Lily keluar menuju ruang tamu rumah Thomas, gemetar sampai meremas sisi bajunya. Lily melihat Arsen masih berbincang dengan Thomas lalu mendekat. Dia melepaskan remasan tangannya ke sisi bajunya saat Arsen menoleh. Lily tersenyum tipis. "Aku keluar karena dedek bayinya sedang .... " Lily tak melanjutkan kalimat karena merasa aneh harus mengatakan kata 'menyusu' ke Arsen. "Sedang apa?" Lily kaget karena Thomas malah bertanya. "Dia sedang nena," jawab Lily menggunakan bahasa yang tiba-tiba muncul di kepalanya. Lily melihat kening Arsen berkerut samar dan buru-buru mendekat. Dia duduk di samping Arsen dan memberikan senyuman manis. Thomas yang melihat tingkah Lily hanya tertawa. Dia seketika diam saat menyadari tatapan Arsen yang dingin padanya. Atasannya itu masih sama, seperti tidak senang jika ada yang memandang Lily lebih dari tiga detik. Thomas takut terkena marah Arsen dan meminta Lily untuk segera meminum teh juga mencicipi kue yang dia sajikan. Lily m
Pagi itu Lily datang ke rumah Risha. Dia ingin mengucapkan terima kasih kepada Adhitama secara langsung, karena sudah membantunya di hari pameran dengan mengirim patwal. Lily membawa makanan kesukaan Adhitama. Dia mencari keberadaan papanya, setelah berbincang sebentar dengan Risha di depan. Lily pergi halaman belakang, dia melihat Adhitama berdiri sambil memberi makan ikan-ikan koi di kolam lalu menyapa. “Pa, putrimu datang tapi papa malah asyik memberi makan ikan.” Lily mendekat sambil cemberut. Dia melihat Adhitama menoleh dan tersenyum. "Aku membawakan makanan kesukaan Papa," ucap Lily. “Sini! Beri makan ikan-ikan ini, bukankah kamu suka memberi makan ikan koi?” Adhitama senang Lily sering berkunjung sekarang. Lily tersenyum dan berjalan cepat, dia mensejajari Adhitama lalu mengambil alih kotak berisi makanan ikan dari tangan pria itu. "Aku sudah besar, Pa! Aku sudah tidak lagi suka ikan koi." Adhitama memulas senyum mendengar jawaban putrinya. "Lalu apa yang
Lily diam memandangi ponselnya setelah Diana menutup panggilan itu. Dia menoleh ke arah dalam, bibirnya cemberut memikirkan jika masuk sekarang Risha pasti akan menggodanya lagi. Lily memilih pergi ke teras samping, dia duduk di kursi dan mencoba mengirim pesan untuk Arsen. [ Apa sudah selesai bermain golf? Apa kamu mau menyusulku ke rumah Papa? ] Lily menunggu beberapa saat. Bukannya pesan balasan dari Arsen yang dia terima, tapi malah pesan dari Diana yang mengirimkan peta lokasi rumahnya. Lily belum berani membuka pesan itu karena belum mengambil keputusan menerima atau menolak undangan wanita itu. Dia masih menunggu balasan dari Arsen, hingga orang yang ditunggu-tunggunya itu akhirnya membalas. [ Aku baru saja pulang dan baru selesai mandi ] Lily tersenyum. Kata 'mandi' membuatnya membayangkan hal yang tidak-tidak. "Sepertinya otakku sudah konslet," gumam Lily. Dia menggeleng untuk menarik kesadarannya. [ Aku akan datang ke sana untuk menjemputmu saja, mau pula
Arsen mengambil kertas dan amplop dari tangan Lily. Dia memandangnya kemudian berkata,"Aku akan mencarikan informasi tentang pengawalmu itu sebisaku." Lily mengangguk dan berkata, “Terima kasih. Aku bisa mengandalkanmu." Lily lantas berdiri dari duduknya, tetapi tiba-tiba tubuhnya limbung dan hampir terjatuh jika Arsen tidak segera berdiri lalu memegangi tangannya. “Kamu kenapa?” tanya Arsen sambil menatap wajah Lily. “Tidak tahu, tiba-tiba saja agak pusing,” jawab Lily sambil memijat keningnya. “Bagaimana kalau ke dokter untuk memastikan kondisimu?” tanya Arsen lalu mengajak Lily duduk lagi. “Tidak, tidak perlu,” tolak Lily. “Bukankah waktu kecil kamu sering keluar masuk rumah sakit? Bagaimana kalau kondisi tubuhmu memang tidak baik?” tanya Arsen untuk meyakinkan Lily agar mau menemui dokter. “Itu beda,” sanggah Lily, “dulu aku keluar masuk rumah sakit karena Kakek Buyut berbohong. Dia menekan dokter yang merawatku agar memberi diagnosa kanker darah padaku. Dia mel
“Apa yang terjadi?!”Lily terbangun dengan jantung berdetak liar. Napasnya memburu saat matanya menyapu ruangan asing yang disinari cahaya matahari. Kepala masih berdenyut hebat akibat alkohol semalam, tetapi yang membuat tubuhnya benar-benar membeku adalah rasa sakit yang menusuk di bawah sana.Dengan tangan gemetar, Lily meraih selimut yang melilit tubuhnya, perlahan-lahan menyingkapnya untuk memastikan sesuatu.Dia tidak mengenakan apa pun.“Tidak mungkin…”Cepat-cepat, Lily menatap sekeliling dan seketika dia pun membeku.Dia mendapati bajunya berserakan di lantai, dan sepasang sepatu pria yang tergeletak rapi di dekat meja kopi adalah bukti bahwa dia tidak sendiri tadi malam!Ketakutan menyergapnya seketika. Lily buru-buru memegangi kepalanya, mencoba mengingat bagaimana semua ini bisa terjadi.Semalam, Lily menyaksikan calon suaminya, Bryan, berbagi ciuman panas dengan wanita lain di apartemen miliknya sendiri. Dan lebih parahnya lagi, wanita itu adalah Sonia, gadis yang dulu pal
Dua hari berlalu. Lily tidak menyentuh ponselnya. Sejak malam itu, dia mengurung diri di kamar, menolak bertemu siapa pun, mengabaikan semua panggilan dan pesan, terutama dari Bryan. Pria itu tak henti-hentinya menghubunginya, tapi Lily tidak peduli. Setiap kali ponselnya bergetar, dia hanya menatapnya dingin sebelum kembali memejamkan mata. Dia butuh waktu. Untuk melupakan pengkhianatan Bryan. Untuk menghapus ingatan tentang malam itu. Untuk menghilangkan perasaan kotor dan malu setiap kali melihat bayangannya sendiri di cermin. Namun, Lily tidak bisa terus bersembunyi. Hari ini, keluarga Bryan mengundang mereka ke pesta ulang tahun pernikahan orang tuanya. Dan Lily tidak punya pilihan selain untuk pergi dengan wajah pucat. "Apa perlu kita pergi ke dokter?" Suara lembut Risha, ibu Lily, memecah keheningan di dalam mobil. Lily menoleh sekilas, lalu menggeleng pelan. “Aku baik-baik saja, Bunda. Tidak perlu cemas.” Dia mengalihkan pandangan ke kaca spion tengah, menatap wa
Semua orang membeku.Monica menatap Lily dengan kaget. "Lily, Sayang, kamu bercanda, ‘kan?" Dia mencoba tetap tenang meski jelas keterkejutan tergambar di wajahnya.“Tidak. Aku serius.” Mata Lily tajam, suaranya tenang, tetapi ada getaran dalam nada bicaranya. “Aku tidak ingin menikah dengan Bryan.”Keheningan menyelimuti ruangan.Tatapan tamu undangan tertuju pada Lily, sebagian besar penuh keterkejutan, sementara sisanya mengandung ketidakpercayaan.Bryan, yang berdiri di sampingnya, menegang. Ekspresinya berubah drastis, panik dan waspada. Seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.Dia tampak ingin mengatakan sesuatu, tetapi sebelum sempat berbicara, Adhitama—sang ayah—sudah lebih dulu menarik tangan Lily dengan erat.“Maaf, Arya. Aku dan keluargaku pamit terlebih dahulu,” ujar Adhitama singkat, suaranya datar tetapi sarat dengan ketegangan.Tanpa menunggu tanggapan, pria itu menyeret putrinya keluar dari aula pesta, melewati tatapan tamu yang berbisik penuh rasa in
Lily menatap pria di hadapannya.Wajahnya tampak familier, seolah dia pernah melihatnya di suatu tempat.Namun, pikirannya masih terlalu kacau untuk mengingat dengan jelas. Jantungnya yang berdetak kencang karena nyaris tertabrak mobil pun belum kembali normal.“Anda baik-baik saja, Nona?” Suara pria yang khawatir itu menyadarkan Lily dari lamunannya.“Oh… ya. Aku baik-baik saja,” jawabnya cepat.Dia berusaha berdiri, tetapi begitu sedikit menggerakkan kakinya, rasa nyeri langsung menjalar dari lututnya. Lily mengerutkan dahi, lalu menurunkan pandangan ke arah kaki.“Lutut Anda berdarah,” ucap sang pria, terdengar semakin prihatin.Sepertinya, tarikan sang pria tidak cukup cepat dan mobil tadi sempat menyerempet kaki Lily.Namun, anehnya, rasa sakit dari luka itu tidak terasa. Mungkin … karena luka di hati Lily lebih besar.Dikhianati tunangannya.Diusir oleh ayahnya sendiri.Dikeluarkan dari perusahaan keluarganya.Dibandingkan itu semua, luka di lututnya sama sekali bukan apa-apa.Li
Arsen mengambil kertas dan amplop dari tangan Lily. Dia memandangnya kemudian berkata,"Aku akan mencarikan informasi tentang pengawalmu itu sebisaku." Lily mengangguk dan berkata, “Terima kasih. Aku bisa mengandalkanmu." Lily lantas berdiri dari duduknya, tetapi tiba-tiba tubuhnya limbung dan hampir terjatuh jika Arsen tidak segera berdiri lalu memegangi tangannya. “Kamu kenapa?” tanya Arsen sambil menatap wajah Lily. “Tidak tahu, tiba-tiba saja agak pusing,” jawab Lily sambil memijat keningnya. “Bagaimana kalau ke dokter untuk memastikan kondisimu?” tanya Arsen lalu mengajak Lily duduk lagi. “Tidak, tidak perlu,” tolak Lily. “Bukankah waktu kecil kamu sering keluar masuk rumah sakit? Bagaimana kalau kondisi tubuhmu memang tidak baik?” tanya Arsen untuk meyakinkan Lily agar mau menemui dokter. “Itu beda,” sanggah Lily, “dulu aku keluar masuk rumah sakit karena Kakek Buyut berbohong. Dia menekan dokter yang merawatku agar memberi diagnosa kanker darah padaku. Dia mel
Lily diam memandangi ponselnya setelah Diana menutup panggilan itu. Dia menoleh ke arah dalam, bibirnya cemberut memikirkan jika masuk sekarang Risha pasti akan menggodanya lagi. Lily memilih pergi ke teras samping, dia duduk di kursi dan mencoba mengirim pesan untuk Arsen. [ Apa sudah selesai bermain golf? Apa kamu mau menyusulku ke rumah Papa? ] Lily menunggu beberapa saat. Bukannya pesan balasan dari Arsen yang dia terima, tapi malah pesan dari Diana yang mengirimkan peta lokasi rumahnya. Lily belum berani membuka pesan itu karena belum mengambil keputusan menerima atau menolak undangan wanita itu. Dia masih menunggu balasan dari Arsen, hingga orang yang ditunggu-tunggunya itu akhirnya membalas. [ Aku baru saja pulang dan baru selesai mandi ] Lily tersenyum. Kata 'mandi' membuatnya membayangkan hal yang tidak-tidak. "Sepertinya otakku sudah konslet," gumam Lily. Dia menggeleng untuk menarik kesadarannya. [ Aku akan datang ke sana untuk menjemputmu saja, mau pula
Pagi itu Lily datang ke rumah Risha. Dia ingin mengucapkan terima kasih kepada Adhitama secara langsung, karena sudah membantunya di hari pameran dengan mengirim patwal. Lily membawa makanan kesukaan Adhitama. Dia mencari keberadaan papanya, setelah berbincang sebentar dengan Risha di depan. Lily pergi halaman belakang, dia melihat Adhitama berdiri sambil memberi makan ikan-ikan koi di kolam lalu menyapa. “Pa, putrimu datang tapi papa malah asyik memberi makan ikan.” Lily mendekat sambil cemberut. Dia melihat Adhitama menoleh dan tersenyum. "Aku membawakan makanan kesukaan Papa," ucap Lily. “Sini! Beri makan ikan-ikan ini, bukankah kamu suka memberi makan ikan koi?” Adhitama senang Lily sering berkunjung sekarang. Lily tersenyum dan berjalan cepat, dia mensejajari Adhitama lalu mengambil alih kotak berisi makanan ikan dari tangan pria itu. "Aku sudah besar, Pa! Aku sudah tidak lagi suka ikan koi." Adhitama memulas senyum mendengar jawaban putrinya. "Lalu apa yang
Lily keluar menuju ruang tamu rumah Thomas, gemetar sampai meremas sisi bajunya. Lily melihat Arsen masih berbincang dengan Thomas lalu mendekat. Dia melepaskan remasan tangannya ke sisi bajunya saat Arsen menoleh. Lily tersenyum tipis. "Aku keluar karena dedek bayinya sedang .... " Lily tak melanjutkan kalimat karena merasa aneh harus mengatakan kata 'menyusu' ke Arsen. "Sedang apa?" Lily kaget karena Thomas malah bertanya. "Dia sedang nena," jawab Lily menggunakan bahasa yang tiba-tiba muncul di kepalanya. Lily melihat kening Arsen berkerut samar dan buru-buru mendekat. Dia duduk di samping Arsen dan memberikan senyuman manis. Thomas yang melihat tingkah Lily hanya tertawa. Dia seketika diam saat menyadari tatapan Arsen yang dingin padanya. Atasannya itu masih sama, seperti tidak senang jika ada yang memandang Lily lebih dari tiga detik. Thomas takut terkena marah Arsen dan meminta Lily untuk segera meminum teh juga mencicipi kue yang dia sajikan. Lily m
Arsen mengajak Lily pergi ke rumah Thomas setelah istrinya itu tenang. Sepanjang perjalanan Lily hanya diam menatap ke depan tanpa mengajak Arsen bicara. Lily masih memikirkan kenapa bisa dia tidak tahu kalau Thomas sudah menikah. Mungkin dia kurang peka. Mungkin dia yang tidak peduli dengan orang lain. Atau, Mungkin Arsen yang terlalu tertutup sampai tidak memberitahunya kalau Thomas sudah menikah, bahkan punya dua orang anak. Lily kesal pada dirinya sendiri. Dia larut dalam pikirannya sampai tanpa sadar memukul jok menggunakan tangannya yang terkepal. Hingga tiba-tiba saja dia merasakan Arsen menyentuh tangannya. Lily menoleh suaminya itu. Arsen menautkan jemari mereka dan menggenggam erat tangannya tanpa bicara. *** Setelah menembus padatnya jalanan. Arsen dan Lily akhirnya tiba di kediaman Thomas. Lily terlihat takjub melihat rumah Thomas yang sangat asri. Halaman rumah dipenuhi bunga dan tumbuhan hijau. Lily juga melihat mobil baru Thomas terparkir di hal
Sonia pergi ke apartemen Bryan dalam kondisi marah. Saat sampai di sana, Sonia membanting dan menghancurkan beberapa barang di dalam apartemen itu. Bahkan Sonia berteriak seperti orang kesetanan. Bryan baru saja datang. Dia terkejut memandang apartemennya yang berantakan, banyak pecahan porselen di lantai yang membuatnya kesal. “Apa-apaan ini? Apa yang kamu lakukan?!” Bryan mengamuk karena kelakuan Sonia. “Aku sedang kesal! Aku kalah dari Lily dan pasti sebentar lagi akan ditendang dari ARS!” Sonia membalas ucapan Bryan dengan nada suara yang sangat tinggi. Bryan bingung harus apa. Dia hanya bisa memandangi barang-barangnya di sana yang hancur karena emosi Sonia. Sonia menatap Bryan, lalu dia segera mendekat dan memegang lengan pria itu. “Bantu aku membujuk Pak Arsen. Lagi pula kamu keponakannya, dia pasti mau mendengarkanmu." Sonia memelas. “Kami tidak sedekat itu,” ucap Bryan yang membuat Sonia melepas lengan Bryan begitu saja. “Seharusnya kamu tidak terbawa emosi
Lily memulas senyum, dia kembali berjalan sambil membalas pesan yang baru saja Arsen kirimkan.[ Pulang lebih awal, untuk apa? ]Lily mengulum bibir, hatinya berbunga-bunga melihat layar ponselnya yang menunjukkan Arsen sedang mengetik pesan balasan.[ Pergi ke suatu tempat bersama suamimu ]"Apa dia sedang mengajakku berkencan?" gumam Lily.Dia merasa senang, hingga untuk sejenak lupa dengan masalah yang baru saja dilewati.***Seperti apa yang Arsen minta, Lily benar-benar pulang lebih awal. Dia buru-buru ke kamar berniat mandi lalu mempercantik diri.Namun, ketika hampir mencapai lantai atas, Lily mendengar pelayan yang sedang membersihkan perabotan di sekitar kamar Arsen berbicara.Lily tidak mendengar perbincangan itu sejak awal, tapi hatinya tiba-tiba mencelos mendengar ucapan pelayan itu."Tuan membelikan banyak hadiah. Ada mainan juga.""Mereka anak Tuan Arsen," balas pelayan satunya.Anak?Arsen?Lily kembali berjalan. Dia sengaja menghentakkan high heel ke lantai agar terden
Semua orang terkejut mendengar pengakuan Lily. “Saya tidak punya pilihan lain selain memakai patwal agar tidak terlambat setelah dicurangi,” ujar Lily lagi. Thomas menoleh pada Arsen yang duduk bersandar dengan kedua jemari tangan saling bertautan. Lalu Thomas menatap ke petugas kebersihan yang menolong Lily. “Apa benar yang dikatakan Lily kalau dia dikunci di kamar mandi?” tanya Thomas untuk memperjelas pernyataan yang Lily sampaikan. “Betul, Pak. Saya memang menemukan Mbak Lily terkunci di kamar mandi, saya tidak bisa membukanya sendiri, jadi pergi meminta tolong ke petugas perbaikan,” jawab petugas kebersihan. Arsen masih diam, tatapan matanya begitu tajam menelisik setiap ekspresi wajah semua orang yang ada di ruangan itu. “Cek rekaman Cctv di sepanjang koridor menuju toilet dan lihat siapa yang ada di sana sebelum Lily ditemukan terkunci di kamar mandi,” perintah Thomas. Petugas keamanan langsung melakukan perintah Thomas. Semua orang menunggu, Lily melirik pada S
Kepala HRD juga tim tampak kaget melihat Lily dan Sonia bertengkar. Salah satu staf meminta mereka untuk berhenti dan bersikap sopan. "Maaf tapi aku sudah tidak bisa diam karena banyak sekali kejahatan yang sudah dia lakukan," kata Lily. "Hari ini aku akan membongkar semuanya dan aku pastikan dia akan mendapatkan balasan setimpal," imbuh Lily lantas memulas seringai dengan tatapan mencibir ke Sonia. Saat Lily baru saja selesai bicara, tiba-tiba saja Thomas datang dan membuat semua orang yang ada di sana terkejut. "Pak Arsen ingin kalian semua datang ke ruang rapat di lantai lima." Sonia syok mendengar ucapan Thomas, apalagi dia melihat Lily bersikap santai dan masih menatapnya dengan senyum penuh cibiran. Orang-orang bergegas keluar dari sana setelah Thomas pergi, hingga hanya menyisakan Lily dan Sonia. Lily berdiri, dia menghadang langkah Sonia yang hendak pergi dengan ucapannya. "Kamu tahu Sonia? Aku belajar banyak hal darimu, bahwa menjadi putri konglomerat itu mer