Ratna tertawa keras mendengar analisaku. "Nay, Nay. Kamu itu, masih saja bersikap lugu dan polos. Sadar woi. Kebanyakan nonton drama korea kamu.""Boro-boro nonton drama, membaca cerbung di kbm pun aku sudah tidak sempat lagi, saking sibuknya mengurus usaha," bantahku. "Ciee... yang usahanya makin berkembang pesat..." Ratna kembali menggodaku. "Ish.. bukan karena itu Rat. Aku hanya masih banyak pikiran saja. Memangsih Alhamdulillah usahaku lancar. Tapi kan tidak langsung melesat seperti itu. Masih merangkak juga kok.""Iya, iya. Terserah kamu saja." Kamipun asik bercengkrama sambil melayani pelanggan yang mulai datang satu persatu..Malam harinya Mas Rafi mengajakku untuk jalan-jalan keluar. Tentu saja dia meminta ijin kepada orang tuaku terlebih dahulu. Aku saja baru tahu belakangan setelah tiba-tiba Ibu mengetuk pintu kamar dan memberi tahukan kalau Mas Rafi sudah menunggu di bawah. Dengan berdandan seadanya, aku menemui dan ikut bersamanya. Bapak dan Ibu mudah sekali merasakan
Kami tiba di sebuah restoran mewah di pusat kota. Aku dan Mas Ilham bahkan belum pernah makan di tempat semewah ini. Ternyata dia sudah memesan tempat sebelumnya untuk kami. Seistimewa itukah makan malam kali ini? Ada-ada saja. Aku merasa seperti sedang berkencan dengan seorang tuan muda seperti di sebuah novel yang pernah kubaca. Kali ini sampai tamat, karena aku meminjam novel cetaknya dari Ratna. Sehingga aku tak perlu lagi repot-repot membeli koin yang sampai sekarang aku tidak mengerti caranya.Tak lama dua hidangan mewah datang. Aku bahkan belum memesan apapun. Bahkan daftar menu yang biasa aku pilih dengan harga paling murah pun belum ditunjukkan oleh pelayan. Lalu makanan apa yang dipesan oleh Mas Rafi ini? Hidangan diletakkan satu persatu di depan kami. Aku tertawa kecil. Ternyata ini adalah ikan nila bakar kesukaanku. Tidak terlalu mewah memang, tapi inilah makanan favoritku sedari kecil. Setiap habis memancing, Bapak selalu membawa pulang ikan nila hasil pancingannya. Me
Mas Rafi menarik tanganku segera untuk meninggalkan tempat itu. Tapi lagi-lagi wanita itu menahan kami. "Tunggu, Raf. Aku tidak bermaksud mencampuri urusan kamu. Tapi aku tidak salah lihatkan? Bagaimana kamu bisa mengenal wanita ini?" Mas Rafi tampak murka dan mengajakku berlalu tanpa menjawab pertanyaan wanita itu. Aku masih diam membiarkannya tenang. Begitulah biasanya caraku menghadapi seseorang yang sedang marah. Meski belum bisa menenangkannya, setidaknya aku tak membuatnya semakin menjadi-jadi. Aku dan dia masih saling terpaku di dalam mobil yang masih terparkir di area restoran. Dia terlihat sangat gelisah. Apa sebenarnya yang terjadi? Disaat aku baru membuka hati dan memulai hubungan yang baru, ada saja orang ketiga yang mengganggu. "Mas antar pulang, ya?" dia mulai membuka suara. "Wanita itu tadi siapa?" Akupun mulai berani bertanya. "Dia wanita yang kemarin Mas ceritakan.""Maksudnya, tunangan Mas Rafi yang berselingkuh itu?""Benar, Nay. Kamu jangan marah, ya? Mas ti
"Ya sudah, kita ngobrol di sini saja dulu.""Iya, Rat. Aku juga ingin bercerita sama kamu.""Soal Mas Rafi lagi?""Iya, Rat. Kenapa ya, dia sangat kesal dengan wanita itu?" tanyaku heran. Tadi malam setelah Mas Rafi mengantarku pulang, aku langsung menghubungi Ratna. Menceritakan apa yang terjadi saat makan malam itu. Kemudian Ratna mengajakku bertemu dan kembali membahasnya. "Yang lebih aneh lagi, wanita bernama Renata itu, kenapa bisa kenal sama kamu?" Ratna selalu refleks dengan semua ceritaku. "Itulah yang membuatku jadi merasa terganggu. Aku sudah memikirkan dengan baik, mencoba mengingat-ingat dimana aku pernah melihatnya. Tapi hasilnya nihil. Wanita itu tetap asing bagiku.""Bagaimana kalau kamu menanyakannya pada Mas Ilham.""Apa? Mas Ilham? Buat apa? Inikan tidak ada hubungannya dengan dia."Ratna tampak terdiam sambil memandangku. Seolah-olah dia berpikir tentang sesuatu yang mungkin tidak masuk akal bagiku. "Jangan menakutiku, Rat. Apa yang sedang kamu pikirkan tentang
"Sudah baikan? Ada Nak Rafi itu di ruang tamu. Kamu turun sekarang, ya? Ibu mau kembali menjaga toko," Ibu kembali menutup pintu kamar tanpa mendengarkan jawabanku. Dengan malas aku bangkit dan merapikan sedikit rambutku. Kutemui dia di ruang tamu lantai dua. Dia tampak santai dengan hanya mengenakan kaos dan celana jins. "Kata Ibu kamu sakit. Mas antar ke dokter, ya?" dia masih terlihat sangat perhatian. Tuluskah itu? "Tidak usah, Nay sudah minum obat," jawabku ketus. Aku duduk berseberangan yang sangat jauh darinya. Dia di ujung sana, aku di ujung sini. Semoga dia sadar kalau ini adalah tanda bahwa aku sedang tidak ingin berlama-lama dengannya."Mas minta maaf ya atas kejadian kemarin. Sungguh, Mas tidak menyangka kalau akan bertemu dengannya disaat makan malam kita. Tapi Mas senang kalau, Nay marah," tuturnya sambil tersenyum. Dahiku mengernyit. Aku yang demam, kenapa dia yang mengigau? Dia senang melihatku marah? "Kenapa?" tanyaku penasaran. "Karena itu artinya kamu sudah be
Mas Rafi masih bergeming memandangku dengan tatapan sendu. Dia pasti tidak menyangka kalau aku bisa setegas ini. Tapi aku benar-benar sudah tidak tahan diperlakukan seperti ini lagi. "Sudah cukup Mas Ilham saja yang berbohong dan mempermainkan Nay, Mas. Jangan Mas Rafi tambahi lagi luka di hati Nay. Nay sangat berterima kasih dengan semua kebaikan Mas Rafi selama ini. Tapi kejujuran dalam suatu hubungan itu perlu, Mas," ibaku."Maafkan Mas, Nay. Mas benar-benar tidak menyangka kalau semua akan jadi begini. Mas sangat menyesal telah membuat kamu terluka. Mas tidak bermaksud seperti itu.""Kalau begitu katakan saja yang sejujurnya. Itu lebih baik walaupun menyakitkan.""Tidak ada yang menyakiti kamu, Nay. Mas tidak pernah melakukan itu. Percayalah."Aku kembali tertunduk, kecewa dengan segala kata-katanya. Tidak bolehkah aku mengetahui segala tentangnya? Segala tentang laki-laki yang kini sudah mulai menggantikan posisi Mas Ilham di hatiku? "Baik, Nay. Kalau memang itu yang kamu ingin
Ilham juga sudah mendapatkan balasannya dengan diceraikan oleh istrinya. Kurasa itu sudah cukup bagiku. Mungkin saja Ilham mulai bertobat dan bisa lebih memperbaiki diri lagi. Entah ini takdir atau bukan, Papaku memerintahkan untuk bergabung di perusahaan yang sama dengan Ilham. Aku tak merasa keberatan walaupun mendapatkan jabatan yang tidak terlalu tinggi. Ilham yang supel dan ramah tak pernah menyadari bahwa akulah yang menyebabkan rumah tangganya hancur. Dia bahkan tidak menyadari kalau dia jugalah yang telah bermain api dengan tunanganku. Semuanya telah terobati kala kudengar Ilham meninggalkan Renata. Mungkin merasa bersalah dan memutuskan untuk bertobat. Akhirnya kami bisa menjadi teman, walau tak terlalu akrab. Aku juga sudah melupakan semua masa lalu kami. Sampai pada suatu hari kami kembali menyukai gadis yang sama. Wajahnya yang manis dan penampilannya yang sederhana membuatku ingin sekali dekat dengannya. Aku yang tak punya pengalaman sama sekali mendekati wanita hanya
"Tolong, Raf. Jangan sampai pimpinan dan yang lain tahu tentang semua ini," pintanya saat kupaksa dia mengaku dan menyerahkan diri. "Kenapa aku harus menolongmu? Kamu telah merugikan perusahaan Ilham," tegasku yang saat itu masih menjadi bawahannya. "Aku akan melakukan apapun yang kamu inginkan, Raf. Bukankah kita berteman? Aku hanya khilaf. Viona terus mendesakku, sementara semua uang sudah kuberikan pada istriku."Mendengar semua tentang Naya, hatiku kembali luluh. Apalagi Naya juga memiliki rencana untuk Ilham. Mungkin dengan tetap menjadi temannya, niatku untuk membantu Naya akan lebih mudah. Sertifikat rumah yang diberikan Naya tempo hari membuatku memikirkan sesuatu. "Baiklah, aku akan membantumu. Aku akan menutupi semuanya. Tapi ingat, ini tidak cuma-cuma. Kamu harus segera melunasinya. Jika sedikit saja kamu melanggar aturan, kamu akan segera ku depak dari perusahaan. Bukan hanya itu, Ham. Aku juga akan menjebloskanmu ke penjara," ancamku yang saat itu begitu membencinya.
Kamipun sampai di sebuah klinik yang tidak jauh dari rumah aku bersama Mas Rafi. Sengaja aku tak ingin pergi ke rumah sakit besar, selain malas untuk mengantri, kurasa penyakitku ini tidak terlalu parah dan juga berbahaya."Selamat ya, buat Ibu dan juga Bapak," seru seorang Dokter setelah tadi memeriksaku dengan senyuman."Selamat apa ya, Dok?" Mas Rafi bergantian memandangi kami."istri Bapak saat ini sedang mengandung. Usia kandungan sudah memasuki usia lima minggu. Selamat, karena sebentar lagi Bapak akan menjadi seorang Ayah."Kulihat binar matanya memancarkan kebahagiaan. Matanya berkaca-kaca, merasa antara percaya dan tidak percaya. Di tatapnya wajahku secara seksama, kemudian kembali ke arah Dokter itu."Benar Dokter? Istri saya hamil?" dia meyakinkan. Dokter muda itu pun mengangguk sambil tersenyum."Alhamdulillah... " ucap aku dan Mas Rafi bersamaan..Mas Rafi tak henti-hentinya menggenggam tanganku. Merasa berbahagia karena telah berhasil mengandung dari buah cinta kami. Kin
Aku duduk di sofa ruang tamu lantai dua. Ruangan ini menjadi lebih luas setelah menyelesaikan renovasi. Bangunan yang tadinya bersekat tembok yang tinggi, kini telah menyatu dan menjadi luas. Karyawan di lantai bawah pun sudah bertambah dua orang lagi, sehingga mengurangi lelahnya Ibu dalam mengurus toko."Ibu masak bubur kacang hijau lho, Nay," ujar Ibu. "Pakai durian lagi. Sengaja Ibu buatkan makanan kesukaan kamu," lanjutnya lagi."Nanti Nay ambil sendiri saja, Bu," ucapku yang agak malas untuk bangkit, tanpa kutahu tiba-tiba saja Ibu sudah berjalan membawa nampan berisi mangkuk.Mendadak aku pusing, tenggorokanku rasanya penuh, hingga memaksaku untuk bergegas ke kamar mandi untuk mengeluarkan segala yang kumakan pagi tadi."Nay, kamu kenapa?" kudengar panggilan Ibu sambil mengetuk pintu. Aku terus saja memuntahkan apa yang ada, hingga tubuh ini jadi seperti tak bertenaga."Tidak tahu, Buk. Mungkin masuk angin," aku berjalan kembali ke sofa setelah membukakan pintu. Kulihat Ibu ber
Akhirnya hari bahagia itu datang juga. Seperti sebuah mimpi, kini aku benar-benar telah mengakhiri masa kesendirianku. Status yang masih menjadi momok yang menakutkan bagiku itu, terlepas sudah. Entah bagaimana caraku mengungkapkannya.Pagi tadi, dengan menggenggam erat tangan Bapak, Mas Rafi mengucapkan lafaz dengan begitu lantang, hanya dengan satu tarikan nafas saja. Membuat semua yang hadir mengucapkan Alhamdulillah dengan begitu antusias dan bersemangat.Sebuah pesta sederhana dilanjutkan dengan sebuah hiburan berupa musik dari orkestra yang biasa diadakan di kampung kami.Aku tidak perduli bagaimana dengan tanggapan keluarga Mas Rafi nantinya, yang selalu terbiasa dengan musik-musik nan elegan yang sering aku lihat di pesta-pesta kalangan orang kaya. Itupun aku tonton dari infotainment para artis.Tapi, sempat kulihat tangan Papa mertua ikut bergoyang juga, menikmati musik dangdut yang dinyanyikan sang biduan.Para sanak famili dan juga sahabat hampir semuanya hadir. Tak terkecu
"Banyak rekan-rekan yang sudah melapor sama Mas, kalau akun Mas diretas orang. Mas curiga itu Viona.jadi, kamu jangan sampai terkecoh jika ada pesan-pesan seperti itu, ya. Mas tidak akan mungkin tega meminta uang sama kamu dengan jalan seperti itu. Melihat kamu menjaga Alta sebaik ini saja, Mas sudah sangat berterima kasih." Ucapannya terdengar tulus dan tidak mengada-ada. Alhamdulillah, ternyata jawaban dari semua beban pikiranku sudah terjawab tuntas tanpa aku menanyakannya.Ternyata Mas Rafi benar juga, bahwa mimpi itu cerminan dari hati dan pikiran..Mobil kembali melaju pelan. Kulihat Alta sudah kembali akrab dengan Mas Rafi. Seakan-akan kejadian malam tadi tidak pernah terjadi. Atau mungkin dia bahagia karena sudah bertemu dengan ayahnya."Mas, tadi Mas Rafi ngomong apa saja sama Mas Ilham, kok jadi akrab?" Aku memberanikan diri untuk bertanya. Sebelum pulang tadi, kulihat Mas Rafi berbicara empat mata dengan Mas Ilham dan diakhiri dengan berjabat tangan dan... berpelukan. Ane
Aku menceritakan semua apa yang kulihat dalam mimpi tersebut. Tentang semua kejadian yang erat sekali berkaitan dengan dirinya. Mas Rafi terlihat serius dalam mendengarkan ceritaku. Malu juga sebenarnya.tapi, karena Mas Rafi terus memaksa, akhirnya aku bersikap jujur saja. Lagipula, kami sudah sepakat akan terbuka satu sama lain seperti janji kami tempo hari. Mas Rafi tersenyum sambil meraih jemariku. Menggenggamnya dengan berusaha untuk menenangkan. "Itu artinya, kamu takut kehilangan Alta dan juga Mas. Iya, kan?" senyumnya semakin mengembang. Terlihat manis dan juga mendebarkan. Eh? Kenapa pipiku jadi panas?"Mas Rafi ge er, ya!" Aku berusaha mengelak dengan menepiskan genggamannya. Mencoba menyamarkan rasa gugup dan debaran di dada. "Biasanya mimpi itu cerminan dari hati, Nay. Saat hati kita bersih, maka mimpi baiklah yang kita lihat. Tapi saat hati kita kotor dan ketakutan, maka mimpi buruk lah yang akan datang. Bukankah hati itu seperti cermin?" Mas Rafi terlihat serius. Tak b
Hari masih terlalu pagi, Ibu sudah menggedor-gedor pintu kamarku. Jantung ini rasanya mau copot saja, bertanya-tanya apa gerangan yang sedang terjadi di luar sana. Bergegas aku beranjak dari tempat tidur, dan segera membukakan pintu untuknya. "Nay, Nak Rafi sedang menunggu di bawah itu. Katanya mau mengajak kamu dan Alta ke pantai." Sejenak aku berpikir. Masih pagi begini, Mas Rafi datang dan tiba-tiba mengajak pergi. Ada apa gerangan. "Ouh, Iya, Buk. Sebentar lagi, Nay turun." Aku menghela nafas. Baru ingat pesan whatsapp yang dikirimkan Mas Rafi malam tadi. Aku hanya sempat membaca, belum ada niatan untuk membalas dan mengiyakan ajakannya. "Memangnya kalian sudah janjian mau kepantai?" terlihat wajah Ibu sedikit cemas.Mungkin merasa khawatir kalau aku tidak sedang baik-baik saja untuk saat ini. Apalagi dia belum menanyakan mimpi apa yang menghantuiku malam tadi. "Nay sendiri lupa, Buk. Mungkin Mas Rafi mau bayar janjinya kemarin sama Alta," terangku yang hanya menduga-duga sa
Degh.... Jantungku serasa mau copot. Saat menyadari orang yang ada di sebelah mas Rafi ialah Viona. Mereka sedang mengawasi Diana_anaknya Viona_bermain. Darahku serasa mendidih. Kenapa Viona lagi-lagi hadir dalam hidupku. Setelah Mas Ilham, sekarang dia ingin merebut Mas Rafi juga dariku. Oh,tidak semudah itu Ferguso. Dengan berapi-api, aku langsung menghampiri mereka berdua. Entah kekuatan apa yang mendorong tubuhku untuk segera memberi pelajaran pada wanita tidak tahu diri itu. Apa Dia pikir Aku ini lemah, dan ingin mencuri apapun yang kumiliki. Oh, aku benar-benar marah dan tak bisa lagi mengendalikan diri. Emosiku kini telah menggunung hingga keubun-ubun. "Mas, sedang apa di sini? " Aku langsung menegur Mas Rafi. Mungkin dia belum menyadari kehadiranku di sini. "Nay? Kamu kenapa di sini? Tadi kamu bilang Alta sudah tidur." Jawabnya gugup. "Jadi ini, alasan Mas Rafi membatalkan acara kita?" Aku langsung memotong pembicaraannya.Tak ingin mendengar alasan apapun yang ingin dia
"Sudah Nay, biarkan saja dulu. Mungkin Alta terlalu kecewa sampai merajuk seperti itu," Ibu mencoba menenangkanku. "Namanya juga Anak kecil. Paling nanti baik sendiri." Ibu menimpali ucapannya. Setengah jam kami menunggu, pintu tak kunjung terbuka. Akhirnya Bapak berinisiatif untuk mendobrak paksa dari luar. Walaupun sudah diusia lanjut, Namun Bapak masih memiliki tenaga yang cukup kuat jika hanya untuk mendobrak sebuah pintu. "Apa Bapak kuat mendobraknya sendiri Bu. Kalau tidak kuat, biar Nay minta tolong sama Dokter Indra saja biar ikut membantu." Aku meminta izin pada Ibu.Siapa lagi yang bisa kami mintai tolong selain Dokter Indra. Sebab, dialah satu-satunya tetangga di sekitar sini yang selalu siap menawari bantuan untuk kami. "Tidak usah nay, Bapak sudah ahli dan banyak tehnik nya juga. Iya kan, Pak?" Ibu memberi semangat kepada Bapak. Mungkin ibu juga segan jika terus menerus minta bantuan kepada Dokter Indra. "Iya, kalau cuma begini, ya kecil, Nay." Bapak terlihat yakin da
Malam ini, Mas Rafi berjanji akan menjemput kami dan membawa kami jalan-jalan keliling kota. Dia melakukan itu mengingat beberapa hari lagi, kami sekeluarga akan pulang ke kampung halaman untuk mempersiapkan acara pesta di sana. Hari dan tanggal sudah kami tentukan. Beberapa surat undanganpun sudah disebar luaskan. Jadi, malam ini kami sekalian ingin mencari pernak-pernik ucapan terimakasih untuk para tamu undangan besok. "Om Rafi kok lama ya, Bunda." Alta terlihat gelisah dan bolak-balik bertanya. "Bukan Om Rafinya yang lama, Tapi Alta yang kecepatan berhiasnya, sayang." Aku menariknya ke dalam dekapan. Sedari tadi Alta sudah sibuk berhias. Dia tak mau kalah dari bundanya agar terlihat cantik di depan mata Mas Rafi. Dia juga memilihkan baju yang pas untuk kupakai. Baju yang senada dengan warna bajunya. Kulirik jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Namun tanda-tanda Mas Rafi datang belum juga terlihat. Ada rasa cemas dan khawatir menghantui. Kenapa gawainya tidak bisa dihubung