Beranda / Romansa / Gadis Cupu Milik Sang Kapten Basket / Bab 5 : Jo, Kembali Berulah

Share

Bab 5 : Jo, Kembali Berulah

Penulis: Linda Malik
last update Terakhir Diperbarui: 2024-09-22 18:49:22

“Rachel, ambil cincin dan sematkan di jari calon tunangan mu nak,” ucap Jacob selanjutnya yang langsung dituruti oleh anak gadisnya.

Jo sudah menyodorkan tangan kirinya untuk menerima cincin itu.

Kini jari manis Jo dan Rachel sudah tersemat cincin pertunangan. Yang masing-masing telah terukir nama calonnya. Cincin Jo dengan nama Rachel, cincin Rachel dengan nama Jonathan.

Semenjak acara pertunangan itu, Rachel tak hentinya memikirkan Jonathan. Entah semenjak melihat Jo mode serius, hati Rachel tertarik namun dia selalu menepis perasaannya. Jonathan tidak pernah memandangi seserius itu, bahkan Rachel merasa senam jantung melihat tatapan Jo kala itu.

Hari Senin, Rachel berangkat sekolah diantar oleh ayahnya. Memang sudah menjadi kebiasaan, pulang pergi, Jacob yang akan mengantar jemput Rachel.

Di dalam kelas, entah mengapa Rachel merasa sedikit grogi, tidak seperti biasanya. Melihat pada bangku kosong di sebelahnya. Jonathan belum datang, tentu bocah tengil itu akan datang paling akhir. Detik-detik terakhir sebelum bel sekolah berbunyi.

Rachel menghembuskan nafas panjang, ‘Sudahlah, ngapain juga mikirin bocah tengil, mending aku baca buku.’ ujarnya dalam hati.

Sepuluh menit kemudian bel sekolah berbunyi, bangku-bangku kelas mulai terisi. Tak lama guru bahasa Indonesia datang. Bu Lastri, guru yang terkenal baik dan pengertian.

Rachel sempat melupakan Jonathan yang belum juga menampakkan batang hidungnya.

Hingga saat Bu Lastri mengajar di depan, ketukan pintu membuat semua mata tertuju pada siswa yang berdiri di ambang pintu. Ya, Jonathan datang terlambat.

“Selamat pagi, Bu Lastri. Maaf saya datang terlambat. Bangun kesiangan,” ucap Jonathan sembari nyengir, seakan tak merasa takut sama sekali. Untung hari ini bukan pak Supri yang mengajar. Jika pak Supri, sudah pasti Jonathan harus keliling lapangan bola.

“Masuklah Jonathan, duduklah! Lain kali jangan ulangi lagi. Pasang alarmmu biar bisa berangkat tepat waktu," ucap Bu Lastri ramah. Tentunya dia tidak akan menghukum siswa yang orang tuanya sangat berpengaruh di sekolah.

Jonathan dengan santai melangkah menuju bangku di samping Rachel. Hari ini Jonathan bisa bersikap jumawa, karena Bu Lastri yang mengajar.

“Buka buku LKS kalian, buka halaman 65. Ibu akan membahas tentang Karya Ilmiah,” ucap Bu Lastri lalu menjelaskan beberapa materi yang telah ia rangkum, dan meminta para siswa untuk mencatat bagian-bagian penting.

Rachel terlihat fokus pada buku LKS di hadapannya. Meskipun degup jantung kembali terpacu semenjak kedatangan Jo. Namun dia berusaha konsentrasi dan mengabaikan Jo yang terlihat kebingungan. Mencari buku dari dalam tasnya.

“Sial, gue lupa bawa buku LKS. Hei, kutu buku bisa bagi dikit bukunya? Maksud gue, baca barengan," ucap Jo berbisik.

Hembusan nafas Jo menggelitik permukaan pipinya. Membuat Rachel dengan malas menoleh ke arah Jonathan.

“Apa lo? Gitu amat liatin gue," ucap Jo yang merasa tidak nyaman ditatap tajam Rachel. Jo menarik buku LKS Rachel, namun Rachel berusaha menjauhkan bukunya dari Jo. Hingga terjadi tarik-menarik antar keduanya.

‘Kreekkk’

Dan hasilnya, buku terbelah menjadi dua bagian. Membuat Rachel marah dan hendak mendamprat Jonathan. Dengan muka merah padam hingga kacamata tebalnya melorot.

“Jo, apaan sih! Buku gue rusak jadinya," ucap Rachel sembari menaikkan kacamatanya.

“Lagian lu pelit amat! Rusak kan jadinya," ucap Jonathan dengan entengnya, tanpa perasaan bersalah sedikitpun. Bahkan Rachel tak mendengar ucapan permintaan maaf yang keluar dari mulut pemuda tengil itu.

Mendengar perdebatan antara kedua muridnya, membuat Bu Lastri menghentikan penjelasan.

“Rachel Jonathan? Kenapa kalian ribut sendiri?” ucap Bu Lastri sambil menghampiri bangku keduanya.

“Ini Bu, Jo merobek buku saya," jelas Rachel dengan muka cemberut.

“Lagian Rachel pelit Bu, gak mau berbagi. Saya lupa bawa LKS," timpal Jo tak mau kalah.

“Sudahlah, nanti perbaiki buku itu Rachel. Hanya terbelah di bagian tengahnya, bukan masalah besar. Baiklah kita lanjut lagi.”

Apa? Bukan masalah besar? Tentu menjadi masalah besar bagi Rachel, yang selalu memastikan kerapian pada peralatan sekolah juga bukunya. Namun Rachel hanya terdiam, mendengar Bu Lastri yang bersikap tidak adil. Bukannya menghukum Jonathan, justru mengatakan jika itu bukan masalah besar. Namun Rachel bisa apa?

Sepanjang pelajaran, Rachel tak memberi ijin Jonathan melihat pada buku LKS miliknya. Rachel sangat marah pada Jonathan yang sama sekali tidak merasa bersalah.

Hingga bel sekolah berbunyi, menandakan jam istirahat. Bu Lastri mulai meninggalkan kelas, setelah menyuruh para murid istirahat.

“Hei kutu buku? Ngapain lo masih marah, hah? Coba aja lo gak tarik bukunya, gak bakal rusak kan bukunya. Artinya Lo yang sudah bikin buku itu rusak, bukan gue,” ucap Jo dengan entengnya. Membuat Rachel tak terima karena terus disalahkan.

Rachel mengangkat jari telunjuknya ke depan wajah Jonathan. Namun sebelum berucap, suara seorang gadis menghentikan niatnya.

“Jonathan.” Mendengar suara gadis di ambang pintu, membuat keduanya menoleh ke sumber suara.

Jessi Aurora melangkah menghampiri meja Jonathan dengan senyum manis dan tubuh meliuk-liuk. Membuat Rachel terlihat jijik melihat Jessi yang begitu ganjen.

“Hay, Jessi. Kok tumben ke sini?” ucap Jo yang langsung bangkit berdiri. Melihat siswi cantik yang sangat populer itu sampai datang ke kelasnya.

“Gue, tunggu lo dari tadi kali, Jo. Lama sekali," jelas Jessi terdengar merajuk. Matanya menatap sejenak ke arah Rachel, dengan sebelah alis terangkat. Menatap dengan remeh pada gadis yang terlihat cupu.

“Sorry, Jes gue lagi ada masalah sedikit. Ni juga udah kelar. Ayo, kita keluar!” balas Jonathan, lalu segera beranjak dari bangkunya. Berjalan beriringan dengan Jessi.

Namun sebelum menghilang dari balik pintu, Jo sempat menoleh ke belakang dengan menjulurkan lidahnya pada Rachel. Membuat Rachel syok hingga mulutnya terbuka lebar.

“Apaan sih, dasar bocah tengil! Biang kerok! Playboy kutu kupret!” ujar Rachel bermonolog. Dia mengungkapkan amarahnya pada Jonathan.

Jessi Aurora adalah kapten basket cewek, sedangkan Jonathan adalah kapten basket cowok. Tentu keduanya memiliki postur tubuh yang sama-sama tinggi dan begitu serasi ketika berjalan bersama. Berbeda dengan Rachel yang mempunyai ukuran tubuh lebih pendek.

Namun entah mengapa ketika Jo justru pergi meninggalkan Rachel, ada sesuatu dalam hati Rachel yang terasa nyeri?

***

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terkait

  • Gadis Cupu Milik Sang Kapten Basket   Bab 6 : Rachel Pingsan

    Rachel memandang pada cincin emas putih yang terpasang di jari manisnya. Teringat kembali saat Jonathan memasangkan cincin itu di jarinya. Sungguh rasanya seperti mimpi, mengingat itu membuat wajah Rachel memanas. Hingga tepukan Mila membuyarkan lamunan. “Hai, Rachel yuk kita ke kantin," ajak Mila, yang merupakan sahabat satu-satunya Rachel. “Muka lo kok merah, Chel? Lo sakit?” tanya Mila lagi. “Hum, gak Mil, cuma pusing sedikit," jawab Rachel yang seratus persen bohong, sembari menyembunyikan jari manisnya agar cincin itu tak terlihat Mila. Rachel belum menyiapkan jawaban jika sahabatnya bertanya tentang cincin itu. Keduanya berjalan beriringan menuju kantin sekolah yang letaknya lumayan jauh. Harus melewati lapangan basket. Dimana Jonathan dan yang lain tengah bermain di sana. Rachel tampak gugup ketika melewati tepi lapangan basket. Jika ada jalan lain, mungkin dia akan melaluinya. Namun hanya ini jalan pintas menuju kantin. Rachel bisa melihat saat Jonathan memandang

    Terakhir Diperbarui : 2024-09-22
  • Gadis Cupu Milik Sang Kapten Basket   Bab 7 : Pulang Bersama

    "Lo baik-baik saja? Tu kan udah gue bilang, wajah lo merah. Lo pasti masih pusing,” ujar Jo, lalu memaksa Rachel untuk berbaring kembali. “Tapi gue baik-baik aja, Jo. Gue mau balik ke kelas," ujar Rachel masih bersikeras. Tak pernah seumur hidupnya melewati pelajaran di kelas. Bahkan dalam keadaan sakit, Rachel selalu memaksa dirinya untuk mengikuti pelajaran. Jo terlihat menghembuskan nafas pelan, lalu diraihnya kacamata dari wajah Rachel dan meletakkannya di atas nakas. “Istirahatlah, gue tunggu di sana jika lo merasa sungkan.” Jo mengambil selimut tipis lalu menutup tubuh Rachel hingga batas leher. Kemudian melangkah menuju ranjang lain, dan duduk di sana. Entah mengapa Jo merasa senang melihat Rachel tanpa kacamatanya. Setidaknya lebih enak dipandang mata. Jo mengambil ponselnya dan mulai bermain dengan benda pipih itu. Sementara Rachel berusaha untuk mengistirahatkan matanya. Memang kepalanya masih terasa pusing, namun dia tidak bisa tidur di tempat asing. Sungguh tid

    Terakhir Diperbarui : 2024-10-10
  • Gadis Cupu Milik Sang Kapten Basket   Bab 8 : Rasa Bersalah Jo

    Jonathan panik, dan segera membungkam mulut berisik Rachel dengan telapak tangannya. “Apaan sih Lo, norak! Gue bukan nyulik Lo, gue cuma nganterin Lo. Lagian sebenarnya gak sudi juga gue nganter cewek aneh kayak Lo.” Jo menatap tajam ke arah Rachel, yang terdiam takut. Sementara tangan Jo masih membungkam mulutnya. Tak sadar Jonathan melepas kacamata dari wajah Rachel dan menyimpannya di saku seragam. ‘Nah kalau lihat Lo gini jauh lebih menarik.’ batin Jonathan. “Gue lepasin tapi Lo berhenti teriak. Ngerti? Atau kalau nggak—” wajah Jo terlihat memerah, entah mengapa melihat mata bulat Rachel membuat wajahnya memanas. Hingga tanpa melanjutkan ucapannya, Jo melepaskan tangannya dari mulut Rachel. Menghidupkan mesin mobil dan mulai memacunyas menuju rumah Rachel. Selama diperjalanan keduanya saling terdiam. Rachel ingin mengenakan kacamatanya, namun kacamata itu kini berada di saku seragam Jonathan. Rachel malu memintanya. “Dimana rumahmu?” Tanya Jonathan menghapus kesunyian. Rach

    Terakhir Diperbarui : 2024-11-02
  • Gadis Cupu Milik Sang Kapten Basket   Bab 9 : Menjenguk Rachel

    “Kalau boleh tahu, Rachel sakit apa?” Jo kembali melangkah mendekat. “Saya kurang tahu, hanya tadi pagi dokter dipanggil tuan kemari untuk memeriksa non Rachel,” jelas sekuriti. Jonathan terdiam untuk beberapa saat, hingga panggilan seorang wanita membuat keduanya menoleh ke sumber suara. “Pras, siapa itu?” suara nenek Maria terdengar dari dalam. Dan tak lama, wanita sepuh itu berjalan mendekat menuju gerbang. “Nyonya, ini teman nona Rachel,” beritahu Prasetyo sembari menggeser tubuhnya. Sehingga sosok Jonathan terlihat di pandangan nenek Maria. “Jonathan?” wajah nenek Maria terlihat berbinar melihat tunangan cucunya. Dia kembali melangkah mendekati Jonathan. Jonathan tersenyum kikuk, sembari mengusap tengkuknya. “Apa kabar nek?” sapa Jonathan sembari meraih tangan nenek Maria. Namun justru nenek Maria membalasnya dengan memeluk tubuh jangkung Jonathan. “Apa kamu datang kemari untuk menjenguk Rachel?” ucap nenek Maria sembari tersenyum hangat. “Ayo masuk ke dalam! Rachel pasti

    Terakhir Diperbarui : 2024-11-03
  • Gadis Cupu Milik Sang Kapten Basket   Bab 10 : Tikus Pengerat

    “Jonathan!!” nyaringnya suara Rachel, membuat nenek Maria pun ikut mendengarnya. Berjalan tergopoh-gopoh menghampiri cucunya. “Ada apa Rachel? Apa yang terjadi?” ucap nenek Maria dengan raut wajah cemas. “Nek, Jonathan.. Mpphhh,” belum Rachel menyelesaikan ucapannya, tangan besar Jonathan membungkam mulutnya sembari mulutnya mendesis ‘Sstt’. Mengisyaratkan Rachel untuk menutup mulutnya. Wajah Jonathan terlihat memerah dan panik. Dia kembali menatap ke arah nenek Maria. “Tidak nek, bukan masalah besar. Tadi Jo tidak sengaja menginjak kaki Rachel,” ujar Jo dengan garis bibir melengkung. Bukan masalah besar dia bilang? Dasar pembuat onar tak tahu diri! Bahkan Jo tidak mengucapkan permintaan maafnya, telah menyentuh miliknya yang sangat pribadi. Rachel menggigit telapak tangan Jonathan yang masih menutupi mulutnya. “Auwwww..” teriak Jonathan mengaduh, merasakan kuatnya gigitan Rachel. Menarik tangannya dan menatap pada telapak tangan yang merah dengan bekas gigi Rachel yang masih te

    Terakhir Diperbarui : 2024-11-04
  • Gadis Cupu Milik Sang Kapten Basket   Bab 11 : Memilih Hukuman

    Pagi itu setelah menyelesaikan sarapannya, Rachel bersiap untuk berangkat ke sekolah. “Apa benar, Jonathan yang akan menjemputmu?” tanya Jacob pada putrinya. Rachel terdiam, tadinya dia lupa namun kini diingatkan kembali dengan ucapan ayahnya. “Tentu, kemarin Jonathan sudah berjanji akan mengantarkan Rachel. Iya kan, Chel?” justru nenek Maria yang terlihat antusias menjawab. Rachel tersenyum kaku mendengar jawaban nenek Maria. “Baguslah, papa hanya berharap semoga hubungan kalian semakin dekat. Karena dalam waktu satu tahun ke depan, kamu akan jadi istrinya Jonathan,” ucap Jacob dengan senyum simpul. “Waktu satu tahun, tentu cukup untuk kalian saling mengenal,” timpal Natasya. Rachel bergeming, bingung bagaimana menanggapi obrolan orang-orang dewasa itu. “Baiklah papa, mama, nenek, Rachel berangkat dulu,” pamit Rachel sembari mencium tangan mereka secara bergantian. Rachel pun melangkah keluar rumah, memutuskan untuk menunggu Jonathan di depan pintu gerbang. Sudah sepuluh men

    Terakhir Diperbarui : 2024-11-05
  • Gadis Cupu Milik Sang Kapten Basket   Bab 12 Perhatian Jonathan

    Keliling lapangan bola yang begitu luas, tentu sangat mudah dilakukan oleh Jonathan. Apalagi mempunyai tungkai kaki yang panjang, sehingga membuatnya dengan cepat menyelesaikan sepuluh kali putaran.Berbeda halnya dengan Rachel yang tampak merasa kelelahan, bahkan di putaran yang ke empat energinya terkuras habis.Nafasnya tersengal, keringat membanjiri dahi dan pelipisnya.Jonathan akan melakukan putaran yang ke delapan, Namun saat berpapasan dengan Rachel, langkahnya terhenti di samping gadis itu.“Makanya, manusia itu gak cuma butuh buku. Kita juga butuh olahraga biar badan gak loyo,” ucap Jonathan terdengar meremehkan Rachel.Rachel mengusap peluh dari dahinya, menatap tajam ke arah Jonathan.“Heh, ini semua gara-gara lu! Coba lu jemputnya gak telat, gue gak akan dihukum seperti ini! Huh!” sentak Rachel, lalu segera memacu langkahnya kembali. Berlari melewati Jonathan.Jonathan sengaja memperlambat langkah kakinya agar sejajar dengan langkah Rachel.“Dasar siput! Kalau larimu sepe

    Terakhir Diperbarui : 2024-11-06
  • Gadis Cupu Milik Sang Kapten Basket   Bab 13 : Cincin Nikah?

    Bel jam istirahat berbunyi, pak Supri mulai meninggalkan kelas. Rachel menutup bukunya, kini dia ingin melihat kondisi lututnya. “Lu jatuh tadi?” tanya Jonathan yang ikut melihat ke arah lutut Rachel. Namun Rachel masih mengacuhkan Jonathan, bahkan sekedar menjawab pun tidak. Rachel meniup lukanya agar rasa perih itu sedikit hilang. Sungguh sial nasibnya hari ini. Gara-gara berangkat sekolah dengan Jo, seharian ini keberuntungan seakan tak berpihak padanya. Hal yang mengejutkan terjadi, tatkala Jo berjongkok di depan Rachel. Dan tanpa kata-kata, membungkus luka Rachel menggunakan sapu tangan. Mata Rachel sampai membelalak melihat sikap Jo yang diluar dari dugaan. “Sorry, gara-gara gue lu jadi harus dihukum,” ucap Jo dengan serius, mampu menggetarkan hati Rachel. Sontak Rachel merasakan hawa panas di kedua pipinya. Jika ada cermin di depan, pasti Rachel bisa melihat bagaimana meronanya pipinya kini. Jo menyatukan kedua ujung sapu tangan lalu mengikatnya. “Selesai!” ucap Jonatha

    Terakhir Diperbarui : 2024-11-06

Bab terbaru

  • Gadis Cupu Milik Sang Kapten Basket   Bab 198 : Gaun Pilihan Jo

    Siang itu, Rachel dan Jonathan sudah berada di sebuah butik yang menyediakan berbagai gaun pernikahan. Butik yang cukup terkenal di kalangan atas. Pemilik butik tak lain adalah rekan Debora yang juga berkecimpung dalam dunia fashion.Debora sudah lebih dulu berada di butik, sebelum putra dan calon menantunya itu datang.Jonathan dan Rachel disambut ramah oleh para pegawai butik, termasuk seorang pria pemilik butik yang hampir seluruh tubuhnya dihiasi oleh aksesoris wanita.“Han, tunjukin koleksi terbaikmu pada anak-anakku!” pinta Debora pada sang pemilik butik seraya meraih tangan Rachel. Membawanya menuju sofa melingkar yang berada di tengah ruangan dengan perpaduan warna putih dan silver itu.Rachel terlihat sangat gugup. Baru kali ini dia menginjakkan kakinya di ruangan mewah yang dipenuhi oleh koleksi gaun nikah. Tak menyangka di usianya yang masih terbilang muda, sudah berada di tempat ini.Lelaki yang dipanggil Han, meminta asistennya untuk mengambilkan tablet berisi katalog gau

  • Gadis Cupu Milik Sang Kapten Basket   Bab 197 : Mencintai dan Dicintai

    Rachel tampak resah, berjalan mondar-mandir di dalam kamar. Setelah acara pertemuan itu usai, tak ada satu kalimat pun yang terucap dari bibirnya. Tak ada kemungkinan untuk menolak, selain hanya pasrah menjalani takdirnya.Perasaannya kini campur aduk. Antara takut, gelisah dan belum siap untuk menikah. Semenjak kepergian papa Jacob, tiada tempat nyaman untuk mengadu. Menurutnya waktu satu minggu terlalu cepat. Pernikahan yang akan membuatnya, menjalani kehidupan baru dengan pemuda tengil yang kini telah menjadi kekasih sekaligus tunangannya.Rachel melihat jari manisnya, dimana tersemat cincin emas putih bukti pengikat hubungan antara dirinya dan Jonathan. Sungguh rasanya seperti mimpi. Hal yang tak pernah dia pikirkan akan terjadi tak lama lagi.Rachel beralih memandang kotak-kotak hantaran yang tersusun rapi di atas meja belajar. Barang-barang pemberian keluarga Jonathan sebagai simbol acara lamaran tadi.Tangannya meraih salah satu kotak dengan ukuran paling kecil. Set perhiasan

  • Gadis Cupu Milik Sang Kapten Basket   Bab 196 : Menentukan Hari Baik

    Rachel kembali berdiri, namun tatapannya tak teralihkan dari ketiga mobil yang mulai memasuki pekarangan rumah.Mobil milik Nicholas berada paling depan. Tak selang lama, Nicholas dan Debora keluar dengan penampilannya yang terlihat elegan.Setelan jas formal warna hitam melekat di tubuh tegap Nicholas. Sementara Debora mengenakan dress panjang dengan warna senada. Sebuah kalung berlian tersemat di leher jenjangnya, membuat penampilan Debora tampak berkilau dan berkelas.Natasya membawa putrinya melangkah lebih dekat untuk menyambut orang yang tak lama lagi akan menjadi besannya.Rachel segera menyapa kedua orang tua Jonathan seraya mencium tangan dengan santun. “Apa kabar nyonya Maria?” sapa Nicholas ramah pada nenek Maria.“Seperti yang terlihat, keadaanku sudah sehat dan membaik,” balas nenek Maria seraya tersenyum simpul.Menyusul pengacara Lim yang turut datang bersama dengan istrinya. Rachel berusaha menampilkan senyum terbaiknya, meski dalam hati masih penasaran dengan apa mak

  • Gadis Cupu Milik Sang Kapten Basket   Bab 195 : Kedatangan Keluarga Besar

    “Ini ada orang gak dikenal ngirimin mami foto sama video. Papi coba lihat!” ucap Debora seraya menyerahkan ponsel pada suaminya. Raut wajah Nicholas tampak datar, melihat foto dan video itu. Memang benar itu video tentang putranya, namun baginya tak ada masalah. “Siapa kira-kira yang ngirim itu, Pi?” tanya Debora dengan raut penasaran. Dalam beberapa foto menampilkan putranya yang tengah keluar dari sebuah bangunan resto dengan posisi menggendong sang menantu. Bisa dipastikan foto itu diambil diam-diam kemarin malam. Sementara video berisi penampakan putranya yang tengah berdiri menunduk dengan posisi kepala masuk ke dalam mobil. Entah apa yang dilakukan Jonathan saat itu. “Kirim nomor pengirimnya! Nanti biar aku suruh orang untuk menyelidiki!” perintah Nicholas seraya mengembalikan ponsel ke istrinya. Disambut anggukan Debora. Pembicaraan Nicholas dan Debora cukup membuat Jonathan penasaran. “Ada apa sih, Mi? Foto apa?” tanya Jonathan setelah menyelesaikan acara makannya. “Fo

  • Gadis Cupu Milik Sang Kapten Basket   Bab 194 : Hanya Ciuman!

    Terkejut bercampur malu, Rachel kembali menundukkan pandangan. Memilin ujung selimut untuk meredakan degup jantung yang mulai bertalu. Haruskah Rachel marah? Sedangkan dia tahu jika kondisinya yang tak sadar, bahkan sangat merepotkan pemuda itu. “Tapi semalam..” Rachel menjeda ucapannya. Malu rasanya menanyakan hal yang pribadi, tapi Rachel ingin memastikan jika semalam pemuda itu tak melakukan tindakan yang di luar batas. “Kenapa, Bae? Kok gak dilanjutin?” Rachel tampak bingung untuk mulai, tapi dia begitu penasaran akan hal yang terjadi semalam hingga membuat Jonathan tidur satu kamar dengannya. “Semalam kita gak ngapa-ngapain kan, Jo?” ucap Rachel setelah mengumpulkan keberaniannya. Wajahnya masih menunduk malu, namun matanya melirik ke wajah Jonathan. “Tenang aja, kita semalam gak ngapa-ngapain. Hanya..” Jonathan sengaja menjeda ucapannya. Ingin melihat reaksi kekasihnya. Dan benar sesuai dugaannya, gadis itu menegakkan pandangan dan membalas tatapannya dengan raut wajah te

  • Gadis Cupu Milik Sang Kapten Basket   Bab 193 : Menjaga Sepanjang Malam

    “Bae, Bae.. Ada gue di sini! Lu gak sendiri..” bisik Jonathan tepat di depan telinga gadis yang tampak gelisah dalam tidur. Kini posisi Jo duduk di tepi ranjang. Tangannya terulur menyentuh dahi Rachel. Namun tiba-tiba Jonathan terkejut tatkala tangannya merasakan suhu tubuh Rachel yang panas. Rachel demam! “Astaga, Bae. Lu sakit?!” Bergegas Jo mengeratkan selimut di tubuh Rachel, ketika melihat tubuh kekasihnya menggigil. Jonathan beranjak keluar dari kamar menuju tempat penyimpanan obat. Mengambil alat kompres instan, lalu beralih mencari obat penurun demam. Sayangnya, Jo kurang paham akan nama-nama obat. Ingin hati bertanya pada asisten rumah tangga, namun Jonathan tak enak hati membangunkan mereka. Jonathan meraih ponsel, mencari dengan cepat obat penurun panas pada daftar pencarian. “Paracetamol,” gumamnya mengingat seraya membaca label obat yang tersedia di kotak p3k. Akhirnya dia menemukan obat yang dicari. Segera Jonathan mengambil segelas air putih dan membawan

  • Gadis Cupu Milik Sang Kapten Basket   Bab 192 : Pikiran Kotor

    Jonathan terlalu larut dalam gelombang hasrat yang membuat telinganya tuli. Dia sama sekali tak mendengar panggilan dari asisten yang kini sudah pergi, setelah meletakkan baskom berisi air dan handuk kecil di sisi meja, samping pintu. Jo merasakan tangan Rachel yang menepuk-nepuk dadanya. Segera dia melepaskan pagutan, sebelum kekasihnya itu kehabisan nafas. “Gue sayang sama lu, Bae!” Suara Jonathan terdengar serak di antara deru nafas yang memburu. Ciuman yang berlangsung cukup lama, membuat Rachel hampir kehabisan oksigen. Jonathan masih dalam posisi mengukung tubuh Rachel. Dahi mereka melekat, hidung keduanya bersentuhan, kedua pasang mata saling pandang. Menciptakan gelombang cinta yang menghanyutkan hati kedua insan. Perlahan mata lentik itu kembali terpejam. “Bae? Ganti baju dulu?” Jonathan menjauhkan wajahnya. Menyadari jika Rachel sudah tertidur, diapun urung membangunkannya. Jonathan beralih melihat ke arah pintu yang sudah tertutup. Melangkah untuk mengambil barang yang

  • Gadis Cupu Milik Sang Kapten Basket   Bab 191 : Memancing Hasrat

    Jonathan memacu mobilnya sembari memikirkan langkah yang terbaik. Tidak mungkin jika dia membawa Rachel pulang ke rumahnya dalam keadaan mabuk seperti ini. Bisa-bisa nenek Maria akan marah, dan membuat kondisi kesehatannya memburuk. Atau lebih baik Jo membawa Rachel pulang ke rumah? Tentu orang tuanya akan bisa memahami keadaannya sekarang. Ya, sepertinya dia sudah mendapatkan jalan keluar. Jo akan membawa Rachel pulang ke rumahnya. Jo meraih ponsel dan segera menghubungi Debora. Niatnya agar maminya tak terkejut melihat dia pulang membawa Rachel. Jonathan menunggu beberapa detik hingga panggilan terhubung. Menyalakan mode loudspeaker agar tak mengganggu selama dia fokus menyetir. “Halo, Jo. Kenapa?” Suara Debora terdengar. “Mami dimana?” “Mami lagi keluar sama papi, mungkin malam atau besok pagi baru pulang. Kenapa Jo?” Jonathan tak menjawab, dia tengah berpikir. Jika orang tuanya tidak ada di rumah, lalu bagaimana dia harus minta tolong mami untuk menghubungi keluarga Rachel?

  • Gadis Cupu Milik Sang Kapten Basket   Bab 190 : Rachel Mabuk

    Jonathan hendak melangkah ke bar minuman, untuk mengatakan pada waiters jika minuman yang datang tidak sesuai dengan apa yang dipesan. Namun langkahnya tertahan, kala tangan Rachel mencengkeram erat pergelangan tangannya. “Mau kemana, Bae? Jangan tinggalin gue!” ucap Rachel dengan suara lirih. Sorot matanya menatap pada Jonathan penuh harap agar pemuda itu tidak pergi meninggalkannya barang sekejap pun. Jonathan urung pergi, memutuskan untuk kembali duduk. Kini dirinya tahu apa yang membuat Rachel mendadak berubah. Minuman yang dia pesan adalah minuman soda. Namun yang datang justru long island yang mengandung alkohol. Bagaimana tidak membuat kekasihnya mabuk? “Chel, kita pulang?” “Idih, ngapain sih buru-buru. Masih asyik juga di sini, Bae!” Rachel kembali bergerak mengikuti alunan musik. “Lu mabuk, kita harus pulang!” tegas Jonathan. Dari jarak pandangnya, dia bisa melihat wajah Rachel yang sudah memerah. Rachel tak menyahut, justru bergelayut manja di lengan kekar Jonathan sem

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status