Share

Bab 7

Author: Vya Kim
last update Last Updated: 2025-01-03 18:00:06

Ruangan itu terasa lebih dingin dari biasanya, meskipun sinar matahari menembus tirai yang terbuka.

Rey berdiri tegap di dekat meja kerjanya, tak menjawab pertanyaan sang kakek.

Sementara kakeknya duduk dengan tenang, tapi sorot matanya penuh tuntutan.

Di balik ketenangan itu, ada ambisi besar yang tersirat.

Kakeknya, pria yang membangun Astroha Entertainment dari nol, tahu usianya tidak lagi muda. Masa kejayaan sudah berlalu, dan kini dia mengandalkan Rey untuk menjaga warisan itu tetap hidup.

Bagi sang kakek, pernikahan Rey adalah langkah strategis, lebih dari sekadar urusan keluarga. Kerja sama dengan keluarga pengusaha lain akan memperkuat perusahaan mereka, memastikan Astroha tetap berada di puncak.

Namun, Rey, dengan status lajangnya, dianggap kurang stabil di mata mitra bisnis yang mereka targetkan.

Kakek Rey menghela napas panjang, memecah keheningan yang menyelimuti ruangan. Dia bersandar di kursi dengan tongkat di pangkuannya, lalu menatap cucunya dengan ekspresi serius.

“Rey, usiaku terbatas,” ujarnya perlahan, nadanya penuh tekanan. “Jika kau masih ingin melihat keberadaanku, segeralah menikah. Bangun keluarga. Apa kau pikir dengan statusmu yang lajang itu kau bisa menopang perusahaan ini seorang diri?”

Rey tetap diam, ekspresinya datar. Tapi dalam hatinya, ada badai kecil yang bergolak. Dia tahu kakeknya tidak akan berhenti menekan.

Pernyataan itu bukan hanya tuntutan, melainkan juga pengingat tentang tanggung jawab besar yang ada di pundaknya.

Namun, Rey memilih untuk tidak menjawab. Dia hanya menggeser pandangannya ke jendela, membiarkan keheningan menjawab semuanya.

Kakeknya bangkit perlahan dari kursinya, membenarkan setelan jasnya yang rapi. Dengan langkah pasti, dia menuju pintu. Sebelum pergi, dia menoleh sekali lagi ke arah Rey.

“Pikirkan ini baik-baik, Rey. Waktu tidak akan menunggumu.”

Rey tetap tak berkata apa-apa, hanya berdiri tegap hingga suara pintu tertutup pelan. Setelah kakeknya pergi, Rey menghela napas panjang, ia berjalan ke arah meja kerjanya.

Kursi kulit itu berderit pelan saat dia menjatuhkan tubuhnya ke sana. Sejenak, dia hanya duduk diam, matanya tertuju pada berkas-berkas di mejanya, tetapi pikirannya melayang jauh.

Rey mengangkat kedua tangannya, memijat pelan dahinya dengan ujung jari, mencoba meredakan ketegangan yang menumpuk.

Matanya terpejam rapat, seolah itu bisa mengusir beban yang terus menghantuinya.

“Kenapa semua orang selalu ingin mengatur hidupku?” gumamnya lirih, hampir seperti bisikan yang hanya didengar oleh dirinya sendiri.

Akhirnya, dengan napas berat, Rey menurunkan tangannya, menatap kosong ke arah meja. Wajahnya yang biasanya tegas kini memancarkan kelelahan, meski hanya sesaat sebelum dia kembali memulihkan ekspresinya yang dingin dan terkendali.

Setelah kakeknya keluar dari ruangan Rey, langkahnya yang tegas menggema di koridor. Tak jauh dari sana, deretan meja kerja para karyawan agensi terlihat. Suasana yang semula dipenuhi suara percakapan ringan kini mendadak sunyi.

Semua karyawan yang melihat kehadiran sang kakek dengan sigap berdiri dari kursi masing-masing dan membungkuk hormat, termasuk Hana yang duduk di salah satu meja paling ujung. Meskipun ia belum tahu siapa pria tua berwibawa itu, intuisi dan pengamatannya menyadarkan bahwa sosok itu bukan orang sembarangan.

Sang kakek melangkah mendekat ke arah meja Hana. Tatapan tajam dan penuh wibawa miliknya membuat setiap orang di ruangan itu semakin menahan napas.

Ketika jaraknya hanya beberapa langkah lagi dari Hana, pemimpin tim kreatif agensi, Rocky, segera melangkah ke samping Hana dengan gerakan sigap. Wajahnya tampak sedikit tegang, namun tetap tersenyum sopan.

“Selamat siang, Tuan Noh! Senang melihat Anda berkunjung,” ujar Rocky sambil membungkuk sekali lagi dengan sangat hormat.

Tuan Noh mengangguk kecil, pandangannya sekilas menyapu ke arah meja Hana sebelum berhenti tepat pada dirinya.

“Ya, senang melihat kalian semua bersemangat,” ujarnya dengan suara rendah tapi penuh kekuatan.

Pandangannya kini tertuju langsung pada Hana. “Lalu, siapa dirimu, Nona?”

“Oh, dia karyawan baru, Tuan,” jelas Rocky cepat, membantu mempekenalkan diri bawahanannya.

Rocky segera menoleh ke arah Hana, memberi isyarat dengan tatapan tegas agar dia segera memperkenalkan diri.

Dengan sedikit gugup, Hana melangkah setengah maju. Ia menundukkan kepalanya sedikit sebelum berbicara.

“Saya Hana Varelly, Tuan. Penulis baru di agensi ini. Senang bisa diterima di sini. Saya akan berusaha sebaik mungkin.” Ucapannya jelas, namun ia tak bisa menyembunyikan nada gugup di balik kata-katanya.

Tuan Noh mengangguk perlahan, senyum tipis menghiasi wajahnya. Namun, senyum itu terasa seperti membawa beban makna yang lebih besar.

“Ya, berusahalah sebaik mungkin,” jawabnya, nada suaranya memberi penekanan yang sulit ditebak.

Hana membungkuk sekali lagi dengan sopan. Setelah itu, Tuan Noh berbalik tanpa menambahkan apa pun. Langkahnya tetap tegas, diikuti oleh dua bodyguard berjas hitam yang sejak tadi berjaga di belakangnya.

Saat sosok Tuan Noh hilang dari pandangan, suasana perlahan kembali hidup, meskipun bisikan-bisikan kecil mulai terdengar di antara para karyawan.

Hana hanya berdiri di tempatnya, masih berusaha memahami pertemuan singkat itu.

‘Rupanya dia Owner agensi ini...,’ batin Hana sambil kembali duduk ke mejanya.

Rocky menepuk pundaknya pelan. “Kau beruntung dia tidak bertanya lebih banyak,” katanya dengan nada setengah berbisik, sebelum melanjutkan langkah ke meja lain.

Tuan Noh melangkah keluar dari gedung agensi dengan tenang, meskipun auranya tetap memancarkan wibawa yang sulit diabaikan.

Di depan pintu utama, sebuah Rolls-Royce Phantom hitam mengkilap sudah menunggu, dengan supir berdiri di samping pintu belakang, siap melayani.

Tuan Noh masuk ke dalam mobil. Interior mobil itu memancarkan kemewahan kulit premium berwarna krem, ornamen kayu mengilap, dan wangi khas yang menyiratkan keanggunan tanpa cela.

Ia bersandar dengan nyaman di kursi belakang, matanya menyipit sedikit, seakan memikirkan sesuatu. Setelah beberapa detik hening, ia menoleh ke pria yang duduk di depannya asisten pribadinya yang selalu sigap.

“Cari tahu siapa Hana Varelly,” perintahnya pendek namun tajam.

Asistennya mengangguk tanpa bertanya lebih lanjut. “Akan saya urus, Tuan.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Related chapters

  • Ditinggal Suami, Dinikahi CEO   Bab 8

    Setelah kakeknya pergi, Rey keluar dari ruangannya dengan langkah tenang namun tegas. Sepatu kulitnya berbunyi ringan di atas lantai marmer, menarik perhatian karyawan yang berada di area meja kerja. Semua karyawan serempak berdiri menyambut kedatangan CEO mereka. Di antara mereka, Rocky, salah satu supervisor tim, melangkah maju dan memberi salam dengan hormat. “Ada yang bisa saya bantu, Tuan?” tanya Rocky dengan nada formal namun penuh rasa hormat. Rey mengedarkan pandangannya ke seluruh area, matanya sekilas berhenti di meja Hana sebelum ia menjawab dengan suara yang tenang namun tegas. “Setelah pulang kerja, mari makan malam bersama untuk penyambutan karyawan baru.” Rocky, yang menangkap maksud itu, melirik cepat ke arah Hana sebelum kembali menatap Rey. “Oh, tentu, Tuan! Saya akan mengatur semuanya.” Rey mengangguk singkat. “Saya yang traktir,” tam

    Last Updated : 2025-01-05
  • Ditinggal Suami, Dinikahi CEO   Bab 9

    Hana tertegun, matanya membesar karena keterkejutan. "Maaf, Tuan? Saya rasa saya salah dengar," katanya gugup, langkahnya secara refleks mundur sedikit. Rey tetap tenang, seolah tidak terganggu oleh reaksi Hana. Ia menghela napas panjang, memperhatikan sekeliling sebentar, lalu kembali menatapnya. "Mari kita bicara di tempat lain," ujarnya dengan nada datar namun penuh keyakinan. Hana membuka mulut hendak menolak, tetapi Rey sudah melangkah mendekat, memberikan isyarat agar ia mengikuti. Meski ragu, Hana akhirnya menurut, pikirannya penuh tanda tanya. Mereka masuk ke dalam mobil Rey, sebuah Mercedes-Benz S-Class yang terlihat mengilap di bawah lampu jalan. Suasana di dalam mobil hening, hanya diisi suara lembut musik klasik dari speaker mobil. Setelah beberapa menit berkendara, mereka tiba di sebuah kafe kecil dengan suasana hangat. Rey memesan ruang makan tertutup yang dirancang khusus untuk privasi

    Last Updated : 2025-01-05
  • Ditinggal Suami, Dinikahi CEO   Bab 10

    Rey baru saja memasuki apartemennya yang luas dan modern, dengan pemandangan kota yang berkilauan di malam hari. Ia melepas jasnya, menggantungnya di sandaran kursi, dan duduk di meja kerjanya. Di depan Rey, tumpukan dokumen menunggu untuk diperiksa, tetapi pikirannya melayang-layang, memikirkan rencana besar yang mulai terbentuk. Saat ia baru hendak membuka salah satu dokumen, teleponnya berdering. Nama "Hana" tertera di layar. Rey melirik ponselnya, lalu menjawab dengan suara tenang. “Ya, Hana?” Ia bersandar di kursi putarnya, menunggu apa yang akan dikatakan wanita itu. Di seberang, suara Hana terdengar jelas meski sedikit gemetar, “Saya bersedia menjadi tunangan palsu Anda.” Mendengar itu, sudut bibir Rey terangkat tinggi, membentuk senyuman penuh kemenangan. Ia menunggu sejenak, menikmati momen itu sebelum menjawab, “Baiklah, akan kusiapkan kontrak kerja sama kita.”

    Last Updated : 2025-01-06
  • Ditinggal Suami, Dinikahi CEO   Bab 11

    Petang menjelang, dan suasana kantor perlahan berubah menjadi sepi. Hana dan timnya baru saja menyelesaikan pekerjaan mereka hari itu. Naskah yang tengah mereka kerjakan sudah mencapai 80 persen. Dalam hati, Hana merasa bangga karena usahanya untuk terus belajar dan bertanya saat menemui kesulitan benar-benar membuahkan hasil.Rekan-rekan satu timnya pun tampak senang bekerja sama dengannya. Hana adalah tipe orang yang mau mendengarkan kritik dan menerima masukan dengan lapang dada, membuat suasana kerja menjadi lebih nyaman."Bye, Hana! Besok kita tempur lagi! Sepertinya naskah kita sudah selesai sepenuhnya besok. Semangat, ya!" seru Rocky, salah satu rekan yang terkenal enerjik, sambil melambai dengan penuh semangat."Iya, bye! Terima kasih untuk hari ini!" balas Hana ceria, melambai-lambaikan tangannya. Suaranya yang ceria menyelimuti kantor yang mulai sepi, menghangatkan suasana sebelum akhirnya Rocky dan yang lain keluar. TING!

    Last Updated : 2025-01-06
  • Ditinggal Suami, Dinikahi CEO   Bab 12

    Hana akhirnya sampai di depan gedung pencakar langit dengan logo besar bertuliskan "BG TV."Gedung itu berdiri megah, memancarkan aura arogan. Hana menatapnya dengan mata tajam, penuh kebencian. Seolah dengan pandangannya saja, ia mampu meruntuhkan seluruh bangunan.Setelah menarik napas panjang, ia melangkah masuk. Suara langkah sepatunya menggema di lantai lobby yang sepi. Tanpa ragu, ia menuju lift, menekan tombol menuju lantai tempat Juna berada.Ketika pintu lift terbuka, lantai itu masih dipenuhi beberapa karyawan yang lembur. Namun, Hana tidak peduli. Pandangannya lurus ke depan, langkahnya mantap, hingga ia berhenti di depan pintu ruangan Juna.Di luar, ia melirik sekilas meja wanita yang sering ia lihat bersama Juna, si wanita j*lang Dara. Wanita itu tampak masih menunggu, entah untuk pekerjaan atau untuk menunggu Juna.Hana tak mengetuk pintu. Ia langsung mendorongnya dengan kuat dan masuk ke dalam ruangan.Juna yang s

    Last Updated : 2025-01-07
  • Ditinggal Suami, Dinikahi CEO   Bab 13

    Di sebuah ruangan kerja yang megah, Tuan Noh duduk di belakang meja kayu mahoni yang besar dan elegan. Di sekitarnya, rak-rak penuh buku dan penghargaan bisnis berjajar rapi, menandakan betapa panjang dan gemilang perjalanan hidupnya sebagai seorang pengusaha.Di atas meja, tergeletak sebuah berkas dengan tulisan Hana Varelly di sudutnya. Tuan Noh menyandarkan tubuhnya di kursi, tangannya perlahan membuka berkas itu. Sebuah CV sederhana terlihat di dalamnya, memuat informasi tentang seorang wanita muda dengan riwayat pendidikan dan pengalaman kerja yang tak terlalu mencolok.Namun, yang membuatnya berhenti adalah kolom data keluarga. Di sana, tertera nama Federic Varelly sebagai ayah Hana. Tatapannya berubah tajam, jari-jarinya mengetuk ringan permukaan meja.“Federic Varelly ...,” gumamnya dengan nada rendah, mengingat nama yang begitu familiar baginya. Federic adalah rekan bisnis lamanya yang dulu sangat ia hormati, seorang pria yang dikenal karena kecer

    Last Updated : 2025-01-07
  • Ditinggal Suami, Dinikahi CEO   Bab 14

    Semilir angin pagi membelai lembut rambut Rey, menambah kesan memukau pada dirinya. Rambutnya yang masih setengah basah memberi kesan segar, sementara sorot matanya tajam namun tenang saat ia berbalik dan mendapati Hana berdiri di ambang pintu.Hana awalnya terkejut. Pertanyaan "Kenapa Tuan Rey tiba-tiba menjemput?" sempat terlintas di pikirannya. Namun, seketika ia menyadari, ini adalah bagian dari peran yang harus ia jalani.Wajahnya yang semula menunjukkan kebingungan berubah dengan cepat. Ia menyunggingkan senyum, sepenuhnya sadar bahwa permainannya telah dimulai.Rey melangkah mendekat, angin pagi ikut membawa aroma maskulin samar dari tubuhnya. Ia berhenti tepat di hadapan Hana, lalu membungkuk sedikit, bibirnya nyaris menyentuh telinga Hana.“Bersikaplah seperti pasangan pada umumnya. Kakekku memantau dari jauh,” bisiknya datar namun tegas, nyaris seperti sebuah perintah.Hana langsung merespons. Senyumnya meluas, kali ini lebih ce

    Last Updated : 2025-01-08
  • Ditinggal Suami, Dinikahi CEO   Bab 15

    "Astaga, Hana! Minum pelan-pelan," seru Lauren, meski masih terguncang dengan pernyataan Rey tadi.Rey, di sisi lain, hanya duduk dengan tenang, sesekali menatap Hana yang mencoba menenangkan diri. "Kau baik-baik saja, Hana?" tanyanya, suaranya terdengar seperti ejekan samar.Hana hanya bisa menatap Rey dengan mata melebar. Pipinya mulai memerah, baik karena tersedak maupun karena pernyataan Rey yang sama sekali tidak ia duga.Lauren kembali ke tempat duduknya saat Hana mulai stabil, sementara Hana hanya bisa menunduk, menggigit bibirnya untuk menahan diri agar tidak mengatakan sesuatu yang salah. Di dalam hatinya, ia memaki Rey habis-habisan.'Apa maksud semua ini, Tuan Rey?!' batin Hana dalam hati, sambil meneguk susu yang tersisa dengan gelisah.Namun, Rey tetap terlihat tak terganggu, seolah semua berjalan sesuai rencananya.Setelah sarapan selesai, Rey dan Hana pun berdiri dari meja makan.“Terima kasih atas sarapannya,

    Last Updated : 2025-01-08

Latest chapter

  • Ditinggal Suami, Dinikahi CEO   Bab 93. Jangan Murung

    Juna menatap tajam ke arah Rey, tidak gentar sedikit pun dengan emosi yang membara di mata pria itu. Dengan satu gerakan tegas, ia menepis tangan Rey yang masih mencengkeram kerah bajunya."Sebaiknya kau yang menjauhi Hana! Bukan aku!" desis Juna, suaranya rendah namun penuh tekanan. Ia sadar ini adalah koridor rumah sakit, dan pertengkaran terbuka hanya akan menarik perhatian yang tidak diinginkan.Rey terdiam sejenak. Rahangnya mengeras, wajahnya menegang dalam campuran emosi yang sulit dijelaskan. Perlahan, ia mengendurkan cengkeramannya, melangkah mundur selangkah demi selangkah, tapi sorot matanya masih tertuju ke pintu ruangan dokter.Hana masih di dalam sana.Ia ingin masuk, ingin bertanya langsung kepada wanita itu, ingin mendapatkan kepastian dari bibirnya sendiri. Tapi sebelum ia sempat bergerak lagi, Juna mendorongnya. Bukan dorongan kasar, melainkan gerakan halus, namun bagi Rey, dorongan itu terasa seperti hantaman yang mengguncang hatinya."Pergi," bisik Juna, nada suara

  • Ditinggal Suami, Dinikahi CEO   Bab 92. Benarkah?

    Sudah hampir sebulan sejak Hana mulai bekerja sebagai owner PT. First Food. Waktu berlalu begitu cepat, dan meskipun ia masih menyesuaikan diri dengan peran barunya, ia mulai terbiasa dengan ritme pekerjaannya.Namun, di balik kesibukannya, ada sesuatu yang lebih penting yang harus ia perhatikan, kehamilannya. Hari ini adalah jadwal kontrolnya, dan tanpa bisa dihindari, seseorang menawarkan diri untuk mengantarnya.Juna.Pria itu masih saja muncul dalam hidupnya, berusaha mengambil celah sekecil apa pun untuk mendekat lagi. Meski Hana berusaha menjaga jarak, Juna selalu menemukan alasan agar tetap ada di sekitarnya.Dan sekarang, di dalam mobil yang melaju menuju rumah sakit, suasana terasa canggung.“Apa masih sering mual?” tanya Juna sambil menyetir.Hana yang sejak tadi hanya menatap keluar jendela, menghela napas. “Udah mulai berkuran, nggak separah pertama kali.”Juna meliriknya sekilas. “Aku masih sering kepikiran. Kalau aja aku dulu lebih—”“Jangan bahas masa lalu, Juna.” Suara

  • Ditinggal Suami, Dinikahi CEO   Bab 91. Stalker

    Malam semakin larut, dan Hana yang awalnya hanya berniat merebahkan diri di kasur akhirnya tertidur dengan tenang. Rasa lelah yang menggelayuti tubuhnya perlahan memudar seiring napasnya yang semakin teratur.Keesokan paginya, sinar matahari yang menerobos melalui celah tirai membangunkannya. Hana menggeliat pelan sebelum meraih ponselnya yang tergeletak di samping bantal. Saat layar menyala, sebuah notifikasi dari game yang biasa ia mainkan menarik perhatiannya.Notifikasi dari akun bernama Reys_toran muncul di layar:[Hi, apa kau mau masuk grup?]Hana tersenyum kecil, lalu mengetik balasannya dengan ringan.[Ya, tentu]Setelah itu, ia meletakkan kembali ponselnya dan bangkit dari tempat tidur. Hari ini adalah hari penting, ia harus bersiap-siap untuk pergi ke kantor PT. First Food sebagai owner baru. Meskipun pagi harinya masih dihiasi rasa mual seperti biasa, kali ini tidak separah sebelumnya. Ia menarik napas dalam, berusaha menenangkan perutnya sebelum beranjak ke kamar mandi.Se

  • Ditinggal Suami, Dinikahi CEO   Bab 90. Benang Merah yang Tak Terputus

    Malam itu, Hana kembali duduk di kursi makan dengan wajah pucat. Tangannya menggenggam sendok, tetapi setiap kali ia hendak menyendok makanan, rasa mual kembali menghantam.Aroma makanan yang dulu ia sukai, kini terasa begitu menyiksa. Bahkan sekadar mencium bau kopi yang diseduh ibunya pagi tadi saja sudah cukup membuat perutnya bergejolak.Bu Lauren yang sudah mengamati putrinya sejak tadi, akhirnya meletakkan semangkuk sup hangat di hadapan Hana."Ibu buat yang ringan saja. Setidaknya sup ini bisa kamu terima di perutmu," ucapnya lembut, duduk di seberang meja.Hana menatap sup yang mengepul itu. Aroma kaldu yang ringan sedikit menenangkannya, dan tanpa banyak kata, ia mulai menyendok sup tersebut pelan-pelan.Setelah beberapa suap, tubuhnya mulai terasa sedikit lebih baik. Ia meletakkan sendok, lalu menghela napas panjang.Hening menyelimuti mereka sejenak sebelum tiba-tiba Hana terisak.Tanpa peringatan, ia bangkit dari tempat duduknya dan memeluk ibunya erat. Bahunya terguncang

  • Ditinggal Suami, Dinikahi CEO   Bab 89. Permintaan Kakek

    Siang itu, Rey melewati meja kerja Hana, dan di sana telah kosong.Tak ada lagi tumpukan naskah atau secangkir kopi yang biasa menemani wanita itu bekerja. Tak ada jejaknya di sini. Hanya ruang hampa yang tersisa, sama seperti hatinya yang kini terasa kosong tanpa kehadiran Hana.Dulu, ia mungkin tidak menyadari betapa terbiasanya melihat wanita itu di sekelilingnya. Tapi sekarang, setiap sudut gedung ini mengingatkannya pada sosoknya, suara lembutnya saat mendiskusikan naskah, ekspresi seriusnya saat mengetik, bahkan aroma parfumnya yang samar.Rey mendesah pelan, tak bisa berdiam diri lebih lama di sini. Pikirannya kacau. Tanpa berpikir panjang, ia melangkah keluar dari gedung agensinya, membiarkan udara siang yang terik menerpa wajahnya.Langkahnya cepat menuruni anak tangga menuju pelataran parkir, hingga suara seseorang mengejar dari belakang."Tuan! Anda mau ke mana?"Rey menoleh sekilas. Itu Bastian, sekretarisnya, yang kini sedikit terengah mencoba menyusul.Tatapan Rey tajam,

  • Ditinggal Suami, Dinikahi CEO   Bab 88. Sedingin Es

    Hana menarik napas perlahan, mencoba menenangkan dirinya agar tidak terlihat gelisah. Ia tahu tatapan Rey tengah mengamatinya, menuntut jawaban lebih dari sekadar kata-kata. Tapi tidak, ia tidak bisa membiarkan Rey tahu yang sebenarnya."Hanya kelelahan saja, Tuan," jawabnya akhirnya. Suaranya terdengar cukup tenang, tapi jari-jarinya yang meremas kain celana di sisi tubuhnya mengkhianati kegelisahannya.Rey menatapnya lekat, seakan mencoba menembus pertahanannya. Ia bersandar ke sandaran kursinya, menghela napas panjang seolah frustasi."Hana …" Suaranya sedikit lebih lembut, tidak lagi sekadar suara seorang atasan kepada bawahannya. "Berhenti bersikap begini padaku… Aku—"Namun sebelum Rey bisa melanjutkan kata-katanya, suara lain tiba-tiba memotong momen di antara mereka."Rey?"Hana refleks menoleh. Veronica berdiri di ambang pintu dengan ekspresi terkejut yang dibuat-buat, seakan tak sengaja mengganggu percakapan mereka. Wanita itu melangkah masuk dengan santai, membawa tas kotak

  • Ditinggal Suami, Dinikahi CEO   Bab 87. Pertanyaan

    Di rumah sakit yang sama, Rey berdiri di koridor lantai dua, tepat di depan jendela besar yang menghadap ke halaman parkir. Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat dengan jelas sosok Hana yang baru saja keluar dari pintu utama rumah sakit.Langkahnya terhenti.Matanya tidak bisa lepas dari wanita itu. Wajah Hana tampak pucat, rautnya lelah, dan gerakan tubuhnya lebih lambat dari biasanya. Bahkan dari kejauhan, Rey bisa merasakan ada sesuatu yang berbeda.Tapi perhatiannya semakin teralih ketika seorang pria menghampiri Hana.Juna.Pria itu dengan sigap membukakan pintu mobil untuknya, memperlihatkan perhatian yang begitu terang-terangan. Rey mengepalkan tangannya tanpa sadar. Ada sesuatu yang menekan dadanya, membuatnya sulit bernapas sejenak.Kenapa Juna selalu ada di dekat Hana?Rey tahu mereka punya sejarah, tapi bukankah mereka sudah berpisah? Lalu, kenapa sekarang seolah-olah Juna yang menjadi tempat bersandar bagi Hana?Dia ingin mendekat, ingin bertanya langsung pada Hana. Tapi

  • Ditinggal Suami, Dinikahi CEO   Bab 86. Mainkan Peran

    Hana melangkah keluar dari ruang periksa dengan langkah yang terasa begitu berat. Seolah setiap langkah yang ia ambil adalah satu langkah menuju ketidakpastian yang lebih besar. Pikirannya penuh, emosinya bercampur aduk. Ia menekan perutnya dengan tangan, seolah mencoba menyerap kenyataan bahwa ada kehidupan kecil yang tumbuh di dalam dirinya.Bukan ia tidak senang. Tidak sama sekali. Tapi waktu yang tidak tepat ini membuatnya bingung. Bagaimana ia akan menjalani semuanya? Bagaimana ia akan menghadapi Rey?Di sampingnya, Bu Lauren diam-diam menghela napas panjang sebelum akhirnya merangkul pundak Hana dengan penuh kasih sayang."Nak …," suara Lauren terdengar pelan, hampir seperti bisikan. Ia menatap wajah putrinya dengan penuh kekhawatiran. "Itu anak Rey, 'kan?"Hana menegang. Ia tidak menjawab, hanya menundukkan kepala.Lauren menghela napas lagi, kali ini lebih dalam. "Dia harus tahu," bisiknya lembut.Namun, Hana dengan cepat menggeleng. Matanya terpejam sejenak sebelum ia mengang

  • Ditinggal Suami, Dinikahi CEO   Bab 85. Benarkah?

    Pagi itu, Hana masih merasa lemas saat membuka mata. Cahaya matahari menyelinap masuk melalui jendela, memberikan sedikit kehangatan di kamar sederhana itu. Tubuhnya masih terasa berat, perutnya sedikit mual, dan kepalanya seperti berdenyut pelan.Ibunya, Bu Lauren, masuk ke kamar sambil membawa semangkuk bubur hangat. "Kamu masih pusing, Hana?" tanyanya lembut, duduk di tepi tempat tidur.Hana mencoba tersenyum kecil, meskipun jelas terlihat lemah. "Cuma masuk angin, Bu. Mungkin karena kecapekan," katanya, berusaha meyakinkan diri sendiri juga.Bu Lauren menghela napas, meletakkan mangkuk bubur di meja kecil di samping tempat tidur. "Kalau masih nggak enak badan, kamu jangan maksa kerja dulu, ya? Istirahat aja di rumah."Hana tahu ibunya benar. Dengan kondisinya yang seperti ini, memaksakan diri pergi bekerja hanya akan memperburuk keadaan. Akhirnya, ia memutuskan untuk izin tidak masuk kerja hari ini.Keesokan harinya, Juna datang menjenguk. Ia mengetuk pintu dengan satu tangan, sem

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status