"Mas, ayo dong nikah!"
Seketika itu Purnomo menyemburkan kopi panas yang baru saja dia sesap saat tiba-tiba saja mendengar seruan yang tak asing lagi baginya. Tatapannya tertuju pada perempuan berseragam serba putih yang kini berdiri di hadapannya dengan wajahnya yang ditekuk. "Masuk rumah itu ngucapin salam, Dek! Bukan malah nyuruh nikah!" tegurnya sambil memutar bola matanya. Merasa jengah tiap kali sang Adik menyuruhnya untuk menikah. "Ayo nikah, Mas! Aku tuh udah dua puluh lima tahun. Pacar aku udah ngajakin nikah terus. Kalau nggak mau, dia bakal putusin aku," jelasnya panjang lebar. "Ya udah sih, putus aja. Lagian kayak laki-laki cuma dia aja. Masih banyak laki-laki baik di dunia ini, Bintang!" "Enak aja! Aku nggak mau putus sama dia, Mas. Aku tuh cinta sama dia." "Cinta itu bulshit!" tegasnya. Perempuan yang rambutnya dicepol itu mengembuskan napasnya dengan kasar. Menatap kakaknya dengan jengah. "Mas tuh mau sampai kapan sih begini terus? Umur udah tiga puluh tahun lho. Tapi nggak nikah-nikah." Purnomo meletakkan cangkir berisi kopi yang belum sempat diteguknya itu kembali ke meja bundar yang ada di sampingnya. "Nikah itu nggak seindah yang kamu bayangkan, Dek!" "Halahhh ... kayak udah pernah ngerasain aja. Pacar aja nggak punya," cibirnya sambil menghempaskan bobot tubuhnya di kursi sebelah meja yang masih kosong. Kemudian tangannya menyomot kacang kulit yang tergeletak di atas meja. Purnomo hanya berdecak mendengar ocehan dari mulut adiknya itu. "Kamu nggak tahu aja. Perempuan itu kan yang dipikirkan romansanya saja," sahutnya. "Lagian menikah itu kan nggak harus pacaran dulu. Mas nanti kalau sudah ketemu yang pas ya mau langsung nikah saja. Pacaran setelah menikah." "Ya udah buruan. Atau ... aku cariin jodoh buat Mas Purnomo deh." Bintang menatap kakaknya dengan serius. Meski mulutnya masih asik mengunyah kacang yang sudah dia buka kulitnya itu. "Hadeehhh ... nggak usah ribetlah, Dek." Purnomo memutar bola matanya. Lalu kembali mengambil cangkir kopinya dan menyesapnya perlahan. "Terus aku gimana, Mas?" rengeknya. "Ya kamu kalau mau nikah, nikah aja. Nggak usah nunggu Mas nikah dulu." "Tapi ... Ibu pasti nggak akan setuju kalau Mas aku langkahi." "Jodoh itu nggak ada yang tahu, Bintang. Kalau misalkan jodoh kamu datang lebih cepat dari Mas ya kamu nikah duluan aja. Nanti biar Mas yang ngomong sama Ibu." "Tapi ... aku nggak yakin." Bintang mengembuskan napasnya sedikit kasar. Lalu menyandarkan punggung lelahnya pada sandaran kursi rotan di teras rumahnya. "Kenapa?" Purnomo menatap adiknya dengan kening berkerut. "Mas tahu sendiri kan bagaimana teguhnya pendirian Ibu? Tradisi tetap tradisi. Aturan tetap aturan yang nggak boleh dilanggar!" tegasnya meng-copy paste omelan ibunya saat ada salah satu anaknya yang melanggar aturan yang ada di keluarga tersebut. "Insyaallah bisa." Purnomo berusaha meyakinkan adik satu-satunya itu. "Aku nggak mau tahu deh, Mas. Pokoknya, sebelum Mas Rio berangkat tugas ke luar pulau, Mas Pur sudah harus nikah. Titik!" Bintang bangkit dari duduknya dan bergegas masuk ke dalam kamarnya dengan langkah sedikit dihentakkan. Lagi. Lelaki berkumis tipis itu hanya bisa mengembuskan napas panjang. Dia menyugar rambutnya dengan kasar. Pertanyaan "Kapan nikah?" atau perintah "Ayo dong nikah!" seolah menjadi bom waktu baginya. Sebenarnya dia sudah jengah mendengar kata-kata itu. Telinganya sudah tebal jika yang berbicara adalah orang lain. Namun, jika yang berbicara adalah adiknya, seolah menjadi beban tersendiri untuknya. Purnomo tak masalah jika dia dilangkahi oleh adiknya. Namun, Ibunya pasti menolak karena aturannya yang tua harus menikah terlebih dulu. Itu aturan baku dan tidak boleh dilanggar. Katanya pamali. Usianya lima bulan lagi menginjak angka tiga puluh satu tahun. Namun sampai saat ini belum memiliki pasangan. Jangankan gebetan, mantan saja dia hanya punya satu. Dan namanya masih melekat di hatinya. Pikirannya kini kembali berkelana pada masa putih abu-abu. Masa paling indah sepanjang sejarah percintaannya. Di saat dia melabuhkan cinta pertamanya pada seorang perempuan yang memiliki senyum seindah rembulan. “Pur, itu adikmu kenapa pulang kerja begitu?” Lamunan Purnomo buyar seketika saat mendengar suara yang tak asing lagi baginya. Siapa lagi jika bukan Ningsih, perempuan yang sudah melahirkannya itu. Laki-laki itu membuang napas secara kasar. Lalu menoleh pada ibunya dan mengangkat kedua bahunya. Dia sebenarnya enggan menjelaskan, tapi tidak sopan rasanya jika ditanya oleh orang tua hanya seperti itu. “Pacarnya ngajak nikah katanya, Buk.” “Itu berarti warning buat kamu biar segera nikah, Pur!” Ningsih langsung mencecarnya. Menyudutkannya untuk segera menikah. “Buk, Bintang yang diajak nikah kok malah jadi warning buat aku?” Purnomo menatap ibunya dengan kening berkerut. Perempuan yang usianya sudah berkepala lima itu lantas duduk di dekat anak sulungnya dan menepuk bahunya. “Kamu tahu kan aturan di rumah ini?” Ningsih bertanya balik. “Buk, hapuskanlah itu. Datangnya jodoh itu nggak ada yang tahu. Mungkin saja jodohnya Bintang datang lebih cepat daripada aku.” “Kamu aja yang males dan nggak mau usaha, Pur,” sahutnya dengan lirikan sinis. Membuat Purnomo sedikit kesusahan menelan salivanya. Ekspresi wajah Ningsih seperti ini yang membuat nyali Purnomo ciut. Itu artinya, sang ibu tengah kecewa ppadanya. Jika sudah seperti ini, Purnomo akan diam tertunduk dan tidak lagi menyahut. Percuma. Karena tidak akan didengarkan. “Ayolah, Pur. Usia kamu itu sudah berkepala tiga. Memangnya kamu nggak pengin kayak teman-teman kamu itu yang udah gandeng istri dan gendong anak?” Ya pengin, Buk. Tapi mungkin ini belum waktunya. Purnomo hanya bisa menjawab dalam hati. “Pokoknya Ibu nggak mau tahu, Ibu kasih kamu waktu selama tiga bulan dan kamu harus sudah punya calon istri. Jadi nanti kalian menikah sebelum Bintang menikah!” Seketika itu Purnomo mengakat wajahnya, melebarkan kedua matanya. Dia menatap ibunya seolah tak percaya. Dikira cari jodoh itu kayak cari kacang godok kali, Buk? Lagian kenapa jadi perintahnya sama kayak Bintang sih? Purnomo menghembuskan napas kasar sambil mengacak-acak rambutnya yang sedikit gondrong saat ibunya kembali masuk ke dalam rumah dan membujuk Bintang yang menangis di kamarnya. “Nasib jadi anak pertama!” keluhnya sambil kembali membuang napas kasar. Jengah. Dia pun akhirnya pergi dan berniat ke rumah temannya. Namun, saat di jalan, dia berpapasan dengan salah satu teman saat masih duduk di Sekolah Dasar yang sudah begitu lama tidak bertemu. “Lho, Purnomo, ya?” tanyanya sambil menatap Purnomo yang menatapnya dengan kening berkerut. “Eko?” balas Purnomo. “Iya. Ya Allah... mau ke mana? Kok sendirian aja? Udah nikah belum?” Lelaki berkumis tipis itu dengan susah payah menelan salivanya saat kembali disudutkan dengan pertanyaan yang sama. Sudah nikah belum? Kapan nikah? Kenapa kok belum nikah? Ingin rasanya Purnomo menghilang dari planet Bumi demi menghindari pertanyaan seperti itu yang membuat kepalanya berdenyut.Adzan subuh berkumandang dengan merdu di mushola sebelah rumah Purnomo.Lelaki berkumis tipis itu sudah bangun sepuluh menit sebelum adzan berkumandang. Sudah siap dengan baju koko dan sarungnya.Setelah adzan usai, dia pun langsung melangkahkan kakinya menuju mushola untuk ikut salat subuh berjamaah. Rutinitas Purnomo setiap pagi. Dia berusaha untuk tidak absen untuk ikut salat berjamaah di mushola.“Segar kali pagi-pagi gini sudah keramas. Macam punya istri saja,” ledek salah satu tetangganya saat melihat rambut Purnomo yang sedikit ikal itu basah klimis.Dia memang menyempatkan mandi sebelum berangkat ke masjid. Namun, tidak selalu keramas.“Ya Allah, gini amat nasib jomlo,” keluhnya sambil menepuk keningnya pelan. Lalu berjalan mendahului tetangganya yang tertawa.Jahat sekali ....Usai salat, Purnomo menyempatkan diri membaca Al-Qur'an beberapa lembar. Kemudian olahraga rutin angkat beban dan push-up selama tiga puluh menit.Setelah keringat hilang, baru dia mandi dan sarapan di
Pasrah. Purnomo akhirnya memutuskan untuk menginap satu malam dulu di basecamp. Menunggu hari esok. Berharap ada pendaki lain yang mau membawa dirinya ikut serta.Dia pun memilih untuk mengambil wudhu untuk salat Isya di mushola kecil yang ada di basecamp. Setelahnya, dia mengecek ponsel yang sempat dia matikan agar tidak diganggu lagi oleh ibu maupun adiknya yang terus menekannya untuk mencari calon istri dalam waktu tiga bulan. Ada beberapa pesan masuk dan riwayat panggilan tak terjawab yang berasal dari adik juga ibunya. Lelaki berkumis tipis itu membalas pesan ibunya yang menanyakan keadaannya setelah pamit mendaki Gunung Sindoro. Tak lama, panggilan telepon masuk sebelum Purnomo sempat mematikan kembali ponselnya. “Assalamu’alaikum,” sapanya sambil menempelkan ponsel di telinga kanannya. Dia duduk menyandar dengan tatapan kosong. [“Wa’alaikumsalam. Dari tadi Ibu sama adekmu telepon kok nggak diangkat, Le? Khawatir karena di sini hujan.”]“Tadi lagi di jalan. Hujan juga. Jadi
“Coba, umur Mas Pur sekarang berapa?” tanyanya menatap lelaki berkulit sawo matang itu lekat-lekat. “Tiga puluh tahun.”“Nah, pas sekali!” serunya sambil menepuk paha Purnomo. Membuat lelaki itu menatap dengan sedikit terkejut. “Pas apanya?” Lelaki itu semakin bingung dengan tingkah pemuda di hadapannya. “Pas sama Mas Pur. Kalau sama aku, tua dia. Rasanya sungkan.”“Usia bukan jadi penghalang saat menjalin hubungan suami istri, Bro. Yang terpenting dewasa dan ngemong. Ya… saling melengkapi gitu. Mengisi kekosongan,” paparnya. “Masalahnya, aku punya cewek, Mas. Aku udah cinta banget sama dia dan dia pun sama. Kita punya mimpi yang sama. Nggak mungkin dong kita pisah demi bisa nurutin keinginan Mama buat menikahi kakak ipar,” katanya menatap lurus. Kemudian membuang napas panjang. Purnomo menatapnya dan ikut membuang napas panjang. Tidak tahu apa yang akan dia katakan. Karena dia pun tengah pusing dengan masalahnya sendiri. “Ini bisa jadi solusi kita bersama, Mas,” katanya membua
Berkali-kali Purnomo mengecek ponselnya. Mengetik pesan, lalu menghapusnya. Entah sudah yang ke berapa kali di menghapus pesan yang akan dikirim pada Awan. Sejak pertemuannya seminggu yang lalu dengan pemuda asal Klaten itu, otaknya tiba-tiba dipenuhi dengan ekspektasi janda yang baru ditinggal suaminya tiga bulan yang lalu yang tak lain adalah kakak ipar Awan yang katanya akan dijodohkan dengan Awan, tapi dia menolak.Entah kenapa, dia jadi sangat penasaran dengan sosok yang sering dipanggil Awan dengan sebutan kakak ipar, bukan nama. Ingin bertanya, tapi ragu. Karena Awan tidak lagi membahas tentang kakak iparnya yang baru saja menjadi janda ditinggal mati itu saat saling berkirim pesan. Hingga suara dering ponsel membuat Purnomo yang tengah mengetik naskah novel itu menoleh cepat dan mengambilnya. Lalu mendesah panjang saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya. “Halo, Dek.” [“Mas, nanti jam tiga tolong jemput aku dong di rumah sakit.”] pinta sang Adik, Bintang. “Insya
“Mas, ngapain di sini? Bukannya nunggu di luar.” Teguran dari Bintang membuat Purnomo menoleh dan mengembuskan napas sedikit kasar. Lalu menariknya menjauh dan menuruni tangga. “Kamu udah selesai?” Purnomo bertanya balik. “Udah. Tapi, Mas ngapain di sini? Aku baru mau turun. Eh, liat Mas Pur di sini.” Sang Adik menatap wajah kakaknya penuh selidik. Apalagi tadi terlihat tersenyum-senyum sendiri dengan wajah yang merona. Seperti orang yang sedang jatuh cinta. “Nggak papa. Udah yuk pulang. Udah ashar!” ajaknya sambil menarik tangan adiknya menuju parkiran motor. “Jangan gandengan, Mas. Nanti dikira aku selingkuh!” protesnya sambil melepaskan genggaman tangan kakaknya. “Ya ampun!” geramnya yang langsung menggandeng lagi tangan sang Adik dan membuatnya kesal. Tapi malah Purnomo tertawa jahil. “Udah ayo naik!” Bintang pun naik di belakang Purnomo sambil berpegangan pada jaket lelaki bertubuh tinggi itu. “Ada yang Mas Pur intai kah di lantai dua tadi? Kayak lagi mengintai seseorang,
“Wulan, ayo sini masuk. Mama kenalin sama temannya Awan. Ketemu di Gunung Sindoro katanya,” ujar ibunya Awan dengan senyuman. “I-iya, Ma,” lirihnya dengan kepala tertunduk. Lalu berjalan perlahan menghampiri mantan ibu mertuanya dan berdiri di sisinya. “Tadi Wulan beli bubur ayam pesanan Mama,” katanya. “Mau dimakan sekarang?” tawarnya. “Kok beli di luar, Ma? Kan dapat jatah makan dari rumah sakit?” tanya Awan menatap heran. “Nggak enak, Wan. Malah bikin Mama enek kalau makan makanan rumah sakit,” sahutnya. “Makan sekarang saja, Nak,” pintanya menoleh pada Wulan yang mengangguk. Sedangkan pandangan Purnomo terpaku pada sosok perempuan yang begitu dia rindukan selama sepuluh tahun tak berjumpa dan tak pernah terjalin komunikasi. Dia begitu menikmati apa yang tersaji di hadapannya. Sikap lembut dan sopan santun yang membuatnya semakin terkesima. Padahal dulu saat masih pacarana dengannya, Wulan adalah sosok perempuan yang keras kepala, tapi manja. Meski begitu, Purnomo tetap
Sejak pertemuan itu, Purnomo pun gencar mendekati Wulan. Apalagi Awan sudah tahu dan memberinya jalan. Karena lelaki itu tidak ingin dinikahkan dengan mantan kakak iparnya. “Mas, pokoknya aku bantu buat dapatin Mbak Wulan. Pepet terus. Perjuangkan jika memang Mas Pur masih cinta sama Mbak Wulan!” ujar Awan saat mereka kembali bertemu. “Tapi aku nggak tahu gimana caranya, Wan. Wulan kayak masih marah sama aku,” sahutnya. Lalu mengembuskan napas sedikit kasar. “Aku yakin, dia sebenarnya nggak marah. Hanya sedang dilema,” katanya sambil menepuk bahu temannya. “Dulu, Mbak Wulan itu kerja jadi asisten Mama. Karena kebaikannya mengabdi, jadilah dinikahkan dengan kakak aku. Mbak Wulan pun nggak bisa bantah karena merasa nggak enak. Pun Mas Langit juga sebenarnya menaruh rasa pada Mbak Wulan,” katanya pelan. “Pasti Wulan bahagia dan beruntung banget dicintai sama kakakmu, ya,” katanya sambil tersenyum perih. Membayangkan perempuan yang dicintainya dicintai lelaki lain dengan begitu bes
Acara reuni diadakan di sebuah restoran yang mengusung tema outdoor. Sebuah restoran yang biasa digunakan untuk pertemuan-pertemuan dan meeting. Reuni atau acara-acara tertentu yang mengusung tema outdoor. Wulan datang diantar oleh Awan, tapi dia terlebih dulu memeriksakan kehamilannya di rumah sakit. Kontrol rutin bulanan. Kali ini, Wulan tidak hanya bersama dengan Awan, tapi juga dengan kekasih Awan, Bella namanya. “Mbak Wulan!” sapa gadis bermata biru yang merupakan keturunan Belanda itu. Namun sudah menjadi mualaf sejak kedua orangtuanya memutuskan tinggal di Indonesia sepuluh tahun yang lalu. “Hai, Bell. Sehat?” Wulan memeluk hangat Bella yang tetap terlihat ceria dan penuh energik itu. “Tentu saja, Mbak. Semangat banget ini mau nemenin Mbak Wulan cek kandungan. Pengin lihat dedek gemes,” kekehnya sambil mengusap perut Wulan yang sudah terlihat membuncit di usia kehamilan lima bulan. “
Malam beranjak naik. Ummi Rahmah diantar pulang ke hotel oleh Wulan dan Purnomo. Sebenarnya, Wulan ingin Ummi Rahmah menginap di rumahnya saja agar bisa ngobrol banyak dan mengakrabkan diri. Namun, Ummi Rahmah menolak. Merasa tak enak hati. "Ummi, nginap saja di rumah," ujar Wulan menatap penuh harap. "Insyallah kapan-kapan saja kalau Ara sudah di rumah. Sebenarnya juga pengin temenin mantu di rumah sakit. Tapi biar saja ada suaminya," kekehnya. "Iya, Mi. Biar mereka makin dekat," sahut Wulan. Purnomo sendiri yang sibuk dengan setirnya hanya tersenyum mendengar obrolan mereka. Hingga tiba di depan lobby hotel, Ummi Rahmah turun dan Wulan juga Purnomo pamit menuju rumahnya. Ara sendiri dijaga oleh Galaxy juga Hafifi. Dia diharuskan menginap satu malam untuk memantau perkembangannya. "Permisi, mau antar makan malam." Seorang pramusaji rumah sakit masuk mendorong troli berisi makanan dan obat untuk Ara. Lalu meletakkan makanannya di meja. "Terima kasih, Bu."
"Assalamualaikum, Ma?" ["Wa'alaikumsalam. Hafifi sudah di situ, Nak? Mama sudah sampai di parkiran. Kamu di ruangan mana?"] "Lantai tiga, Ma. Ruang Bugenvil nomor dua." ["Ya udah. Mama sama ayah ke sana sekarang, ya."] "Iya, Ma. Di sini juga ada ibunya Hafifi," katanya sambil menatap perempuan itu yang mengangguk dengan senyum tipis. ["MaasyaAllah ... ya sudah. Mama sudah masuk lift. Telepon Mama matiin, ya."] "Iya, Ma. Hati-hati." Ara mematikan panggilan teleponnya. Lalu menatap Ummi Rahmah yang juga menatapnya. "Mama saya sebentar lagi sampai, Mi," katanya memberitahu. "Alhamdulillah, nggak sabar ketemu besan," sahutnya dengan antusias. Meski sudah berusia empat puluh delapan tahun, ibunya Hafifi ini memang modis dan masih terlihat awet muda. Bahkan kecantikannya hampir sama dengan ibunya Ara yang usianya lima tahun di bawah Ummi Rahmah. Ibunya Hafifi seorang dosen juga ustadzah yang mengajar di pesantren miliknya sendiri. Jadwalnya padat dan sibuk. Sehingg
"Tidak, Lettu. Tidak apa," jawab Ara sedikit gugup. Namun, dia berhasil menguasai diri. "Terima kasih untuk bantuannya tadi," katanya mengangguk sopan. "Iya. Jangan terima kasih terus. Saya akan selalu usahakan ada buat Serda Ara sebelum orang tua Serda Ara datang," katanya dengan senyum tulus. "Emm ... saya rasa tidak perlu. Karena di sini sudah ada saya. Jadi, biar saya yang akan mengurusi keperluan is ... emmm ... Ara," timpal Hafifi begitu posesif menjaga istrinya. Ara menatap lelaki itu dengan kening berkerut. Merasa heran dengan sikap Hafifi yang menurutnya berlebihan. "Oh, begitu. Ya sudah. Kalau begitu saya pamit, ya, Serda Ara. Kalau butuh apa-apa hubungi saya saja. Saya akan usahakan," katanya lagi sebelum digiring keluar ruang rawat Ara oleh Hafifi. "Ah, ya. Terima kasih banyak." Hafifi yang menimpali. Kemudian menutup pintu dan menutupnya rapat-rapat setelah Lettu Arhan benar-benar pergi. "Kamu nggak seharusnya bersikap seperti itu sama Lettu Arhan. Dia itu ata
Kata-kata yang keluar dari mulut Hafifi masih terus terbayang di benak Ara. Pikirannya terus berputar. 'Bagaimana bisa dia berpikir akan melanjutkan pernikahan ini? Sedangkan aku menolak keras. Aku masih ingin berkarir di dunia militer tanpa terikat pernikahan dulu. Masih banyak hal yang ingin aku lakukan untuk bisa membanggakan almarhum Papa.' Ara berusaha untuk fokus saat latihan bela diri. Namun, bayang-bayang wajah Hafifi terus menghantuinya. Hingga saat lawan menyerang, Ara yang tak siap terjatuh dengan tangan sebagai tumpuan. Gadis itu mengerang menahan rasa sakit di tangan kanannya. "Arggghhh!" Dia memejamkan kedua matanya. Berusaha menahan sakit yang menjalar dari siku hingga jai-jemarinya. "Astaga, Ara! Maaf, ya." Temannya langsung membantu berdiri sambil terus mengucapkan kata maaf karena dia tadi yang menyerangnya. "Bawa ke klinik sekarang!" titah pelatih dengan raut wajah cemas. Namun, tetap berusaha tegas dan tenang. "Tanganku sakit banget." Ara merasa
"Masih proses ta'aruf kan, Mi. Masih bisa dibatalkan kok. Lagian belum sampai pada tahap nadzor. Kita bisa bicarakan ini baik-baik melalui Pakde Hasan. Sebagai perwakilan keluarga kita," terangnya mencoba menenangkan ibunya. "Iya juga sih. Tapi tetap tidak enak hati sama Pak Yai dan Bu Nyai." "Ya, mau bagaimana lagi, Mi? Ara yang sekarang sudah sah menjadi istriku lebih pantas aku perjuangkan daripada Hasna." Ummi Rahmah mengembuskan napas panjang. Pasrah dengan keputusan yang diambil putranya. "Ya sudah kalau memang kamu sudah yakin dengan pilihan kamu, Nak. Kamu sudah tahu mana yang terbaik. Semoga Allah melimpahkan keberkahan pada pernikahan kalian," katanya dengan lembut. Hafifi mengaminkan doa sang ibu dengan seulas senyum. Hatinya lega karena sudah mendapat restu dari sang ibu tercinta. "Mana coba Ummi lihat foto menantu Ummi? Penasaran," pintanya. Hafifi menutup seluruh wajahnya dengan kedua telapak tangannya. "Kenapa?" Ummi Rahmah menatap dengan kening be
"Taipur?" gumam Ara saat dia sudah berada di dalam kamar nyamannya. Dia sudah pulang ke rumah dan mandi agar tubuh lelahnya terasa sedikit segar. Taipur? Tawaran atasannya tadi masih terngiang-ngiang dalam benaknya. Sebenarnya bisa saja, apalagi dia ditawari langsung oleh atasannya. Tinggal kemauannya saja untuk ikut daftar dan mengikuti pendidikan selama tujuh bulan. Tapi bagaimana dengan pernikahannya dengan Hafifi? Ara mengembuskan napas panjang. Lalu memilih merebahkan tubuh lelahnya. Menutup kedua matanya dengan napas teratur. Mencoba terlelap, tapi pikirannya masih melalang buana. Hingga dering ponsel yang menandakan pesan masuk mengusik waktu istirahatnya. Dengan gerak malas, tangan Ara meraih ponsel yang ada di atas nakas. Kedua matanya langsung membelalak membaca pesan masuk dari nomor tak dikenal. Dia langsung mengubah posisinya menjadi duduk dengan punggung tegap. [Istriku, ini nomor suamimu. Tolong disimpan, ya.] [Suamimu, Muhammad Hafifi.] "Ya Allah
"Saya akan bicarakan perihal ini dulu dengan kedua orang tua. Insyallah hari ini saya akan pulang ke Jombang dan segera membicarakannya untuk kejelasan." Laki-laki bercambang tipis itu mengembuskan napas panjang. Lalu melanjutkan. "Jujur, saya juga berat menerima pernikahan ini. Tapi ... saya sebagai lelaki juga tidak akan meninggalkan apa yang sudah menjadi tanggung jawab saya begitu saja. Saya ... akan mengupayakan untuk mempertahankan pernikahan ini dan meresmikannya untuk melindungi hak perempuan," terangnya dengan tenang dan tanpa keraguan sedikit pun. Seolah yakin jika perempuan yang kini sedang menatapnya dengan jengkel itu adalah jodoh yang sudah Allah tetapkan untuknya. Ara mungkin jauh dari kata anggun karena memang karakternya keras dan mandiri akibat tempaan saat pelatihan menjadi prajurit TNI. Namun, Hafifi yakin jika di balik sifat kerasnya itu akan selalu tersimpan sisi perempuan yang mungkin tidak akan ditunjukkan pada orang lain, kecuali keluarganya. "Kenap
Laki-laki bercambang tipis itu terdiam sejenak. Menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya berkata, "saya akan berbicara hal ini dengan kedua orang tua saya dulu, Pak, Bu. Meski saya juga tidak menyangka akan menikah dengan cara seperti ini. Tapi saya memiliki prinsip untuk menikah hanya sekali seumur hidup. Saya pun yakin jika Allah memberikan jalan hidup saya seperti ini pasti ada kebaikan di dalamnya." Wulan menatap suaminya yang mengangguk. Sementara Ara tetap menatap penuh selidik. "Sekarang ceritakan siapa dirimu sebenarnya?" tanya Ara penasaran. "Kalau kamu memang bagian dari para gengster itu, maka aku akan mengantarmu ke jeruji besi karena sudah mengusik ketenangan warga sekitar!" tekannya menatap penuh intimidasi. "Ara, nggak boleh asal nuduh begitu tanpa bukti yang jelas," tegur sang mama. "Mana ada penjahat mau ngaku, Mama," balas Ara sambil memutar bola matanya. Namun, Hafifi sama sekali tak terusik. Senyum tipis terukir di wajah manisnya. "Sebelumnya, saya
["Hallo, Assalamu'alaikum, Mas. Tumben malam-malam telepon?"] Tubuh Ara lemas seketika mendengar suara Awan di seberang telepon. Dia mengusap wajahnya sambil menyandar pasrah. "Maaf, Wan ganggu. Ada hal penting ini. Ara ... Ara mau menikah." ["Apa? Menikah? Kapan? Kok dadakan? Tapi bukannya dia belum boleh menikah, ya karena kan masih belum dua tahun berdinas."] "Itu dia, Wan. Kena musibah," katanya pelan. Lalu mengembuskan napas kasar. ["Musibah? Gimana maksudnya, Mas?"] "Iya, Wan. Jadi ...." Purnomo menceritakan semua kejadiannya secara detail. Mulai dari versi orang-orang yang memergoki Ara dan Hafifi berduaan. Sampai versi Ara dan Hafifi. ["Astaghfirullah ...."] "Keputusan nggak bisa diganggu gugat, Wan. Mereka harus menikah sekarang juga," ujarnya tampak sedikit berat. Terlebih melihat bagaimana reaksi Ara. "Aku minta kamu jadi wali nikah Ara sekarang, Wan. Nikahkan Ara meski lewat sambungan telepon," pintanya. ["Ya Allah ... kok bisa begini? Ara nggak bisa menekan?