"Astaga, Hana! Minum pelan-pelan," seru Lauren, meski masih terguncang dengan pernyataan Rey tadi.
Rey, di sisi lain, hanya duduk dengan tenang, sesekali menatap Hana yang mencoba menenangkan diri. "Kau baik-baik saja, Hana?" tanyanya, suaranya terdengar seperti ejekan samar.Hana hanya bisa menatap Rey dengan mata melebar. Pipinya mulai memerah, baik karena tersedak maupun karena pernyataan Rey yang sama sekali tidak ia duga.Lauren kembali ke tempat duduknya saat Hana mulai stabil, sementara Hana hanya bisa menunduk, menggigit bibirnya untuk menahan diri agar tidak mengatakan sesuatu yang salah. Di dalam hatinya, ia memaki Rey habis-habisan.'Apa maksud semua ini, Tuan Rey?!' batin Hana dalam hati, sambil meneguk susu yang tersisa dengan gelisah.Namun, Rey tetap terlihat tak terganggu, seolah semua berjalan sesuai rencananya.Setelah sarapan selesai, Rey dan Hana pun berdiri dari meja makan.“Terima kasih atas sarapannya,Rocky memperhatikan kedatangan Hana dan Rey dari kejauhan. Ketika Rey berjalan masuk ke ruangannya tanpa banyak bicara, Rocky langsung mendekati meja Hana dengan membawa setumpuk berkas."Wah, Hana. Kau datang bersama dengan Tuan Rey?" tanyanya, meletakkan dokumen itu di meja Hana dengan ekspresi penuh rasa ingin tahu.Hana yang masih berusaha menenangkan pikirannya dari kejadian di lift tadi, tersenyum tipis. “Ah, tidak. Hanya kebetulan saja,” jawabnya asal, berharap Rocky tidak menggali lebih jauh.Namun, Rocky bukan tipe yang mudah puas. Ia menarik kursinya dan duduk di sebelah Hana, pandangan matanya penuh rasa penasaran. “Tuan Rey itu tipe pria yang jarang sekali berinteraksi secara pribadi dengan karyawan. Padahal, banyak sekali wanita di kantor ini yang mengidolakannya. Kau benar-benar beruntung bisa dekat dengannya.”Hana terbatuk kecil, merasa semakin canggung. Ia berusaha tertawa ringan untuk meredakan suasana. “Ah, tidak seper
Rey merintih pelan, matanya terpejam sesaat, menahan rasa sakit yang tampak mengganggu."Apa Anda terluka, Tuan?" tanya Hana panik, masih berada di atas tubuh Rey. Matanya memeriksa wajah Rey dengan cemas.Rey menghela napas berat, perlahan bangkit setengah duduk dari lantai, bersamaan dengan suara teriakan kru dan anggota tim lainnya yang bergegas mendekat."Betapa cerobohnya kau...," ucap Rey lirih dengan rintihan kecil, sebelum duduk sepenuhnya sambil menopang Hana hingga mereka sama-sama bisa duduk tegak."Maaf, Tuan...," lirih Hana. Ia menundukkan wajahnya, merasa bersalah, bahkan belum sadar bahwa kakinya terluka.Namun, Rey yang lebih sigap. Tatapannya tertuju ke kaki Hana, memperhatikan luka menganga akibat goresan pecahan kaca yang baru saja ia lindungi.Beberapa kru akhirnya tiba, terengah-engah, diikuti Rocky dan anggota tim lainnya. "Apa ada yang terluka?" tanya Rocky dengan wajah khawatir.Rey perlahan berdi
Di ruang UGD, Hana duduk di ranjang periksa, mengamati perban yang kini melilit kakinya. Dokter telah selesai merawat lukanya, dan ia diberi beberapa resep untuk memastikan tidak ada infeksi. Rey berdiri tak jauh."Sudah selesai, Tuan," ujar dokter sambil mencatat sesuatu di clipboard.Rey mengangguk, lalu mendekat ke Hana."Besok makan malam dengan Kakek," katanya singkat, tanpa emosi.Hana mendongak, sedikit terkejut. Ia hampir lupa soal janji yang sempat terjadi beberapa hari lalu itu. "Oh ... iya," balasnya pelan."Jangan sampai ada masalah," sahutnya datar."Baiklah, Tuan. Saya akan mempersiapkan diri," ujarnya lirih.Rey hanya mengangguk singkat, "Kutunggu kau di mobil." Lalu ia beranjak dari sana untuk menjemput Hana di depan UGD Hana terpaku, menyaksikan sosok Rey yang menjauh. Dalam benaknya, ia sempat mengira bahwa mungkin Rey memiliki sedikit nurani setelah apa yang terjadi. Tapi nyatanya, perhatian
Masakan telah selesai ditata dengan rapi di meja makan. Rey, yang dari tadi membantu Lauren, kini dengan cekatan menyiapkan peralatan makan. Sendok, garpu, dan gelas diatur dengan posisi sempurna, membuat Lauren terkesima."Hebat, Nak Rey. Meski bos besar, ternyata pandai juga soal pekerjaan rumah," ujar Lauren, terkagum-kagum sambil mengamati gerakan Rey yang terampil.Rey hanya tersenyum tipis. "Dulu, saya sudah terbiasa membantu kakek di rumah. Beliau mengajarkan saya bahwa seorang pria harus bisa mengurus dirinya sendiri."Lauren mengangguk penuh apresiasi, lalu menoleh ke arah Hana yang masih duduk di sofa. "Hana, ayo ke meja makan. Nak Rey, bisa bantu dia?"Tanpa berkata apa-apa, Rey menghampiri Hana, memegang lengannya dengan lembut, membantunya berdiri. Hana hanya bisa menatap singkat ke arah Rey sebelum akhirnya mereka berjalan bersama menuju meja makan.Setelah semua duduk, Lauren mempersilakan Rey untuk mencicipi masakannya ter
Petang pun tiba, langit berpendar dengan warna oranye keemasan, menambah kesan magis di udara. Di dalam kamarnya, Hana berdiri di depan cermin, merapikan dress merah marun yang membalut tubuhnya dengan elegan.Gaun itu berpotongan asimetris dengan detail lipatan di bagian dada yang menyerupai kelopak bunga mawar. Material kain transparannya menjuntai di salah satu sisi, menciptakan ilusi anggun ketika ia melangkah. Rambut hitam panjangnya dibiarkan tergerai, dengan sedikit gelombang yang memberikan sentuhan natural pada penampilannya. Wajahnya dipulas lembut dengan riasan minimalis yang tetap menonjolkan kecantikan alaminya.Saat Hana ke ruang tamu, ibunya memandangnya dengan penuh haru, lalu berkata, “Kamu cantik sekali, Nak. hati-hati, ya, di jalan.”Hana tersenyum dan mencium pipi ibunya sebelum berjalan keluar rumah. Di depan, Rey sudah menunggu, berdiri tegak di samping mobil hitamnya.Jas hitamnya dipadukan dengan dasi abu-abu tua,
Sudut bibir Tuan Noh naik sedikit, seolah menyimpan rahasia yang sudah lama terpendam. Namun, ia tidak langsung menjawab pertanyaan Hana yang terlihat kebingungan.Alih-alih, ia bangkit dari sofa dengan tenang, tongkat kayu di tangannya mengetuk lantai dengan ritmis."Mari ikut aku ke ruang kerja," katanya singkat, suaranya mantap namun penuh misteri. Tanpa menunggu jawaban, ia mulai melangkah pelan, dibantu tongkatnya.Hana menatap Rey sejenak, kebingungannya semakin bertambah, tetapi ia memilih untuk mengikuti Tuan Noh. Rey berjalan di sampingnya, dan Hana tak kuasa menahan rasa penasaran yang terus mengusik pikirannya."Apa Anda juga tahu sesuatu, Tuan Rey?" tanyanya dengan suara pelan, nyaris berbisik, berharap mendapatkan petunjuk lebih dari pria di sampingnya.Rey meliriknya sekilas, ekspresinya tetap tenang. "Tidak," jawabnya singkat, tapi sorot matanya menunjukkan bahwa ia juga penasaran dengan apa yang akan terjadi.Mere
Tuan Noh tertawa kecil, kali ini terdengar lebih bangga daripada sebelumnya. "Aku suka semangatmu, Hana," katanya dengan tatapan penuh apresiasi. "Jika kau membutuhkan bantuan, jangan ragu untuk menghubungiku ... atau Rey," lanjutnya, melirik ke arah cucunya yang masih duduk di samping Hana. Hana menatap pria tua itu dengan penuh rasa terima kasih. "Terima kasih, Tuan," jawabnya tulus. "Bantuanmu ini lebih dari apapun yang pernah kuduga. Rasanya tidak cukup hanya mengucapkan terima kasih." Tuan Noh mengangguk pelan, menyadari betapa seriusnya ucapan Hana. Namun, sorot matanya kemudian berubah lebih ringan, seolah ada hal lain yang ingin ia sampaikan. "Oh iya, bulan depan adalah ulang tahun perusahaan First Food," ujarnya tiba-tiba, "Apa kau akan hadir?" Hana termenung sejenak, namun kemudian bibirnya melengkungkan senyum tipis yang penuh arti.
Hana beranjak dari kursinya, langkahnya perlahan tapi pasti menuju ujung balkon. Punggungnya terlihat tegar, tetapi Rey tahu ada badai yang berkecamuk di dalam dirinya. Ia hanya menyesap kopi tanpa niat mengejarnya, membiarkan Hana menghadapi emosinya sendiri.Kakinya masih perih akibat kejadian sebelumnya, namun kini rasa sakit itu tak ada artinya dibandingkan dengan perih di hatinya. Ucapan Rey barusan, dingin dan tajam, seolah menyiram luka itu dengan air garam, memperburuk keadaan.Hana terpaku menatap malam yang indah di kafe itu. Pemandangan bukit yang membentang di hadapannya dihiasi gemerlap lampu-lampu kecil dari kejauhan.Angin malam yang lembut menyentuh kulitnya, seakan berusaha menghiburnya, namun gagal. Kehangatan dari pemandangan itu tak mampu mencairkan hatinya yang kini membeku.Tangannya menggenggam railing balkon. Semakin lama, genggamannya berubah menjadi remasan yang kuat, meluapkan amarah yang tak bisa ia ungkapkan dengan kat
Juna menatap tajam ke arah Rey, tidak gentar sedikit pun dengan emosi yang membara di mata pria itu. Dengan satu gerakan tegas, ia menepis tangan Rey yang masih mencengkeram kerah bajunya."Sebaiknya kau yang menjauhi Hana! Bukan aku!" desis Juna, suaranya rendah namun penuh tekanan. Ia sadar ini adalah koridor rumah sakit, dan pertengkaran terbuka hanya akan menarik perhatian yang tidak diinginkan.Rey terdiam sejenak. Rahangnya mengeras, wajahnya menegang dalam campuran emosi yang sulit dijelaskan. Perlahan, ia mengendurkan cengkeramannya, melangkah mundur selangkah demi selangkah, tapi sorot matanya masih tertuju ke pintu ruangan dokter.Hana masih di dalam sana.Ia ingin masuk, ingin bertanya langsung kepada wanita itu, ingin mendapatkan kepastian dari bibirnya sendiri. Tapi sebelum ia sempat bergerak lagi, Juna mendorongnya. Bukan dorongan kasar, melainkan gerakan halus, namun bagi Rey, dorongan itu terasa seperti hantaman yang mengguncang hatinya."Pergi," bisik Juna, nada suara
Sudah hampir sebulan sejak Hana mulai bekerja sebagai owner PT. First Food. Waktu berlalu begitu cepat, dan meskipun ia masih menyesuaikan diri dengan peran barunya, ia mulai terbiasa dengan ritme pekerjaannya.Namun, di balik kesibukannya, ada sesuatu yang lebih penting yang harus ia perhatikan, kehamilannya. Hari ini adalah jadwal kontrolnya, dan tanpa bisa dihindari, seseorang menawarkan diri untuk mengantarnya.Juna.Pria itu masih saja muncul dalam hidupnya, berusaha mengambil celah sekecil apa pun untuk mendekat lagi. Meski Hana berusaha menjaga jarak, Juna selalu menemukan alasan agar tetap ada di sekitarnya.Dan sekarang, di dalam mobil yang melaju menuju rumah sakit, suasana terasa canggung.“Apa masih sering mual?” tanya Juna sambil menyetir.Hana yang sejak tadi hanya menatap keluar jendela, menghela napas. “Udah mulai berkuran, nggak separah pertama kali.”Juna meliriknya sekilas. “Aku masih sering kepikiran. Kalau aja aku dulu lebih—”“Jangan bahas masa lalu, Juna.” Suara
Malam semakin larut, dan Hana yang awalnya hanya berniat merebahkan diri di kasur akhirnya tertidur dengan tenang. Rasa lelah yang menggelayuti tubuhnya perlahan memudar seiring napasnya yang semakin teratur.Keesokan paginya, sinar matahari yang menerobos melalui celah tirai membangunkannya. Hana menggeliat pelan sebelum meraih ponselnya yang tergeletak di samping bantal. Saat layar menyala, sebuah notifikasi dari game yang biasa ia mainkan menarik perhatiannya.Notifikasi dari akun bernama Reys_toran muncul di layar:[Hi, apa kau mau masuk grup?]Hana tersenyum kecil, lalu mengetik balasannya dengan ringan.[Ya, tentu]Setelah itu, ia meletakkan kembali ponselnya dan bangkit dari tempat tidur. Hari ini adalah hari penting, ia harus bersiap-siap untuk pergi ke kantor PT. First Food sebagai owner baru. Meskipun pagi harinya masih dihiasi rasa mual seperti biasa, kali ini tidak separah sebelumnya. Ia menarik napas dalam, berusaha menenangkan perutnya sebelum beranjak ke kamar mandi.Se
Malam itu, Hana kembali duduk di kursi makan dengan wajah pucat. Tangannya menggenggam sendok, tetapi setiap kali ia hendak menyendok makanan, rasa mual kembali menghantam.Aroma makanan yang dulu ia sukai, kini terasa begitu menyiksa. Bahkan sekadar mencium bau kopi yang diseduh ibunya pagi tadi saja sudah cukup membuat perutnya bergejolak.Bu Lauren yang sudah mengamati putrinya sejak tadi, akhirnya meletakkan semangkuk sup hangat di hadapan Hana."Ibu buat yang ringan saja. Setidaknya sup ini bisa kamu terima di perutmu," ucapnya lembut, duduk di seberang meja.Hana menatap sup yang mengepul itu. Aroma kaldu yang ringan sedikit menenangkannya, dan tanpa banyak kata, ia mulai menyendok sup tersebut pelan-pelan.Setelah beberapa suap, tubuhnya mulai terasa sedikit lebih baik. Ia meletakkan sendok, lalu menghela napas panjang.Hening menyelimuti mereka sejenak sebelum tiba-tiba Hana terisak.Tanpa peringatan, ia bangkit dari tempat duduknya dan memeluk ibunya erat. Bahunya terguncang
Siang itu, Rey melewati meja kerja Hana, dan di sana telah kosong.Tak ada lagi tumpukan naskah atau secangkir kopi yang biasa menemani wanita itu bekerja. Tak ada jejaknya di sini. Hanya ruang hampa yang tersisa, sama seperti hatinya yang kini terasa kosong tanpa kehadiran Hana.Dulu, ia mungkin tidak menyadari betapa terbiasanya melihat wanita itu di sekelilingnya. Tapi sekarang, setiap sudut gedung ini mengingatkannya pada sosoknya, suara lembutnya saat mendiskusikan naskah, ekspresi seriusnya saat mengetik, bahkan aroma parfumnya yang samar.Rey mendesah pelan, tak bisa berdiam diri lebih lama di sini. Pikirannya kacau. Tanpa berpikir panjang, ia melangkah keluar dari gedung agensinya, membiarkan udara siang yang terik menerpa wajahnya.Langkahnya cepat menuruni anak tangga menuju pelataran parkir, hingga suara seseorang mengejar dari belakang."Tuan! Anda mau ke mana?"Rey menoleh sekilas. Itu Bastian, sekretarisnya, yang kini sedikit terengah mencoba menyusul.Tatapan Rey tajam,
Hana menarik napas perlahan, mencoba menenangkan dirinya agar tidak terlihat gelisah. Ia tahu tatapan Rey tengah mengamatinya, menuntut jawaban lebih dari sekadar kata-kata. Tapi tidak, ia tidak bisa membiarkan Rey tahu yang sebenarnya."Hanya kelelahan saja, Tuan," jawabnya akhirnya. Suaranya terdengar cukup tenang, tapi jari-jarinya yang meremas kain celana di sisi tubuhnya mengkhianati kegelisahannya.Rey menatapnya lekat, seakan mencoba menembus pertahanannya. Ia bersandar ke sandaran kursinya, menghela napas panjang seolah frustasi."Hana …" Suaranya sedikit lebih lembut, tidak lagi sekadar suara seorang atasan kepada bawahannya. "Berhenti bersikap begini padaku… Aku—"Namun sebelum Rey bisa melanjutkan kata-katanya, suara lain tiba-tiba memotong momen di antara mereka."Rey?"Hana refleks menoleh. Veronica berdiri di ambang pintu dengan ekspresi terkejut yang dibuat-buat, seakan tak sengaja mengganggu percakapan mereka. Wanita itu melangkah masuk dengan santai, membawa tas kotak
Di rumah sakit yang sama, Rey berdiri di koridor lantai dua, tepat di depan jendela besar yang menghadap ke halaman parkir. Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat dengan jelas sosok Hana yang baru saja keluar dari pintu utama rumah sakit.Langkahnya terhenti.Matanya tidak bisa lepas dari wanita itu. Wajah Hana tampak pucat, rautnya lelah, dan gerakan tubuhnya lebih lambat dari biasanya. Bahkan dari kejauhan, Rey bisa merasakan ada sesuatu yang berbeda.Tapi perhatiannya semakin teralih ketika seorang pria menghampiri Hana.Juna.Pria itu dengan sigap membukakan pintu mobil untuknya, memperlihatkan perhatian yang begitu terang-terangan. Rey mengepalkan tangannya tanpa sadar. Ada sesuatu yang menekan dadanya, membuatnya sulit bernapas sejenak.Kenapa Juna selalu ada di dekat Hana?Rey tahu mereka punya sejarah, tapi bukankah mereka sudah berpisah? Lalu, kenapa sekarang seolah-olah Juna yang menjadi tempat bersandar bagi Hana?Dia ingin mendekat, ingin bertanya langsung pada Hana. Tapi
Hana melangkah keluar dari ruang periksa dengan langkah yang terasa begitu berat. Seolah setiap langkah yang ia ambil adalah satu langkah menuju ketidakpastian yang lebih besar. Pikirannya penuh, emosinya bercampur aduk. Ia menekan perutnya dengan tangan, seolah mencoba menyerap kenyataan bahwa ada kehidupan kecil yang tumbuh di dalam dirinya.Bukan ia tidak senang. Tidak sama sekali. Tapi waktu yang tidak tepat ini membuatnya bingung. Bagaimana ia akan menjalani semuanya? Bagaimana ia akan menghadapi Rey?Di sampingnya, Bu Lauren diam-diam menghela napas panjang sebelum akhirnya merangkul pundak Hana dengan penuh kasih sayang."Nak …," suara Lauren terdengar pelan, hampir seperti bisikan. Ia menatap wajah putrinya dengan penuh kekhawatiran. "Itu anak Rey, 'kan?"Hana menegang. Ia tidak menjawab, hanya menundukkan kepala.Lauren menghela napas lagi, kali ini lebih dalam. "Dia harus tahu," bisiknya lembut.Namun, Hana dengan cepat menggeleng. Matanya terpejam sejenak sebelum ia mengang
Pagi itu, Hana masih merasa lemas saat membuka mata. Cahaya matahari menyelinap masuk melalui jendela, memberikan sedikit kehangatan di kamar sederhana itu. Tubuhnya masih terasa berat, perutnya sedikit mual, dan kepalanya seperti berdenyut pelan.Ibunya, Bu Lauren, masuk ke kamar sambil membawa semangkuk bubur hangat. "Kamu masih pusing, Hana?" tanyanya lembut, duduk di tepi tempat tidur.Hana mencoba tersenyum kecil, meskipun jelas terlihat lemah. "Cuma masuk angin, Bu. Mungkin karena kecapekan," katanya, berusaha meyakinkan diri sendiri juga.Bu Lauren menghela napas, meletakkan mangkuk bubur di meja kecil di samping tempat tidur. "Kalau masih nggak enak badan, kamu jangan maksa kerja dulu, ya? Istirahat aja di rumah."Hana tahu ibunya benar. Dengan kondisinya yang seperti ini, memaksakan diri pergi bekerja hanya akan memperburuk keadaan. Akhirnya, ia memutuskan untuk izin tidak masuk kerja hari ini.Keesokan harinya, Juna datang menjenguk. Ia mengetuk pintu dengan satu tangan, sem