Bella sedikit panik mendengar pertanyaan Bu Lina. Wajahnya menampilkan orang bersalah. Namun, ia langsung berusaha terlihat setenang mungkin. "Oh, hanya teman," jawab Bella cepat, memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas. "Menanyakan tentang acara ini."Bu Lina menatapnya dengan tatapan penuh selidik, tapi tidak mengatakan apa-apa. Perhatiannya kembali ke panggung, di mana kini seorang pria dalam balutan jas hitam mengumumkan dimulainya sesi lelang amal."Item pertama malam ini adalah karya seni eksklusif dari maestro Affandi," pria itu mengumumkan dengan penuh semangat. "Lukisan langka ini memiliki nilai historis dan artistik yang sangat tinggi. Kita mulai dari harga lima puluh juta rupiah."Tangan-tangan mulai terangkat, menandakan tawaran yang semakin tinggi. Bella tidak terlalu memperhatikan, pikirannya melayang pada Daniel dan Gavin. Pada kehidupan rumah tangganya yang berantakan dan perselingkuhan yang kini menjadi pelampiasan. Ia bahkan tidak menyadari bahwa Bu Lina telah meng
"Tidak, aku hanya ..." Gavin terdiam sejenak, menyadari betapa cerobohnya dirinya muncul di tengah malam begini. "Aku belum meminta nomor ponselmu. Kupikir aku perlu cara untuk menghubungimu, untuk ... memantau kondisimu dan bayi."Pipi Livia sedikit memerah. "Oh," gumamnya pelan, meraih ponselnya dari meja samping tempat tidur. "Berikan ponsel Bapak."Gavin menyerahkan ponselnya pada Livia, yang dengan cepat menyimpan nomornya. Ia mengembalikan ponsel itu pada Gavin, jari mereka bersentuhan sekilas, menimbulkan sensasi aneh di dada Gavin."Bagaimana perasaanmu? Sudah merasa lebih baik?" Gavin duduk di tepi tempat tidur, suaranya masih dalam bisikan.Livia mengangguk. "Aku sudah merasa lebih baik. Tadi, jam 07.00 malam, Dokter berkunjung dan memeriksa. Ia bilang besok aku sudah boleh pulang.""Aku senang kamu sudah lebih baik," bisik Gavin, suaranya lembut nyaris tak terdengar. "Besok setelah pulang, pastikan kamu beristirahat dengan cukup."Gavin mendekatkan tubuhnya sedikit, tatapan
Di tempat acara amal, Bu Lina mengajak Bella pulang bersama, tapi Bella menolak dengan sopan, mengatakan mobilnya sudah diparkir di halaman hotel. Bu Lina mengangguk maklum, lalu sebelum masuk ke mobilnya, dia menepuk bahu Bella dengan lembut."Ingat, Mama dan Papa sangat mengharapkan cucu," ucap Bu Lina dengan wajah penuh harap. "Jangan terlalu sibuk dengan kegiatan masing-masing. Kalian harus lebih sering menghabiskan waktu bersama. Berliburlah ke luar negri."Bella tersenyum tipis, tetapi hatinya lama-kelamaan menjadi kesal. "Kami akan terus berusaha, Ma," jawabnya lirih. "Doakan saja."Sesampainya di dalam mobil, Bella langsung mencoba menghubungi Gavin. Nada sambung terdengar beberapa kali, namun tidak ada jawaban. Dia mencoba lagi, dan kali ini panggilan langsung dialihkan ke kotak suara. Gavin telah mematikan ponselnya."Sial!" Bella mengumpat pelan, melempar ponselnya ke kursi penumpang. Ada kemarahan yang mulai membakar dadanya. Berbagai prasangka muncul dalam pikirannya. Apa
Mobil mereka akhirnya tiba di sebuah bangunan apartemen sederhana. Elena segera memarkirkan mobilnya di basement."Pelan-pelan saja," Elena mengingatkan saat Livia turun dari mobil, tangannya siap menopang wanita hamil itu jika diperlukan. "Ingat, ada calon miliarder kecil di perutmu. Jangan sampai dia terguncang."Livia tertawa kecil. "Kamu ini, selalu saja bercanda. Tapi terima kasih, El. Aku tidak tahu harus bagaimana tanpamu."Mereka akhirnya tiba di depan pintu unit apartemen. Ruangan kecil yang menjadi tempat tinggal Livia dan Elena setelah ayah Livia meninggal. Meskipun sempit, Livia selalu menjaga apartemennya tetap bersih dan rapi."Nah, sudah sampai," Elena membuka pintu dan membantu Livia masuk. "Kamu istirahat saja. Aku akan menyiapkan makanan untukmu."Livia baru saja hendak merebahkan diri di sofa ketika ponselnya berdering. Nama "Pak Gavin" muncul di layar, membuat jantungnya berdegup lebih kencang."Ha-halo," Livia menjawab dengan suara sedikit gugup."Livia? Ini Gavin
Bella mondar-mandir di kamarnya, pikirannya kacau. Di satu sisi, dia marah pada Daniel yang dicurigainya berselingkuh. Di sisi lain, dia juga sadar betapa ironisnya situasi ini—dia, yang berselingkuh dari suaminya, kini cemburu pada kekasih gelapnya yang mungkin juga berselingkuh darinya."Apa salahku sebenarnya?" Bella berbisik pada dirinya sendiri, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Mengapa aku tidak pernah bisa memiliki kebahagiaan yang utuh?"Bella duduk di tepi tempat tidur, menghapus air matanya dengan kasar. Hidupnya serasa berantakan. Pernikahannya dengan Gavin hanyalah formalitas, hubungannya dengan Daniel kini terancam, dan tekanan dari mertuanya untuk segera memiliki anak justru menambah beban pikirannya.Di tengah kekacauan hatinya, Bella teringat akan Gavin dan keberadaannya di rumah sakit semalam. Siapa yang dia jenguk? Mengapa dia berbohong? Apakah mungkin ... Gavin juga punya wanita lain?Bella menatap layar ponselnya dengan kening berkerut, jemarinya menge
"Pertanyaan macam apa itu?" Gavin balik bertanya, matanya kini menatap Bella dengan dingin."Jawab saja.""Tidak, aku tidak sepertimu," jawab Gavin tajam, membuat wajah Bella memucat. "Ya, aku tahu hubunganmu dan sopir itu masih berlanjut. Tapi aku tidak peduli. Pernikahan kita sudah mati sejak lama, hanya saja kita berdua terlalu pengecut untuk mengakhirinya."Bella terdiam, terkejut dengan kejujuran Gavin yang tiba-tiba. "Kamu ... tahu?""Tentu saja. Kupikir kita berdua sama-sama tahu bahwa kita hidup dalam kebohongan," kata Gavin sambil bangkit dari kursinya. "Sekarang, bisakah kamu pergi? Aku harus menyelesaikan beberapa dokumen penting."Bella merasa seperti ditampar. Bukan karena Gavin tahu tentang perselingkuhannya, tapi karena sikap dingin dan ketidakpedulian suaminya. Dia mengharapkan kemarahan, pertengkaran, atau setidaknya emosi apa pun. Tapi yang dia dapatkan hanyalah kekosongan, seolah Gavin memang sudah tidak memiliki perasaan apa pun terhadapnya."Baiklah," kata Bella a
Gavin merasakan jantungnya berdegup kencang saat aroma parfum Livia memenuhi ruangan kecil itu. Kenangan malam di hotel menyeruak kembali dalam pikirannya, sentuhan lembut, desahan tertahan, dan kehangatan tubuh mereka yang menyatu. Dengan gerakan tiba-tiba, Gavin berdiri dari sofa, mengagetkan Livia yang sedang menunduk."Maaf, sepertinya aku harus pergi sekarang," ucapnya cepat, suaranya sedikit serak.Livia mendongak, matanya melebar karena terkejut. "Eh? Secepat ini? Bahkan Bapak belum menyentuh tehnya.""Ada ... ada meeting mendadak yang harus kuhadiri," Gavin berbohong, tidak ingin mengakui bahwa kedekatannya dengan Livia dalam ruangan kecil ini membangkitkan perasaan yang tidak seharusnya dia rasakan."Oh," Livia mengangguk pelan, kekecewaan tersirat dalam suaranya. "Baiklah, saya antar Bapak sampai pintu."Mereka berjalan dalam diam ke arah pintu. Livia membuka pintu perlahan, matanya tidak berani menatap Gavin secara langsung."Terima kasih sudah mau datang menjenguk," ucap L
Sebulan berlalu dengan cepat. Kandungan Livia kini memasuki bulan keempat. Perutnya mulai terlihat membuncit, meski masih bisa disembunyikan dengan pakaian yang sedikit longgar. Dokter sudah memperbolehkannya beraktivitas seperti biasa, dan hari ini adalah hari pertamanya kembali bekerja di Lysandros Group.Livia bangun pagi-pagi sekali, menyiapkan dirinya dengan hati-hati. Dia memilih seragam cleaning service yang sedikit lebih besar dari ukurannya untuk menyamarkan perutnya yang mulai membesar."Kamu yakin sudah siap kembali bekerja?" tanya Elena saat mereka sarapan bersama.Livia mengangguk. "Dokter bilang aku sudah boleh beraktivitas normal lagi. Lagipula, kita butuh uang, El. Biaya check-up dan vitamin tidak murah. Aku tidak mau terus-terusan digaji tapi tidak bekerja. Apa kata karyawan lain kalau sampai ketahuan?"Elena menghela napas. "Baiklah. Tapi kalau kamu merasa lelah, jangan dipaksakan. Langsung hubungi aku, mengerti?""Mengerti, Bu Perawat," Livia tersenyum, menghormat s
Setelah menutup telepon, Livia masih duduk termenung di tepi tempat tidur. Perubahan hidupnya begitu drastis dan tiba-tiba, membuatnya kadang merasa seperti sedang bermimpi.Suara ketukan di pintu membuyarkan lamunannya. "Liv? Boleh aku masuk?" suara Elena terdengar dari balik pintu."Tentu, El. Masuklah."Elena masuk dengan menenteng dua cangkir teh hangat. "Barusan Mbak Amina membuatkan kita ini." Ia menyodorkan salah satu cangkir kepada Livia."Terima kasih," Livia menerima cangkir itu, menghirup aromanya yang menenangkan. "Sudah mencoba kasurmu? Empuk sekali, kan?"Elena terkekeh, duduk di sebelah Livia. "Seperti tidur di atas awan," jawabnya sambil menyeruput tehnya perlahan. "Tadi kamu menelepon Gavin?"Livia mengangguk. "Dia menyarankan agar aku berhenti bekerja, tapi aku bilang aku ingin tetap bekerja sampai kandunganku berusia enam bulan.""Dan dia setuju?""Iya, meski tampak sedikit khawatir."Elena menatap sekeliling kamar mewah itu, lalu kembali menatap Livia dengan senyum
Belum sempat Livia dan Elena menjelajahi rumah baru mereka, sebuah suara lembut mengalihkan perhatian keduanya."Selamat malam, Nona."Seorang wanita paruh baya dengan senyum ramah berdiri di ambang pintu ruang tengah. Ia mengenakan seragam pelayan berwarna abu-abu dengan celemek putih bersih. Rambutnya yang mulai beruban diikat rapi ke belakang."Tuan Gavin sudah memberitahu kedatangan Nona-nona malam ini," wanita itu membungkuk sopan. "Mari, saya tunjukkan kamar yang sudah saya persiapkan untuk Nona-nona."Elena melirik Livia, alisnya terangkat takjub. "Kita bahkan punya pelayan pribadi?" bisiknya.Amina menuntun mereka menaiki tangga menuju lantai dua. Koridor dengan dinding putih bersih dan beberapa lukisan pemandangan terbentang di hadapan mereka. "Ada empat kamar tidur di lantai ini," jelas Amina sembari berjalan. "Dua kamar menghadap ke depan dengan pemandangan taman depan dan samping, dua lainnya menghadap ke belakang dengan pemandangan taman belakang. Semua kamar memiliki ka
Jemari Livia sedikit bergetar saat mencari kontak Gavin. Haruskah ia menceritakan tentang Bella yang melabraknya? Tapi itu hanya akan menambah beban pikiran Gavin yang sedang sibuk dengan perusahaannya di Singapura."Halo?" suara Gavin terdengar dari seberang. "Livia?""Hai, Gavin," Livia berusaha terdengar normal, meski hatinya masih berdebar kencang mengingat kejadian tadi. "Maaf mengganggumu. Apa kamu sedang sibuk?""Tidak, aku baru selesai makan malam. Ada apa?"Livia menarik napas dalam-dalam. "Aku ... aku sudah memutuskan untuk menerima tawaranmu. Aku dan Elena akan menempati rumah itu, kalau masih boleh."Ada jeda sejenak, kemudian Livia bisa mendengar senyum dalam suara Gavin."Tentu saja boleh," jawab Gavin, nada suaranya terdengar lega dan gembira. "Kapan kalian akan pindah?""Mungkin malam ini juga, kalau tidak keberatan.""Malam ini?" Gavin terdengar terkejut. "Keputusan yang sangat mendadak?"Livia melirik Elena yang mengangguk memberi dukungan. "Tidak ada alasan khusus.
Jam kerja berakhir, lampu-lampu ruangan satu per satu dimatikan. Livia membereskan pekerjaannya dengan gerakan lambat, masih memikirkan gosip yang ia dengar siang tadi. Sementara Elena menunggunya di pintu, seperti biasa."Siap pulang?" tanya Elena sembari tersenyum hangat.Livia mengangguk, menyelempangkan tasnya. "Ayo kita pulang tuan putri," Elena tertawa kecil, mengaitkan lengannya pada lengan Livia. Mereka melangkah meninggalkan gedung perkantoran. Langit sore mulai memerah, memberikan nuansa hangat pada jalanan kota yang mulai padat dengan kendaraan jam pulang kerja. Livia dan Elena berjalan berdampingan, sesekali tertawa kecil membicarakan hal-hal ringan, berusaha melupakan gosip yang menggelisahkan."Jadi, kamu sudah memikirkan tawaran dia soal rumah itu?" tanya Elena."Hmm, aku—""HEI, PELACUR!"Teriakan itu membekukan langkah Livia dan Elena. Keduanya menoleh ke sumber suara dan mendapati seorang wanita cantik melangkah cepat ke arah mereka dengan wajah merah padam penuh a
Kantin kantor selalu ramai saat jam makan siang. Livia mengambil nampan, mengantri di belakang puluhan karyawan lainnya. Matanya mencari-cari sosok Elena, dan menemukan sahabatnya itu sudah duduk di meja pojok dekat jendela."Maaf, aku telat, keasyikan berbincang di telepon," kata Livia, meletakkan nampan berisi nasi, sayur asem, dan ayam goreng di meja.Elena mengibaskan tangannya santai. "Tidak apa-apa. Memangnya telepon dari siapa? Kelihatannya penting sekali sampai kamu terlambat makan siang."Wajah Livia merona, ia menunduk, berpura-pura sibuk dengan makanannya. "Gavin," bisiknya pelan.Mata Elena melebar. "Wow! CEO kita yang sedang di Singapura itu menyempatkan diri meneleponmu di tengah kesibukannya? Manis sekali!""Ssst! Jangan keras-keras!" Livia menyikut lengan Elena, matanya waspada melirik ke sekitar. "Dia hanya menanyakan kabar dan mengingatkanku untuk makan dan minum vitamin.""Ya, ya, tentu saja," goda Elena, menyendokkan nasi ke mulutnya. "Kalian seperti pasangan yang
Livia menekan tombol lift menuju lantai 25, tempat ruangan Gavin berada. Jam tangannya menunjukkan pukul 7:30—tiga puluh menit lebih awal dari jam masuk normal. Entah mengapa, pagi ini ia bangun lebih pagi dari biasanya, mungkin karena kegembiraan tentang rumah barunya masih menggelayuti pikirannya.Saat pintu lift terbuka, lorong masih sepi. Langkah kakinya bergema di lantai yang mengkilap. Livia berhenti sejenak di depan pintu kaca yang memisahkan area eksekutif—tempat ruangan Gavin berada—dengan area staff lainnya. Matanya secara otomatis mencari ke arah pintu berplakat "Direktur Utama" di ujung koridor."Apa dia sudah berangkat?" bisiknya pada diri sendiri, melangkah perlahan mendekati ruangan Gavin.Dengan hati-hati, Livia mengintip melalui jendela kaca yang sedikit tertutup tirai. Ruangan tampak gelap dan kosong, tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya. Meja kerja yang biasanya dipenuhi dokumen kini tertata rapi, komputer dalam keadaan mati, dan kursi kerja Gavin kosong.Li
Di dalam kamar, Livia mengganti dress putihnya dengan piyama bermotif bunga-bunga. Ia duduk di tepi ranjang, mata menerawang ke arah langit-langit kamar. Tangannya masih menggenggam kunci rumah pemberian Gavin, jemarinya mengelus permukaan logam itu dengan penuh kehati-hatian."Apakah ini mimpi?" gumamnya pada diri sendiri.Livia berbaring, menarik selimut tipis hingga sebatas dada. Pikirannya melayang pada kejadian beberapa jam lalu—wajah Gavin yang tersenyum lembut padanya, tatapan matanya yang penuh perhatian, genggaman tangannya yang hangat. Jantungnya berdebar kencang hanya dengan mengingat semua itu."Ah, tapi aku harus sadar diri dan tidak boleh ke-ge-er-an," bisiknya, memperingatkan diri sendiri. "Gavin melakukan semua ini hanya karena aku mengandung anaknya, bukan karena dia menyukaiku."Livia memiringkan tubuhnya, memandang tembok kamar yang sudah menguning. Matanya mulai terasa berat."Tentu saja itu tidak mungkin terjadi," bisiknya lagi, suaranya semakin pelan. "Pria seper
Setelah berbincang kesana kemari, tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 10.00 malam. Livia memutuskan untuk pulang. Mereka masuk ke dalam mobil. Sepanjang perjalanan, keduanya lebih banyak diam. Sesekali Livia melirik ke arah Gavin yang fokus menyetir, senyum tipis tersungging di bibirnya saat mengingat kejadian beberapa jam lalu.Setelah 40 menit, mobil Gavin tiba di area basement. Gavin menghentikan mobilnya di tempat parkir yang sepi. Lampu basement yang temaram menyinari wajah keduanya. Sebelum Livia turun, Gavin meraih tangannya dengan lembut."Livia," suaranya dalam dan penuh keyakinan, "kumohon pertimbangkan lagi untuk menempati rumah itu. Aku benar-benar ingin kamu dan bayi kita tinggal di tempat yang aman dan layak."Livia menghela napas panjang, mata hazelnya bertemu dengan mata cokelat Gavin. Jemarinya memainkan ujung dress putihnya dengan gugup."Terima kasih banyak, Gavin. Sungguh, ini terlalu berlebihan," ucapnya pelan. "Tapi kalau hanya untuk menempati ... kurasa aku
Begitu pintu utama terbuka, Livia disambut oleh interior yang elegan—perpaduan gaya klasik dan modern, dengan cat dinding cream yang hangat dan lantai marmer putih yang mengkilap."Ini rumah siapa?" tanya Livia sekali lagi, matanya berkeliling takjub melihat lukisan-lukisan mahal yang terpajang di dinding.Gavin hanya tersenyum misterius, tidak menjawab pertanyaan Livia. Ia menuntun Livia melalui lorong pendek menuju ruang makan. Dua orang pelayan berseragam rapi langsung membungkuk hormat begitu melihat kedatangan mereka."Selamat malam, Tuan Lysandros," sapa salah satu pelayan. "Semua sudah disiapkan sesuai permintaan Anda.""Terima kasih, Amina," jawab Gavin singkat.Ruang makan itu tidak terlalu besar namun sangat mengesankan. Meja makan untuk dua orang terletak di tengah, dihiasi dengan lilin-lilin kecil dan rangkaian bunga lily putih—menciptakan suasana romantis yang sempurna. Jendela-jendela besar menghadap ke taman belakang yang diterangi lampu-lampu taman."Silakan duduk," Pe