James yang sedang marah, berbalik menatap Nayla dan berkata, "Bu Nayla, ayo kita pergi.""Pak, Anda jalan saja dulu, aku akan menyusul nanti." Nayla memberi isyarat kepada pengawalnya untuk mengawal James pergi lebih dulu.Namun, begitu dia berbalik, dia langsung menarik tangan Milla dan bertanya dengan nada cemas, "Apa yang terjadi sebenarnya? Tadi kamu bilang, seharusnya kamu masih istirahat di rumah sakit? Kamu terluka ya? Apa lagi yang kamu sembunyikan dariku?""Ibu ...." Milla buru-buru tersenyum untuk mencoba menenangkan ibunya. "Lihat aku, sehat dan segar bugar, 'kan? Aku baik-baik saja.""Jangan coba-coba mengelak. Jelaskan semuanya!" Nayla menarik Milla ke dalam mobil.Di sepanjang perjalanan, Milla menceritakan semua yang terjadi pada tim medis di daerah pegunungan. Dia sengaja tidak menceritakan betapa berbahayanya kejadian yang mereka alami saat tanah longsor, tetapi Nayla tetap waspada dan berulang kali mendesak Milla.Setelah mendengar cerita lengkapnya, kecemasan di mata
"Nak, sebaiknya kamu tenang dulu. Setelah Jay nggak marah lagi beberapa hari nanti, masalah ini akan berlalu."Vior juga ikut menenangkan Sunny. "Tahan dulu emosimu. Nanti kamu bisa kembali jadi nona kaya. Aku dan ayahmu lagi cari jalan untuk keluarga kita. Setelah dapat pendukung baru nantinya, kita nggak perlu tunduk lagi sama Milla dan ibunya!""Benaran?" Mendengar hal itu, mata Sunny sontak berbinar."Tentu saja. Kalau ayahmu yang turun tangan, mana mungkin bisa salah?" ucap Vior dengan percaya diri.Suasana di ruangan pun menjadi lebih rileks.Namun, tiba-tiba, berita tentang Grup Jauhari muncul di televisi yang ada di kamar rumah sakit. Tak disangka, situasi yang awalnya penuh dengan tuduhan terhadap Grup Jauhari, akhirnya berbalik berkat kehadiran Milla!Donny dan Vior saling bertukar pandang sebelum bergegas keluar untuk berdiskusi lebih lanjut.Saat ini, mereka sudah kehilangan tempat di Grup Jauhari, dan usaha mereka untuk menjilat Keluarga Bakhtiar juga gagal. Mereka tidak m
"Dasar preman, selalu saja buat masalah."Detektif pribadi itu memberikan ringkasan singkat. "Tapi kalau tujuan mereka cuma untuk merampok atau melakukan pelecehan, sepertinya nggak mungkin. Lelang ini bukan tempat yang tepat untuk bertindak.""Aku juga berpikir begitu."Milla mengangguk setuju. "Aku belum tahu siapa dalang di balik mereka, jadi untuk sementara jangan buat mereka curiga. Yang penting, kalian tetap mengawasi mereka diam-diam.""Tapi Bu Milla, mereka duduk tepat di sebelahmu. Kita nggak bisa mengabaikan kemungkinan terburuk," pungkas detektif itu dengan waspada."Itu nggak akan terjadi."Milla sangat yakin. "Orang yang mengutus mereka pasti ingin melihatku dalam kondisi paling memalukan, jadi mereka nggak akan bertindak gegabah di dalam ruang lelang. Tunggu sampai aku melepas topiku sebagai kode. Begitu itu terjadi, kalian bertindak sesuai situasi.""Baik."Detektif pribadi mengangguk, lalu segera berbalik dan menghilang di antara kerumunan tamu yang mencari tempat duduk
Pria di sebelahnya sengaja mengangkat nomor lelangnya di depan wajah Milla, tetapi menjauhkan nomor itu dari wajahnya sendiri. Milla semakin yakin bahwa dugaannya benar.Untungnya, dia sudah bersiap lebih awal.Setelah itu, peserta lain juga mulai mengajukan tawaran. Namun, setiap kali Milla mengangkat nomornya, pria di sampingnya selalu mengikuti. Milla diam-diam menahan napas dan memperhatikan bahwa pria itu tampaknya mengawasi setiap gerakannya dengan cermat.Milla memanfaatkan situasi ini dengan berpura-pura merasa pusing. Dia mengusap pelipisnya, lalu bangkit dan berjalan menuju pintu keluar.Pria di sampingnya tampak tidak menyangka bahwa Milla akan tiba-tiba keluar. Setelah ragu beberapa saat, dia langsung berlari menyusulnya. Milla mempercepat langkah dan berpura-pura hampir kehilangan keseimbangan beberapa kali.Namun, tepat saat dia mencapai barisan kursi paling belakang, tiba-tiba, sebuah lengan terentang dari sisi kiri dan menghalangi jalannya. Milla terpeleset dan langsung
Di dalam mobil van.Begitu Milla dilempar ke dalam van, orang-orang di dalam mobil segera bertindak dan melindunginya. Dalam sekejap, dua pria yang mengejarnya langsung berada di bawah kendali penuh. Mereka menekan kedua pria itu dengan kekuatan sepuluh kali lipat dari bagaimana mereka menekan Milla sebelumnya."Bu Milla, semua orang yang berjaga di luar juga sudah kami tangkap. Ini dia pemimpin mereka. Anda bisa tanya langsung sama dia," ujar detektif pribadi.Salah satu pria yang membuntuti Milla tadi bahkan tidak tahu apa yang terjadi. Tiba-tiba saja, dia sudah diikat erat."Siapa yang nyuruh kalian menculikku?" Milla melepas topinya dan merapikan roknya yang berantakan."Kami nggak tahu. Nona, tolong lepaskan kami. Kami cuma menjalankan perintah setelah dibayar." Kedua preman itu mulai memohon ampun."Aku akan ampuni kalian kalau kalian bilang siapa yang suruh kalian melakukan ini. Kalau nggak, jangan harap aku akan melepaskan kalian," ancam Milla dengan kejam."Kami benaran nggak
"Baik." Detektif itu langsung menyetujuinya dan bertanya lagi, "Kalau begitu, apa Anda masih mau ke rumah sakit?""Mau." Milla berpikir sejenak, lalu berkata, "Kalau Sunny ingin sekali bertemu denganku, aku akan temui dia supaya dia menyerah.""Baiklah. Kami akan berjaga di luar pintu dan nggak akan membiarkan Anda dalam bahaya," jamin detektif tersebut.....Rumah Sakit Kasih, Kamar No. 903.Milla mendorong pintu dan masuk ke kamar. Dia melihat Sunny yang terbaring di tempat tidur dengan kaki dan tangan yang terbalut gips. Kondisinya tampak sangat menyedihkan. Wajahnya polos tanpa riasan, kulitnya tampak kusam dan tidak terawat.Bagi seseorang yang selalu tampil dengan riasan tebal, wajah aslinya tanpa makeup memang sedikit mengejutkan."Milla?!"Melihat Milla masuk, Sunny bergumam sambil menggertakkan giginya, "Dasar si Mark ini!"Kenapa dia malah mengantarkan Milla ke sini tanpa pemberitahuan lebih dulu? Sunny bahkan belum berdandan dan bersiap-siap sama sekali. Selain itu, sekujur
Milla duduk di dalam mobil detektif pribadi di lantai bawah dengan tenang. Matanya yang bundar memancarkan kilatan dingin dan tajam.Sunny memang kurang pintar. Setiap kali berurusan dengannya, Milla bahkan tidak perlu turun tangan sendiri."Bu Milla." Suara detektif pribadi itu memotong pikirannya. "Orang yang tadi Anda sebut ... masih mengikuti di belakang."Milla mengangkat matanya dan merasa agak terkejut saat melihat ke kaca spion.Benar saja, mobil Maybach hitam milik Chris berhenti di belakang mereka. Dia tertawa kecil dengan pasrah, lalu berkata, "Baiklah, nggak ada lagi yang perlu dikhawatirkan. Terima kasih atas bantuan kalian hari ini, aku pergi dulu.""Anda adalah sahabat terbaik nona kami, nggak usah sungkan," ujar detektif dengan sopan.Milla berjalan menuju Maybach yang menunggu di belakang. Sang sopir segera membukakan pintu untuknya.Saat masuk, dia melirik Chris sekilas, lalu membuka kulkas mini di dalam mobil dengan santai dan mengambil sebotol air. Setelah menenggak
"Apa maksud Pak Chris?" Milla tetap membelakanginya dan merasa marah karena dihardik seperti itu."Kamu bahkan nggak mengerti maksudku? Apa menurutmu, kamu sudah menjalankan tugas sebagai istri?" Suara Chris semakin rendah dan membawa nada peringatan yang kuat.Milla menarik napas dalam-dalam, berusaha menahan emosinya dan membalas, "Kamu menuntut aku menjalankan kewajiban sebagai istri, tapi kenapa kamu nggak bertanya dulu, apa ada yang menjalankan tugas sebagai suami?"Milla benar-benar merasa kesal. Setelah berkata demikian, dia langsung membalikkan badan dan pergi dengan langkah cepat.Namun, baru berjalan beberapa langkah, dia melihat seorang pelayan membawa Luis duduk di ruang kerja."Pak Luis? Kenapa kamu datang?" tanya Milla dengan curiga."Aku datang untuk mengobati Pak Chris." Luis mengelus janggut putihnya sambil menjawab.Saat itu juga, pintu kamar mandi terbuka dan Chris keluar dengan bertumpu pada tongkat. Seorang pelayan buru-buru maju untuk membantunya duduk agar Luis b
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya Laura mengangkat telepon. "Ada apa, Kak Kenrick?""Laura, kamu pernah bilang nggak akan salah jalan. Tapi, sekarang kamu hampir menghancurkan Jauhari Parfum. Mereka cuma menghapus cuplikanmu, tapi apa perlu sampai memojokkan Grup Jauhari sedemikian rupa?" tanya Kenrick."Kalau Jauhari Parfum bisa hancur hanya karena hal kecil seperti ini, bukankah itu membuktikan kalau mereka memang lemah?" Laura menimpali dengan santai. Dia baru saja menyelesaikan siaran langsung. Beberapa produk kecantikan yang dia promosikan laris manis, membuatnya semakin puas."Mereka sudah tahu kalau ini ulahku." Kenrick menghela napas, tak menyembunyikan apa pun dari Laura."Apa?" Nada suara Laura langsung berubah penuh emosi. "Kamu bilang kalau ini ulahku?"Kenrick mengerutkan kening, suaranya rendah. "Nggak.""Oh, bukan begitu maksudku .... Maksudku, kamu baik-baik saja?" Laura segera mencari alasan untuk memperbaiki suasana.Kenrick awalnya ingin mengatakan bahwa keluarga
Kenrick kembali ke kantornya. Yang mengejutkannya, perusahaan tidak lagi mengirim orang untuk mengawasinya ....Dia masih teringat suasana di rapat dewan direksi tadi. Semua pemegang saham menargetkan keluarganya karena perbuatannya. Dia juga teringat wajah ayahnya yang marah besar. Hatinya terasa berat.Dia membuka internet dan mencari perkembangan terbaru tentang skandal parfum Grup Jauhari. Situasinya ternyata jauh lebih buruk dari yang dia bayangkan. Meskipun demikian, Milla masih menjaga harga dirinya.Di tengah kebingungannya, Kenrick melihat ponselnya dan ragu-ragu apakah harus menelepon Laura atau tidak. Namun, sebelum sempat mengambil keputusan, Milla sudah mengetuk pintu ruangannya.Dia panik dan buru-buru meletakkan ponselnya. Milla masuk dengan ekspresi tenang dan berucap, "Aku ingin kamu mendengar sebuah rekaman. Kamu masih ingat beberapa hari yang lalu, saat aku difitnah memiliki kehidupan pribadi yang kacau di Cube Mansion?"Kenrick mengangguk. Kasus itu sempat menjadi s
Dua puluh menit kemudian, rapat dewan direksi darurat pun dimulai.Kenrick bisa dibilang adalah orang yang berani bertanggung jawab atas perbuatannya. Dia langsung mengakui semua yang telah dia lakukan, bahkan menjelaskan secara detail bagaimana informasi itu bocor.Seperti yang diduga, para pemegang saham lain langsung mengarahkan kemarahan mereka kepada ayah Kenrick."Ini keterlaluan! Kenapa kamu melakukan ini? Kamu sudah mencelakai kita semua!""Kami tahu dulu kamu adalah bawahan Donny, tapi lihat bagaimana keadaan Donny sekarang! Kamu masih memilih berdiri di pihaknya?"Para pemegang saham mengkritiknya dengan suara lantang. Wajah Kenny memerah karena marah, tubuhnya sedikit gemetar. Dia berdiri dan menunjuk Kenrick sambil menghardik."Anak durhaka! Apa kamu diancam seseorang? Kenapa kamu melakukan hal bodoh seperti ini? Apa kamu dijadikan kambing hitam oleh seseorang? Katakan sesuatu!"Milla yang merasa tersindir oleh ucapan itu, hanya tersenyum dingin dan tenang. "Pak Kenny, aku
Salah satu karyawan wanita mengambil ponselnya dengan gugup, membuka media sosial, dan menyerahkannya kepada Milla. Gerak-geriknya hati-hati, seolah-olah sedang mengakui kesalahan."Bu Milla, aku menambahkan WhatsApp-nya waktu menangani iklan dengan Laura hari itu ...."Semua orang tahu bahwa saat terakhir kali syuting iklan, Milla dan Laura sempat berselisih. Mereka khawatir akan menyinggung Milla karena hal ini.Namun, Milla tidak peduli. Matanya hanya terpaku pada layar ponsel. Di sana, Laura mengunggah postingan terbaru.[ Malam panjang lagi, hanya bisa diselamatkan oleh masker wajah .... ]Di kolom komentar, Kenrick menunjukkan kepeduliannya.[ Kalau bisa tidur, tidurlah sebentar. Jaga kesehatanmu. ]Kalimat itu ... sepertinya hubungan mereka cukup dekat.Milla mengedipkan matanya. Tiba-tiba, dia teringat sesuatu. Sebelumnya ketika naik mobil Kenrick, ponsel Kenrick berbunyi. Nama yang muncul di layar adalah Laura. Ternyata Laura yang sama?"Terima kasih." Milla mematikan ponsel i
Milla mendongak dengan terkejut. Yang dilihatnya adalah leher panjang dan dagu Chris. Pria itu merangkulnya ke dalam mantel, seolah-olah dia adalah zirah pelindungnya.Di belakang, bawahan dan pengawal Chris segera menahan beberapa orang yang membuat onar itu. Salah satu dari mereka maju untuk bertanya, "Pak, apa yang harus kami lakukan terhadap orang-orang ini?""Bawa mereka kembali, cari tahu dalang di balik ini!" Chris memberi perintah tanpa menoleh."Baik!"Suasana di belakang langsung menjadi tenang. Milla keluar dari pelukannya, melihat punggungnya yang basah kuyup. Ujung mantel Chris masih terus meneteskan air."Kamu baik-baik saja?" Ada banyak hal yang ingin Milla tanyakan, tetapi akhirnya hanya itu yang keluar."Apa yang perlu dikhawatirkan? Aku cuma perlu mengganti pakaian," jawab Chris dengan tenang. "Kamu naik saja, aku akan mengantarmu ke lift.""Baik." Milla mengangguk tanpa banyak bicara.Chris mengantarnya ke lift. Begitu sampai di kantor, asisten sudah menunggu di depa
"Dulu, aku pernah dengar dari ayahku kalau ayah Milla berhasil membesarkan Jauhari Parfum dengan usahanya sendiri dalam waktu singkat. Padahal, saat itu industri parfum sedang mengalami masa sulit! Di kalangan profesional, beredar kabar kalau dia punya penciuman yang luar biasa dan ahli dalam meracik aroma.""Jangan-jangan Milla juga mewarisi bakat itu?" tanya Levis sambil mengingat kembali semua yang terjadi."Tapi, kamu sendiri yang mengatakan itu cuma rumor," ujar asistennya dengan hati-hati, tidak yakin dengan arah pemikiran Levis.Levis mengusap kumisnya dengan santai. "Mana ada rumor yang muncul tanpa alasan? Kirim lebih banyak orang untuk menyelidiki masalah ini dengan baik!""Baik!" Asisten itu segera mengiakan.....Milla belum tiba di kantor Grup Jauhari, tetapi di internet sudah muncul lagi seorang ahli yang memberi pernyataan.Kali ini, mereka mengatakan bahwa dokumen verifikasi yang dirilis Grup Jauhari hanya berasal dari perusahaan, tanpa sertifikasi dari pusat sertifikas
"Kok bisa?" Milla mengerutkan alisnya."Kami juga nggak tahu apa yang terjadi. Yang bersuara bukan hanya satu orang, masalah ini sudah cukup besar. Sekarang tim humas kita sedang bekerja sama dengan tim humas pihak ketiga untuk mencari solusi," kata asisten.Saat mereka berbicara, telepon Joy juga masuk.Milla berpikir sejenak, lalu memberi instruksi kepada asistennya, "Segera hubungi tim kendali mutu dan periksa ulang parfum yang kita distribusikan untuk uji coba. Pastikan apakah benar ada masalah atau nggak.""Tapi, kita sudah melakukan verifikasi berulang kali. Bahkan pusat sertifikasi juga nggak menemukan masalah, 'kan?" tanya asisten itu dengan bingung."Apa pun hasil sebelumnya, sekarang sudah ada laporan masalah, kita tetap punya tanggung jawab untuk memeriksa ulang. Kalau memang kesalahan ada pada kita, kita harus memberi kompensasi dan permintaan maaf yang seharusnya."Setelah mengatakan itu, Milla mengakhiri panggilan dan menerima panggilan dari Joy."Milla, jangan-jangan ada
Suara Graham yang kaku terdengar dari telepon."Ya, kamu punya nomorku, sementara aku nggak punya nomormu. Aku sempat berpikir kamu sudah lupa dan nggak butuh aku membayar utangku lagi," sahut Milla sambil tersenyum."Aku ini orang yang perhitungan! Mana mungkin aku melupakan orang yang berutang padaku!" Graham berbicara dengan serius, "Bereskan barang-barangmu, aku akan kirim alamat studioku.""Sekarang?" Milla sedikit terkejut."Kenapa kalau sekarang?" Graham terdengar tidak puas. "Orang-orang di Kota Huari terlalu ramah. Mereka baru saja mengantarku pulang, tapi besok aku harus pergi lagi. Kamu nggak ingin menepati janji atau bagaimana?""Ya sudah, kirim alamatnya. Aku segera ke sana," balas Milla dengan tegas.Setelah mengakhiri panggilan, Milla menggoyangkan ponselnya di depan Chris dan berkata dengan nada agak menyesal, "Aku harus keluar sebentar. Lokasinya agak jauh, mungkin aku akan pulang sangat larut. Jangan tunggu aku."Usai berbicara, dia mulai bersiap-siap. Namun, saat aka
Sopir tidak berani bicara lagi dan langsung membelokkan mobilnya. Mereka kembali ke arah Milla, lalu perlahan berhenti di sampingnya.Sebelum mobil benar-benar berhenti, Chris sudah membuka pintu dan turun. Dia melangkah cepat ke arah Milla. "Kamu kenapa?"Milla masih merasa pusing. Mungkin karena belum makan, kadar gula darahnya turun. Dia tidak punya tenaga untuk menjawab, hanya mengangkat tangannya, memberi isyarat bahwa dia baik-baik saja.Chris mengerutkan alisnya. Tanpa banyak bicara, dia membungkuk dan langsung menggendongnya masuk ke mobil. "Bukannya tadi kamu melarangku naik mobilmu?"Milla menatap pria di sampingnya dengan alis terangkat."Kondisimu sudah seperti ini, tapi masih keras kepala?" Chris menegur dengan nada kesal.Milla cemberut. Entah siapa yang mulai duluan?"Ke rumah sakit!" perintah Chris."Nggak mau." Suara Milla tidak besar, tetapi nadanya sangat tegas. Melihat pria di sebelah hampir marah, dia menambahkan, "Rumah sudah dekat. Aku nggak mau ke rumah sakit. A