk turut serta memandikan jenazah sebagai pengganti istrinya.Sementara Laila dan Fitri menggantikan menemani Kiran yang masih lemah bersimbah air mata. Mereka terus menghiburnya sampai jenazah diberangkatkan ke pemakaman umum. Seberapa pun kebencian dalam diri istrinya Amir, rasa kehilangan itu jauh lebih besar apalagi mengingat detik terakhir kehidupan ayahnya. "Di saat terakhir hidupnya, beliau masih memikirkan aku dan segala kebahagiaanku. Maafkan, Kiran, Yah," rintih si gadis sambil terisak."Ikhlaskan semua, Ran. Beliau nggak akan suka dengan keadaanmu sekarang. Kalau sampai beliau tahu kamu menangis seperti ini, kasihan beliau," bisik Fitri menenangkan sahabatnya. "Benar kata Fitri, Ran. Ayahmu nggak akan tenang jika kamu terus merata
Happy Reading*****Agung mengusak kepala adik perempuannya yang tertutup jilbab. "Mana mungkin, Mas, punya nomor HP-nya Pak Wijananto," jawabnya, "Beliau yang telpon, Mas. Memastikan kebenaran ucapan Amir padanya."Semua percakapan kakak beradik itu terdengar oleh Amir. Dia melangkah mendekati si gadis. Hatinya susah mantap untuk menikahi Kiran. "Ran, kamu mau mahar apa?" tanya Amir membuat Kiran dan Agung saling pandang. "Mas," panggil Kiran pada saudara sulungnya. Agung cuma bisa menggerakkan kedua bahunya ke atas. Kiran tampak berpikir, menatap pada Agung, lalu berpindah pada ibunya dan mereka cuma mengedikkan kedua bahu. "Pastinya, saya meminta perlengkapan salat, Pak. Selain itu terserah Bapak mau ngasih apa," putus Kiran pada akhirnya. "Gung, gimana tuh?" kata Amir memainkan mata pada si sulung."Apa?" kata Agung, bingung. "Ya, terserah kamulah mau ngasih mahar apa. Adikku udah pasrah, tapi jangan sembarangan juga. Kamu 'kan orang kaya masak maharnya murah. Malu-maluin aj
Happy Reading*****Agung masuk terlebih dulu ke ruang perawatan. Sementara itu, Amir mulai menghubungi keluarganya. Tidak mungkin dia mengambil keputusan yang begitu besar tanpa berunding dengan Laila dan Wijananto. Walau dirinya sendiri sudah pasti setuju dengan permintaan saudaranya Kiran.Mengambil ponsel dari saku kurtanya, Amir mulai menghubungi sang kepala keluarga."Assalamualaikum. Halo, Pa," sapa si lelaki pada Wijananto."Waalaikumussalam. Ya, Mir. Ada apa?""Pa, keluarga Kiran memintaku menikahinya sekarang. Bagaimana ini?" tanya Amir terdengar gugup di telinga Wijananto. Sebelum menjawab putranya, Wijananto menghela napas kasar. "Piye tho, Mir? Harusnya kamu seneng. Ngapain jadi galau? Kamu panik, ya?" Setelahnya, Lelaki paruh baya itu terkekehan di seberang sana. Entah apa yang lucu. Tawa Wijananto justru membuat Amir makin gugup dan panik."Amir takut, Pa," ucap papinya Naumira, "takut ini cuma mimpi seperti kejadian waktu itu. Padahal, aku sudah berharap banyak. Pas
Happy Reading*****Farel mendekati saudara perempuannya. Mengembuskan napas panjang, walau sedikit kecewa dengan perlakukan Amir tadi. Akan tetapi, dia tetap ingin berbaik sangka. "Mbak, kita tahu Mas Amir baik orangnya. Mungkin perempuan itu yang kelewatan. Seenaknya saja memanggil sayang padahal jelas-jelas Mas Amir marah," kata Farel. "Keraguanku enggak pernah salah, Dik. Dia orang yang kasar. Siapa pun cewek itu, enggak seharusnya dia kasar." Kiran memejamkan mata, merangkai memori pertemuan mereka pertama kali. Umpatan dan kata kasar yang terlontar dari Amir pada seluruh karyawannya. "Enggak ... Aku enggak bisa," ucap Kiran disertai gelengan. Agung memegang kedua pundak Kiran. "Dik, dengar ... dengarkan, Mas," pintanya. Kiran berhenti menggelengkan kepala, lalu menatap saudara sulungnya."Jika Amir kasar, nggak mungkin bisa merawat Naumira dengan baik. Ada saatnya dia berbuat kasar seperti tadi, Dik." Si sulung menjeda kalimatnya. Memberi ruang Kiran untuk berpikir jernih.
Happy Reading*****Agung menoleh pada seseorang yang memanggilnya. "Sebentar, Dik," ucapnya pada si pemanggil yang tak lain adalah Kiran.Hilang sudah kesempatan Agung mendengarkan cerita Amir tentang Naumira. Putra sulung Agus itu menepuk lengan sahabatnya. "Kita lanjutkan pembahasan tadi, setelah ini. Status anak itu sangat penting bagiku untuk meneruskan keinginan Ayah," ujar Agung lirih.Amir mengangguk. Berdiri mendekati Kiran setelah Agung masuk ruang perawatan."Gimana keadaanmu, Ran?" Amir menatap gadisnya dari ujung kepala hingga kaki. Terlihat lelah dan juga sedih."Saya baik-baik saja, Pak." Kiran melirik arlojinya. Heran juga, sepagi itu si bos sudah datang menjenguk padahal dia meminta Amir datang sebelum jam kantor. "Kamu sudah sarapan? Kita keluar nyari makan, yuk!" ajak lelaki yang menggunakan kurta warna putih di depan Kiran. "Enggak usah, Pak. Saya masih kenyang." Kiran menunduk. Amir meraih pergelangan Kiran, menuntunnya untuk duduk di bangku yang di tempati ta
Happy Reading*****Pagi setelah salat Subuh, Amir mengetuk pintu kamar mamanya. Biasanya Laila sudah sibuk di dapur, tetapi hari ini, perempuan itu masih berdiam di kamarnya. "Ma," panggil Amir ketika ketukannya tidak direspon."Sebentar," ucap Laila dari dalam kamar. Kurang dari satu menit kemudian, perempuan paruh baya itu sudah membuka pintu. "Ada apa, Mir?""Ma, nitip Rara." Wajah Amir tampak gelisah. "Mau ke mana?""Kiran minta aku ke rumah sakit sebelum jam kerja. Katanya, Pak Agus ingin bertemu. Ada hal penting yang ingin beliau sampaikan. Tapi, aku nggak tenang nunggu sampai agak siangan. Jadi, aku mau berangkat sekarang.""Ya, sudah. Berangkat saja. Bentar lagi, Mama ke kamarmu." Laila segera menutup pintu kamar setelah putranya mengangguk. Amir kembali ke kamarnya untuk mengambil kunci mobil. Sebelum keluar, dia menciumi putrinya. Meminta maaf karena tidak bisa menemani tidurnya. Setelah berpamitan, lelaki itu langsung berangkat ke rumah sakit. Sejak semalam perasaanny
Happy Reading*****"Nggak usah kaget gitu. Bukannya tadi, kamu sudah mengklaim adikku sebagai tunangan," goda Agung. "Iya, tapi tujuanku video call bukan untuk membahas masalah itu." Amir tersenyum canggung. Menggaruk-garuk kepala yang tak gatal."Lalu, apa tujuanmu video call?" tanya Agung, "Ayah, mau kalian menikah dalam waktu dekat. Lihatlah, Kiran sedang berbincang dengan beliau untuk membahas masalah ini.""Tapi adikmu belum setuju, Gung. Aku nggak mau memaksa. Aku telepon juga karena putriku yang pengen melihat wajah Kiran, bukan karena ingin menanyakan perihal lamaranku." Amir menghela napas panjang. Lengannya sudah ditarik-tarik oleh Naumira karena tak sabar ingin melihat wajah Kiran."Oke, bentar," kata Agung, "aku menunggu penjelasanmu tentang hal anak." Ponsel beralih pada Kiran setelah si sulung menyelesaikan kalimat terakhirnya. "Aku pasti akan menjelaskannya padamu. Akan ada waktunya, Gung."Wajah Kiran tampak di layar benda pipih pintar milik Amir. Gadis itu memaks