Rachel memandang pada cincin emas putih yang terpasang di jari manisnya. Teringat kembali saat Jonathan memasangkan cincin itu di jarinya. Sungguh rasanya seperti mimpi, mengingat itu membuat wajah Rachel memanas.
Hingga tepukan Mila membuyarkan lamunan. “Hai, Rachel yuk kita ke kantin," ajak Mila, yang merupakan sahabat satu-satunya Rachel. “Muka lo kok merah, Chel? Lo sakit?” tanya Mila lagi. “Hum, gak Mil, cuma pusing sedikit," jawab Rachel yang seratus persen bohong, sembari menyembunyikan jari manisnya agar cincin itu tak terlihat Mila. Rachel belum menyiapkan jawaban jika sahabatnya bertanya tentang cincin itu. Keduanya berjalan beriringan menuju kantin sekolah yang letaknya lumayan jauh. Harus melewati lapangan basket. Dimana Jonathan dan yang lain tengah bermain di sana. Rachel tampak gugup ketika melewati tepi lapangan basket. Jika ada jalan lain, mungkin dia akan melaluinya. Namun hanya ini jalan pintas menuju kantin. Rachel bisa melihat saat Jonathan memandang ke arahnya. Namun Rachel tak ada niat untuk membalas. Dia berusaha berjalan cepat hingga Mila ikut berjalan terburu-buru. “Chel, pelan-pelan aja jalannya. Masih lama juga waktu istirahat," ucap Mila sembari mengimbangi langkah Rachel yang setengah berlari. “Gue laper Mil," jawab Rachel seadanya. Hingga akhirnya mereka sampai di kantin. Memesan makanan dan minuman sembari mengobrol ringan. Mila banyak bercerita tentang keluarganya, Rachel menanggapinya dengan anggukan dan jawaban singkat. Memang seperti itulah cara Rachel berteman, tidak banyak bercerita dan lebih banyak mendengar. Hingga makanan dan minuman mereka tandas, keduanya berniat kembali ke kelas. Lima menit lagi bel sekolah berbunyi. Tentu Rachel harus berada di kelas, sebelum bel berbunyi. “Mil, kita lewat depan kantor guru aja ya. Gue males lewat lapangan basket," ucap Rachel mengusulkan. “Kejauhan lagi, Chel. Masak iya kita harus muter. Udah lewat lapangan basket aja biar cepet. Lagian bel masuk lima menit lagi," tolak Mila lalu berjalan mendahului Rachel. Meski malas kembali melewati Jonathan, Rachel tak bisa berbuat apa selain mengikuti Mila dari belakang. Pandangan Rachel lurus ke depan, dengan pikiran yang entah kemana. Hingga teriakan orang tak dia dengar. “Minggir.. Awas!!!” ‘Bughhhh’ Tubuh Rachel terhuyung, setelah bola basket itu mengenai kepalanya. Hingga kacamatanya ikut terlempar ke tanah. Rachel merasa melihat banyak bintang di atas kepalanya, hingga akhirnya tubuhnya jatuh tak sadarkan diri. “Rachel.. Rachel,” teriak orang-orang yang mulai mengerumuni gadis yang baru saja pingsan. “Minggir-minggir," ucap Jonathan membelah kerumunan siswa yang mengelilingi tubuh Rachel tanpa berniat menolong. Jonathan mengangkat tubuh Rachel, setelah mengambil kacamata Rachel yang sedikit retak di beberapa sisi. Dia merasa bersalah karena akibat lemparan bola yang dia lakukan, tak sengaja mengenai Rachel. Jonathan melangkahkan kakinya menuju UKS yang letaknya bersebelahan dengan kantor guru. Beberapa murid mengikutinya, Mila dan juga Jessi. Mila begitu khawatir akan kondisi sahabatnya. Sementara hati Jessi begitu panas melihat Jonathan justru menolong gadis cupu itu. Jessi berjalan sembari menghentakkan kakinya dengan kasar, wajahnya terlihat berlipat karena rasa cemburu. Baru kali ini Jessi melihat Jonathan menggendong seorang gadis. Sesampainya di UKS, Jonathan segera meletakkan tubuh Rachel di atas kasur. Lalu menoleh pada Mila. “Mil, lo tahu gak cara bikin orang sadar?” tanya Jonathan dengan wajah khawatir. Mila menggeleng, karena dia memang tidak pernah menolong orang pingsan. “Jes, tolong ambil minyak kayu putih dari kotak p3k," pinta Jo pada Jessi yang berdiri di sisinya. “Hah kok gue? Ogah, ngapain juga gue," tolak Jessi sembari bersedekap. “Biar gue aja Jo, yang ambilin," ucap Mila kemudian, dia melangkah menuju kotak p3k yang tergantung di sudut ruangan. Jessi melirik pada Mila, lalu segera menghampiri Mila. Ketika Mila membuka kotak, Jessi mengambil balsem paling panas. Lalu membawanya pada Jonathan. “Nih pakai ini saja, Jo. Biar si cupu cepet sadarnya," ucap Jessi. “Lo apaan sih Jes,” Jo mengambil balsem itu tapi meletakkannya di atas nakas samping ranjang. Lalu menoleh pada Mila. Mila menyodorkan minyak kayu putih pada Jonathan, dan segera Jonathan membuka penutup minyak kayu putih. Lalu mendekatkan pada hidung Rachel. Tak lama suara bel berbunyi. “Ayolah Jo, kita harus masuk kelas. Biarin aja si cupu sama Mila. Kita balik ke kelas ya,” ucap Jessi sembari melingkarkan tangannya di lengan Jo. Namun Jo segera menepisnya. “Gue merasa bersalah Jes, gara-gara gue Rachel jadi pingsan. Lo balik duluan gih, nanti gue nyusul.” “Tapi—,” “Udah gak apa, ntar juga gue balik kelas. Lagian habis ini kelas gue pelajaran seni budaya, jadi agak santai gurunya," ujar Jo memotong ucapan Jessi. Meski berat meninggalkan Jo, tapi Jessi harus segera menuju kelas sebelum pak Supri sang guru killer memasuki kelasnya. “Mil, lu juga kalau mau balik kelas gak apa. Biar gue yang jaga Rachel,” ucap Jonathan tanpa menoleh ke arah Mila. Tatapan Jo fokus pada mata Rachel yang tak kunjung terbuka. “Baik, Jo.” Karena sudah ada Jo yang menemani Rachel, Mila sedikit lega. Tidak mungkin jika dirinya dan Jo ijin dari mata pelajaran seni. Tentu tak diizinkan. Jo terus mengusap dahi Rachel dengan minyak kayu putih, dimana ada sedikit bekas memar akibat lemparan bola basket tadi. Tangan yang lain terus memegang botol minyak kayu putih, dan mempertahankan posisinya di bawah lubang hidung Rachel. Hingga tak lama mata Rachel terbuka perlahan. Membuat Jo terkejut. “Jonathan?” Kedua pasang mata saling menatap beberapa detik. Jo tertegun memandang mata indah yang selalu ditutupi kacamata. Mata bulat dengan bulu mata panjang dan lentik, sungguh wajah Rachel terlihat berbeda ketika tanpa kacamata. “Lo sudah sadar? Gue minta maaf, tadi gue gak sengaja," ujar Jo dengan perasaan bersalah. “Gue dimana Jo?” Rachel bangkit dari posisinya, mengamati keadaan di sekitarnya. Pandangannya begitu buram tanpa kacamata. “Lo di UKS. Gue udah minta Mila buat ngizinin ke guru," jawab Jonathan. “Kacamata gue mana?” tanya Rachel merasa tak nyaman tanpa kacamata. Jo segera mengambil kacamata yang disimpan di kantong seragamnya. Lalu menyerahkannya pada Rachel. “Sorry, gara-gara gue kacamata lo rusak, Chel.” Mendengar ucapan Jonathan, membuat dada Rachel kembali berdebar. Baru kali ini Jo memanggil namanya. Biasanya pemuda tengil itu selalu memanggilnya kutu buku. Dan memang benar, kacamata itu sedikit retak di bagian lensanya. Namun gagang kacamata masih normal dan bisa dipakai. “Gue harus balik ke kelas, gue gak mau ketinggalan pelajaran.” Rachel hendak beranjak turun dari ranjang. Namun tangan Jo meraih lengannya. “Gue kan udah bilang tadi. Mila udah izinin kita. Jadi lo bisa istirahat dulu di sini. Setidaknya sampai jam istirahat kedua,” jawab Jo memberi saran. Namun fokus Rachel justru pada tangan Jo yang mencengkram lengannya. Sungguh membuat jantungnya semakin tidak aman. Hingga wajahnya memerah. ***"Lo baik-baik saja? Tu kan udah gue bilang, wajah lo merah. Lo pasti masih pusing,” ujar Jo, lalu memaksa Rachel untuk berbaring kembali. “Tapi gue baik-baik aja, Jo. Gue mau balik ke kelas," ujar Rachel masih bersikeras. Tak pernah seumur hidupnya melewati pelajaran di kelas. Bahkan dalam keadaan sakit, Rachel selalu memaksa dirinya untuk mengikuti pelajaran. Jo terlihat menghembuskan nafas pelan, lalu diraihnya kacamata dari wajah Rachel dan meletakkannya di atas nakas. “Istirahatlah, gue tunggu di sana jika lo merasa sungkan.” Jo mengambil selimut tipis lalu menutup tubuh Rachel hingga batas leher. Kemudian melangkah menuju ranjang lain, dan duduk di sana. Entah mengapa Jo merasa senang melihat Rachel tanpa kacamatanya. Setidaknya lebih enak dipandang mata. Jo mengambil ponselnya dan mulai bermain dengan benda pipih itu. Sementara Rachel berusaha untuk mengistirahatkan matanya. Memang kepalanya masih terasa pusing, namun dia tidak bisa tidur di tempat asing. Sungguh tid
Jonathan panik, dan segera membungkam mulut berisik Rachel dengan telapak tangannya. “Apaan sih Lo, norak! Gue bukan nyulik Lo, gue cuma nganterin Lo. Lagian sebenarnya gak sudi juga gue nganter cewek aneh kayak Lo.” Jo menatap tajam ke arah Rachel, yang terdiam takut. Sementara tangan Jo masih membungkam mulutnya. Tak sadar Jonathan melepas kacamata dari wajah Rachel dan menyimpannya di saku seragam. ‘Nah kalau lihat Lo gini jauh lebih menarik.’ batin Jonathan. “Gue lepasin tapi Lo berhenti teriak. Ngerti? Atau kalau nggak—” wajah Jo terlihat memerah, entah mengapa melihat mata bulat Rachel membuat wajahnya memanas. Hingga tanpa melanjutkan ucapannya, Jo melepaskan tangannya dari mulut Rachel. Menghidupkan mesin mobil dan mulai memacunyas menuju rumah Rachel. Selama diperjalanan keduanya saling terdiam. Rachel ingin mengenakan kacamatanya, namun kacamata itu kini berada di saku seragam Jonathan. Rachel malu memintanya. “Dimana rumahmu?” Tanya Jonathan menghapus kesunyian. Rach
“Kalau boleh tahu, Rachel sakit apa?” Jo kembali melangkah mendekat. “Saya kurang tahu, hanya tadi pagi dokter dipanggil tuan kemari untuk memeriksa non Rachel,” jelas sekuriti. Jonathan terdiam untuk beberapa saat, hingga panggilan seorang wanita membuat keduanya menoleh ke sumber suara. “Pras, siapa itu?” suara nenek Maria terdengar dari dalam. Dan tak lama, wanita sepuh itu berjalan mendekat menuju gerbang. “Nyonya, ini teman nona Rachel,” beritahu Prasetyo sembari menggeser tubuhnya. Sehingga sosok Jonathan terlihat di pandangan nenek Maria. “Jonathan?” wajah nenek Maria terlihat berbinar melihat tunangan cucunya. Dia kembali melangkah mendekati Jonathan. Jonathan tersenyum kikuk, sembari mengusap tengkuknya. “Apa kabar nek?” sapa Jonathan sembari meraih tangan nenek Maria. Namun justru nenek Maria membalasnya dengan memeluk tubuh jangkung Jonathan. “Apa kamu datang kemari untuk menjenguk Rachel?” ucap nenek Maria sembari tersenyum hangat. “Ayo masuk ke dalam! Rachel pasti
“Jonathan!!” nyaringnya suara Rachel, membuat nenek Maria pun ikut mendengarnya. Berjalan tergopoh-gopoh menghampiri cucunya. “Ada apa Rachel? Apa yang terjadi?” ucap nenek Maria dengan raut wajah cemas. “Nek, Jonathan.. Mpphhh,” belum Rachel menyelesaikan ucapannya, tangan besar Jonathan membungkam mulutnya sembari mulutnya mendesis ‘Sstt’. Mengisyaratkan Rachel untuk menutup mulutnya. Wajah Jonathan terlihat memerah dan panik. Dia kembali menatap ke arah nenek Maria. “Tidak nek, bukan masalah besar. Tadi Jo tidak sengaja menginjak kaki Rachel,” ujar Jo dengan garis bibir melengkung. Bukan masalah besar dia bilang? Dasar pembuat onar tak tahu diri! Bahkan Jo tidak mengucapkan permintaan maafnya, telah menyentuh miliknya yang sangat pribadi. Rachel menggigit telapak tangan Jonathan yang masih menutupi mulutnya. “Auwwww..” teriak Jonathan mengaduh, merasakan kuatnya gigitan Rachel. Menarik tangannya dan menatap pada telapak tangan yang merah dengan bekas gigi Rachel yang masih te
Pagi itu setelah menyelesaikan sarapannya, Rachel bersiap untuk berangkat ke sekolah. “Apa benar, Jonathan yang akan menjemputmu?” tanya Jacob pada putrinya. Rachel terdiam, tadinya dia lupa namun kini diingatkan kembali dengan ucapan ayahnya. “Tentu, kemarin Jonathan sudah berjanji akan mengantarkan Rachel. Iya kan, Chel?” justru nenek Maria yang terlihat antusias menjawab. Rachel tersenyum kaku mendengar jawaban nenek Maria. “Baguslah, papa hanya berharap semoga hubungan kalian semakin dekat. Karena dalam waktu satu tahun ke depan, kamu akan jadi istrinya Jonathan,” ucap Jacob dengan senyum simpul. “Waktu satu tahun, tentu cukup untuk kalian saling mengenal,” timpal Natasya. Rachel bergeming, bingung bagaimana menanggapi obrolan orang-orang dewasa itu. “Baiklah papa, mama, nenek, Rachel berangkat dulu,” pamit Rachel sembari mencium tangan mereka secara bergantian. Rachel pun melangkah keluar rumah, memutuskan untuk menunggu Jonathan di depan pintu gerbang. Sudah sepuluh men
Keliling lapangan bola yang begitu luas, tentu sangat mudah dilakukan oleh Jonathan. Apalagi mempunyai tungkai kaki yang panjang, sehingga membuatnya dengan cepat menyelesaikan sepuluh kali putaran.Berbeda halnya dengan Rachel yang tampak merasa kelelahan, bahkan di putaran yang ke empat energinya terkuras habis.Nafasnya tersengal, keringat membanjiri dahi dan pelipisnya.Jonathan akan melakukan putaran yang ke delapan, Namun saat berpapasan dengan Rachel, langkahnya terhenti di samping gadis itu.“Makanya, manusia itu gak cuma butuh buku. Kita juga butuh olahraga biar badan gak loyo,” ucap Jonathan terdengar meremehkan Rachel.Rachel mengusap peluh dari dahinya, menatap tajam ke arah Jonathan.“Heh, ini semua gara-gara lu! Coba lu jemputnya gak telat, gue gak akan dihukum seperti ini! Huh!” sentak Rachel, lalu segera memacu langkahnya kembali. Berlari melewati Jonathan.Jonathan sengaja memperlambat langkah kakinya agar sejajar dengan langkah Rachel.“Dasar siput! Kalau larimu sepe
Bel jam istirahat berbunyi, pak Supri mulai meninggalkan kelas. Rachel menutup bukunya, kini dia ingin melihat kondisi lututnya. “Lu jatuh tadi?” tanya Jonathan yang ikut melihat ke arah lutut Rachel. Namun Rachel masih mengacuhkan Jonathan, bahkan sekedar menjawab pun tidak. Rachel meniup lukanya agar rasa perih itu sedikit hilang. Sungguh sial nasibnya hari ini. Gara-gara berangkat sekolah dengan Jo, seharian ini keberuntungan seakan tak berpihak padanya. Hal yang mengejutkan terjadi, tatkala Jo berjongkok di depan Rachel. Dan tanpa kata-kata, membungkus luka Rachel menggunakan sapu tangan. Mata Rachel sampai membelalak melihat sikap Jo yang diluar dari dugaan. “Sorry, gara-gara gue lu jadi harus dihukum,” ucap Jo dengan serius, mampu menggetarkan hati Rachel. Sontak Rachel merasakan hawa panas di kedua pipinya. Jika ada cermin di depan, pasti Rachel bisa melihat bagaimana meronanya pipinya kini. Jo menyatukan kedua ujung sapu tangan lalu mengikatnya. “Selesai!” ucap Jonatha
“Cincin warisan dari opa,” jawab Jonathan seadanya. Dia berusaha keras untuk bersikap tenang agar temannya tidak curiga.“Oh cincin warisan. Gue kira cincin tunangan.”Deg, tebakan Ray tidak salah. Membuat hati Jonathan dibuat ketar-ketir.Tidak mungkin jika Jonathan berkata dia telah bertunangan, apalagi tunangannya adalah gadis cupu di kelas. Mau ditaruh dimana harga diri Jo yang merupakan siswa paling kece di sekolah?“Ayo masuk Ray, tuh gurunya udah mau jalan kesini,” ajak Jonathan beranjak dari tempat duduk, lalu mendahului Ray memasuki kelas.Tak lama, suasana kelas yang tadinya ramai mendadak hening ketika guru mata pelajaran sejarah masuk dalam kelas.Pak Mamik segera memulai pelajaran. Seperti biasa jika guru sejarah mengajar, maka para siswa yang duduk di bangku belakang mulai mencari cara agar tidak mengantuk.Ada beberapa yang sengaja mengunyah permen karet, dan bahkan ada yang memainkan game online. Tentunya hanya siswa yang duduk di barisan belakang yang berani melakukan
Siang itu, Rachel dan Jonathan sudah berada di sebuah butik yang menyediakan berbagai gaun pernikahan. Butik yang cukup terkenal di kalangan atas. Pemilik butik tak lain adalah rekan Debora yang juga berkecimpung dalam dunia fashion.Debora sudah lebih dulu berada di butik, sebelum putra dan calon menantunya itu datang.Jonathan dan Rachel disambut ramah oleh para pegawai butik, termasuk seorang pria pemilik butik yang hampir seluruh tubuhnya dihiasi oleh aksesoris wanita.“Han, tunjukin koleksi terbaikmu pada anak-anakku!” pinta Debora pada sang pemilik butik seraya meraih tangan Rachel. Membawanya menuju sofa melingkar yang berada di tengah ruangan dengan perpaduan warna putih dan silver itu.Rachel terlihat sangat gugup. Baru kali ini dia menginjakkan kakinya di ruangan mewah yang dipenuhi oleh koleksi gaun nikah. Tak menyangka di usianya yang masih terbilang muda, sudah berada di tempat ini.Lelaki yang dipanggil Han, meminta asistennya untuk mengambilkan tablet berisi katalog gau
Rachel tampak resah, berjalan mondar-mandir di dalam kamar. Setelah acara pertemuan itu usai, tak ada satu kalimat pun yang terucap dari bibirnya. Tak ada kemungkinan untuk menolak, selain hanya pasrah menjalani takdirnya.Perasaannya kini campur aduk. Antara takut, gelisah dan belum siap untuk menikah. Semenjak kepergian papa Jacob, tiada tempat nyaman untuk mengadu. Menurutnya waktu satu minggu terlalu cepat. Pernikahan yang akan membuatnya, menjalani kehidupan baru dengan pemuda tengil yang kini telah menjadi kekasih sekaligus tunangannya.Rachel melihat jari manisnya, dimana tersemat cincin emas putih bukti pengikat hubungan antara dirinya dan Jonathan. Sungguh rasanya seperti mimpi. Hal yang tak pernah dia pikirkan akan terjadi tak lama lagi.Rachel beralih memandang kotak-kotak hantaran yang tersusun rapi di atas meja belajar. Barang-barang pemberian keluarga Jonathan sebagai simbol acara lamaran tadi.Tangannya meraih salah satu kotak dengan ukuran paling kecil. Set perhiasan
Rachel kembali berdiri, namun tatapannya tak teralihkan dari ketiga mobil yang mulai memasuki pekarangan rumah.Mobil milik Nicholas berada paling depan. Tak selang lama, Nicholas dan Debora keluar dengan penampilannya yang terlihat elegan.Setelan jas formal warna hitam melekat di tubuh tegap Nicholas. Sementara Debora mengenakan dress panjang dengan warna senada. Sebuah kalung berlian tersemat di leher jenjangnya, membuat penampilan Debora tampak berkilau dan berkelas.Natasya membawa putrinya melangkah lebih dekat untuk menyambut orang yang tak lama lagi akan menjadi besannya.Rachel segera menyapa kedua orang tua Jonathan seraya mencium tangan dengan santun. “Apa kabar nyonya Maria?” sapa Nicholas ramah pada nenek Maria.“Seperti yang terlihat, keadaanku sudah sehat dan membaik,” balas nenek Maria seraya tersenyum simpul.Menyusul pengacara Lim yang turut datang bersama dengan istrinya. Rachel berusaha menampilkan senyum terbaiknya, meski dalam hati masih penasaran dengan apa mak
“Ini ada orang gak dikenal ngirimin mami foto sama video. Papi coba lihat!” ucap Debora seraya menyerahkan ponsel pada suaminya. Raut wajah Nicholas tampak datar, melihat foto dan video itu. Memang benar itu video tentang putranya, namun baginya tak ada masalah. “Siapa kira-kira yang ngirim itu, Pi?” tanya Debora dengan raut penasaran. Dalam beberapa foto menampilkan putranya yang tengah keluar dari sebuah bangunan resto dengan posisi menggendong sang menantu. Bisa dipastikan foto itu diambil diam-diam kemarin malam. Sementara video berisi penampakan putranya yang tengah berdiri menunduk dengan posisi kepala masuk ke dalam mobil. Entah apa yang dilakukan Jonathan saat itu. “Kirim nomor pengirimnya! Nanti biar aku suruh orang untuk menyelidiki!” perintah Nicholas seraya mengembalikan ponsel ke istrinya. Disambut anggukan Debora. Pembicaraan Nicholas dan Debora cukup membuat Jonathan penasaran. “Ada apa sih, Mi? Foto apa?” tanya Jonathan setelah menyelesaikan acara makannya. “Fo
Terkejut bercampur malu, Rachel kembali menundukkan pandangan. Memilin ujung selimut untuk meredakan degup jantung yang mulai bertalu. Haruskah Rachel marah? Sedangkan dia tahu jika kondisinya yang tak sadar, bahkan sangat merepotkan pemuda itu. “Tapi semalam..” Rachel menjeda ucapannya. Malu rasanya menanyakan hal yang pribadi, tapi Rachel ingin memastikan jika semalam pemuda itu tak melakukan tindakan yang di luar batas. “Kenapa, Bae? Kok gak dilanjutin?” Rachel tampak bingung untuk mulai, tapi dia begitu penasaran akan hal yang terjadi semalam hingga membuat Jonathan tidur satu kamar dengannya. “Semalam kita gak ngapa-ngapain kan, Jo?” ucap Rachel setelah mengumpulkan keberaniannya. Wajahnya masih menunduk malu, namun matanya melirik ke wajah Jonathan. “Tenang aja, kita semalam gak ngapa-ngapain. Hanya..” Jonathan sengaja menjeda ucapannya. Ingin melihat reaksi kekasihnya. Dan benar sesuai dugaannya, gadis itu menegakkan pandangan dan membalas tatapannya dengan raut wajah te
“Bae, Bae.. Ada gue di sini! Lu gak sendiri..” bisik Jonathan tepat di depan telinga gadis yang tampak gelisah dalam tidur. Kini posisi Jo duduk di tepi ranjang. Tangannya terulur menyentuh dahi Rachel. Namun tiba-tiba Jonathan terkejut tatkala tangannya merasakan suhu tubuh Rachel yang panas. Rachel demam! “Astaga, Bae. Lu sakit?!” Bergegas Jo mengeratkan selimut di tubuh Rachel, ketika melihat tubuh kekasihnya menggigil. Jonathan beranjak keluar dari kamar menuju tempat penyimpanan obat. Mengambil alat kompres instan, lalu beralih mencari obat penurun demam. Sayangnya, Jo kurang paham akan nama-nama obat. Ingin hati bertanya pada asisten rumah tangga, namun Jonathan tak enak hati membangunkan mereka. Jonathan meraih ponsel, mencari dengan cepat obat penurun panas pada daftar pencarian. “Paracetamol,” gumamnya mengingat seraya membaca label obat yang tersedia di kotak p3k. Akhirnya dia menemukan obat yang dicari. Segera Jonathan mengambil segelas air putih dan membawan
Jonathan terlalu larut dalam gelombang hasrat yang membuat telinganya tuli. Dia sama sekali tak mendengar panggilan dari asisten yang kini sudah pergi, setelah meletakkan baskom berisi air dan handuk kecil di sisi meja, samping pintu. Jo merasakan tangan Rachel yang menepuk-nepuk dadanya. Segera dia melepaskan pagutan, sebelum kekasihnya itu kehabisan nafas. “Gue sayang sama lu, Bae!” Suara Jonathan terdengar serak di antara deru nafas yang memburu. Ciuman yang berlangsung cukup lama, membuat Rachel hampir kehabisan oksigen. Jonathan masih dalam posisi mengukung tubuh Rachel. Dahi mereka melekat, hidung keduanya bersentuhan, kedua pasang mata saling pandang. Menciptakan gelombang cinta yang menghanyutkan hati kedua insan. Perlahan mata lentik itu kembali terpejam. “Bae? Ganti baju dulu?” Jonathan menjauhkan wajahnya. Menyadari jika Rachel sudah tertidur, diapun urung membangunkannya. Jonathan beralih melihat ke arah pintu yang sudah tertutup. Melangkah untuk mengambil barang yang
Jonathan memacu mobilnya sembari memikirkan langkah yang terbaik. Tidak mungkin jika dia membawa Rachel pulang ke rumahnya dalam keadaan mabuk seperti ini. Bisa-bisa nenek Maria akan marah, dan membuat kondisi kesehatannya memburuk. Atau lebih baik Jo membawa Rachel pulang ke rumah? Tentu orang tuanya akan bisa memahami keadaannya sekarang. Ya, sepertinya dia sudah mendapatkan jalan keluar. Jo akan membawa Rachel pulang ke rumahnya. Jo meraih ponsel dan segera menghubungi Debora. Niatnya agar maminya tak terkejut melihat dia pulang membawa Rachel. Jonathan menunggu beberapa detik hingga panggilan terhubung. Menyalakan mode loudspeaker agar tak mengganggu selama dia fokus menyetir. “Halo, Jo. Kenapa?” Suara Debora terdengar. “Mami dimana?” “Mami lagi keluar sama papi, mungkin malam atau besok pagi baru pulang. Kenapa Jo?” Jonathan tak menjawab, dia tengah berpikir. Jika orang tuanya tidak ada di rumah, lalu bagaimana dia harus minta tolong mami untuk menghubungi keluarga Rachel?
Jonathan hendak melangkah ke bar minuman, untuk mengatakan pada waiters jika minuman yang datang tidak sesuai dengan apa yang dipesan. Namun langkahnya tertahan, kala tangan Rachel mencengkeram erat pergelangan tangannya. “Mau kemana, Bae? Jangan tinggalin gue!” ucap Rachel dengan suara lirih. Sorot matanya menatap pada Jonathan penuh harap agar pemuda itu tidak pergi meninggalkannya barang sekejap pun. Jonathan urung pergi, memutuskan untuk kembali duduk. Kini dirinya tahu apa yang membuat Rachel mendadak berubah. Minuman yang dia pesan adalah minuman soda. Namun yang datang justru long island yang mengandung alkohol. Bagaimana tidak membuat kekasihnya mabuk? “Chel, kita pulang?” “Idih, ngapain sih buru-buru. Masih asyik juga di sini, Bae!” Rachel kembali bergerak mengikuti alunan musik. “Lu mabuk, kita harus pulang!” tegas Jonathan. Dari jarak pandangnya, dia bisa melihat wajah Rachel yang sudah memerah. Rachel tak menyahut, justru bergelayut manja di lengan kekar Jonathan sem