Hai, makasih ya sudah singgah dan support di novel terbaru Piemar. Moga rezeki kalian melimpah. Amin.
Malam itu, Embun hanya bisa memejamkan matanya sebentar. Dini hari ia sudah bangun. Ia tidak terbiasa tidur di tempat asing. Ia begitu kesulitan ketika menemukan tempat baru dan beradaptasi dengan lingkungannya.Masalahnya Embun itu seorang introvert. Ia tidak terbiasa bergaul dengan orang lain. Kehidupannya berkutat di sekitar rumah. Ia pun segera mandi dan berganti pakaian. Kemudian ia menghidupkan ponselnya. Ada banyak pesan sms yang masuk ke dalam ponselnya. Ia pun membukanya satu per satu. Ia mendesah pelan saat melihat ternyata pesan itu berasal dari saudarinya-Yasmin yang memintanya pulang ke apartemennya.Setelah membaca pesan itu, Embun menaruh kembali ponselnya di atas ranjang. Ia mengabaikan pesan Yasmin. Embun tak ingin pulang kampung. Ia hanya ingin berada di sisi putranya bagaiamanapun caranya. Senyum kecil terbit di wajahnya. Bukankah ada kamera di ponselnya. Ponselnya terbilang bagus berarti kameranya juga bagus. Sebuah ide cemerlang muncul di kepalanya. Ia akan men
Seketika jantung Bu Neli berdenyut lebih cepat. Ia begitu tegang saat dipanggil oleh Danar ke ruang makan. Danar bertanya padanya siapakah yang membuat salad sayur untuknya?Sial, pasti saladnya tidak enak. Bu Neli sudah berburuk sangka. Ia menyesal telah menyuruh Embun untuk membuat salad. ‘Aduh, aku bilang jujur gak ya? Tapi kalo jujur, kasihan anak itu nanti kena marah. Tidak apa-apalah, aku yang akan mengaku. Setidaknya aku sudah bekerja lama di rumah Tuan Danar. Paling kena marah atau hukuman potong gaji gak masalah.’Pikiran Bu Neli sudah berkecamuk. Sungguh, ia begitu takut melihat kemarahan majikannya.“Hum, maaf, Tuan, saya yang membuat salad sayur itu. Maaf, jika …” ucapan Bu Neli menggantung sebab Danar langsung menyelanya.“Aku suka salad sayur ini, Bu Neli! Aku ingin kau membuatnya lagi nanti. Soalnya saya sekarang harus menjenguk Eyang.”Danar Yudistira berkata dengan santai. Ia melanjutkan lagi menyendok salad sayur itu dengan antusias. Ia begitu lahap memakannya.Bu Ne
“Mbak Embun, sebelum Tuan Danar pergi ke Jogja, beliau telah berpesan. Mohon maaf sebelumnya, ada beberapa perubahan poin penting tentang kontrak sebagai ibu susu Tuan muda.”Gilang mengeluarkan surat dari dalam tas miliknya.Embun mengangkat mata untuk menatap berkas itu. Namun ia pun segera menunduk lagi saat tatapan mereka bertemu. Setelah apa yang dialaminya, Embun menjadi pribadi yang tak mudah percaya. Ia membangun sebuah jarak dengan orang lain.“Tuan Danar meminta Mbak Embun tinggal di kamar atas. Lebih tepatnya kamar yang berada di sebelah Tuan muda agar memudahkan akses untuk menyusui Tuan muda.”Gilang berkata dengan serius. Ia pun menunjukan berkas perjanjian itu ke atas meja. Ia bekerja secara profesional. Ia tidak ingin dianggap membuat sebuah keputusan sepihak yang merugikan salah satu pihak.“Saya sudah tahu, Pak Gilang. Tadi Mbak Maya sudah menyampaikannya. Bahkan saya sudah memindahkan barang milik saya ke sana.”Embun menjawab apa adanya. Ia sempat berpikir jika Dan
“Mas Danar, aku mau lihat Gara,” kata Mita menggeser tubuhnya dan mencoba mengintip ponsel yang saat ini tengah dipegang oleh suaminya. Mita pun penasaran dan ingin melihat foto bayi mereka. Danar buru-buru mengusap layar ponselnya dan membuka aplikasi galeri. Mita jangan sampai tahu siapa ibu susu anak mereka. Ia pasti akan marah dan cemburu padanya. “Lucu ya, Gara! Wajahnya mirip …” ucap Mita di mana tenggorokannya langsung tercekat. Sial, baby Sagara makin ke sini makin mirip perpaduan Danar dan wanita bernama Embun. Meskipun hanya pernah sekali melihat Embun, namun Mita bisa mengingat wajahnya. Ia tidak menampik jika Embun itu wanita cantik dan kulitnya putih nan bersih. Hanya saja, ia tidak mengikuti serangkaian perawatan kecantikan saja seperti dirinya. Tubuhnya juga bagus, tinggi mirip model. Mungkin di bawah dirinya lima sentimeter-an. “Sayang, Gara adalah anak kita. Dia mirip kita.”Danar menghibur suasana hati istrinya yang tiba-tiba murung saat menelisik wajah Sagara. Se
Keesokan harinya, Gilang pergi mendatangi rumah Danar dengan perasaan yang berkecamuk. Ia bingung harus menyampaikan pesan atasannya pada Embun Ganita. Sebetulnya ada yang lebih membingungkan baginya. Mengapa tuannya memintanya untuk memecat Embun? Apa alasannya? “Mas Gilang rajin amat datang ke sini. Padahal, Tuan Danar sedang keluar kota loh,” sapa Mbak Nuri yang sedang asik menyiram bunga membantu tukang kebun di sana.Di sana terlihat ramai karena para kuli banguanan mulai berdatangan. Mereka sedang mengerjakan proyek renovasi rumah bagian belakang. “Ya udah, aku pulang lagi nih. Tapi jangan kangen ya Mbak,” jawab Gilang seraya memutar tubuhnya dengan gerakan lambat. Seketika ia tertawa menatap Mbak Nuri yang terlihat basah-basahan.“Mbak, mau mandi atau mau menyiram bunga? Hum, sepertinya Mbak Nuri butuh siraman kasih sayang deh,” kata Gilang sembari melewati Mbak Nuri begitu saja. “Terserah, Mas Gilang!” beo Mbak Nuri dengan tawa kecilnya. Ia menggelengkan kepalanya beberap
Selama menikah dengan Danar Yudistira, Embun tidak pernah melihat pria itu marah padanya. Wajahnya seolah datar dengan suara yang terkesan dingin. Pertama kali ia mendengar Danar membentaknya ialah sewaktu Danar dan Mita membawa bayinya di rumah sakit.Setelah berpikir lama, Embun tetap bersikukuh pada keputusannya. Ia akan tetap bertemu dengan Danar dan berbicara empat mata dengannya. Semoga saja pria itu luluh hatinya.Embun menjawab perkataan Gilang dengan tegas.“Tidak apa-apa, Pak Gilang! Aku akan bertemu dengan Tuan Danar. Aku hanya mencoba untuk meminta pertimbangan beliau terlebih dahulu.”Embun berusaha menguatkan hatinya. Ia hanya ingin berjuang mendapatkan anaknya kembali dengan cara apapun. Setidaknya, berada dekat dengannya meskipun tak bisa memilikinya. Atau bahkan mungkin suatu saat putranya hanya memangilnya dengan bibi pengasuh. Hal itu tak jadi masalah baginya. Gilang mendesah pelan mendengar jawaban Embun yang terkesan memaksa. Ia menjadi semakin penasaran akan hubu
Malam itu, ke dua babysitter yang menjaga Sagara tampak kewalahan sepeninggal Embun Ganita. Mereka tak habis pikir mengapa tiba-tiba saja atasannya memecat ibu susu Sagara. Mereka lantas menarik kesimpulan, pasti Embun telah berbuat kesalahan yang fatal hingga membuat Danar marah besar. Sial, mereka terpaksa harus bergadang demi menenangkan Tuan muda yang kembali menangis kejer. Padahal mereka baru saja menikmati ketenangan karena kehadiran ibu susu sangat membantu mereka dalam mengurus Sagara.“Gara, bobo! Oh, Gara bobo! Kalau tidak bobo digigit kebo, eh, nyamuk-” Maya bernyanyi dengan asal-asalan demi menidurkan Sagara. Bukan tanpa alasan, wanita muda itu sudah berusaha mengeluarkan seluruh tenaga dan pikirannya demi membuat anak itu diam. Sumpah demi apapun, Sagara memang termasuk anak yang menguji iman dan imun.Anak itu kembali tantrum ketika keinginannya tidak terpenuhi. Ya, keinginan terbesarnya ternyata ia ingin menyusu langsung pada sumber ASI. “May, liriknya ngaco nih! K
Malam itu Danar menjadi gelisah hingga ia enggan memejamkan mata. Ia tengah membayangkan hari esok yang akan dilalui oleh putra kecilnya. Isi kepala pria itu hanya putranya!Karena tak bisa tidur, pria berwajah dingin itu bangun lalu berjalan menuju nakas. Sekotak rokok yang tergolek di atas nakas menarik perhatiannya. Pria itu pun mengambil sebatang benda candu itu lalu berjalan menuju pintu balkon.Duduk bersilang kaki di atas kursi rotan, ia pun menyalakannya dan mulai menghisapnya sembari menatap hujan yang turun dari langit dengan begitu derasnya. Setidaknya, gulungan tembakau itu bisa mengurangi rasa frustrasi yang menderanya saat ini.Namun, udara malam itu sangat dingin akibat hujan besar disertai angin kencang. Rasa dinginnya sampai menusuk hingga ke tulang belulang. Ia pun memilih mengusak rokok terakhir itu ke dalam asbak, menyudahi kegiatannya menatap kesunyian malam dan masuk kembali ke dalam kamarnya.Danar pun membuka layar ponselnya. Ia membuka rekaman CCTV di kamar put
Setelah konser selesai, Levina berpikir mereka akan langsung pulang. Namun, Alby malah berbelok ke arah pantai. Tentu saja, pemuda itu tidak akan menyia-nyiakan waktu bersamanya. Ia tahu, sangat sulit mengajak Levina pergi berdua. Dan, ini adalah kesempatan emas baginya. “Aku mau pulang ke hotel,” kata Levina dengan ekspresi datarnya.Alby menoleh sambil tersenyum. “Kau serius? Setelah menghabiskan tiga jam mendengarkan konser tanpa ekspresi, aku yakin kau butuh udara segar.”Levina mendengus. “Konsernya bagus, hanya saja terlalu lama.”Alby terkekeh. “Oh? Lalu kenapa kau ketiduran?”Levina mendelik. “Aku tidak ketiduran.”“Aku harus menyenggolmu supaya kau tidak jatuh dari kursi,” balas Alby sambil menggoda.Levina mendecak, malas berdebat. Mereka berjalan menyusuri pasir pantai yang dingin, diterangi cahaya bulan yang memantul di permukaan laut. Suara deburan ombak menemani langkah mereka.Dari kejauhan, mereka seperti sepasang kekasih yang sedang menghabiskan waktu berduaan.Alby
Levina baru saja selesai minum obat ketika pintu kamar klinik terbuka. Ia mengangkat kepalanya dan terkejut melihat Roger berdiri di ambang pintu, wajahnya penuh penyesalan.“Levina…” suara Roger terdengar berat. “Aku minta maaf.”Levina terdiam. Perasaannya bercampur aduk. Ia masih ingat dengan jelas bagaimana Roger, dalam keadaan mabuk, mencoba melecehkannya di pantai. Jantungnya berdegup lebih cepat, bukan karena takut, tapi karena amarah yang masih mengendap.Sebelum Levina sempat merespons, sebuah bayangan melesat di hadapannya.BUGH!Alby, yang tadinya duduk santai di kursi dekat tempat tidur, kini telah menerjang Roger dengan tinjunya.Roger terhuyung ke belakang, terkejut. “Apa-apaan kau?!”Alby, yang biasanya penuh candaan, kini tampak berbeda. Rahangnya mengeras, matanya tajam menatap Roger dengan penuh kebencian. “Kau masih punya muka buat datang ke sini setelah apa yang kau lakukan pada Levina?”Levina terkesiap. Ia tidak menyangka Alby akan bereaksi seperti ini.Roger men
Tiba-tiba, seseorang menangkap tangan Levina.Levina refleks ingin menyerang, tapi pandangannya berputar. Dunia seolah bergoyang, napasnya pendek dan berat. Matanya bertemu dengan sepasang mata tajam milik Alby.“Levina!” suara Alby penuh kepanikan.Levina mencoba mengatakan sesuatu, tapi suaranya tersendat di tenggorokan. Matanya berkaca-kaca. Ia tidak bicara. Namun ini untuk pertama kalinya, Levina yang terkenal kuat, dingin dan misterius itu merasa ketakutan dan kepanikan. Jantungnya masih berdegup kencang, tapi kali ini bukan karena takut—melainkan karena keterkejutan yang luar biasa. Ia tidak menyangka jika Roger akan melecehkannya. Ia sangat syok. Insiden yang baru saja terjadi mengingatkannya pada memori tempo dulu yang pernah ia alami.Saat Levina masih duduk di bangku sekolah dasar, ia dilecehkan oleh gurunya di sekolah. Sejak saat itu ia berusaha mati-matian belajar bela diri.“Alby...?”Dalam hitungan detik, tubuh Levina ambruk ke tanah. Alby pun merasa panik. “Levina!” p
Levina menikmati suasana pantai di balkon kamar hotelnya. Ombak berderu pelan, langit keemasan mencerminkan kehangatan yang seharusnya ia rasakan di dalam hatinya. Namun, kenyataannya ia justru merasa gelisah. Sejak pertemuan pertamanya dengan Roger, putra teman ayahnya, ada sesuatu yang membuatnya tidak nyaman.Roger memang tampan, berpakaian necis, dan memiliki senyum yang bisa membuat wanita jatuh hati dalam hitungan detik. Tapi Levina tahu, di balik pesona itu ada sesuatu yang tidak beres. Dari cara Roger berbicara, dari tatapan matanya yang terlalu tajam dan gerakan tangannya yang selalu berusaha menyentuhnya, Levina merasa ia harus tetap waspada.Hari itu, Roger mengundangnya untuk makan malam di restoran seafood mewah di tepi pantai. Awalnya, Levina ingin menolak, tapi Roger terlalu gigih. “Hanya makan malam santai, Levina. Kau bisa anggap ini sebagai pertemanan,” ujarnya dengan nada santai.Levina akhirnya mengiyakan, namun tetap membatasi diri. Ia mengenakan dress biru sederha
Langit sore berpendar jingga ketika Alby memarkirkan mobilnya di halaman rumah Ana. Ia keluar dengan langkah ringan, meski ada kegelisahan yang bersembunyi di balik tatapan matanya. Rindu dalam dadanya tak bisa lagi ia bendung. Sejak pertemuan terakhirnya dengan Levina, pikirannya terus dipenuhi oleh bayangan wanita itu. Ia ingin mengajaknya pergi, mungkin sekadar mengobrol sambil menikmati kopi di kafe favoritnya.Setelah mengetuk pintu beberapa kali, Ana akhirnya membukakan pintu dengan senyum ramah. Namun, ekspresi wajahnya sedikit berubah ketika melihat Alby berdiri di ambang pintu.“Alby? Ada apa?” tanya Ana, meski sudah bisa menebak alasan kedatangannya.Alby mengusap tengkuknya, sedikit canggung. “Aku mau ketemu Levina, Tante. Dia ada?”Ana tersenyum tipis, lalu menghela napas pelan. “Levina sedang pulang kampung. Dia izin libur beberapa hari untuk mengunjungi keluarganya.”Alby tertegun. Matanya berkedip beberapa kali, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
Ana mulai mencurigai sesuatu. Beberapa kali ia melihat Alby dan Levina berbincang diam-diam. Tidak seperti biasanya. Mata Ana mengerut curiga, tetapi ia memilih diam. Hanya mengamati dari jauh.Pertama Alby mau menjemput Jeena di bandara. Tunggu, bukan pertama kali. Tapi setahun yang lalu, Alby juga mengantar Jeena ke bandara! Tentu saja, bukan karena tidak ada supir. Alby memang tengah melakukan pendekatan pada Levina. Seperti saat ini, saat yang lain sibuk mengobrol dengan Jeena di ruang tamu, di taman belakang, Alby dan Levina tengah berdiri berhadapan. Seperti biasa, perdebatan kecil pun terjadi di antara mereka.“Kau terlalu keras kepala,” ucap Alby sambil menyilangkan tangan.“Dan kau terlalu sok tahu,” balas Levina, menghela napas panjang.Alby mengangkat dagunya. “Aku hanya mengatakan yang sebenarnya. Kau tidak bisa terus bersembunyi di balik sikap dinginmu.”Levina terdiam. Tatapan matanya lebih lembut dari biasanya. “Alby, kenapa kau selalu ingin mengorek isi kepalaku?”“Kar
Levina menundukkan wajahnya, merasakan telapak tangannya yang mulai berkeringat. Ia tidak menyangka Alby akan mengatakannya secara gamblang seperti ini. Hatinya bergetar, tetapi pikirannya menolak. Ia tidak boleh percaya pada pria seperti Alby. Tidak boleh.Makan siang itu berakhir dalam keheningan. Jeena yang kembali dari toilet hanya mengangkat alis melihat atmosfer yang berbeda antara Levina dan Alby. Namun, ia memilih diam. Tidak mau mengusik apa yang sedang terjadi di antara mereka.Saat mereka kembali ke mobil, Levina tetap menjaga jarak dari Alby. Namun, pria itu tidak menyerah. Bahkan ketika mereka sudah tiba di depan rumah Ana, Alby masih bersikeras ingin berbicara.“Lev, aku serius dengan perasaanku,” ujarnya pelan, tetapi tegas.Levina menatapnya tajam. “Jangan buang waktumu, Alby. Aku tidak akan berubah pikiran.”“Aku tidak meminta jawaban sekarang. Aku akan menunggumu,” Alby tersenyum tipis. “Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku akan tetap ada. Sampai kapan pun.”Levina mena
Setahun berlaluBandara Internasional Soekarno-HattaJeena menghela napas lega saat pesawat mendarat dengan mulus di landasan. Setelah setahun di Manhattan, akhirnya ia pulang ke Indonesia. Selama ini ia hanya pulang beberapa kali ke Indo, selebihnya keluarganya yang rutin menjenguknya. Di sebelahnya, Levina tampak sibuk mengecek ponselnya, memastikan tidak ada pesan penting yang terlewat.“Akhirnya, pulang juga,” gumam Jeena sambil meregangkan tubuhnya. “Aku sudah kangen makanan Indonesia.”Levina hanya mengangguk tanpa banyak bicara. Sebenarnya, hatinya sedang sedikit gelisah, meski ia sendiri enggan mengakuinya. Kenapa? Karena orang yang menjemput mereka bukan sembarang orang.Alby.Pria itu sudah menunggu mereka di pintu kedatangan, bersandar santai di mobilnya dengan kacamata hitam bertengger di hidungnya. Dari kejauhan, ia terlihat seperti tokoh dalam film, menunggu dengan ekspresi tenang namun penuh keyakinan.Saat Jeena melihatnya, ia langsung tersenyum penuh arti. “Wah, wah…
Pasha memasuki kamar dengan langkah perlahan. Malam yang panjang baru saja ia lalui, mencoba menenangkan Selina yang nyaris mengakhiri hidupnya karena patah hati. Pikirannya masih kalut, rasa bersalah menggumpal di dadanya. Namun, saat matanya menangkap sosok Rosa yang tertidur di sofa, rasa bersalah itu semakin menyesakkan.Rambut panjang istrinya tergerai di atas bantal kecil. Napasnya terdengar teratur, wajahnya tampak begitu damai dalam tidur. Tapi Pasha tahu, Rosa pasti sudah lama menunggunya. Bahkan mungkin ia tertidur dalam kekhawatiran. Sejenak, ia hanya berdiri di ambang pintu, menatap wanita yang kini menjadi istrinya. Hatinya bergetar.Dengan hati-hati, ia melangkah mendekat, berlutut di samping sofa. Jarinya terulur, menyelipkan anak rambut Rosa yang jatuh ke wajahnya. Ia menghela napas panjang sebelum akhirnya berbisik, “Rosa…”Kelopak mata Rosa bergerak perlahan. Sejenak, ia tampak bingung sebelum akhirnya kesadarannya pulih. Tatapan mereka bertemu dalam keheningan. Tak a