Mobil Bayu Secara perlahan memasuki pagar yang terbuka sendiri, Rania melihat rumah dan halaman yang lumayan luas. Dan tertata rapi ditanamin berbagai macam bunga berwarna-warni, sehingga halaman rumah tersebut terlihat indah dan asri.
Mobil berhenti dihalaman, kemudian Bayu turun dan melangkah kearah pintu bagian Rania duduk dan membukakan pintu untuk Rania turun.
"Ayo turun," kata Bayu, dan mengulurkan tangannya untuk meraih jemari tangan Rania.
Rania ragu untuk turun.
"Rumah siapa mas, apa rumah teman mas Bayu ?" tanya Rania dalam posisi duduk dalam mobil.
"Ayo, turun dulu," Bayu memegang tangan Rania, yang masih berat rasanya untuk turun.
Akhirnya Rania menerima uluran tangan Bayu untuk turun.
Rania mengikuti Langkah Bayu, menuju kearah pintu. Bayu melepaskan genggaman tangan Rania. Kemudian dia mengeluarkan kunci dan membuka pintu.
Rania heran, karena Bayu mempunyai kunci rumah yang mereka kunjungi.
"Ini rumah masa depan kita, rumah mas dan juga rumah Rania ," kata Bayu, dan mempersilahkan Rania untuk masuk kedalam rumah.
"Serius mas..?" tanya Rania, yang kurang yakin dengan perkataan Bayu, mengenai rumah yang mereka kunjungi ini.
'Serius, apa ada tampang mas untuk berbohong," kata Bayu.
"Ayo masuk Nyonya Bayu," ucap Bayu .
"Hih..mas ini gombal saja ." wajah Rania bersemu merah merona mendengar ucapan Bayu, yang memanggilnya dengan sebutan Nyonya.
"Mas tidak gombal, Rania sebentar lagi akan menjadi Nyonya rumah ini ," ujar Bayu sembari merengkuh pundak Rania, dan membimbingnya untuk masuk kedalam rumah.
"Mas...!" Rania kaget, melihat ruang tamu. Begitu dia menjejakkan kakinya kedalam rumah. Dinding ruang tamu yang bergantung gambar dirinya dan Bayu.
"Kenapa sayang ?" tangan Bayu melingkar diperut Rania, dan dagunya diletakkannya dibahu Rania.
"Kenapa gambar kita ada disini ?" tanya Rania, saat melihat bingkai foto yang berisi gambar dirinya dan Bayu.
"Ini rumah kita, gambar kita harus ada disini." Bayu mencium pipi Rania, kemudian ceruk leher Rania tidak luput dari menjadi korban keganasan bibirnya Bayu.
"Mas..!" Rania mulai gelisah, karena tangan Bayu sudah mulai menggerayangi dadanya dan daerah sensitif lainnya.
Bibir Bayu bergerak dileher samping Rania, sedangkan tangannya sudah bergerilya kesegala arah yang bisa dijangkau oleh tanganya.
Tangan Bayu sudah berhasil membuka kancing baju Rania satu persatu, sehingga dada Rania yang masih ditutupi Kini sudah terpampang nyata.
Tangan nakal Bayu memilin-milin putik dada Rania, sehingga Rania mengelinjak kegelian.
Sedangkan bibir Bayu terus berada dileher dan pundak Rania yang sudah tidak ditutupi oleh benang, karena tangan Bayu sudah berhasil menurunkan baju Rania dari bahunya.
Rania terus meliukkan badannya, dan sesekali keluar desahan dari bibirnya.
"Ah..mas..! Cukup mas.." Rania tersadar saat tangan Bayu sudah masuk kedalam celana jeans yang dipakainya, dan sudah mulai bermain-main disana.
Bayu melepaskan pelukannya, dan menarik tangannya dari daerah sensitif Rania yang sudah disentuh dan dimainkan oleh tangannya tadi.
"Maaf, mas hilang kendali. Kamu membuat aku lupa segalanya." Kata Bayu sambil mengancingkan baju Rania kembali.
Rania menunjukkan kepalanya, dia juga merasa malu. Karena terbawa oleh nafsu tadi.
"Ayo kita makan dulu, selesai makan. Kita lanjutkan kembali, biar ada tenaga," ucap Bayu sambil mengerlingkan matanya dengan penuh godaan kepada Rania. Membuat Rania menjadi malu dan mengalihkan pandangannya dari wajah Bayu .
"Mesum." Rania meninggalkan Bayu, untuk melihat-lihat rumah Bayu.
Rania melihat dapur yang berwarna putih dan sangat luas, diperlengkapi peralatan masak yang modern.
Didekat dapur Rania juga melihat taman bunga dan kolam ikan.
Bayu masuk ke dapur dengan membawa bungkusan yang baru dikeluarkannya dari dalam mobilnya.
"Apa itu mas ?" Rania mendekati Bayu yang meletakkan bungkusan yang dibawanya keatas meja makan.
"Makanan," jawab Bayu.
"Mas beli tadi ?" Rania membuka bungkusan tersebut.
"Iya, sebelum jemput Rania. Mas singgah dulu di restoran," ucap Bayu.
Rania mencari piring didalam lemari dan mentata makanan yang dibeli Bayu tadi.
"Ayo kita makan," ucap Bayu.
Setelah selesai menikmati makan siang, Rania mencuci peralatan makan dan membuang sisa makanan yang tidak habis.
"Ayo kita duduk disini ," Bayu membawa Rania duduk ditepi kolam ikan yang masih kosong.
"Sudah lama mas Bayu membeli rumah ini ?" tanya Rania.
"Belum, ini rumah punya perusahaan. Dan setiap pegawai diberi kemudahan dengan cara potong ngaji setiap bulan." Cerita Bayu.
"Berapa harganya mas, pasti mahal ya. Rumah bagus begini," ucap Rania.
"Lumayan, setiap bulan gaji mas terpotong separuh. Tapi nggak apa-apa, akhirnya kita punya rumah sendiri," kata Bayu.
Bayu merengkuh Rania, sehingga Rania makin merapat ke tubuh Bayu.
Tangan Bayu menarik tengkuk Rania dan merapatkannya kewajahnya. Kemudian bibirnya melumat bibir Rania dengan penuh nafsu, sehingga membuat Rania kelabakan hampir kehabisan nafas.
Setelah melihat Rania hampir kehabisan nafas, Bayu mengurai cumbuannya.
"Bibir ini membuat ku melupakan akal sehat ku, sekarang aku masih bisa menahannya. Tapi besok-besok aku tidak jamin Rania, ayo kita menikah," ajakan menikah keluar dari mulut Bayu kembali.
"Mas bilang kepada ibu ya ," kata Rania dengan malu-malu.
"Rania mau..?" tanya Bayu dengan bersemangat, ketika mendengar Rania menyuruh Bayu untuk berbicara dengan ibunya.
"Mas bilang ke ibu ya," kata Rania.
"Oke...oke, mas akan berbicara dengan ibu ," kata Bayu dengan gembira.
"Kapan mas mau bicara dengan ibu?" tanya Rania.
"Hari ini, bisa ?" tanya Bayu.
"Hari ini, ibu pergi mas," kata Rania.
"Nggak bisa ya, kalau besok mas yang nggak bisa. Karena besok mas mau keluar kota ada urusan pekerjaan," kata Bayu.
"Mas pulang dari tugas saja," kata Rania.
"Ok,"
***
Karena Bayu lagi keluar kota, Rania pulang kuliah bersama dengan Jesi.
"Jesi, nebeng ya ," kata Rania, saat bel kuliah berakhir.
"Kemana mas tersayang mu?" tanya Jesi.
"Ada kerjaan keluar kota," jawab Rania.
"karena kita sudah lama tidak keluar bersama, hari ini kita ke Mall ya," ucap Jesi.
"Ok, hari ini aku akan menjadi peneman mu seharian penuh," kata Rania.
"Janji ya, jangan baru sampai Mall. Begitu ada telpon dari mas Bayu, kamu langsung mau pulang. Aku tidak akan izinkan," kata Jesi.
"mas Bayu, lagi keluar kota,"
"Mungkin saja dia batal keluar kota," ucap Jesi .
Tidak batal, semalam dia sudah sampai ketempat yang dituju ."
"Kalau begitu let's go," ucap Jesi.
"Pelan-pelan Jesi bawa mobilnya, Mall nya tidak akan lari. Tidak perlu ngebut," kata Rania kepada Jesi yang membawa mobilnya dengan agak cepat.
"Rania, ini tidak kencang ya. Lomba dengan nenek-nenek bawa mobil saja aku kalah," kata Jesi.
"Aku takut kencang Jesi, aku teringat dengan kecelakaan yang menimpa ayahku ," ucap Rania.
"Maaf Rania, aku lupa. Kau trauma dengan mobil yang kencang," kata Jesi.
"Walaupun aku tidak terlibat dengan kecelakaan tersebut, tapi aku menjadi takut setiap melihat mobil yang kencang."
"Sudah, lupakan ya. Ayahmu juga sudah tenang disana," kata Jesi .
"Kita ke Mall mana ?"
"Mall Pelita saja ya, aku ingin nonton. Sudah lama kita tidak nonton" ucap Jesi.
"Apakah ada film baru?" tanya Rania.
"Aku juga tidak tahu, selama kau sibuk dengan mas Bayu mu. Aku tidak pernah ke Mall untuk nonton, tidak ada yang bisa ku bawa nonton. Tidak mungkin aku nonton sendiri," kata Jesi.
"Maaf ya, kamu jadi sendiri," kata Rania.
"Maaf diterima, aku maklum. Orang lagi kasmaran," goda Jesi.
Jesi memarkirkan mobilnya, kemudian mereka melihat-lihat film baru yang ingin mereka tonton.
***
Sudah tiga hari, Rania tidak bertemu dengan Bayu. karena Bayu mendapatkan tugas keluar kota dari kantor. Selama tiga hari, Bayu tidak sekalipun menghubungi Rania. Dan Rania tidak merasa heran, karena setiap keluar kota. Bayu selalu tidak menghubunginya, makanya Rania tidak merasa heran. Jika Bayu tidak memberikan kabar kepadanya. Hari ini Rania pulang kuliah sendiri, Karena Jesi tidak masuk kuliah. Saat Rania keluar dari kampus dan berjalan menuju halte bus, ada mobil yang mengikuti dirinya dari belakang. Awalnya Rania tidak merasa diikuti, tetapi lama-kelamaan dia merasa bahwa mobil yang dibelakangnya tidak mendahuluinya dan berjalan pelan dibelakangnya. Rania memperlambat jalannya, sehingga mobil tersebut tepat berada disampingnya. Karena merasa kesal Rania mengetuk kaca mobil tersebut, secara perlahan-lahan kaca mobil turun dan terlihat wajah yang tersenyum lebar memandang Rania. "Mas Bayu !" Ran
Bayu mengangkat wajahnya dan menatap wajah Rania yang bersemu merah. Bayu menatap Rania dengan tatapan mata yang tidak bisa diartikan, apa yang ada dalam pikirannya. Saat menatap wajah Rania. Setelah puas menatap gadis yang sudah berada di dalam genggamannya, tangan Bayu kembali bergerilya. Tangan nya menyentuh apa yang bisa disentuhnya. "Ingat sayang, tubuh ini hanya punya mas ya. Tidak boleh ada yang menyentuhnya," ucap Bayu dan kembali mengecup bibir Rania. Setelah puas berperang lidah dan berbagi Saliva, tautan kedua bibir terlerai. Keduanya menetralkan napas mereka yang hampir habis, pasokan oksigen keparu-paru mereka juga menipis. Akibat ciuman panas yang dilakukan Bayu. "Ingat! Apa yang mas katakan tadi. Tubuh ini semua milik mas ya, jangan ada yang berani menyentuhnya." Tegaskan Bayu. "Bagaimana dengan tubuh ini?" tanya Rania dengan menunjukkan tubuh Bayu yang berada diatas badannya. "Ini hanya punya mu sayang, t
Hari diluar sudah hampir gelap, tetapi dua anak manusia yang baru saja melepaskan hasratnya masih saling berpelukan dalam satu selimut tebal. Tubuh polos mereka masih melekat tanpa jarak, rasa letih akibat pergumulan mereka tadi membuat keduanya larut dalam tidurnya. Betapa ganasnya Alex menggauli Rania, membuat Rania juga berat untuk bergerak untuk membuka matanya. "Hemhh..," Rania membuka matanya sedikit, sesaat dia kaget. Begitu merasakan bahwa dia terbangun didalam pelukan lengan dan dada telanjang seorang pria yang kokoh. Rania kaget, dan melepaskan pelukan laki-laki yang memeluknya dengan erat tadi. 'Dimana ini ?" Mata Rania mengitari pandangannya, untuk mengenali dimana dia saat ini berada. Ketika tersadar dimana Dia saat ini berada, Rania menepuk jidatnya. 'kenapa aku lupa, ini rumah mas Bayu," ucap Rania begitu tersadar bahwa dia berada diatas ranjang Bayu/Alex, dan baru saja melakukan apa yang harusnya belum untuk dilakukan olehnya b
Setelah puas menyalurkan hasratnya, Bayu membungkus Rania dengan handuk dan membopongnya keluar dari dalam kamar mandi. Bayu mendudukkan Rania diranjang dan kemudian Bayu mengambil baju bersih dari lemari. "Pakai sayang." Bayu menyerahkan baju dan pakaian dalam yang bersih kepada Rania. "Punya siapa mas?" tanya Rania saat melihat pakaian yang diberikan Bayu kepadanya. "Punya Rania lah, tidak mungkin mas memakai baju wanita, dan tidak mungkin punya wanita lain. Saat ini mas hanya punya Rania seorang," kata Bayu dan mendaratkan kecupan kekening Rania. "Apa mas tahu ukuran badan Rania ?" tanya Rania, dan raut mukanya sudah bersemu merah. Walaupun Bayu sudah melihat tubuhnya semua, masih ada rasa malu menyelimuti perasaannya. "Mas sudah tahu ukurannya, tangan ini sudah meraba dan mengetahui besar dan kecil yang ada di seluruh badan Rania ," kata Bayu. Rania menunduk malu mendengar perkataan Bayu yang vulgar menurutnya. Rani
Dalam perjalanan menuju kantor, Alex/Bayu berubah pikiran. Alex/Bayu membatalkan untuk bertemu dengan orang yang dihubunginya tadi, dia memutar arah perjalanannya. Dia kembali menuju rumah. Alex/Bayu tiba didepan rumah yang sangat besar dan mewah, begitu mobilnya tiba didepan pagar rumah tersebut. Pintu gerbang terbuka dengan sendirinya, menyambut kedatangannya. Dan seorang laki-laki menunggu Alex/Bayu turun dari dalam mobilnya. "Selamat malam Tuan muda," sapaan yang khas selalu menyambutnya, jika dia tiba di rumahnya tersebut. "Malam pak Wahyu ," jawab Bayu. Orang yang disapa dengan panggilan pak Wahyu, mengikuti Bayu dari belakang. Saat mereka tiba disatu kamar Bayu masuk kedalam, tetapi pak Wahyu hanya mengikutinya Tuan muda hanya sampai didepan pintu kamar tersebut. Pak Wahyu tidak mengikuti Bayu masuk kedalam, dia menunggu didepan pintu kamarnya. "Selamat malam maa," kata Bayu kepada wanita setengah baya yang ada didalam kamar ter
Setelah menghubungi Tante Wenny, Alex keluar dari ruangan kerjanya. Dia mencari keberadaan mamanya. "Mana mama pak Wahyu?" tanya Alex kepada pak Wahyu. "Saya lihat tadi berjalan menuju kebun bunga Den, biasanya Nyonya suka melihat bunga-bunganya," ujar pak Wahyu. Alex bergegas menuju ketempat biasa mamanya berada, jika mamanya sedang gundah. Alex melihat mamanya sedang berbicara dengan bunga-bunganya. "Maa" panggil Alex, seraya berjalan mendekati Mamanya. Mamanya menoleh kearah asal suara dan menghentikan berbincang-bincang dengan bunga-bunganya. "Ada apa Lex ?"tanya mamanya. "Alex berencana, untuk menambah suster lagi untuk menjaga Arumi," kata Alex kepada Mamanya. "Untuk apa Lex, mama dan suster Rani sudah cukup. Kami bisa menjaga Arumi, secara bergantian ," kata mamanya, menolak usulan Alex. Untuk merekrut satu suster lagi untuk menjaga Arumi. "Mama terlihat tidak sehat, ada suster satu lagi untuk menja
Bayangan Arumi terkapar ditengah jalan, dengan darah yang membasahi raut wajahnya. Terus membayangi setiap Andre terbangun dari tidurnya, sehingga Andre mengasingkan diri ke pulau Bali. Tapi begitu sampai disini, Andre bukan melupakan Arumi. Tetapi bayangan wajah Arumi yang memandang dirinya dengan perasaan yang kecewa terus berada didalam benaknya. Bayangan itu selalu mengikuti Andre sepanjang waktu, tidak hanya dalam mimpi. Diwaktu tersadar juga, bayang Arumi kecelakaan terus memenuhi isi otaknya. Sampai-sampai Andre mengkonsumsi obat itu, agar dia dapat merelaksasi pikirannya. Agar badan dan otaknya bisa beristirahat. "Arumi, semoga kau tidak apa-apa. Maafkan aku Arumi." Kalimat itu yang terus terucap dari bibirnya, jika bayangan Arumi bersimbah darah datang kembali. Andre terus duduk ditepi pantai memandangi laut lepas, sampai hari hampir senja. Baru Andre kembali ke Villa nya, begitu terus menerus dilakukan Andre selama tinggal di Bali. Orangtuanya juga
"Rania, serem tu Dosen killer. Sesuai dengan julukannya." gurau Jesi, sembari menyikut lengan Rania. Rania yang fokus mendengar perkuliahan menegur Jesi. "Diam, apa kau ingin dapat nilai E mata kuliah ini. Aku tidak mau mengulang mata kuliah ini ?" ucap Rania seraya melirik kearah Jesi sekilas. "Sorry ." gumam Jesi dengan menundukkan kepalanya, karena dosen killer sepertinya selalu memandang kebagian belakang. Dimana Rania dan Jesi duduk. "Dosen itu, sepertinya punya mata empat. Kepalanya menunduk, tapi dia tahu. Ada mahasiswa yang berbicara" dalam benak Jesi, saat melihat dosen yang mendapatkan julukan killer terus memandang kearah mereka berdua. Mata keduanya mulai fokus kedepan, tapi siapa yang tahu. Apa yang ada didalam benak keduanya. Rania dengan pikiran yang mengenai Bayu, sang kekasih. Sedangkan Jesi, pasti memikirkan tidak jauh dari makanan favoritnya. Tak lama kemudian, terdengar suara bel. Yang
Setelah dua Minggu berada dalam perawatan rumah sakit, Alex diizinkan untuk pulang. "Akhirnya, mas bisa pulang," ujar Alex. "Mas, baring saja ya. Pasti letih dalam perjalanan dari rumah sakit," ujar Rania. "Mas mau duduk dibalkon saja, mas rindu melihat langit." Alex menolak, saat disuruh istirahat oleh Rania. "Apa mas tidak letih?" tanya Rania. "Tidak sayang," ujar Alex. Blush.. Pipi Rania merona merah, saat mendengar ucapan sayang yang keluar dari mulut Alex. Perkataan yang dulu sering diucapkan Alex saat mereka masih pacaran. "Sudah lama aku tidak melihat wajah malu-malumu sayang," ujar Alex. "Ih..mas Alex, ayo. Biar Rania tuntun ke balkon. Katanya mau duduk diluar," ujar Rania. Rania memegang Alex yang berjalan masih lemah, dan membantunya untuk duduk. "Sini sayank," ujar Alex dengan menepuk kursi si sisinya. "
Pernikahan Rania sudah memasuki hari Minggu, Rania masih tidak bisa menunjukkan sikap hangat yang ditunjukkan oleh Alex. Setiap malam, Rania tidur bersama Devan dikamar sang putra. Dan tiap malam juga, Alex selalu mengangkat Rania unt
Alex terus mengirim video panas antara dirinya dan Rania, entah darimana Alex mendapatkan nomor ponselnya Rania. Sesaat, Rania tidak mengindahkan apa yang dilakukan oleh Alex. Tapi lama-kelamaan, pikiran Rania kacau. Beban pikiran membuat dia tidak bisa melakukan pekerjaannya dengan baik, apa yang terjadi pada Rania tidak lepas dari pengamatan orang-orang disekitarnya. Hubungan dengan Yoseph semakin dekat, tetapi video yang dikirim oleh Alex semakin panas. Membuat pikiran Rania bercabang. Derrtt.... Bunyi ponsel Rania bergetar. "Apa lagi yang dikirim oleh orang sinting itu." Ngedumel Rania, karena matanya yang baru ingin terpejam. Kini terbuka kembali. Karena pesan yang dikirim oleh Alex, sudah dua kali Rania mengganti nomor ponselnya. Tetapi, Alex mendapat nomor ponsel barunya. Dan video panas terus dikirim oleh Alex, sampai Rania tidak ingin menggunakan ponselnya. Rania curiga, ada orang dalam yang memboc
Rania duduk di ranjang, di sampingnya. Baby Devan tidur dengan nyenyak. Pintu terbuka, dengan masuknya Bude Maria. "Mereka sudah pulang," ucap Bude Maria, tanpa ditanya Rania. "Bagaimana?" tanya Bude Maria. "Bagaimana apanya Bude?" balas Rania yang bertanya. "Alex ingin mengakui putranya. "Tidak Bude, sampai kapanpun, Rania tidak akan mengenalkan dia kepada Devan. "Jangan mengambil keputusan dengan emosional, itu tadi, mengenai pernikahan. Apa Rania sudah menerima lamaran Nak Yoseph?" Rania terdiam, dia bingung menjawabnya. Tadi dia mengatakan itu, karena emosi kepada Alex. "Jangan paksakan menerima lamaran Alex, jika tidak ada rasa didalam sini," ucap Bude sembari memegang dadanya. *** Alex masuk kedalam hotel dalam keadaan marah, me
"Apa..!? teriak Jesi dari sambungan telepon, hingga memekakkan telinga Rania. "Jes, pelankan suaramu..!" seru Rania. "Kau sungguh-sungguh di lamar Yoseph?" tanya Jesi, yang tidak percaya dengan apa yang baru di sampaikan oleh Rania. "Serius, untuk apa aku berbohong. Bagaimana Jes? Apa yang harus aku lakukan?" tanya Rania. "Untuk apa kau pikirkan lagi, terima. Kau harus menerima lamaran itu.." ucap Jesi dengan bersemangat. "Tapi aku tidak mencintainya, Jes.." ucap Rania. "Belum, kau belum mencintainya. Tapi tidak mungkin kau tidak akan mencintainya, Yoseph orangnya sudah matang. Dia tidak akan seperti orang itu, yang akan mempermainkan wanita," ucap Jesi dengan lantang. Mendengar perkataan Jesi, Rania terdiam. "Duh.. kenapa aku menyebut laki-laki itu." batin Jesi. "Ran..!" Panggil Jesi. "Rania..!" Panggil Jes
Leo menatap wajah Alex, kemudian menghela napas. "Ada apa? apa hasilnya? apa bukan anakku?" tanya Alex dengan nada suara yang lemas dan khawatir. Leo memberi surat hasil DNA yang telah dibacanya kepada Alex. "Apa hasilnya? Katakan saja," ucap Alex yang takut untuk membacanya, karena hasilnya tidak sesuai dengan apa yang ada didalam pikirannya. "Baca sendiri." Leo memberikan surat tersebut kepada Alex. Alex menerimanya dengan tangan gemetar, matanya terbelalak. Setelah membaca hasil tes DNA tersebut. "Putraku Leo, dia putraku..!" seru Alex dengan tidak percaya, apa yang tertera didalam surat hasil tes DNA tersebut. "Ya, dia putramu. Putra yang tidak kau ketahui keberadaannya, seorang putra yang kehadirannya keduniaan ini diakibatkan oleh dendammu pada orang yang tidak bersalah," ucap Leo. Deg. Hati Alex sakit, mendengar apa yang dikatakan
"Mas, toko roti tutup," ucap Sarah pada Alex dan Leo, karena mengira keduanya ingin ngopi."Tutup ya Mbak, kami ingin istirahat sekaligus ngopi. Karena kami dengar, roti di toko ini sangat terkenal dengan kelezatannya," ucap Leo.Alex menatap wajah bayi yang berada dalam gendongan Sarah."Aku sepertinya sangat familiar dengan wajah bayi ini, mirip siapa ya?" pertanyaan dalam benaknya Alex."Mamamam...!" Baby Devan mengeluarkan ocehannya."Mau mamam ya?" tanya Alex seraya menggenggam jemari kecil baby Devan."Cakep anaknya ya mbak?" tanya Leo."Bukan anak saya mas, ini anak majikan saya," ucap Sarah.Deg..."Majikan?" tanya Alex."Lex" Leo memberi tanda, agar Alex tidak menanyakan secara gamblang pada Sarah."Biar aku" ucap Leo dengan suara yang pelan."Sangat ganteng ya," Leo mengusap-usap rambut baby Devan, setelah mengusap-usapnya. Leo melihat, ada beberapa helai rambut baby Devan ditangannya. Leo
Bude Maria dan Yoseph, masih berbincang di luar ruang rawat inap Rania.Tiba-tiba..."Bude..! Mas Yoseph..!" Suara Naila memanggil keduanya, dari depan pintu."Ada apa!" Sahut Bude dengan seraut wajah khawatir, dia takut ada apa-apa dengan Rania."Mbak Rania sadar..!" Seru Naila.Bude Maria dan Yoseph bergegas masuk kedalam kamar tempat Rania dirawat.Bude Maria bergegas menuju ranjang, tempat Rania terbaring. Dengan infus terpasang ditangannya."Bagaimana Ran..?" tanya Bude Maria."Pusing Bude, ini di mana?" tanya Rania saat menyadari, dia tidak didalam kamarnya."Ini rumah sakit Ran." beritahu Bude Maria."Rumah sakit? aduh..!" Rania memegang keningnya, matanya terpejam."Kenapa Ran..?" tanya Bude.Mana yang sakit Ran?" tanya Yoseph.Rania membuka matanya, dan melihat kearah asal suara."Mas Yoseph, Na
Berita kedatangan Alex menemui Rania, sampai ke telinga Jesi. Dengan wajah yang marah, Jesi turun dari mobilnya. Dan langsung menuju keruang kerja Alex."Dia pasti membututi aku, bodohnya aku. Hingga tak menyadari, aku diikuti.." Jesi teramat kesal pada dirinya, hingga Alex bisa mengetahui keberadaan Rania.Sampai didepan ruang kerja Alex, Jesi langsung menghampiri meja kerja sekretarisnya."Apa Boss ada ?" tanya Jesi kepada sekretaris Alex, yang bernama Vania."Maaf, Boss hari ini tidak masuk kantor" jawab Vania, sekretaris Alex."Siall..!" kesal Jesi."Kurang ajar orang itu" umpat Jesi."Pak Leo, apa dia ada ?" tanya Jesi."Pak Leo belum datang juga, ada apa kau mencari keduanya ?Ingat, kau jangan berani suka dengan kedua itu. Jika ingin lama bekerja di sini, keduanya milikku" ucap sekretaris Alex, dengan ekspresi wajah yang sombong. Terlihat bibirnya