Share

53. Loser

Penulis: Sun🌅
last update Terakhir Diperbarui: 2023-02-09 21:55:54

Esa terkekeh saat menyadari sesuatu.

“Kau tahu, yang lebih mencengangkannya lagi?” tanyanya tapi bukan bertanya. Seperti hanya mengikuti caraku berbicara. “Makasi atas Quotesnya. Cukup menghibur.”

Kuterima dengan gaya anak indie yang mencintai senja. Tidak menyangka pula bahwa kata-kata itu malah menghiburnya.

“Tapi kamu gimana dulu? Katamu pernah berada di posisi Olin waktu—eh, keadaan Olin gimana?”

Ia keburu mengubah topik saat menyebut anak tersebut. Ada kekhawatiran sekaligus ketakutan yang cukup pekat di matanya. Aku spontan menjawab. “Baik.” Membuatnya tidak percaya.

“Seriusan? Nggak mungkin. Pagi ini gimana keadaannya?”

“Sedang tidur setelah minum obat sehabis sarapan.”

“Dia bilang apa tentangku?”

“Nggak ada.”

“Seriusan?”

“Serius .…”

Aku memang tidak ingin membebani pikirannya dengan rasa sakit yang sudah-sudah. Namun setiap kali bertatapan lama, ia seolah mendesakku untuk berbicara jujur.

“Aku ini laki-laki, sayang. Nggak apa-apa. Bicara aja secara jujur. Justru saat aku tahu
Bab Terkunci
Membaca bab selanjutnya di APP

Bab terkait

  • Dream first class   54. Cara berterima kasih

    “Pertanyaan itu juga yang sering muncul dikepalaku belakangan ini,” akuku beberapa saat ketika ia nyaris menumpahkan air matanya. Kemudian tersenyum lebar-lebar ketika ia melihatku dengan wajah parau. “Ternyata aku nggak sendiri.” Membuatnya mengelap air mata cepat-cepat bagai anak kecil yang dimarahi Ibunya karena terlalu banyak menangis sementara aku melompat kecil untuk menjongkok kemudian duduk tepat di depannya. “Udah jangan sedih,” cetusku mengambang. Mengulurkan singsingan lengan panjang hingga punggung tangan untuk ikut mengelap air matanya. “It’s okay. Bukan masalah besar ketika kita nggak tahu siapa diri kita yang sebenarnya. Kamu nggak punya masa lalu? Nggak jadi masalah! Kita bisa buat masa lalu itu dari sekarang.” Aku mengangkat alis. Tersenyum sampai menyentuh pipi. “Gimana?” Membuatnya berkeluh kesah. “Kenapa kamu begitu positif, Nom?” “Hm?” Aku berpikir. Kemudian mengendikan bahu. “Nggak tahu. Aku Cuma pengen bahagia. Karena mau senang atau sedih, ujung-ujungnya jug

    Terakhir Diperbarui : 2023-02-10
  • Dream first class   55. Hantu Jerapah

    Esa masih belum siap memampangkan muka dihadapan anak-anak. Jadi aku berinisiatif masuk lebih dulu untuk perlahan menyelipkannya kedalam perbincangan kami. Di ruang tengah, TV sedang menyala. Segala jenis mainan berhamburan. Saluran channel dari salah satu youtuber luar negeri tentang pengenalan hewan di kebun binatang menjadi tontonan mereka semua. Aku bergeming. Berpikir kapan waktu yang tepat untuk berbicara saat suara TV mendominasi pikiran dan imajinasi hingga sepenuhnya mengambil alih fokus anak-anak begini. “Wah! itu gajah afrika, ya?” tanyaku bersorak seru. Mereka malah tidak menanggapi. Kudiamkan beberapa menit dengan kaki yang mulai bergerak-gerak saat kuselonjorkan di atas karpet buludru. “Oh, jadi begitu caranya memberi makan kudanil,” kataku sambil mengangguk-angguk. “Iya, iya.” Mencoba santai namun terkesan seperti orang mabuk. “Makanannya semangka utuh, ya! Wah, hebat-hebat!” Aku pun membuat suara ribut dengan bertepuk tangan sendiri kala melihat Monyet bergelantunga

    Terakhir Diperbarui : 2023-02-11
  • Dream first class   56. Monster yang ditakuti anak-anak

    Di rumahmu banyak hantunya, ya? ketikku untuk membalas pesan. Esa pun menjawab dengan singkat dan padat. Nggak ada. Aku mengerti betapa lelah dan membosankannya berdiri di depan rumah sendiri. Tidak banyak orang yang bisa bersabar menunggu meski hanya sebentar, namun aku ingin meluruskan mengenai hantu ini. Jangan bohong. Ajeng barusan cerita kalau di sini banyak hantunya. Ya terus mau gimana? Ya gimana, kek. Izinin aja dulu aku masuk. Masalah hantu kan bisa diusir nanti. Gampang. Kata Ajeng hantunya tinggi kurus kayak kamu, terus bawa pisau ke mana-mana. Bener? Hm, bisa jadi. Saya bisa masuk dulu, nggak, buk? Sudah mulai hujan, nih. Oke, 5 menit. “Hm. Anak-anak,” panggilku spontan karena didesak waktu. Ponsel Kutengkurepkan di permukaan karpet. Menatap anak-anak dengan mata yang terasa bergetar karena bahan untuk beralasan pun belum kusiapkan. “Pak guru kayaknya akan ke sini, deh.” “Hahh?!” Dengan serentak, mereka semua terkejut. Tanpa sadar, gerak tubuh reflek terban

    Terakhir Diperbarui : 2023-02-14
  • Dream first class   57. Negosiasi

    Ajeng membuat kontak mata dengan Pak gurunya. Setelah itu meringsuk mendesakku dengan rengekan bayi. “Mau pulang,” katanya nyaris menangis. Aku merasa pusing. Mengurusi anak-anak memang bukan pekerjaan yang mudah. Salut dengan Ibu-Ibu di luar sana yang bersedia menikah untuk memiliki anak. Lebih-lebih saat ekonomi sedang tidak stabil lalu membiarkan anaknya tumbuh dalam serba kekurangan. Aku tidak pernah mengerti caranya menjadi Ibu yang baik selain merasa khawatir tidak bisa membiayai hidup mereka lalu tanpa sengaja membuat mereka menderita sepanjang hidupnya. Namun derita itu tak lantas hanya mengenai ekonomi yang sulit. Banyak faktor lain seperti: perceraian, penganiayaan, pengabaian, dan kekerasan yang membuatku semakin tidak mempercayai pernikahan. Kau tidak pernah tahu apa yang akan terjadi ke depan meski saat menikah di hadapan Tuhan, kau akan dengan yakin berjanji untuk saling mencintai hingga maut memisahkan. “Aku juga bawa Dinosaurus untuk Rico, lho.” Esa memecahkan la

    Terakhir Diperbarui : 2023-02-16
  • Dream first class   58 Happines are

    Sebenarnya aku sempat menawarkan diri untuk ikut tapi entah mengapa Ajeng sendiri yang melarangku. Anak perempuan yang terlalu cepat dewasa itu berusaha mengepalkan keyakinan bahwa tidak akan ada apa-apa yang terjadi. Ia hanya ingin berbicara empat mata dengan Pak guru. Namun segera setelah tangan mungilnya berpindah ke tangan Esa dan ia berbalik untuk melambaikan tangan, disitu perasaanku jadi tidak karuan. “Kalian nggak tidur?” tanyaku pada anak-anak yang masih bermain game VR di ruang TV. Karena tunggu giliran, Rico dan Toto yang bisa menyahut. “Tunggu bentar, Bu guru.” “Ingat loh. Jam 9 kalian sudah harus tidur.” Sambil memasang senyum rata yang lebar, keduanya mengangguk. “Baik, Bu guru. Siap.” Jawaban itu tak lantas membuat hatiku lega. Masih ada sesuatu yang terasa mengganjal dan membuat resah. “Pak guru kok belum balik, ya?” “Kan masih nganterin Kak Ajeng.” “Iya, sih. Tapi kan sudah dari tadi.” “Sabar, Bu guru.” “Iya Toto …. Bu guru pasti sabar. Tapi rasanya agak ngg

    Terakhir Diperbarui : 2023-02-17
  • Dream first class   59 Arti kematian

    Anak itu memiliki tatapan sedingin marmer. Ia mendorong rodanya ke depan. Bergulir pelan sampai menyentuh kaki Esa. Kami semua masih membeku di tempat. Melihatnya terdiam mendongak sambil melihat pria jangkung yang tak sekalipun bergeming dari tempatnya itu dengan rasa yang mati.“A-a, Li-ci,” katanya. Meminta jawaban dari sang lawan yang tak dapat meresponnya dengan cepat selain terpaku mematung bagai kehilangan nyawa sendiri.“A-a, Li-ci,” katanya terus di hadapan Esa yang masih tercenung mengosongkan pikiran dan hati. Sementara aku menyuruh Rico mematikan game agar Tato berhenti meraba-raba udara dengan kedua stik tersebut di tangannya. Perhatian kami terfokus untuk Olin. Turut merasakan duka mendalam atas kepergian kakaknya.Aku mengingat satu dua hari yang lalu tentang aktifitas yang tidak banyak ingin ia lakukan selain makan, tidur, dan minum obat. Jika pagi ia tak ingin merasakan matahari, maka ia hanya akan duduk di kursi rodanya sambil mengintip lewat jendela—membayangkan bag

    Terakhir Diperbarui : 2023-02-19
  • Dream first class   60. Firasat Bulshit!

    Aku melihat jauh kepada lingkaran cahaya berwarna orange yang perlahan terbenam diperbatasan laut. Merasakan deburan ombak menyentuh kuku kakiku di bibir pantai. Selepas melayat, Ajeng menawarkan adik-adiknya untuk pergi bermain di rumahnya karena katanya sang kakek sedang ulang tahun. Olin sang kakak tertua juga diajak meski kami khawatir ia dalam kondisi yang tidak stabil. “Tenang aja. Ada Ajeng di sini,” kata anak itu yang tetap membujuk dan berjanji bisa menjaganya dengan baik. Esa pun mengangguk mengiyakan sebab ia bilang ada sesuatu yang ingin dibicarakan berdua juga denganku. Tanpa anak-anak. Aku setuju. Tapi kami malah terdiam membisu di mobil. Membiarkan lagu Justin bieber—changes menggema dalam playlist. Tidak ada yang mulai berbicara sampai akhirnya aku menangkap sunset ini saat perjalanan pulang dan Esa jadi menawarkan pantai Gading sebagai tempat yang tenang untuk mengobrol. “Kamu mau ngomong apa?” tanyaku tepat ketika ia meletakkan bokongnya di pasir dan menyodorkanku

    Terakhir Diperbarui : 2023-02-20
  • Dream first class   61. The Letter

    Aku berjalan cepat dipinggir jalan saat mobil Esa dengan pelan mengikuti langkahku. Membujuk untuk naik ke mobilnya. “Kamu jangan gini dong, sayang. Kan bisa dibicarakan dulu baik-baik. ” “Aku lagi nggak pengen ngomong sama kamu. Udah! kamu pulang aja duluan. Aku bisa naik taksi nanti.” “Ya masa aku tinggalin kamu sendirian.” …. Aku tidak peduli. Langkah kaki tetap bergerak maju layaknya lomba jalan cepat, sementara Esa malah memanggil dengan nada sengau. “Sayang. Dengerin aku dulu.” Tidak kugubris. “Sayang ….” Langkah kakiku pun mengerem. Pandangan menyipit ke depan. Berbalik badan. Berjalan melewati belakang mobilnya untuk menghentikan Taksi yang sudah terlihat dari jarak 50 meter. Esa langsung keluar dari mobilnya. Menangkapku cepat sebelum Taksi itu mendekat. “5 menit,” katanya sambil memegang pergelangan tanganku. Menatap dengan sangat serius. “Kasih aku waktu 5 menit buat jelasin semuanya.” “Harus banget sekarang, ya?” tanyaku memekik heran. Ia menelan salivanya dengan

    Terakhir Diperbarui : 2023-02-25

Bab terbaru

  • Dream first class   71. Sky Diving (Tamat)

    Esa mengepak pakaian seadanya. Ia memasukan baju dan celana panjangnya secara serampangan ke dalam koper. Aku yang bersandar pada kusein pintu, yang sudah siap pergi dengan berpakaian rapi dan cantik, langsung tergerak untuk mendekat, membantunya mengeluarkan baju-baju itu kembali untuk dilipat. Ia menunggu dengan sabar di sampingku sementara aku berusaha tersenyum sambil mengusap pipinya. *** Hari H menuju kematian. Bandara Nusawiru, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat. Pukul 08.30, Esa memasangkan goggles padaku setelah dirinya selesai memakai jumpsuit. Perlengkapan untuk olahraga berbahaya ini sudah disiapkan oleh tim manajemen NSW Paracenter, namun entah mengapa ia lebih memilih untuk membeli semuanya sendiri. Dan itu tidak murah. “Kenapa nggak sewa aja, sih? Kan kita pakainya sekali.” Esa mengancingkan helmnya dengan erat. Lalu menghela napas sambil menaruh tangan di pinggang. “Aku sih, sekali. Tapi apa iya kamu hanya sekali?” “Maksudmu aku a

  • Dream first class   70. On the clock

    Pagi hari pukul 08.30 wita. Seperti biasa, aku melingkari angka dikalender. Tak terasa 6 bulan berlari begitu cepat secepat citah. Kuharap setelah melewati hari-hari penuh pemikiran yang dalam ini, Esa bisa mengubah keputusannya.Sejak hari terakhir kami di Gili Trawangan, pemuda berinisial E itu banyak melamun. Ia tidak lagi mengkonsumsi kafein secara berlebih. Tidak lagi menyisihkan sayur di piring makannya. Ia bahkan tidak pernah mengatakan kata-kata perpisahan selama kami menghabiskan seluruh sisa rencana kami hingga tanpa tahu, 6 bulan telah berlalu begitu saja. Apakah keputusannya sudah benar-benar berubah? Aku tak berani bertanya karena takut ia jadi terkecoh. Namun sebagai gantinya, aku berusaha ada disetiap kali ia butuhkan.Aku mendengarkannya bercerita, ikut memancing, berbicara padanya, bermain game di warnet, mencium pipinya ketika ia minta, membaca buku yang tidak begitu kusuka, mendengarkan musik Rock n roll kesukaan dia, menonton Netflix, bergandengan tangan di malam h

  • Dream first class   69. Minta doa

    Berjalan-jalan sambil bergandengan tangan sepertinya bagian favorite Esa juga. Sebagian waktu kami dihabiskan untuk berjalan kaki sambil bergandengan tangan. Saat duduk makan, kami bergandengan tangan. Menari dan menikmati suasana pesta malam, bergandengan tangan. Berdansa, bergandengan tangan. Mengobrol dan bercerita sambil bergandengan tangan. Bahkan saat mau tidur setelah memesan dua kamar di satu hotel, Esa menawariku satu kasur berdua supaya bisa berpegangan tangan.Aku tahu dia punya rencana untuk memenggal waktunya sebentar lagi, namun tak lantas membuat kami harus tidur bersama—menghalalkan segala cara.“Kalau kamu mau fight untuk hidupmu dalam waktu yang lama …. pasti aku akan tidur sambil pegangan tangan setiap waktu sama kamu. Menghabiskan hari tua bersama. Jangan khawatir.”Ia tentu mengerti maksudku dengan terdiam kaku di atas kedua kakinya. Menatap penuh kehampaan di depan pintu kamarnya sendiri. “Aku ngerti, kok. Mengambil keputusan sampai di detik ini pasti nggak mud

  • Dream first class   68. Gili Trawangan

    Kami terdiam di mobil. Mengisi energi setelah mengobrol panjang dengan keluarga Pak Imron seharian. Esa tadi sempat meminta bantuan kepada Pak Imron untuk menghubunginya jika ada yang membutuhkan perabotan rumah tangga. Dan keesokan harinya rumah Esa tak henti-hentinya didatangi mobil pick up untuk mengangkut barang. Rumahnya menjadi kosong. Kami bahkan duduk termenung di tengah-tengah ruangan beralaskan lantai marmer tersebut. Merasakan sepi yang merasuki ulu hati. “Kamu nggak menyesal, kan?” tanyaku. Takut kalau-kalau ini tak sesuai ekspetasinya. Namun hebatnya ia mencebik sambil menggeleng. Meletakan kertas wish list di sampingnya dengan tenang. “Aku nggak pernah menyesali segala keputusanku, Nom. Ini udah seperti yang aku bayangkan, kok.” *** Wush~ “Ayo kejar aku!” kataku mengejeknya ketika mengkayuh pedal sepeda lebih cepat di sore hari. Pada naik-naikan jalan, pemuda itu ternyata sudah ngos-ngosan. Tak disangka ia lebih payah dariku yang bertubuh gempal begini. Aku menghen

  • Dream first class   67. Jodoh

    “Bapak ada siapa aja nih, di rumah?” tanya Esa sesudah mencium tangannya. Aku secara otomatis juga melakukan hal tersebut sambil senyam-senyum canggung.“Istri sama anak saya, si Soleh.” Pak Imron langsung membalik muka seratus delapan puluh derajat. Mengumpulkan semua energi di dalam mulut sebelum menyemburkannya keras-keras ke dalam rumah.“BUK! ADA TAMU INI, BUK! LEH! KELUAR LEH!” Teriaknya semangat. Kemudian berbalik lagi. “Ayo! Ayo! mari masuk dulu.”Soleh sang anak tiba-tiba keluar dengan tergupuh-gupuh. Sontak Esa langsung mengajaknya untuk mengambil TV di mobil.“Nah, ini! Ayo bro, bantu aku ambil TV kamu di mobil. Siapa lagi temannya?”“Sendiri.”“Oke, deh. Ayo kita let’s go!”Si Soleh meski dengan alis yang terangkat riang, tak bisa memungkiri kebingungannya setengah mati. Ia tanpa mengerti kondisi langsung saja mengiyakan permintaan Esa yang sok akrab merangkulnya—mengajak keluar secara paksa. Cara menyapa laki-laki ini memang agak bar-bar. Maklumi saja. Aku terdiam bingu

  • Dream first class   66. Project amal pt 2

    “Tapi …. tapi—”“Udahlah sayang. Nggak usah terlalu dipikirin. Nih, kukasih tahu cara kerjanya.”Esa membuka laptopnya di atas meja bar dekat kolam. Aku ikut duduk di sampingnya sambil membawa rasa penasaran yang cukup besar dalam genggaman. Ia membuka laman facebook di website dan mengklik market place.“Karena yang kita mau jangkau orang-orang disekitaran Lombok aja, jadi kita pakai ini,” katanya. Jari-jarinya begitu cepat mengoperasikan benda tersebut. “Upload di sini gambarnya,” jelasnya. “Pilih kategori barangnya, terus barang dalam kondisi bagus-bekas klik centang, terus tentukan harganya centang, dan isi deskripsinya, deh.”“Kamu kan mau memberi, bukan menjual.”“Iya mangkanya tinggal diisi deskripsinya sayang.” Aku mengangguk. Menatap dengan kagum saat ia mulai mengetikan deskripsinya.Tidak dijual. Barang bekas mau pindahan. Khusus bagi orang yang membutuhkan. Kalau deal bisa langsung angkut ke rumah. Alamat:blablabla. Tidak pakai perantara. Siapa cepat dia dapat.Dan begitu

  • Dream first class   65. Project amal

    “Di sini ada yang suka baca?” Tidak ada yang menjawab. Mereka semua meski tertib di suruh duduk rapi dan punya semangat untuk selalu berteriak-teriak heboh setiap saat, namun dalam hal respon tanggap mereka lumayan lambat. “Ada yang mau jadi penulis?” tanyaku lagi. Kali ini ada satu anak berkepala plotos yang mengacungkan telunjuknya. Aku menjadi antusias. “Siapa namanya, sayang?” “Ali.” “Oh, Ali,” sahutku pelan. Namun Esa menyahut jenaka. “Kepanjangannya siapa Ali? Alibaba?” Sontak membuat anak-anak tertawa. Aku mencoleknya dengan siku sambil memastikan kondisi wajah Ali. “Ali. Hm, aku mau tanya dong. Kenapa kamu mau jadi penulis?” Tidak dijawab. Mungkin anak laki-laki dengan muka polos sepolos kepalanya tersebut belum mengetahui alasan mengapa ia ingin menjadi penulis. “Tapi Ali tahu, kan, penulis itu apa?” Ia mengangguk. “Kira-kira, penulis itu apa, sih?” pancingku lagi agar ia mau berusaha berpikir. “Yang nulis cerita?” tanyanya memastikan. Aku langsung menepuk tangan se

  • Dream first class   64. Do Dream

    Ia tidak lantas menjawab karena teralihkan pada alisku yang bergerak-gerak aneh. “Kamu baca whatssapp-ku, ya?” tanyanya curiga. Yang tak disangka-sangka tahu padahal sudah kupastikan tadi dia sama sekali tidak menoleh. Hal itu sungguh membuatku tak bisa berkilah. “Hm, anu, aku—” “Lain kali jangan kayak gitu, ya.” Membuat lidahku menggantung di langit-langit. Mengira ia bakal marah besar, ternyata hanya sebatas peringatan. “Oke!” seruku kemudian. Berusaha memperbaiki suasana. “Tapi, untuk beberapa hari ke depan …. kamu bakal membahas hal ini, kan?” Esa menghirup cairan di hidungnya keras-keras setelah berpikir keras, sekeras menyedot cairan itu. “Nggak dulu,” katanya. Menelisik visi yang seolah sedang tergambar jelas di depan hidungnya. “Aku hanya ingin hidup 6 bulan lagi. Di waktu 2 bulan terakhir …. mungkin aku bakal bahas itu.” *** Aku mengamati kalender tahun 2020 yang menempel di badan pintu kamar kosan. Di zaman serba cepat saat itu, bisa-bisanya seorang Noumi Roula meng

  • Dream first class   63. Sisa Waktu

    Esa mengeluarkan semua uneg-unegnya sebelum berakhir mengurung diri di kamar. Ia tidak bisa mengunci pintunya karena aku yang pegang. Lantas, setelah lama memberinya waktu menyendiri, aku pun akhirnya pelan-pelan mengarahkan kenop pintu ke bawah untuk melangkahkan kaki masuk ke dalam. Ia sedang duduk memunggungi pintu di ujung kasur. Menunduk terseguk-seguk. “Hei,” kataku menghampirinya. Mengulurkan tangan kanan dengan legowo. “Aku minta maaf, ya.” Seperti anak kecil yang tidak sengaja membuat temannya menangis. Ia mengusap mukanya sendiri sebelum dengan berat hati mengangkat dagu. Dari sudut pandangku, ia tidak pernah malu memperlihatkan air mata dan muka jeleknya saat menangis. “….” Aku masih mengulurkan tangan. Mengangkat alis untuk mengajaknya berbaikan. Namun ia tak berminat diajak salaman. Bokongnya malah bergeser untuk meraih obat di atas laci yang membuatku jadi menemukan luka dibalik kerah lengannya. “Itu kenapa?” tanyaku. Ia secara spontan menarik kerah itu lalu menepis

DMCA.com Protection Status