"Apa maksud Pak Chris?" Milla tetap membelakanginya dan merasa marah karena dihardik seperti itu."Kamu bahkan nggak mengerti maksudku? Apa menurutmu, kamu sudah menjalankan tugas sebagai istri?" Suara Chris semakin rendah dan membawa nada peringatan yang kuat.Milla menarik napas dalam-dalam, berusaha menahan emosinya dan membalas, "Kamu menuntut aku menjalankan kewajiban sebagai istri, tapi kenapa kamu nggak bertanya dulu, apa ada yang menjalankan tugas sebagai suami?"Milla benar-benar merasa kesal. Setelah berkata demikian, dia langsung membalikkan badan dan pergi dengan langkah cepat.Namun, baru berjalan beberapa langkah, dia melihat seorang pelayan membawa Luis duduk di ruang kerja."Pak Luis? Kenapa kamu datang?" tanya Milla dengan curiga."Aku datang untuk mengobati Pak Chris." Luis mengelus janggut putihnya sambil menjawab.Saat itu juga, pintu kamar mandi terbuka dan Chris keluar dengan bertumpu pada tongkat. Seorang pelayan buru-buru maju untuk membantunya duduk agar Luis b
"Baik, kamu layani mereka dulu, aku segera ke sana." Selesai bicara, Milla buru-buru meletakkan kotak, lalu mengenakan jas dan mengambil tas untuk pergi.Tim investigasi datang untuk menyelidiki dugaan plagiarisme proposal. Mereka bekerja secara profesional, menginterogasi satu per satu anggota tim proyek. Termasuk Milla, hampir semua karyawan yang terlibat dalam diskusi proposal dapat menjawab detailnya dengan lancar.Saat istirahat siang, Milla bertanya dengan sopan, "Apakah para ahli sudah memiliki kesimpulan terkait kasus ini?"Anggota tim investigasi menggeleng, lalu berkata kepada Milla, "Terus terang, kami datang ke sini setelah selesai menyelidiki Grup Bakhtiar. Sebelum datang, ketua dan beberapa juri yang hadir saat itu sudah menjelaskan secara garis besar. Kami sudah punya dugaan, tapi nggak nyangka akan sesulit ini mengumpulkan bukti."Milla mengerti maksudnya. Keluarga Bakhtiar mengatur segalanya dengan sangat rapi kali ini, membuat tim investigasi kesulitan."Bu Milla, ada
Milla tidak berpikir terlalu jauh. Setelah makan siang hingga kenyang, dia kembali bekerja sebagai karyawan yang berdedikasi.Sore harinya, tim investigasi menyelesaikan sesi interogasi mereka. Mereka merapikan barang dan bersiap untuk pergi.Sebelum pergi, mereka tidak lupa menyatakan sikap mereka, "Bu Milla, Grup Jauhari nggak dapat menunjukkan bukti apa pun untuk membuktikan kalian nggak bersalah.""Sekarang, kesaksian Grup Bakhtiar dan opini publik di internet mengarah ke kalian! Kami punya alasan kuat untuk percaya Grup Jauhari sulit melepaskan diri dari tuduhan plagiarisme proposal!""Tolong beri kami satu kesempatan lagi! Produk baru kami sudah siap. Kalau dihentikan saat ini, dampaknya terhadap Grup Jauhari akan sangat besar ...." Milla dan beberapa kepala divisi parfum mengejar tim investigasi, berusaha untuk memperjuangkan kesempatan."Nggak ada gunanya membahas ini sekarang, kecuali kalian bisa memberikan bukti!" Anggota tim investigasi tampak meremehkan. Mereka berjalan tan
Cahaya yang tiba-tiba menyala membuat orang yang berniat jahat itu refleks mundur. Dia ingin melarikan diri, tetapi langsung ditahan oleh beberapa satpam yang sudah lama bersiaga di pintu."Bu ... Bu Milla ... bukannya kamu sudah pulang?"Orang itu ditekan di meja hingga wajahnya menempel di permukaan meja yang dingin. Dia menatap Milla dengan tatapan tidak percaya.Milla menatapnya dengan tatapan tajam saat menyahut, "Bukan cuma aku yang belum pulang, tim investigasi juga belum pergi. Semua yang barusan kamu katakan, kami sudah dengar."Begitu dia selesai bicara, beberapa anggota tim investigasi dan pemimpin divisi parfum juga masuk. Mereka semua menatap pria itu dengan tajam."Aku nggak nyangka, ternyata kamu pengkhianat itu, Reza." Milla menghela napas. "Saat tim medis pergi ke daerah terpencil, ada banyak kejanggalan setelah kejadian itu. Aku sudah lama mencurigai ada mata-mata Grup Bakhtiar dalam tim, tapi aku nggak nyangka orang itu adalah kamu.""Bukan ... bukan aku!" Reza panik
Milla mengedipkan mata bulatnya dan menyahut, "Kamu yang paling tinggi dan paling kuat, jadi paling tahan dipukul.""Hah?" Tommy menggaruk kepalanya dengan ekspresi canggung.Seketika, semua orang tertawa. Milla juga tertawa. "Bercanda! Aku memilihmu karena kamu sangat berani dan setia. Kamu melakukannya dengan sangat baik!""Aku jamin, parfum baru kita akan menjadi bintang yang menyelamatkan seluruh divisi. Saat itu tiba, gajimu bisa naik lima kali lipat."Seketika, sorakan penuh semangat bergema di ruangan.....Setelah menyelesaikan kasus pengkhianatan yang berturut-turut, Milla merasa sangat lega. Namun, yang lebih melegakan adalah ketika dia pulang ke rumah, dia tidak melihat Chris.Malam itu, dia tidur dengan sangat nyenyak.....Keesokan siang, Milla mengajak Joy makan siang. Melihat meja yang penuh dengan hidangan lezat, Joy berseru kaget, "Ada apa denganmu hari ini? Kok mendadak jadi royal begini?""Belakangan ini aku sering merepotkanmu, jadi traktiran ini sebagai ucapan teri
Milla mengatupkan bibirnya, menatap Chris yang duduk tenang di tengah. Alis Chris yang tebal tampak berkerut, matanya tak sedikit pun terangkat ....Ditekan begitu ketat, terus-menerus disudutkan, apakah ini masih disebut presentasi kerja sama? Ini sudah masuk ke ranah serangan pribadi, bukan?"Bu Milla nggak bisa menjawab?" Manajer Yoan melihat wajah Chris semakin muram. Saat mengira dugaannya benar, yaitu bos besar tidak menyukai proposal Milla, dia pun semakin berani menekan. "Kalau begitu, karena kalian bahkan nggak mempertimbangkan hal dasar ini, kerja sama hari ini ....""Cukup!" Chris tiba-tiba bersuara, membanting proposal di tangannya ke meja dengan suara nyaring. "Sampai di sini saja untuk hari ini!"Wilson yang berdiri di belakangnya langsung merasa tegang, takut kalau ada orang bodoh di sekitar yang menanyakan sesuatu yang lebih berbahaya."Bu Milla, silakan kembali dan tunggu pemberitahuan." Di hadapan orang lain, Wilson tidak berani menunjukkan sikap yang terlalu ramah.M
Milla kembali lebih awal ke Grand Amary. Setelah berganti pakaian, dia langsung menuju dapur.Kemudian, dia menarik kepala pelayan dan bertanya, "Kak Yuli, Om Chris suka makan apa?""Tuan Chris sepertinya nggak punya makanan favorit. Aku sudah memperhatikan dengan saksama. Nggak peduli hidangan apa yang kubuat, beliau selalu mencicipi beberapa suap tanpa mengatakan suka ataupun pilih-pilih."'Apa pria ini menganggap dirinya kaisar? Takut orang lain mengetahui seleranya dan meracuninya?' Milla mengkritik dalam hati, lalu bertanya lagi, "Jadi ... nggak ada petunjuk sedikit pun?""Kalau harus dibilang, Tuan Chris suka minum sup. Ramuan obat yang dibuat sesuai instruksi Dokter Luis selalu diminum 2 mangkuk." Yuli menganalisis."Oke, hari ini serahkan saja dapur kepadaku. Kalian bisa mengurus hal lain." Milla mengosongkan dapur. Dengan percaya diri, dia mengambil tablet dan mencari berbagai resep makanan dan mulai belajar dengan penuh semangat.Namun, memasak ternyata lebih sulit dari yang
Makan? Dia sudah kenyang karena marah!Chris memutar kursi rodanya dan pergi, malas menanggapi pertanyaan Milla.Milla berdiri dan mengejarnya, bertanya tanpa tahu apa-apa, "Lalu ... gimana dengan kontrak Yoan?"Chris menoleh, tatapan dinginnya mengarah pada wanita di belakangnya. "Mulai sekarang, nggak perlu repot-repot masak sendiri. Keluarga Mahendra nggak sanggup mempekerjakanmu."Milla berdiri terpaku, mengingat kembali tatapan dalam dan nada dingin Chris barusan. Dia baru menyadari bahwa pemahamannya tentang pria itu masih terlalu dangkal ....Chris masuk ke lift dan menuju ruang kerja. Amarahnya mulai mereda. Dia mengambil ponsel dan menelepon Wilson. "Kenapa kontrak ambasador Yoan belum disetujui? Apa yang membuat manajernya nggak puas?""Sebetulnya nggak ada masalah besar," sahut Wilson dengan hati-hati."Lalu, kenapa belum disetujui?" Mengingat bagaimana Milla diserang oleh sekelompok orang di ruang rapat siang tadi, entah kenapa Chris merasa tidak tega."Mungkin mereka hanya
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya Laura mengangkat telepon. "Ada apa, Kak Kenrick?""Laura, kamu pernah bilang nggak akan salah jalan. Tapi, sekarang kamu hampir menghancurkan Jauhari Parfum. Mereka cuma menghapus cuplikanmu, tapi apa perlu sampai memojokkan Grup Jauhari sedemikian rupa?" tanya Kenrick."Kalau Jauhari Parfum bisa hancur hanya karena hal kecil seperti ini, bukankah itu membuktikan kalau mereka memang lemah?" Laura menimpali dengan santai. Dia baru saja menyelesaikan siaran langsung. Beberapa produk kecantikan yang dia promosikan laris manis, membuatnya semakin puas."Mereka sudah tahu kalau ini ulahku." Kenrick menghela napas, tak menyembunyikan apa pun dari Laura."Apa?" Nada suara Laura langsung berubah penuh emosi. "Kamu bilang kalau ini ulahku?"Kenrick mengerutkan kening, suaranya rendah. "Nggak.""Oh, bukan begitu maksudku .... Maksudku, kamu baik-baik saja?" Laura segera mencari alasan untuk memperbaiki suasana.Kenrick awalnya ingin mengatakan bahwa keluarga
Kenrick kembali ke kantornya. Yang mengejutkannya, perusahaan tidak lagi mengirim orang untuk mengawasinya ....Dia masih teringat suasana di rapat dewan direksi tadi. Semua pemegang saham menargetkan keluarganya karena perbuatannya. Dia juga teringat wajah ayahnya yang marah besar. Hatinya terasa berat.Dia membuka internet dan mencari perkembangan terbaru tentang skandal parfum Grup Jauhari. Situasinya ternyata jauh lebih buruk dari yang dia bayangkan. Meskipun demikian, Milla masih menjaga harga dirinya.Di tengah kebingungannya, Kenrick melihat ponselnya dan ragu-ragu apakah harus menelepon Laura atau tidak. Namun, sebelum sempat mengambil keputusan, Milla sudah mengetuk pintu ruangannya.Dia panik dan buru-buru meletakkan ponselnya. Milla masuk dengan ekspresi tenang dan berucap, "Aku ingin kamu mendengar sebuah rekaman. Kamu masih ingat beberapa hari yang lalu, saat aku difitnah memiliki kehidupan pribadi yang kacau di Cube Mansion?"Kenrick mengangguk. Kasus itu sempat menjadi s
Dua puluh menit kemudian, rapat dewan direksi darurat pun dimulai.Kenrick bisa dibilang adalah orang yang berani bertanggung jawab atas perbuatannya. Dia langsung mengakui semua yang telah dia lakukan, bahkan menjelaskan secara detail bagaimana informasi itu bocor.Seperti yang diduga, para pemegang saham lain langsung mengarahkan kemarahan mereka kepada ayah Kenrick."Ini keterlaluan! Kenapa kamu melakukan ini? Kamu sudah mencelakai kita semua!""Kami tahu dulu kamu adalah bawahan Donny, tapi lihat bagaimana keadaan Donny sekarang! Kamu masih memilih berdiri di pihaknya?"Para pemegang saham mengkritiknya dengan suara lantang. Wajah Kenny memerah karena marah, tubuhnya sedikit gemetar. Dia berdiri dan menunjuk Kenrick sambil menghardik."Anak durhaka! Apa kamu diancam seseorang? Kenapa kamu melakukan hal bodoh seperti ini? Apa kamu dijadikan kambing hitam oleh seseorang? Katakan sesuatu!"Milla yang merasa tersindir oleh ucapan itu, hanya tersenyum dingin dan tenang. "Pak Kenny, aku
Salah satu karyawan wanita mengambil ponselnya dengan gugup, membuka media sosial, dan menyerahkannya kepada Milla. Gerak-geriknya hati-hati, seolah-olah sedang mengakui kesalahan."Bu Milla, aku menambahkan WhatsApp-nya waktu menangani iklan dengan Laura hari itu ...."Semua orang tahu bahwa saat terakhir kali syuting iklan, Milla dan Laura sempat berselisih. Mereka khawatir akan menyinggung Milla karena hal ini.Namun, Milla tidak peduli. Matanya hanya terpaku pada layar ponsel. Di sana, Laura mengunggah postingan terbaru.[ Malam panjang lagi, hanya bisa diselamatkan oleh masker wajah .... ]Di kolom komentar, Kenrick menunjukkan kepeduliannya.[ Kalau bisa tidur, tidurlah sebentar. Jaga kesehatanmu. ]Kalimat itu ... sepertinya hubungan mereka cukup dekat.Milla mengedipkan matanya. Tiba-tiba, dia teringat sesuatu. Sebelumnya ketika naik mobil Kenrick, ponsel Kenrick berbunyi. Nama yang muncul di layar adalah Laura. Ternyata Laura yang sama?"Terima kasih." Milla mematikan ponsel i
Milla mendongak dengan terkejut. Yang dilihatnya adalah leher panjang dan dagu Chris. Pria itu merangkulnya ke dalam mantel, seolah-olah dia adalah zirah pelindungnya.Di belakang, bawahan dan pengawal Chris segera menahan beberapa orang yang membuat onar itu. Salah satu dari mereka maju untuk bertanya, "Pak, apa yang harus kami lakukan terhadap orang-orang ini?""Bawa mereka kembali, cari tahu dalang di balik ini!" Chris memberi perintah tanpa menoleh."Baik!"Suasana di belakang langsung menjadi tenang. Milla keluar dari pelukannya, melihat punggungnya yang basah kuyup. Ujung mantel Chris masih terus meneteskan air."Kamu baik-baik saja?" Ada banyak hal yang ingin Milla tanyakan, tetapi akhirnya hanya itu yang keluar."Apa yang perlu dikhawatirkan? Aku cuma perlu mengganti pakaian," jawab Chris dengan tenang. "Kamu naik saja, aku akan mengantarmu ke lift.""Baik." Milla mengangguk tanpa banyak bicara.Chris mengantarnya ke lift. Begitu sampai di kantor, asisten sudah menunggu di depa
"Dulu, aku pernah dengar dari ayahku kalau ayah Milla berhasil membesarkan Jauhari Parfum dengan usahanya sendiri dalam waktu singkat. Padahal, saat itu industri parfum sedang mengalami masa sulit! Di kalangan profesional, beredar kabar kalau dia punya penciuman yang luar biasa dan ahli dalam meracik aroma.""Jangan-jangan Milla juga mewarisi bakat itu?" tanya Levis sambil mengingat kembali semua yang terjadi."Tapi, kamu sendiri yang mengatakan itu cuma rumor," ujar asistennya dengan hati-hati, tidak yakin dengan arah pemikiran Levis.Levis mengusap kumisnya dengan santai. "Mana ada rumor yang muncul tanpa alasan? Kirim lebih banyak orang untuk menyelidiki masalah ini dengan baik!""Baik!" Asisten itu segera mengiakan.....Milla belum tiba di kantor Grup Jauhari, tetapi di internet sudah muncul lagi seorang ahli yang memberi pernyataan.Kali ini, mereka mengatakan bahwa dokumen verifikasi yang dirilis Grup Jauhari hanya berasal dari perusahaan, tanpa sertifikasi dari pusat sertifikas
"Kok bisa?" Milla mengerutkan alisnya."Kami juga nggak tahu apa yang terjadi. Yang bersuara bukan hanya satu orang, masalah ini sudah cukup besar. Sekarang tim humas kita sedang bekerja sama dengan tim humas pihak ketiga untuk mencari solusi," kata asisten.Saat mereka berbicara, telepon Joy juga masuk.Milla berpikir sejenak, lalu memberi instruksi kepada asistennya, "Segera hubungi tim kendali mutu dan periksa ulang parfum yang kita distribusikan untuk uji coba. Pastikan apakah benar ada masalah atau nggak.""Tapi, kita sudah melakukan verifikasi berulang kali. Bahkan pusat sertifikasi juga nggak menemukan masalah, 'kan?" tanya asisten itu dengan bingung."Apa pun hasil sebelumnya, sekarang sudah ada laporan masalah, kita tetap punya tanggung jawab untuk memeriksa ulang. Kalau memang kesalahan ada pada kita, kita harus memberi kompensasi dan permintaan maaf yang seharusnya."Setelah mengatakan itu, Milla mengakhiri panggilan dan menerima panggilan dari Joy."Milla, jangan-jangan ada
Suara Graham yang kaku terdengar dari telepon."Ya, kamu punya nomorku, sementara aku nggak punya nomormu. Aku sempat berpikir kamu sudah lupa dan nggak butuh aku membayar utangku lagi," sahut Milla sambil tersenyum."Aku ini orang yang perhitungan! Mana mungkin aku melupakan orang yang berutang padaku!" Graham berbicara dengan serius, "Bereskan barang-barangmu, aku akan kirim alamat studioku.""Sekarang?" Milla sedikit terkejut."Kenapa kalau sekarang?" Graham terdengar tidak puas. "Orang-orang di Kota Huari terlalu ramah. Mereka baru saja mengantarku pulang, tapi besok aku harus pergi lagi. Kamu nggak ingin menepati janji atau bagaimana?""Ya sudah, kirim alamatnya. Aku segera ke sana," balas Milla dengan tegas.Setelah mengakhiri panggilan, Milla menggoyangkan ponselnya di depan Chris dan berkata dengan nada agak menyesal, "Aku harus keluar sebentar. Lokasinya agak jauh, mungkin aku akan pulang sangat larut. Jangan tunggu aku."Usai berbicara, dia mulai bersiap-siap. Namun, saat aka
Sopir tidak berani bicara lagi dan langsung membelokkan mobilnya. Mereka kembali ke arah Milla, lalu perlahan berhenti di sampingnya.Sebelum mobil benar-benar berhenti, Chris sudah membuka pintu dan turun. Dia melangkah cepat ke arah Milla. "Kamu kenapa?"Milla masih merasa pusing. Mungkin karena belum makan, kadar gula darahnya turun. Dia tidak punya tenaga untuk menjawab, hanya mengangkat tangannya, memberi isyarat bahwa dia baik-baik saja.Chris mengerutkan alisnya. Tanpa banyak bicara, dia membungkuk dan langsung menggendongnya masuk ke mobil. "Bukannya tadi kamu melarangku naik mobilmu?"Milla menatap pria di sampingnya dengan alis terangkat."Kondisimu sudah seperti ini, tapi masih keras kepala?" Chris menegur dengan nada kesal.Milla cemberut. Entah siapa yang mulai duluan?"Ke rumah sakit!" perintah Chris."Nggak mau." Suara Milla tidak besar, tetapi nadanya sangat tegas. Melihat pria di sebelah hampir marah, dia menambahkan, "Rumah sudah dekat. Aku nggak mau ke rumah sakit. A