Sekilas, Udin melihat sosok yang begitu ia kenal.
Lastri. Wanita yang selama ini mengisi hatinya, yang ia kagumi dan jaga seakan porselen rapuh.
Tapi apa yang dilihatnya kini?
Langkahnya terhenti. Matanya tak berkedip. Napasnya tercekat.
Di balik kaca, Lastri sedang dalam pelukan pria lain.
Keduanya… telanjang. Saling merengkuh, saling membelai, begitu intim, begitu mesra… seolah dunia milik mereka berdua.
Udin tak percaya.
Dunia seakan berhenti berputar. Suara-suara malam mendadak hilang. Hanya ada detak jantungnya sendiri yang menggema di telinga.
“L–Lastri...?” bisiknya lirih, nyaris tak terdengar, suaranya pecah oleh guncangan emosi.
Tubuhnya bergetar hebat. Ia mundur satu langkah, tapi kakinya lemas. Ia tak sanggup berdiri tegak.
Selama ini, ia menjaga hubungan mereka dengan kesabaran dan cinta. Ia tak pernah meminta lebih.
Lastri bahkan belum pernah memberinya ciuman, hanya sekadar genggaman tangan yang ia simpan sebagai kenangan berharga.
Namun kini, semua pengorbanan dan kepercayaannya terhempas begitu saja.
Wanita yang ia cintai… kini telanjang di pelukan pria lain.
Bukan hanya dikhianati—ia dihancurkan.
“Jadi… selama ini aku hanya cadangan?” batinnya getir, nyaris seperti anak kecil yang baru saja kehilangan mainan paling berharganya.
Amarah mulai menyusup dalam relung hatinya.
Namun lebih dari itu, perih—perih yang mengiris jauh lebih dalam daripada luka fisik manapun.
Ia merasa ditampar oleh kenyataan paling kejam dalam hidupnya.
Dan dari cara mereka tersenyum, tertawa, saling menatap penuh gairah…
Udin tahu, ini bukan pertama kalinya.
“Sial... mengapa dia tega selingkuh dariku?” gumamnya pelan, menyumpah dalam hati.
Sebenarnya, alasan di balik pengkhianatan Lastri tidaklah sulit ditebak.
Siapa pun bisa melihatnya dengan sangat jelas.
Uang memang bisa membeli cinta.
Kalimat yang dulu dianggap mitos, kini terasa seperti kebenaran pahit yang menghantam wajahnya.
Mungkin, jauh di lubuk hatinya, Udin telah sadar akan kekurangannya.
Bahwa penampilan menarik tak berarti apa-apa tanpa harta sebagai penopangnya.
“Kenapa harus begini…” ucapnya lirih, tinjunya mengepal.
Amarah dan kecewa bercampur dalam dadanya, tak sanggup dia hanya diam menyaksikan semuanya.
Di dalam kamar, dua sosok itu tenggelam dalam gairah.
Mereka tidak menyadari kehadiran Udin yang berdiri terpaku di luar, mengintip dari celah jendela yang terbuka.
Lastri, wanita yang selama ini ia percayai, kini terlihat begitu bebas dan tanpa rasa bersalah.
Dia larut dalam kenikmatan bersama pria lain.
“Sayang, kita harus cepat. Pacarmu bisa datang kapan saja,” ucap pria tua itu, mencoba mengingatkan.
Namun Lastri hanya tersenyum sinis, seolah menertawakan nama Udin yang bahkan tidak pantas disebut saat ini.
“Aku tidak peduli dengan pria miskin itu. Jangan sebut-sebut dia di hadapanku,” jawab Lastri dingin.
“Hehe, maaf sayang,” sahut pria tua itu sambil tertawa pelan.
Lastri menatapnya, lalu berkata, “Aku hanya ingin bersamamu. Isilah rahimku dengan kehangatanmu.”
Kata-katanya yang vulgar menusuk hati Udin, yang mendengar semuanya dari balik jendela.
Senyum penuh kemenangan tergurat di wajah pria tua itu.
Kepuasannya tak hanya karena tubuh Lastri, tapi karena telah menaklukkan pacar orang lain—dengan uang.
“Tapi... kalian sudah tiga tahun bersama. Apa tidak kasihan padanya?” tanya pria tua itu, seolah peduli, padahal hanya ingin menggoda lebih dalam.
“Pak Agus, Udin tidak bisa dibandingkan dengan Anda. Tas Gucci Anda jauh lebih berharga daripada seblak murahan yang dia bawakan setiap minggu,” ucap Lastri dengan nada jijik.
“Hanya wanita buta yang mau bertahan dengan pria miskin sepertinya.”
Pak Agus tertawa dalam hati. (Bodoh. Bahkan tas itu palsu. Tapi dia percaya dan tunduk pada uang.)
“Tapi... apakah dia benar-benar tidak bisa memuaskanmu di ranjang?” tanya Pak Agus lagi, pura-pura terkejut.
“Dia impoten, Pak. Tak berguna. Bahkan tubuh telanjangku tidak bisa membuatnya bereaksi sedikit pun,” jawab Lastri tanpa ragu.
Pak Agus tertawa terbahak-bahak. “Astaga! Pria itu benar-benar sial!”
Lastri tersenyum puas, lalu mendekat. “Sudahlah, jangan bicarakan dia lagi. Fokuslah padaku.”
Braaaak!!
Tiba-tiba, kaca jendela pecah berkeping-keping.
Sebuah batu melayang masuk, menghantam lantai dengan keras.
Keduanya terkejut. Pak Agus spontan menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka.
Di luar sana, berdiri Udin, wajahnya penuh kemarahan, matanya merah membara.
“Kalian berdua... binatang!” teriaknya lantang.
“U-Udin?!” sahut Pak Agus dengan suara bergetar.
Lastri langsung menggigil. Bibirnya bergetar saat melihat lelaki yang selama ini menaruh harapan padanya kini berdiri di ambang kehancuran.
“Kau benar-benar murahan, Lastri...” gumam Udin lirih tapi jelas, lalu melemparkan bungkusan seblak ke arah mereka.
Braakk!
Makanan itu tumpah, mengotori ranjang tempat mereka berzina.
“Mas Udin! Aku bisa jelaskan semuanya!” seru Lastri panik, mencoba bersikap lembut.
“Apakah kau pikir aku buta?!” balas Udin tajam. Kedua tangannya mengepal, menggigil menahan emosi.
“Tiga tahun... dan semua yang kau balas adalah pengkhianatan? Kau lebih memilih pria tua dengan tas palsu daripada pria yang setia?”
Lastri terdiam, matanya berkaca-kaca. Tapi Udin tak berhenti.
“Kau wanita matre. Rela menjual harga dirimu demi uang. Aku muak.”
Pak Agus, selingkuhan Lastri—akhirnya ikut campur.
Ia melangkah maju, lalu tanpa ragu memeluk Lastri dari belakang.
“Lastri, sudah cukup pura-puranya. Putuskan saja pria miskin dan impoten itu,” bisiknya di telinga Lastri, suaranya rendah tapi penuh bujukan licik.
Lastri menoleh dengan ragu, namun tak tampak terkejut sedikit pun. “Tapi... dia masih pacarku…”
Pak Agus mendekatkan wajahnya, menatap mata Lastri dalam-dalam. “Pacarmu? Jangan pura-pura polos. Kita sudah tidur bareng berkali-kali. Kau sendiri yang bilang, kau cuma manfaatin wajahnya yang lumayan, kan?”
Lastri terdiam. Tak ada penyangkalan. Tatapan matanya memancarkan rasa bersalah yang tak utuh—lebih pada rasa takut ketahuan, bukan penyesalan.
Pak Agus menyeringai puas. Ia tahu betul Lastri bisa dibeli dan dikendalikan. “Putuskan dia sekarang juga. Nanti aku belikan kamu iPhone.”
“iPhone? Yang 15 Pro Max?” tanya Lastri cepat, matanya berbinar.
“Yang paling baru,” jawab Pak Agus santai, sambil melirik ke arah jendela.
Lastri langsung tersenyum cerah, memeluk Pak Agus erat.
Dari luar, Udin melihat semuanya. Tangan mengepal, rahang mengeras.
“Dasar tak tahu malu…” gumamnya, suaranya penuh emosi.
Pak Agus menunjuk ke arah jendela. “Putuskan dia sekarang. Biar dia tahu diri.”
Lastri mengangguk. “Aku mengerti, sayang. Lagipula, dia nggak pantas buat aku.”
Namun sebelum Lastri sempat membuka mulut, suara dingin Udin terdengar dari luar jendela.
“Tak perlu repot-repot. Karena aku yang akan memutuskanmu, Lastri.”
Suara itu tenang namun menghantam seperti petir. Ia menatap wanita yang dulu ia cintai dengan rasa muak yang tak bisa lagi disembunyikan.
“Tak ada alasan untuk mempertahankan hubungan dengan pengkhianat murah seperti kau.”
“Apa maksudmu?!” desis Lastri tak percaya.
Namun wajahnya berubah seketika saat melihat Udin mengangkat ponselnya—meski murah dan lusuh, benda itu kini menjadi senjata ampuh.
“Kau—kau merekam kami?!” Pak Agus tersentak panik.
Ia segera menyelinap ke bawah ranjang, seperti tikus ketakutan.
Lastri buru-buru meraih pakaian yang berserakan di lantai, menutupi tubuhnya yang hanya berselimut selimut tipis.
“Udin! Hapus videonya! Jangan sebar, please!” teriak Lastri dengan suara gemetar.
“Mas Udin... kumohon... jangan unggah videonya,” ucapnya terbata. “Kalau orang tua lihat… aku bisa diusir…”
Pak Agus juga tak kalah panik. “Kalau kau berani sebar video itu, kau akan menyesal! Aku kenal orang dalam! Bisa bikin kau lenyap!”
Udin tersenyum dingin.
“Kalian sudah main belakang di belakangku, merusak hidupku. Sekarang, nikmati balasannya.”
Ia simpan ponselnya ke saku dan melangkah pergi, meninggalkan dua manusia yang kini gemetar dalam ketakutan.
Sesampainya di motor, Udin menatap rumah itu satu kali lagi. Rumah kenangan yang kini tinggal reruntuhan luka.
Tanpa kata lagi, ia hidupkan mesin dan melesat dalam sunyi malam yang dingin.
Begitu melihat Udin pergi, Lastri langsung panik.Ia keluar kamar tergesa-gesa dengan pakaian seadanya, tanpa sempat memperhatikan penampilannya.“Kita tidak bisa membiarkannya pergi,” ucapnya penuh kepanikan, kehilangan kendali atas dirinya.Tanpa mempedulikan keberadaan Pak Agus yang berdiri di sampingnya, Lastri melangkah cepat hendak mengejar Udin.Tujuannya satu: mencegah video rekaman itu tersebar, terutama agar tidak sampai ke tangan keluarga atau pihak berwenang.Namun, begitu sampai di luar, harapannya pupus. Sosok Udin sudah menghilang, entah ke mana.“Sial, Mas Udin sudah pergi,” desis Lastri frustrasi, menggigit bibirnya dengan panik.Pikirannya langsung kacau. Bagaimana kalau video itu benar-benar viral di media sosial? batinnya cemas.Dia bisa saja menjadi bahan hinaan, bukan hanya oleh orang asing, tapi juga oleh keluarga dan teman-teman dekatnya.Viral karena prestasi atau penampilan? Mungkin aku bisa menerimanya. Tapi kalau karena video mesum? Itu mimpi buruk, pikirnya
Miranda tumbuh dalam keluarga yang menjunjung tinggi tanggung jawab. Meski gugup dan takut terlibat masalah, wanita itu memutuskan untuk bertindak benar.“Tidak. Aku harus pastikan keadaannya!” ucapnya pelan, tapi tegas.Dengan tekad yang mulai menguat, ia membuka pintu mobil.Langkahnya ragu, tapi penuh niat. Ia mendekati sosok yang terkapar di pinggir jalan—pengendara motor yang sempat nyaris ia tabrak.Apa yang akan ditemukannya di sana akan mengubah banyak hal dalam hidup keduanya.“Apakah kau baik-baik saja?...”Suara lembut seorang wanita muda terdengar dari kejauhan.Ia belum bisa memastikan kondisi sang pengendara motor, apalagi tempat itu cukup gelap karena menjelang malam.Karena tidak mendapat jawaban, dia terus melangkah perlahan mendekati pohon besar itu dengan hati-hati.Dia sadar, jika tidak hati-hati, bisa saja dia dimintai pertanggungjawaban oleh pihak pengendara.Tapi dia tidak peduli. Wanita itu tidak kekurangan uang, dan jika memang harus memberikan kompensasi, dia
Miranda terdiam sejenak, lalu merogoh tas kecilnya. Ia mengeluarkan kartu ATM dan menyodorkannya ke Udin."Ambillah. Di dalamnya ada sepuluh juta. Ini kode PIN-nya. Gunakan untuk memperbaiki motormu," ucapnya tenang.Bagi Miranda, uang itu hanya recehan. Tapi ia yakin, jumlah itu sangat berarti bagi Udin. Namun reaksi pria itu tak seperti yang ia perkirakan.Udin mengangkat tangannya, menolak."Nona, aku sudah bilang, aku tidak bisa menerima apa pun darimu. Ini murni tanggung jawabku. Tolong hargai keputusanku," sahut Udin tegas.Sikapnya teguh. Tak tergoda oleh nominal.Miranda menyipitkan mata, menatap pria keras kepala itu. Lalu tanpa banyak bicara, ia mengganti kartu yang tadi dengan kartu lain."Baiklah. Kalau begitu, bagaimana dengan seratus juta? Kamu bisa beli motor baru yang lebih bagus. Terima saja," ujarnya dengan suara lebih lembut, namun tetap serius.Udin membeku.Ucapan itu seperti petir di siang bolong. Seratus juta? Itu jumlah yang tak pernah ia bayangkan bisa dimiliki
Dia melihat potensi dari pria ini. Udin mungkin bisa digunakan untuk sesuatu yang menguntungkan bagi dirinya.Meski Miranda tidak mengatakan niat sebenarnya, ia telah memikirkan rencana dengan matang.(Huh, aku punya rencana dengan pria ini. Tidak mungkin aku membatalkannya hanya karena dia sedikit bau dan basah. Aku harus tetap membiarkannya masuk), batin Miranda sambil melirik pria itu dari spion.Tak ada waktu mencari orang lain. Udin sudah cukup memenuhi kriterianya untuk rencana yang telah disusun.“Kau bisa masuk. Jangan pikirkan pakaianmu yang basah. Cepat, jangan membuatku menunggu,” katanya mantap, mengusir keraguan dari wajahnya.Udin terdiam sejenak, ragu. “Kau yakin…?” tanyanya memastikan.“Tentu saja. Apa aku terlihat sedang bercanda?” sahut Miranda tajam.“....”“Kalau begitu, baiklah,” ucap Udin akhirnya.Wajahnya menunjukkan ekspresi campur aduk antara tidak percaya dan pasrah.Ia sendiri tak tahu apakah keputusan ikut Miranda ini akan membawa kebaikan atau justru masal
Permohonan itu membuat Jalok mengangkat alis. Ia tak tertarik.Tapi tiba-tiba, matanya menangkap sosok Lastri di belakang Pak Agus. Tatapannya berubah.Wanita muda itu bukan tipe ideal, tapi cukup untuk memuaskan para preman sebagai ganti potongan harga.“Baiklah. Sepuluh juta, tapi wanita itu harus melayani kami semua malam ini. Kalau tidak, tawaran batal,” kata Jalok tanpa basa-basi.Lastri langsung tersentak, wajahnya pucat. Ia mundur pelan, ketakutan.Ia mungkin rela tidur dengan Pak Agus demi uang, tapi bukan dengan para preman bau keringat dan kasar itu.“Tidak… itu tidak mungkin!” teriaknya, suara gemetar. “Kumohon, jangan lakukan apa pun padaku…”Ia mundur terus, seakan ingin menghilang. Ketakutan membekukan tubuhnya, dan dunia terasa sepi dan sempit seketika.Perselingkuhannya dengan Pak Agus terjadi karena godaan dan janji manis lelaki paruh baya itu—bukan karena dia wanita murahan.Kini, dalam ketakutan, dia berdiri di belakang Pak Agus, berharap ada perlindungan. Wajahnya p
Matanya menatap Lastri dengan nafsu. Lastri merinding, wajahnya pucat pasi.“Kau cukup patuh malam ini. Jangan coba-coba melarikan diri,” ancam Jalok, suaranya seram.Pak Agus mengangguk puas, merasa masalah akan segera selesai.“Jalok, cepatlah! Aku tak bisa menunggu lebih lama lagi,” desaknya tak sabar.“Sudah kubilang, tenang saja. Setelah kami bersenang-senang dengannya, semua akan beres,” jawab Jalok sambil tertawa kecil.Tanpa banyak bicara, Jalok langsung merangkul Lastri dengan kasar dan mulai menyentuh tubuhnya.“Apa yang kau lakukan?!” seru Lastri panik, mencoba menolak.Namun Jalok jauh lebih kuat. Ia membopong Lastri yang meronta dan membawanya ke kamar terdekat.“.....”Pak Agus hanya menonton, ekspresinya datar.Dalam hati, ia tahu Lastri adalah selingkuhannya. Tapi semua ini, baginya, adalah konsekuensi dari pilihan Lastri sendiri.Para preman lainnya tertawa, bersiap menunggu giliran.Mereka menanti "pesta" yang baru saja dimulai.***Sementara itu, di dalam sebuah mobi
Nada suaranya penuh kekecewaan.Ia merasa dimanfaatkan, seperti boneka dalam drama yang tidak pernah ingin ia perankan.Ia tahu posisinya—miskin, tak punya apa-apa, dan bahkan membawa beban impoten. Ia tidak ingin menjadi bahan tertawaan para orang kaya.“Aku tahu ini terdengar egois, tapi aku benar-benar tak punya pilihan,” ucap Miranda pelan. “Aku tidak dekat dengan pria lain. Aku hanya butuh bantuanmu malam ini...”Untuk pertama kalinya, Miranda memohon. Wajahnya serius, tak lagi penuh percaya diri seperti biasanya.“Aku memang salah karena tidak memberitahumu dari awal... tapi tolong... bantu aku kali ini saja. Aku akan membayarmu, berapa pun yang kau minta,” ujarnya tulus.Udin menghela napas.Baginya, tawaran uang bukanlah hal yang bisa menggoyahkan harga dirinya. Ia memang miskin, tapi bukan pengemis yang bisa dibeli.Namun, melihat wanita secantik Miranda memohon di hadapannya... hatinya sedikit luluh. Ia tidak tahan melihatnya bersedih.(Uang bisa dicari… tapi harga diri tetap
Miranda sadar satu-satunya cara untuk mempertahankan kebohongannya adalah memperdalam hubungan palsunya dengan Udin.Ia harus tampil lebih meyakinkan sebagai pasangan.Walaupun sebagai wanita ia merasa dirugikan, tapi demi kelangsungan rencana ini, Miranda tak punya pilihan selain membiarkan Udin memainkan perannya sepenuhnya.“Itu tidak benar! Kami sudah lama bersama, hanya saja tidak ingin mengumumkannya ke siapa pun. Benar begitu, Sayang?” ucap Miranda penuh penghayatan, meski wajahnya memerah karena malu dan tegang.(Tolong bantu aku...) desaknya dalam hati, menekan tangan Udin dengan lembut namun penuh arti—sebuah sinyal jelas bahwa Udin harus segera bertindak.Udin bisa merasakannya.Meski sempat teralihkan oleh kedekatan fisik mereka, ia segera sadar ini bukan waktunya untuk terbawa suasana.“Mas Bro! Kenalin, aku Udin,” ujar Udin dengan senyum santai. “Aku nggak peduli sama bajuku atau penampilan luar. Yang penting, aku pacarnya Nona Miranda. Dan kamu? Kamu bukan siapa-siapa.”
Masalahnya, Udin belum pernah melihat langsung bentuk Manik Surgawi.Ia hanya mengandalkan potongan-potongan ingatan asing yang baru saja menyatu dalam pikirannya.Dalam kilasan itu, Manik Surgawi tampak seperti kubus kecil bercahaya hijau terang, seukuran kepalan tangan orang dewasa—mudah dibawa, bahkan bisa diselipkan ke dalam saku celana.“Tapi... aku bahkan belum pernah menyentuhnya. Bagaimana bisa aku mengakses kekuatannya?” batin Udin gelisah.“Kalau begitu, tidak ada pilihan lain,” ucapnya dengan suara tegas. “Aku harus menyelam.”Ia menarik napas panjang, menatap dalam-dalam permukaan air yang gelap dan seolah tak berujung.Meski cukup pandai berenang, Udin belum pernah menyelam sedalam ini sebelumnya.Tapi sekarang tubuhnya dipenuhi energi spiritual yang menyala samar—seperti nyala lilin di tengah kegelapan.Tanpa ragu, ia melompat ke dalam danau.Byuuuaaar!Tubuhnya menukik lurus, kedua tangan lebih dahulu menembus permukaan, sementara kaki menjejak udara seperti jarum yang
Tubuh Mi Lin mulai bersinar, berubah menjadi cahaya menyilaukan. Udin menutup matanya rapat-rapat.Buuuzzz!Saat membuka mata, Udin mendapati dirinya berada di tempat berbeda.Ia masih di dasar tebing, namun tubuhnya kini terbaring di tepi danau yang gelap.Anehnya, meski tanpa cahaya, ia bisa melihat segalanya dengan jelas.Pandangannya menembus gelap, menangkap tiap detail kecil di sekitarnya.“Ini... tempat aku jatuh tadi...” gumamnya, bingung.Ia segera memeriksa tubuhnya. Tak ada luka. Kedua kakinya yang semula patah kini pulih sempurna.“Tubuhku... sembuh? Apa aku sedang berhalusinasi?” tanyanya pada diri sendiri.Aawh! teriaknya pelan saat mencubit pipi sendiri.“Nyata... ini bukan mimpi,” ujarnya, matanya membulat tak percaya.Ingatan tentang Mi Lin masih jelas dalam kepalanya.Namun ketika mencoba mengingat lebih dalam, tiba-tiba rasa nyeri luar biasa menyambar otaknya.Aaarrgghh! pekiknya, tubuh menggigil.Rasa sakit itu membawa banjir informasi asing—kenangan, teknik, dan p
Tiba-tiba Jalok mengangkat tangannya dan meminta yang lainnya berhasil.“Tidak. Ada cara yang lebih berguna sebelum membunuhnya,” sahutnya tenang namun penuh maksud.Ia lalu berjalan mendekati Udin yang sekarat, lalu merampas tas kecil yang masih tergantung di tubuhnya.Di dalamnya terdapat barang-barang berharga: dompet, ponsel, uang tunai, serta benda-benda pribadi lainnya.“Aku ambil motornya, ponselnya, dan uang ini. Sisanya tak penting,” ujar Jalok sambil menyeringai kecil.Matanya menyipit saat membuka ponsel Udin dan melihat sebuah rekaman video tersembunyi.“Jadi ini alasan Pak Agus begitu ngotot ingin bocah ini mati…” gumamnya, lalu terkekeh. “Rekaman mesum dengan simpanannya sendiri… brengsek juga si tua bangka itu.”Jalok tertawa pelan, lalu berkata, “Sepertinya aku bisa memerasnya dengan ini…”Ia berencana menyerahkan ponsel itu ke Pak Agus, tapi tentu saja tidak tanpa menyimpan salinan terlebih dahulu.Siapa tahu ia bisa mendapat lebih banyak uang.“Lempar saja tubuhnya k
Jalok dan anak buahnya, preman-preman bayaran, telah menerima tugas dari Pak Agus, singkirkan Udin.Sejak kemarin mereka tidak menemukan jejaknya, namun kini keberuntungan berpihak.“Itu dia! Akhirnya Udin muncul juga!” seru Jalok dengan semangat membara, matanya membelalak penuh gairah pemburu yang menemukan mangsanya.Para anteknya yang sudah jengkel karena menunggu langsung bergemuruh.“Ayo cepat, jangan biarkan bocah itu kabur!” sahut salah satu dari mereka dengan nada penuh amarah.“Benar! Aku udah muak nunggu. Sekarang waktunya bertindak!” ucap yang lain sambil menyalakan motor.“Cepat kita habisi dia dan ambil ponselnya. Tugas selesai, duit datang!” tambah yang lainnya dengan tawa kasar.Namun Jalok tetap tenang.“Tenang, kita tidak bisa gegabah,” ucapnya sambil menatap tajam arah motor Udin yang menjauh. “Ikuti aku dan pastikan semuanya berjalan lancar.”Dengan komando itu, mereka segera melaju, membuntuti Udin dari kejauhan, seperti serigala memburu mangsanya.Di jalan, Udin
Sementara itu, di sebuah kawasan kos yang cukup jauh dari tempat tinggal lamanya, Udin tengah membonceng Risma, mencari tempat tinggal baru untuk malam ini.Jika tidak segera menemukannya, mereka terpaksa harus tidur di luar, dan itu tentu bukan pilihan, apalagi bagi Risma yang seorang perempuan.Udin tidak mungkin membiarkan Risma tidur di emperan toko, apalagi di bawah kolong jembatan.Lebih buruk lagi, mereka bisa saja ditemukan oleh anak buah Juragan Somat yang masih memburu Risma.“Mas Udin, kita mau ke mana?” tanya Risma pelan, terlihat lelah meski hanya duduk di belakang sambil memegang barang bawaan.Beban ransel Udin yang cukup berat juga menambah kesulitannya.Namun Udin sudah punya tujuan. Ia tahu ke mana harus pergi.“Sedikit lagi sampai. Setelah itu, kau bisa istirahat,” jawab Udin sambil memutar gas, mempercepat laju motornya.Ia merasa puas dengan performa motor barunya, jauh lebih baik dibandingkan motor lamanya yang sudah usang.Tapi pikirannya kembali pada Miranda, w
Sementara itu, anak buah Juragan Somat mulai mendobrak setiap kamar satu per satu.Tak lama kemudian, Torik mendekat dan bertanya, “Bagaimana? Kalian menemukan Udin dan Risma?”Namun ekspresi kecewa terlihat jelas di wajah mereka.“Torik, kau bilang target ada di sini. Tapi tak ada jejak mereka,” ujar salah satu dari mereka dengan nada curiga.“Benar. Hanya ada beberapa penyewa paruh baya. Tak ada target,” sahut yang lain sambil menggeleng.“Beberapa kamar kosong, tapi tak ada yang sesuai deskripsi,” tambah yang ketiga, tampak frustasi.Kegagalan ini membuat mereka kesal. Tatapan sinis mulai tertuju pada Torik.“Kau pasti berbohong! Target tak ada!” tuduh salah satu anak buah dengan nada tinggi.“Kalau Juragan tahu, kau akan dapat masalah besar,” ucap lainnya penuh ancaman.Keluhan dan kecurigaan mulai bermunculan. Mereka bahkan meragukan kemampuan Torik sebagai pemimpin lapangan. Merasa terpojok, Torik buru-buru membuat alasan.“Ada satu tempat lagi yang bisa kita periksa. Mungkin
Udin tersentak.Namun, ia berusaha tetap tenang.“Saya... saya akan lunasi malam ini, Bu. Tadi saya sempat tarik uang dari rekening,” jawab Udin buru-buru, mencoba tersenyum walau canggung.“Bagus. Jangan cuma janji ya!” sahut ibu kost sambil mengangguk singkat.“Tentu saja aku sudah menyiapkan uangnya. Tunggu sebentar, akan kuambil dulu,” ujar Udin sambil tersenyum tenang.Tanpa membuang waktu, Udin segera menuju lemarinya dan mengambil sejumlah uang tunai yang telah dipersiapkannya sebelumnya.Ia berniat melunasi seluruh tunggakan sewa kost tanpa meninggalkan utang sedikit pun.Pemilik kost, yang semula hanya berdiri santai di depan pintu, langsung terbelalak begitu melihat tumpukan uang di tangan Udin.“Lho... kamu serius?” gumamnya setengah tak percaya.Udin hanya mengangguk singkat sambil menyerahkan uang tersebut.“Ini untuk sewa tiga bulan terakhir. Dan mulai bulan depan, saya tidak akan tinggal di sini lagi. Saya akan cari tempat lain,” ucapnya mantap.Wajah pemilik kost langs
Ngeeeeng!Namun di perjalanan, matanya menangkap sosok yang sangat dikenalnya—dan membuat dadanya sesak.Juragan Somat dan anak buahnya!Mereka tampak sedang mencari seseorang.Udin langsung paham.(Risma tidak berbohong,) batinnya tegang. (Dia memang sedang diburu… dan Juragan Somat benar-benar berniat menjualnya ke tempat prostitusi.)“Mereka masih mencari Risma,” ucapnya pelan dengan rahang mengeras.Melihat situasi ini, Udin pun memantapkan hati.“Aku akan bantu Risma sampai tuntas. Meski keluarganya sendiri berada di pihak Juragan Somat, aku nggak akan tinggal diam,” tekadnya dalam hati.“Untuk sekarang aku harus menghindari mereka. Jangan sampai keberadaan Risma ketahuan,” bisiknya pada diri sendiri, lalu memutar arah dengan hati-hati.Setelah mengambil uang di ATM, ia mampir ke warung nasi Padang dan kemudian pulang ke kos. ***Sementara itu, di tempat lain, Juragan Somat terlihat gusar.Wajahnya gelap penuh amarah. Ia berdiri di tengah anak buahnya, tampak seperti gunung yang
Risma yang semula tampak tenang mendadak bungkam, bibirnya sedikit terbuka. Ia tampak ingin bicara, namun akhirnya hanya menunduk.“Maaf… aku nggak tahu. Aku doain semoga beliau cepat sembuh,” ujar Risma, suaranya penuh empati.“Nggak apa-apa… nggak perlu minta maaf,” sahut Udin, berusaha tersenyum meski hatinya berat.Hening mengisi ruangan. Keduanya terdiam cukup lama. Udin memilih tak membahas lebih jauh soal ibunya.Clinck!Tiba-tiba ponsel miliknya menyala terang. Ia terkejut sejenak, lalu senyum lebarnya merekah. Sepertinya trik menanam ponsel dalam beras benar-benar berhasil.“Risma, aku keluar sebentar, ya. Tetap di sini dulu,” ucap Udin sambil menggenggam ponsel.“Baik, Mas. Hati-hati,” jawab Risma pelan.Udin segera melangkah keluar, mencari tempat yang cukup tenang di ujung gang sempit. Ia memeriksa layar ponsel dengan penuh harap.Semuanya normal. Dengan cepat, ia mengetik nomor Miranda dan menekan tombol panggil.“Nona Miranda, ini aku, Udin.”(Eh, ini nomormu? Baik, aku