Share

Bab 34

Author: Merisa storia
last update Last Updated: 2025-03-13 15:57:05

Sementara itu, di sebuah apartemen di kawasan Kuningan, Bella Lysandros menggeliat manja dalam pelukan kekasih gelapnya, Daniel, mantan sopirnya yang 5 tahun lebih muda darinya. Sinar matahari pagi menerobos tirai tipis, menimpa tubuh mereka yang hanya terbalut selimut.

"Pagi, sayang," bisik Bella, mengecup pipi Daniel yang masih tertidur pulas.

Daniel membuka matanya perlahan, tersenyum melihat wajah cantik Bella yang memandangnya dengan penuh kasih sayang. "Pagi, Nyonya Bella. Apa tidurmu nyenyak?"

"Menyebalkan sekali, sudah kubilang jangan panggil aku Nyonya, panggil Bella saja." Bella mengerucutkan bibir lalu menyeringai nakal, jari-jarinya menelusuri dada telanjang Daniel. "Setiap bersamamu, aku selalu tidur nyenyak, Sayang."

Daniel tersenyum, menarik Bella lebih dekat ke dalam pelukannya. "Aku senang mendengarnya. Terutama setelah hadiah luar biasa yang kamu berikan semalam."

Bella tertawa kecil, matanya berbinar mengingat ekspresi terkejut Daniel saat ia memberikan kunci mobil
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Ky Store
cepet lah g ush bertele dong2 ah jdi greget sndiri
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

  • Dicampakkan Calon Suami, Dikejar Tuan Kaya Raya   Bab 35

    Setelah menikmati waktu bersama di kamar mandi, Bella mulai bersiap-siap pulang. Ia mengenakan pakaian mahal, merapikan rambut dan wajahnya dengan teliti di depan cermin. Daniel duduk di tepi tempat tidur, mengamati setiap gerakan Bella dengan tatapan kagum."Kamu selalu cantik, dalam keadaan apapun," puji Daniel.Bella tersenyum, menyemprotkan parfum mahal ke pergelangan tangannya. "Terima kasih, Sayang. Aku harus pulang sekarang. Gavin mungkin sudah berangkat ke kantor, tapi aku tetap harus hati-hati."Daniel mengangguk, meski ada kilatan kecewa di matanya. "Aku mengerti. Kapan kita bisa bertemu lagi?""Segera," Bella mendekat, mengecup bibir Daniel. "Mungkin besok atau lusa. Aku akan meneleponmu."Bella mengambil tas tangannya, memeriksa isinya sekali lagi. "Kamu punya cukup uang untuk keperluan sehari-hari?""Ya, masih ada dari yang kamu berikan minggu lalu," jawab Daniel, meski sebenarnya uang itu sudah hampir habis. Ia tidak ingin terlihat terlalu bergantung pada Bella."Baiklah

    Last Updated : 2025-03-13
  • Dicampakkan Calon Suami, Dikejar Tuan Kaya Raya   Bab 36

    Sore hari, Bella kembali ke apartemen Daniel. Kali ini tanpa penyamaran berlebihan, karena ia tahu kompleks apartemen sepi pada jam-jam kerja. Daniel menyambutnya dengan pelukan hangat dan ciuman lembut di bibir."Aku merindukanmu," bisik Daniel, menuntun Bella masuk ke apartemen."Kita baru berpisah beberapa jam," Bella tertawa kecil, namun terlihat senang dengan sambutan itu.Daniel tersenyum malu. "Tetap saja rasanya seperti berhari-hari."Bella meletakkan tasnya di sofa, lalu menatap Daniel dengan pandangan menggoda. "Jadi, bagaimana caramu akan membuatku senang sore ini?"Daniel menangkap maksud Bella, mendekat dan mulai menciumnya dengan lembut dan penuh gairah. Tangannya bergerak menelusuri lekuk tubuh Bella, membuat wanita itu mendesah pelan."Bagaimana kalau kita pindah ke kamar?" bisik Daniel di telinga Bella.Bella mengangguk tanpa kata, membiarkan Daniel menuntunnya ke kamar tidur. Di sana, mereka berbagi momen intim yang penuh gairah lagi. Daniel memastikan Bella mendapat

    Last Updated : 2025-03-14
  • Dicampakkan Calon Suami, Dikejar Tuan Kaya Raya   Bab 37

    Setelah para investor pergi, Gavin bergegas kembali ke ruangannya. Melepas jas dan melonggarkan dasi, ia menghempaskan tubuhnya ke kursi, memijat pelipis yang berdenyut. Bella, istrinya, bahkan tidak muncul dalam benaknya saat ini. Pernikahan mereka memang sudah lama kehilangan kehangatan, terutama setelah kegagalan berulang untuk memiliki anak dan terungkapnya perselingkuhan.Ia meraih ponsel, memeriksa jam. Pukul 3 sore. Gavin menekan tombol interkom."Pak Anto," panggil Gavin pada sopir pribadinya. "Anda bisa standby di kantor. Saya ada urusan pribadi dan akan menyetir sendiri.""Baik, Pak," jawab Anto dari seberang.Gavin menghela napas panjang, bangkit dan mengenakan kembali jasnya. Ia merapikan penampilannya di cermin, lalu mengambil kunci mobil dari laci.Mercedes hitam Gavin meluncur mulus membelah jalan Jakarta yang padat. Ia mengemudi dalam diam, radio sengaja tidak dinyalakan. Matanya menatap lurus ke depan, namun pikirannya berkelana."Apa yang sedang kulakukan?" gumamnya

    Last Updated : 2025-03-14
  • Dicampakkan Calon Suami, Dikejar Tuan Kaya Raya   Bab 38

    Livia menatap Gavin yang masih duduk di kursi sebelah ranjang. "Ma-maaf, boleh aku bertanya sesuatu?" kata Livia."Hem, apa?" "Mengapa Pak Gavin menginginkan bayi ini?"Gavin terdiam sejenak, pandangannya menerawang. "Aku selalu ingin punya anak," jawabnya jujur. "Aku dan istriku ... kami sudah mencoba selama bertahun-tahun, tapi tidak pernah berhasil. Dan kini ... kamu mengandung anakku.""Aku benar-benar tidak menyangka akan hamil," ujar Livia pelan. "Dan aku sangat terpukul ketika mengetahui aku hamil, padahal sebelumnya Bapak bilang man ... dul," "Mungkin ini takdir." ujar Gavin, mengangkat bahunya sekilas. "Hasil tes kesuburanku tertukar, dan belakangan baru diketahui kalau aku fertile.""Jadi, saat itu Pak Gavin tidak membohongiku dengan mengatakan mandul?""Tentu saja tidak. Akupun sama kagetnya denganmu. Ini benar-benar diluar dugaan."Livia menekan tombol control ranjang, menaikan sandaran. Ia duduk dengan santai."Berapa lama kamu harus di rumah sakit?" tanya Gavin."Dokt

    Last Updated : 2025-03-15
  • Dicampakkan Calon Suami, Dikejar Tuan Kaya Raya   Bab 39

    Di Ballroom mewah Hotel Mulia, acara amal tahunan untuk penggalangan dana pendidikan anak kurang mampu sedang berlangsung meriah. Panggung besar di ujung ruangan dihiasi rangkaian bunga putih dan kristal yang berkilauan. Para tamu wanita berpakaian gaun malam elegan, sementara para pria mengenakan tuksedo atau jas formal terbaik mereka.Bella melangkah masuk dengan anggun, mengenakan gaun merah marun yang menjuntai hingga menyentuh lantai. Rambut hitamnya disanggul tinggi dengan beberapa helai dibiarkan jatuh membingkai wajahnya yang dirias sempurna. Kalung berlian di lehernya berkilau tertimpa cahaya lampu kristal, menarik perhatian beberapa pasang mata.Matanya menyapu ruangan, mencari wajah-wajah familiar. Beberapa orang tersenyum dan mengangguk padanya, yang dibalas Bella dengan senyuman sopan. Di dalam hati, ia merutuki Gavin. Harusnya mereka datang bersama sebagai pasangan, memamerkan pernikahan harmonis yang sebenarnya hanya fasad belaka."Bella, sayang!" Sebuah suara yang suda

    Last Updated : 2025-03-15
  • Dicampakkan Calon Suami, Dikejar Tuan Kaya Raya   Bab 40

    Bella sedikit panik mendengar pertanyaan Bu Lina. Wajahnya menampilkan orang bersalah. Namun, ia langsung berusaha terlihat setenang mungkin. "Oh, hanya teman," jawab Bella cepat, memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas. "Menanyakan tentang acara ini."Bu Lina menatapnya dengan tatapan penuh selidik, tapi tidak mengatakan apa-apa. Perhatiannya kembali ke panggung, di mana kini seorang pria dalam balutan jas hitam mengumumkan dimulainya sesi lelang amal."Item pertama malam ini adalah karya seni eksklusif dari maestro Affandi," pria itu mengumumkan dengan penuh semangat. "Lukisan langka ini memiliki nilai historis dan artistik yang sangat tinggi. Kita mulai dari harga lima puluh juta rupiah."Tangan-tangan mulai terangkat, menandakan tawaran yang semakin tinggi. Bella tidak terlalu memperhatikan, pikirannya melayang pada Daniel dan Gavin. Pada kehidupan rumah tangganya yang berantakan dan perselingkuhan yang kini menjadi pelampiasan. Ia bahkan tidak menyadari bahwa Bu Lina telah meng

    Last Updated : 2025-03-16
  • Dicampakkan Calon Suami, Dikejar Tuan Kaya Raya   Bab 41

    "Tidak, aku hanya ..." Gavin terdiam sejenak, menyadari betapa cerobohnya dirinya muncul di tengah malam begini. "Aku belum meminta nomor ponselmu. Kupikir aku perlu cara untuk menghubungimu, untuk ... memantau kondisimu dan bayi."Pipi Livia sedikit memerah. "Oh," gumamnya pelan, meraih ponselnya dari meja samping tempat tidur. "Berikan ponsel Bapak."Gavin menyerahkan ponselnya pada Livia, yang dengan cepat menyimpan nomornya. Ia mengembalikan ponsel itu pada Gavin, jari mereka bersentuhan sekilas, menimbulkan sensasi aneh di dada Gavin."Bagaimana perasaanmu? Sudah merasa lebih baik?" Gavin duduk di tepi tempat tidur, suaranya masih dalam bisikan.Livia mengangguk. "Aku sudah merasa lebih baik. Tadi, jam 07.00 malam, Dokter berkunjung dan memeriksa. Ia bilang besok aku sudah boleh pulang.""Aku senang kamu sudah lebih baik," bisik Gavin, suaranya lembut nyaris tak terdengar. "Besok setelah pulang, pastikan kamu beristirahat dengan cukup."Gavin mendekatkan tubuhnya sedikit, tatapan

    Last Updated : 2025-03-16
  • Dicampakkan Calon Suami, Dikejar Tuan Kaya Raya   Bab 42

    Di tempat acara amal, Bu Lina mengajak Bella pulang bersama, tapi Bella menolak dengan sopan, mengatakan mobilnya sudah diparkir di halaman hotel. Bu Lina mengangguk maklum, lalu sebelum masuk ke mobilnya, dia menepuk bahu Bella dengan lembut."Ingat, Mama dan Papa sangat mengharapkan cucu," ucap Bu Lina dengan wajah penuh harap. "Jangan terlalu sibuk dengan kegiatan masing-masing. Kalian harus lebih sering menghabiskan waktu bersama. Berliburlah ke luar negri."Bella tersenyum tipis, tetapi hatinya lama-kelamaan menjadi kesal. "Kami akan terus berusaha, Ma," jawabnya lirih. "Doakan saja."Sesampainya di dalam mobil, Bella langsung mencoba menghubungi Gavin. Nada sambung terdengar beberapa kali, namun tidak ada jawaban. Dia mencoba lagi, dan kali ini panggilan langsung dialihkan ke kotak suara. Gavin telah mematikan ponselnya."Sial!" Bella mengumpat pelan, melempar ponselnya ke kursi penumpang. Ada kemarahan yang mulai membakar dadanya. Berbagai prasangka muncul dalam pikirannya. Apa

    Last Updated : 2025-03-17

Latest chapter

  • Dicampakkan Calon Suami, Dikejar Tuan Kaya Raya   Bab 80

    Elena menyetir mobil Toyota Corolla 2010 miliknya dengan hati-hati menembus kemacetan Jakarta yang mulai padat. Radio memutar lagu-lagu pop yang menjadi favoritnya."Setidaknya dia aman di rumah itu," gumam Elena. "Bella pasti tidak akan tahu di mana Livia tinggal."Perjalanan dari rumah Livia ke kantor memakan waktu hampir satu jam karena macet, namun Elena tidak keberatan. Rasa lega mengetahui sahabatnya aman jauh mengalahkan kelelahan akibat perjalanan panjang.Tiba di area parkir Lysandros Group, Elena memarkirkan mobilnya dengan hati-hati. Dari kejauhan, ia bisa melihat sekelompok karyawan wanita berkumpul di dekat lobi, berbisik-bisik sembari sesekali tertawa.Saat Elena melewati mereka, potongan percakapan mereka terdengar jelas."... katanya sidang perceraiannya kemarin.""Dengar-dengar, Pak Gavin yang menggugat cerai.""Wah, bos kita jadi duda nih. Kesempatan dong!"Elena menggeleng-gelengkan kepala, memilih untuk mengabaikan gosip tersebut dan langsung menuju lift. Di dalam

  • Dicampakkan Calon Suami, Dikejar Tuan Kaya Raya   Bab 79

    Keesokan harinya, mentari Jakarta baru saja mengintip dari ufuk timur ketika Gavin sudah bersiap untuk kembali ke Singapura. Koper hitam elegannya telah tertata rapi di dekat pintu. Pria itu mengenakan kemeja biru muda yang dipadukan dengan celana bahan berwarna gelap, simpel namun tetap memancarkan aura maskulin dan wibawa yang tidak terbantahkan."Penerbangan pukul 10 sudah menunggu," ujarnya pada Livia yang berdiri di dekat tangga. "Aku harus kembali ke kantor untuk mengurus beberapa hal penting. Ekspansi bisnis di Singapura tidak bisa aku tinggalkan terlalu lama."Livia mengangguk pelan, jemarinya menggenggam ujung cardigan kremnya. Ada kekhawatiran yang tidak dapat disembunyikan dari matanya yang redup. "Kapan kamu akan kembali?""Paling lambat dua minggu lagi, tepat sebelum sidang terakhir," Gavin meletakkan kedua tangannya di bahu Livia, menatapnya dengan lekat. "Kamu jangan khawatir. Aku sudah menugaskan pengawal profesional yang akan menjagamu 24 jam. Mereka akan tiba sore in

  • Dicampakkan Calon Suami, Dikejar Tuan Kaya Raya   Bab 78

    Vanya tampak sedikit gugup, tidak menyangka pihak Gavin memiliki bukti sebanyak itu. "Yang Mulia, kami perlu waktu untuk memeriksa bukti-bukti ini sebelum memberikan tanggapan."Hakim mengangguk. "Baiklah, sidang akan ditunda selama 30 menit untuk memberikan kesempatan kepada kuasa hukum termohon memeriksa bukti yang diajukan pemohon."Setelah jeda, sidang kembali dilanjutkan. Vanya tampak lebih tenang, meski ada kekhawatiran di wajahnya."Yang Mulia, meskipun ada beberapa bukti yang diajukan pihak pemohon, klien kami tetap menolak perceraian ini dan mengusulkan untuk melakukan mediasi terlebih dahulu," ujar Vanya.Hakim beralih pada Gavin. "Tuan Lysandros, bagaimana tanggapan Anda terhadap usulan mediasi?"Gavin berdiri dengan ekspresi tegas. "Yang Mulia, dengan segala hormat, saya menolak mediasi. Pernikahan ini sudah tidak dapat diselamatkan. Kepercayaan sudah hancur, dan kami telah hidup terpisah selama lebih dari enam bulan." Bella mendengus keras, matanya menyala penuh kebencia

  • Dicampakkan Calon Suami, Dikejar Tuan Kaya Raya   Bab 77

    Dua minggu berlalu dengan cepat. Pagi itu, cahaya matahari Jakarta menembus jendela kamar Livia, membangunkannya dari tidur yang tidak nyenyak. Ia melirik jam di dinding—pukul 6 pagi. Hari ini adalah hari persidangan perceraian Gavin dan Bella.Livia bangkit perlahan, merasakan tendangan lembut dari perutnya yang kini semakin membesar. "Selamat pagi juga, sayang," bisiknya sambil mengelus perutnya.Suara ketukan di pintu mengalihkan perhatiannya. "Nona Livia? Tuan Gavin sudah datang. Beliau menunggu di ruang makan," suara Amina terdengar dari balik pintu."Baik, Mbak. Terima kasih. Saya akan segera turun."Sebelum menghadapi persidangan yang pastinya akan rumit, Gavin mampir untuk menemui Livia pagi ini. Livia bergegas mandi dan bersiap, memilih gaun sederhana berwarna biru muda yang cukup longgar untuk menutupi perutnya. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum melangkah keluar kamar.Di ruang makan, Gavin duduk sembari menikmati secangkir kopi. Pria tampan itu mengenakan setelan jas fo

  • Dicampakkan Calon Suami, Dikejar Tuan Kaya Raya   Bab 76

    Setelah menutup telepon, Livia masih duduk termenung di tepi tempat tidur. Perubahan hidupnya begitu drastis dan tiba-tiba, membuatnya kadang merasa seperti sedang bermimpi.Suara ketukan di pintu membuyarkan lamunannya. "Liv? Boleh aku masuk?" suara Elena terdengar dari balik pintu."Tentu, El. Masuklah."Elena masuk dengan menenteng dua cangkir teh hangat. "Barusan Mbak Amina membuatkan kita ini." Ia menyodorkan salah satu cangkir kepada Livia."Terima kasih," Livia menerima cangkir itu, menghirup aromanya yang menenangkan. "Sudah mencoba kasurmu? Empuk sekali, kan?"Elena terkekeh, duduk di sebelah Livia. "Seperti tidur di atas awan," jawabnya sambil menyeruput tehnya perlahan. "Tadi kamu menelepon Gavin?"Livia mengangguk. "Dia menyarankan agar aku berhenti bekerja, tapi aku bilang aku ingin tetap bekerja sampai kandunganku berusia enam bulan.""Dan dia setuju?""Iya, meski tampak sedikit khawatir."Elena menatap sekeliling kamar mewah itu, lalu kembali menatap Livia dengan senyum

  • Dicampakkan Calon Suami, Dikejar Tuan Kaya Raya   Bab 75

    Belum sempat Livia dan Elena menjelajahi rumah baru mereka, sebuah suara lembut mengalihkan perhatian keduanya."Selamat malam, Nona."Seorang wanita paruh baya dengan senyum ramah berdiri di ambang pintu ruang tengah. Ia mengenakan seragam pelayan berwarna abu-abu dengan celemek putih bersih. Rambutnya yang mulai beruban diikat rapi ke belakang."Tuan Gavin sudah memberitahu kedatangan Nona-nona malam ini," wanita itu membungkuk sopan. "Mari, saya tunjukkan kamar yang sudah saya persiapkan untuk Nona-nona."Elena melirik Livia, alisnya terangkat takjub. "Kita bahkan punya pelayan pribadi?" bisiknya.Amina menuntun mereka menaiki tangga menuju lantai dua. Koridor dengan dinding putih bersih dan beberapa lukisan pemandangan terbentang di hadapan mereka. "Ada empat kamar tidur di lantai ini," jelas Amina sembari berjalan. "Dua kamar menghadap ke depan dengan pemandangan taman depan dan samping, dua lainnya menghadap ke belakang dengan pemandangan taman belakang. Semua kamar memiliki ka

  • Dicampakkan Calon Suami, Dikejar Tuan Kaya Raya   Bab 74

    Jemari Livia sedikit bergetar saat mencari kontak Gavin. Haruskah ia menceritakan tentang Bella yang melabraknya? Tapi itu hanya akan menambah beban pikiran Gavin yang sedang sibuk dengan perusahaannya di Singapura."Halo?" suara Gavin terdengar dari seberang. "Livia?""Hai, Gavin," Livia berusaha terdengar normal, meski hatinya masih berdebar kencang mengingat kejadian tadi. "Maaf mengganggumu. Apa kamu sedang sibuk?""Tidak, aku baru selesai makan malam. Ada apa?"Livia menarik napas dalam-dalam. "Aku ... aku sudah memutuskan untuk menerima tawaranmu. Aku dan Elena akan menempati rumah itu, kalau masih boleh."Ada jeda sejenak, kemudian Livia bisa mendengar senyum dalam suara Gavin."Tentu saja boleh," jawab Gavin, nada suaranya terdengar lega dan gembira. "Kapan kalian akan pindah?""Mungkin malam ini juga, kalau tidak keberatan.""Malam ini?" Gavin terdengar terkejut. "Keputusan yang sangat mendadak?"Livia melirik Elena yang mengangguk memberi dukungan. "Tidak ada alasan khusus.

  • Dicampakkan Calon Suami, Dikejar Tuan Kaya Raya   Bab 73

    Jam kerja berakhir, lampu-lampu ruangan satu per satu dimatikan. Livia membereskan pekerjaannya dengan gerakan lambat, masih memikirkan gosip yang ia dengar siang tadi. Sementara Elena menunggunya di pintu, seperti biasa."Siap pulang?" tanya Elena sembari tersenyum hangat.Livia mengangguk, menyelempangkan tasnya. "Ayo kita pulang tuan putri," Elena tertawa kecil, mengaitkan lengannya pada lengan Livia. Mereka melangkah meninggalkan gedung perkantoran. Langit sore mulai memerah, memberikan nuansa hangat pada jalanan kota yang mulai padat dengan kendaraan jam pulang kerja. Livia dan Elena berjalan berdampingan, sesekali tertawa kecil membicarakan hal-hal ringan, berusaha melupakan gosip yang menggelisahkan."Jadi, kamu sudah memikirkan tawaran dia soal rumah itu?" tanya Elena."Hmm, aku—""HEI, PELACUR!"Teriakan itu membekukan langkah Livia dan Elena. Keduanya menoleh ke sumber suara dan mendapati seorang wanita cantik melangkah cepat ke arah mereka dengan wajah merah padam penuh a

  • Dicampakkan Calon Suami, Dikejar Tuan Kaya Raya   Bab 72

    Kantin kantor selalu ramai saat jam makan siang. Livia mengambil nampan, mengantri di belakang puluhan karyawan lainnya. Matanya mencari-cari sosok Elena, dan menemukan sahabatnya itu sudah duduk di meja pojok dekat jendela."Maaf, aku telat, keasyikan berbincang di telepon," kata Livia, meletakkan nampan berisi nasi, sayur asem, dan ayam goreng di meja.Elena mengibaskan tangannya santai. "Tidak apa-apa. Memangnya telepon dari siapa? Kelihatannya penting sekali sampai kamu terlambat makan siang."Wajah Livia merona, ia menunduk, berpura-pura sibuk dengan makanannya. "Gavin," bisiknya pelan.Mata Elena melebar. "Wow! CEO kita yang sedang di Singapura itu menyempatkan diri meneleponmu di tengah kesibukannya? Manis sekali!""Ssst! Jangan keras-keras!" Livia menyikut lengan Elena, matanya waspada melirik ke sekitar. "Dia hanya menanyakan kabar dan mengingatkanku untuk makan dan minum vitamin.""Ya, ya, tentu saja," goda Elena, menyendokkan nasi ke mulutnya. "Kalian seperti pasangan yang

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status