Kalea tengah menunggu seseorang, mereka sudah mengirim pesan jika akan datang kerumahnya. Dengan cekatan membuatkan beberapa cemilan, karena akan ada anak kecil diantara tamunya. Saat tengah menyelesaikan pekerjaannya, bel pintu rumahnya berbunyi. Dia segera bangkit dan menghampiri pintu untuk mengetahui siapa yang datang dari layar monitornya, ternyata mereka adalah orang yang tengah di tunggu sedari tadi.
"Selamat datang, masuklah," ucap Kalea saat membuka pintu, untuk menyambut kedatangan mereka dengan senyuman. Ketiga orang itu langsung masuk karena sudah di persilahkan oleh pemiliknya, mereka adalah Leo beserta anaknya. Teman Kalea tersebut menepati janjinya ingin datang kerumah, karena lama sekali mereka tak saling bersua. "Apakah kau sendiri? Dimana suamimu?" tanya Clara istri dari Leo, bukan orang lain juga karena Clara sahabat dekat Kalea seperti Leo. "Duduk saja dulu, hei tampan. Apa kau merindukanku?" tanya Kalea pada jagoan kecil temannya. "Tentu." "Hem, bisakah kau bermain sebentar. Di meja itu ada gambar dan pensil warna, kau boleh mewarnainya. Dan ini camilan untukmu." Memberikannya pada anak itu, sedangkan Leo dan Clara hanya tersenyum melihat interaksi keduanya. Anak kecil itu lalu berjalan menuju meja yang di tunjuk oleh Kalea setelah menerima camilannya, setelah memastikan anak itu duduk untuk mewarnai, segera Kalea mengajak dua temannya itu bicara. "Aku ingin memberitahu kalian sesuatu." Dengan nada sendu, wajahnya pun tak terlihat baik-baik saja. "Katakanlah, jangan ada yang kamu tutupi lagi pada kami," ujar Clara. "Aku sudah resmi bercerai satu bulan lalu." Tegas Kalea memberitahu pada dua temannya itu. "A-apa! Cerai!" Keduanya kaget dan saling menatap satu sama lainnya. "Bagaimana kalian bisa bercerai, kalian saling mencintai dan kay. Aku merasa tak percaya dengan semua ini," ujar Clara, yang masih tak mempercayai ucapan temannya. "Tapi itu kenyataannya." Tegas Kalea. "Siapa yang mengkhianati dalam ikatan rumah tangga kalian? Apa ada orang ketiga, atau hal lainnya?" Tanya Leo. "Kay, Kay selingkuh sudah sejak dua tahun lalu. Aku selalu mendapatkan tekanan karena belum memiliki keturunan, dari Kay ataupun orangtua bahkan semua keluarganya. Bahkan Ibunya Kay sering melampiaskan kemarahannya padaku dengan menampar atau melempar barang-barang padaku, dan aku pun sudah lama pisah ranjang dengan Kay beberapa bulan sebelum kami resmi bercerai," jelas Kalea pada dua temannya. Clara langsung berpindah posisi duduk di sebelah Kalea, dia merasa temannya itu butuh pelukan karena semua yang sudah di lewatinya begitu berat tanpa sandaran juga tempat bercerita. "Kenapa kamu diam, kenapa kau tak menceritakan semuanya kepada kami? Setidaknya kau merasa lega saat membagi masalahmu pada kami, kami temanmu yang selalu ada untukmu kapanpun itu," ucap Clara sembari memeluk Kalea dari samping. "Tak apa, aku sanggup menghadapi semua ini. Yang aku bingungkan hanya saat Ayah sadar nanti, apa yang harus aku jawab jika beliau bertanya tentang Kay," kata Kalea mengungkapkan kebingungannya nanti. "Pasti beliau akan sedih karena putrinya mengalami hal buruk dalam pernikahannya." Imbuhnya. "Tak apa, perlahan saja memberitahunya. Tapi bukankah kamu dulu sudah memeriksa kan diri dan hasilnya baik, apa itu tak cukup sebagai bukti jika kamu bukan wanita mandul?" tanya Clara yang mengetahui pemeriksaan yang di lakukan oleh Kalea. "Mereka tetap bersikeras jika aku mandul dan tak mampu memiliki anak, jadi aku benar pun dimata mereka tetap saja salah." Dengan nada sendu. Leo sangat menahan amarahnya, karena melihat temannya itu di sia-siakan oleh lelaki yang berjanji akan menjaganya dalam keadaan apapun. Tapi kenyataannya, hanya pahit yang di telan oleh Kalea hingga akhir pernikahan mereka pun sang wanita yang di per salahkan. "Akan aku hajar jika aku bertemu pria brengsek itu!" Mengepalkan tangannya. "Jangan membuat masalah dengannya, aku tak apa. Aku lega sudah lepas dari pria itu, dan aku menyadari kenapa Ibu dulu tak setuju dengan kami. Ternyata firasatnya benar tentang putrinya ini, hem ... tapi aku tak boleh menyesalinya karena aku tahu Tuhan sudah merakit semua jalan hidupku dengan benar." Senyum Kalea yang mencoba tegar untuk menghadapi semuanya. Clara dan Leo menatap Kalea penuh dengan rasa iba, sungguh wanita yang dulunya di kenal manja kini menjadi sangat dewasa setelah apa yang telah di lewatinya dalam pernikahan. Bahkan tak menceritakan segala permasalahan yang menimpanya, sungguh kuat dirinya demi menjaga nama baik suaminya. "Lalu apa rencanamu? Jangan sampai menyia-nyiakan pendidikan tinggi mu itu," ujar Leo. "Benar apa yang dia katakan, kamu harus mampu membuktikan jika dirimu baik-baik saja tanpa mereka." Menyemangati temannya. "Aku sudah bekerja di sebuah perusahaan, dan akan datang kesana besok untuk menyerahkan proyek yang sedang aku kerjakan. Mungkin ada rapat untuk besok, tapi aku tak selalu datang ke kantor," jelas Kalea. "Syukurlah kau memiliki pekerjaan yang baik, semoga setelah apa yang terjadi kamu mendapatkan kebahagiaan kedepannya. Kini kamu harus fokus pada kebahagiaan mu." Clara memeluk Kalea, dan di jawab dengan anggukan oleh Kalea. "Bolehkan aku ikut berpelukan?" tanya Leo sembari menatap dua wanita yang ada di depan matanya. "Tidak!" Teriak keduanya secara bersamaan. Leo memasang wajah sedih dan membuat Kalea dan Clara tertawa, mereka menghabiskan waktu cukup lama karena sudah lama sekali untuk berbagi cerita yang seru-seru. Setidaknya kehadiran mereka bisa menghibur Kalea, agar tak memikirkan rasa sakitnya dan lukanya kembali. Disisi lainnya ... Rigel tengah dalam perjalanan menuju kediaman orang tuanya, karena di undang untuk acara makan siang bersama. Tentu dia tak bisa menolak jika yang menginginkan kehadirannya adalah sang Ayah, tapi jika itu ibunya tentu saja dia akan menolak dengan seribu alasan. Karena sudah pasti sang Ibu akan mendatangkan wanita yang akan di jodohkan dengannya, itu membuat Rigel tak nyaman. "Tuan, apa ada maslaah?" Tanya Kelvin. "Tidak, hanya saja jika Ayah sudah mengundangku untuk bertemu bukankah itu ada suatu pertanda," ujar Rigel. "Maksudnya pertanda apa?" tanya kelvin yang masih bingung dengan maksud dari Tuannya. Rigel membuang nafas beratnya sembari menatap kearah luar jendela mobilnya, "Bukankah terkahir kali bertemu beliau menyerahkan proyek yang bermasalah, dan kita yang di minta untuk menyelesaikannya. Lalu apa lagi sekarang, apa beliau akan melakukan hal yang sama lagi untuk melihat kemampuan perusahaan kita." Menjelaskan dengan wajah datarnya. "Ah iya, Anda benar. Aku ingat itu, kita hampir kewalahan saat itu, tapi semuanya berhasil dengan baik atas kerja keras Anda yang mampu membalikkan keadaan. Dan mungkin hal ini yang membuat Tuan Besar semakin mempercayai Anda," ujar Kelvin. "Itu menurutmu, tapi tidak menurutku." Singkatnya. Kelvin hanya tersenyum tipis menanggapi Tuannya, mereka akhirnya sampai di kediaman Ayahnya Tuan Yama. Pintu gerbang yang tinggi dan kokoh terbuka secara otomatis, mobil mewah Rigel memasuki area rumah orang tuanya. Rigel turun dari mobilnya, beberapa pelayan dan bodyguard menyambutnya serta memberikan hormat kepadanya. Rigel memasuki kediaman orang tuanya, sementara Kelvin asistennya menunggu di luar bersama asisten lainnya. Terdengar suara orang tengah berbincang diruang keluarga, langkah kaki Rigel segera menuju keruangan itu untuk menemui semua keluarga yang jelas tengah berkumpul disana. Kedatangan Rigel di sambut dengan pelukan dari keponakannya yang berusia tiga tahun, pria itu langsung langsung mendekap dan menggendong keponakannya. "Paman, kenapa baru datang?" tanya bocah bernama Tama, dengan nada lembut. "Paman baru menyelesaikan pekerjaan, dan di jalan tadi cukup macet. Maaf ya," kata Rigel sembari meminta maaf kepada keponakannya. "Harusnya Paman membawakan sesuatu jika melakukan kesalahan padaku, tapi Paman tak membawa apapun." Keluhnya, dengan memasang wajah yang menggemaskan. "Maafkan Pamanmu Nak," ujar Daru, Kakak dari Rigel. "Paman akan mengrimkan mainan untukmu sebagai tanda maaf, bagaimana?" Tawar rigel pada keponakannya. "Baiklah, hadiahnya harus besar." Sembari mempraktekan dengan tangan mungilnya, Rigel menjawab dengan mengangguk dan melakukan tos, jika mereka deal dengan kesepakatannya. Lalu Tama turun dari gendongannya dan berlari senang, karena akan mendapatkan hadiah dari sang paman. "Apa kabar kalian?" tanya Rigel. "Kami baik, bagaimana dirimu?" tanya Daru dan istrinya. "Baik juga." Lalu mengarah ke Ayah dan Ibunya, setelah menyapa keluarganya dia lalu duduk di salah satu sofa dan menyandarkan kepalanya. "Apa kau sangat lelah?" tanya Tuan Yama. "Tentu saja, aku bahkan jarang libur kerja walaupun aku bosnya." Mengeluh pada Ayahnya. "Jika begitu menikahlah, maka semuanya akan merubah hidupmu. Kau bisa mengambil libur sesukamu jika sudah memiliki pasangan, kau sibuk hanya untuk sebuah pengalihan saja," ujar Tuan Yama. Rigel langsung mengubah posisinya, dia kini duduk tegak setelah mendengarkan kata yang Ayahnya ucapkan. Ini kali pertama sang Ayah membahas tentang hal ini, karena biasanya beliau tak membahas yang menyangkut kehidupan putranya. "Dengarkan itu, apa yang di katakan Ayah itu benar. Sampai kapan kau akan melajang, usiamu makin bertambah. Apa kau akan menikah saat sudah menjadi kakek-kakek," ledek Daru sang Kakak, yang tentu saja membuat Rigel sedikit kesal. "Ibu sudah banyak menjodohkan dengan beberapa gadis, tapi ada saja alasannya." Kesal Ibu. "Atau jangan-jangan kau ini gay?" tanya kakak iparnya, sembari tangannya menutup mulutnya. Sontak semua mata tertuju pada Aurelia istri dari Daru, "Ma-maaf, aku hanya asal menebaknya saja." Membela dirinya. "Kamu ini, jaga ucapanmu." Bisik Daru pada sang istri. Kedua orang tua Rigel menatap tajam ke arah Rigel, sementara orang yang di tatap membuang nafas kasarnya karena pertanyaan dari kakak iparnya. "Kenapa kalian menatapku seperti itu, aku masih normal. Dan aku menyukai wanita, tapi tipeku agak berbeda. Jadi mengertilah dan tunggu saja waktunya, aku masih sibuk dengan pekerjaanku," ujar Rigel, ia memilih mencari aman daripada orang tuanya berfikir yang tidak-tidak pada dirinya. Tapi dia memang pria normal, bukan seperti tebakan Kakak iparnya. "Berapa lama kami bersabar? Apa menunggu kami mati. Ingat, kami tak memandang latar wanita yang akan kamu pilih. Yang terpenting adalah dia wanita yang baik hati, jujur, menghormati orang tua, penyayang, dan tentunya setia pada pasangannya." Tuan Yama memberikan syarat untuk seseorang yang akan menjadi menantunya. "Tentu bukan begitu maksudku Ayah." Terkejut dengan ucapan sang Ayah, dari beberapa kata tadi. Sebenarnya syaratnya begitu mudah karena orang tua Rigel tak memandang latar dan pendidikan dari calon menantunya, karena yang terpenting adalah kebahagiaan putra mereka. Harta dan kekuasaan bisa di capai, tapi untuk seorang pasangan yang setia pada zaman ini sangatlah sulit. "Ayah akan memberikan waktu enam bulan, dalam waktu itu kamu harus berusaha mendapatkan wanitamu. Jika tidak, akan Ayah jodohkan dengan anak rekan Ayah. Jika kamu berhasil mendapatkan pasanganmu dalam waktu itu, Ayah akan merestui mu." Tuan Yama memberikan syarat pada Rigel untuk mencari calon istri. Pria yang sedari tadi diam dan kadang mengusap wajah atau memijat pelipisnya pun menampilkan wajah yang seolah tak percaya dengan ucapan sang Ayah, "A-apa Ayah serius, enam bulan?" tanya Rigel dengan tatapan syoknya. "Apa Ayah pernah berbohong?" tanya Tuan Yama. Rigel menggeleng, karena dia juga tahu jika Ayahnya tak pernah bohong dengan kata-katanya. Atau bahkan menarik ucapannya, beliau begitu kekeh dalam sebuah pendirian dan prinsipnya. Ini alasan Tuan Yama memanggil putra bungsunya datang kerumah, karena ingin membuat Rigel memikirkan jodohnya bukan sibuk dengan pekerjaan terus menerus. "Astaga." Keluhnya, dengan kepala di sandarkan pada bagian sandaran kursi. "Semangat!" Kedua Kakaknya memberikan semangat, namun bagi Rigel mereka seolah sedang meledeknya.Setelah kepulangan dari kediaman sang orang tuanya, Rigel terus memikirkan kata-kata sang Ayah. Waktu enam bulan bagi RIgel adalah waktu yang begitu cepat, ia tak mungkin membayar seseorang wanita untuk berpura-pura menjadi kekasihnya, jika pun menikah kontrak ia lebih baik menikah sungguhan karena ingin melkaukan pernikahan satu kali seumur hidupnya."Siapa yang akan aku jadikan istri." Pikirnya, tiba-tiba saja ia teringat suatu hal.Segera ia mengambil benda pipih di meja dekat ranjang tidurnya, menelfon seseorang di larut malam seperti ini demi menanyakan hal penting baginya."Hei, apa kau sudah tidur?" tanyanya."Tentu saja Tuan, ada apa?" tanya Kelvin dari balik telfon."Bagimana informasi tentang wanita itu, apa kau sudah menemukanya?" Tanya lagi Rigel."Belum Tuan, aku belum menemukanya. Akan aku laporkan jika aku sudah mengetahuinya, sebaiknya Anda tidur ada hal penting besok," ujar Kelvin dari balik ponselnya."Hal penting ap ..."Tuut ..! Tuut...! Tuut..!"Sial! Beraninya di
Kalea meminta ditemani Clara untuk membeli beberapa stel baju kantor, karena dia akan mulia bekerja lusa. Tentu ini sebuah keputusan yang sedikit berat, karena dia harus mulia berinteraksi dengan banyak orang."Maaf, aku merepotkan mu dan Gio." Ujar Kalea, karena dia meminta anak dan Ibu menemaninya berbelanja."Tak apa, aku juga tidak ada kerjaan kok. Jadi santai saja, Gio juga jarang keluar pasti senang diajak keluar," kata Clara yang melihat kearah putranya."Kenapa kamu tidak bekerja?" tanya Kalea."Aku hanya lulusan SMA, jadi mana mungkin bisa dapat pekerjaan bagus. Jika aku bekerja siapa yang mengurus Gio, sedangkan orang tua ku sudah tidak ada. Dan orang keluarga dari suamiku juga tidak mau direpotkan oleh cucunya, karena hanya materi yang mereka lihat," jelas Clara."Astaga, tega sekali mereka pada anak, cucu, dan menantunya." Kesal Kalea, tapi tiba-tiba dia memiliki ide.Setidaknya membantu perekonomian temannya, karena dia akan segera sibuk bekerja di kantornya. Jadi sudah j
Setelah makan bersama Rigel menawarkan diri untuk mengantar kedua wanita itu dan Gio putra Clara, Kalea mencoba menolak tapi tidak dengan Clara."Tentu saja kami mau, iya kan?" tanyanya pada Kalea dengan menyenggol bahunya.Kalea hanya memutar matanya malas, sebenarnya akan memesan taxi, tapi Rigel terus memaksa."Baiklah, ayo masuk. Kalian bertiga." Rigel menbukakan pintu mobil, dan ini adalah kali pertama dia melakukannya. Hal itu membuat Kelvin sang asisten tertegun melihat hal yang di luar ekspektasinya, Rigel rela melakukan apapun demi wanita pujaannya."Kelvin, ayo jalan." Titahnya saat semua sudah masuk kedalam mobil."Baik Tuan."Selama perjalanan mereka berbincang, namun tidak dengan Kalea yang banyak diam karena malas ikutan bicara."Jadi Kaela akan bekerja di perusahaan milikmu mulai lusa?" tanya Clara memastikan."Iya, aku sangat senang dia menerima tawaran dari perusahan." Senyum Rigel mengembang.Rigel tiba-tiba teringat suatu hal, dia lalu mengambil ponselnya dan memin
Malam ini Kale menuju rumah sakit, dia ingin menjenguk Ayahnya dan meminta restunya. Karena besok dia mulai bekerja di perusahaan Rigel, sore tadi dia sudah mengunjungi makam Ibunya.Bagi Kalea kini restu kedua orang tuanya begitu penting, karena dia akan memulai kehidupan yang baru tanpa seseorang pasangan disisinya. Walaupun Ibunya sudah tiada, dan Ayahnya tengah koma baginya tetap saja penting mendatangi satu persatu."Kenapa rumah sakit terasa sunyi sekali, atau aku sudah larut malam datanganya? Perasaan baru pukul tujuh," kata Kalea yang berjalan disebuah lorong menuju keruangan rawat inap sang Ayah."Hemm, mungkin mereka tengah istirahat atau pertukaran shift jaga. Sudahlah berfikir positif, jangan terlalu buruk sangka." Menghilangkan rasa khawatir juga takut, dia terus bicara sendiri dan meyakinkan diri.Tak lama akhirnya dia sampai, diruang informasi ternyata ramai, dan ada beberapa orang yang mengunjungi keluarganya yang sakit.Setelah konfirmasi pada staf penjaga, Kalea lang
Rigel mengambil ponselnya, dia mengirim pesan pada Clara teman dari Kalea. Dia ingin mencari tahu tentang wanita yang tengah dia sukai, siapa lagi jika bukan Kalea. Namun pesannya belum dibalas oleh Clara walaupun pesan itu sudah di buka, Rigel tetap menungu dengan penuh kesabarannya."Kenapa dia tak memblas, padahal sudah dibaca pesannya. Aish, aku tidak sabar lagi menunggu lebih lama," ucapnya mulai kesal dengan kata menunggu.Rigel lalu menelfon asistennya yaitu Kelvin, dia ingin tahu kenapa seseorang tak segera membalas pesannya padahal sudah dibaca. Apa semua wanita akan seperti itu jika dikirim pesan, atau hanya Rigel saja yang mengalaminya."Kelvin, apa kamu tahu sebuah alasan wanita?" tanya Rigel dari balik ponsel pada sanmg asisten."Apa Anda sengaja menelfonku hanya sekedar menanyakan hal ini?" tanya Kelvin pada RIgel, dia penasaran kenapa Tuannya begitu polos."I-iya, karena kau tak tahu alasan mereka. Jadi kamu pasti sudah tahu." Tertawa berharap asistenya memberitahunya.
Jam istirahat tiba, Rigel menuju keruangan kerja milik Kalea. Tentu saja hal tersebut membuat beberapa staf dan karyawan heran, karena baru kali ini bos mereka mendekati salah satu karyawannya, dan anehnya itu adalah karyawan barunya."Kalea, apa kamu sudah selesai?" tanya Rigel dengan sedikit keraguan."Sudah, bisa ditinggalkan untuk nanti. Ada apa?" tanya Kalea balik, sembari menatap ke arah Rigel."Apa mau makan siang bersama dikantin kantor?" Ajak Rigel pada Kalea.Kalea tak langsung menjawab, dia melihat ke sekitar karena terasa hening. Benar saja semua orang disana tengah memperhatikan mereka, termasuk juga Klevin asisten Rigel. Akhinya dia pun menjawab, karena tak mau membuat bosnya menunggu lama seolah dia wanita jahat yang seolah menghukum bosnya."Maaf, aku tidak lapar. Anda bisa makan dengan karyawan lainnya," jawabn Kalea pada Rigel."Aku tak mau sampai mendengar kabar karyawan baru mati kelaparan karena bekerja terlalu keras diperusahaanku, jadi ayo kita makan. Ajak yang
Hari yang dinanti Rigel akhirnya tiba, dia dalam perjalanan menuju kesbuah cafe untuk bertemu Clara. Karena dia akan menerima informasi tentang wanita yang tengah dia incar sebagai calon isterinya, tak ada minat lain ke arah wanita selain Kalea. Cinta itu semakin hari semkain besar, dan tak mau menyerah hingga dia mendapatkan yang dia mau."Hai, apakah kalian sudah lama menunggu?" tanya Rigel yang baru saja tiba di sebuah cafe."Tidak, kami baru saja tiba beberapa menit lalu," jawab Leo suami Clara."Pesanlah semua yang kalian mau, untuk jagoan juga." Menyentuh pipi Gio.Mereka lalu pesan beberapa minuman juga makanan, sembari menunggu mereka mengobrol ringan. Belum membicarakan hal yang serius tentang Kalea, mereka menikmati suasana pertemuan yang sudah sangat lama."Bagaimana kabarmu?" tanya Rigel pada Leo."Baik, bagaimana denganmu?" tanya balik Leo."Baik juga."Akhirnya makanan
Rigel segera kembali ke kantor, dia sudah mendapatkan restu dan dukungan dari kedua teman dekat Kalea. Kini dia harus meyakinkan orang tuanya lebih dulu, agar mereka merestui langkahnya untuk mengejar wanita yang dia idamkan sejak dulu. Tapi Rigel baru saja mengetahui jika Kalea pernah menyukainya, sungguh dia bertambah bersalah pada wanita itu. Ternyata jika waktu itu dia mengungkapkan perasaannya mungkin akan terbalas, dan wanita itu akan menikah dengannya, tapi semua sudah terlambat. Bahkan wanita yang dia cintai bukan lagi seperti dulu, dia seperti terlahir kembali dengan watak juga sikap yang berbeda. 'Ternyata dia juga menyukaiku, jika begitu perasaanku tidak bertepuk sebelah tangan. Akan aku perjuangkan dia kembali, dan untuk pria yang sudah menyakiti Kalea. Siap saja dengan kehancuranmu,' batin Rigel. Tatapan matanya mengarah ke Kalea yang ada diruang kerjanya, dimana wanita itu tengah berdiskusi dengan beberapa rek
Mobil berhenti mendadak, Kalea terkejut dengan Rigel yang mengendarai mobil secara ugal-ugalan. Entah dirasuki apa pria itu tiba-tiba mengerem mobilnya secara mendadak, hampir saja membuat mereka mengalami kecelakaan. "Apa kamu bodoh! Kamu bosan hidup! Jika kamu mau mati jangan mengajak orang lain!" Kalea marah-marah ditengah suasana tegang, sedangkan Rigel masih terdiam menatap kearah depan. Dia sadar jika apa yang dilakukannya salah, tapi bagaimana lagi supaya wanita yang ada disisinya itu mau memberikannya kesempatan. "Aku turun disini saja." Tangan Kalea mulai melepaskan sabuk pengaman yang dia kenakan, lalu hendak membuka pintu namun tangan Rigel menahannya. Kalea menoleh, dia melihat tatapan Rigel yang telah lama dia rindukan, ya tatapan mata yang dulu selalu membuatnya terpesona pada pria tersebut. "Ada apa? Aku ingin turun." "Ma-maafkan aku." Rigel meminta maaf, dia tak ingin membuat Kalea pergi dan menjauh darinya lagi. Mendengar kata maaf dari mulut Rigel entah
Hujan turun begitu lebatnya secara tiba-tiba, padahal cuaca terlihat cerah tadi. Dan tidak ada informasi jika hari ini akan turun hujan, Kalea tidak membawa payung jadi dia harus menunggu. Walaupun sebenarnya memesan taxi lebih mudah, tapi melihat hujan yang disertai angin dia mengurungkan niatnya untuk pulang. Ingin sebenarnya langsung pergi, karena setelah bertemu dengan mantan mertuanya hatinya terasa begitu sakit. Lukanya seperti menganga kembali, padahal luka itu sendiri belum mengering. Rigel berdiri tak jauh dari Kalea, dan memberanikan diri melangkah untuk mendekati Kalea yang berdiri seorang diri. "Bukankan ini sangat dingin, nanti kamu bisa sakit jika terus berada disini." Rigel bicara namun dia terus menatap hujan, sedangkan Kalea menoleh ke arah pria yang kini berdiri disisinya walaupun sedikit berjarak. Namun seakan semesta mendukung pertemuan keduanya, karena tak banyak orang diantara mereka. "Kenapa kamu disini?" Kalea merasa heran kenapa seorang Rigel bera
Jam sudah menunjukkan waktunya pulang kerja, Kalea segera membereskan meja kerjanya serapih mungkin. Setelah pamit dengan teman-temannya, dia segera keluar dari gedung kantor tempatnya bekerja. Segera berjalan tak menuju suatu tempat, ya kesebuah mall. Dia ingin membelikan hadiah untuk seseorang yang begitu berarti dalam hidupnya, yaitu sang Ayah dimana hari ini adalah hari ulang tahun beliau. Mall besar di pusat kota menjadi tujuan utama Kalea, bejalan sendiri baginya sudah biasa. Matanya hanya fokus kearah depan, dimana jalan yang harus dia lewati dan tapaki. "Aku ingin membelikan jam tangan, kali ini waktulebih berarti dengan orang-orang terkasih." Kalea tersenyum samar, dia mengingat tentang Ayahnya. Jika nanti sang Ayah bangun, dia berjanji pada dirinya sendiri untuk membahagiakan orang tuanya. Dan akan selalu berusaha keras untuk kebahagiaan sang Ayah, dimana kini keluarganya hanya tinggal beliau saja. Saat memasuki mall Kalea segera menuju ke toko jam bermerk, walaupun
Rigel segera kembali ke kantor, dia sudah mendapatkan restu dan dukungan dari kedua teman dekat Kalea. Kini dia harus meyakinkan orang tuanya lebih dulu, agar mereka merestui langkahnya untuk mengejar wanita yang dia idamkan sejak dulu. Tapi Rigel baru saja mengetahui jika Kalea pernah menyukainya, sungguh dia bertambah bersalah pada wanita itu. Ternyata jika waktu itu dia mengungkapkan perasaannya mungkin akan terbalas, dan wanita itu akan menikah dengannya, tapi semua sudah terlambat. Bahkan wanita yang dia cintai bukan lagi seperti dulu, dia seperti terlahir kembali dengan watak juga sikap yang berbeda. 'Ternyata dia juga menyukaiku, jika begitu perasaanku tidak bertepuk sebelah tangan. Akan aku perjuangkan dia kembali, dan untuk pria yang sudah menyakiti Kalea. Siap saja dengan kehancuranmu,' batin Rigel. Tatapan matanya mengarah ke Kalea yang ada diruang kerjanya, dimana wanita itu tengah berdiskusi dengan beberapa rek
Hari yang dinanti Rigel akhirnya tiba, dia dalam perjalanan menuju kesbuah cafe untuk bertemu Clara. Karena dia akan menerima informasi tentang wanita yang tengah dia incar sebagai calon isterinya, tak ada minat lain ke arah wanita selain Kalea. Cinta itu semakin hari semkain besar, dan tak mau menyerah hingga dia mendapatkan yang dia mau."Hai, apakah kalian sudah lama menunggu?" tanya Rigel yang baru saja tiba di sebuah cafe."Tidak, kami baru saja tiba beberapa menit lalu," jawab Leo suami Clara."Pesanlah semua yang kalian mau, untuk jagoan juga." Menyentuh pipi Gio.Mereka lalu pesan beberapa minuman juga makanan, sembari menunggu mereka mengobrol ringan. Belum membicarakan hal yang serius tentang Kalea, mereka menikmati suasana pertemuan yang sudah sangat lama."Bagaimana kabarmu?" tanya Rigel pada Leo."Baik, bagaimana denganmu?" tanya balik Leo."Baik juga."Akhirnya makanan
Jam istirahat tiba, Rigel menuju keruangan kerja milik Kalea. Tentu saja hal tersebut membuat beberapa staf dan karyawan heran, karena baru kali ini bos mereka mendekati salah satu karyawannya, dan anehnya itu adalah karyawan barunya."Kalea, apa kamu sudah selesai?" tanya Rigel dengan sedikit keraguan."Sudah, bisa ditinggalkan untuk nanti. Ada apa?" tanya Kalea balik, sembari menatap ke arah Rigel."Apa mau makan siang bersama dikantin kantor?" Ajak Rigel pada Kalea.Kalea tak langsung menjawab, dia melihat ke sekitar karena terasa hening. Benar saja semua orang disana tengah memperhatikan mereka, termasuk juga Klevin asisten Rigel. Akhinya dia pun menjawab, karena tak mau membuat bosnya menunggu lama seolah dia wanita jahat yang seolah menghukum bosnya."Maaf, aku tidak lapar. Anda bisa makan dengan karyawan lainnya," jawabn Kalea pada Rigel."Aku tak mau sampai mendengar kabar karyawan baru mati kelaparan karena bekerja terlalu keras diperusahaanku, jadi ayo kita makan. Ajak yang
Rigel mengambil ponselnya, dia mengirim pesan pada Clara teman dari Kalea. Dia ingin mencari tahu tentang wanita yang tengah dia sukai, siapa lagi jika bukan Kalea. Namun pesannya belum dibalas oleh Clara walaupun pesan itu sudah di buka, Rigel tetap menungu dengan penuh kesabarannya."Kenapa dia tak memblas, padahal sudah dibaca pesannya. Aish, aku tidak sabar lagi menunggu lebih lama," ucapnya mulai kesal dengan kata menunggu.Rigel lalu menelfon asistennya yaitu Kelvin, dia ingin tahu kenapa seseorang tak segera membalas pesannya padahal sudah dibaca. Apa semua wanita akan seperti itu jika dikirim pesan, atau hanya Rigel saja yang mengalaminya."Kelvin, apa kamu tahu sebuah alasan wanita?" tanya Rigel dari balik ponsel pada sanmg asisten."Apa Anda sengaja menelfonku hanya sekedar menanyakan hal ini?" tanya Kelvin pada RIgel, dia penasaran kenapa Tuannya begitu polos."I-iya, karena kau tak tahu alasan mereka. Jadi kamu pasti sudah tahu." Tertawa berharap asistenya memberitahunya.
Malam ini Kale menuju rumah sakit, dia ingin menjenguk Ayahnya dan meminta restunya. Karena besok dia mulai bekerja di perusahaan Rigel, sore tadi dia sudah mengunjungi makam Ibunya.Bagi Kalea kini restu kedua orang tuanya begitu penting, karena dia akan memulai kehidupan yang baru tanpa seseorang pasangan disisinya. Walaupun Ibunya sudah tiada, dan Ayahnya tengah koma baginya tetap saja penting mendatangi satu persatu."Kenapa rumah sakit terasa sunyi sekali, atau aku sudah larut malam datanganya? Perasaan baru pukul tujuh," kata Kalea yang berjalan disebuah lorong menuju keruangan rawat inap sang Ayah."Hemm, mungkin mereka tengah istirahat atau pertukaran shift jaga. Sudahlah berfikir positif, jangan terlalu buruk sangka." Menghilangkan rasa khawatir juga takut, dia terus bicara sendiri dan meyakinkan diri.Tak lama akhirnya dia sampai, diruang informasi ternyata ramai, dan ada beberapa orang yang mengunjungi keluarganya yang sakit.Setelah konfirmasi pada staf penjaga, Kalea lang
Setelah makan bersama Rigel menawarkan diri untuk mengantar kedua wanita itu dan Gio putra Clara, Kalea mencoba menolak tapi tidak dengan Clara."Tentu saja kami mau, iya kan?" tanyanya pada Kalea dengan menyenggol bahunya.Kalea hanya memutar matanya malas, sebenarnya akan memesan taxi, tapi Rigel terus memaksa."Baiklah, ayo masuk. Kalian bertiga." Rigel menbukakan pintu mobil, dan ini adalah kali pertama dia melakukannya. Hal itu membuat Kelvin sang asisten tertegun melihat hal yang di luar ekspektasinya, Rigel rela melakukan apapun demi wanita pujaannya."Kelvin, ayo jalan." Titahnya saat semua sudah masuk kedalam mobil."Baik Tuan."Selama perjalanan mereka berbincang, namun tidak dengan Kalea yang banyak diam karena malas ikutan bicara."Jadi Kaela akan bekerja di perusahaan milikmu mulai lusa?" tanya Clara memastikan."Iya, aku sangat senang dia menerima tawaran dari perusahan." Senyum Rigel mengembang.Rigel tiba-tiba teringat suatu hal, dia lalu mengambil ponselnya dan memin