Gedung pencakar langit Lysandros Group masih dipenuhi kesibukan meski hari mulai beranjak sore. Beberapa karyawan yang belum pulang masih sibuk menyelesaikan pekerjaan mereka. Lorong-lorong dan lift dipenuhi bisik-bisik tentang insiden Livia yang dibawa ke rumah sakit oleh sang direktur utama.Saat pintu lift terbuka di lantai dasar, sosok Gavin Lysandros melangkah masuk dengan wajah muram. Jas hitamnya sedikit kusut, rambut yang biasanya tertata rapi kini terlihat berantakan, dan dasi yang biasanya terpasang sempurna kini menghilang dari lehernya. Para karyawan yang kebetulan berada di lobby segera menghentikan percakapan mereka. Keheningan mendadak menyelimuti ruangan yang tadinya riuh dengan gosip."Selamat sore, Pak," ucap beberapa karyawan serempak sambil membungkuk hormat.Gavin hanya mengangguk singkat, tatapannya tajam dan dingin seperti biasa, namun siapapun yang mengenalnya dengan baik bisa melihat gurat kegelisahan di matanya. Langkahnya tegas menuju lift. Jari panjangnya m
Hampir tengah malam, dan Gavin Lysandros masih belum meninggalkan kantornya. Setelah berjam-jam duduk menyendiri di rooftop, memikirkan segala kemungkinan dan konsekuensi, ia kembali ke ruangannya di lantai 25. Gedung sudah hampir kosong, hanya beberapa petugas keamanan yang masih berjaga.Gavin melepas jasnya yang terasa berat, melemparkannya ke kursi kerjanya. Kemeja putihnya tampak kusut, dua kancing teratas terbuka memperlihatkan lehernya yang tegang. Ia berjalan menuju lemari khusus di sudut ruangan, menuangkan whisky ke dalam gelas kristal, dan menenggaknya dalam sekali teguk.Pikirannya kembali pada Livia dan bayi yang dikandungnya. Sebagai pria yang selalu merencanakan segala sesuatu dengan matang, situasi ini adalah mimpi buruk baginya. Atau setidaknya, seharusnya begitu. Tapi anehnya, selain kebingungan dan kekhawatiran, ada sedikit perasaan hangat yang muncul saat ia membayangkan akan memiliki seorang anak.Bella, ternyata kandungannya yang bermasalah untuk bisa memiliki an
Sementara itu, di sebuah apartemen di kawasan Kuningan, Bella Lysandros menggeliat manja dalam pelukan kekasih gelapnya, Daniel, mantan sopirnya yang 5 tahun lebih muda darinya. Sinar matahari pagi menerobos tirai tipis, menimpa tubuh mereka yang hanya terbalut selimut."Pagi, sayang," bisik Bella, mengecup pipi Daniel yang masih tertidur pulas.Daniel membuka matanya perlahan, tersenyum melihat wajah cantik Bella yang memandangnya dengan penuh kasih sayang. "Pagi, Nyonya Bella. Apa tidurmu nyenyak?""Menyebalkan sekali, sudah kubilang jangan panggil aku Nyonya, panggil Bella saja." Bella mengerucutkan bibir lalu menyeringai nakal, jari-jarinya menelusuri dada telanjang Daniel. "Setiap bersamamu, aku selalu tidur nyenyak, Sayang."Daniel tersenyum, menarik Bella lebih dekat ke dalam pelukannya. "Aku senang mendengarnya. Terutama setelah hadiah luar biasa yang kamu berikan semalam."Bella tertawa kecil, matanya berbinar mengingat ekspresi terkejut Daniel saat ia memberikan kunci mobil
Setelah menikmati waktu bersama di kamar mandi, Bella mulai bersiap-siap pulang. Ia mengenakan pakaian mahal, merapikan rambut dan wajahnya dengan teliti di depan cermin. Daniel duduk di tepi tempat tidur, mengamati setiap gerakan Bella dengan tatapan kagum."Kamu selalu cantik, dalam keadaan apapun," puji Daniel.Bella tersenyum, menyemprotkan parfum mahal ke pergelangan tangannya. "Terima kasih, Sayang. Aku harus pulang sekarang. Gavin mungkin sudah berangkat ke kantor, tapi aku tetap harus hati-hati."Daniel mengangguk, meski ada kilatan kecewa di matanya. "Aku mengerti. Kapan kita bisa bertemu lagi?""Segera," Bella mendekat, mengecup bibir Daniel. "Mungkin besok atau lusa. Aku akan meneleponmu."Bella mengambil tas tangannya, memeriksa isinya sekali lagi. "Kamu punya cukup uang untuk keperluan sehari-hari?""Ya, masih ada dari yang kamu berikan minggu lalu," jawab Daniel, meski sebenarnya uang itu sudah hampir habis. Ia tidak ingin terlihat terlalu bergantung pada Bella."Baiklah
Sore hari, Bella kembali ke apartemen Daniel. Kali ini tanpa penyamaran berlebihan, karena ia tahu kompleks apartemen sepi pada jam-jam kerja. Daniel menyambutnya dengan pelukan hangat dan ciuman lembut di bibir."Aku merindukanmu," bisik Daniel, menuntun Bella masuk ke apartemen."Kita baru berpisah beberapa jam," Bella tertawa kecil, namun terlihat senang dengan sambutan itu.Daniel tersenyum malu. "Tetap saja rasanya seperti berhari-hari."Bella meletakkan tasnya di sofa, lalu menatap Daniel dengan pandangan menggoda. "Jadi, bagaimana caramu akan membuatku senang sore ini?"Daniel menangkap maksud Bella, mendekat dan mulai menciumnya dengan lembut dan penuh gairah. Tangannya bergerak menelusuri lekuk tubuh Bella, membuat wanita itu mendesah pelan."Bagaimana kalau kita pindah ke kamar?" bisik Daniel di telinga Bella.Bella mengangguk tanpa kata, membiarkan Daniel menuntunnya ke kamar tidur. Di sana, mereka berbagi momen intim yang penuh gairah lagi. Daniel memastikan Bella mendapat
Setelah para investor pergi, Gavin bergegas kembali ke ruangannya. Melepas jas dan melonggarkan dasi, ia menghempaskan tubuhnya ke kursi, memijat pelipis yang berdenyut. Bella, istrinya, bahkan tidak muncul dalam benaknya saat ini. Pernikahan mereka memang sudah lama kehilangan kehangatan, terutama setelah kegagalan berulang untuk memiliki anak dan terungkapnya perselingkuhan.Ia meraih ponsel, memeriksa jam. Pukul 3 sore. Gavin menekan tombol interkom."Pak Anto," panggil Gavin pada sopir pribadinya. "Anda bisa standby di kantor. Saya ada urusan pribadi dan akan menyetir sendiri.""Baik, Pak," jawab Anto dari seberang.Gavin menghela napas panjang, bangkit dan mengenakan kembali jasnya. Ia merapikan penampilannya di cermin, lalu mengambil kunci mobil dari laci.Mercedes hitam Gavin meluncur mulus membelah jalan Jakarta yang padat. Ia mengemudi dalam diam, radio sengaja tidak dinyalakan. Matanya menatap lurus ke depan, namun pikirannya berkelana."Apa yang sedang kulakukan?" gumamnya
Livia menatap Gavin yang masih duduk di kursi sebelah ranjang. "Ma-maaf, boleh aku bertanya sesuatu?" kata Livia."Hem, apa?" "Mengapa Pak Gavin menginginkan bayi ini?"Gavin terdiam sejenak, pandangannya menerawang. "Aku selalu ingin punya anak," jawabnya jujur. "Aku dan istriku ... kami sudah mencoba selama bertahun-tahun, tapi tidak pernah berhasil. Dan kini ... kamu mengandung anakku.""Aku benar-benar tidak menyangka akan hamil," ujar Livia pelan. "Dan aku sangat terpukul ketika mengetahui aku hamil, padahal sebelumnya Bapak bilang man ... dul," "Mungkin ini takdir." ujar Gavin, mengangkat bahunya sekilas. "Hasil tes kesuburanku tertukar, dan belakangan baru diketahui kalau aku fertile.""Jadi, saat itu Pak Gavin tidak membohongiku dengan mengatakan mandul?""Tentu saja tidak. Akupun sama kagetnya denganmu. Ini benar-benar diluar dugaan."Livia menekan tombol control ranjang, menaikan sandaran. Ia duduk dengan santai."Berapa lama kamu harus di rumah sakit?" tanya Gavin."Dokt
Di Ballroom mewah Hotel Mulia, acara amal tahunan untuk penggalangan dana pendidikan anak kurang mampu sedang berlangsung meriah. Panggung besar di ujung ruangan dihiasi rangkaian bunga putih dan kristal yang berkilauan. Para tamu wanita berpakaian gaun malam elegan, sementara para pria mengenakan tuksedo atau jas formal terbaik mereka.Bella melangkah masuk dengan anggun, mengenakan gaun merah marun yang menjuntai hingga menyentuh lantai. Rambut hitamnya disanggul tinggi dengan beberapa helai dibiarkan jatuh membingkai wajahnya yang dirias sempurna. Kalung berlian di lehernya berkilau tertimpa cahaya lampu kristal, menarik perhatian beberapa pasang mata.Matanya menyapu ruangan, mencari wajah-wajah familiar. Beberapa orang tersenyum dan mengangguk padanya, yang dibalas Bella dengan senyuman sopan. Di dalam hati, ia merutuki Gavin. Harusnya mereka datang bersama sebagai pasangan, memamerkan pernikahan harmonis yang sebenarnya hanya fasad belaka."Bella, sayang!" Sebuah suara yang suda
Setelah menutup telepon, Livia masih duduk termenung di tepi tempat tidur. Perubahan hidupnya begitu drastis dan tiba-tiba, membuatnya kadang merasa seperti sedang bermimpi.Suara ketukan di pintu membuyarkan lamunannya. "Liv? Boleh aku masuk?" suara Elena terdengar dari balik pintu."Tentu, El. Masuklah."Elena masuk dengan menenteng dua cangkir teh hangat. "Barusan Mbak Amina membuatkan kita ini." Ia menyodorkan salah satu cangkir kepada Livia."Terima kasih," Livia menerima cangkir itu, menghirup aromanya yang menenangkan. "Sudah mencoba kasurmu? Empuk sekali, kan?"Elena terkekeh, duduk di sebelah Livia. "Seperti tidur di atas awan," jawabnya sambil menyeruput tehnya perlahan. "Tadi kamu menelepon Gavin?"Livia mengangguk. "Dia menyarankan agar aku berhenti bekerja, tapi aku bilang aku ingin tetap bekerja sampai kandunganku berusia enam bulan.""Dan dia setuju?""Iya, meski tampak sedikit khawatir."Elena menatap sekeliling kamar mewah itu, lalu kembali menatap Livia dengan senyum
Belum sempat Livia dan Elena menjelajahi rumah baru mereka, sebuah suara lembut mengalihkan perhatian keduanya."Selamat malam, Nona."Seorang wanita paruh baya dengan senyum ramah berdiri di ambang pintu ruang tengah. Ia mengenakan seragam pelayan berwarna abu-abu dengan celemek putih bersih. Rambutnya yang mulai beruban diikat rapi ke belakang."Tuan Gavin sudah memberitahu kedatangan Nona-nona malam ini," wanita itu membungkuk sopan. "Mari, saya tunjukkan kamar yang sudah saya persiapkan untuk Nona-nona."Elena melirik Livia, alisnya terangkat takjub. "Kita bahkan punya pelayan pribadi?" bisiknya.Amina menuntun mereka menaiki tangga menuju lantai dua. Koridor dengan dinding putih bersih dan beberapa lukisan pemandangan terbentang di hadapan mereka. "Ada empat kamar tidur di lantai ini," jelas Amina sembari berjalan. "Dua kamar menghadap ke depan dengan pemandangan taman depan dan samping, dua lainnya menghadap ke belakang dengan pemandangan taman belakang. Semua kamar memiliki ka
Jemari Livia sedikit bergetar saat mencari kontak Gavin. Haruskah ia menceritakan tentang Bella yang melabraknya? Tapi itu hanya akan menambah beban pikiran Gavin yang sedang sibuk dengan perusahaannya di Singapura."Halo?" suara Gavin terdengar dari seberang. "Livia?""Hai, Gavin," Livia berusaha terdengar normal, meski hatinya masih berdebar kencang mengingat kejadian tadi. "Maaf mengganggumu. Apa kamu sedang sibuk?""Tidak, aku baru selesai makan malam. Ada apa?"Livia menarik napas dalam-dalam. "Aku ... aku sudah memutuskan untuk menerima tawaranmu. Aku dan Elena akan menempati rumah itu, kalau masih boleh."Ada jeda sejenak, kemudian Livia bisa mendengar senyum dalam suara Gavin."Tentu saja boleh," jawab Gavin, nada suaranya terdengar lega dan gembira. "Kapan kalian akan pindah?""Mungkin malam ini juga, kalau tidak keberatan.""Malam ini?" Gavin terdengar terkejut. "Keputusan yang sangat mendadak?"Livia melirik Elena yang mengangguk memberi dukungan. "Tidak ada alasan khusus.
Jam kerja berakhir, lampu-lampu ruangan satu per satu dimatikan. Livia membereskan pekerjaannya dengan gerakan lambat, masih memikirkan gosip yang ia dengar siang tadi. Sementara Elena menunggunya di pintu, seperti biasa."Siap pulang?" tanya Elena sembari tersenyum hangat.Livia mengangguk, menyelempangkan tasnya. "Ayo kita pulang tuan putri," Elena tertawa kecil, mengaitkan lengannya pada lengan Livia. Mereka melangkah meninggalkan gedung perkantoran. Langit sore mulai memerah, memberikan nuansa hangat pada jalanan kota yang mulai padat dengan kendaraan jam pulang kerja. Livia dan Elena berjalan berdampingan, sesekali tertawa kecil membicarakan hal-hal ringan, berusaha melupakan gosip yang menggelisahkan."Jadi, kamu sudah memikirkan tawaran dia soal rumah itu?" tanya Elena."Hmm, aku—""HEI, PELACUR!"Teriakan itu membekukan langkah Livia dan Elena. Keduanya menoleh ke sumber suara dan mendapati seorang wanita cantik melangkah cepat ke arah mereka dengan wajah merah padam penuh a
Kantin kantor selalu ramai saat jam makan siang. Livia mengambil nampan, mengantri di belakang puluhan karyawan lainnya. Matanya mencari-cari sosok Elena, dan menemukan sahabatnya itu sudah duduk di meja pojok dekat jendela."Maaf, aku telat, keasyikan berbincang di telepon," kata Livia, meletakkan nampan berisi nasi, sayur asem, dan ayam goreng di meja.Elena mengibaskan tangannya santai. "Tidak apa-apa. Memangnya telepon dari siapa? Kelihatannya penting sekali sampai kamu terlambat makan siang."Wajah Livia merona, ia menunduk, berpura-pura sibuk dengan makanannya. "Gavin," bisiknya pelan.Mata Elena melebar. "Wow! CEO kita yang sedang di Singapura itu menyempatkan diri meneleponmu di tengah kesibukannya? Manis sekali!""Ssst! Jangan keras-keras!" Livia menyikut lengan Elena, matanya waspada melirik ke sekitar. "Dia hanya menanyakan kabar dan mengingatkanku untuk makan dan minum vitamin.""Ya, ya, tentu saja," goda Elena, menyendokkan nasi ke mulutnya. "Kalian seperti pasangan yang
Livia menekan tombol lift menuju lantai 25, tempat ruangan Gavin berada. Jam tangannya menunjukkan pukul 7:30—tiga puluh menit lebih awal dari jam masuk normal. Entah mengapa, pagi ini ia bangun lebih pagi dari biasanya, mungkin karena kegembiraan tentang rumah barunya masih menggelayuti pikirannya.Saat pintu lift terbuka, lorong masih sepi. Langkah kakinya bergema di lantai yang mengkilap. Livia berhenti sejenak di depan pintu kaca yang memisahkan area eksekutif—tempat ruangan Gavin berada—dengan area staff lainnya. Matanya secara otomatis mencari ke arah pintu berplakat "Direktur Utama" di ujung koridor."Apa dia sudah berangkat?" bisiknya pada diri sendiri, melangkah perlahan mendekati ruangan Gavin.Dengan hati-hati, Livia mengintip melalui jendela kaca yang sedikit tertutup tirai. Ruangan tampak gelap dan kosong, tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya. Meja kerja yang biasanya dipenuhi dokumen kini tertata rapi, komputer dalam keadaan mati, dan kursi kerja Gavin kosong.Li
Di dalam kamar, Livia mengganti dress putihnya dengan piyama bermotif bunga-bunga. Ia duduk di tepi ranjang, mata menerawang ke arah langit-langit kamar. Tangannya masih menggenggam kunci rumah pemberian Gavin, jemarinya mengelus permukaan logam itu dengan penuh kehati-hatian."Apakah ini mimpi?" gumamnya pada diri sendiri.Livia berbaring, menarik selimut tipis hingga sebatas dada. Pikirannya melayang pada kejadian beberapa jam lalu—wajah Gavin yang tersenyum lembut padanya, tatapan matanya yang penuh perhatian, genggaman tangannya yang hangat. Jantungnya berdebar kencang hanya dengan mengingat semua itu."Ah, tapi aku harus sadar diri dan tidak boleh ke-ge-er-an," bisiknya, memperingatkan diri sendiri. "Gavin melakukan semua ini hanya karena aku mengandung anaknya, bukan karena dia menyukaiku."Livia memiringkan tubuhnya, memandang tembok kamar yang sudah menguning. Matanya mulai terasa berat."Tentu saja itu tidak mungkin terjadi," bisiknya lagi, suaranya semakin pelan. "Pria seper
Setelah berbincang kesana kemari, tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 10.00 malam. Livia memutuskan untuk pulang. Mereka masuk ke dalam mobil. Sepanjang perjalanan, keduanya lebih banyak diam. Sesekali Livia melirik ke arah Gavin yang fokus menyetir, senyum tipis tersungging di bibirnya saat mengingat kejadian beberapa jam lalu.Setelah 40 menit, mobil Gavin tiba di area basement. Gavin menghentikan mobilnya di tempat parkir yang sepi. Lampu basement yang temaram menyinari wajah keduanya. Sebelum Livia turun, Gavin meraih tangannya dengan lembut."Livia," suaranya dalam dan penuh keyakinan, "kumohon pertimbangkan lagi untuk menempati rumah itu. Aku benar-benar ingin kamu dan bayi kita tinggal di tempat yang aman dan layak."Livia menghela napas panjang, mata hazelnya bertemu dengan mata cokelat Gavin. Jemarinya memainkan ujung dress putihnya dengan gugup."Terima kasih banyak, Gavin. Sungguh, ini terlalu berlebihan," ucapnya pelan. "Tapi kalau hanya untuk menempati ... kurasa aku
Begitu pintu utama terbuka, Livia disambut oleh interior yang elegan—perpaduan gaya klasik dan modern, dengan cat dinding cream yang hangat dan lantai marmer putih yang mengkilap."Ini rumah siapa?" tanya Livia sekali lagi, matanya berkeliling takjub melihat lukisan-lukisan mahal yang terpajang di dinding.Gavin hanya tersenyum misterius, tidak menjawab pertanyaan Livia. Ia menuntun Livia melalui lorong pendek menuju ruang makan. Dua orang pelayan berseragam rapi langsung membungkuk hormat begitu melihat kedatangan mereka."Selamat malam, Tuan Lysandros," sapa salah satu pelayan. "Semua sudah disiapkan sesuai permintaan Anda.""Terima kasih, Amina," jawab Gavin singkat.Ruang makan itu tidak terlalu besar namun sangat mengesankan. Meja makan untuk dua orang terletak di tengah, dihiasi dengan lilin-lilin kecil dan rangkaian bunga lily putih—menciptakan suasana romantis yang sempurna. Jendela-jendela besar menghadap ke taman belakang yang diterangi lampu-lampu taman."Silakan duduk," Pe