Share

Bab 3

Author: Vya Kim
last update Last Updated: 2024-12-17 17:56:06

Saat pintu lift tertutup perlahan, Rey melirik sekilas ke arah Hana yang masih sibuk memungut barang-barangnya di lantai.

Rey memicingkan matanya, masih terus memperhatikan Hana dengan raut yang datar.

“Tuan, dia peserta seminar tadi pagi, duduk di barisan depan,” ujar Bastian, ia paham betul dengan tatapan bos-nya yang penuh tanya tertuju pada wanita itu.

Rey hanya mengangguk kecil, ekspresinya tetap datar. Begitu lift tiba di lantai tujuan, ia melangkah keluar dengan tenang namun penuh wibawa. Tatapan tajamnya menyapu ruang kantor, membuat semua yang ada di sana terdiam sejenak.

Di depan ruangan Juna, Dara menyambut dengan senyum canggung. “Tuan Rey, kami sudah menunggu.”

Rey tidak menjawab, hanya memberi anggukan kecil sebelum masuk. Di dalam, Juna menyambutnya dengan senyum ramah, meski jelas terlihat gugup.

“Silakan duduk, Tuan Rey. Nyamankan diri Anda,” katanya.

Rey duduk dengan santai, namun tatapannya menusuk seperti sedang menguliti lawan bicaranya. “Langsung saja,” ucapnya pendek.

Bastian segera meletakkan dokumen di meja. “Ini daftar artis yang akan terlibat dalam proyek drama terbaru Anda,” katanya tegas.

Juna membuka dokumen itu, alisnya berkerut sebelum mendongak. “Maaf, Tuan Rey. Beberapa nama di daftar ini ... mereka punya reputasi kurang baik. Kami tidak bisa mengambil risiko.”

Rey mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Juna tajam. “Risiko?” ucapnya pelan, tapi dingin.

Bastian dengan sigap menghentakkan amplop berisi dokumen tambahan ke meja. “Kami sudah mengurus semua pemberitaan negatif. Tidak ada lagi skandal. Dan, jangan lupa, sponsor terbesar proyek ini berasal dari kami.”

Juna menelan ludah, jelas terlihat panik. “Te-tentu, Tuan Rey. Tapi penulis skrip kami sedang sakit. Kami mengalami kendala...”

Rey mengangkat tangannya, memotong alasan Juna tanpa sepatah kata pun. Bastian melanjutkan dengan nada dingin. “Kami yang akan menyediakan penulis pengganti.”

Rey tidak merespons. Ia berdiri dari duduknya dan melangkah keluar tanpa sedikit pun menoleh pada Juna. Ia terus berjalan melewati koridor, mengabaikan sapaan para pegawai yang berlalu-lalang.

Begitu mereka tiba di lobi, seorang sopir sudah menunggu dengan mobil hitam berkilau di depan pintu utama.

Setelah masuk ke dalam mobil, Rey menyandarkan tubuhnya, memejamkan mata sejenak untuk meredakan lelah yang mengendap sejak pagi. Suara mesin mobil yang halus menjadi latar belakang yang menenangkan.

Namun, ketenangan itu tak berlangsung lama. Sebuah suara notifikasi dari tablet Bastian memecah keheningan. Rey membuka matanya sedikit, sekilas memandang Bastian yang sibuk membaca.

“Ada CV baru untuk posisi penulis,” ujar Bastian sambil menatap layar. “Ini terlihat menarik.”

Rey menutup matanya kembali, nadanya tetap datar. “Panggil dia besok.”

“Baik, Tuan,” jawab Bastian sambil menutup aplikasi.

**

Di apartemen kecilnya, Hana berdiri di tengah kamar yang pernah ia huni dengan harapan besar. Kini, ruangan itu terasa dingin, hampa, dan penuh kenangan pahit.

Dengan tangan gemetar, ia mulai memasukkan pakaian ke dalam koper. Setiap helai pakaian yang ia lipat terasa seperti melepas serpihan hidup yang pernah ia bangun bersama Juna.

Matanya tertuju pada sebuah gaun biru di sudut lemari, gaun yang ia kenakan saat ulang tahun pernikahan pertama mereka. Ingatan akan malam itu membuat dadanya kembali sesak.

Suara Juna yang penuh kasih, janji-janji manis yang ia percayai sepenuh hati, kini hanya terasa seperti kebohongan yang memuakkan.

Ia menggigit bibirnya, mencoba menahan tangis yang kembali menyeruak. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha mengusir bayangan-bayangan menyakitkan itu.

Saat koper akhirnya penuh, ia menutupnya dengan paksa. Tangan kanannya mengusap setitik air mata yang sempat lolos, sementara tangan kirinya menarik koper itu keluar dari apartemen. Setiap langkah yang ia ambil di koridor sempit itu terasa seperti merangkak keluar dari lubang gelap.

Di depan gedung, angin malam menyentuh wajahnya yang lembab. Hana berdiri diam, koper di sampingnya, dan kepalanya menengadah ke langit. Sudah tidak ada jalan untuknya kembali.

Ia melambaikan tangan pada sebuah taksi yang melintas. Saat ia membuka pintu dan masuk, ponselnya tiba-tiba berdering.

“Halo?” katanya pelan, suaranya sedikit bergetar, masih terbawa emosi.

“Selamat sore, ini dari Astroha Entertainment. Kami menerima CV atas nama Hana Varelly. Apakah benar ini Anda?”

Hana terdiam sejenak, mencoba mencerna kata-kata di seberang. “I-iya, betul. Saya mengirimkan CV,” jawabnya terbata-bata, jantungnya mulai berdetak kencang.

“Besok pagi pukul 10.00, apakah Anda bisa hadir untuk wawancara?”

Hana tertegun. Air mata yang tadi terasa berat kini mulai menetes, tapi bukan karena sedih, melainkan karena harapan yang tak terduga. Dengan tangan gemetar, ia menutup mulutnya sendiri, menahan rasa tak percaya.

“Sungguh?” gumamnya, suaranya hampir tak terdengar. “Saya akan datang! Terima kasih banyak!”

Setelah panggilan berakhir, ia memandang ponselnya dengan mata berkaca-kaca. Senyum tipis muncul di wajahnya. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa seperti melihat secercah cahaya di hidupnya.

Hana menggenggam ponselnya erat setelah menutup panggilan telepon. Dadanya bergemuruh, antara lega dan cemas.

Tawaran wawancara kerja itu seharusnya menjadi secercah harapan, tetapi bayangan tentang apa yang akan dihadapinya setelah pulang membuat langkahnya berat.

Di dalam taksi, pandangannya mengarah keluar jendela, menatap jalan yang melaju cepat. Suara gemuruh mesin mobil dan hiruk-pikuk lalu lintas terasa seperti latar belakang yang samar.

Ayahnya sudah tiada. Pikiran itu menghantamnya seperti angin dingin yang menusuk. Sudah enam bulan sejak ayahnya pergi akibat serangan jantung.

Kehilangan itu belum sepenuhnya sembuh, dan sekarang ia malah membawa berita yang mungkin akan menghancurkan ibunya.

Pikiran itu membuat dadanya sesak. Mata Hana terasa panas, tapi ia buru-buru mengusap sudut matanya dengan punggung tangan.

‘Tidak, aku tidak boleh menangis. Ibu pasti sudah cukup menderita. Aku tidak boleh membuatnya khawatir lagi.’

Paginya Hana telah memakai setelan terbaiknya untuk interview, berdandan rapi namun tidak mencolok.

Hana berangkat dari rumah ibunya, setelah beberapa menit berkendara, sampailah Hana di depan gedung pencakar langit yang tinggi menjulang, sekali lagi ia samakan alamat yang tertera dengan kartu nama yang Rey berikan kemarin.

Astroha Entertainment, dengan logo bintang berwarna ungu di ujung papan namanya.

Hana memasuki gedung, tak lama setelah di pandu resepsionis, ia telah berada di ruang interview, tampak dingin, sesuai dengan aura pria yang duduk di ujung meja.

Sudah beberapa menit Hana memperkenalkan dirinya saat Rey menatap berkas di tangannya tanpa sedikit pun memberi perhatian pada Hana yang duduk di depannya.

“Kau tampak tak asing.” Rey menatap wanita di depannya.

“Ya, Tuan. Kita sempat bertabrakan karena kecerobohanku.” Hana menunduk sedikit malu, kemudian duduk tegak kembali.

“Jadi, kau orang yang ceroboh?” Pria ini tampaknya sudah memulai sesi wawancara dengan kejam.

Hana menggeleng cepat, “Ti-tidak, Tuan! Itu karena hal pribadi yang tak bisa saya jelaskan di sini!” jawab Hana tegas.

Rey mengangguk kecil, “Kenapa Anda ingin bekerja di sini?” tanyanya, suaranya datar, tetapi menusuk.

Hana meremas tangannya di bawah meja, mencoba meredakan gugup yang melilit tenggorokannya. “Karena saya yakin pengalaman saya menulis bisa memberikan kontribusi positif bagi proyek drama ini.”

Rey mengangkat pandangannya, menatap langsung ke mata Hana. “Keyakinan saja tidak cukup.” Ia meletakkan berkas di meja, suaranya tetap datar.

“Naskah Anda akan diuji. Saya ingin melihat skenario pembuka untuk episode pertama ‘Stolen Heart’ sebelum tengah malam.”

Hana tertegun, tetapi ia tidak menunjukkan kelemahannya. “Baik, saya akan menyelesaikannya.”

“Bagus,” jawab Rey singkat, sebelum berdiri dan meninggalkan ruangan tanpa memberi waktu untuk membalas.

Saat itu kantor Astroha Entertainment tampak sibuk, tetapi bagi Hana, setiap tatapan terasa seperti penilaian.

Ia duduk di mejanya, menatap layar komputer dengan draft naskah yang telah ia tulis untuk disetorkan sesegera mungkin pada Rey hari ini juga.

“Pendatang baru, ya?” Sebuah suara menyela konsentrasinya.

Seorang wanita dengan rambut pendek berwarna karamel berdiri di depan meja Hana, menyeringai.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Related chapters

  • Ditinggal Suami, Dinikahi CEO   Bab 4

    “Saya Dina, produser proyek ini,” wanita itu memperkenalkan diri, tetapi nada suaranya menyiratkan sesuatu yang lain. “Kita lihat apakah tulisanmu bisa memenuhi ekspektasi Tuan Rey.” Hana hanya mengangguk kecil. “Saya akan melakukan yang terbaik.” “Semoga,” jawab Dina sambil melirik tajam, lalu berlalu dengan langkah ringan. Hana merasa ada tatapan lain dari arah ruangan kaca Rey, tetapi ketika ia menoleh, Rey sudah berbalik, kembali fokus pada layar komputernya. Sore itu di meja kerja, Hana tengah fokus mengetik uji naskah di laptopnya. Jemarinya berhenti sejenak ketika ia merasakan tekanan berat dari target yang harus diselesaikan. Meski begitu, ia mencoba menenangkan diri, mengingat bahwa ini adalah kesempatan besar yang tak boleh ia sia-siakan. “Permisi,” suara Bastian memecah keheningan. Hana mendongak, melihat pria itu berdiri di depan mejanya dengan map di tangan. “Kau diminta untuk ikut rapat sore ini. Tuan Rey ingin kau mendapatkan gambaran lebih jelas tentang proyek

    Last Updated : 2024-12-17
  • Ditinggal Suami, Dinikahi CEO   Bab 5

    Hana terbangun pagi itu dengan rasa letih yang masih tersisa dari malam sebelumnya. Pertemuan dengan Rey masih teringat di pikirannya, seperti film yang terus diputar ulang tanpa akhir. Kata-katanya yang dingin, tatapan skeptisnya, dan tantangan tersirat itu mengisi pikirannya sejak ia meninggalkan ruangannya. Namun, pagi ini, ada sesuatu yang berbeda. Sambil menyesap teh hangat di meja makan, ponselnya bergetar di atas meja. Notifikasi email masuk. Hana meletakkan cangkirnya dan meraih ponselnya dengan cepat. Matanya menyipit membaca nama pengirimnya: Astroha Entertainment. Hatinya berdegup kencang. Dengan jari yang sedikit gemetar, ia membuka email itu. [Selamat kepada Yth. Hana Varelly, Anda diterima di Agency Astroha Entertainment sebagai penulis dengan masa training 3 bulan .…]Kalimat itu seperti musik yang mengalun indah di telinganya. Hana menutup mulutnya dengan tangan, mencoba menahan teriakan bahagia yang hampir lolos. Senyum lebar merekah di wajahnya. “Ya Tuhan... ak

    Last Updated : 2024-12-17
  • Ditinggal Suami, Dinikahi CEO   Bab 6

    “Apa yang kau lakukan pada wanitaku?”Suara Rey seketika. membuat Hana dan Juna membeku. Dengan Cepat Hana menoleh pada sosok tinggi tegap itu, begitu pula Juna yang reflek melepaskan cengkramannya juga.Pipi Hana memanas, dan jantungnya berdetak tak karuan, tapi dia tidak tahu apakah itu karena malu, marah, atau bingung. Pandangannya terarah pada Rey, yang tampak begitu tenang, seolah ucapan tadi adalah sesuatu yang wajar saja."Tu-Tuan Rey," gumamnya hampir seperti bisikan.Juna, di sisi lain, tampak benar-benar terusik. Rahangnya mengeras, dan matanya menatap tajam pada Rey, penuh dengan rasa tidak percaya sekaligus kemarahan yang terpendam. Tangannya mengepal, seakan mencoba mengendalikan emosinya."Wanitamu?" tanya Juna dengan nada bergetar.Hana menoleh sekilas ke arah Juna. Dia mengenali nada itu, nada pria yang egonya terluka. 'Seharusnya aku merasa puas melihatnya seperti ini. Tapi kenapa aku malah merasa ... canggung?" batin Hana. Matanya kembali pada Rey, yang tetap berdi

    Last Updated : 2024-12-18
  • Ditinggal Suami, Dinikahi CEO   Bab 7

    Ruangan itu terasa lebih dingin dari biasanya, meskipun sinar matahari menembus tirai yang terbuka.Rey berdiri tegap di dekat meja kerjanya, tak menjawab pertanyaan sang kakek.Sementara kakeknya duduk dengan tenang, tapi sorot matanya penuh tuntutan. Di balik ketenangan itu, ada ambisi besar yang tersirat.Kakeknya, pria yang membangun Astroha Entertainment dari nol, tahu usianya tidak lagi muda. Masa kejayaan sudah berlalu, dan kini dia mengandalkan Rey untuk menjaga warisan itu tetap hidup.Bagi sang kakek, pernikahan Rey adalah langkah strategis, lebih dari sekadar urusan keluarga. Kerja sama dengan keluarga pengusaha lain akan memperkuat perusahaan mereka, memastikan Astroha tetap berada di puncak. Namun, Rey, dengan status lajangnya, dianggap kurang stabil di mata mitra bisnis yang mereka targetkan.Kakek Rey menghela napas panjang, memecah keheningan yang menyelimuti ruangan. Dia bersandar di kursi dengan tongkat di pan

    Last Updated : 2025-01-03
  • Ditinggal Suami, Dinikahi CEO   Bab 8

    Setelah kakeknya pergi, Rey keluar dari ruangannya dengan langkah tenang namun tegas. Sepatu kulitnya berbunyi ringan di atas lantai marmer, menarik perhatian karyawan yang berada di area meja kerja. Semua karyawan serempak berdiri menyambut kedatangan CEO mereka. Di antara mereka, Rocky, salah satu supervisor tim, melangkah maju dan memberi salam dengan hormat. “Ada yang bisa saya bantu, Tuan?” tanya Rocky dengan nada formal namun penuh rasa hormat. Rey mengedarkan pandangannya ke seluruh area, matanya sekilas berhenti di meja Hana sebelum ia menjawab dengan suara yang tenang namun tegas. “Setelah pulang kerja, mari makan malam bersama untuk penyambutan karyawan baru.” Rocky, yang menangkap maksud itu, melirik cepat ke arah Hana sebelum kembali menatap Rey. “Oh, tentu, Tuan! Saya akan mengatur semuanya.” Rey mengangguk singkat. “Saya yang traktir,” tam

    Last Updated : 2025-01-05
  • Ditinggal Suami, Dinikahi CEO   Bab 9

    Hana tertegun, matanya membesar karena keterkejutan. "Maaf, Tuan? Saya rasa saya salah dengar," katanya gugup, langkahnya secara refleks mundur sedikit. Rey tetap tenang, seolah tidak terganggu oleh reaksi Hana. Ia menghela napas panjang, memperhatikan sekeliling sebentar, lalu kembali menatapnya. "Mari kita bicara di tempat lain," ujarnya dengan nada datar namun penuh keyakinan. Hana membuka mulut hendak menolak, tetapi Rey sudah melangkah mendekat, memberikan isyarat agar ia mengikuti. Meski ragu, Hana akhirnya menurut, pikirannya penuh tanda tanya. Mereka masuk ke dalam mobil Rey, sebuah Mercedes-Benz S-Class yang terlihat mengilap di bawah lampu jalan. Suasana di dalam mobil hening, hanya diisi suara lembut musik klasik dari speaker mobil. Setelah beberapa menit berkendara, mereka tiba di sebuah kafe kecil dengan suasana hangat. Rey memesan ruang makan tertutup yang dirancang khusus untuk privasi

    Last Updated : 2025-01-05
  • Ditinggal Suami, Dinikahi CEO   Bab 10

    Rey baru saja memasuki apartemennya yang luas dan modern, dengan pemandangan kota yang berkilauan di malam hari. Ia melepas jasnya, menggantungnya di sandaran kursi, dan duduk di meja kerjanya. Di depan Rey, tumpukan dokumen menunggu untuk diperiksa, tetapi pikirannya melayang-layang, memikirkan rencana besar yang mulai terbentuk. Saat ia baru hendak membuka salah satu dokumen, teleponnya berdering. Nama "Hana" tertera di layar. Rey melirik ponselnya, lalu menjawab dengan suara tenang. “Ya, Hana?” Ia bersandar di kursi putarnya, menunggu apa yang akan dikatakan wanita itu. Di seberang, suara Hana terdengar jelas meski sedikit gemetar, “Saya bersedia menjadi tunangan palsu Anda.” Mendengar itu, sudut bibir Rey terangkat tinggi, membentuk senyuman penuh kemenangan. Ia menunggu sejenak, menikmati momen itu sebelum menjawab, “Baiklah, akan kusiapkan kontrak kerja sama kita.”

    Last Updated : 2025-01-06
  • Ditinggal Suami, Dinikahi CEO   Bab 11

    Petang menjelang, dan suasana kantor perlahan berubah menjadi sepi. Hana dan timnya baru saja menyelesaikan pekerjaan mereka hari itu. Naskah yang tengah mereka kerjakan sudah mencapai 80 persen. Dalam hati, Hana merasa bangga karena usahanya untuk terus belajar dan bertanya saat menemui kesulitan benar-benar membuahkan hasil.Rekan-rekan satu timnya pun tampak senang bekerja sama dengannya. Hana adalah tipe orang yang mau mendengarkan kritik dan menerima masukan dengan lapang dada, membuat suasana kerja menjadi lebih nyaman."Bye, Hana! Besok kita tempur lagi! Sepertinya naskah kita sudah selesai sepenuhnya besok. Semangat, ya!" seru Rocky, salah satu rekan yang terkenal enerjik, sambil melambai dengan penuh semangat."Iya, bye! Terima kasih untuk hari ini!" balas Hana ceria, melambai-lambaikan tangannya. Suaranya yang ceria menyelimuti kantor yang mulai sepi, menghangatkan suasana sebelum akhirnya Rocky dan yang lain keluar. TING!

    Last Updated : 2025-01-06

Latest chapter

  • Ditinggal Suami, Dinikahi CEO   Bab 93. Jangan Murung

    Juna menatap tajam ke arah Rey, tidak gentar sedikit pun dengan emosi yang membara di mata pria itu. Dengan satu gerakan tegas, ia menepis tangan Rey yang masih mencengkeram kerah bajunya."Sebaiknya kau yang menjauhi Hana! Bukan aku!" desis Juna, suaranya rendah namun penuh tekanan. Ia sadar ini adalah koridor rumah sakit, dan pertengkaran terbuka hanya akan menarik perhatian yang tidak diinginkan.Rey terdiam sejenak. Rahangnya mengeras, wajahnya menegang dalam campuran emosi yang sulit dijelaskan. Perlahan, ia mengendurkan cengkeramannya, melangkah mundur selangkah demi selangkah, tapi sorot matanya masih tertuju ke pintu ruangan dokter.Hana masih di dalam sana.Ia ingin masuk, ingin bertanya langsung kepada wanita itu, ingin mendapatkan kepastian dari bibirnya sendiri. Tapi sebelum ia sempat bergerak lagi, Juna mendorongnya. Bukan dorongan kasar, melainkan gerakan halus, namun bagi Rey, dorongan itu terasa seperti hantaman yang mengguncang hatinya."Pergi," bisik Juna, nada suara

  • Ditinggal Suami, Dinikahi CEO   Bab 92. Benarkah?

    Sudah hampir sebulan sejak Hana mulai bekerja sebagai owner PT. First Food. Waktu berlalu begitu cepat, dan meskipun ia masih menyesuaikan diri dengan peran barunya, ia mulai terbiasa dengan ritme pekerjaannya.Namun, di balik kesibukannya, ada sesuatu yang lebih penting yang harus ia perhatikan, kehamilannya. Hari ini adalah jadwal kontrolnya, dan tanpa bisa dihindari, seseorang menawarkan diri untuk mengantarnya.Juna.Pria itu masih saja muncul dalam hidupnya, berusaha mengambil celah sekecil apa pun untuk mendekat lagi. Meski Hana berusaha menjaga jarak, Juna selalu menemukan alasan agar tetap ada di sekitarnya.Dan sekarang, di dalam mobil yang melaju menuju rumah sakit, suasana terasa canggung.“Apa masih sering mual?” tanya Juna sambil menyetir.Hana yang sejak tadi hanya menatap keluar jendela, menghela napas. “Udah mulai berkuran, nggak separah pertama kali.”Juna meliriknya sekilas. “Aku masih sering kepikiran. Kalau aja aku dulu lebih—”“Jangan bahas masa lalu, Juna.” Suara

  • Ditinggal Suami, Dinikahi CEO   Bab 91. Stalker

    Malam semakin larut, dan Hana yang awalnya hanya berniat merebahkan diri di kasur akhirnya tertidur dengan tenang. Rasa lelah yang menggelayuti tubuhnya perlahan memudar seiring napasnya yang semakin teratur.Keesokan paginya, sinar matahari yang menerobos melalui celah tirai membangunkannya. Hana menggeliat pelan sebelum meraih ponselnya yang tergeletak di samping bantal. Saat layar menyala, sebuah notifikasi dari game yang biasa ia mainkan menarik perhatiannya.Notifikasi dari akun bernama Reys_toran muncul di layar:[Hi, apa kau mau masuk grup?]Hana tersenyum kecil, lalu mengetik balasannya dengan ringan.[Ya, tentu]Setelah itu, ia meletakkan kembali ponselnya dan bangkit dari tempat tidur. Hari ini adalah hari penting, ia harus bersiap-siap untuk pergi ke kantor PT. First Food sebagai owner baru. Meskipun pagi harinya masih dihiasi rasa mual seperti biasa, kali ini tidak separah sebelumnya. Ia menarik napas dalam, berusaha menenangkan perutnya sebelum beranjak ke kamar mandi.Se

  • Ditinggal Suami, Dinikahi CEO   Bab 90. Benang Merah yang Tak Terputus

    Malam itu, Hana kembali duduk di kursi makan dengan wajah pucat. Tangannya menggenggam sendok, tetapi setiap kali ia hendak menyendok makanan, rasa mual kembali menghantam.Aroma makanan yang dulu ia sukai, kini terasa begitu menyiksa. Bahkan sekadar mencium bau kopi yang diseduh ibunya pagi tadi saja sudah cukup membuat perutnya bergejolak.Bu Lauren yang sudah mengamati putrinya sejak tadi, akhirnya meletakkan semangkuk sup hangat di hadapan Hana."Ibu buat yang ringan saja. Setidaknya sup ini bisa kamu terima di perutmu," ucapnya lembut, duduk di seberang meja.Hana menatap sup yang mengepul itu. Aroma kaldu yang ringan sedikit menenangkannya, dan tanpa banyak kata, ia mulai menyendok sup tersebut pelan-pelan.Setelah beberapa suap, tubuhnya mulai terasa sedikit lebih baik. Ia meletakkan sendok, lalu menghela napas panjang.Hening menyelimuti mereka sejenak sebelum tiba-tiba Hana terisak.Tanpa peringatan, ia bangkit dari tempat duduknya dan memeluk ibunya erat. Bahunya terguncang

  • Ditinggal Suami, Dinikahi CEO   Bab 89. Permintaan Kakek

    Siang itu, Rey melewati meja kerja Hana, dan di sana telah kosong.Tak ada lagi tumpukan naskah atau secangkir kopi yang biasa menemani wanita itu bekerja. Tak ada jejaknya di sini. Hanya ruang hampa yang tersisa, sama seperti hatinya yang kini terasa kosong tanpa kehadiran Hana.Dulu, ia mungkin tidak menyadari betapa terbiasanya melihat wanita itu di sekelilingnya. Tapi sekarang, setiap sudut gedung ini mengingatkannya pada sosoknya, suara lembutnya saat mendiskusikan naskah, ekspresi seriusnya saat mengetik, bahkan aroma parfumnya yang samar.Rey mendesah pelan, tak bisa berdiam diri lebih lama di sini. Pikirannya kacau. Tanpa berpikir panjang, ia melangkah keluar dari gedung agensinya, membiarkan udara siang yang terik menerpa wajahnya.Langkahnya cepat menuruni anak tangga menuju pelataran parkir, hingga suara seseorang mengejar dari belakang."Tuan! Anda mau ke mana?"Rey menoleh sekilas. Itu Bastian, sekretarisnya, yang kini sedikit terengah mencoba menyusul.Tatapan Rey tajam,

  • Ditinggal Suami, Dinikahi CEO   Bab 88. Sedingin Es

    Hana menarik napas perlahan, mencoba menenangkan dirinya agar tidak terlihat gelisah. Ia tahu tatapan Rey tengah mengamatinya, menuntut jawaban lebih dari sekadar kata-kata. Tapi tidak, ia tidak bisa membiarkan Rey tahu yang sebenarnya."Hanya kelelahan saja, Tuan," jawabnya akhirnya. Suaranya terdengar cukup tenang, tapi jari-jarinya yang meremas kain celana di sisi tubuhnya mengkhianati kegelisahannya.Rey menatapnya lekat, seakan mencoba menembus pertahanannya. Ia bersandar ke sandaran kursinya, menghela napas panjang seolah frustasi."Hana …" Suaranya sedikit lebih lembut, tidak lagi sekadar suara seorang atasan kepada bawahannya. "Berhenti bersikap begini padaku… Aku—"Namun sebelum Rey bisa melanjutkan kata-katanya, suara lain tiba-tiba memotong momen di antara mereka."Rey?"Hana refleks menoleh. Veronica berdiri di ambang pintu dengan ekspresi terkejut yang dibuat-buat, seakan tak sengaja mengganggu percakapan mereka. Wanita itu melangkah masuk dengan santai, membawa tas kotak

  • Ditinggal Suami, Dinikahi CEO   Bab 87. Pertanyaan

    Di rumah sakit yang sama, Rey berdiri di koridor lantai dua, tepat di depan jendela besar yang menghadap ke halaman parkir. Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat dengan jelas sosok Hana yang baru saja keluar dari pintu utama rumah sakit.Langkahnya terhenti.Matanya tidak bisa lepas dari wanita itu. Wajah Hana tampak pucat, rautnya lelah, dan gerakan tubuhnya lebih lambat dari biasanya. Bahkan dari kejauhan, Rey bisa merasakan ada sesuatu yang berbeda.Tapi perhatiannya semakin teralih ketika seorang pria menghampiri Hana.Juna.Pria itu dengan sigap membukakan pintu mobil untuknya, memperlihatkan perhatian yang begitu terang-terangan. Rey mengepalkan tangannya tanpa sadar. Ada sesuatu yang menekan dadanya, membuatnya sulit bernapas sejenak.Kenapa Juna selalu ada di dekat Hana?Rey tahu mereka punya sejarah, tapi bukankah mereka sudah berpisah? Lalu, kenapa sekarang seolah-olah Juna yang menjadi tempat bersandar bagi Hana?Dia ingin mendekat, ingin bertanya langsung pada Hana. Tapi

  • Ditinggal Suami, Dinikahi CEO   Bab 86. Mainkan Peran

    Hana melangkah keluar dari ruang periksa dengan langkah yang terasa begitu berat. Seolah setiap langkah yang ia ambil adalah satu langkah menuju ketidakpastian yang lebih besar. Pikirannya penuh, emosinya bercampur aduk. Ia menekan perutnya dengan tangan, seolah mencoba menyerap kenyataan bahwa ada kehidupan kecil yang tumbuh di dalam dirinya.Bukan ia tidak senang. Tidak sama sekali. Tapi waktu yang tidak tepat ini membuatnya bingung. Bagaimana ia akan menjalani semuanya? Bagaimana ia akan menghadapi Rey?Di sampingnya, Bu Lauren diam-diam menghela napas panjang sebelum akhirnya merangkul pundak Hana dengan penuh kasih sayang."Nak …," suara Lauren terdengar pelan, hampir seperti bisikan. Ia menatap wajah putrinya dengan penuh kekhawatiran. "Itu anak Rey, 'kan?"Hana menegang. Ia tidak menjawab, hanya menundukkan kepala.Lauren menghela napas lagi, kali ini lebih dalam. "Dia harus tahu," bisiknya lembut.Namun, Hana dengan cepat menggeleng. Matanya terpejam sejenak sebelum ia mengang

  • Ditinggal Suami, Dinikahi CEO   Bab 85. Benarkah?

    Pagi itu, Hana masih merasa lemas saat membuka mata. Cahaya matahari menyelinap masuk melalui jendela, memberikan sedikit kehangatan di kamar sederhana itu. Tubuhnya masih terasa berat, perutnya sedikit mual, dan kepalanya seperti berdenyut pelan.Ibunya, Bu Lauren, masuk ke kamar sambil membawa semangkuk bubur hangat. "Kamu masih pusing, Hana?" tanyanya lembut, duduk di tepi tempat tidur.Hana mencoba tersenyum kecil, meskipun jelas terlihat lemah. "Cuma masuk angin, Bu. Mungkin karena kecapekan," katanya, berusaha meyakinkan diri sendiri juga.Bu Lauren menghela napas, meletakkan mangkuk bubur di meja kecil di samping tempat tidur. "Kalau masih nggak enak badan, kamu jangan maksa kerja dulu, ya? Istirahat aja di rumah."Hana tahu ibunya benar. Dengan kondisinya yang seperti ini, memaksakan diri pergi bekerja hanya akan memperburuk keadaan. Akhirnya, ia memutuskan untuk izin tidak masuk kerja hari ini.Keesokan harinya, Juna datang menjenguk. Ia mengetuk pintu dengan satu tangan, sem

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status