Suara sirine Ambulans, gemeretak baut-baut kendur, celoteh mulut-mulut bergosip dari depan, desis roda yang berputar semakin kencang, nyanyian angin yang berlalu. Galang setengah sadar mendengarkan itu semua. Dia terkapar di atas ranjang pasien yang telah reyot. Napasnya dibantu oleh tabung oksigen. Perempuan yang menyelamatkannya tidak terlihat ikut di ambulan ini.
Galang menutup matanya lagi.
Koak burung camar dari atas sana menyeruak sampai ke telinga Galang yang merintih kesakitan. Dia sadar dengan susah payah, sekujur tubuhnya gemetar berlumur darah. Gemeletuk roda kereta sudah semakin menjauh dari pendengarannya.
Beberapa menit lalu -sebelum kejadian- gendang telinganya dipenuhi klakson kereta yang semakin keras mendekat, merobek telinga. Mobil yang dikemudikan ayahnya entah kenapa tidak mau bergerak dari jalur kereta. Galang baru akan meneriaki orang tuanya agar lari keluar dari mobil, namun kepala kereta lebih dahulu menghantam mobil mereka.
Liburan akhir pekan di pantai dipagi minggu itu, benar-benar menjadi tragedi. Galang sungguh menyesalinya, andai saja ia tidak memaksa keluarganya pergi ke pantai hari ini, andai saja hanya dia yang tergeletak lemas penuh luka bersimpuh darah ditabrak kereta, dan andai saja dia bisa mengulang waktu, semua ini harusnya tidak pernah terjadi.
Galang menatap kearah sang ibu yang duduk lemas di sampingnya.
"Ibu ... kepalamu penuh darah ... " Galang seketika melepas seat belt, mengusap darah yang mengucur dari kepala ibunya. Di telapak tangan ia merasakannya, bukan sebuah goresan yang menjadi sumber darah itu mengucur, namun yang ia rasakan seperti mengusap sebuah cangkang telur yang telah pecah.
Sesaat kemudian ibunya membuka mata, mencoba mengingat apa yang terjadi barusan. Ia menyadari sesuatu yang buruk baru saja menimpanya, dengan sisa tenaga dan separuh kesadaran, ia bergumam dengan suara parau.
"Ha-hanum … Dimana Ha-hanum, Galang?" Ibunya menatap Galang lekat-lekat.
Galang hanya bergeming, menundukan kepala penuh penyesalan.
Bentangan jalur kereta yang tak berujung itu hampir merenggut nyawa mereka, kalau boleh dikatakan mereka masih beruntung karena nasib ayah dan adiknya yang duduk di kursi depan tidak mereka ketahui. Bagian depan mobil terpisah dari bagian belakangnya. Mereka tidak tahu nasib Hanum dan sang ayah, entah masih terseret kereta atau terpental jauh di belakang. Mereka tidak tahu mana yang lebih baik atau yang lebih buruk.
Ibunya meringkuk semakin lemas, darah di kepalanya sama sekali tidak mau berhenti keluar.
Mulutnya terus saja berkomat-kamit lirih.
"Hanum… Hanum… Hanum… "
Galang tidak tahan ia berteriak sekuat tenaga, "Tolong! Tolong! Tolong!"
"To …" Tiba-tiba matanya membelalak, Dia bangun terduduk dari ranjang tidur rumah sakit. Se-untai selang terpasang rapi di hidungnya. Gelembung di mulut tabung oksigen bercelepukan seperti air mendidih. Nyamuk yang sedari tadi menghisap darahnya memekik kabur. Penyejuk udara bertekanan rendah mendesing tepat di atas ranjang tidur satu-satunya di ruangan itu.
"- Kau, baik-baik saja?" Perempuan berusia dua puluhan yang tadi malam dilihat Galang duduk tenang di sampingnya. Tangan kirinya mengelus lembut punggung Galang. "Semalaman ini aku terjaga mendengarkanmu yang terus saja mengigau: 'Tolong , Hanum, tolong, Hanum, tolong!' Aku tidak terlalu mengerti apa maksudnya itu, apakah memang ada artinya untukmu atau tidak. Tapi mungkin sekarang kau ingat sesuatu? Apakah... Hanum itu orang yang menabrakmu?"
Galang bergeming. Keringat yang menari-nari di ujung dagu akhirnya menetes. Matanya menatap lamat kedua lengan yang dibalut perban, penuh luka dan perih. Dia masih mencoba mencerna apa yang terjadi semalaman ini. Ia mengernyit kesakitan memegangi kepalanya.
"Tak usah memaksakan diri. Dokter bilang kepalamu memang tidak mengalami kerusakan serius. Namun, sedikit ketegangan saja pada saraf-saraf kepalamu akan terasa sangat sakit. kau masih harus istirahat dengan cukup." Tangan perempuan itu mengusap peluh yang menempel di dahi Galang dengan tisu.
"Aku rasa, kau adalah sebuah keajaiban baru di dunia ini," ujar perempuan itu. "Keadaanmu sangat parah tadi malam. Menurut dokter 60 tulangmu patah, kau kehilangan 1 liter darah, kepalamu sobek, dan hampir retak. Seharusnya kau berada di ruang ICU saat ini. Namun, betapa terkejutnya semua orang ketika mulutmu mulai mengigau. Dan pagi ini, aku sungguh tidak percaya… kau duduk seperti tidak terjadi apa-apa." Selesai membersihkan dahi, perempuan itu duduk di kursinya lagi, memandang pria berlengan kekar itu.
Ingatan Galang perlahan kembali secara berurutan ia kini ingat apa yang dilakukannya semalam, apa yang terjadi pada dirinya, dan siapa perempuan di sampingnya ini. Dia ingat, perempuan ini berbicara pada telepon genggam saat dirinya setengah sadar tergeletak di kerikil jalanan, dan dia juga ingat namanya, Lila Darmawan, gadis sulung dari Ranto Darmawan.
"Pukul berapa sekarang?" ucap Galang pada akhirnya.
Lila sedikit terperangah mendengar pria di hadapannya itu berkata.
"Eeh … Pukul tujuh kurang lima menit, kenapa?"
Gilang diam tiga detik.
"Kau tidak pergi bekerja? Maksudku apa kau tidak memiliki kegiatan lain selain menunggu siuman seseorang yang bahkan tidak kau kenal namanya. Dan kenapa kau menyelamatkanku…" Galang ragu sejenak, tapi dia tetap berucap. "Suatu hari mungkin kau akan menyesalinya." ketus Galang, ia memalingkan muka menatap ke jendela luar.
Lila terperanjat mendengar kata itu muncul dengan mulus dari pria berambut cepak di hadapannya. Ia menyandarkan tubuh pada kursi lipat.
"Entahlah, pekerjaanku sangat aneh menurut kebanyakan orang. Mereka bilang aku dan teman-temanku hanyalah bidak politik, mencari muka umum, mencari panggung, tukang demo dan lain sebagainya. Ya... walaupun biasanya orang yang sering menghardik itu tidak mengetahui apa-apa," Lila mengambil kalung tanda pengenal dari dalam tas jinjing. "Aku seorang aktivis kemanusiaan. Jadi, aku bekerja dimana saja dan kapan saja. Tanpa terikat waktu, mungkin tidak bisa dibilang ini adalah sebuah pekerjaan namun inilah kegiatanku, aku sangat senang melihat orang lain bahagia dari hal-hal kecil yang bisa di bagikan." Dia menunjukan tanda pengenalnya itu, senyum simpul kecil merekah di bibirnya.
Galang tidak puas akan jawaban itu, dia mengurungkan niat untuk bertanya lebih dalam. Lagi pula dia juga tidak peduli dengan urusan orang lain.
"Maaf, sebetulnya dokter melarangku banyak bertanya padamu. Tapi, mungkin pertanyaan ringan ini tidak akan membuat kepalamu sakit … Kau ingat siapa namamu?" tanya Lila.
"Namaku Galang, seorang atlet pegulat gaya bebas."
"Syukurlah kalau kau masih ingat. Aku Lila Darmawan, panggil saja Lila." Perempuan berambut ekor kuda itu menyalami tangan Galang. Matanya yang coklat sempurna berbalut indah memantulkan langit biru cerah. Galang merasakan genggaman kehangatan di tangan yang lembut itu.
Kring… kring… (Suara nada berdering dari dalam tas Lila)
Lila melihat ke layar telepon genggamnya yang tipis, ia mengernyitkan dahi begitu melihat nama kontak yang menghubunginya.
"Kepolisian? tumben sekali mereka menghubungiku …. " jari Lila mengusap layar telepon genganmnya, menempelkan pada telinga kanan. Ia sontak berdiri lalu berjalan pelan menuju pintu keluar kamar pasien. "Hallo… Iya betul Pak, dengan saya sendiri. Ada yang bisa saya bantu?"
Ketika hampir memutar knop pintu kamar, langkahnya terhenti, ia belum terlalu mencerna apa yang dikatakan polisi tersebut, suara gaduh dari belakang mengganggu polisi itu berbicara.
"Apa pak? Tolong lebih jelas lagi, suara bapak kalah keras dengan suara orang orang disitu…"
Hening sejenak. Lila menggigit bibir tipisnya. Jantungnya seakan berhenti secara tiba-tiba.
" … Kebakaran?! Rumah sa-saya kebakaran?"
Pintu ruangan itu dibanting rapat ketika Lila melenggang pergi meninggalkan Galang yang sedari tadi memperhatikannya.
"Apa aku tidak salah dengar? Bagaimana mungkin rumahnya terbakar," gumam Galang.
Potongan-potongan siluet seketika menyergap pikirannya, ia mulai gusar mengingat gambaran rumah Darmawan, darah yang menggenang di atas kasur, mata Darmawan yang membelalak, wajah gadis kecil yang mengusap mata. Galang mengernyit menahan sakit kepala yang seperti ditusuk jarum-jarum kecil.
Tangan kirinya memegang bekas jahitan di kepala. Gambaran itu muncul lagi, sebuah mobil yang menyeruduknya dari belakang, "Ya… itu bukan kebetulan, mereka pasti telah merencanakannya." Dan Seseorang yang keluar dari balik mobil itu.
Gelembung oksigen semakin cepat bercelepukan. Keringat mulai keluar dari pori-porinya.
Dalam ingatan Galang, Gerakan seseorang yang mangacungkan Revolver kepadanya melambat, bahkan Galang mampu melihat dengan jelas sebuah noda merah kecil menempel pada dasi orang itu. Sebelum teman orang itu membentaknya, ia melihat seluruhnya.
Revolver itu berwarna hitam metalik, seri 'Ruger Super RedHawk' jenis .454 Casull-double action keluaran Amerika tahun 1987 peluru berkecepatan 1.900 kaki per sekon dengan daya rusak mematikan, mampu melubangi dinding beton sekali picu. Dan yang lebih penting lagi dia mengingat nomor plat dan jenis mobil tersebut.
Galang menggeser daun jendela di sampingnya, angin dari luar langsung menyerbu masuk. Langit biru yang cerah serta siraman mentari pagi yang hangat menyambutnya. Dari balik jendela itu, ia melemparkan pandangan ke segala arah. Hamparan rumput hijau tumbuh subur di bawah, nampaknya dia dirawat di lantai dua dan bangunan ini terletak paling ujung dari pintu masuk mengingat pagar-pagar pembatas menjulang tinggi di balik jendela ini. Satu-satunya jalan untuk kabur adalah pintu depan.
Tak lama seorang perawat lelaki berperawakan kurus dan tinggi lewat dikoridor depan, ia mendorong gerobak makanan. Tiga kali dia mengetuk kaca yang menempel pada pintu, lalu tersenyum begitu Galang menoleh kepadanya.
Perawat itu masuk membawa baki dan membaca daftar nama di kertas, ia sedikit mengangkat alisnya lalu tersenyum kikuk ke arah Galang.
"Tuan Lila Darmawan?"
Galang terperangah, namun cepat sadar ketika suara lembut Lila yang sedang menelpon dimalam itu menggema di telinganya.
Galang hanya mengangguk, lalu menatap kosong layar televisi yang menggantung di depannya.
"Ini sarapannya, Tuan."
Perawat itu menaruh baki di atas lemari nakas. Ia sempat melihat ke jarum tabung oksigen dan menyadari isinya hampir kosong.
"Bung, apakah aku boleh menyalakan televisi?" tanya Galang.
"Tentu saja." Perawat itu mengambil remote di dalam laci nakas, kemudian ia memencet salah satu tombolnya.
"Di saluran berita, terimakasih."
"Apakah ada lagi yang bisa saya bantu?"
Galang berpikir sejenak, "Dimana bajuku?" ia menjinjing baju hijau muda yang melekat di tubuhnya.
"Oh maaf, Pakaian Anda sedang kami cuci, mungkin besok pagi sudah bisa dipakai. Barang-barang yang di dalam jaket semuanya ada di bawah laci nakas itu."
Perawat tersebut meminta undur diri. Tangannya menyilang sebuah list perlengkapan kesehatan sebelum menarik gerobak makanan.
"Hei tunggu, ada satu lagi." Perawat tersebut kembali lagi ke samping ranjang, Galang meminta supaya selang oksigen yang melilit kepalanya dilepas karena ia justru merasa kekurangan pasokan oksigen sebab isi tabung sudah sangat sedikit. Perawat itu mengiyakan permintaan Galang. Saat ia hendak menutup keran yang ada pada tabung, tanpa disadarinya Galang dengan cepat bangkit dari ranjang lalu memiting batang lehernya dari belakang. Kakinya sontak menendang-nedang ke sembarang arah, matanya membelalak, mulutnya mengerang, mukanya merah padam berusaha bernapas, namun dalam hitungan detik berubah menjadi pucat pasi dan sekujur tubuhnya yang tegang seketika melunak seperti tak bertulang. Galang memasangkan selang oksigen pada hidung perawat tersebut. Saraf vagus yang terletak di sisi kanan dan kiri leher bertanggung jawab atas suplai udara ke jantung. Ketika urat leher ini ditekan hasilnya mempengaruhi pendistribusian darah ke otak yang akan terhambat, efeknya menurunkan atau menghilangkan kesadaran orang tersebut. Ini adalah teknik dasar bagi seorang pegulat seperti Galang. Pelan-pelan ia melepas baju perawat tersebut.
Layar televisi tipis berukuran 21 inci yang menempel pada dinding sedang menampilkan seorang reporter pria berperawakan tegap dengan latar di belakangnya sebuah rumah hangus yang tak berbentuk.
"... Kini saya tepat berada di belakang kediaman dari keluarga Darmawan. Beliau dikenal sebagai seorang dokter yang mengabdikan diri pada kesehatan masyarakat kurang mampu tanpa meminta upah sepeserpun, menurut data yang saya dapatkan sebelum beliau terjun mengabdikan diri pada masyarakat, dulunya beliau adalah dokter spesialis bedah di rumah sakit internasional, Jakarta Pusat. Keahliannya ini .... "
Setelah hampir selesai bertukar pakaian dengan perawat, Galang mengambil telepon genggam di dalam laci nakas lalu mengambil alih gerobak dorong di luar pintu, ia berjalan menunduk melewati koridor panjang lantai dua, seorang suster di bagian peracikan obat sempat menegurnya, namun betapa beruntungnya dia ketika datang seorang suster lainnya yang mengajaknya bergurau. Galang sudah siap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi ketika dia melewati ruang lobi dan kemungkinan terburuk yang terjadi, seorang satpam menghentikan laju gerobaknya karena melihat Galang berjalan dengan aneh.
"Kau mau kemana, Bung? Aku sepertinya baru melihatmu?"
Galang melirik kearah nama yang terbordir di seragam satpam itu, 'Sapto' nama yang cukup kampung, mungkin sedikit trik akan membuatnya mengangguk.
"Betapa sialnya hari ini aku Pak. Ini hari pertamaku masuk kerja dan baru sekali ini mengantar makanan di lantai dua, aku tidak sengaja menjatuhkan senampan makanan dan hasilnya kakiku terkilir cukup parah, jujur saja aku lupa sarapan pagi ini, mungkin itu yang jadi penyebabnya. Oya, suster-suster di atas bilang aku disarankan memeriksa otot kakiku yang malang ini dengan segera dan katanya surat izin ada pada pak Sapto?"
Satpam itu terkesiap dengan gagap, tanpa pikir panjang ia kembali ke mejanya dan mengorek-ngorek surat yang paling sulit ditemukan kalau sedang dibutuhkan itu. Galang tanpa menunggunya sudah melenggang pergi keluar dari pintu rumah sakit, ia meninggalkan gerobak tepat di depan pintu dan berjalan terhuyung menuju parkiran.
Aungan sirine ambulan tiba-tiba terdengar masuk dan suaranya menjalar ke setiap sudut parkiran bawah tanah tersebut, setelah mobil ambulan berhenti, dua orang keluar dari kabin depan lalu mereka menarik serta mendorong ranjang berisi seseorang yang setengah sadar masuk ke ruang gawat darurat.
Sirine yang mengaung itu berhenti dibunyikan ketika Galang mulai memasuki jalan protokol. Dia tidak ingin terlihat mencolok dengan mobil curian ini.
***
Pukul 06.00 di kantor kepolisian,Telapak tangan komandan berbintang tiga itu menggebrak meja dengan keras. Jejeran gelas serta alat tulis di atas daun meja melompat bergetar. Air di dalam gelas tersebut terkoyak hampir tumpah.Kedua bola mata komandan memandangi satu per satu orang di ruangan brifing para penyidik. Hanya ada enam orang di ruangan berukuran 5 x 6 m² tersebut, duduk mengelilingi meja panjang.Komandan mengambil sebuah tongkat kayu, diketuknya dengan tegas muka papan tulis putih di depannya itu. Air muka komandan yang sangar dengan kumis tebalnya yang bergerak-gerak seperti ulat bulu, membuat semua orang tegang memandanginya."Eros! Kau, lihatkan daftar kasus in
Pukul 09.12Baru saja Lila memarkirkan mobil, sebuah ambulan mengaung pergi menjauh dari halaman rumahnya. Kepala Lila menatap perginya mobil tersebut yang melaju cepat melewatinya, buru-buru ia berlari menuju rumah.Ia memelankan langkah lari ketika hampir sampai, menatap nanar ke rumah. terbatuk akibat bau hangus yang sangat menyengat. Hampir semua orang yang ada disitu, memandanginya dengan tatapan bersimpati. Lila berjalan pelan menerawang ke seluruh bangunan yang kini tidak dikenalinya lagi. Atap yang setengah roboh, pintu depan yang telah habis, jendela-jendela kaca berserakan, serta debu hitam yang menyelimuti setiap sudut ruang, ia menerjang garis polisi lalu masuk ke dalam rumah dengan perasaan gundah, lantai rumah dipenuhi barang-barang yang menjadi abu. Kakinya tanpa ia sadari terus melangkah ke depan.
Mobil ambulan yang dikemudikan Galang meliuk-liuk di antara kendaraan besar di jalan protokol. Sebuah kontainer mengklaksoninya dengan geram karena ia memotong jalurnya dengan sembarangan dan gila. Namun, Galang tidak menggubris, asal mereka tahu, ia jauh lebih kesal dari para supir-supir itu. Sudah lima kali panggilan teleponnya tidak diangkat Nazar, sambil menggerutu Galang melempar telepon seluler ke bangku samping. Kedua roda depan mobil ambulan itu akhirnya berbelok keluar dari jalan protokol, memasuki jalan yang lebih kecil dan tidak terlalu ramai. Kanan kirinya berdiri bangunan ruko bekas peninggalan Belanda dulu. Satu-satunya bangunan yang paling mencolok di sepanjang jalan ini adalah sebuah apartemen berbentuk kue lapis yang berdiri kokoh menghadap jalur protokol. Galang memutar kemudi dan ambulan masuk ke parkiran apartemen. Sebelum Galang kel
Cetek… cetek… cetek… sebuah suara terdengar dari arah depan.Setelah menutup pintu kamar, Galang menoleh ke gagang pintu depan. Knop bergerak konstan naik-turun, lalu beberapa saat kemudian terdengar suara percakapan dari balik pintu tersebut. Galang terkesiap akan kehadiran orang tersebut, situasinya akan lebih buruk jika ada yang melihatnya berada di sini. Ia menatap ke seluruh sudut ruangan berharap ada celah ataupun lubang yang bisa digunakannya bersembunyi. Otaknya dipaksa berpikir cepat.Dua orang polisi bersenjata akhirnya bersepakat untuk mendobrak pintu kamar nomor 402, mereka secara bersamaan menghantamkan badan pada daun pintu. Pintu tersentak membuka, sekrup yang terpasang di engsel menjerit hampir lepas terkena hentakan untuk yang kedua kalinya.
Pukul 09.55 di rumah sakit,"Aku yakin sekali dia mengetahui sesuatu." Lila berbicara dengan nada tinggi menunjuk ruang tempat lelaki bernama Galang itu dirawat. "Kaburnya dia justru semakin menguatkan keyakinanku. Percayalah kepadaku, kau harus mencari dia."Eros berpikir sejenak, "Ya. Jika dilihat dari lokasi Anda menyelamatkannya, dan tingkahnya yang kabur dalam kondisi terluka, Besar kemungkinan dia mengetahui sesuatu perihal kebakaran di rumahmu atau mungkin saja itu sebuah kebetulan." Eros melirik ke gadis berusia dua puluhan tersebut. "Hai… Anda baik baik saja kan? Kenapa tiba-tiba menangis lagi?"Lila membuang muka begitu Eros memegangi bahunya. "... Andai saja, orang itu memang terlibat. Kamu pikir, Apakah a-aku telah menyelamatkan seorang penjahat? yang mungki
Setelah selesai mencatat beberapa poin yang dianggap penting, Eros menyuruh pak Udin untuk menunjukan lokasi terjadinya penembakan tersebut."... Bukan cuma mendengarnya Pak. Saya melihatnya dengan mata kepala sendiri. Sungguh, saya intip orang berbadan besar itu tepat saat menembak ke arah Karto. Dia menembak dengan tangan kiri pak. Ayo sini, saya tunjukan lokasi penembakannya."Mereka pergi masuk ke dalam kawasan makam yang dipenuhi dengan pepohonan tinggi, meskipun siang hari, nampak terasa aura di tempat peristirahatan terakhir ini sangat mencekam, suara serangga serangga bising terdengar dari penjuru arah seperti tidak mau kalah bising dengan suara kendaraan kota. Sementara itu, Lila merasa lebih senang untuk tetap duduk di teras gubuk, matanya melihat ke segala penjuru, daun-daun pohon ber
Pukul 10:00 di sebuah kafe.Lonceng di pintu kaca kafe bergemerincing tiga kali ketika daun pintunya dibuka oleh seorang wanita tinggi semampai. Para lelaki yang sedang saling berbincang sambil menikmati kopi ataupun sedang makan di ruangan bernuansa klasik, secara bersamaan menoleh ke arahnya. Wanita tersebut memakai kacamata hitam besar dengan bingkai coklat emas, tas jinjing kecil yang mengkilap digapit pada ketiaknya, baju dress hijau selutut cukup ketat menyelimuti tubuhnya hingga lekukan siap sisi tubuhnya terlihat menonjol, sepatu high-heel di kakinya semakin menambah keseksiannya, rambut pirangnya tergerai ke samping seperti daun di musim semi yang berguguran, bibir merahnya yang tipis tersungging kecil begitu mel
*** Musim panas di akhir tahun melekat sekali dalam ingatan Galang. Burung camar yang berkoak, gemercik ombak laut membelah karang, angin berhembus dari ufuk timur, siraman hangat sinar matahari yang menggairahkan, aroma menggoda pasir kering, serta tawa kanak-kanak seusianya di bibir pantai, seakan menyambut Galang dan keluarganya begitu roda mobil menginjak pasir pantai itu. Dua hal yang tidak mungkin dilupakan Galang pada hari itu, Ayahnya adalah seorang dokter yang hendak menyelesaikan studi kedokteran internasionalnya di Jepang yang akan menepati janjinya kepada Galang dan Hanum. Janji yang dibuatnya saat hendak terbang menjalankan tugas, sambil mengecupkan bibir pada kening Hanum, ia berjanji pulang dengan selamat dan akan mengajak mereka berlibur di pantai selatan yang masih asri lingkungannya begitu sampai di rumah. Musim panas hari itu kebetulan berbarengan dengan libur panjang sekolah. Pantai yang beberapa tahun sebelumnya masih sedikit yang tahu keberadaannya, saat mereka